January 11, 2015

Kisah Soladiritas Penyedia Makanan GRATIS Untuk Para Relawan, Wartawan & Tim Pencari AirAsia QZ8501

Tak cuma bersedih atas kecelakaan AirAsia QZ 8501, sejumlah warga melakukan aksi untuk membantu siapa pun yang terlibat pencarian korban pesawat.


Gorengan dan "Kopi Cinta" untuk Tim Pencari AirAsia QZ8501

Di tengah hiruk pikuknya proses pencarian dan evakuasi pesawat dan penumpang AirAsia QZ8501, sekelompok perempuan di Lapangan Udara (Lanud) TNI Angkatan Udara Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, juga terlihat sibuk.





Namun kesibukan mereka bukan untuk mengatur arus lalu lintas pesawat atau helikopter yang membawa serpihan, barang, atau jenazah penumpang Pesawat AirAsia QZ8501. Juga bukan untuk menyiapkan segala peralatan untuk pencarian pesawat dan korban.

Mereka bertugas membantu orang-orang yang sibuk di Lanud, yang merupakan posko utama pencarian dan evakuasi Pesawat AirAsia QZ8501. Lidya Evilinawati, misalnya. Hampir sepanjang hari, dari pagi hingga sore, perempuan yang tinggal di Pangkalan Bun bersama suaminya sejak April 2014 itu, terlihat sibuk.

Kesibukannya menyiapkan makanan dan minuman ringan bagi semua orang di Lanud, termasuk relawan dan juru warta.

Lidya tidak sendiri. Ia ditemani rekan-rekannya dari Persatuan Istri-Istri TNI AU (PIA) Ardhya Garini Cabang 13/D II Lanud Iskandar. Ya, mereka termasuk Lidya, adalah istri-istri anggota TNI AU yang bertugas di Lanud Iskandar. Mereka ikut sibuk karena ingin terlibat dalam proses pencarian AirAsia QZ8501.

"Kami setiap hari bikin makanan dan minuman. Kalau pagi, kopi, teh manis hangat, snack. Kalau sore, tambah goreng-gorengan dan buah-buahan," kata Lidya, Rabu (7/1/2015).
Dana Swadaya
Lidya adalah istri Komandan Lanud Iskandar Letnan Kolonel Penerbang Jhonson Simatupang. Menurut dia, membuat makanan dan minuman ringan para istri TNI AU bisa berkontribusi dalam ‎proses pencarian AirAsia QZ8501.

Keberadaan kelompok ibu-ibu ini menjadi sangat penting di Pangkalan Bun. Dengan adanya posko makanan dan minuman ini, anggota Tim SAR atau relawan bisa mengganjal perut atau membasuh kerongkongan yang haus saat bertugas.

‎Lidya mengaku, dana untuk membentuk posko dan membeli bahan-bahan makanan dan minuman, berasal dari dana swadaya istri anggota TNI AU. "Kami urunan, swadaya dananya untuk buat gorengan dan "kopi cinta" ini. Apalagi suami-suami kami kan sedang dalam tugas yang berat saat ini," ujar Lidya.

Di Lanud Iskandar, saat ini, selain Posko PIA Ardhya Garini, ada juga posko makanan dan minuman yang dibuat bank atau perusahaan lain. Total ada sekitar 6 posko makanan dan minuman di Lanud Iskandar. Termasuk posko yang menyediakan nasi dan lauk-pauknya.

Keberadaan posko-posko makanan dan minuman itu membuat orang-orang di lanud tidak perlu khawatir haus atau kelaparan. Bahkan warga pun boleh mengambil meski tidak terlibat dalam proses pencarian pesawat AirAsia QZ8501.

