March 12, 2015

Angka & Data Pengangguran 2015

Menurut Akhmad Akbar Susanto, Ekonom Core Indonesia, jumlah pengangguran terbuka Indonesia sejak 2010-2014 mencapai tingkat tertinggi pada tahun 2005, sebanyak 11,90 juta orang (11,29%) dan terus mengalami penurunan hingga bulan Agustus 2014 jumlah pengangguran terbuka mencapai 7,30 orang atau 5,94%. Faktor peningkatan pengangguran pada tahun 2005 tersebut disebabkan oleh kondisi ekonomi Indonesia yang rendah diakibatkan oleh bencana Tsnunami Aceh serta kenaikan harga BBM pada awal masa pemerintahan SBY.

Berdasarkan jenjang pendidikan, lulusan SLTA umum dan SLTP mendominasi jumlah pengangguran sebanyak 1,5 sampai 2 juta jiwa, lalu disusul oleh lulusan SLTA kejuruan dan SD. Adapun tingkat pengganguran terbuka di kota lebih banyak dari pada pengangguran di desa.
Tahun 2014 pengangguran di kota mencapai 4.263.157 jiwa, sementara di desa hanya mencapai 2981,748 jiwa. Untuk jenjang usia, tingkat pengangguran tertinggi didominasi usia 15-19 tahun dan 20-24 tahun. Sementara itu, untuk provinsi dengan tingkat pengangguran terbuka tertinggi tahun 2014 berada di provinsi Maluku. Akbar melanjutkan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir tren tingkat pengangguran mengalami penurunan sedangkan tren pertumbuhan ekonomi berfluktuatif.
Tenaga kerja
“Pemerintah seharusnya memperhatikan pada aspek pengangguran, tidak hanya pada pertumbuhan ekonomi semata. Sebab, pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas adalah yang tidak dapat menyerap lapangan kerja dan mengurangi jumlah pengangguran,” ujar Akbar di acara Core Media Discussion bersama awak media di Jakarta (3/3).
Terkait dengan lapangan pekerjaan, Arif Satria, Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB menuturkan sebaiknya kurikulum pendidikan yang ada di Indonesia terutama di tingkat pendidikan tinggi agar mendorong mahasiswanya terjun di dunia bisnis dan menjadi pengusaha. Tidak memaksakan mereka untuk menjadi peneliti atau pekerja profesional. Arif merinci diantara peluang bisnis tersebut berapa dalam bidang pertanian dan perikanan.
Arif menjelaskan di sektor perikanan ada 2,9 juta ha potensi tambak di Indonesia, tapi baru 22% yang direalisasikan. Sementara potensi serapan tenaga kerjanya sebanyak 12,5 juta baru 2,5% yang direalisasikan. Hal tersebut disebabkan oleh tata ruang yang belum terwujud dengan baik. Dari 34 provinsi di Indonesia baru ada 4 provinsi yang menerapkan zonasi pesisir sebagaimana yang tertuang dalam UU tentang pesisir no.27 tahun 2007.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Arif menyarankan pada pemerintah untuk memberikan investasi pakan dan industri pengolahan, benih dan indukan. Karena selama ini induk yang bagus dan berkualitas di impor dari Amerika. Peluang lain yang Arif paparkan berupa proyeksi sektor perikanan budidaya rumput laut tahun 2015 sebanyak 10,6 juta ton dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 5,2 juta orang dan nilai ekonomi yang didapat sebanyak Rp 166 triliun.
“Jadi, investasi yang dibutuhkan untuk bibit sebanyak 1,06 juta ton, benur sebanyak 96,5 miliar ekor dan pakan sebanyak 14 juta ton. Nah, soal pakan, benih dan modal yang diperlukan adalah lembaga pemodalan nonbank yang kompatibel dengan bisnis perikanan,” terang Arif.
Mengenai investasi dan penyerapan tenaga kerja tahun 2005-2014, Arif menambahkan tahun 2014 total investasi sebesar Rp 1.844.655,9 miliar mampu menyerap tenaga kerja sebesar 114,6 juta orang. Untuk penanaman modal asing sendiri, menurut Arif tidak selalu menurunkan tingkat pengangguran, meski sejak tahun 2009 jumlah investasi asing semakin meningkat, hingga tahun 2014 realisasi penanaman modal asing mencapai 10% atau sebanyak Rp 30.000 miliar.

