May 23, 2015

Isteri Perdana Menteri Turki Menangis Melihat Keadaan Muslim Rohingya

Muslim yang satu dengan muslim yang lain laksana satu tubuh. Jika satu terluka, yang lain pun merasakannya. Itulah yang dialami oleh istri Erdogan dan para pemimpin Turki.
Jika banyak negara lain menolak menolong pengungsi Rohingya, tidak demikian dengan Turki. Mereka menyambut hangat para pengungsi Turki laksana saudara yang terpisah lama. Bahkan Turki bersedia mengawal dan menjemput para pengungsi Rohingya.


Perdana Menteri Ahmed Davutoglu mengatakan pada Selasa (19/5/2015) lalu, Turki berupaya melakukan yang terbaik untuk membantu Muslim Rohingya yang saat ini berada di lautan lepas. Turki telah mengerahkan bantuan kapal Angkatan Bersenjata menuju lepas pantai Thailand dan Malaysia, demi mengawal para pengungsi Rohingya dan menjaga keselamatan mereka.

Pada tahun 2012 lalu, Turki mengirimkan delegasi untuk ke Arakan, Myanmar, guna bertemu dengan para pengungsi Rohingya. Istri Recep Tayyip Erdogan termasuk salah satu delegasi tersebut. Begitu melihat kondisi pengungsi Rohingya yang menggambarkan betapa menderitanya para muslimah dan anak-anak itu, Emine Erdogan tak kuasa menitikkan air mata. Cukup lama Emine menangis haru, terlebih ketika memeluk muslimah dan anak-anak Rohingya.
Selain melihat kondisi langsung pengungsu Rohingya, delegasi Turki juga mengirimkan bantuan kemanusiaan dari negeri yang dipimpin Erdogan itu.


Terkait nasib kaum muslim Rohingya di Myanmar, Menteri Luar Negeri Turki Ahmed Davutoglu Selasa (19/5/2015) lalu mengatakan bahwa negaranya terus berupaya melakukan yang terbaik untuk membantu pengungsi Muslim Rohingya yang saat ini berada di lautan lepas. Bahkan Turki telah mengerahkan bantuan kapal Angkatan Bersenjata menuju lepas pantai Thailand dan Malaysia, demi mengawal para pengungsi Rohingya dan menjaga keselamatan mereka.
http://pekanews.com/wp-content/uploads/2015/05/Istri-Erdogan-menangis.jpg
Upaya pemerintah Turki dalam membantu muslim rohingya memang tidak main-main. Pada tahun 2012 lalu, Turki telah mengirimkan delegasi untuk ke Arakan, Myanmar, guna bertemu dengan para pengungsi Rohingya. Bahkan Istri Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan termasuk salah satu delegasi tersebut. Begitu melihat kondisi pengungsi Rohingya yang menggambarkan betapa menderitanya para muslimah dan anak-anak itu, Emine Erdogan tak kuasa menitikkan air mata. Cukup lama Emine menangis haru, terlebih ketika memeluk wanita muslimah dan anak-anak Rohingya. (ruli)



Media Turki Beritakan Kebaikan Aceh Membantu Pengungsi Rohingya

Salah satu media di Turki mengapresiasi kepedulian masyarakat Aceh dalam membantu pengungsi Rohingya yang terdampar di lautan lepas dan menariknya ke daratan. Aksi spontanitas yang diberikan warga Aceh menjadi berita yang diulas Harian Yeni Safak di Turki,  edisi Minggu (17/5/2015).

Yeni Safak merupakan media yang dekat dengan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang sukses mengantarkan Recep Tayyeb Erdogan sebagai Perdana Menteri dan Abdullah Gul sebagai Presiden Turki.
Media itu mengulas kebaikan masyarakat Aceh yang membantu muslim Rohingya (Arakan) yang terdampar di Aceh Utara, Langsa, dan di Aceh Tamiang beberapa hari lalu. "Ace'ye 582 Arakan" demikian salah satu sub judul pada berita terkait bagaimana warga Aceh membantu pengungsi Rohingya.

Teuku Zulkhairi melalui akun facebooknya membagi foto media tersebut, saat ini ia sedang berada di Turki bersama Koordinator Masyarakat Informasi Teknologi (MIT) Indonesia, Teuku Farhan.