Ada Pijat dan Laundry Gratis di Lanud Iskandar

Tragedi hilangnya pesawat AirAsia QZ8501 tidak hanya mengundang simpati beberapa negara sahabat untuk terlibat dalam operasi pencarian. Sejumlah lembaga dan korporasi juga ikut berpartisipasi.
Memang, mereka tidak terjun ke Selat Karimata untuk mengevakuasi jenazah atau serpihan burung besi yang seharusnya terbang ke Singapura itu.
Namun, kehadiran mereka cukup berarti bagi relawan maupun jurnalis yang melakukan tugas peliputan di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Sejak dibukanya posko pencarian AirAsia QZ8501 di Lanud Iskandar Pangkalan Bun, sejumlah lembaga dan perusahaan tampak ikut berpartisipasi. Yayasan Zakat Kita, misalnya, memilih menyediakan posko laundry gratis untuk para relawan dan jurnalis.
Wartawan Jawa Pos (induk JPNN) sempat mencoba jasa laundry gratis itu. Pelayanannya cukup memuaskan. Beberapa potong pakaian yang di-laundry pagi selesai dikerjakan sore harinya. Hasil cuciannya pun sama seperti laundry kiloan kebanyakan.
Ketua Yayasan Zakat Kita Sumarmo Hastono Sigit mengatakan, layanan laundry itu dibuka setelah sebelumnya dia melakukan pengamatan di Posko Lanud.
’’Saya lihat banyak teman-teman relawan dan jurnalis dari luar daerah yang aktivitasnya padat. Saya mikir, pasti mereka akan tidak ada waktu untuk mencuci atau me-laundry-kan pakaiannya,” tuturnya.
Dari situ, Zakat Kita yang menjadi mitra kerja Rumah Zakat lantas memilih membuka posko laundry gratis. Selain itu, mereka juga tetap menyediakan makanan ringan dan minuman, seperti posko yang dibangun lembaga lainnya.
Danlanud Iskandar Letkol (Pnb) Jhonson Simatupang mengatakan, pihaknya membuka ruang pada siapapun untuk turut serta membantu para relawan.
’’Selain dari pihak swasta, istri-istri para anggota TNI-AU yang tergabung dalam PIA (Persatuan Istri-Istri TNI-AU) Ardhya Garini Cabang 13/D II Lanud Iskandar juga ikut mendirikan posko makanan,” ungkapnya.
Bahkan, di posko tersebut, istri Jhonson, Lidya Evilinawati, tak pernah absen menjaga posko. Tak jarang, Lidya mendatangi media center untuk mengingatkan para jurnalis makan siang. Kadang, dia dan ibu-ibu PIA yang membawakan makanan kecil ke para wartawan dan personel Basarnas


TINGGINYA intensitas dan aktivitas di Lanud Iskandar Pangkalan Bun, mulai dari para anggota TNI, POLRI, BASARNAS, sampai para awak media yang meliput, rasa capek dan lelah yang mendera fisik bahkan psikis pasti akan sangat terasa.

Kondisi seperti itu membuat masyarakat dan para relawan di Pangkalan Bun tergerak membantu sesuai kemampuan dan keahlian masing-masing. Ada yang menyediakan makanan secara gratis, bahkan ada pula yang menyediakan jasa laundry hingga pijat gratis seperti yang dilakukan relawan Rumah Zakat cabang Pangkalan Bun.

Para relawan Rumah Zakat itu sengaja membuat stand di komplek Lanud Iskandar yang memberikan jasa pijat gratis serta cuci pakaian gratis. Dan, stand yang setiap hari sedikitnya dijaga oleh 5 orang relawan itu tak pernah sepi, mulai dari anggota tim SAR, aparat keamanan hingga para jurnalis.
“Sebenarnya kami ingin membantu dilapangan, tapi kami pikir tidak mungkin, jadi dengan layanan ini berharap sedikit membantu mereka seperti para tim yang terlibat dalam evakuasi korban dan pesawat, maupun para jurnalis yang mungkin kelelahan dan juga sibuk bekerja sehingga tidak ada waktu untuk mencuci pakaian mereka,” tutur Jery, salah seorang anggota relawan Rumah Zakat kepada Kalteng Pos, Sabtu (10/1).

