June 10, 2015

Pembunuhan Angeline, Anak Yang Dikabarkan Hilang

Tim yang evakuasi di areal kandang ayam dalam rumah No 26 Jalan Sedap Malam, Denpasar ikut haru saat mengangkat jasad mungil Angeline. Saat ditemukan, jasad Angeline masih memeluk boneka kesayangan.
"Jujur mas saya nangis saat saya angkat mayatnya. Dia sambil memeluk boneka, warna kekuningan kecokelatan. Bentuknya boneka kecil rambut panjang, boneka wanita korea," tutur salah seorang anggota tim evakuasi yang minta tidak mau namanya ditulis.



"Posisinya tidak datar tapi lutut dan tangan telungkup memeluk boneka mas. Sepertinya dipaksakan masuk dalam kubangan, setengah jongkok," ujar sumber ini.
Kondisi jenazah Angeline sangat mengenaskan ketika pertama kali ditemukan. Kabarnya, ketika korban diangkat dalam posisi bayi janin, terbungkus seprai dan ada jeratan tali gorden pada leher.
Tidak hanya ada jeratan leher dengan masih ada tali plastik gorden pada leher, bahkan ada bekas luka pada bagian perut semacam luka tusukan.

Menurut sumber yang enggan disebutkan namanya, jika Angeline dikubur tidak lebih sedalam lutut orang dewasa. Kain yang membungkus adalah bad cover warna putih.
"Saya angkat mayatnya, gak tega," ucapnya.

Kapolresta Denpasar Kombes Pol Anak Agung Made Sudana, ditanya soal kondisi jasad Angeline menyebutkan bahwa saat ini masih dalam proses autopsi.

"Kita tunggu aja kepastiannya dari hasil tim forensik, sabar ya kawan-kawan," ujar Sudana.
Seperti diketahui, sekitar pukul 10.53 WITA, kali pertama jasad Angeline ditemukan oleh anggota Polresta Denpasar. Petugas curiga dengan gundukan tanah tidak padat dan ditimbun sampah di rumah orangtua asuh Angeline, Margareta di Jalan Sedap Malam Denpasar.



Jasad bocah malang itu dikubur di lahan pisang yang berada dekat kandang-kandang ayam




KRONOLOGI PENEMUAN JENAZAH ANAK BERNAMA ANGELINE


Saat polisi mencari keberadaan Angeline (8), yang dilaporkan hilang sejak 16 Mei 2015, Siti Sapura menduga Angeline sengaja dihilangkan. Pengacara Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar itu mengaku, pihaknya telah melakukan investigasi.

"Ada satu ruangan di rumah itu yang tidak boleh kami masuki ketika kami datang beberapa waktu lalu. Kami dilarang oleh ibu angkat Angeline," kata Sapura kepada wartawan pada Senin (1/6/2015).

Sapura mengatakan, P2TP2A telah mendapatkan pengakuan beberapa tetangga di sekitar rumah Margareith CH Megawe (ibu angkat Angeline). Mereka mengaku tidak melihat Angeline dibawa kabur oleh seseorang.
Dugaan tersebut kian menguat dengan pengakuan pekerja di rumah Margareith. Pekerja tersebut mengatakan, hidung Angeline tampak mengeluarkan darah. Saat ditanya, Angeline mengaku dipukul oleh ibu angkatnya.

Diduga, Kematian Angeline Terkait Warisan dari Ayah Angkatnya


Alasan kematian Angeline, bocah usia 8 tahun, yang dilaporkan hilang beberapa pekan lalu masih misteri. Namun sebuah kabar berembus menyebutkan Angeline dibunuh karena warisan.

Polisi masih belum dapat memastikan motif kematian Angeline itu. Hingga berita ini dimuat, polisi masih mendalami keterangan ibu angkatnya, Margaret beserta dua saudara angkatnya, Ivone dan Kristin.

Saat berusia tiga hari, Margaret dan suaminya mengangkat Angeline sebagai anak. Pasangan suami istri itu kemudian membesarkan Angeline di rumah mereka di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali.

Beberapa tahun lalu, suami Margaret yang merupakan warga negara asing meninggal. Kabarnya, Angeline mendapat warisan dengan nilai cukup besar dari ayah angkatnya itu.

Namun polisi enggan mengomentari kabar tersebut. Yang jelas, Kapolda Bali Irjen Pol Ronny F Sompie menduga kematian Angeline melibatkan orang-orang terdekatnya.

"Semua yang ada di rumah, orang yang berkaitan dengan Angeline harus kami dengar keterangannya," kata Kapolda saat berada di lokasi penemuan jenazah Angeline, Rabu (10/6/2015).

Selain Margaret, polisi juga memeriksa keterangan dua saudari angkatnya yaitu Ivone dan Kristin. Sebab sehari-hari, Angeline tinggal serumah dengan mereka.

Pada 16 Mei 2015, Margaret melapor ke polisi dan mengatakan Angeline hilang saat tengah bermain di depan rumah mereka. Peristiwa itu pun menarik perhatian banyak kalangan. Tak hanya polisi, ratusan relawan pun turut mencari Angeline. Mereka menyebar foto Angeline di sudut-sudut kota.

Pagi ini, kabar duka didapatkan. Angeline ditemukan tak bernyawa di halaman belakang rumahnya. Mirisnya, jenazah Angeline ditemukan berada di belakang kandang ayam.

Sejumlah aktivis meyakini bahwa tewasnya Angeline dilakukan dengan penuh terencana dan dilakukan secara bersama-sana. Karenanya pantas pelaku dihukum sangat berat.

Demikian diungkapkan aktivis perlindungan anak dari lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar, Siti Sapurah, setelah meninjau lokasi tempat jasad Angeline di kubur.

"Saya sudah gali info dan mendengar bagaimana kondisi jenazah Angeline. Ini jelas dibunuh, dan penguburan dilakukan secara bersama-sama," ungkap Siti, Rabu (10/6).

Dia juga mempertegas bahwa pelaku utama dimungkinkan antara ibu asuhnya Margareta (50) atau kakak angkatnya Ivon (37). "Dari awal saya sudah desak polisi. Sisir lokasi, anak ini sengaja dihilangkan oleh keluarganya," ucap Siti.

Siti yakin ini sudah terencana dibunuh secara perlahan hingga puncaknya saat ini. Dari kecil Angeline hidup disiksa, harusnya itu jadi acuan polisi. Apalagi kabarnya warisan dari ayah angkatnya juga menyebutkan nama Angeline.



DUGAAN KOMNAS PERLINDUNGAN ANAK ATAS PEMBUNUHAN BOCAH BERNAMA ANGELINE

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait menilai kematian Angeline (8) tidak wajar.

Seperti diketahui, bocah itu dilaporkan hilang beberapa waktu lalu dan ditemukan tewas di halaman rumahnya di Bali, Rabu (10/6/2015).

"Kematiannya tidak wajar. Saya melihat ada unsur pidana," kata Arist kepada Kompas.com, Rabu siang.

Arist menduga, Angeline meninggal akibat kekerasan. Ia pun meminta agar dilakukan pemeriksaan apakah ada unsur kejahatan seksual pada Angeline. "Saya kira itu tunggu otopsi," ujar Arist.

"Saya melihat dugaannya mengenai hak waris untuk korban dan juga mengenai masalah kekerasan," ujar Arist.

Arist mengemukakan, Angeline adalah anak angkat dari MG. MG pernah menikah dengan warga negara asing, yang meninggal tiga tahun lalu. Sementara orangtua kandung Angeline, tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur.

Sebelumnya diberitakan, jasad Angeline ditemukan tertutup sampah di bawah pohon pisang, Rabu (10/6/2015). "Kondisinya sudah membusuk saat ditemukan. Ditemukan di bawah pohon pisang dan ditutup sampah," ujar Kapolda Bali Irjen Ronny Franky Sompie.

Ronny mengatakan saat ini jenazah sudah berada di RSUP Sanglah. "Untuk memastikan kondisi jenazahnya, kita tunggu dari dokter forensik, termasuk nanti otopsinya," ucapnya





Diperiksa teriak-teriak, Agus Satpam Margareta diduga kubur Angeline

Margareta, dan kedua putrinya serta seorang satpam bernama Agus, hanya bisa menangis saat menjalani pemeriksaan di Ruang riksa Reskrim Polresta Denpasar, Rabu (10/6).

Informasi anggota yang memeriksa perkara ini, untuk sementara baru diketahui kalau Agus satpam di rumah itu yang menggali dan mengubur Angelina ke dalam kubangan sedalam lutut orang dewasa.

"Agus yang mengeksekusi akhir Angeline. Ia hanya mengubur, baru itu data awal sementara," info sumber di Polresta Denpasar.

Sejumlah wartawan juga tidak diberikan kesempatan untuk melihat jalannya pemeriksaan dari dekat. Hanya terbatas melihat dari sisi lorong lantai 2 Polresta Denpasar.

"Pemeriksaan kita lakukan terpisah, mohon sabar," singkat Kapolresta Denpasar, Kombes Pol AA Made Sudana, menyambangi sejumlah wartawan.

Sementara di ruangan terpisah, satpam bernama Agus terlihat teriak-teriak dan nampak suasana di ruangan itu terlihat tegang anggota yang memeriksanya.

Pantauan merdeka.com, suasana pemeriksaan terdengar suara gaduh hingga sejumlah petugas berusaha mengamankan. Bahkan, Margareta ibu angkat Angeline hanya bisa menangis tanpa terucap keterangan yang ditanyakan petugas. Begitu juga kedua putrinya Ivon dan Kristin hanya bisa teriak-teriak.

Angeline yang sebelumnya dikabarkan hilang akhirnya terkuak. Korban dibunuh dan dikubur di rumah Ibu angkat sendiri, Margareta di Jalan Sedap Malam nomor 26 Denpasar. Jenazah Angeline ditemukan terkubur dekat kandang ayam dalam posisi meringkuk sambil memeluk boneka kesayangannya.

Polisi pun hingga kini masih memeriksa Margareta, kedua anak kandung dan Agus seorang satpam di rumah itu. Bahkan Agus sudah ditetapkan jadi tersangka dan mengakui terlibat dalam kasus pembunuhan Angeline. Tidak itu saja Agus juga mengakui sering mencabuli Angeline.

"Dia (Agus) juga mengakui telah melakukan pelecehan seksual selama satu minggu sebelum Angeline dinyatakan hilang," ujar aktivis dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar, Siti Sapurah ikut jalannya proses pemeriksaan di ruang Reskrim Polresta Denpasar.

