October 2, 2012

Hati-Hati ! Dari Sakit Gigi Bisa Jadi Sakit Jantung dan Hipertensi


Pilih mana, sakit gigi atau sakit hati? Lebih baik menghindari keduanya. Sakit gigi berkepanjangan bisa berakibat fatal.
Gigi dan rongga mulut seperti pintu gerbang rumah, yakni tubuh kita. Sebelum makanan dan minuman masuk ke sistem pencernaan, selalu melewati mulut. Dikunyah gigi. Di dalam rongga mulut terdapat miliaran bakteri. Ada bakteri jahat. Ada pula yang baik. Selama populasi keduanya seimbang, mulut dan gigi berada dalam kondisi baik-baik saja.
Masalah akan datang jika bakteri jahat mulai dominan. Bakteri streptococcus mutans membuat lubang pada gigi. Sementara porphyromonas gingivalis aktif menyerang gusi. Mereka meraja ketika Anda menggemari makanan yang manis-manis. Makanan yang manis lengket pada gigi.

“Jika malas membersihkan, bakteri bergerak bebas menggerogoti gigi, membuat lubang. Sisa makanan manis akan difermentasi, melarutkan lapisan email gigi. Ini disebut proses demineralisasi,” terang drg Ratu Mirah Afifah GCClindent, MDSc dalam wawancara pekan lalu.

Dua bakteri ini pintar berbagi tugas. Yang satu menyerang gigi. Yang lain mengincar gusi. Gingivalis menyembur toksin untuk melemahkan tulang-tulang penyangga gigi. Menginfeksi gusi. Perlahan, akar gigi lesu dan gigi pun tanggal seolah tanpa sebab. Itu sebabnya, gingivalis dijuluki silent killer.

Untuk ibu hamil dianjurkan lebih rajin memastikan kebersihan gigi dan gusi. “Mengingat penyakit gusi akut memicu zat oksitosin yang membuat proses persalinan lebih cepat. Akibatnya, bayi lahir dalam kondisi prematur,” Mirah memperingatkan. Penyakit seram lainnya yang biasa menghampiri Anda setelah sakit gigi, tekanan darah tinggi.
Ini bisa dijelaskan secara ilmiah. Sakit gigi menghadirkan sensasi rasa sakit luar biasa. Dalam pengobatan, biasanya menggunakan anestesi. Dalam kondisi emosi, menahan sakit, kemudian anastesi dimasukkan, ada yang patut diwaspadai. Cairan anestesi mengandung vasokonstriktor.

“Zat ini bereaksi dengan menyempitkan pembuluh darah. Jika pembuluh darah menciut, jantung memompa darah lebih cepat sehingga tekanan darah meninggi. Ini harus diwaspadai,” Mirah menukas. Ini berarti, sumber masalah gigi bukan terletak pada makanan. Melainkan seberapa rutin kita membersihkan si putih yang berderet rapi di dalam mulut kita.

Salah satu bagian tersulit dalam membersihkan gigi adalah geraham. Selain posisinya berada di pojok, geraham memiliki bentuk lekuk paling rumit jika dibandingkan gigi seri atau taring. Munculnya geraham pun perlu dibedakan tergantung umur pemilik gigi. “Geraham pertama tumbuh pada anak usia enam tahun. Geraham yang kali pertama tumbuh itu gigi geraham tetap,” imbuhnya.

Masalahnya, orang tua kerap menganggap geraham sebagai gigi susu. Kalau berlubang dianggap lumrah, namanya juga gigi anak-anak. Orangtua terlambat memberi pertolongan kepada geraham. Gigi itu baru dibawa ke rumah sakit dalam kondisi rusak berat. Geraham membutuhkan perhatian ekstra. Lekuk dan tingkat kerumitan bentuknya menuntut Anda membersihkan gigi lebih detail.

“Penelitian yang diterbitkan British Dental Journal mengungkap fakta, 85 persen gigi berlubang dialami gigi geraham,” Mirah melanjutkan. Delapan puluh lima jelas bukan angka kecil. Pemilik gigi diminta lebih bijaksana memutuskan mana yang layak dijejalkan ke dalam mulut, mana yang tidak.

Lagi Mirah menerangkan, “Anggur, teh, dan kopi tidak bersinggungan langsung dengan gigi. Tapi penambahkan gula pada minuman itu memicu pewarnaan gigi. Rokok jelas memberi efek negatif penyakit gusi hingga oral cancer. Padu padan rokok dan minuman beralkohol meningkatkan risiko oral cancer hingga tujuh kali lipat.”



references by by tabloid bintang

 
Like us on Facebook