Mereka berdua mendapat kehormatan mengungjungi negara itu dalam kaitan peresmian salah satu media di Turki dan pertemuan pekerja media yang konsen pada isu-isu Islam dari berbagai negara.
"Ini membuktikan, satu sisi publik Turki dan medianya semakin mengenal Aceh... Dan di sisi lain, kerja masyarakat Aceh yang membantu pengungsi Rohingya telah menjdi kerja-kerja dalam skala peradaban, Subhanallah," tulis Teuku
Zulkhairi.


Tahun 2015 ini aksi pengungsian lebih 25.000 warga Muslim Myanmar dengan menggunakan perahu mencuat jadi topik berita di tataran internasional. Masalah muncul terkait sikap pemerintah di tiga negara, yakni Thailand, Malaysia dan Indonesia dalam menangani manusia perahu itu. Sebetulnya exodus etnis Rohingya dari Myanmar atau warga Bangladesh lainnya dengan menggunakan perahu bukan fenomena baru.
Gelombang pengungsian besar-besaran pertama etnis Rohingya dengan menumpang perahu terjadi tahun 2012 saat konflik sektarian antara warga minoritas Muslim Rohingya dengan mayoritas Budhis di negara bagian Rakhine di Myanmar makin memburuk. Ketika itu lebih 200 warga etnis Rohingya tewas dan 140.000 lainnya digiring ke kamp-kamp penampungan.

Etnis Rohingya merupakan kaum minoritas di Myanmar dan Bangladesh, kebanyakan tidak memiliki kewarganegaraan yang sah. Jumlah populasinya menurut taksiran PBB mencapai sekitar 1,3 juta orang dan kebanyakan bermukim di negara bagian Rakhine yang tergolong paling miskin di Myanmar. Minoritas Rohingya beragama Islam, sementara mayoritas warga Myanmar beragama Budha.

Walau sudah bermukim di Myanmar selama beberapa generasi, anak cucu keturunan Rohingya tetap dipandang sebagai pengungsi ilegal dari negara tetangga Bangladesh, Di pihak lain, Bangladesh juga tidak mengakui mereka sebagai warga negaranya. Saat ini terdapat sekitar 300.000 warga Rohingya di Bangladesh, terutama di kawasan perbatasan ke Myanmar.

Diskriminasi dan restriksi
Akibat tidak memiliki kewarganegaraan yang sah, etnis Rohingya sering mengalami diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga menghadapi berbagai pembatasan termasuk dikontrol pergerakannya, pembatasan jumlah anak dalam keluarga serta hambatan akses ke pasar kerja.


Diskriminasi dan restriksi itu kemudian memicu bentrokan sektarian yang terus memburuk. "Sebagai dampaknya setiap awal tahun ribuan etnis Rohingya menjadi manusia perahu untuk mencari kehidupan lebih baik dan demi masa depan anak cucu mereka", ujar pakar Rohingya Nicholas Farrelly dari Australia National University.

Banyak yang terjerat sindikat penyelundup manusia dari Thailand. Dengan bayaran cukup tinggi hingga 1.500 US Dolar per orang, para pengungsi Rohingya itu kemudian ditampung di kamp sementara dekat perbatasan ke Malaysia. Inilah jalur "trafficking" tradisional para pedagang manusia. Jika bernasib baik, mereka bisa melintas ke Malaysia dan mencari pekerjaan di sana, seperti sekitar 30.000 warga Rohingya yang beruntung. Jika naas, para pengungsi ini mati dibunuh penjahat penyelundup manusia.

Pemicu arus manusia perahu terbaru adalah temuan kuburan massal di Thailand ke perbatasan Malaysia yang berisi jasad puluhan warga Rohingya. Kasus ini sontak memicu kemarahan di Bangkok. Kemudian digelar razia besar-besaran terhadap bandit penyeludup manusia. Akibatnya, para pengungsi kemudian ditinggalkan begitu saja dalam perahunya di laut lepas.

ASEAN kini mengirim sinyal ke Myanmar, agar menghentikan tidakan represif terhadap minoritas Muslim Rohingya. Juga negara tetangga diimbau agar bersikap lebih lunak dan menerima untuk sementara para manusia perahu itu berdasarkan azas kemanusiaan.