Dalam pengakuannya di hadapan penyidik, Agus mengakui dia yang mengubur jenazah Angeline. "Dia ngakui yang mengubur Angeline," imbuhnya.

Namun hingga kini Margareta belum mau mengakui terlibat soal pembunuhan terhadap gadis manis itu. Margareta juga terus berteriak-teriak tidak jelas saat diperiksa penyidik.

Hingga pukul 18.00 Wita pemeriksaan masih berlangsung. Belum ada pernyataan resmi dari kepolisian perihal status Margareta dan dua anak kandungnya.



POLISI TEMUKAN RAJAH DIBAWAH BANTAL IBU ANGKAT ANGELINE

Polisi menemukan sebuah rajah dalam bungkusan di bawah bantal milik ibu angkat Angeline, Margareta. Temuan itu didapat saat polisi melakukan penggeledahan menyusul ditemukannya mayat bocah perempuan tersebut di pekarangan.

Rajah adalah suratan, bisa berupa gambar atau tanda yang dipakai sebagai jimat untuk menolak penyakit atau bala.

"Tadi juga ditemukan sebuah rajah, ditemukan di bawah bantal milik ibunya Angeline. Rajah tersebut berupa bungkusan yang di dalamnya ada foto Angeline," kata  Kapolresta Denpasar Kombes Anak Agung Made Sudana, Denpasar, Bali, Rabu (10/6/2015).

Kapolresta juga menyampaikan bahwa di tubuh jenazah Angeline tidak ada luka. Hanya terdapat boneka, dan bocah itu mengenakan baju abu-abu. Di tubuh Angeline ditemukan bekas jeratan di leher, tapi bukan berupa cekikan.

"Tidak ada luka-luka atau lebam. Jenazahnya utuh tidak ada darah, tapi ada bekas jeratan di lehernya," tambah Kapolresta.

Saat ini,  Margareta, bersama kakak angkat Angeline, mantan pembantu, dan seorang yang kos di rumah Angeline diamankan kepolisian untuk dimintai keterangannya.

Jasad Angeline yang ditemukan terkubur dalam posisi tertekuk di dekat kandang ayam ini dilaporkan hilang oleh ibu angkatnya pada 16 Mei 2015 lalu. Kepolisian masih belum memberikan keterangan lebih jauh terkait penemuan ini.




Hasil Otopsi, Angeline Tewas 3 Minggu Lalu karena Luka di Kepala


Setelah melakukan otopsi selama lebih kurang 1,5 jam, Kepala Bagian SMF Kedokteran Forensik mengumumkan hasil otopsi terhadap jenazah Angeline (8) yang ditemukan di belakang kediaman ibu angkatnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Rabu (10/6/2015).

Dari hasil otopsi, Angeline diketahui meninggal sejak tiga minggu lalu. Di tubuh jenazah ditemukan luka-luka kekerasan berupa memar pada wajah, leher, serta anggota gerak atas dan bawah.

"Di punggung kanan jenazah ditemukan luka sundutan rokok," terang dr IB Putu Alit.

Selain itu, ditemukan juga luka lilitan dari tali plastik sebanyak empat lilitan.

"Sebab kematiannya dipastikan karena kekerasan benda tumpul di kepala," tambah dr Alit.

Sebelumnya diberitakan, Angeline (8) ditemukan meninggal di belakang rumahnya yang berada di Jalan Sedap Malam No 26, Denpasar, Bali, Rabu (10/6/2015).

Menurut sumber yang diperoleh Tribun Bali, jenazah Angeline ditemukan di belakang rumah Angeline.

"Berada di belakang, di belakang kandang ayam," jelas sumber tersebut.

Sementara itu, Kapolda Bali Irjen Ronny F Sompie mengatakan, pihaknya masih mencoba melakukan evakuasi.

"Nanti kami akan jelaskan," jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Angeline (8) dilaporkan hilang saat bermain di depan rumahnya, Sabtu (16/5/2015) sekitar pukul 15.00 Wita, oleh orangtua angkatnya.

Dari keterangan orang-orang di dekat rumah ataupun sekolahnya, Angeline diketahui kerap dimarahi ibunya. Angeline menghabiskan waktunya untuk bekerja memberi makan ayam yang dipelihara oleh sang ibu. Bila tidak memberi makan ayam, menurut kesaksian mereka, ibunya tak segan memarahinya.

Angeline ditemukan tewas terkubur di halaman belakang rumahnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali. Jenazah Angeline ditemukan bersama boneka yang dikubur. Setelah ditemukan, jenazah Angeline langsung dibawa ke RSUP Sanglah untuk diperiksa.
 


Pada tubuh jenazah gadis kecil cantik ini ditemukan banyak luka memar yakni:
  • pada paha kanan samping luar, 
  • pada bokong kanan, pada pinggang kanan, dan pada perut kanan bawah.
  • Juga pada tungkai kaki kanan samping luar, tungkai bawah kaki kanan, 
  • pada punggung kaki kanan, paha kiri samping dalam, punggung kaki kiri samping, pada dada samping kanan, 
  • pada leher samping kanan, pada dahi samping kanan, pada pelipis kanan, pada dahi samping kiri, 
  • pada batang hidung, pada pipi kiri atas, pada pipi kiri bawah telinga, pada leher samping kanan, dan pada leher kanan atas bahu


Ibu Kandung Angeline Menangis Histeris di Depan Kamar Jenazah

Hamidah (26), ibu kandung Angeline, histeris saat tiba datang untuk melihat jasad anak kandungnya di Rumah Sakit Sanglah, Rabu (10/6/2015). Hamidah menangis dan meronta-ronta.

"Kenapa bunuh anakku? Kenapa bunuh anakku? Angel.. Angel... Angel...," teriak Hamidah.



Hamidah yang ditemani kerabatnya menunggu di samping kamar jenasah. Para kerabatnya tampak membantu Hamidah meredakan emosinya.

Salah satu teman dekat Hamidah, Lina, mengaku, sudah berteman akrab dengan ibu kandung Angeline saat sama-sama kos di daerah Padang Galak Sanur, Denpasar, hingga Hamidah pindah ke Nusa Dua.

"Saya teman kosnya. Tahunya saya dari televisi dan langsung ke Rumah Sakit Sanglah," ungkap Lina.

Sebelumnya diberitakan, Angeline, bocah delapan tahun itu, ditemukan tewas di belakang rumah orangtua angkatnya di  Jalan Sedap Malam No 26, Denpasar, Bali, Rabu siang. Angeline ditemukan dalam posisi tertekuk di bawah pohon pisang.

Berdasarkan hasil otopsi di Rumah Sakit Sanglah, Angeline tewas tiga minggu lalu karena luka pada pada wajah dan kepala yang mengakibatkan pendarahan otak. Dokter juga menemukan bekas jeratan di leher serta luka memar dan sundutan rokok di tubuh Angeline.



Amidah kini hanya bisa menyesal. Anak kandungnya, Angeline yang begitu manis harus meregang nyawa dengan cara yang sangat tidak manusiawi. Amidah pun menceritakan awal mula mengapa anaknya yang ketiga itu bisa diadopsi oleh Margareta.

Amidah mengaku dirinya menikah siri dengan Rusidin seorang buruh bangunan. Lantaran ekonomi susah dan belum lagi memikirkan biaya persalinan, mereka direkomendasi mandor suaminya bernama Pendi untuk diperkenalkan kepada seorang bule beristrikan Margareta.

Sepengetahuannya, saat itu Margareta menikah dengan bule beranak satu. Dari bule tersebut lahirlah Kristin anak kandung Margaretha. Amidah dan suaminya lalu sepakat bila anaknya lahir akan diadopsi oleh Margareta dan suaminya.

"Untuk tidur saja kami dulu di tikar, makanya saya relakan anak saya diadopsi sama bule itu untuk masa depannya," aku Amidah sambil mengusap air matanya, di RSUP Sanglah, Denpasar, Rabu (10/6).

Katanya semenjak itu dirinya tidak pernah mendengar kabar seperti apa kondisi anaknya dan baru tahu kalau anaknya yang manis itu hilang. "Saya baru tahu anak saya cantik justru setelah anak saya hilang," akunya.

Informasi yang berkembang, kalau Angelina kerap mendapat penyiksaan setelah suami Margareta meninggal. Saat suami Margareta meninggal, usia Angeline baru 5 tahun. Namun Angeline justru mendapat warisan 60 persen dari harta peninggalan suami Margareta.
Belum diketahui apa penyebab suami bule tersebut meninggal .

"Sejak anak kami Angelina diserahkan ke bule itu, saya pisah dengan suami saya. Dan saya memilih kawin lagi secara sah di Banyuwangi," aku Amidah.





Saat ini dirinya tinggal di Jimbaran Kuta Selatan dan ayah kandung Angelina bernama Rusidin tinggal di Sanggalangit, Tembau Denpasar Timur.

Perempuan asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu tak rela dengan kematian yang menimpa putrinya tersebut. Sejak masih bayi berusia tiga hari, Amidah merelakan Margaret dan suaminya mengangkat Angeline sebagai anak mereka.

Saat itu, Amidah senang lantaran Angeline diasuh oleh keluarga yang serba berkecukupan secara materi. Masa depan Angeline pun bisa lebih baik.

Tapi, 16 Mei 2015, menjadi kabar buruk bagi Amidah. Angeline dilaporkan hilang saat bermain di depan rumahnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar.

Lalu, tadi siang, Amidah mendapat kabar Angeline ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Polisi menemukan Angeline terkubur dalam sebuah lubang di belakang rumah Margaret. Mirisnya, lubang itu berada di bawah kandang ayam.

Amidah tak terima dengan kenyataan itu. Ia meminta polisi menghukum berat pelaku yang telah menghabisi nyawa buah hatinya tersebut.

Orang tua kandung Angeline, Hamidah dan Rosidi, dilarang bertemu sang bocah malang sejak tiga hari diadopsi. Pelarangan ini tercantum dalam nota kesepakatan antara Margriet Christina Telly Megawe (sebelumnya ditulis Margaret) dengan Hamidah.

Ary Manurung, keponakan Margriet yang ikut hadir dalam penandatanganan nota kesepakatan itu menjelaskan pelarangan dalam akta pengakuan tersebut. Menurutnya, pelarangan tersebut juga memiliki alasan yang jelas.