Sarjana Pengangguran Membeludak, Mahasiswa Galau


Bukan rahasia lagi, banyak sekali lulusan perguruan tinggi yang menganggur. Hal ini lantaran lapangan kerja yang terbatas, tidak sebanding dengan jumlah lulusan.

Universitas Syiah Kuala, misalnya. Hingga Agustus 2014, jumlah lulusan Sarjana/Pendidikan Profesi/Pascasarjana yang telah dihasilkan oleh Universitas Jantong Hatee Rakyat  Aceh ini sampai hari 70.615 orang, sementara jumlah lulusan diploma dari berbagai disiplin keilmuan sebanyak 24.528 orang. Belum lagi mereka yang hingga kini masih menimba ilmu sekitar 35.000 orang mahasiswa.

Angka sebanyak itu hanya dihasilkan Unsyiah saja, belum termasuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) lainnya di Aceh, seperti UIN Ar – Raniry, Unimal Lhokseumawe, Universitas Gajah Putih Takengon, Politeknik Negeri Lhokseumawe, Universitas Teuku Umar, IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa dan Almuslim Peusangan Bireuen dan Unigha Pidie.  

Para calon sarjana yang tergabung dalam sejumlah organisasi mahasiswa dan pemuda asal Kabupaten Aceh Utara yang sedang menimba ilmu di Banda Aceh, seperti Ikatan Pemuda Aceh Utara (IPAU) juga ikut khawatir.

Pada Rabu (11/3) kemarin, mereka mendatangi Sekretariat Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) Provinsi Aceh untuk melakukan audiensi dengan anggota DPD RI, Sudirman atau karib disapa Haji Uma.   
“Banyak lulusan perguruan tinggi tak bekerja lantaran kesempatan kerja dan lapangan kerja tidak ada,” kata Mismarni, mantan Ketua asrama putri IPAU, di hadapan Haji Uma.
Dia mencontohkan, di Kabupaten Aceh Utara saja banyak sarjana menjadi pengangguran lantaran tidak adanya lapangan pekerjaan.

Senator asal Aceh, Sudirman, juga menyatakan keprihatinannya terhadap banyaknya lulusan PTN dan PTS menjadi pengangguran. “Lapangan kerja sulit, pemerintah juga telah memberlakukan moratorium Pegawai Negeri Sipil (PNS),” kata Haji Uma, prihatin.

Salah satu upaya untuk menyikapi membludaknya pencari kerja, kata Sudirman, adalah mendorong mempercepat pembentukan Balai Latihan Kerja (BLK). Dengan begitu, maka akan melahirkan Sumber Daya Manusia (SDM) siap pakai, selain mendorong masuknya investor.  

Usia Produktif Dominasi Pengangguran di Indonesia


Ekonom dari Center Of Reform On Economics (CORE) Akhmad Akbar Susanto mengatakan, dari jumlah pengangguran Indonesia yang mencapai 7,3 juta jiwa, paling banyakdidominasi usia produktif

Usi tersebut rata-rata dialami oleh mereka yang putus sekolah tingkat SLTP di usia 15 tahun-an hingga lulus SMA di usia 18 tahun, dan tidak kuliah di usia 20-an hingga lulus perguruan tinggi pada usia 24 tahun-an.

Akhmad mengatakan, meski jumlah pengangguran terbuka Indonesia mencapai tingkat tertinggi pada 2005 dan terus mengalami penurunan sampai 2014, namun jumlahnya tetap besar.

"Pada Agustus 2014, jumlah pengangguran terbuka mencapai 7,3 juta orang. Jumlah ini tetap besar meskipun sudah mengalami penurunan," ujarnya dalam diskusi bertajuk Tantangan Penciptaan Lapangan Kerja di Era Kabinet Kerja di Jakarta, Selasa (3/3/2015).

Dari 2005 hingga 2014, lanjut Akhmad, pengangguran terbuka yang paling besar terjadi di 2005 sebesar 11,90 juta jiwa dan yang paling rendah di 2012 sebesar 7,24. Semuanya didominasi usia produktif.

"Memang, meskipun porsinya berbeda-beda, namun bisa kita ambil kesimpulan bahwa hampir disemua tingkat pendidikan terdapat pengangguran. Tinggi rendahnya suatu pendidikan tidak menjamin bahwa mereka tidak akan menganggur," ujar dia.

