May 10, 2015

Bagaimana Tips Agar Anak Mau Membaca ?

Justini Abdullah mengaku bingung menangani anak didiknya yang mulai bosan membaca. Dia mengatakan, sebelum masuk sekolah dasar, biasanya mereka sudah bisa membaca. “Tapi, kalau sudah kelas III atau IV, mereka bilang malas dan bosan membaca,” kata guru di Sekolah Cendekia Makassar, Gowa, itu.


Alasan itulah yang membuat Justini mengikuti seminar pengasuhan “Membuat Anak Gila Membaca” dan “Bersama Ayah Meraih Jannah” di Ballroom Pinisi Universitas Negeri Makassar, Sabtu, 2 Mei 2015. Kegiatan ini dilaksanakan oleh PKPU Lembaga Kemanusiaan Nasional bekerja sama dengan Sunrise Production.

Penulis buku Bersama Ayah Meraih Jannah, Solikhin Abu Izzuddin, mengatakan orang tua dan guru sebaiknya belajar membangun kebiasaan dan budaya membaca. Dengan begitu, kecintaan membaca bisa dijiwai oleh anak. “Kalau pengalaman saya, dengan menyediakan bacaan di rumah,” ucap Solikhin, yang menjadi pembicara dalam seminar ini.

Jika sudah tersedia buku bacaan di rumah, kata dia, upayakan untuk membuat anak menemukan keasyikan membaca akan berhasil. Jadikan membaca atau belajar sebagai hiburan yang menyenangkan. Menurut penulis buku Zero to Hero ini, ada anak yang pintar, tapi tidak senang membaca. Anak seperti ini biasanya cepat bosan dan kegiatan membacanya putus karena tidak menjiwai.

Solikhin mengingatkan agar anak tidak perlu diberi target, terutama dibebani tanggung jawab untuk meneruskan cita-cita orang tuanya. Menurut dia, anak yang terbebani tidak akan merasakan kenyamanan karena tidak merdeka menjadi dirinya sendiri.

Dia mengatakan orang tua harus meluangkan waktu untuk anak-anaknya. “Dimulai dari memberikan perhatian,” ucapnya.

Saat mendidik anak, sebenarnya orang tua juga punya peluang yang berharga untuk belajar secara alami. Mendidik anak dengan kesiapan masing-masing. Seorang ayah, misalnya, harus mulai jujur dengan kekurangannya.

Penulis buku Membuat Anak Gila Membaca, Mohammad Fauzil Adzim, mengatakan penting menanamkan pesan-pesan tentang manfaat membaca kepada anak, tidak sekadar membiasakan anak membaca. Menurut dia, orang tua juga tidak perlu malu anaknya belum bisa membaca.

Dia mengatakan anak bisa diajari membaca sejak usia 2 tahun, bisa dimulai dengan memberikan pengalaman pra-membaca. “Jadi intinya adalah mengakrabkan anak dengan buku dan simbol-simbol huruf, bisa dalam bentuk mainan,” ujarnya. Mengajari anak melalui simbol-simbol atau huruf, kata dia, bisa dilakukan dengan mengubah rangkaian simbol ini menjadi kata bermakna, lalu menjadi kalimat bermakna.

Fauzil mengatakan mengakrabkan anak dengan dunia membaca juga bisa dilakukan dengan membacakan buku. Sebab, kata “membaca” bisa berarti membaca tanpa melihat teks atau melafalkannya atau membaca teks. Dia menjelaskan tentang cara membaca Al-Quran yang diterapkan pada zaman Nabi Muhammad dan generasinya.

Jadi, kata Fauzil, orang tua bisa membacakan buku sehingga didengar oleh anak. Kegiatan ini bisa dilakukan ketika sedang menyusui anak. Selanjutnya, memperdengarkan atau membaca teks dengan suara keras. “Dalam hal ini, proses yang berlangsung adalah anak menerima dan merekam. Sehingga mudah baginya untuk melafalkan di kemudian hari, karena sudah akrab,” kata dia.

Orang tua juga memberi contoh melalui bahasa keseharian yang mudah diterima anak. Fauzil memberikan contoh anak taman kanak-kanak yang sudah bisa berbahasa daerah, padahal tidak ada kursusnya. Menurut dia, itu karena mereka diakrabkan melalui lingkungan sehingga memudahkan anak dalam memproduksi kalimat-kalimat tersebut. “Anak mendengar dan merekam, sehingga memudahkan dia mengingat,” ujar dia.

Cara lainnya bisa memperdengarkan bacaan pada anak, lalu memintanya menirukan kata-kata tersebut. Fauzil mengatakan orang tua tidak perlu memaksakan kehendak agar anak cepat bias membaca. “Kadang ibu ingin anaknya cepat bisa membaca saat TK, tapi kelas IV SD justru lemah,” ujar Fauzil.

Beberapa penyebab anak bosan membaca, selain karena tidak menjiwai, bisa jadi lantaran faktor anak mulai keranjingan perangkat canggih atau gadget. Dalam soal gadget, Indonesia tidak ketinggalan, bahkan unggul dalam hal mengakses YouTube dan penggunaan telepon seluler.

Sebaliknya, dalam indeks membaca, Indonesia tergolong rendah, kalah jauh dibanding Malaysia dan Brunei Darussalam. “Jumlah rumah yang mengoleksi lebih dari dua ribu buku, selain toko buku dan perpustakaan umum, hanya sekitar dua persen,” ucap Fauzil.






references by tempo

 
Like us on Facebook