"Kalau itu (orang tua kandung dilarang bertemu Angeline) kan tercantum di akta pengakuan sampai 18 tahun," jelas Ary kepada Metrotvnews.com, saat ditemui di rumahnya, Jalan Kampung Sawah, Kelurahan Jatimelati, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (16/6/2015).


DUGAAN ORANG-ORANG/PELAKU PEMBUNUH ANAK KECIL BERNAMA ANGELINE DIAMANKAN~

Bocah delapan tahun, Angeline, yang hilang pada 16 Mei lalu, ditemukan dalam keadaan tewas, Rabu (10/6). Mayat Angeline ditanam di bawah pohon pisang di belakang rumah tempat korban tinggal. Kendati telah mengamankan tujuh orang, polisi belum berani memastikan motif di balik pembunuhan Angeline.
"Kami masih dalami motifnya," kata Kapolda Bali Ronni F Sompie.

Polisi telah memasang police line di TKP. Sementara ribuan warga memenuhi jalan Sedap Malam Sanur Denpasar, tempat tinggal korban selama ini.

Mereka yang ditahan karena diduga terkait dengan pembunuhan Angeline adalah ibu angkat korban, Margaret Ch Megawe. Anak kandung Margaret, Christina, dua orang Satpam, Agus mantan pembantu Margaret, dan dua orang lainnya yang indekos di rumah Margaret.

Belum diketahui motif pembunuhan, apakah dendam, harta atau hal lainnya..


MANTAN PEMBANTU KELUARGA SAAT INI DIJADIKAN TERSANGKA TUNGGAL


Polres Kota Denpasar telah menetapkan Agustinus atau yang kerap disapa Agus (25), mantan pembantu rumah tangga di kediaman Margareth, ibu angkat Angeline, sebagai tersangka kasus pembunuhan Angeline.
"Dia pelaku tunggal," kata Kapolresta Denpasar, Komisaris Besar Polisi Anak Agung Made Sudana, saat berbincang dengan VIVA.co.id di Mapolresta Denpasar, Rabu malam, 10 Juni 2015.

Menurut Agung, Agus diduga menjadi pelaku tunggal. Karena menurut pengakuannya, Agus pernah melakukan kekerasan seksual terhadap Angeline, dan karena takut ketahuan, dia tega membunuh bocah delapan tahun itu.

Sejauh ini, kecurigaan penyidik kepada Agus cukup beralasan. Apalagi, di tempat kejadian perkara, ditemukan palu dan kaos putih dengan bercak darah, diduga palu dan kaos tersebut digunakan Agus, saat menghabisi korban.



Dari keterangan Kapolresta Denpasar, Kombes Pol. AA Made Sudana, terkuak bagaimana kekejian Agustai, seorang satpam, membunuh bocah berumur delapan tahun bernama Angeline. Dia menyebutkan, hampir saban malam Angeline dicabuli oleh lelaki asal Sumba, Nusa Tenggara Timur itu.

Bahkan usai dibunuh, Agus masih menyetubuhi jasad Angeline. Made Sudana mengatakan, Agustai mengaku sering mengancam Angeline. Bahkan, tak jarang Angeline disundut rokok dan dipukul kepalanya oleh Agustai.

"Jadi si Agus ini usai membuat Angeline tewas, masih sempat menyetubuhi korban," kata Made Sudana di ruang Reskrim Polresta Denpasar, Rabu (10/6).

Soal penyebab wafatnya Angelina, Made Sudana belum tahu apakah karena dijerat atau pukulan benda keras pada kepala bagian belakang Angeline. "Keterangan Agus, korban sempat dibenturkan. Ia juga langsung menjerat leher korban karena korban menangis. Soal matinya kapan, saya tidak tahu," ujar Made Sudana.

Indikasi pelecehan seksual dilakukan Agus diduga sudah terjadi berulang kali. Tetapi sejauh ini, menurut Made Sudana, Agus mengaku baru dua kali memperkosa Angeline.

"Dia perkosa, ngakunya hanya dua kali, sebelum dibunuh dan setelah terbunuh," tutup Made Sudana.

Sementara itu sumber merdeka.com di kepolisian menyebutkan, saat Angeline diperkosa dia sempat melawan. Maka dari itu Agus menganiaya bocah itu. Setelah Angeline tak berdaya, Agus melakukan menyetubuhi Angeline di lantai.

"Korban saat diperkosa dilakukan di lantai. Saat sudah meninggal disodomi dari belakang," kata salah seorang anggota Polresta Denpasar.

Anggota polisi itu mengaku sempat tersulut emosinya dan nyaris memukuli Agus.

"Sehingga, menguatkan dugaan penyidik untuk meningkatkan status Agus sebagai tersangka," ujar dia.
Atas perbuatannya, penyidik akan menjerat Agus dengan pasal berlapis. "Dia kita jerat dengan Pasal 35 UU Perlindungan anak juncto Pasal 80 ayat 3 KUHP, dengan ancaman 15 tahun penjara," terang Agung.
Sementara itu, orang tua angkat Angeline, Margareth dan kakak angkatnya masih menjalani pemeriksaan intensif. "Dia tidak terlibat dalam aksi pembunuhan. Statusnya masih saksi," ungkapnya.





Agustinus (Agus) Mengaku Membunuh Angeline Tanggal 16 Mei 2015 Sekitar Pukul 13.00 Wita

Angeline (8), bocah yang dilaporkan hilang sejak 16 Mei lalu, dibunuh oleh Agus, pembantu yang pernah bekerja di rumah orangtua angkatnya.

Hal ini diungkapkan oleh Kapolresta Denpasar Kombes Pol Anak Agung Made Sudana berdasarkan pemeriksaan sementara terhadap tujuh orang yang diamankan menyusul ditemukannya jasad Angeline, Rabu (10/6/2015).

"Jadi hasil pemeriksaan sementara dari tujuh yang kita periksa di Polresta Denpasar, dari keterangan dan pemeriksaan terhadap saudara Agus, Agus telah melakukan kekerasan terhadap anak sehingga menyebabkan Angeline meninggal dunia," ujar Agung dalam wawancara live dengan TVone, Rabu malam.

Agus, lanjutnya, adalah pembantu di rumah Margareith Megawe, ibu angkat dari Angeline.

Menurut Agung, Agus mengaku pembunuhan itu pada tanggal 16 Mei 2015 sekitar pukul 13.00 Wita, tepat pada hari hilangnya Angeline.

Agus lalu menguburkan jasad Angeline di belakang rumah majikannya itu pada pukul 20.00 Wita.

Selain itu, Agung menyebutkan bahwa Margareith telah memecat Agus dari pekerjaan di rumahnya dan mengusir Agus pada tanggal 18 Mei 2015.

"Diusir dari pekerjaannya. Pada tanggal 18, banyak tamu rumah dalam keadaan kotor, Agus dimarahi oleh Margareith, lalu diusir," tutur Agung



Kapolresta Denpasar Agung Kombes Pol Anak Agung Made Sudana mengatakan Agus mengaku membunuh Angeline karena takut perbuatan cabulnya diketahui oleh keluarga Angeline.
"Dari hasil pemeriksaan, Agus melakukan hal yang sangat keji terhadap Angeline, artinya Agus pernah melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap Angeline, takut ketahuan terhadap ibu angkat dan orang lain sehingga hal (pembunuhan) itu terjadi," ujar Agung dalam wawancara live dengan TVOne, Rabu (10/6/2015).

Agung mengatakan, Agus merupakan salah satu dari tujuh orang yang diperiksa menyusul ditemukannya jasad Angeline di belakang rumah ibu angkatnya, Margareith Megawe.

"Jadi hasil pemeriksaan sementara dari tujuh yang kita periksa di Polresta Denpasar, dari keterangan dan pemeriksaan terhadap saudara Agus, Agus telah melakukan kekerasan terhadap anak sehingga menyebabkan Angeline meninggal dunia," ujar Agung dalam wawancara live dengan TVone, Rabu malam.


Agus hanya Mengaku Memerkosa dan Ditugasi Mengubur Angline

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar memeroleh informasi bahwa Angeline (8), bocah yang dilaporkan hilang sejak 16 Mei lalu, pernah diperkosa oleh Agus, pembantu di rumah orangtua Angeline.

Anggota P2TP2A, Siti Sapurah, mengatakan, Agus mengakui perbuatannya di hadapan penyidik setelah Angeline ditemukan meninggal dunia terkubur di pekarangan rumahnya.
"Ini diakui Agus di hadapan penyidik," katanya saat mengunjungi Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, Bali, Rabu (10/6/2015).

Wanita yang sering dipanggil Ipung ini juga menyampaikan bahwa dia sudah melakukan komunikasi dengan Kapolresta Denpasar Kombes Pol Anak Agung Made Sudana mengenai peristiwa ditemukannya Angeline dalam keadaan tewas.

Dia juga mengatakan pula bahwa Agus tidak mengakui membunuh tapi hanya bertugas mengubur saja.
"Tugas Agus diakui mengubur saja. Katanya ibunya yang melakukan. Dari keterangan awal, Agus hanya mengubur saja.

Ibu angkatnya masih belum mengaku, sampai saat ini masih menjalani pemeriksaan," tambahnya.
Ipung dan kawan-kawannya yang tergabung dalam P2TP2A juga sempat mendampingi Menteri PPPA Yohanna Yembise berkunjung ke rumah Angeline tapi ibu angkatnya tidak ada. Bahkan Yohanna meminta kepolisian untuk memberi garis polisi rumah Angeline untuk penyelidikan tetapi tidak dilakukan. (

Kendati begitu, Sudana mengaku terus mendalami keterangan Agustinus, termasuk Margareth, dua kakak Angeline, Ivon dan Christine, serta beberapa saksi lainnya.

"Masih ada waktu 1 x 24 jam. Kita tunggu saja. Sementara, Agus yang sudah ditetapkan tersangka sebagai pelaku tunggal," tutur Sudana



Alasan/Motif Agustinus, Mantan Pembantu Margareta Bunuh Angeline

"Dia sudah mengakui bahwa dia yang membunuh Angeline. Dia takut kelakuan bejatnya itu diketahui oleh Margareta akhirnya dia memilih jalan pintas itu," paparnya, di Mapolresta Denpasar, Rabu malam (10/06/2015).

Made Sudana menambahkan, saat ini yang menjadi kunci pembunuhan hanya mengarah kepada Agus.

"Awalnya dia tidak mau mengakui perbuatanya. Tapi setelah Agus dan Margareta diperiksa secara terpisah akhirnya semuanya terbuka," ujarnya.