Untuk jenis kelaminnya sendiri, pengangguran di Indonesia, laki-laki lebih tinggi tingkat penganggurannya dibanding perempuan. Hal ini dikarenakan, perempuan bisa berlindung di bawah kata-kata 'saya ibu rumah tangga' dan masih didominasi oleh usi produktif.

"Kesimpulan yang bisa kita ambil di sini adalah, tingkat pengangguran terbesar adalah anak muda, mereka adalah usia produktif namun tidak siap untuk terjun ke dunia kerja," pungkas Akhmad.




2015 Pengangguran Bertambah 300 Ribu Jiwa


Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menyebutkan, dalam kurun waktu satu tahun tingkat pengangguran di Indonesia mengalami pertambahan sebanyak 300 ribu jiwa.

"Jumlah pengangguran pada Februari 2015 mengalami peningkatan dibanding Agusrus 2014 sebanyak 210 ribu jiwa, dan jika dibandingkan denga Februari tahun lalu bertambah 300 ribu jiwa, " kata Suryamin dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2015).

Suryamin menjelaskan, jumlah pengannguran pada Februari 2015 mencapai 7,4 juta orang, dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang mengalami kenaikan untuk tingkat pendidikan tinggi.

"Ini karena ekonomi melambat, sehingga terjadi peningkatan pengangguran," ujarnya.

Berdasarkan data BPS, untuk luluan strata satu, tingkat pengangguran bertambah dimana pada Februari tahun lalu sebanyak 4,31 persen menjadi 5,34 persen. Begitu juga lulusan diploma mengalami peningkatan pengangguran dari 5,87 persen menjadi 7,49 persen. Serta pengangguran lulusan SMK yang bertambah dari 7,21 persen menjadi 9,05 persen.

Sementara untuk tingkat pendidikan SD, SMP, dan SMA mengalami penurunan, masing-masing yakni dari 3,69 persen menjadi 3,61 persen, 7,44 persen menjadi 7,14 persen, dan 9,10 persen menjadi 8,17 persen.

"Februari 2015, TPT terendah ada pada penduduk berpendidikan SD ke bawah dan tertinggi pada jenjang pendidikan SMK, diikuti diploma dan universitas," pungkas dia. 
WID






Tanda Gelombang PHK Sudah Ada di Depan Mata


Pemutusan hubungan kerja (PHK) sudah seperti gelombang tsunami. Makin lama, ukurannya semakin besar, pun menjadi-jadi. Jika dibiarkan, kita tahu kira-kira bagaimana dampaknya.
Ini kali, tanda-tandanya sudah di depan mata. Alasan yang paling disebut adalah program  efisiensi perusahaan. Nah, PHK ini menghantui tak hanya satu sektor industri saja, tetapi banyak lini usaha sekaligus.
Penyebabnya? Menurut Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat, akumulasi atas beberapa faktor eksternal dan internal. Pertama, sisi eksternal. Tahun 2014 pertumbuhan ekonomi Amerika sedang bagus. Seluruh mata uang Paman Sam dari penjuru dunia “pulang” ke negaranya, yaitu Amerika Serikat (AS).

Bersamaan dengan itu, harga minyak dunia justru menurun secara drastis, sampai di bawah US$ 50 per barel, dari semula di atas US$ 100 per barel. Dengan turunnya harga minyak, otomatis sektor manufaktur di seluruh dunia jadi bergerak melambat. Sebab, energi yang dibutuhkan industri manufaktur ikut-ikutan drop. China sebagai produsen terbesar industri manufaktur, merupakan salah satu negara yang paling terpukul.
Kedua, bersamaan dengan situasi tersebut, pemerintah kita mengumumkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di tengah turunnya harga minyak dunia. Pemerintah juga punya kebijakan mencabut subsidi BBM. Ya, kebijakan ini harus diambil karena Indonesia bukan lagi negara pengekspor minyak, melainkan pengimpor energi. Ini memang kebijakan terobosan selama 45 tahun terakhir yang efeknya bagus untuk jangka waktu panjang, berkisar 20 tahun–30 tahun ke depan.

