May 4, 2013

Situasi Di Myanmar Kembali Memanas

Kepolisian Myanmar menahan dua orang yang terlibat penyerangan ke sejumlah toko dan rumah milik warga Muslim di Kachin State. Kedua pelaku yang ditangkap ini sama-sama merupakan biksu.



Wilayah Kachin State sebenarnya didominasi warga penganut Kristen di Myanmar. Namun, tidak sedikit warga Muslim yang tinggal di wilayah ini. Sebagian warga penghuni wilayah tersebut memang dikenal berprofesi sebagai perajin batu giok dan anyaman.

"Kami menangkap dua orang di lokasi kejadian... dan sekarang kami masih menginterogasi mereka. Kami akan mendakwa mereka jika memang cukup bukti," ujar seorang polisi Kachin State kepada AFP, Sabtu (4/5/2013).

Serangan ini terjadi pada Kamis (2/5) malam waktu setempat. Sejumlah saksi mata mengaku melihat segerombolan orang, termasuk sejumlah biksu, mendatangi lingkungan warga Muslim dan mulai melakukan penyerangan.

Seorang warga Muslim di Kachin, Moe Moe Lwin (46) menuturkan, sekitar 30 orang melempari batu ke arah toko dan rumah warga Muslim di wilayah tersebut.

http://d24pg1nxua23qm.cloudfront.net/contentAsset/image/4108fbc4-fc85-443b-94fb-3480f800997d/image/byInode/1/filter/Resize,Jpeg/jpeg_q/90/resize_w/318

"Kami tidak melakukan apapun kecuali melihat mereka menghancurkan toko kami... kami pergi untuk sementara. Kami sama sekali tidak tahu apakah harus melawan mereka," ucapnya.

Sedangkan seorang warga penganut Buddha di wilayah yang sama, membenarkan adanya serangan terhadap sejumlah toko dan rumah warga Muslim tersebut. Namun lebih lanjut dia mengaku sangat terganggu dengan aksi segerombolan orang tersebut..

http://sphotos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/c0.48.800.382/p843x403/375169_553528238025371_1225988714_n.jpg

"Kami tidak ingin melihat lagi aksi kekerasan semacam ini. Kami mengecam aksi mereka," tegas warga bernama Tin Soe ini.


Warga Muslim Myanmar Barikade Desanya untuk Antisipasi Serangan


 Tiga pria Muslim mengintip dari pagar bambu yang dibangun baru-baru ini untuk membentengi desa mereka di daerah Win Kite, Myanmar tengah. Mereka menatap ke arah sawah kering di pemukiman warga Budha, mencari keberadaan asap yang merupakan tanda-tanda gerombolan orang mendekat ke daerah mereka.



"Pada Rabu (1/5) sekitar 100 orang umat Budha bersenjatakan tongkat telah berkumpul di luar pagar, mengancam akan membakar desa dan membunuh mereka," ujar salah satu penduduk Win Kite yang enggan disebut namanya, seperti dilansir Reuters, Sabtu (4/5/2013).

Untungnya polisi menggagalkan serangan itu. Namun, para warga Muslim tidak mau mengambil risiko pasca aksi kekerasan yang dipimpin para biksu Buddha di Meikhtila, pada Maret lalu. Insiden yang menewaskan 44 orang yang sebagian besar merupakan warga penganut Muslim tersebut memicu gelombang kerusuhan di pusat kota Myanmar. Hal tersebut juga mengancam reformasi ekonomi dan politik yang baru lahir di negara itu.

"Kami memiliki rencana untuk mempertahankan diri, jika mereka datang dan menyerang kami," kata seorang warga bernama Kin Jadi. Dia menambahkan, warga di Win Kite telah mempersenjatai diri dengan parang sebagai tindakan pencegahan ketika tentara dan polisi berpatroli di daerah mereka.

Pagar setinggi 1,5 meter yang mengelilingi Win Kite adalah gambaran yang jelas perpecahan antara Muslim Myanmar dan umat Budha yang merupakan masyarakat mayoritas. Perpecahan tersebut juga mulai menyebabkan masalah di wilayah lain di Asia Tenggara.