Saat kamar Agus digeledah ditemukan palu dan kaos berwarna putih yang ditemukan ada bercak darahnya.

Agus melakukan pelecehan seksual terhadap Angeline pada malam hari, saat Margareta tidak ada dirumah.

Saat ini Polresta Denpasar hanya menetapkan Agus sebagai pelaku tunggal atas kemastian Angeline.

Disisi lain cerita bahwa Margareta ikut andil dalam pembunuhan tersebut. Kabar yang beredar saat ini bahwa ibu angkat Angeline itu telah menyuruh si Agus untuk mengubur si anak kelas II SDN 12 Sanur.

Tapi saat ini Margareta dan kedua anaknya masih dijadikan sebagai saksi. Agus menjadi pembantu rumah tangga Margareta baru satu minggu, selama itulah dia melakukan aksi bejatnya tersebut.



Kapolresta Denpasar Komisaris Besar Polisi Anak Agung Made Sudana, Rabu malam 10 Juni 2015, mengatakan sejauh ini penyidik menyimpulkan Agus sebagai pelaku tunggal pembunuhan Angeline. Sebelum dibunuh, Agus mengaku sempat memperkosa bocah itu.

"Dia memperkosa malam hari. Itu dari pengakuannya. Dilakukan di lantai dua rumah Angeline," kata Kapolresta Denpasar, Komisaris Besar Anak Agung Made Sudana.

Aksi bejat Agus tak sampai di situ, usai memperkosa dan membunuh Angeline, dalam keadaan tak bernyawa Agus masih sempat memperkosa lagi bocah malang tersebut. "Sudah tewas, sudah jadi mayat, Agus masih memperkosa lagi. Jadi, total dua kali dia memperkosa Angeline," ujar Agung.

Menurutnya, Agus tega menghabisi nyawa Angeline, lantaran ia takut perbuatan bejatnya diketahui ibu angkat Angeline, Margareth. Karena saat memperkosa bocah yang duduk di bangku kelas 3 SD tersebut, keadaan rumah sedang sepi.

"Dilakukan di malam hari. Karena takut aksi pemerkosaannya diketahui, maka dibunuhlah adik kita Angeline ini," kata dia.

Berdasarkan pengakuan Agus kepada penyidik, ia tega membunuh Angeline pada tanggal 16 Mei 2015, sekitar pukul 20.00 WIB, dengan cara mendorong Angeline hingga jatuh ke lantai dan memukul kepalanya dengan benda tumpul hingga tewas.

"Setelah dicek, (Angeline) meninggal. Saking takutnya, dia (Agus) ambil selimut putih untuk bungkus jenazahnya dan dia kubur di belakang rumah, dekat kandang ayam," terang Kapolresta Denpasar.

Sejauh ini, kecurigaan penyidik kepada Agus cukup beralasan. Apalagi, di tempat kejadian perkara, ditemukan palu dan kaos putih dengan bercak darah. Diduga, palu dan kaos tersebut digunakan Agus saat menghabisi korban.

"Sehingga, menguatkan dugaan penyidik untuk meningkatkan status Agus sebagai tersangka," papar dia.


Dalam pengakuan di polisi, AG mengungkapkan, almarhumah Angeline, disiksa dengan cara kepala Angeline dibenturkan berulang kali ke tembok hingga tidak sadarkan diri lalu mengembuskan napas terakhir akibat perdarahan hebat.

Selanjutnya, AG dengan tenang menguburkan jenazah gadis belia tersebut di sebuah tempat belakang rumah korban.
Kemudian pelaku sempat tiarap seolah tidak tahu menahu dengan berpura-pura ikut berduka mendalam kepada keluarga korban.

“Demikian pengakuan AG saat diinterogasi petugas terkait dugaan keterlibatannya sebagai tersangka kasus pembunuhan Angeline. Namun petugas hingga saat ini masih mengumpulkan bukti-bukti lain termasuk keterangan sejumlah saksi antara lain, Margaret adalah ibu angkat Angeline. Dalam kasus pembunuhan ini harus maksimal fakta di lapangan, mengingat Angelinesebagai korban telah meninggal dunia,” ujar Kapolda Bali Irjen Pol Roni F Sompie dalam percakapan dengan SP, Kamis (11/6) pagi.



Saat Angeline Dibunuh, Ibu Angkat Ada di Dalam Kamar

Angeline dibunuh di depan kamar ibu angkatnya

Kapolresta Denpasar, Komisaris Besar Anak Agung Made Sudana, Rabu 10 Juni 2015, menuturkan Angeline tewas dihantam benda tumpul. Peristiwa keji itu terjadi pada 16 Mei 2015, malam hari, sekitar pukul 20.00 WITA.

Saat Angeline dibunuh, ibu angkatnya, Margareth sedang berada di dalam rumah. "Ibu Margareth ada di dalam rumah," kata Agung Sudana di Mapolresta Denpasar.

Menurut Kapolresta, Angeline dibunuh persis di depan kamar Margareth. Namun, anehnya Margareth mengaku tak tahu kejadian pembunuhan anak angkatnya tersebut.
"Dia kan tidak pernah ke luar, di dalam kamar terus," terang Kapolresta.

Selain Margareth, ada juga penghuni rumah kos-kosan saat Angeline dibunuh. "Tetapi, penghuni kos-kosan itu tidak pernah di kos. Dia pulang jam 10 (malam), mandi lalu kerja lagi," terang Sudana.


Margareth Masih Diperiksa
Agung Sudana memastikan, penyidik Polresta Denpasar masih terus mendalami keterangan Margareth, orangtua angkat Angeline.

Kendati hasil autopsi forensik RSUP Sanglah Denpasar menyatakan di sekujur tubuh Angeline terdapat banyak luka bekas siksaan, namun polisi belum mengarah pada keterlibatan Margareth.

"Kita fokus pada peristiwa pembunuhan Angeline dulu. Ibunya (Margareth) tidak terkait itu (pembunuhan Angeline)," kata Agung Sudana.

Seandainya Margareth melakukan tindak kekerasan terhadap Angeline, hal itu menurutnya, merupakan kasus yang akan didalami tersendiri. "Yang kita cari kaitan dengan pembunuhan. Bisa saja melakukan kekerasan, tetapi apakah kekerasan itu berhubungan dengan pembunuhan, atau tidak. Kita fokus di pembunuhan Angeline dulu," ungkapnya.
Angeline ditemukan tewas sekitar pukul 12.30 WITA. Sebelum dibunuh, Angeline diperkosa sebanyak dua kali oleh Agus. Usai memperkosa, Agus langsung membunuhnya. Bahkan, kala Angeline tak bernyawa, Agus kembali memperkosanya.

Agus ditetapkan sebagai pembunuh tunggal terhadap anak kelas II SDN Sanur Denpasar tersebut. Dia menegaskan, Agus asal Sumba NTT sebagai pelaku utama.

"Dari hasil pemeriksaan secara intensif. Baru satu orang yang kita tetapkan tersangka yaitu Agus pembantu merangkap satpam di rumah itu," pungkasnya.




Agus Dipecat Seminggu Usai Bunuh Angeline


Seminggu setelah kejadian tewasnya Angeline, Agus dipecat karena dianggap tak bisa mengurus rumah. Pemecatan terhadap Agus dilakukan oleh ibu angkat Angeline yang bernama Margriet.

"Agus dimarahi dan diusir oleh Margriete karena saat kunjungan (oleh Komnas PA), rumah dalam keadaan kotor," kata Kapolresta Denpasar Kombes Pol Anak Agung Made Sudana saat dikonfirmasi, Rabu (10/6/2015) malam.

Selain 2 menteri di Kabinet Kerja, Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait juga sempat mengunjungi rumah orang tua angkat Angeline. Ditemani pihak Kepolisian, saat itu Arist dan tim Komnas PA melakukan kunjungan pada 24 Mei 2015.

"Pada saat kunjungan, mungkin ada hal yang sifatnya disampaikan oleh beliau dan ibu Margriet marah," jelas Made.

Pada saat mengunjungi rumah tersebut, Arist sempat menyatakan jika tempat tidur Angeline di rumah tersebut sangat tidak layak. Ibu angkat Angeline sendiri yang saat itu memandu Arist berkeliling rumah.

"Tempat Angeline tinggal itu saya pikir tidak layak. Waktu saya ke rumahnya itu bau sekali banyak kandang ayam, kucing dan anjing
,"
tutur Arist kepada detikcom, Kamis (4/6) lalu.

Pria asal Sumbawa ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah ibu angkat Angeline, Margriet di Jl Sedap Malam, Sanur, Denpasar.

Agus bertugas merawat ayam yang jumlahnya hampir 100 ekor. Saat Angeline dinyatakan hilang pada 16 Mei, Agus baru bekerja selama satu bulan. Dia mulai bekerja pada pertengahan April.

Seperti dikutip dari wawancara TvOne dengan Agus yang dilakukan sehari setelah Angeline hilang pada 17 Mei, raut wajah si pembantu itu tak menyiratkan rasa bersalah. Wawancara itu sudah beredar di situs YouTube.

Agus tampak biasa saja, tidak ada wajah ketakutan. Kepada reporter TvOne yang mewawancara dia bahkan sempat menuturkan tentang hari terakhir melihat Angeline yang menangis. 

Psikologi Ibu Angkat Angeline Dinilai Aneh

Ibu angkat Angeline, Margareth, telah menjalani pemeriksaan kejiwaan pada Rabu (10/6) malam kemarin. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan sejumlah keanehan psikologi dalam diri wanita berusia 50 tahun itu.

"Indikasinya, dia sering bersikap aneh, sering marah kemudian menangis, agresif, keras, kasar, bahkan mengusir siapapun yang datang ke rumahnya. Ini perlu evaluasi lebih lanjut," ujar Psikiater RSUP Sanglah, Lely Setyawati Kurniawan, Kamis (11/6).

Lely berharap ia bisa melakukan evaluasi terhadap Margareth lebih dari satu kali. Menurutnya, jika Margareth bersikap konsisten dengan sifat-sifat anehnya itu, maka pihaknya baru bisa memberi kesimpulan lebih lanjut.

Margareth memang begitu keras di hadapan media. Tak hanya itu, dia juga mengusir siapapun yang datang ke rumahnya. Margareth bahkan menolak dua orang menteri yang ingin masuk ke rumah itu.