Pemerintah juga punya kebijakan melarang industri tambang mengekspor bijih mentah. Ore alias bijih tambang wajib diolah di dalam negeri agar memberi nilai tambah sebesar-besarnya. Ada juga kebijakan energi lain, seperti mengerek tarif dasar listrik.
Faktor eksternal itu membuat negara kita, yang sangat tergantung dengan China, ikut terganggu ekonominya. Sementara faktor internal, kenaikan harga energi menjadi patokan atas naiknya bahan pokok. “Sehingga, dana masyarakat terkuras untuk memenuhi kebutuhan pokok dan BBM yang harganya makin meningkat,” ujar Ade.

Efek yang membuntuti, masyarakat tidak lagi membeli barang-barang bersifat sekunder seperti barang otomotif, tekstil, elektronik, sepatu, atau bahkan perumahan. Dari situlah dimulainya pengereman konsumsi di dalam negeri.
API mengadakan penelitian kecil di empat kecamatan di Kabupaten Bandung, yaitu Kecamatan Pacet, Kecamatan Ibun, Kecamatan Solokan Jeruk, dan Kecamatan Majalaya. Hasilnya, API mendapati hampir sekitar 6.300 karyawan tekstil sudah dirumahkan alias terkena PHK, di antaranya adalah mereka yang hanya bekerja dua hingga tiga hari seminggu.

Dari berbagai perusahaan yang merumahkan karyawan, sebagian besar terdiri dari usaha kecil menengah (UKM) seperti produsen sarung, sprei, maupun pakaian jadi. “Walaupun ini hanya sampling, tetapi dapat dipastikan hal yang sama juga terjadi terhadap semua pekerja di industri ini di seluruh Indonesia. Hanya saja, belum ada data pasti berapa banyak jumlahnya,” tegasnya.
Yang jelas, timpal Plt Direktur Jenderal Pengawas Kementerian Ketenagakerjaan Antiokus Mudjihandaya, perlu dipastikan dulu mana yang berhenti karena pensiun, karena kontrak kerjanya habis, atau memang efek efisiensi perusahaan.

Beberapa solusi
Yongky Susilo, Peneliti Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyebut, saat ini pertumbuhan segala sektor usaha sudah minus. Demikian juga ritel. “Ritel modern yang selama ini menjadi drive pertumbuhan, volume growth sedang menuju 0%. Sekarang masih 2,6% dan masih turun terus,” kata Yongky.

• Elektronik
Ketua Gabungan Pengusaha Elektronik Ali Soebroto Oentaryo bilang, penjualan rata-rata di sektor usaha elektronik sudah anjlok antara 20%–40%. rentang turunnya penjualan itu berbeda-beda untuk setiap produk. Misalnya, mesin cuci drop 23%, televisi melorot 30%, dan sebagainya.
Tahun lalu, lanjut Ali, total penjualan di pasar barang-barang elektronik mencapai sekitar Rp 40 triliun. Nah, kalau penurunan di kisaran 20%–40%, artinya penjualan sektor bisnis elektronik menguap sekitar Rp 8 triliun–Rp 16 triliun tahun ini. “Sampai akhir tahun, penjualan kembali ke posisi nol saja sudah sangat bagus,” tegas Ali yang juga Presiden Direktur PT Panggung Electric Citrabuana, produsen barang-barang elektronik, perangkat optik, hingga furnitur elektronik.

Kata Ali, di kelompok gabungan pengusaha elektronik memang belum ada yang merumahkan karyawan. Hanya saja, hampir semua perusahaan sudah menerapkan efisiensi. Ini terjadi lantaran daya beli masyarakat memang anjlok yang ujung-ujungnya menahan permintaan dan memaksa perusahaan memangkas produksi.
Produsen seperti Polytron juga begitu. Santo Kadarusman, Public Relations and Marketing Event Manager PT Hartono Istana Teknologi, mengatakan, perusahaan terafiliasi Grup Djarum itu kini tidak menerima karyawan baru. “Tidak menambah armada atau gudang, berpromosi tergantung keperluan, dan hanya di kota atau daerah tertentu,” ujar dia.

• Tambang
Meski angka pasti berapa jumlah PHK di sektor tambang belum pasti, tapi Ketua Asosiasi Perusahaan Batubara Indonesia (APBI) Supriatna Suhala menyampaikan, gelombang PHK memang terjadi, terutama di perusahaan menengah ke bawah. Contohnya, di Provinsi Jambi. Awal tahun lalu, ada 30 perusahaan batubara. Sekarang, tinggal dua perusahaan. “Jelas, banyak pekerja yang di-PHK karena perusahaan tutup,” tegas Supriatna.

