December 17, 2012

Kisah Inspiratif: Seorang Ibu dan 3 Kantong Berasnya

Dikisahkan tentang sebuah keluarga yang sangat miskin, yang mempunyai seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah lama meninggal dunia, tinggalah Sang Ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang kehidupan sehari-hari.

Ibunya dengan bersusah payah membesarkan dan memenuhi kebutuhan sekolah anaknya. Sawah yang tidak seberapa luas peninggalan suaminya, yang menjadi sumber kehidupan mereka. Saat itu kampung tempat mereka tinggal belum memiliki listrik. Saat belajar, sang anak hanya diterangi sinar lampu minyak, sedangkan Sang Ibu dengan penuh kasih menjahitkan seragam sekolah putranya, yang walaupun sudah kelihatan lusuh dan sobek. Hanya seragam itulah satu-satunya, yang dapat dikenakan sang anak ke sekolahnya.


Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.
Tetapi, justru disaat itulah Ibunya mulai menderita penyakit rematik yang parah, sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.

Saat itu, setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa 30kg beras untuk dibawa kekantin sekolah.
Sang anak mengerti bahwa, Ibunya tidak akan sanggup bisa memberikan 30kg beras tersebut.

Dan berkatalah sang anak kepada Ibunya "Ma, saya mau berhenti sekolah, dan membantu mama bekerja disawah".
Ibunya mengelus kepala anaknya, dan berkata lembut "Kamu memiliki niat sebaik itu, mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah jangan khawatir, mama yang sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu". "Cepatlah pergi dan daftarkan kesekolah, nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolahnya.
Mamanya yang habis kesabarannya dengan spontan menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak dipukul Ibunya.
Sang Ibu dengan berlinang air mata seraya berkata"Anakku meskipun kita hidup dalam kesusahan, sedikitpun kamu tidak boleh menyerah". "Ibu akan berusaha sekuat tenaga untuk menopang pendidikanmu, kuatkan Mentalmu Anakku, sekarang pergilah dan daftarkan diri kesekolah".

Sang anak yang dengan
perasaan yang amat dalam akhirnya pergi juga kesekolahnya. Ibunya terus berpikir dan merenung sambil menlihat bayangan anaknya pergi menjauh.

Tak beberapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Sang Ibu pergi kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya. Seorang pengawas membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata "Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah". "Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran". Sang Ibu merasa malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.

Awal bulan berikutnya Sang Ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Pegawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dan menimbangnya dan dengan alis mengerut seraya berkata "Masih dengan beras yang sama, tak peduli jenis beras apapun yang ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah". "Jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna". "Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya".

Sang Ibu sedikit takut dan berkata "Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini, jadi harus bagaimana"?
Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata "Ibu punya beberapa hektar tanah, sehingga bisa menamam bermacam-macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu Sang Ibu tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, Sang Ibu datang kembali kesekolah dengan membawa sekantong beras lagi. Sang pegawas kembali marah-marah dengan kata2 kasar "Kamu sebagai Ibu, mengapa begitu keras kepala, kenapa membawa beras yang sama lagi, bawa pulang saja berasmu itu!".

Dengan berlinang air mata Sang Ibu pun berlutut didepan pengawas tersebut dan berkata "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapatkan dari mengemis". Setelah mendengar kata Sang Ibu, pengawas itu kaget dan tak bisa berkata apa2 lagi. Sang Ibu terzebut duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Sang Ibu berkata lagi "Saya menderita rematik stadium akhir, bahkan untuk berjalan aja susah apalagi untuk bercocok tanam". Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja di sawah". Tapi saya melarang dan memintanya bersekolah lagi".

"Setiap hari pagi2 buta, dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi ke kampung sebelah untuk mengemis". Sampai hari sudah gelap, pelan2 kembali kerumah". Sampai awal bulan, semua beras yang terkumpul saya serahkan ke sekolah ini".

Tanpa disadari air mata pengawas itu pun mulai mengalir, kemudian menuntun Sang Ibu dari lantai dan berkata "Bu, sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan bagi keluarga ibu". Sang Ibu buru2 menolak dan berkata "Jangan, kalau anakku tahu, bahwa Ibunya pergi mengemis untuk sekolahnya, maka itu menghancurkan harga dirinya dan itu akan menggangu sekolahnya". Saya sangat terharu atas kebaikan ibu, tapi tolong jaga rahasia ini baik2".
Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam2 kepala sekolah membebaskan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah tiga tahun, anak tersebut kemudian lulus masuk ke perguruan tinggi dengan nilai 627 point.

Dihari perpisahan, kepala sekolah sengaja mengundang Sang Ibu anak tersebut, untuk duduk diatas tempat duduk utama. Sang Ibu merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapatkan nilai tinggi, mengapa hanya ibu ini yang diundang. Lebih anehnya lagi, disana masih terdapat 3 kantong beras.

Kepala Sekolah pun menunjukkan kantong beras itu, dan berkata dengan haru "Inilah 3 kantong beras yang diberikan dari Sang Ibu yang tengah bersama kita disini, Sang Ibu yang penuh dengan pengorbanan demi anaknya".

Sang Ibu yang sungguh luar biasa ini, dipersilahkan naik keatas mimbar.
Anak dari Sang Ibu tersebut dengan ragu2 menlihat kebelakang dan menlihat gurunya menuntun Mamanya berjalan keatas mimbar. Sang Ibu dan Sang Anak saling bertatapan. Pandangan seorang Ibu yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak dengan mengalir air mata segera memeluk dan merangkul erat Ibunya dan berkata "Oh, Mamaku...

~Inti cerita diatas mengajar dan mengingkatkan kita bahwa~

Pepatah mengatakan "Kasih Ibu, sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan". Inilah kasih seorang Ibu, yang terus dan terus memberi kepada anaknya tanpa mengharapkan balasannya. Hati yang mulia dari seorang Ibu dari cerita diatas, demi menghidupi sang anak, bekerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depan.
Mulai sekarang, katakanlah kepada mama dimanapun mama kita berada dengan 1 kalimat: "Terimakasih Mama... Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu Selamanya...

_sumber dari kisah nyata_
 
references by Ruang Bacaan

 
Like us on Facebook