Menurut Jery, untuk melancarkan aktivitas mereka, selain menurunkan anggota relawan Rumah Zakat, pihaknya juga melibatkan sejumlah mahasiswa di Pangkalan Bun.
“Alhamdulillah, pijat gratis dan juga laundry sangat banyak peminatnya. Dalam sehari saja untuk laundry bisa paling sedikit 40 kilogram. Apalagi untuk pijat gratis, banyak yang datang dari anggota TNI, POLRI dan juga dari wartawan yang bertugas disini. Kami senang dan bersyukur sudah membantu walalupun dengan seperti ini, karena musibah ini juga musibah kita, musibah yang menimpa para korban juga adalah saudara kita,” kata Jery.

Tak berbeda dengan Jery, Hadi salah satu tukang pijat yang stand by di stand tersebut juga mengaku sangat senang membantu para relawan dengan keahliannya memijat.
“Meskipun tidak dibayar saya siap, ini atas dasar hati nurani saya, dengan ini juga sedikit membantu mereka yang kelelahan bekerja tanpa henti. Ya, saya hanya bisa membantu dengan tenaga dan kebisaan saya,” ujar Hadi sembari memijat salah seorang jurnalis yang keseleo.
Hadi menuturkan, setiap hari yang datang ke stand untuk pijat cukup banyak, bahkan terkadang sampai antre hingga 20-an orang. Meski cukup menguras tenaga, namun Hadi mengaku tetap semangat melakukan aktivitasnya.

“Ya, walaupun terasa capek, tetapi melihat mereka sesudah di pijat bisa kembali semangat dan lancar beraktivitas, disitu saya lega dan puas membantu mereka,” tutur Hadi.
Salah seorang anggota TNI yang sedang antre untuk dipijat, kepada Kalteng Pos menyatakan kekaguman dan apresiasinya kepada para relawan dan masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Barat, seperti yang dilakukan Rumah Zakat. "Seharian bertugas memang terasa capek, apa lagi sering masuk angin. Alhamdullilah dengan pijat seperti ini, bisa kembali pulih, rasa pegal juga reda dan yang pasti pekerjaan lancar,” ujarnya.

Simpati warga Kotawaringin Barat untuk musibah AirAsia

Pangkalan Bun, Kalteng (ANTARA News) - Simpati dari masyarakat Kabupaten Kotawaringin Barat terhadap musibah jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501, terus mengalir di antaranya dengan memberikan berbagai bantuan untuk tim yang bertugas di lapangan.

"Ini bantuan dari siswa dan guru untuk membantu petugas di sini," kata Rizki, salah seorang pelajar yang turut menyerahkan bantuan makanan dan minuman bagi tim yang menangani musibah itu di RSUD Sultan Imanuddin, Kamis.

Kamis pagi, SMAN 1 Pangkalan Bun membawa berbagai makanan dan minuman kemasan untuk membantu tim yang bertugas di rumah sakit.

Berbagai perusahaan mulai dari perbankan hingga dealer kendaraan, membuka posko di rumah sakit. Mereka menyiapkan makanan dan minuman secara gratis untuk tim relawan yang bertugas.

Salah satu perusahaan bahkan meminjamkan lemari pendingin (cold storage) berukuran besar untuk menyimpan jenazah yang dievakuasi ke rumah sakit, sambil menunggu jenazah diberangkatkan ke Surabaya untuk diidentifikasi dan diserahkan kepada pihak keluarga.

"Kalau situasi seperti ini kita kan sibuk semua, apalagi kalau banyak jenazah yang datang. Syukur banyak posko yang menyiapkan makanan dan minuman gratis jadi kami terbantu," kata Ade, salah seorang petugas.


Sediakan Mi Instan Gratis untuk Relawan

Sediakan Mi Instan Gratis untuk Relawan


Ada pemandangan berbeda terlihat di RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun, Sabtu (3/1/2015).
Di halaman rumah sakit, kini berdiri dua buah tenda stand dari salah satu bank pemerintah, dan salah satu perusahaan provider telekomunikasi.
Kedua tenda tersebut menyediakan makanan dan minuman mulai dari mie instant, kopi, air mineral, hingga permen.
"Makanan dan minuman ini disediakan untuk petugas dan relawan yang bertugas membantu proses evakuasi korban pesawat AirAsia QZ 8501. Semua diberikan gratis," ungkap petugas yang menjaga tenda stand tersebut.