Sikap Pemerintah Myanmar Pada Biksu Ashin Pembenci Muslim Rohingya

 Pemerintah Myanmar membiarkan Ashin Wirathu, terus menyebarkan kebencian terhadap komunitas minoritas Rohingya, sekalipun itu merusak citra negara mereka di mata komunitas internasional.
http://www.iberita.com/wp-content/uploads/2015/05/Ashin-Wirathu.jpg

Disebut dalam laporan BBC, Januari 2015, banyak pihak yakin pemerintah Myanmar memberikan toleransi, karena Ashin mewakili pandangan yang populer, didukung sebagian besar warga Myanmar.

Namun pemerintah Myanmar tidak dapat menyuarakan hal itu, karena alasan diplomatik, sehingga mereka membiarkan itu dilakukan oleh Ashin, penyebar kebencian di balik jubah biksu yang menjadi lambang kesucian.

Sekjen Liga Wanita Myanmar, Tin Tin Nyo, mengatakan Ashin memberikan reputasi buruk bagi negara, serta merusak citra jubah biksu yang dikenakannya. Sayangnya tidak banyak yang bisa diharap bakal mengecam Ashin.

Nyo mengatakan banyak wanita dan aktivis muda menentang keras apa yang dilakukan Ashin, tapi mereka mendapatkan resistensi dari generasi tua, termasuk orangtua mereka.

Generasi tua di Myanamr memiliki rasa hormat yang sangat besar terhadap biksu. Oleh karena itu, retorika kebencian Ashin hanya dapat dihentikan oleh komunitas biksu Buddha di Myanmar.
 https://preedeeponchevin.files.wordpress.com/2012/07/nickmsft2555-07-2416-14-15.jpg

Ribuan orang Rohingya kabur dari tempat asal mereka di Myanmar. Kaum Rohingya yang mayoritas Muslim memilih mati di negeri orang ketimbang bertahan di negara mayoritas Buddha itu.

Rupanya, seorang biksu Buddha menjadi dalang di balik neraka bagi kaum Rohingya. Biksu bernama Ashin Wirathu itu menyebarkan kebencian ke tengah masyarakat Myanmar. Dia menanamkan ketakutan suatu saat kelompok Muslim minoritas akan menguasai negara yang dulu dikenal dengan nama Burma itu.

Kemunculan Ashin Wirathu
Sepuluh tahun lalu, publik belum pernah mendengar nama biksu dari Mandalay tersebut. Pria kelahiran 1968 itu putus sekolah pada usia 14 tahun. Setelah itu, dia memutuskan untuk menjadi biksu.
Nama Ashin Wirathu mencuat setelah dia terlibat dalam kelompok ekstremis antimuslim "969" pada 2001. Karena aksinya, pada 2003 dia dihukum 25 tahun penjara. Namun, pada 2010 dia sudah dibebaskan bersama dengan tahanan politik lainnya.

Ashin Wirathu Jadi Tokoh Masyarakat
Setelah peraturan Pemerintah Myanmar melonggar, Ashin Wirathu makin aktif bersuara di media sosial. Ashin menyebarkan pesan melalui rekaman ceramah yang diunggah di YouTube dan Facebook. Sampai saat ini, dia berhasil menjaring sekira 37 ribu pengikut.
 http://www.barenakedislam.com/wp-content/uploads/2014/01/43f64cb912bb1c1c1d0f6a70670074e8.jpg
Pada 2012, ketika pertumpahan darah antara Rohingya dan Buddhis terjadi di Provinsi Rakhine, Ashin semakin dikenal dengan pidato penuh amarahnya.

Ceramah dia selalu dimulai dengan kalimat yang berbunyi, "Apapun yang kamu lakukan, lakukanlah sebagai seorang nasionalis".

Keinginan Ashin Wirathu
Ashin Wirathu menyebarkan ajaran kebencian dalam setiap ceramahnya. Dia selalu menyasar komunitas Muslim, seringkali dia memojokkan Rohingya. Pria inilah yang memimpin demonstrasi yang mendesak orang-orang Rohingya direlokasi ke negara ketiga.
Ashin juga mengkambinghitamkan kaum Muslim atas bentrokan yang terjadi. Dia terus mengulang alasan tak masuk akal soal tingkat reproduksi Muslim yang tinggi.
Biksu itu mengklaim perempuan Buddhis dipaksa pindah agama. Dia memimpin kampanye yang mendesak Pemerintah Myanmar mengeluarkan peraturan yang melarang perempuan Buddhis menikah dengan pria beragama lain tanpa izin pemerintah.