Total penurunan produksi di industri batubara mencapai 15% dengan penjualan ambles 2,32% dan makin melandai. Dua tahun lalu, pendapatan perusahaan tambang kecil rata-rata bisa Rp 430 juta setahun. Tahun ini, sepertinya akan menurun drastis. Sebab, harga komoditas batubara sudah tak lagi kompetitif.
Supriatna menambahkan, bisnis kontraktor paling berat. Pasalnya, perusahaan kontraktor sudah terikat investasi alat-alat berat. Sementara perusahaan tambang lebih sedikit mujur karena begitu harga batubara anjlok, dia tinggal menutup usaha. APBI pernah menyebut, total PHK karyawan di sektor ini sudah 400.000–500.000 orang dari total 1 juta pekerja.

• Tekstil
Hampir sama dengan industri lainnya, gelombang PHK di sektor usaha ini lebih banyak menyerang usaha menengah kecil. Total potensi PHK di sektor ini mencapai 50.000 karyawan hingga akhir tahun ini. Sementara perusahaan besar cenderung lebih aman lantaran proyek terus mengalir. Contohnya, PT Pan Brothers Tbk.
Kata Vice President Director Pan Brothers Anne Patricia Sutanto, 99% pasar Pan Brothers masih ekspor. Sehingga, justru di saat inilah proyek mengalir deras, khususnya pesanan merek-merek kelas atas untuk produk musim gugur dan musim dingin. Usaha menegah kecil sangat rentan karena di samping minim permintaan, orderan juga tak selalu ada. Asosiasi Persepatuan Indonesia menyebut total PHK karyawan di sektor usaha sepatu mencapai 11.000-an orang hingga kini.

• Otomotif
Situasi yang sama suramnya membayangi sektor otomotif. Dari perusahaan skala kecil hingga produsen kelas nasional, terpaksa efisiensi. Ini terjadi hampir di sebagian besar lini Grup Astra, terutama otomotif. Aloysius Budi Santoso, Chief Corporate Human Capital Development PT Astra International Tbk bilang, sampai saat ini Grup Astra belum merasa perlu merumahkan karyawan. “Walaupun demikian, kami harus terus meningkatkan efisiensi karena total pasar turun (shrinkage). Sehingga, produksi kita juga turun walaupun market share meningkat,” ujarnya ke KONTAN, Rabu (3/6).

Astra Honda Motor (AHM) adalah salah satu perusahaan anak Grup Astra yang sudah memangkas jam operasional di hari Sabtu dan Minggu. Executive Vice President Director AHM Johanes Loman bercerita, di saat penjualan tinggi, hari Sabtu dan Minggu biasanya dipakai untuk produksi. Sekarang tidak lagi. Bulan Januari–April lalu, penjualan AHM turun 21% dibandingkan tahun sebelumnya atau merosot dari 2,71 juta menjadi 2,14 juta motor.

Pemberhentian kerja juga terjadi di sektor jasa, bahkan di industri perbankan. Misalnya, PT Bank CIMB Niaga Tbk yang sudah menyilakan karyawannya sukarela mengundurkan diri. Sementara jasa tenaga alih daya (outsourching) juga cukup terpukul. Banyak perusahaan pemakai jasa memutus kontrak kerjasama.
Bagaimana solusinya? Pemerintah bisa mewajibkan ke Badan Usaha Milik Negara agar membeli produk-produk lokal. Lalu, anggaran dana desa Rp 1 miliar–Rp 1,5 miliar harus mengucur. Solusi lainnya, penurunan tarif listrik. “Tugas pemerintah menggelontorkan uang ke kelas menengah ke bawah,” cetus Yongky.  

Laporan Utama
Mingguan Kontan No. 37-XIX, 2015


BERSIAP ! PHK MASSAL OLEH PERUSAHAAN JADI ANCAMAN NYATA~

Pemerintah indonesia harus segera melakukan langkah-langkah konkret untuk menyelamatkan perekonomian nasional. Bila tidak, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal tak terhindarkan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia(Apindo) Hariyadi B Sukamdani mengatakan, dunia usaha sangat khawatir atas perkembangan perekonomian nasional saat ini. Jika tak diantisipasi, PHK besar-besaran bisa terjadi secara nasional.

