November 5, 2013

Peretas Indonesia Serang Ratusan Situs Australia

Sekelompok aktivis hacker atau kerap disebut 'hacktivist' asal Indonesia yang mengatasnamakan dirinya sebagai Anonymous Indonesia, melalui akun Twitter @anon_indonesiamengumumkan daftar ratusan situs Australia yang diklaim telah berhasil mereka bajak.


Penyerangan cyber terhadap ratusan situs asal Australia ini diduga sebagai tindakan balasan atas tuduhan spionase (mata-mata) yang dilakukan pihak Kedubes Australia di sejumlah negara di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Menurut yang dilansir laman Reuters, Senin (4/11/2013), situs-situs yang berhasil dibajak itu di-hack dan mengalami deface atau perubahan tampilan laman. Halaman awal situs diubah dan menampilkan pesan khusus yang berbunyi" "Stop Spying on Indonesia" yang artinya "Berhentilah Memata-matai Indonesia".

Kebanyakan situs yang menjadi korban peretasan adalah situs iklan dan bisnis kelas bawah yang tak terlalu populer di Australia dan diperkirakan dipilih secara acak.


Sebelumnya The Sydney Morning Herald mengabarkan bahwa sejumlah Kedubes Australia yang berada di wilayah Asia Tenggara terlibat kegiatan penyadapan yang dimotori oleh dinas intelejen Amerika Serikat (NSA). Dilaporkan Kedubes Australia di Jakarta, Bangkok, Hanoi, Beijing dan Dili, juga Kantor Komisi Tinggi di Kuala Lumpur serta Port Moresby telibat urusan spionase ini.

Hal ini tentunya membuat pemerintahan negara yang menjadi korban penyadapan geram dan mengambil tindakan tegas, termasuk Indonesia. Laman Antara mengabarkan bahwa pada Jumat, (1/11/2013), Kementerian Luar Negeri telah memanggil duta besar Autralia untuk dimintai keterangan lebih lanjut terkait isu spionase ini.


 Beberapa hari terakhir, hacktivist di Indonesia telah merusak 300 situs Australia. Kelompok peretas (hacker) Anonymous dalam negeri pun akhirnya melayangkan protes kepada Negeri Kanguru atas dugaan operasi spionase gabungan dengan Amerika Serikat (AS) di Indonesia.

Anonymous Indonesia pun langsung menerbitkan sebuah link ke Pastebin berisikan daftar-daftar situs targetnya. Ada sekira 300 situs web yang sudah dirusak, tetapi tidak menutup kemungkinan akan bertambah lagi.

Bahkan, Anonymous Indonesia juga dengan tegas dan giat mendengungkan slogan “Berhenti memata-matai Indonesia!”. Serangan itu semakin gencar dilakukan menyusul laporan dari si ‘peniup pluit’ Edward Snowden yang mengklaim bahwa kedutaan Australia sedang digunakan oleh jaringan mata-mata NSA.

Disadur Softpedia, Senin (4/11/2013) kebanyakan dari situs yang ‘diganggu’ itu adalah situs komersial. Serangan ini ditujukan untuk mengacaukan Operasi Australia.
“Salam untuk semua warga negara Australia. Katakan kepada pemerintah kalian untuk berhenti memata-matai negara kami! Kami adalah orang-orang Indonesia,” tulis pesan yang di-posting hacktivistdi beberapa situs target.

Mereka juga mengatakan bahwa tidak segan-segan untuk melakukan Perang Cyber News yang dapat ‘menghancurkan internet Australia’ jika masih berani memata-matai Indonesia. Disamping itu, para peretas juga meminta Australia untuk meminta maaf kepada Indonesia


Hacker Indonesia Bajak Situs Australia karena Kesal Sudah Dimata-matai



Para peretas atau hacker dari kelompok Anonymous Indonesia, Senin (4/11/2013) mengklaim telah meretas lebih dari 170 situs di Australia, sebagai balasan atas kegiatan mata-mata yang dilakukan oleh pemerintah Australia atas Indonesia.
"Ratusan website Australia diserang # OpAustralia oleh Hacker Indonesia," tulis kelompok itu dalam akun Twitter mereka.
Situs yang mereka retas umumnya berskala kecil dan dengan domain Australia.Au.
Dalam situs yang telah mereka retas, terdapat pesan, "hentikan memata-matai Indonesia," dan di bawahnya terdapat bendera Indonesia dan wajah Guy Fawkes, yang merupakan simbol dari Anonymous internasional.
Situs yang diretas nampaknya dipilih secara acak, dimana meliputi situs untuk usaha katering, jasa kebersihan, dan penyewaan kastil.
Seperti diberitakan sebelumnya, surat kabar Australia, The Guardian mengutip dokumen yang dibocorkan oleh whistleblower AS, Edward Snowden menyebutkan di tahun 2007. petugas Direktorat Pertahanan Sinyal Australia bekerja bersama dengan Badan Keamanan Nasional Amerika (NSA) melakukan operasi intelijen dengan mengumpulkan nomor telepon dari pejabat keamanan Indonesia.
Hal itu untuk memonitor panggilan telepon para pejabat keamanan Indonesia, dan mengumpulkan data intelijen lainnya









references by liputan6,  tribunnews, okezone

 
Like us on Facebook