Lawan Ashin Wirathu
Ashin memimpin sekelompok massa yang berani melakukan kekerasan demi mempertahankan pandangannya. Pengaruh kuat Ashin menyebabkan setiap orang yang berbeda pandangan akan menjadi target pendukungnya.
Masyarakat sesungguhnya takut dengan kekejaman kelompok Ashin. Namun, Ashin tetap mendapat dukungan banyak orang mengenai status kewarganegaraan Rohingya.

Usir Etnis Rohingya, Biksu Ashin Wirathu Benci Umat Islam

 Akar masalah dari Rohingya adalah rezim militer yang tengah berlangsung di negara Myanmar. Rezim tersebut yang membuat etnis Rohingya tak memiliki kewarganegaraan. Kekejaman yang dilakukan mereka menjadi sorotan publik mancanegara. Bukan hanya itu nasib umat Rohingya pun terkatung-katung dengan mengungsi keberbagai penjuru dunia seperti Indonesia dan juga Arab Saudi.

Konflik Rohingya tidak dapat dipisahkan dari latar belakang sejarah, corak keagamaan, dan psikologi budaya kedua kelompok yang berseteru. Saat ini gelombang pengungsi Rohingya telah mencapai lebih dari 12 ribu jiwa di Indonesia.
Hadirnya biksu Ashin Wirathu dikenal sebagai sosok radikal yang menyeruakan kebencian terhadap keberadaan Muslim di Myanmar, tak pelak majalah Time maupun New York Times pun melabeli Ashin Wirathu sebagai Osama Bin Laden versi Burma.

Penyebab sang biksu kejam lantaran dipicu dari trauma dengan negara Indonesia yang dahulunya terkenal sebagai penganut agama Buddha terbanyak yang lambat laun tergerus akan hadirnya umat Islam di bumi Nusantara.
"Biksu ini (Ashin Wirathu) mempunyai trauma yang tinggi terhadap Indonesia. Dirinya memiliki dendam kepada umat Islam, dan takut penganut agama Buddha menjadi terkikis di negara Myanmar seperti yang terjadi dulu di Indonesia," ujar Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas saat dihubungi Republika, Jumat (22/5).

Sementara itu, Ilyas menambahkan agar umat Muslim Indonesia menahan diri agar tidak tersulut dengan adanya permasalahan yang terjadi di Myanmar. "Sentimen Buddha jangan di balas di sini, umat Islam tak mengajarkan balas dendam dan juga menghukum yang lemah tanpa belas kasih," ujarnya.

Muslim Rohingya Terdampar di Laut Aceh
Tanggapan Biksu Lainnya
Banyak orang ingat peristiwa pada 2007 di Myanmar. Saat itu, para bisku buddha memimpin perlawanan terhadap kekuasaan mliter di Myanmar. Pesan Ashin saat itu tidak mendapat dukungan banyak orang.
Namun, banyak biksu di Myanmar yang memilih bungkam menghadapi Ashin. Sebagian lainnya, takut diserang Ashin. Sulit untuk memprediksi seberapa kuat pengaruh Ashin di kalangan biksu.

Ashin Wirathu memimpin lebih dari 2.500 biksu di biara Mandalay. Ketika ia menyelenggarakan konferensi mengenai perlindungan perempuan, para biksu memenuhi biaranya.
Beberapa biksu melontarkan kritikan atasnya. Seorang biksu bernama U Ottara mengaku kaget mendengar komentar-komentar yang disampaikan para biksu.

"Saya merasa sangat sedih. Saya bisa bilang, kata-kata yang mereka ucapkan bukanlah kata-kata yang digunakan seorang biksu," kata Ashin kepada BBC, Rabu (20/5/2015). Beberapa biksu khawatir bila kekejaman Ashin ditangkap dunia internasional sebagai representasi ajaran Buddha.

Alasan Pemerintah Myanmar Tidak Menghentikan Ashin Wirathu
Setelah hampir setengah abad dikuasai militer, kini Myanmar dipimpin oleh warga sipil. Namun, bentrokan antar agama memperlambat reformasi negara itu.

Sebagian orang percaya, Ashin diterima pemerintah kareana dia menyuarakan pendapat soal pandangan-pandangan populer, misalnya soal Rohingya. Ashin seolah menjadi corong pemerintah yang tidak bisa menyuarakan keinginannya sendiri karena alasan diplomatik.