”Saya mengkhawatirkan secara pribadi rupiah yang terus-menerus melemah terhadap dolar. Apalagi daya beli atau konsumsi masyarakat kita juga sedang turun. Ini sangat berdampak buruk di dalam negeri,” ujar Hariyadi kepada KORAN SINDO di Jakarta kemarin. Lesunya perekonomian belakangan ini telah berdampak terhadap kinerja dunia usaha. Sejumlah sektor usaha seperti tekstil, alas kaki, perhotelan, semen, pertambangan, serta jasa minyak bumi dan gas dikabarkan telah melakukan PHK atau merumahkan pekerjanya.

Hariyadi menjelaskan, kondisi yang terjadi saat ini sebenarnya sudah lama diprediksi. Pembangunan infrastruktur seharusnya sudah dilakukan sejak satu dekade lalu. ”Bukan malah baru mengerjakan sekarang. Apalagi saat ini penyerapan belanja pemerintah masih sangat rendah. Karena itu pemerintah harus secepat mungkin melakukan pencairan dengan mengatasi hambatan-hambatan di birokrasi,” ujarnya.
kunci pertumbuhan ekonomi adalah harga pangan dan energi. Jika dua komponen tersebut stabil, daya beli konsumen akan tumbuh dengan baik pula, begitu juga berbagai kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah saat ini

”Sekarang pemerintah kita gencar dengan operasi pasar untuk stabilkan hal-hal itu, tetapi strateginya kurang tepat,” katanya. Menurutnya, harga yang harus dikoreksi bukanlah pasar induk seperti yang saat ini menjadi fokus pemerintah. Namun lebih ke arah distributor serta penjual ritel. Selain persoalan konsumsi, komponen lain pertumbuhan ekonomi adalah sektor investasi.

Pengamat Perkirakan akan Ada Setengah Juta Pengangguran Baru ~
Ekonom Drajad Wibowo memprediksi akan ada setidaknya setengah juta pengangguran baru bertambah tahun ini. "Ini adalah jumlah yang besar sekali," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Sabtu (29/8).
Prediksi ini didasarkan pada angka pertumbuhan ekonomi dan elastisitas penyerapan lapangan pekerjaan tahun lalu yang berkisar di angka 538 ribu per satu persen pertumbuhan.

Pengangguran baru itu menurutnya bisa jadi ada di sektor pertambangan, perkebunan industri dan properti.
Selain itu, dia juga mencatat Rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia Tenggara setelah Ringgit Malaysia dengan angka kemerosotan pertumbuhan lebih dari 13 persen.

Dampaknya yang sudah terasa sekarang adalah pemutusan hubungan kerja di beberapa perusahaan yang ada di Kalimantan. Meski tidak mengungkapkan angka pasti, dia meyakini angka itu sudah mencapai nominal ribuan.
Selain itu, di Jawa Tengah, dia mencontohkan ada salah satu perusahaan yang telah merumahkan lima ratus ribu pegawainya.

"Artinya sudah serius, ini harus kita atasi bersama," kata dia.
Sementara itu Staf Khusus Menteri Keuangan Arif Budimanta meyakini pemerintah akan berhasil memperbaiki kondisi keuangan saat ini. Dia mengatakan, ada proses yang harus dijalani sebelum sampai ke tahap itu.
Untuk itu, pemerintah telah menjalankan program-program subsidi. Salah satunya adalah subsidi terhadap suku bunga.
Pemerintah telah menganggarkan Rp10, 5 triliun subsidi suku bunga untuk 2016. Dengan angka itu, pelaku usaha mikro kecil dan menengah ditargetkan akan mendapatkan suku bunga kredit sebesar 9 persen.