Makanan Gratis Bagi Relawan AirAsia QZ 8501 Dari Kikhlasan Warga Sekitar


Kesedihan yang disebabkan jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501 di area Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, benar-benar telah dirasakan banyak pihak di Indonesia. Tak ingin hanya larut dalam kesedihan, warga Pangkalan Bun memilih untuk memberikan aksi nyata untuk membantu.

Tak peduli hanya nasi bungkus atau sekedar teh manis dan camilan, warga mencoba selalu menyediakan makanan untuk mengganjal perut para relawan dan awak media yang berkegiatan seharian penuh di pusat evakuasi korban kecelakaan pesawat. Semuanya pun disediakan gratis.

Salah satu warga yang membantu adalah Lidya Evilinawati yang mempelopori pendirian tenda istri-istri tentara untuk para relawan. "Kami hanya membantu dari segi sosial untuk siapa saja yang memang kondisinya membantu tim evakuasi, baik Basarnas, wartawan atau siapa saja yang ada lingkup Lanud Iskandar," terangnya.

"Pagi kita sediakan kopi dan snack. Kalau sore buah-buahan dan gorengan," imbuhnya. "Kita ya di sini sampai selesai semuanya. Kami ikhlas."

Tak cuma posko yang didirikan Lidya, ada pula beberapa posko lain yang menyediakan beragam makanan gratis. Keberadaan posko-posko ini tentu sangat membantu para anggota tim evakuasi, relawan maupun wartawan yang bertugas.



Simpati Warga Kotawaringin Barat untuk Korban AirAsia Tak Hanya dengan Bendera Setengah Tiang

Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah mendadak menjadi perbincangan. Sorotan terhadap kabupaten yang delapan kali menyabet Piala Adipura ini terjadi lantaran warga di kawasan ini menyatakan simpati dan empatinya terhadap kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 di sekitar perairan Selat Karimata, tak jauh dari Kecamatan Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, yang hilang kontak pada Minggu (28/12).
Simpati itu terasa saat melihat bendera Merah Putih terpasang setengah tiang di kantor-kantor instansi pemerintah di Kotawaringin Barat. Pemandangan serupa juga terlihat di pekarangan rumah-rumah warga, terutama yang berada di Kecamatan Pangkalan Bun, dan Kecamatan Kumai.

Seorang warga, Sodikin (29) menuturkan, pemasangan bendera setengah tiang telah dilakukan warga sehari setelah jenazah korban pesawat AirAsia ditemukan di perairan Pangkalan Bun. Perkembangan mengenai proses evakuasi pun terus diikuti warga, baik dari pembicaraan di ruang tamu, maupun melalui media-media yang intens memberitakan peristiwa tersebut.

"Mulai dari keluarga di rumah, sampai teman-teman di tempat kerja, semuanya merasa sedih, dan ingin tahu perkembangan dari evakuasi yang dilakukan (tim) SAR," katanya, Kotawaringin Barat, Minggu (4/1).
Sodikin mengaku tak dapat membantu banyak proses pencarian dan evakuasi oleh tim SAR gabungan. Sebagai seorang sopir yang bekerja di perusahaan penyewaan kendaraan, Sodikin mengaku hanya dapat berupaya memberikan potongan harga dan menyiapkan kendaraan dengan kualitas yang baik.

"Paling saya hanya bisa membantu mengemudikan kendaraan dan menunjukkan jalan yang bisa ditempuh tim SAR untuk ke daerah-daerah yang berkaitan dengan proses pencarian dan evakuasi ini," tuturnya.
Selain Sodikin, tak sedikit warga yang turut berpartisipasi langsung. Bahkan, lokasi jatuhnya pesawat jenis Airbus 320-200 itu pertama kali teridentifikasi dari penuturan Rahmat dan Fendi, dua nelayan Pantai Kubu, Pangkalan Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat.