Tanggapan Perempuan Myanmar
Kaum perempuan Myanmar adalah satu-satunya kelompok yang konsisten menentang pandangan Ashin Wirathu. "Dia memberi reputasi buruk untuk negara kita. Dia menodai jubah biksu yang dia gunakan," kata Sekretaris Jenderal Liga Perempuan Burma, Tin Tin Nyo.

Dia juga mengatakan, kampanye Ashin Wirathu yang mengusulkan peraturan yang membatasi perempuan menikahi pemeluk agama lain, bukanlah bentuk perlindungan perempuan melainkan bentuk kontrol atas perempuan.
"Perempuan dapat memutuskan sendiri siapa yang ingin dia nikahi. Perempuan dapat memilih sendiri agama yang ingin dianut," kata Tin Tin Nyo



Nasib Rohingya di Bawah UU Keluarga Berencana


Nasib masyarakat Rohingya dapat memburuk, sesudah Presiden Myanmar Thein Sein menandatangani undang-undang (UU) keluarga berencana. Aktivis mencemaskan UU bakal menyasar minoritas yang rentan bertahan di Myanmar.
Pemerintah sejumlah negara dalam beberapa hari terakhir kian menekan pemerintah Myanmar. Mereka mendesak Myanmar menyetop eksodus warga Rohingya. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggambarkan kelompok Rohingya sebagai minoritas yang paling teraniaya sedunia.

PBB menduga kuat ribuan anggota kelompok Rohingya masih terjebak di Teluk Bengali. Mereka ditinggalkan penyelundup manusia yang takut dilumpuhkan patroli laut. Dalam beberapa pekan terakhir, lebih dari 3.000 warga Rohingya, juga imigran dari Bangladesh, berupaya mencapai daratan Malaysia dan Indonesia.
Ketimbang memikirkan masa depan kelompok Rohingya, Undang-Undang Perawatan Kesehatan Kendali Populasi justru hendak membatasi pertumbuhan penduduk komunitas Muslim—khususnya Rohingya.

Menurut laporan media pemerintah pada Sabtu, UU ditandatangani Thein Sein pada 19 Mei. Dalam UU, seorang perempuan mesti menanti 36 bulan untuk melahirkan anak kedua, terhitung dari persalinan anak sulung. Lewat UU pula, pemerintah akan mengadopsi kebijakan kontrol populasi di negara-negara bagian masing-masing. Namun, UU tak memberlakukan sistem denda.

Kelompok pemerhati hak asasi manusia serta lembaga pengawasan kesehatan menyebut pemerintah sudah menetapkan kebijakan dua anak di negara bagian Rakhine. Di sana, jumlah penduduk Muslim melampaui kelompok Buddha. UU baru dikhawatirkan bakal mempermudah aborsi serta kontrol kelahiran.

UU keluarga berencana terbaru Myanmar didukung biksu-biksu Buddha garis keras, di antara kelompok lainnya. Mereka terus mendesak pemerintah menangkal apa yang mereka sebut “pengaruh kelompok minoritas Muslim.” Menurut kelompok pendukung UU, warga minoritas berencana memiliki anak yang lebih banyak ketimbang populasi Buddha.
Jumlah penduduk Muslim Myanmar sekitar 4% dari keseluruhan 51 juta jiwa. Namun, beberapa perkiraan menyebut jumlahnya mendekati 10%.

Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Bliken mengekspresikan tanggapannya atas UU baru Myanmar. Berbicara di hadapan reporter pada Jumat di Yangon, ia cemas “rancangan—yang sudah diputuskan menjadi UU—dapat memperlebar perpecahan etnis dan keagamaan.”
Zin Mar Aung, salah seorang aktivis terkemuka Myanmar, meyakini UU akan “berbahaya bagi masyarakat Myanmar.” Menurut aktivis yang menghabiskan 11 tahun sebagai tahanan politik itu, UU merupakan bentuk “tirani [kelompok] mayoritas.”