Selain itu, ada juga program subsidi pupuk dan pangan yang diharapkan akan meningkatkan daya beli masyarakat.
"Itu bagian dari sebuah proses. Kita sekarang dalam keadaan ekonomi yang tumbuh tapi tidak cepat," kata Arif.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2015 mencapai 4,67 persen. Sementara pada triwulan I, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 4,7 persen.
Kepala BPS Suryamin sebelumnya mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat akibat masih rendahnya harga beberapa komoditas termasuk diantaranya gandum, beras, ikan dan gula


Ini Alasan Kenapa di Indonesia Banyak Sarjana Pengangguran


Anggota Dewan Pendidikan Tinggi (DPT), Sofian Effendi menjelaskan bahwa saat ini pendidikan tinggi di Indonesia tidak berkembang. Sebabnya selama ini lulusan dari banyak perguruan tinggi yang ada di Indonesia tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Sofian Effendi dalam Workshop UU Pendidikan Tinggi (Dikti).
Menurutnya, sekarang ini ada kecenderungan ketidaksesuaian tenaga-tenaga yang diperlukan oleh masyarakat. Masyarakat lebih membutuhkan mahasiswa yang menjadi teknisi daripada akademisi.
"Masyarakat kita itu sebenarnya lebih banyak membutuhkan teknisi daripada akademisi. Akibatnya apa? Sekarang masih banyak sarjana pengangguran, yang dihasilkan dari perguruan tinggi ini adalah yang tidak sesuai dari kebutuhan masyarakat. Masyarakat lebih butuh teknisi, tapi perguruan tinggi lebih banyak menghasilkan akademisi," kata Sofyan di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta (20/5).
Sofyan memaparkan, di Indonesia saat ini lulusan perguruan tinggi dengan latar jurusan akademik berjumlah 82.5 persen dan hanya 17,5 persen yang berlatar belakang vokasi.
"Padahal, kebutuhan yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini adalah 75 persen, yang di mana itu adalah tenaga teknisi," ujar Sofian.
Mantan rektor UGM ini juga menilai saat ini industri-industri di Indonesia sudah semakin berkembang. Sudah seharusnya masyarakat mempunyai SDM yang baik, seperti mahasiswa-mahasiswa yang didukung dengan keahlian teknis. Akan tetapi, saat ini banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia yang sudah mendatangkan teknisi-teknisi dari luar negeri.
"Bagaimana kalau begini, sekarang sudah ada kurang lebih 100 ribu teknisi asing yang didatangkan ke Indonesia. Mahasiswa kita pada ke mana? Sudah saatnya ada kebijakan yang baik dari perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas-kualitas mahasiswanya. Yang jelas tanggung jawab pemerintah di sini juga diperlukan, tanggung jawab pemerintah juga harus ada," papar Sofian di akhir wawancara.


apa sih yang menyebabkan masih banyak sarjana menganggur? Skor Career, Selasa (23/4/2013) merangkum lima alasannya:

1. Ekonomi
Perubahan struktur ekonomi merupakan penyebab kemungkinan meningkatnya pengangguran. Selama bertahun-tahun, manufaktur menjadi sektor terkuat dalam dunia kerja, hingga kemudian digantikan oleh sektor jasa.

Nah, perusahaan-perusahaan di sektor jasa membutuhkan orang tidak hanya dengan pengetahuan teknis, tetapi juga yang memiliki soft skill, seperti komunikasi interpersonal, kebijaksanaan, kedewasaan, dan berorientasi bisnis. Sekarang ini, mendapatkan lulusan berkualitas dengan kemampuan soft skill seperti itu cukup susah. Belum lagi menemukan lulusan yang mampu berbahasa Inggris dengan baik.

2. Kualitas pendidikan
Sepertinya tiap tahun perguruan tinggi meluluskan banyak mahasiswa cemerlang, termasuk para penyandang cumlaude. Tentu ini menunjukkan kualitas para sarjana juga kan?

Tetapi, kenyataannya tidaklah demikian.  Saat ini, pencapaian akademik tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja seseorang di dunia kerja.

3. Pencari kerja yang pemilih

Saat ini, para pencari kerja ingin mendapatkan pekerjaan dengan paket lengkap; gaji yang besar, lokasi kerja yang nyaman, tidak menggunakan sistem shift, tidak ada lembur, dsb.

4. Kurangnya bimbingan
Kita tidak bisa menyalahkan para sarjana sepenuhnya atas kondisi mereka yang masih menganggur. Bagaimanapun juga, mereka adalah produk dari sebuah sistem. Kebanyakan dari para lulusan baru ini tidak sadar harapan dunia kerja terhadap mereka. Ketika lulus, mereka harus memulai dari nol lagi untuk menghadapi dunia nyata. Kesenjangan antara pendidikan dan dunia kerja ini harus segera diatasi.

