November 12, 2014

Harga Bahan Pokok Mulai Naik Satu Persatu, Kaum Ibu Rumah Tangga Mulai Menjerit

Kenaikan harga barang kebutuhan pokok rata-rata naik mencapai 50 persen, bahkan beberapa di antaranya mengalami kenaikan 100 persen. Padahal, harga BBM belum naik.

Warga, terutama ibu rumah tangga menjerit. Pengamat menilai, kenaikan harga sudah tahap mengkhawatirkan, karena pemerintah tidak mampu mengendalikan pasar.

http://fokusriau.com/foto_berita/medium_55pasca-tahun-baru-harga_cabai_merah_naik_di-pekanbaru.jpeg

Para ibu rumah tangga menjerit karena harga bahan pokok dan kebutuhan rumah tangga lainnya di sejumlah pasar tradisional terus meroket.

"Semua barang harganya naik. Sementara penghasilan suami saya tak menentu. Stress mas, tapi ya, mau apa lagi? Jangankan pemerintah, para anggota dewan pun yang katanya mewakili rakyat, kelihatannya tak peduli nasib kami," kata Utari (40) warga Bogor saat ditemui Harian Terbit, Senin (10/11/2014).

Dia mengaku kebingungan menghadapi naiknya harga kebutuhan rumah tangga tersebut. Padahal rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi masih belum jelas.

Hal senada dikatakan Elda (32) warga Tangerang, Banten. "Minggu, saya beli ayam potong dengan harga Rp25 ribu per kilogram (kg), dan hari ini (Senin, 10/11/2014), harganya sudah naik lagi jadi Rp50 ribu per kg. Enggak tahu nanti harus beli apa, kalau harganya terus naik?" keluh Elda.

Berdasarkan pantauan Harian Terbit di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (10/11/2014), harga cabai, daging sapi, dan ayam mengalami kenaikan.

Pedagang sayur mayur, Kawit mengatakan, dalam beberapa hari ini harga cabai terus merangkak naik. Kenaikan ini dikarenakan para petani cabai mengalami gagal panen sehingga pasokan menjadi berkurang. "Semua jenis cabai mengalami kenaikan setiap harinya," papar Kawit.

Kawit menyebutkan, harga cabai rawit merah yang tadinya Rp25-Rp30 ribu kini menjadi Rp50 ribu per kg. Cabai rawit hijau juga naik dari Rp30 ribu menjadi Rp55 ribu per kg. Kemudian harga cabai merah keriting juga naik dari Rp35-Rp40 ribu menjadi Rp60 ribu per kg.

Menurutnya, harga bawang merah masih stabil dikisaran Rp15 ribu per kg, bawang putih juga stabil Rp16-17 ribu per kg. Kemudian harga tomat per kg masih Rp6.000, dan timun masih Rp8.000 ribu per kg.

Ahmad pedagang telur mengaku, harga telur masih cukup stabil, yakni Rp17.500 per kg. Kenaikan harga telur diperkirakan akan terjadi menjelang Natal dan Tahun Baru. "Biasanya jelang Natal dan Tahun Baru naik," ungkapnya.

Pedagang daging sapi, Jamal mengatakan, saat ini harga daging sapi naik dari Rp 95-Rp98 ribu menjadi Rp100 ribu per kg.

"Naik karena pasokan kurang terus ditambah lagi ada isu kenaikan BBM," sebutnya.

Pedagang daging ayam, Tikin menambahkan, harga ayam terus naik. Saat ini harga daging ayam mencapai Rp32 ribu per ekor.

"Tadinya Rp28 ribu per ekor. Mungkin karena BBM mau naik kali ya. Sudah berapa hari ini naik Rp1.000 terus," pungkas Tikin.

Staf asisten manajer Usaha dan Pengembangan Pasar Induk Kramat Jati, Komarudin menjelaskan, fenomena kenaikan harga cabai di Pasar Induk Kramat Jati, karena berkurangnya pasokan hingga 40 persen dari rata-rata suplay harian normal sebesar 250 ton per hari. Berkurangnya pasokan tersebut akibat musim kemarau yang melanda beberapa sentra penghasil cabai di Jawa.

“Sehingga suplay yang dikirim ke Pasar Induk Kramat Jati berkurang. Sementara tingkat permintaan dari masyarakat cenderung tinggi. Akibatnya harga cabai melambung tinggi,” ujar Komarudin.

Terpisah, Sumarni (52) pedagang sayur mayur di Pasar Karang Anyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat sejumlah harga bahan pokok mengalami kenaikan sebesar 50-100 persen.  "Cabai keriting dari harga Rp15-20 ribu sekarang saya jual Rp65 ribu. Naiknya enggak kira-kira," katanya.

