June 2, 2015

Anak Muda Rentan Terkena Penyakit Neuropati

Neuropati adalah gangguan dan kerusakan saraf yang ditandai kesemutan, kebas, dan kram. Usia muda sangat berisiko terkena penyakit ini.

Berdasarkan hasil pemeriksaan pada 5.478 orang di Neuropaty Check Points Neurobion yang diadakan di 8 kota besar di Indonesia pada 2015, sekitar 42 persen peserta memiliki risiko neuropati. Walaupun usia yang lebih tua lebih berisiko, tidak sedikit anak muda yang mengalami yang rentan terkena neuropati.



"Sekitar 38 persen usia muda berisiko neuropati," ujar dr.Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), konsultan neurologis dari FKUI, RSCM saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (28/05).

Gejala neuropati bisa mulai dirasakan dari usia paling muda muda antara 26-30 tahun. Buktinya, 1 dari 4 orang di usia itu mulai merasakan kesemutan dan kebas.

Melihat tingginya prevalensi, para ahli kesehatan menciptakan neuromove untuk mencegah neuropati. Tidak sulit untuk melakukannya. Dengan gerakan yang terdiri dari aerobik dan stretching untuk melatih saraf, melemaskan ketegangan otot, serta mengurangi back pain akibat duduk terlalu lama.

Salah satu gerakan inti neuromove adalah dengan gerakan menyilang atau gerakan cross antara gerak tangan dan bola mata. Gerakan ini dibuat untuk mengaktifkan saraf-saraf tepi dan saraf pusat. Gerakan tersebut dapat meningkatkan kecepatan reaksi seseorang dan meningkatkan daya ingat.

"Gerakan ini secara khusus untuk mengaktifkan sel-sel saraf, seperti gerakan menyilang batang tubuh, koordinasi bola mata, tangan, keseimbangan dan fokus pada gerakan pemanasan untuk peregangan yang dapat menghindari cedera. Ini sangat praktis, cukup dengan 15-20 menit saja," kata dr. Ade Toping SpKO, Spesialis Kedokteran Olahraga.


neuropati merupakan gangguan saraf yang dapat terjadi pada usia lanjut, pasien diabetes, trauma pada saraf, serta kekurangan vitamin neurotropik, yaitu B1, B6 dan B12. Semua orang berisiko terkena neuropati. Hanya, risiko bisa lebih tinggi atau rendah, tergantung dari berbagai faktor, seperti gaya hidup dam riwayat keluarga.

Neuropati lebih sering terjadi pada dua macam kondisi. Yang pertama adalah pada orang berusia lanjut. Penelitian menyebutkan bahwa satu dari empat orang berusia di atas 40 tahun menderita neuropati. Semakin bertambah umur, semakin seseorang cenderung mengalami lebih banyak gangguan saraf. Dan jika ia tidak diterapi dengan benar, neuropati dapat mengarah pada penyakit saraf yang lebih berat.

Kondisi kedua yang rawan neuropati adalah pada penyandang diabetes – biasa disebut neuropati diabetikum. Seratus persen penderita diabetes berisiko menderita neuropati diabetikum, dan setengah dari pasien diabetes menderita neuropati diabetikum.
Pun demikian, siapa saja yang tidak termasuk dalam kedua kondisi rawan tersebut ternyata juga memiliki risiko. Karena itu, pelajari gejala-gejala neuropati berikut:
  • Nyeri
  • Rasa terbakar di jari-jari kaki, telapak kaki, tungkai, tangan, lengan, dan jari-jari lengan.
  • Mati rasa atau baal.
  • Kram.
  • Kaku otot dan kesemutan.
  • Kehilangan kontrol kandung kencing.
  • Kulit menjadi hipersensitif.
  • Kulit mengkilap.
  • Kelemahan anggota gerak.
  • Rambut rontok pada area tertentu.
  • Atrofi otot (otot yang mengecil).
Untuk mencegah terjadinya neuropati, sangatlah dianjurkan agar setiap orang melakukan sejak dini. Pasalnya, gejala neuropati sendiri baru terlihat jelas ketika sudah terjadi kerusakkan saraf. Selain itu, perbaikan saraf tentu membutuhkan waktu lama, dan semakin tua usia Anda, fungsi saraf akan semakin menurun – terutama di usia 40.

Pencegahan tersebut bisa dilakukan dengan berbagai cara. Olahragalah yang teratur minimal 2 kali seminggu dan istirahat yang cukup untuk regenerasi sel saraf. Kemudian, kenali apa yang Anda makan. Upayakan selalu gizi seimbang dan bila perlu, konsumsi vitamin neurotropik, yaitu B1, B6, dan B12. Vitamin-vitamin ini diperlukan untuk menjaga sistem saraf agar dapat bekerja dengan baik.



Sebenarnya, banyak sekali gejala-gejala umum yang bisa menjadi pendeteksi akan adanya penyakit ini, diantaranya adalah saat kaki seseorang yang mengalami kram secara tiba-tiba sebelum tidur ataupun dalam memegang gelas, tangan mengalami rasa yang lemah sehingga tidak kuat mengangkatnya. Namun, tetap saja hal ini masih sering diabaikan oleh kebanyakan masyarakat karena dianggap hal yang biasa dan tidak berbahaya.


Sering Gunakan High Heels Berisiko Neuropati


Keseringan mengenakan high heels atau sepatu hak tinggi membuat perempuan berisiko terkena neuropati.

Itu disebabkan perempuan memiliki perubahan hormonal yang mempengaruhi tubuh. "Siklus periodik yang tiap bulan itu juga mempengaruhi," kata dr. Manfaluthy Hakim, SpS(K), konsultan neurologis, Kamis (28/05).

Gaya hidup masyarakat Indonesia sehari-hari; bermain gadget, mengendarai motor, dan mengetik, juta dapat menyebabkan neuropati.

Hasil pemeriksaan di Neuropathy Check Points Neurobion kepada 5.478 orang di 8 kota besar di Indonesia, ditemukan 1 dari 2 orang berisiko terkena neuropati. Sekitar 38 persen dari kelompok usia 20-29 tahun.

Seorang pakar kesehatan spesialis saraf, dr Manfaluty Hakim, SpS (K), menuturkan dalam suatu kesempatan bahwa sebenarnya ada beberapa tanda umum dimana seseorang ternyata mengalami penyakit neuropati, yakni adanya rasa kram dan kesemutan, mati rasa ataupun kaku otot, adanya rasa kebas atau baal, dan yang lebih parah adalah rasa terbakar pada tangan maupun kaki dan juga kehilangan control pada kandung kemih. Kulit mengkilap dan rambut rontok di area tertentu juga dapat menjadi penanda adanya gangguan ini. Lama-kelamaan, jika gejala-gejala tersebut dibiarkan maka anggota gerak akan semakin melemah dan bahkan mengalami penyusutan otot.








references by inilah, readersdigest, detik

 
Like us on Facebook