Menurut dr Lely Setyawati, psikolog yang sempat memeriksa kejiwaan Margareith selama tiga jam di Polresta Denpasar, Rabu (10/6/2015) malam, ada kelainan dalam diri wanita berumur 50 tahun itu.
"Ya, hasil pemeriksaan memang dia psikopat," kata Lely, 
Selama pemeriksaan di Polresta Denpasar, Margareith selalu menjawab dengan nada tinggi dan sesekali menangis.Hingga akhirnya Polresta mendatangkan seorang psikiater.

Makna Pelukan Angeline pada Boneka Kesayangannya

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Bali, Irjen Pol Ronny F. Sompie mengatakan jenazah Angeline (8) ditemukan terbungkus kain dalam keadaan sedang memeluk boneka dengan posisi telungkup.
Kondisi Angeline itu memiliki makna dari sisi psikologis. Benda kesayangan menjadi tempat untuk meluapkan ketakutan, kegelisahan, serta rasa tidak nyaman saat seorang anak terancam atau mendapat perlakuan tidak menyenangkan.

"Ketika dia trauma, tertekan, dan sering diperlakukan kasar, benda-benda kesayangan membuat dia lebih nyaman dan lebih berani," kata Psikolog Anak dari Klinik Kancil, Alzena Masykouri, Mpsi saat dihubungi Health Liputan6.com pada Kamis (11/6/2015).

Khusus untuk anak yang masih memiliki keterbatasan dalam mengekspresikan perasaannya dan tak tahu harus mengadu pada siapa ketika berhadapan dengan situasi tidak mengenakkan, benda-benda kesayangan dapat meredakan kecemasan itu.

"Anak menjadi lebih nyaman dan lebih tenang saat barang-barang tertentu selalu di dekatnya. Misalnya saja selimut, boneka, atau apa pun bentuk benda tersebut," kata Alzena.


Angeline Dikubur Hidup-hidup
Fakta mengerikan diungkap dokter forensik RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Kamis (11/6/2015).
Bocah malang, Angeline Megawe (8) diduga dikubur ketika masih bernapas alias masih hidup.
Kepala forensik RUSP Sanglah, Dudut Rustiadi menyampaikan hal itu berdasarkan hasil pemeriksaan bagian dalam dan luar jasad Angeline.
Menurut dia, ada bukti yang menimbulkan dugaan bahwa gadis kecil itu memang masih hidup saat dikubur oleh pelaku.
"Dari pemeriksaan ditemukan bekas lilitan tali plastik di leher tapi jeratan itu tidak berakibat fatal dan tidak mengganggu pernapasan karena hanya bersifat di luar saja. Analisa kita, korban masih hidup saat tali menjerat leher dan tubuh korban dikuburkan," ujar Dudut.
Terkait jeratan leher, ternyata tersangka Agus ditengarai bukan orang yang menjerat leher Angeline, yang mayatnya ditemukan terkubur di belakang rumah ibu angkatnya, Margareith Megawe (60), Rabu (10/6) setelah hilang selama 28 hari.
Dalam prarekonstruksi yang digelar Polresta Denpasar, Kamis (11/6), tidak ada adegan Agus menjerat leher korban.
Penasihat hukum Agus, Haposan Sihombing, usai mengikuti prarekonstruksi mengatakan, kliennya melakukan 19 adegan.
"Ini menjadi tugas polisi untuk mengungkap pelaku yang menjerat leher Angeline," ujar Haposan. (Harian Warta Kota)


Mimpi Ibu Kandung Angeline, Hamidah Sebelum Angeline Tewas


Hamidah, ibu kandung Angeline, terpukul setelah kepergian buah hatinya.

Hamidah menuturkan Angeline merupakan anak kedua dari 3 bersaudara. Sebelum Angeline dilaporkan menghilang, Hamidah bercerita awalnya ia bermimpi dipanggil anak kecil.

Dan tepat sebelum Angeline ditemukan tewas terkubur, Hamidah sempat bermimpi kembali.

"Saya sempat bermimpi lagi, ada anak cewek yang minta digendong," tutur Hamidah sambil menangis, Kamis (11/6/2015).

Hamidah mengutarakan sejak Angeline menghilang pada 16 Mei lalu, ia dilarang untuk mengunjungi rumah kediaman Margaretha sebagai ibu angkat.

"Saya tidak boleh ke sana, ke kediaman Margaretha sama semuanya. Saya juga menyesal, kalau dia (Margaretha) memang tidak bisa merawat kenapa tidak dikembalikan ke saya saja," pungkasnya.



Saat ini Jenazah Angeline Satu-satunya Barang Bukti Penyidik Kepolisian


Kepala Kepolisian Daerah Bali Inspektur Jenderal Ronny F Sompie setelah penyelidikan selesai jenazah Angeline (8) akan secepatnya diserahkan kepada orang tua kandung di Banyuwangi, Jawa Timur, agar bisa dimakamkan.
"Ketika semua penyelidikan sudah selesai jenazahnya akan kami berikan kepada orangtuanya," kata Ronny di Mapolresta Denpasar, Kamis malam (11/06/2015).

Hal ini untuk menjawab keinginan orang tua kandung Angeline yang menginginkan jenazah segera dikubur, mengingat aturan Islam menyebutkan seperti itu.

Hingga saat ini forensik RSUP Sanglah belum bisa membuktikan Angeline mengalami kekerasan seksual, meski sebelumnya tersangka Agus (orang yang pernah bekerja di rumah korban) mengakui telah memperkosa Angeline.
"Saat ini jenazah itu masih kami titipkan di rumah sakit sanglah untuk diketahui hasil autopsi," katanya.

Di tempat yang sama Kepala Bagian SMF Kedokteran Forensik RSUP Sanglah, dokter Ida Bagus Putu Alit mengatakan jenazah akan diserahkan setelah proses penyelidikan selesai.

"Saat ini jenazah itu satu-satunya barang bukti yang dijadikan penyidik," katanya. "Hari Sabtu besok kami baru akan menyerahkan redaksional hasil autopsi."


Meski polisi sudah menetapkan Agustinus sebagai tersangka, publik tampaknya tidak sepenuhnya percaya pembunuh Angeline hanya satu orang.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Aris Merdeka Sirait, menduga kasus pembunuhan tersebut dilakukan secara bersengkongkol.
Tidak mungkin hanya Agus yang melakukan. "Saya yakin ini kasus ini adalah sebuah persekongkolan jahat," tegas Sirait.
Margareith diduga terlibat dalam persengkongkolan tersebut. "Pasti ada aktor lain, pasti ada itu," yakinnya.
Untuk itu, polisi harus mampu mengungkap kasus tersebut secara tuntas.
"Artinya, ketika Margareith dilepas karena belum ada alat bukti, ia dapat dipanggil kembali karena masih dalam proses penyelidikan," tegas Sirait.

Polri baru menetapkan satu tersangka, yakni Agustinus Mandamai. Dia merupakan bekas pekerja ternak ayam di rumah Margareth. Menurut Badrodin, masih ada beberapa hal yang didalami penyidik. "Kami masih pendalaman hasil laboratorium forensik terkait dengan beberapa temuan," tuturnya.

Keluarga & Ibu Kandung Ingin Makamkan Angeline di Banyuwangi Tapi Terkendala Biaya


Pihak keluarga besar Angeline di Banyuwangi berniat akan memakamkan jenazah bocah perempuan 8 tahun itu Dusun Tulungrejo, Desa Wadungpal Kecamatan Glenmore, Banyuwangi. Keputusan itu disampaikan oleh Salamah (bibi Angeline) dan diakui merupakan kesepakatan Hamidah ibu kandung Angeline dengan keluarga yang ada di Banyuwangi.

Namun kini pihak keluarga mengaku terkendala kesulitan biaya untuk melakukan pemulangan jenazah Angeline ke kampung halamannya.

Salamah yang sempat berbincang melalui telepon seluler dengan Hamidah menyatakan jika proses otopsi dinyatakan selesai, pihaknya sepakat akan memakamkan bocah perempuan berambut panjang itu di Banyuwangi. Namun niat dari pihak keluarga itu kini terkendala terkait biaya pemulangan jenazah Angeline ke kampung halamannya di Kecamatan Glenmore. Menyadari jika kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, pihak keluarga tak segan meminta supaya ada pihak yang mau membantu proses pemulangan jenazah Angeline.

“Ibunya (Hamidah) tadi telepon bilang meminta jika ingin dimakamkan di sana (Dusun Tulungrejo) saja. Kami minta tolong supaya dibantu untuk biaya proses pemulangan jenazah Angeline, saya orang tidak mampu,” ujar Salamah dengan nada lirih, Rabu (10/6/2015) malam.

Angeline bocah yang ditemukan tewas di rumah ibu angkatnya di Jalan Sedap Malam, Sanur, Bali itu sejatinya ialah anak kandung dari pasangan Rosidi dan Hamidah. Keduanya merupakan warga asli Banyuwangi yang kini sudah bercerai. Dari hasil pernikahan tersebut, pasangan suami istri (pasutri) ini dikaruniai tiga orang putri.

Putri pertama mereka adalah Ina (10) yang kini diasuh sang ayah. Lalu anak kedua yaitu Angeline (8) dan putri ketiga yaitu Aisyah (2) dan saat ini diasuh oleh Misyah sang nenek di Dusun Tulungrejo, Desa Wadungpal Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.



Diusir Satpam Saat Mentri Yuddy Mau Kunjungi Rumah Bocah Yang Hilang di Sanur. (Sanur, Denpasar, Bali, Jumat (5/6/2015).)


Seorang satpam keluar dari dalam rumah. "Ada perlu apa Pak?" tanya satpam itu.

"Saya mau lihat rumahnya Angeline. Kok bisa hilang sih dari rumahnya sendiri?" tanya Yuddy.

Belum sempat menjawab pertanyaan Yuddy, satpam tersebut menerima telepon yang diduga dari pemilik rumah.

"Maaf nggak boleh masuk ke pekarangan rumah. Ibunya bilang seperti itu. Maaf Bapak keluar saja (pekarangan). Lebih baik wawancaranya di luar rumah," kata satpam itu

"Loh Anda tidak tahu saya siapa? Mana sini teleponnya," tutur Yuddy.

"Sudah dimatiin Pak,
" jawab satpam itu.

"Saya menteri loh. Masa tidak dibukakan pintu. Saya ke sini cuma mau lihat lokasi rumah," kata Yuddy.