Dikatakan Sumarni, kenaikan harga cabai sudah terjadi sejak beberapa bulan yang lalu sejak harga BBM direncanakan akan naik. 

Selain cabai, lanjutnya, harga ketimun, kacang panjang, dan tomat juga ikut mengalami kenaikan. Untuk ketimun sendiri naik dari harga Rp5 ribu saat ini Rp6 ribu. Kacang panjang dari Rp12 ribu, sekarang naik Rp14 ribu per kg, serta Tomat Rp8 ribu kg.

"Biasanya kalau untuk ketiga barang itu saya palingan jual cuman ambil keuntungan Rp2 ribu perak," jelas Sumarni.

Sementara menurut pedagang lain yakni Yuni, tak hanya cabai diperkirakan seminggu ke depan harga kebutuhan pokok lainnya juga akan menyusul.

"Kalau bensin naik pasti akan ikut naik, soalnya biasa pengiriman memakai bajaj, ongkosnya saja sudah Rp35 ribu, kalau bensin naik pasti tukang bajaj akan menaikkan tarif juga," tuturnya.

Kendati demikian, Yuni berharap kepada Presiden dan Wakil Presiden Jokowi-JK untuk mengkaji ulang kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi.

"Saya bingung BBM belum naik, tapi sembako sudah naik, harusnya BBM jangan naik dulu dong Pak Jokowi, mungkin harga cabai naik apakah pergantian cuaca, biasanya begitu contoh cabai dari musim penghujan ke panas jadi rontok," ucap Yuni.

Sementara itu, tak hanya harga beras ditingkat pengecer juga mengalami kenaikan, menurut pedagang beras, Ati (39), harga beras berkualitas baik mengalami kenaikan lebih rendah dibandingkan dengan beras berkualitas kurang baik.

"Kemarin beras kualitas bagus Rp7 ribu per liter,sekarang harga segitu cuma dapat beras yang jelek enggak pulen," kata Ati.

Untuk tingkat penyedian beras itu sendiri per karungnya mengalami kenaikan sebesar Rp1.000. Beras yang berkualitas baik dari Karawang yang tadinya Rp42 ribu saat ini dijual seharga Rp43 ribu. Sementara beras merk piring nasi dari harga Rp19,8 ribu sekarang naik menjadi Rp205 ribu per karung.

Sementara itu, pengamat ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM), Sri Adiningsih menilai, pemerintah tidak akan mampu mengendalikan kenaikan harga-harga pangan yang bergerak liar di pasar.

“Kita lihat setiap tahun, tidak usah ada kenaikan harga BBM, pemerintah selalu menyampaikan ketersediaan barang cukup. Pemerintah tidak pernah mengatakan ketersediaan tidak cukup. Tapi kenyataannya jelang Ramadan dan Lebaran, harga-harga melonjak naik. Jadi berdasarkan sejarah tersebut, pemerintah tidak akan mampu kendalikan harga barang,” ujarnya.

Salah satu penyebabnya, kata Sri, karena wilayah Indonesia terlalu luas. “Harga BBM saja bisa berbeda tajam. Tidak semua bisa beli di SPBU. Kemampuan pemerintah intervensi sangat terbatas. Pasar murah yang merupakan program pemerintah hanya ada di beberapa kantor saja. Pengaruhnya sedikit sekali dibandingkan jumlah penduduk,” jelas dia.

Pengamat Ekonomi, Hendri Saparini mengatakan, gejolak harga sejumlah komoditas pangan memang tak tertahankan dalam beberapa pekan terakhir. Akar masalahnya bermuara pada produksi dalam negeri yang tidak mampu mengimbangi permintaan. Belum lagi kalangan pejabat pemerintahan memiliki agenda terselubung yang membuat negeri ini kian tergantung kepada komoditas impor.

Padahal kebijakan tersebut, yang mengondisikan impor, juga memicu penurunan produktivitas pertanian tanaman pangan di dalam negeri, di samping membuat kebijakan pengembangan menjadi tidak jelas. 

"Lonjakan harga beras terus merembet ke harga minyak goreng, gula pasir, tepung terigu, dan sebagainya. Kenyataan tersebut tidak kunjung menjadi perhatian serius pemerintah," papar Hendri.

Hendri sendiri melihat kenaikan harga komoditas pangan sudah pada tahap mengkhawatirkan, bahkan cenderung mengarah pada kekacauan ekonomi di tingkat bawah. Masyarakat luas, katanya, semakin kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok sehari-hari akibat harganya terus naik ke tingkat sangat signifikan.

“Padahal dalam kondisi demikian, daya beli masyarakat justru amat lemah akibat tingginya angka kemiskinan dan pengangguran,” ujarnya.

http://cdn.kaskus.com/images/2013/06/24/1980463_20130624091719.jpg









references by harianterbit

 
Like us on Facebook