Para sarjana baru ini tidak cukup dibimbing melalui berbagai ajang bursa kerja. Eksekutif perusahaan juga harus aktif mengunjungi mahasiswa di berbagai kampus untuk memberikan tips-tips praktis seputar dunia kerja dan profesi yang mereka geluti.

5. Perusahaan yang pemilih

Sering kali persyaratan kualifikasi yang dipasang suatu perusahaan dalam sebuah lowongan menjadi penghambat seorang sarjana mendapatkan pekerjaan. Jika perusahaan mencantumkan "pengalaman kerja" sebagai salah satu persyaratan di lowongan kerja mereka, maka bagaimana para fresh graduate, yang tidak memiliki pengalaman kerja, akan mendapatkan pekerjaan? 




 Apa sih penyebab banyak pengangguran terdidik. Menurut saya dari beberapa data, diantara faktor penyebabnya:

1. Pertumbuhan ekonomi yang melambat./Kebijakan Kurang Tepat Oleh Pemerintah
Lihat aja rupiah makin merosot tajam dibandingkan dolar. Belum lagi kebijakan pemerintah yang membuat lesu dunia ekonomi. Banyak perusahaan yang gulung tikar. Bahkan 40rb karyawan mau di PHK.

2. Ketidaksesuaian dengan kebutuhan pasar.

Beberapa jurusan banyak yang nggak lagi dibutuhkan pasar. Atau terlalu banyak lulusan ketimbang permintaan bursa kerja.

3. Kurangnya kompetensi dan skill.
Coba jujur, berapa banyak ilmu yang didapat saat kuliah? Sudahkah dipraktekkan dengan benar? Berapa persen kampus yang berorientasi kerja atau usaha?

4. Pilih-pilih kerjaan dan gaji.

Ada banyak lulusan sarjana yang ingin langsung dapet kerjaan enak dengan penghasilan wah. Padahal perusahaan pasti cari yang berkualitas dan mau dibayar murah. Gak ketemu kan?

5. Gak punya nilai tambah atau "Wow factor"

Mintalah prestasi yang mengharumkan nama? Adakah karya yang pernah dibuat? Keahlian unik apa yang dimiliki?
Kalau ga ada atau bahkan berleha ya siap-siap jadi salah satu dari lulusan sarjana yang nganggur.

6. Kurang kemandirian.
Sayangnya, pendidikan hari ini memisahkan dari jiwa kemandirian. Makannya banyak fisiknya besar tapi nyalinya cemen, udah gede gak malu minta sama ortu. Dapet fasilitas ini itu. Akhirnya ketergantungan tuh.
Berani mandiri dong, belajar usaha atau kerja sejak mahasiswa.

7. Gaya hidup jauh dari nilai agama.
Nongkrong di cafe/rumah makan, ngabisin duit orangtua buat beli baju baru, gadget baru, pacaran bahkan gak sedikit yang salah jalan. Kuliah tuh bukan untuk ngancurin akhlak, justru biar lebih beradab.



sumber:
http://swa.co.id/business-research/core-indonesia-tingkat-pengangguran-terbuka-di-indonesia-capai-730-juta-oranghttp://www.jpnn.com/read/2015/03/12/291966/Sarjana-Pengangguran-Membeludak,-Mahasiswa-Galauhttp://ekbis.sindonews.com/read/971440/34/usia-produktif-dominasi-pengangguran-di-indonesia-1425366116http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/05/05/393947/ekonomi-melambat-pengangguran-bertambah-300-ribu-jiwa
http://inhusatu.com/index.php/berita/detail/1669/2013/05/21/ini-alasan-kenapa-di-indonesia-banyak-sarjana-pengangguran#.VQFiweTxtPk
http://news.okezone.com/read/2013/04/23/370/796108/kenapa-sarjana-banyak-yang-nganggur
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150829141400-78-75326/pengamat-perkirakan-akan-ada-setengah-juta-pengangguran-baru/



ADS/DONASI BLOG :

BANK BNI/BNI Syariah (Kantor Cabang SYARIAH BANDUNG)
atas nama:
Nama : AGUNG Y D
No. Rekening : 0326970275

(semoga pahala kalian mengalir atas postingan/artikel bermanfaat di blog ini bagi yg membaca & mengamalkannya, berapa RUPIAHpun silahkan):

atau

fb.com/agunkzisme twitter.com/A_BlogWeb 

 
Like us on Facebook