Mendengar ucapan Yuddy, satpam tersebut hanya terdiam. Satpam membiarkan Yuddy melihat-lihat rumah sekitar 10 menit. Terdengar suara gonggongan anjing dari rumah yang besar dan terlihat tidak terawat itu. Setelah itu Yuddy ke masjid Polda Bali untuk salat Jumat.

Karena Tidak dibukakan Pintu oleh Satpam Rumah , Mentri Yuddy langsung memerintahkan kepada pihak kepolisian untuk meminta surat perintah tugas dari Kapolresta Denpasar agar menggeldah seluruh rumah.
Ditolak Ibu Angkat Saat Mentri Yohana Mau Kunjungi Rumah Bocah Yang Hilang di Sanur. (Sanur, Denpasar, Bali, Jumat (6/6/2015).)


Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise menyambangi kediaman Angeline, bocah yang hilang sejak 16 Mei lalu. Yohana tiba di Jalan Sedap Malam Nomor 26 Sanur, Bali, pada Sabtu (6/6/2015) pagi.

Namun, dia tidak mendapat sambutan hangat dari sang empunya rumah yang tidak lain adalah ibu angkat Angeline. Yohana tidak diperkenankan masuk. Padahal sejak pagi, petugas keamanan kampung atau pecalang sudah bersiap mengamankan kedatangan sang menteri.

Kakak angkat Angeline bernama Christina Kunci/Cristine menyampaikan kepada Kepala Lingkungan Banjar Kebok Kori, Denpasar, Ketut Stapa bahwa ibunya tidak mau menerima tamu, siapa pun orangnya.
Menteri saat itu hanya bisa berdiri di depan pintu gerbang rumah bepagarkan papan warna coklat yang terkunci rapat.

Salah seorang penjaga mengatakan, ibu tidak mau bertemu siapa-siapa dan tidak mengizinkan siapapun masuk rumah. Diungkapkan Christin, kakak angkat Angeline, melalui Kepala Lingkungan Banjar Kebon Kori, Kesiman, Denpasar Timur, Ketut Stapa, bahwa orang dalam rumah tidak mau bertemu dan membukakan pintu.

"Sekarang saya di sini berusaha memediasi menteri dan keluarganya. Tapi ini kenapa mereka sulit ditemui," jelasnya.

Dia mengatakan, barusan telah menghubungi Christin dan dia melarang semua orang datang dan masuk kedalam rumahnya. 
Kepala lingkungan itu setelah bersitegang dengan Chistin melalui telepon akhirnya diizinkan masuk ke dalam rumah, dengan catatan ada Kapolda Bali.

Sementara, itu Menteri Yohana tidak banyak komentar. Dia hanya menggelengkan kepala dan meminta polisi ambil sikap tegas dan membeberkan secara transparan fakta-fakta yang sesungguhnya terjadi dalam rumah Angeline.

Angeline, Bocah berusia 8 tahun ini hilang di Teras Rumah di Sanur Bali pada Sabtu, 16 Mei kemarin sekitar pukul 15.00 WITA. Terakhir kali terlihat, Angeline mengenakan daster panjang warna biru muda dan memakai sendal jepit warna kuning dengan rambut diikat.

Berapa banyak sebenarnya warisan yang didapat Angeline?

Berikut adalah harta warisan angeline yang kami kutip dari Bintang.com.
Angeline mendapat  dua rumah semi permanen di atas tanah seluas 1.000 meter per segi yang berlokasi di daerah Denpasar, tempat tinggal Angeline dan ibu angkatnya selama ini, sekaligus tempat dimana Angeline ditemukan sudah tidak bernyawa. Harga tanah di daerah tersebuut sekitar Rp 2,5 juta per meter, jadi total seluruhnya mencapai Rp 2,5 miliar!

Mendiang ayah angkat Angeline D. Scardordugh. juga mempunyai rumah dan tanah Jawa dan Kalimantan yang nilainya ditaksir sekitar Rp 17 miliar.

Dari rumah di Bali dan Jawa serta Kalimantan, maka jumlah totalnya sekitar Rp 19,5 miliar. Sementara Angeline mendapat warisan sebesar 60 persen dari total harta kekayaan tersebut atau setara Rp 11,7 miliar.

Angeline merupakan anak angkat dari Margriet Megawe, wanita bersuamikan pria asing, yakni pengusaha asal Amerika Serikat. Namun suami Margriet telah meninggal dunia tiga tahun lalu. Sebelum mengangkat Angeline menjadi anak, Margriet dan suaminya telah memiliki dua anak kandung perempuan.


Riwayat almarhumah di lingkungan setempat termasuk pandangan siswa-siswi SDN 12 di Jalan Ngurah Rai, Angeline dikenal sosok pendiam namun mudah senyum.

Perilaku Angeline berubah drastis menjadi pendiam sejak bapak tirinya meninggal. Selain itu, dia jarang mendapat bekal dari rumah sehingga guru atau kakak kelas yang iba memberikan bekal kepada bocah kecil itu.

Dia juga sering dikuncir rambutnya biar rapi," ujar Putri Dhyani (11), siswa Kelas V A SDN Sanur Bali, kepada pers, Kamis pagi.

Putri dan kakak kelas lainnya juga mengatakan kalau Angeline pernah bercerita kalau dia sering terlambat karena harus memberi makan ayam 50 ekor. Pengakuan Angeline itu sempat membuat kaget teman-temannya.
"Dia cerita kalau sering terlambat karena disuruh kasih makan ayam 50 ekor. Sampai teman-teman kaget. Dia (Angeline) juga ngaku tidur sama hewan-hewan dan kotoran ayam sering di tempat tidurnya," kata Putri.

Selain itu, Angeline juga sering dimandikan oleh wali kelasnya karena kondisinya yang kotor dan bau.

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar menduga motif kasus kematian Angeline (8) disebabkan pembagian warisan yang tidak merata dari Margriet Christina Megawe (sebelumnya ditulis Margareith) kepada anak-anaknya. Juru Bicara sekaligus Pendamping Hukum P2TP2A, Siti Sapurah mengatakan bahwa motif pembunuhan Angeline itu jelas karena harta warisan.

Berdasarkan akta warisan menyebutkan bahwa Angeline akan mendapatkan warisan dari Margriet Christina Megawe dari ibu angkatnya itu sekitar 40 persen. Namun karena Angeline meninggal, maka warisan buat Angeline akan jatuh pada ibu asuhnya, Margriet.
"Ketika ibu angkatnya itu meninggal maka 60 persen itu juga akan jatuh kepada Angeline," paparnya, Minggu (14/6).

Dia menjelaskan, sementara kedua anak kandung Margriet yaitu Ivon dan Christin tidak mendapatkan warisan apapapun. "Tim kami sudah memegang wasiat warisan itu, waris itu, dan di dalam akta warisan menyebutkan seperti itu," ujarnya.

Seperti diketahui bahwa Angeline menjadi anak angkat Margriet sejak umur tiga hari yang diambil dari pasangan suami istri dari Banyuwangi Rosidik dan Hamidah.

Seperti diketahui Polda Bali sampai saat ini menetapkan Margriet Christina Megawe menjadi tersangka penelataran anak. Sementara untuk kasus pembunuhan Angeline Polda Bali baru menetapkan Agus mantan pembantu ibu angkat Angeline sebagai tersangka.



Bocah berumur delapan tahun yang tewas dan dikubur di pekarangan rumahnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar, selama ini dikenal bernama Angeline. Namun, ternyata huruf awalnya bukan A, melainkan E, atau Engeline.

Nama lengkap bocah perempuan itu adalah Engeline Margriet Megawe. Hal ini sudah sesuai dengan berita acara pemeriksaan (BAP) saat menetapkan Agus sebagai tersangka pelaku pembunuhan, ketika nama korban disebut Engeline. 

"Nama huruf awal korban pakai E (Engeline). Nama ini didapat keterangan dari ibu angkatnya (Margriet) dan juga keterangan dari sekolahnya (SD Negeri 12 Sanur). Jadi namanya Engeline, bukan Angeline," kata Kasat Reskrim Polresta Denpasar Kompol Nengah Sadiartha kepada Kompas.com, Denpasar, Bali, Rabu (17/6/2015).

Namun pada facebook, dan juga penggalangan dana menggunakan huruf A (ANGELINE)

HARI INI, AKUN FACEBOOK FANS PAGE "FIND ‪#‎ANGELINE‬- BALI'S MISSING CHILD" TIBA-TIBA DIHAPUS OLEH KAKAK ANGKATNYA~

Kisah Angeline dan kabar ditemukannya sesosok jenazah anak malang tersebut, kontan saja mengisakan banyak duka untuk publik khususnya para netizen di Facebook. Soalnya, semenjak Angeline hilang, Christina Telly kakak angkat Angeline, kerap merespon dengan membuatkan satu fanpage pada laman FB yang diberi nama “Find Angeline – Bali’s Missing Child”.
Pada fanpage FB, yang sekarang sudah diikuti sekitar 45 ribu lebih akun tersebut, Christina suka menginformasikan apabila adik perempuannya sudah hilang. Ia pun meminta pertolongan pada seluruh masyarakat untuk bisa membantunya dalam mencari adiknya, Angeline.


cache:


Yvonne Caroline Megawe kakak angkat Angeline yang sebelumnya sempat membuat & menjadi admin sebuah laman Facebook 'Find Angeline - Bali's Missing Child' tiba-tiba menghapus laman tersebut. Salah seorang anggota keluarga yang diduga Margareth, sang ibu angkat diduga mengunggah sebuah postingan mengejutkan.
"Jangan menuduh saya dalam kasus kematian Angeline," demikian tertulis di laman tersebut, Jumat (12/6).

Postingan tersebut terlihat seolah ditulis Margaretha yang kini menjadi perhatian publik, karena dugaan persengkongkolan pembunuhan yang dilakukannya terhadap bocah malang tersebut. Kepolisian sejauh ini baru menetapkan seorang tersangka tunggal, yaitu Agus'Find Angeline - Bali's Missing Child' awalnya dibuat keluarga untuk mendapatkan informasi, terkait keberadaan adik angkatnya yang dikabarkannya hilang. Setelah itu, banyak netizen yang ikut menyebarluaskan informasi hilangnya Angeline melalui berbagai akun jejaring sosial.

