February 23, 2015

Siapa Orang Yang Paling Rugi Di Dunia ?

Siapakah orang paling rugi hidupya di dunia & akhirat?

1. Murtad/Keluar dari agama Islam
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa kafir setelah beriman maka sungguh sia-sia amal mereka dan di akherat dia termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. al-Ma’idah: 5). Kemurtadan bisa dibagi menjadi tiga bentuk; [1] Keyakinan, seperti halnya menghalalkan sesuatu yang jelas-jelas haram dalam agama dan telah dimengerti dengan gamblang oleh setiap orang misalnya menghalalkan zina dan minum khamr. [2] Perbuatan, seperti halnya bersujud kepada makhluk, melempar mushaf al-Qur’an secara sengaja ke dalam comberan, dsb. [3] Ucapan, seperti halnya mengolok-olok adanya surga dan neraka, atau mengatakan bahwa dia tidak puas dengan hukum-hukum syari’at, dsb. (lihat Matn al-Ghayah wa at-Taqrib ta’liq Majid al-Hamawi, hal. 310-311)


2. Berbuat syirik
:Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan nabi-nabi sebelummu; bahwa jika kamu berbuat syirik niscaya akan terhapus seluruh amalmu dan kelak kamu pasti termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65). Syirik terbagi 2; akbar dan ashghar. Syirik akbar; mengeluarkan dari agama, pelakunya -jika meninggal dan tidak bertaubat- maka kekal di neraka, menghapuskan semua amalan, menyebabkan bolehnya menumpahkan darah dan mengambil hartanya. Syirik ashghar; tidak mengeluarkan dari agama, apabila pelakunya masuk neraka maka tidak kekal, tidak menghapuskan semua amalan namun hanya amalan yang tercampurinya, tidak menyebabkan bolehnya menumpahkan darah atau mengambil hartanya (lihat at-Tauhid al-Muyassar, hal. 20)

3. Lemah iman dan tidak berpendirian
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi, maka jika dia memperoleh kebaikan (kesenangan dunia) dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan (musibah) dia berbalik ke belakang (murtad). Dia rugi di dunia dan di akherat. Itulah kerugian yang nyata.” (QS. al-Hajj: 11). Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah; diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan, diamalkan dengan anggota badan, bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan (lihat at-Tauhid al-Muyassar, hal. 45). Iman itu bercabang-cabang dan berbeda-beda tingkatannya, ada di antaranya jika ditinggalkan menyebabkan kekafiran, ada yang jika ditinggalkan menyebabkan dosa besar atau kecil, dan ada pula yang jika ditinggalkan menyebabkan tersia-siakannya pahala (lihat Mujmal Masa’il Iman, hal. 14)

4. Tidak beramal salih dan tidak berdakwah
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3). Mutharrif bin Abdullah berkata, “Baiknya hati adalah dengan baiknya amalan. Adapun baiknya amalan adalah dengan baiknya niat.” Ibnul Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niatnya.” Ibnu ‘Ajlan berkata, “Amal tidak akan baik kecuali dengan tiga hal; ketakwaan kepada Allah, niat yang baik, dan benar/sesuai tuntunan.” Fudhail bin Iyadh berkata, “Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19). Dakwah juga termasuk bagian dari amal ibadah, sehingga harus ikhlas dan sesuai tuntunan (lihat al-Hujaj al-Qawiyyah, hal. 11)

5. Mendustakan perjumpaan dengan Allah SWT
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh merugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah. Sehingga apabila kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, maka mereka berkata; ‘Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu.’ Sementara mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu.” (QS. al-An’aam: 31). Barangsiapa yang mendustakan hari kebangkitan maka dia telah kafir (lihat QS. At-Taghabun: 7).

6. Menentang ayat-ayat Allah
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “(dan) barangsiapa yang ringan timbangan kebaikannya (karena timbangan keburukan/dosanya lebih berat), maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. al-A’raaf: 9)

7. Mengangkat setan sebagai pelindung
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menjadikan syaitan sebagai wali/pelindung maka sesungguhnya dia telah menderita kerugian yang sangat nyata.” (QS. an-Nisaa’: 119). Bagaimana musuh justru dijadikan teman? Sementara Allah ta’ala berfirman mengisahkan ucapan Iblis sang pemuka syaithan (yang artinya), “Karena Engkau telah menetapkan aku sesat, pasti aku akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku pasti akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. al-A’raaf: 16-17). Gangguan Iblis ‘dari arah kiri’, menurut penafsiran sebagian ulama dimaknakan dengan kemaksiatan yang diperintahkan dan dianjurkan Iblis yang dihias-hiasi olehnya supaya tampak indah dan menarik (lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 137).