Fendi menyatakan, melihat pesawat terbang rendah dari arah timur dan berbelok ke arah laut. Informasi ini diperkuat dengan keterangan Rahmat, yang menyatakan mendengar suara ledakan di laut.
Sementara itu, sebanyak 41 pelajar dari SMAN 3 Pangkalan Bun, SMKN 1 Pangkalan Bun, serta SMA 1 Kumai, yang tergabung dalam Saka Dirgantara memilih untuk membantu proses pencarian dan evakuasi dengan menjadi sukarelawan di Landasan Udara Iskandar, Pangkalan Bun. 
Mereka membagikan konsumsi kepada tim SAR dan awak media yang meliput, memunguti sampah di sekitar posko utama, serta membuat barikade pengamanan jalur, agar mobil ambulans dapat menjemput dan mengantar jenazah dengan lancar.

"Dari Selasa sampai sekarang, yang laki-laki bantu pengamanan jika ada jenazah yang datang, sementara yang perempuan membantu di bagian konsumsi. Setiap mau pulang, kami operasi semut memunguti sampah di sekitar lokasi. Kami merasakan duka keluarga yang kehilangan. Kalau korban itu keluarga kami, tentu juga akan sedih. Saya hanya ingin menolong saja," ungkap Mar'atus Solikah, seorang pelajar kelas XI, SMAN 3 Pangkalan Bun.

Bupati Kotawaringin Barat, H Ujang Iskandar mengatakan, pihaknya merasakan duka yang dialami para keluarga korban, meskipun tidak ada warga Kotawaringin Barat yang tercatat dalam manifes pesawat tersebut.

"Sebagai bentuk Kotawaringin Barat berduka itu, saya instruksikan seluruh masyarakat mengibarkan bendera setengah tiang," kata Ujang, saat ditemui di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Imanuddin, Minggu (4/1).

Tak hanya bendera setengah tiang, Ujang mengatakan, rasa duka terhadap keluarga korban juga ditunjukkan saat malam pergantian tahun. Panggung hiburan lengkap dengan artis-artis dangdut yang telah dipersiapkan sebelumnya berganti dengan kegiatan doa bersama. Meski pengumuman perubahan rencana ini hanya disampaikan dari mulut ke mulut, antusias warga tak surut. Bahkan tak sedikit warga yang inisiatif membawa lilin.

"Tutup tahun, yang tadinya masyarakat meminta hiburan, jadi doa bersama. Kami berdoa untuk korban dan keluarga korban," ungkapnya.
Bukan hanya sekadar menunjukkan rasa simpati, warga Kotawaringin Barat bahkan berbuat semaksimal mungkin untuk membantu proses pencarian dan evakuasi korban pesawat AirAsia. Sesaat setelah mendengar banyaknya korban yang dievakuasi dari perairan di sekitar Pangkalan Bun, warga bergotong royong membuat ratusan peti jenazah.

Tercatat, 162 peti jenazah dibuat oleh lima kelompok pengrajin yang berada di sekitar Kotawaringin Barat, dalam waktu tak lebih dari dua hari. Ratusan peti jenazah itu disiapkan di RSUD Imanuddin untuk para korban, sebelum diberangkatkan ke Bandara Juanda, Surabaya dan menjalani proses identifikasi secara menyeluruh.

"Para pengrajin ini langsung bekerja dan dibantu warga secara sukarela," jelasnya.
Ujang mengatakan, pihaknya juga telah menyebarkan imbauan, terutama kepada masyarakat yang tinggal di pesisir pantai untuk membantu proses pencarian dan evakuasi. Ujang mengaku telah memfasilitasi tiga nelayan terbaik untuk membantu pencairan hingga ke tengah laut.
"Saya yakin, dengan melibatkan orang-orang yang bersahabat dengan alam dan sekitar, akan ada hasilnya," kata Ujang optimistis.

Ujang berharap, proses pencarian dan evakuasi dapat dilakukan secepat mungkin. Hingga hari kedelapan atau Minggu (4/1), total 34 jenazah sudah dievakuasi dan dibawa ke Surabaya untuk proses identifikasi. Sementara pencarian badan pesawat dan black box semakin menemui titik terang. Badan pesawat yang diperkirakan dalam kondisi terbelah, diyakini berada di sekitar titik kontak terakhir pesawat itu dengan Air Traffic Control (ATC).