Pendamping Hukum dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Denpasar, Siti Sapurah mengatakan dirinya menaruh curiga kepada pihak keluarga sejak itu. "Saya mengawal kasus in sebelum kasus ini ada di meja polisi. Dari awal Angeline hilang, mereka tak melaporkan ke polisi, tapi sibuk membuat pengumuman di media sosial. Ini settingan luar biasa. Orang tua harusnya berpikir, jika seorang anak hilang dari pangkuannya maka menghubungi polisi terdekat," kata wanita yang akrab disapa Ipung ini.

Berlanjut setelah mengunjungi langsung rumah Margareth, Ipung menyimpulkan beberapa kemungkinan, Angeline sengaja dihilangkan, dibunuh, atau diserahkan ke pihak lain. Kecurigaan lainnya dibuktikan Ipung ketika ia berusaha mengakses halaman samping rumah, tempat lokasi dikuburkannya Angeline secara tidak layak. Saat melakukan itu, ia dihalangi oleh Agus. 
Netizen pun langsung menanggapinya dengan cepat, nampak mereka membantu dan membagikan info atas hilangnya Angeline pada berbagai jejaring sosial. Tetapi disayangkan, semenjak kabar ditemukannya Angeline yang sudah tak bernyawa, para Netter pun mulai membanjiri fanpage itu dengan banyak bully-an.
Pada saat mimin akses pukul 18.00 WIB pada tanggal 12 Juni 2015
facebook.com/findangeline SUDAH DIHAPUS

Begitu juga dengan situs penggalangan donasi GOFUNDME http://www.gofundme.com/findangeline

SEBELUM DIHAPUS KAMU BISA CEK DISINI (suatu saat akan hilang)


Di laman donasi itu, Estelle memberi judul : Help Find Angeline. Lengkap dengan foto si kecil Angeline bersama Christina dan ibunya. Sejak diunggah tanggal 21 Mei lalu hingga terakhir tanggal 11 Juni 2015 jam 19.44 WIB, laman Help Find Angeline itu berhasil menggalang donasi US$ 3.260 atau sekitar Rp 43,36 juta. Melampaui target donasi yang semula mereka pasang yaitu US$ 1.950.

UPDATE #1
10 DAYS AGO




Hello Friends & Family -

Thank you all SO much for helping Christina fly home to Bali. There is a small sense of relief that she is at least able to be with her family during these hard times.

There have been so many wonderful people who have offered to donate to the continued SEARCH for Angeline and here is a way to do so.

These funds will be used for:

- Organizing search parties
- Legal representation
- Security at her mom's house (the police do not offer this service)
- "Cigarette " money for the police that help. (We all know this is the only way to make things work)

Please check the FB page for updates on the search:
https://www.facebook.com/findangeline/

I would really love for Christina to be able to focus on finding her sister and not have to worry about how she will pay for this continued search and be forced to drain her savings.

Thank you all for your kind thoughts, your unwavering love and support and please keep Angeline in your prayers.

-Estelle

Christina hoped to be on the next flight out when she heard of the news, but unfortunately found that her passport had less than six months before expiring. (Your passport must be valid for six months when traveling to Indonesia )
She has renewed her passport and has purchased a ticket to fly home to Bali in the next couple of days. She has high hopes of helping with the investigation and comforting her family during this traumatic experience.
Her return ticket cost is: $1,659.41 USD:

(We have hidden her details for security purposes)
Christina is currently finishing up her Bachelors degree at the University of Austin, studying History (if you didn't know this about her - she is actually a huge Nerd and loves facts!) Being a fulltime student, she doesn't have much of an income and will have expenses to cover while she is back in Bali.
Instead of setting up a gigantic fund for all expenses (flight, her bills in Austin, help with the investitgation etc) we decided to ask for funding in smaller spurts.This fund is specifically to help cover the cost of her flight.
Christina feels very strongly about being transparent about where your money is going, so we have provided the photo above of her purchased ticket.
GoFundMe takes a percentage of the donations and so does another party that deposits the money into her bank account. We have rounded up the fund amount to cover that cost as well.
Speaking on her behalf, she is overwhelmed by the love and support that her friends and community have shown her during these hard times.
Praying for Angeline and sending love to Yvonne, Christina & Tante Telly.
- Estell

APAKAH ADA MOTIF/UPAYA INGIN MENGHILANGKAN BARANG BUKTI DARI POSTINGAN UPDATE STATUS, KOMENTAR-KOMENTAR BALASAN NETIZEN FACEBOOK?

Agustinus Rencana Dibayar Rp 2 Miliar pada 25 Juni Ini

Agus mengaku tega membunuh bocah lucu 8 tahun, Angeline karena dijanjikan bayaran Rp 2 Miliar oleh ibu angkat Angeline, Margreit. dalam perbincangannya  Akbar Faisal, di Mapolresta Denpasar, Bali, Sabtu (13/6/2015).
Kedatangan Akbar Faisal saat itu untuk melihat perkembangan penyidikan terhadap tersangka kasus pembunuhan Angeline.


Kata dia, dari pertemuannya dengan Agus, ia mendapatkan informasi, dalam kasus pembunuhan tersebut ia disuruh oleh Margriet.
"Dia disuruh Margriet, itu menurut pengakuannya kepada saya," jelas Akbar Faisal.
Kata dia, alasan Agus melakukan tindakan keji tersebut, karena dijanjikan uang sejumlah Rp 2 Miliar oleh Margriet.

"Pengakuannya demikian, artinya agus mengakui bahwa pembunuhan itu disuruh oleh Margriet," katanya.

Tim Laboratorium Forensik Mabes Polri menemukan bercak darah di dalam kamar Margriet Chistina Megawe, ibu angkat Angeline.

"Saya kemarin turun ke lapangan langsung, bersama dengan Tim Labfor Mabes Polri. Informasi yang kemarin saya dapatkan seperti itu. Ada bercakan darah dari orang yang sama di kamar si tersangka Agustinus dan di kamar ibu angkat Angeline, Margriet," ujarnya kepada Tribun Bali, Jumat (12/6/2015).
Ia mengatakan, darah yang ditemukan adalah dari satu orang yang sama.

"Sisanya lebih berwenang menjelaskan lebih jauh adalah pihak kepolisian. Kami yakin adanya persekongkolan jahat dalam kasus ini," ujarnya.
Adanya bercak darah di kamar Margriet ini juga diakui Kapolda Bali Irjen Ronny F Sompie.

Hal serupa juga disampaikan Kapolresta Denpasar Kombes Pol Anak Agung Made Sudana.
Ia mengatakan, bercak darah itu ditemukan di tisu yang ditemukan di kamar Margriet.

Selain menemukan bercak darah di dalam kamar Margriet. Polisi juga menemukan bantal milik Margreit di dalam kamar Agus.
Saat ini, kata Sudana, bantal itu sudah dibawa ke Polresta Denpasar untuk dijadikan barang bukti.

Sementara itu, pengacara Margriet, Poppy mengatakan berdasarkan pengakuan dari kliennya, darah yang di tisu tersebut merupakan darah kucing.
"Margriet mengatakan, darah tersebut berasal dari luka di kucingnya yang bernama Boni," ujarnya, Sabtu (13/6/2015).
Kata dia, luka di kucing tersebut sudah ada sejak lama.
Karena luka tersebut sering digaruk, darahnya pun tercecer ke sejumlah bagian rumah.
"Mengenai darah di tisu, klien kami kemudian mengelapnya pakai tisu dan sekarang sudah diobati," ujarnya menirukan kliennya.
Ia juga berharap agar publik tidak berspekulasi sebelum keluar hasil tes terhadap darah tersebut.
"Kita tunggu semoga cepat keluar. Agar permasalahan gamblang,"
 Agustinus Tai sempat ketakutan setelah membunuh gadis cilik cantik Angeline. Ia mengaku berjumpa dengan Angeline di alam mimpi.

Sebelum menguburkan jenazah Angeline di dalam tumpukan sampah, Agustinus sempat melilitkan tali ke badan gadis berumur 8 tahun itu. Ia juga meletakkan boneka kesayangan Angeline di atas jenazah dan menguburkannya bersama-sama.

Menurut kepercayaan Agustinus, dengan melakukan hal itu, roh Angeline akan tenang di alamnya. Namun demikian, ia tetap dihantui rasa takut.

"(Melilitkan tali ke jasad Angeline) Itu supaya rohnya tetap diam. Dia ketakutan didatangi dalam mimpi," kata kuasa hukum Agustinus, Haposan Sihombing saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (13/6/2015).




Angeline terkadang makan makanan untuk anjing



 Kebiasaan Angeline selama berada di rumah Jalan Sedap Malam nomor 26 Denpasar, sedikit dikupas oleh Francky. Selama menetap tiga bulan di rumah tersebut, Francky mengaku tahu persis sosok gadis mungil yang telah kehilangan nyawa karena kekerasan tersebut.

Menurut dia, Angeline-lah yang melakukan kerjaan rutin menyapu dan mengepel rumah, termasuk bersihkan kotoran hewan. Ironisnya, dia terkadang melihat Angeline makan dari makanan yang seharusnya diberikan anjing dan kucing.

"Menu hampir setiap hari perkedel jagung. Tante Telli (Margriet) kalau masak nasi banyak, tapi untuk hewan anjing dan kucing. Memang dipisahkan, tetapi tidak pernah mengambilkan makan untuk Angeline. Terkadang, namanya anak-anak dia tidak tahu dan asal ambil. Bahkan, maaf pernah makan-makanan yang harusnya untuk anjing dan kucing," tutur Francky di kawasan Legian, Kuta, Bali, sambil menggelengkan kepala, Rabu (17/6).

Francky mengungkapkan, selama tinggal di rumah itu, dia tidak pernah melihat anak Margriet yang lain datang ke rumah. Di rumah, hanya ada dua orang, Margriet dan Angeline, tanpa pembantu.

"Pernah cari pembantu untuk urus ayam, tapi kabur karena tidak kuat. Hanya bekerja sehari saat itu, jadi selama itu hanya Angeline yang melakukan kasih makan dan bersihkan kotoran hewan," ucap Francky.

Bagi Francky, tiga bulan adalah waktu yang cukup untuk melihat penderitaan Angeline. Bahkan dengan nada sangat menyesal saat itu, dia tidak punya kemampuan melaporkan apa yang dilihatnya selama ini. 

"Saya menyesal dan mohon ampun sama anak ini. Andai saja saat itu saya laporkan, mungkin Angeline tetap bisa ceria dan tersenyum," kata Francky sambil dielus istrinya lantaran menangis.

Menurut dia, saat inilah dia membalas kesalahan dengan mengungkap perlakuan tante Telly, sapaannya kepada Margriet, terhadap Angeline.

