October 31, 2012

Tips dan Cara Agar Membuat Otak Bayi Anda Menjadi Cerdas

Memanjakan bayi akan membuatnya lebih cerdas. Penelitian Prof Darcia Narvaez bersama timnya di Fakultas Psikologi Universitas Notre Dame, Amerika Serikat menyebutkan, dengan memanjakan bayi secara tepat, maka potensi perkembangan otaknya akan lebih baik, sehingga ia tumbuh lebih cerdas. Kenali delapan cara memanjakan bayi yang membuatnya lebih cerdas.






1. Menggendong.
Banyak manfaat yang didapat dari kebiasaan menggendong bayi. Di antaranya:
  • Bayi merasa nyaman, aman, terlindungi, merasa disayangi, dekat, dan lainnya. Tidak usah heran, saat bayi menangis karena kesepian, takut, kaget, dan penyebab lainnya, tangisannya akan segera berhenti ketika digendong.
  •  Banyak hal bisa dilakukan orangtua saat menggendong bayi, misalnya bayi diajak berkomunikasi, bermain, dikenalkan hal baru, melihat ekspresi wajah, dan banyak lagi. Aneka kegiatan selama berada di dalam gendongan ini akan menstimulasi berbagai aspek kecerdasan bayi. Ia pun tumbuh lebih cerdas. 
  • Bayi yang sering digendong biasanya akan mengenal lebih banyak lingkungannya. Sebab, ia akan digendong ke dapur, ruang tengah, teras, halaman, taman perumahan, dan lainnya. Jika tak sering digendong mungkin anak hanya menatap langit-langit kamar atau mainan gantung di boksnya. Dengan melihat beragam lingkungan, maka wawasan anak akan meningkat.
  • Bayi yang sedang digendong dapat mendukung kesuksesan pemberian ASI eksklusif. Selain selalu berdekatan, jalinan kelekatan ibu dan bayi pun bertambah. Demikian pula dengan rasa sayang dan perhatian, hal ini akan membuat ibu semakin keras berusaha memberikan yang terbaik buat bayinya yakni ASI eksklusif.

Meski menggendong berdampak positif, berikan juga kesempatan pada bayi meningkatkan kemampuan mengangkat kepala, berguling, tengkurap, merangkak, duduk, berdiri, merambat, dan berjalan. Lakukan berbagai stimulasi motorik secara rutin pada bayi sesuai usia dan kemampuannya. Orangtua pun berkesempatan untuk beristirahat saat bayi melakukan kegiatan ini.

2. Pelukan.
Pada bulan pertama kelahiran, bayi masih menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Saat ia masih dalam kandungan, kehangatan dan rasa aman didapatkannya dalam rahim ibu yang hangat dan nyaman. Ketika lahir, ia mendambakan kehangatan dan kenyamanan tersebut lewat pelukan.

Saat orangtua memeluk bayi, ia akan merasa aman, nyaman, terlindungi. Ia akan senang dan menikmati setiap pelukan ibu. Karena itu, pelukan pun menjadi kebutuhan bayi, sehingga saat kebutuhan itu datang, bayi akan mengeluarkan tanda berupa tangisan atau rengekan.

Orangtua tak perlu khawatir bila memeluk bayi akan membuatnya manja. Kedekatan dan kehangatan antara orangtua dan bayi penting bagi perkembangan emosinya. Pelukan adalah salah satu cara menunjukkan kasih sayang. Juga merupakan ekspresi kedekatan fisik yang menunjukkan kedekatan emosi yang dalam. Ada ahli mengatakan, pelukan dapat menurunkan perasaan cemas, takut, kesepian, dan emosi negatif lainnya serta berpengaruh terhadap perkembangan dan kecerdasan anak. Ini karena saat dipeluk, tubuh anak mengeluarkan hormon oksitosin yang menenangkan dan mengurangi stres pada anak.

3. Tidur bersama.
Ada penelitian yang menyatakan, tidur bersama dalam satu ranjang dipercaya dapat membangun ikatan emosi lebih kuat antara orangtua dan bayi. Sehingga membuat bayi tidur lebih tenang. Tetapi, tidur bersama bukan suatu keharusan. Ini dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan rumah dan orangtua itu sendiri.

Pada usia enam bulan pertama, disarankan bayi tidur bersama dengan orangtua. Sebab, masa ini adalah masa ASI eksklusif. Dengan tidur berdekatan orangtua bisa menyukseskan pemberian ASI eksklusif, sekaligus dapat menjalin kedekatan antara ibu dan bayi. Bahkan anjuran tidur bersama ini tidak hanya untuk bayi berusia enam bulan ke bawah tapi untuk bayi berusia di atasnya, bahkan anak.

4. Menjalin komunikasi.
Saat ibu menggendong bayi, tataplah matanya. Ajak bayi bercakap-cakap dengan suara lembut dan kata-kata positif. Ceritakan apa yang ada di sekelilingnya. Misalnya, suara apa yang didengar, benda apa yang dilihat. Katakan pada bayi apa yang sedang Anda lakukan, misalnya ketika Anda sedang membersihkan dan menggantikan popoknya karena ia mengompol dan basah. Mengajak bayi bicara akan membantu menstimulasi kecerdasan bayi dalam berbahasa. Sekaligus menjadi bentuk perhatian orangtua pada bayi. Sebanyak mungkin komunikasi terjalin, makin lekat hubungan orangtua dan anak.

