January 9, 2015

Sejarah Charlie Hebdo

Charlie Hebdo adalah sebuah tabloid/majalah yg diluncurkan oleh sekelompok “non-kompromis” yang sebelumnya menjadikan bulanan sebagai Hara Kiri (baca: “bodoh dan jahat”).

Charlie Hebdo atau yang dalam bahasa Inggris dikatakan Charlie Weekly adalah majalah Prancis yang memuat kartun-kartun satir, laporan, polemik hingga lelucon. Media tersebut dikenal anti-agama dan sayap kiri, memuat artikel terkait kaum ekstrim kanan, Katolik, Islam, Yahudi, politik, budaya, dan lain-lainnya.

Charlie Hebdo awalnya menampilkan kartun, laporan, polemik dan lelucon. Jauh sebelum munculnya kebenaran politik, Hebdo juga memiliki kecenderungan mesum: majalah ini sangat suka menampilkan wanita telanjang dan lelucon seksis.

Pada bulan November 1970, setelah kematian Charles de Gaulle di Colombey, Charlie Hebdo menghasilkan satu edisi yang menjijikkan dan disebut sebagai sampul depan paling lucu dalam sejarah pers Prancis. Judul majalah mingguan itu: “Bola Tragis di Colombey, Satu Mati”.

Charlie Hebdo memiliki tim penulis dan kartunis yang jenaka. Mereka tidak tabu untuk mengerjakan apapun. Mereka sangat menyukai untuk menyiksa orang-orang kaya terkenal, pendeta, militer dan politisi. Dalam iklim perjuangan Prancis kelas di tahun 1970-an, Charlie Hebdo menawarkan generasi anak-anak. Pada tahun 1981, “Charlie” terhenti publikasinya, karena menurunnya pembaca mereka. Ketika diluncurkan kembali pada tahun 1992, dunia telah berubah secara dramatis.

Ada Philippe Val, direktur baru, seorang stand-up comedian sayap kiri pada 1980-an. Val mengubah gaya publikasi. Dia tidak ragu-ragu untuk memecat anggota staf yang menentang pandangannya dan sering digambarkan sebagai “diktator”. Di bawah kepemimpinannya, sikap editorial Charlie Hebdo menjadi kacau.
Val adalah seorang pendukung setia peraturan tahun 2004 yang melarang jilbab di sekolah-sekolah negeri dan “Charlie” menjadi lebih anti-Islam alih-alih anti-klerikal. Pada tahun 2009,  oleh Nicolas Sarkozy, Val diangkat sebagai direktur Prancis Inter, sebuah stasiun radio publik.

Sejak matinya Val, Charlie Hebdo telah mencoba untuk merebut kembali rasa hormat yang sudah hilang. Direktur baru mereka, Stéphane Charbonnier, yang dikenal sebagai Charb, ingin mereposisi jalur editorial mingguan ini dengan tegas di sebelah kiri.

Kelompok Kristen Prancis saja mengecam pelecehan Charlie Hebdo terhadap Nabi Muhammad. “Orang yang mengecam penyerangan kantor Charlie Hebdo terkadang tidak melihat akar masalah kenapa penyerangan itu bisa terjadi. Kita sudah tahu bagaimana dulu dengan arogannya Charlie Hebdo memuat kartun yang menghina nabi Muhammad namun tidak mau meminta maaf atas tindakannya tersebut,” ujar pengamat media MU Salman

Chard dengan teguh membela keputusan Charlie Hebdo memuat kartun Nabi Muhammad.
"Muhammad tidak suci bagi saya," jelasnya dalam wawancara dengan kantor berita AP pada tahun 2012, ketika kantor Charlie Hebdo terbakar karena serangan bom molotov.
"Saya hidup berdasarkan undang-undang Prancis. Saya tidak hidup berdasarkan undang-undang Al Quran," tambahnya.

Tahun 2007 Charlie Hebdo harus membela diri di pengadilan sehubungan dengan kartun Nabi Muhammad, yang dicetak ulang di majalah itu, dan membuat marah umat Muslim dunia.
Namun satir majalah yang antikemapanan itu amat beragam, termasuk membuat lelucon dari aspek-aspek Kristen dan Yudaisme.
Sejak 2012, Chard menjadi pemimpin redaksi Charlie Hebdo, yang pertama kali terbit tahun 1969 namun berhenti tahun 1981 sebelum terbit kembali 1992.

Kartun terakhir sang pemred dipublikasikan beberapa hari sebelum serangan mematikan ke kantor Charlie Hebdo, yang menewaskan 12 orang -- termasuk Stephane Charbonnier.

Charb, demikian panggilan Stephane Charbonnier, punya sejarah panjang menyerang Islam dan agama-agama lain. Tahun 2011, kantor Charlie Hebdo dilempar bom api.

Tidak ada korban jiwa dalam penyerangan itu, tapi Charb merasa perlu pindah ke kantor baru di lingkungan yang dirasa lebih aman, yaitu di Richard Lenoir Boulevard. Anehnya, hanya beberapa hari setelah pindah ke kantor baru, Charlie Hebdo diserang.

Menurut Charlie Hebdo, tentu saja semua orang harus berhak untuk mengejek Islam, Kristen, Yahudi dan agama-agama lainnya. Namun, dalam iklim saat ini, bagaimana kartun seperti yang mereka terbitkan berfungsi mengundang reaksi umat bergama di dunia?







JIKA KALIAN INGIN MENGETAHUI KEPRIBADIAAN NABI MUHAMMAD SAW
PELAJARILAH sirah nabawiyah


baca juga:
ALASAN MENGAPA WAJAH NABI MUHAMMAD SAW & NABI UTUSAN ALLAH SWT LAINNYA TIDAK BOLEH DIVISUALISASIKAN

http://agunkzscreamo.blogspot.com/2013/07/alasan-kenapa-wajah-nabi-muhammad-saw.html








references by
islampos

 
Like us on Facebook