Saat Masih Hidup, di Tubuh Angeline Banyak Lebam Biru


Kepala Sekolah Dasar Negeri 12 Sanur, Ketut Ruta tak bisa menahan sedih mendengar kabar Angeline (8) ditemukan tewas di belakang rumahnya di dekat kandang ayam di Jl Sedap Malam, Sanur, Denpasar, Bali. Ketut punya cerita soal derita yang dialami Angeline saat masih hidup.

Saat ditemui di lokasi penemuan jenazah Angeline, Rabu (10/6/2015) siang, Ketut menuturkan kalau Angeline teman sekelas dengan anak keponakannya.

Suatu hari, Angeline pernah main dan makan dengan lahap di rumah keponakannya. Saat itu Angeline terlihat kurus dan kotor, sehingga dimandikan oleh perempuan keponakannya. Betapa mengejutkan kondisi tubuh Angeline.

Menurut wali kelas Angeline di kelas 1, Ketut Sukerni, Angeline yang kini duduk di kelas 2 sangat tertutup. Nilai-nilainya pun buruk dan nyaris tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Bahkan beberapa kali para guru memandikan Angeline di sekolah karena badannya berbau tidak sedap sehingga jadi ejekan teman-temannya.

"Begitu dia masuk disorakin sama teman-temannya. Angeline bau, Angeline bau. Sebagai wali kan kita kasihan. Menurut informasi gurunya, saya mandiin karena bau," kata Ketut Sukerni, guru SDN 12 Sanur, Denpasar, seperti ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Selasa (26/5/2015).

Menurut Kepala Sekolah Ketut Rute, Angeline juga sering terlambat tiba di sekolah, karena pagi hari ia harus memberi makan ayam, anjing, dan kucing di rumahnya. Ketut Rute juga mengungkapkan di tubuh Angeline terdapat luka lebam akibat pukulan.

"Dengan keponakan saya sendiri yang pernah memandikan dia (Angeline) di rumah. Karena melihat badannya banyak yang lebam-lebam, dia bertanya siapa yang mukul. Katanya mama," kata Kepala SDN 12 Sanur, Denpasar, Ketut Rute.

Menurut keponakannya yang bernama Komang, awalnya angeline tidak mau mengaku saat ditanya kenapa badannya biru-biru, ia memilih diam saat Komang menanyakan hal itu, namun setelah lama kelamaan akhirnya ia menjawabnya bahwa yang melakukannya adalah mamanya.

Saat ditanya, angeline sudah tidak makan selama dua hari, lalu Komang pun memberikan sepring makanan untuk Angeline makan, satu piring itupun lahap dimakannya hingga habis.

SAAT INI POLISI MASIH TERUS MEMERIKSA TERDUGA LAINNYA,
APAKAH ADA PIHAK LAIN YANG TERLIBAT/KETERKAITAN..
ATAU SEBENARNYA TAU NAMUN ADA YANG DITUTUP-TUTUPI?
RASANYA GANJIL JIKA DI DALAM SATU RUMAH / ORANG SEKITAR TIDAK MENGETAHUI, TERIAKAN ATAU
TELAH TERJADI AKTIFITAS SESUATU,  MENDENGAR SUARA TERIAKAN/JERITAN, PENGUBURAN, MENCIUM AROMA TIDAK SEDAP DI HIDUNG  DAN LAINNYA,,


APAKAH SUASANA LINGKUNGAN RUMAH YANG INDIVIDUALIS?
DIMANA HATI NURANI PELAKU?
APA IA TIDAK MALU PADA IBU KANDUNGYA YANG TELAAH MENCORENG KELUARGA?
APA IA KELAK TIDAK KASIAN PADA ANAK KANDUNGNYA SENDIRI...?

PEDIH & GERAM RASANYA JIKA YANG DISIKSA, DIBUNUH, DIPERKOSA ITU ADIK, SAUDARA KITA..


SAYA RASA ORANG YANG MASIH MEMILIKI  HATI NURANI & RASA KEMANUSIAAN AKAN MERASAKAN HAL YANG SAMA..
BAGI MASYARAKAT SEKITAR YG MEMPUNYAI INFO SEKECIL APAPUN..
SILAHKAN INFOKAN SAJA KE PIHAK KEPOLISIAN AGAR SEGERA TERUNGKAP SIAPA SAJA PELAKUNYA
JUGA UNTUK MELENGKAPI BUKTI & SAKSI..


Bagi kalian yg memiliki anak/adik jaga baik-baik..

PESAN DARI SAYA
  • Kalian harus tau dia berada dimana, pergi dan bermain bersama siapa...
  • Pantau dan awasi, apa yang ia lihat, baca, tonton, dan akses di internet, jangan sampai ketika ia dewasa kelak ia berperilaku menyimpang.
  • Jaga cara berpakaian dengan menutup aurat, TIDAK BERPAKAIN KETAT/MEMBENTUK LEKUK TUBUH TERTENTU, Tidak ingin bukan anak/istri/adik jadi korban kekerasan/seksual..?
  • Jangan berfoto seksi, meyebarkan foto seksi /konten mesum di internet
  •  Jaga lisan atau perilakumu pada orang/lingkungan sekitar, tetangga..Bisa jadi lisan/perilakumu menyakiti oranglain.. dimana Iblis bisa saja membisikan sesuatu dalam 1 detik, baik secara sadar/tidak disadari.. sehingga membuat orang dendam pada kita..
  • Lebih selektif memilih pembantu, petugas keamanan dan lainnya.
  • Jaga hubungan baik dengan tetangga/lingkungan sekitar, karena kalau ada apa-apa, merekalah yang akan pertama kali membantu dan menolong.
  • Beri pengetahuan kepada anak/ adikmu bagian-bagian tubuh yang tidak boleh dipegang/disentuh lawan jenis
  • Jauhi pacaran, Kalau kamu sudah cukup materi juga ilmu maka datangi orangtuanya lamar lalu nikahi. MENIKAH ITU TANGGUNG JAWABNYA DUNIA AKHIRAT, jadi jangan main-main asal nikah saja.
  • Bersosialisasilah dengan baik/Jangan Sombong dengan lingkungan/tetangga sekitar tanpa melihat
  • RAS/AGAMA, karena kalau ada apa-apa merekalah yang akan membantu kita


Turut berduka cita sedalam-dalamnya.....
SEMOGA PARA PELAKU DIHUKUM SEBERAT-BERATNYA AGAR TIDAK KEMBALI TERJADI DAN TERULANG DI INDONESIA//
DAN MENIMPA ANAK, ADIK, ATAU SAUDARA KITA..
SEBAIKNYA PARA PELAKU KEJAM SEPERTI INI DIHUKUM MATI SAJA
ATAU MAU PELAKU JAHAT LAINNYA TERSEBUT BERKELIARAN DISEKITAR LINGKUNGAN KALIAN
DAN MENGANCAM ANAK, ADIK, SAUDARA KALIAN?
DAN TIDAK TERUNGKAP PEMBUNUHNYA?

SEBAIKNYA PENGACARA/KUASA HUKUM BISA BIJAK SIAPA YANG MEREKA BELA
DAN KEPOLISIAN BISA MENGUNGKAPNYA..
SEMOGA TIDAK ADA SUAP..
RASAKAN UANG YG DIMAKAN ITU ADALAH BAGIAN-BAGIAN TUBUH KORBAN..
RASA SAKIT, PERIHNYA DISIKSA, JUGA AIR MATA KORBAN YANG MENETES..


BAYANGKAN SAAT ANGELINE DISIKSA, & DIBUNUH..
BAGAIMANA PERASAANNYA JIKA YANG DISIKSA, DIANIAYA & DIBUNUH SECARA SADIS ITU ANAK KANDUNG MEREKA SENDIRI?


Angeline, bocah malang yang dibunuh dan dikubur di rumah orang tua angkatnya di Denpasar, Bali, dimakamkan pada Selasa malam ini (16/6), di pemakaman desanya di Desa Tulungrejo, Dusun Wadungpal, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur. 

Jenazah Angeline tiba di rumah orang tua kandungnya sekitar pukul 19.10 WIB. Oleh Mensos Khofifah Indar Parawansa dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, jenazah diserahterimakan ke pihak keluarga. Penyerahan jenazah dilakukan di halaman rumahnya yang sederhana. Selanjutnya jenazah dibawa ke musala terdekat untuk dilakukan salat gaib yang diikuti oleh ribuan orang.

Setelah disalatkan, jenazah yang dibungkus kain warna hijau berlafaz Lailahailallah itu dibawa ke Tempat Pemakaman Umum Tulungrejo.  Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko mengatakan, jenazah Angeline dimakamkan secara Islam. “Mengikuti agama yang dianut oleh orang tua kandung, bukan orang tua angkat,” tutur Yusuf kepada CNN Indonesia.



Angeline Meninggal, Hak Waris Jadi ke Margriet



Dalam akta notaris pengangkatan Angeline yang ditandatangani pada 24 Mei 2007, ada dua pasal yang menjelaskan soal warisan untuk bocah cantik dalam akta itu. 

Pertama terdapat pada Pasal 1, yang menjelaskan bahwa pihak kedua, keluarga Margriet Christina Megawe, akan menjadikan Angeline sebagai ahli warisnya di kemudian hari. Angeline akan diperlakukan sama dengan anak Margriet yang lain.

Kemudian, pada Pasal 2 disebutkan pihak pertama, keluarga Hamidah, ibu kandung Angeline, melepaskan semua hak waris yang melekat pada anak tersebut. Dan masih di dalam pasal ini, jika Angeline meninggal, hak waris akan menjadi milik ahli waris Margriet.

"...Ahli waris pihak kedua akan dianggap dan menjadi ahli waris dari anak yang diangkat tersebut bila anak tersebut meninggal tanpa surat wasiat," begitu bunyi lengkapnya.



KALAU Hukum di dunia tidak adil,
Semoga di hari pembalasan & Dipadang mahsyar. kelak para pelaku bisa mendapat azab & balasan yg kekal..
Semoga tenang di alam akhirat sana ya dek...


KELANJUTAN KASUS INI, SILAHKAN CEK DI LINK http://agunkzscreamo.blogspot.com/2015/06/pembunuhan-angeline-anak-yang.html




references by 

merdeka, republika, metrotvnews , kompas, tribunnews sindonews viva, liputan6, CNNIndonesia, tempo

 
Like us on Facebook