5. Berikan fasilitas terbaik.
Penuhi semua kebutuhan bayi, sandang, pangan, papan. Fasilitas tersebut hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan atau tahapan perkembangan si bayi. Kebutuhan sandang meliputi baju, popok, kaus kaki, sarung tangan, topi, selimut, handuk dan lainnya. Sedangkan kebutuhan pangan meliputi ASI, makanan pendamping ASI, biskuit, buah, sayuran, dan lainnya. Papan terkait dengan tempat tinggal, termasuk ruang tidur dan berbagai benda yang berguna untuk menstimulasi bayi seperti mainan edukasi.

Berikan berbagai fasilitas ini sesuai perkembangan dan kondisi bayi. Untuk sandang misalnya, pilih bahan lebih lembut seperti katun atau kaus yang diperuntukkan bayi baru lahir lebih karena kulit bayi masih sangat halus dan sensitif. Sesuaikan semua kebutuhan bayi sesuai perkembangannya.

6. Respons tangisan dengan tepat.
Menangis merupakan cara bayi berbicara tentang apa yang dialaminya kepada orang-orang di sekitarnya. Apakah bayi merasa lapar, haus, marah atau tidak nyaman. Untuk itu, saat menangis segeralah beri respons. Merespons kebutuhan bayi sama saja dengan memenuhi kebutuhannya. Jika kebutuhannya terpenuhi, akan tumbuh rasa percaya pada orangtua dan lingkungannya.

Agar respons yang diberikan tepat, kenalilah tiap kebutuhan bayi dengan terus berinteraksi dengannya, mengantisipasi kebutuhannya dan kemudian memenuhinya. Bersikap tenang saat ia menangis merupakan salah satu cara yang dapat membuat bayi nyaman. Bereaksi tepat saat bayi menangis juga sama pentingnya. Sebab reaksi untuk bayi menangis karena lapar, berbeda saat ia menangis karena sakit atau kesepian.

Kenali juga apa yang ia sukai atau tidak, terutama yang membuatnya tidak nyaman, marah dan menangis. Selama Anda memberikan respons yang tepat, tak perlu khawatir apa yang dilakukan orangtua akan membuat bayi manja.

7. Stimulasi tepat.
Stimulasi adalah upaya untuk mendorong atau memaksimalkan tumbuh kembang anak. Stimulasi sebaiknya dilakukan sejak dini, bahkan sejak anak dalam kandungan kemudian dilanjutkan setelah dia lahir. Tujuan pemberian stimulasi ini untuk memaksimalkan tumbuh kembang bayi.

Di setiap rentang perkembangannya, ada beberapa aspek yang perlu distimulasi. Untuk bayi yang baru lahir, sebaiknya stimulasi lebih dititikberatkan pada pengembangan kemampuan pancaindranya. Contoh, gunakan mainan dengan warna utama yang digantung kurang lebih 30 cm untuk menstimulasi penglihatan.

Memasuki usia 2-4 bulan, bayi sudah mampu berguling dan mengangkat kepala. Untuk menstimulasi dapat memanfaatkan mainan berbunyi yang diletakkan di sisi bayi agar mau berguling. Selanjutnya letakkan mainan yang digantung di hadapannya, sehingga batita terstimulasi untuk menggapai mainan tersebut. Usia 6-8 bulan bayi mulai mampu berdiri dan merambat. Untuk menstimulasi gunakan pembatas atau playpen yang terbuat dari alumunium atau kayu dengan jarak tertentu, sehingga tidak membahayakan dan dapat dimanfaatkan untuk bermain atau rambatan. Pada usia 9-12 bulan, bayi mulai berjalan. Ajak bayi berjalan keliling di sekitar lingkungan terdekatnya di pagi atau sore, sekaligus mengembangkan keterampilan berjalan.

Lakukan komunikasi dan kontak mata ketika menstimulasi bayi. Dengan demikian orangtua dan bayi bisa berlangsung lebih erat, sekaligus juga mengetahui respons dari bayi. Manfaatkan mainan atau berbagai benda yang ada di sekitarnya. Saat stimulasi berlangsung, pastikan anak sedang sehat, cukup tidur, cukup makan. Lebih baik lagi bila dilakukan sambil bermain atau melakukan aktivitas sehari-hari.

8. Nutrisi tepat.
Nutrisi berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Nutrisi tepat tidak hanya membuat anak sehat dan kuat, tapi juga menjadikannya cerdas. Bahkan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan dan tahapan perkembangan bayi.

Untuk bayi baru lahir, utamanya adalah ASI. Selanjutnya, setelah berusia enam bulan dapat mengonsumsi MPASI. Berikan MPASI sesuai dengan prinsip gizi cukup dan seimbang. Pilih makanan yang aman dan hindari makanan yang berisiko mencetuskan alergi seperti telur, ikan dan lainnya.















 http://i1.mirror.co.uk/incoming/article1397657.ece/ALTERNATES/s615b/Francesca+Goodby+with+her+newborn+sister+Roisin










images by: depositphotos.com, mirror.co.uk
(Tabloid Nakita/Dedeh Kurniasih, Irfan Hasuki, Utami Sri Rahayu), kompas

 
Like us on Facebook