8. Berbuat kerusakan di bumi
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “(orang fasik yaitu) orang-orang yang melenggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu diteguhkan dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. al-Baqarah: 27). Melakukan kemaksiatan adalah bentuk dari berbuat kerusakan di bumi (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 48).

9 Merasa aman dari makar Allah/berbuat dosa
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka merasa aman dari makar Allah, tidak ada yang merasa aman dari makar Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raaf: 99). Merasa aman dari makar Allah tergolong dosa besar yang sangat besar karena ia bertolak belakang dengan nilai-nilai tauhid. Termasuk bentuk merasa aman dari makar Allah adalah terus bertahan di atas kemaksiatan namun mengangankan ampunan Allah (lihat Fath al-Majid, hal. 346-347)

10. Bergabung dengan hizbu syaithan
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah bahwa sesungguhnya hizb syaithan itulah orang-orang yang merugi.” (QS. al-Mujadilah: 19). Termasuk dalam golongan hizb syaithan adalah kaum munafikin yang memberikan loyalitas kepada orang kafir (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 847)


Menurut Imam Ghazali manusia terbagi menjadi 4 Golongan..

Golongan Pertama Orang yg bahagia di Dunia namun celaka di Akhirat..

Orang seperti ini banyak kita temukan disekitar kita, Di dunia dia kaya, dengan segala keberhasilan yg diraihnya, akan tetapi akibat kekayaan dan keberhasilan itu dia menjadi lupa beribadah kepada Allah dan menjadi manusia yg sombong..

Dalam hal ini seharusnya dia tidak sepantasnya menyombongkan diri karena harta yg dimilikinya hanyalah titipan Allah semata..

Maka sesungguhnya orang seperti ini yg terlalu mencintai kehidupan dunia dan melupakan akhirat sesungguhnya dia akan menjadi orang yg merugi dan celaka..

Golongan kedua Orang yg menderita di Dunia namun bahagia di Akhirat..

Menderita disini maksudnya ketika di dunia dia miskin dan hidup serba pas-pasan tetapi dengan kemiskinanya itu tidak membuat dia menjadi lupa kepada Allah..

Dia senantiasa menolong orang yg kesusahan, rajin silaturahmi, sebab dia tahu kalau semua manusia dan seluruh mahluk Allah yg hidup di dunia ini diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah, golongan ini termasuk orang yg beruntung pada akhirnya..

Golongan ketiga Orang yg celaka di Dunia dan celaka pula di Akhirat..

Orang seperti ini adalah orang yg tidak pernah berfikir, sudah miskin di dunia, rumah ngontrak, pekerjaan tidak punya, segala sesuatunya serba kekurangan..

Dan dia juga tidak pernah beribadah kepada Allah, malah kerjanya mabok- mabokan, bejudi, selingkuh dan tidak pernah mengerjakan Sholat fardhu, dan justru melakukan hal-hal yg jauh dari agama..

Naudzubillah summa naudzubillahi minzalik,, Orang seperti ini banyak kita temukan disekitar kita bahkan kita sering melihat orang seperti ini bersifat sombong..

Subhanallah..

Kalau orang kaya sombong, itu wajar.. tapi kalau orang yg seperti ini apa yg pantas disombongkan .??

Semoga kita tidak termasuk dalam golongan manusia yg seperti ini, karena inilah sejelek -jelek golongan, yg rugi ketika di Dunia dan rugi pula ketika di Akhirat..

Golongan keempat Orang yg bahagia di Dunia dan bahagia pula di Akhirat..

Golongan inilah yg menjadi idaman setiap insan, ketika di dunia dia mempunyai harta banyak dan hidup serba berkecukupan, keluarga yg bahagia terlebih lagi punya anak- anak yg sholeh..

Namun dia dengan kekayaannya tidak membuatnya lupa dan sombong untuk selalu beribadah kepada Allah dan senantiasa berbuat kebaikan kepada semua orang..

Berinfak, menyantuni fakir miskin, anak yatim, dan mengeluarkan zakat, karena dia tahu bahwa harta yg diperolehnya terdapat hak orang lain..

Golongan seperti inilah yg beruntung Dunia Akhirat, Semoga kita bisa masuk kedalam golongan yg seperti ini,, Amin ya Rabbal Alamin..




Kitab Ihya' Ulumuddin




Ada yg ingin menambahkan ?
taambah di kolom komentar dibawah..

 
Like us on Facebook