Pada Jumat (3/5), rencana penyerangan kedutaan Myanmar di Jakarta berhasil digagalkan oleh tim Densus Mabes Polri. Polisi bahkan berhasil menangkap 2 orang terkait serangan tersebut, pada Kamis (2/5), malam serta menyita sejumlah bahan peledak. Belakangan diketahui bahwa rencana serangan tersebut merupakan reaksi atas penyerangan umat Muslim Rohingya di Myanmar yang merenggut banyak nyawa.


Ketua FPI: Presiden SBY Dihina Myanmar

Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Shihab menyayangkan sikap cuek pemerintah Myanmar terhadap pembantaian Muslim Rohingya. Walau Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah berkali-kali ‘menegur’ Myanmar di forum internasional. Sikap negara tersebut dinilai bentuk penghinaan terhadap Presiden SBY.
 
Habib Rizieq mengatakan, SBY pertama kali membicarakan Rohingya di markas Persatuan Bangsa-bangsa, Amerika Serikat. Yang kedua di Singapura beberapa waktu lalu. Namun ‘teguran’ SBY tidak dipedulikan Myanmar.

 http://gdb.voanews.com/970C0809-1BBE-49C1-8303-B28428C57F35_w640_r1_s_cx0_cy10_cw0.jpg

“Pembantaian tetap berlangsung. Berarti suara bangsa Indonesia tidak dipedulikan,” tukas Rizieq usai berdialog bersama 16 perwakilan Forum Umat Islam (FUI) dengan staf Kedutaan Besar Myanmar di Jalan Agus Salim, Menteng, Jakarta (03/05/2013).

Dengan demikian, lanjutnya, Myanmar dituding telah menantang Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia.

“Mereka telah menghina presiden kita. Berarti mereka sudah menantang umat Islam,” ujar Rizieq di depan ribuan kaum Muslimin yang menghadiri Aksi Solidaritas Selamatkan Muslim Rohingya Arakan itu.

“Kita akan dorong, sekali lagi dorong supaya SBY memutuskan hubungan diplomatik dengan Myanmar. Usir duta besarnya dari Indonesia. Tutup kedutaannya di  Jakarta. SBY tidak melakukan itu, kita yang akan usir duta besarnya,” seru Rizieq.*




Begini Muslim Perlakukan Biksu Myanmar

 

 http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/interaksi-antar-umat-islam-dengan-buddha-di-myanmar-_130502102656-612.jpg


Sebuah foto interaksi antarumat Buddha dan umat Muslim muncul di laman Facebook. Foto tersebut memperlihatkan bagaimana Muslim Myanmar memberlakukan para biksu dengan baik.

Terlihat Umat Islam memberikan sedekah kepada para biksu Buddha. Di bagian lainnya, terdapat keakraban antara ulama dengan biksu yang sedang menghadiri suatu acara.

Foto tersebut muncul di laman Facebook dengan akun 'STOP Killing Muslims in Burma'. Pengelola akun tersebut memberi komentar di foto tersebut. "How Muslims handle with Buddhist monks. So why you hate them?"

Hanya, persahabatan yang terlihat di foto tersebut ternyata berbanding terbalik dengan realitas di Myanmar. Polisi Myanmar melaporkan, Selasa (30/4) kemarin, kerusuhan antar umat Muslim dengan mayoritas Buddha muncul di kawasan komersial kota Oakkan. Kota ini berjarak 100 kilometer utara Yangon, ibu kota Myanmar.

Sekelompok umat Buddha bersenjatakan batu merusak masjid dan kemudian menghancurkan puluhan toko kaum muslim. Pemicu kerusuhan ini hanya karena adanya isu seorang perempuan Muslim sengaja menabrak biksu Buddha yang sedang meminta di jalan.




http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/aksi-muslim-di-myanmar-menentang-gerakan-anti-muslim-_130504141404-103.jpg











references by detik, hidayatullah, republika

 
Like us on Facebook