Rasa Puas Lihat Para Petugas Kembali Semangat Usai Dipijat


Suasana Lanud Iskandar Pangkalan Bun, Kalteng, begitu sibuk selama masa pencarian dan evakuasi korban AirAsia QZ8501.

MULAI anggota TNI, Polri, Basarnas, sampai awak media yang meliput, aktivitasnya begitu padat. Rasa capek  yang mendera fisik bahkan psikis, pasti mendera.

Kondisi seperti itu membuat masyarakat dan para relawan di Pangkalan Bun tergerak membantu sesuai kemampuan dan keahlian masing-masing. Ada yang menyediakan makanan secara gratis, bahkan ada pula yang menyediakan jasa laundry hingga pijat gratis seperti yang dilakukan relawan Rumah Zakat cabang Pangkalan Bun.

Para relawan Rumah Zakat itu sengaja membuat stan di komplek Lanud Iskandar yang memberikan jasa pijat gratis serta cuci pakaian gratis.

Dan, stan yang setiap hari sedikitnya dijaga 5 relawan itu tak pernah sepi, mulai dari anggota tim SAR, aparat keamanan hingga para jurnalis.
“Sebenarnya kami ingin membantu di lapangan, tapi kami pikir tidak mungkin, jadi dengan layanan ini berharap sedikit membantu mereka seperti para tim yang terlibat dalam evakuasi korban dan pesawat, maupun para jurnalis yang mungkin kelelahan dan juga sibuk bekerja sehingga tidak ada waktu mencuci pakaian mereka,” tutur Jery, salah seorang anggota relawan Rumah Zakat kepada Kalteng Pos (Grup JPNN), Sabtu (10/1).

Menurut Jery, untuk melancarkan aktivitas mereka, selain menurunkan anggota relawan Rumah Zakat, pihaknya juga melibatkan sejumlah mahasiswa di Pangkalan Bun. “Alhamdulillah, pijat gratis dan juga laundry sangat banyak peminatnya. Dalam sehari saja untuk laundry bisa paling sedikit 40 kilogram. Apalagi untuk pijat gratis, banyak yang datang dari anggota TNI, Polri dan juga dari wartawan yang bertugas di sini. Kami senang dan bersyukur sudah membantu walaupun dengan seperti ini, karena musibah ini juga musibah kita, musibah yang menimpa para korban juga adalah saudara kita,” kata Jery.

Tak berbeda dengan Jery, Hadi salah satu tukang pijat yang stand by di stan tersebut juga mengaku sangat senang membantu para relawan dengan keahliannya memijat.

“Meskipun tidak dibayar saya siap, ini atas dasar hati nurani saya. Dengan ini juga sedikit membantu mereka yang kelelahan bekerja tanpa henti. Ya, saya hanya bisa membantu dengan tenaga dan kebisaan saya,” ujar Hadi sembari memijat salah seorang jurnalis yang keseleo.

Hadi menuturkan, setiap hari yang datang ke stan untuk pijat cukup banyak, bahkan terkadang sampai antre hingga 20-an orang. Meski cukup menguras tenaga, namun Hadi mengaku tetap semangat melakukan aktivitasnya.

“Ya, walaupun terasa capek, tetapi melihat mereka sesudah dipijat bisa kembali semangat dan lancar beraktivitas, di situ saya lega dan puas membantu mereka,” tutur Hadi.

Salah seorang anggota TNI yang sedang antre dipijat menyatakan kekaguman dan apresiasinya kepada para relawan dan masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Barat, seperti yang dilakukan Rumah Zakat.
"Seharian bertugas memang terasa capek, apa lagi sering masuk angin. Alhamdullilah dengan pijat seperti ini, bisa kembali pulih, rasa pegal juga reda dan yang pasti pekerjaan lancar,” ujarnya.

















references by liputan6, kaltengpos, antara, tribun, samarinda post, berita satu

 
Like us on Facebook