Ia menilai UU akan sulit dipahami masyarakat biasa. “Dan sulit juga bagi kami mempersoalkan UU ini, lantaran dikuasai komunitas keagamaan.”

http://us.images.detik.com/content/2015/05/22/1148/imigranrohingyareutersdlm.jpg

50% MIGRAN DI ACEH WARGA BANGLADESH,
DUTA BESAR BANGLADESH AKAN MEMBAWA PULANG MEREKA~


Dari hampir 1.800 migran yang baru-baru ini mendarat di Aceh, 50% adalah migran ekonomi dari Bangladesh dan sisanya adalah pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari penindasan Kekejian di Myanmar.
Hal itu disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir, mengutip hasil verifikasi awal yang dilakukan oleh Badan Pengungsi PBB (UNHCR).

"Memang datanya menunjukkan hampir 50% itu merupakan warga dari Bangladesh, jadi memang mereka merupakan migran ekonomi," katanya kepada wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir, Sabtu (23/05).
Adapun sisanya adalah orang-orang Rohingya yang mengungsi dari Myanmar menyusul gelombang kekerasan dan penindasan terhadap etnik muslim Rohingya di sana.

Migran-migran, yang oleh Kementerian Luar Negeri disebut sebagai migran ireguler, menumpang kapal-kapal selama sekitar dua bulan dengan tujuan utama antara lain Malaysia untuk mencari kerja. Namun mereka ditinggalkan oleh awak kapal di tengah laut setelah Thailand melancarkan operasi mengatasi penyelundupan manusia
Pemerintah Bangladesh telah mengutus duta besarnya di Jakarta untuk mengunjungi warga Bangladesh yang diselamatkan di Aceh dan menyatakan komitmen untuk membawa pulang warga Bangladesh.

Beda Pandangan dengan Biksu Ashin, Umat Buddha di RI Justru Bantu Pengungsi Rohingya

Pandangan Biksu Ashin Wirathu yang berjuluk Bin Laden dari Burma jelas berbeda jauh dengan sikap umat Buddha di Indonesia soal suku Rohingya. Bila biksu Ashin memusuhi Rohingya, umat Buddha di Indonesia justru memberikan bantuan.

“Kami setuju membantu teman-teman di Langkat. Bekerjasama membantu, di daerah-daerah, kami juga ikut membantu,” jelas perwakilan Majelis Buddhayana Indonesia Sugianto Sulaiman dalam jumpa pers di kantor The Wahid Institute, Jl Taman Amri Hamzah, Jakpus, Kamis (21/5/2015).

Dia menjelaskan, kekerasan yang dilakukan Myanmar seperti yang dilakukan Biksu Ashin Wirathu dan massanya jangan disamaratakan dengan yang di Indonesia.

“Sekarang dikaitkan dengan isu agama dengan adanya beberapa biksu bergaris keras di Myanmar, yang garis keras tapi itu biasa terjadi di mana saja,” jelas dia.

“Jangan membawa ini soal agama di Indonesia. Kita damai-damai saja,” tutupnya.


QATAR PERCAYAKAN DONASIKAN UANG RP. 658 MILIAR UNTUK MUSLIM ROHINGYA DI INDONESIA

Pemimpin Qatar, Emir Syekh Tamim mengaku bersimpati pada ribuan pengungsi Rohingya yang kini terdampar di sekitar Asia Tenggara. Untuk itu, negeri kaya minyak ini akan memberikan bantuan senilai USD 50 juta (setara Rp 658 miliar) kepada Indonesia sebagai salah satu wilayah tujuan pengungsi asal Myanmar yang terusir akibat diskriminasi Myanmar.
Lebih dari 1.400 imigran mendarat di Aceh dua pekan terakhir. 50% atau Separuhnya adalah warga Rohingya asal Myanmar, mereka tersebar di Kuala Cangkoy (329 orang), Kuala Langsa (268 orang), dan Birem Bayeun (353 orang).
Sisa imigran yang terdampar berasal dari Bangladesh. Selain warga Rohingya, pemerintah Indonesia dan PBB akan memulangkan para imigran ke negaranya masing-masing.


Raja Faisal adalah orang pertama yang membangun puluhan ribu camp pengungsi Rohingya pada tahun 1970-an. Saat ini kurang lebih ada seperempat juga muslim Rohingya di Arab Saudi.

Semoga Allah merahmati Raja Faisal bin Abdul Aziz. Mudah-mudahan banyak pemimpin Arab khususnya dan dunia Islam bersatu secara umum yang memiliki perhatian besar terhadap umat Islam seperti beliau.






references by tribun, dw indonesia, viva, okezone, bbc, republika, detik, wsjindonesia

 
Like us on Facebook