August 10, 2015

impian Anak Papua Setelah Menempuh Pendidikan Di Pulau Jawa

Program ADEM ini sudah berjalan sejak Tahun 2013. Hingga tahun ini, sudah ada sekitar 1.328 anak Papua yang melanjutkan sekolah di SMA atau SMK di Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten dan Bali.

Pada Tahun 2013, sebanyak 393 anak Papua melanjutkan ke tingkat sekolah menengah atas, kemudian tahun 2014 sebanyak 435 dan tahun ini 500 anak. Mereka ada yang sekolah di sekolahan negeri juga ada di sekolah kristen.

Untuk di Jawa Timur, mereka menempuh pendidikan di SMA Kristen Petra, SMAN 2, SMAN 7, SMK St Augustinus, SMAN 1, SMAN 3 Kota Kediri.

SMAN 1, SMAN 2, SMAN 1 Ngadirijo, Kabupaten Pacitan. SMAN 2, SMAK Diponegoro, SMKN 1 Kabupaten Blitar. SMAN 1 Kejayan, SMKN Winongan, Kabupaten Pasuruan. SMK Abdi Negara, SMKN 1, SMAN 1 Kabupaten Tuban. SMKN 1, SMKN 2 Kabupaten Nganjuk. SMA Immanuel, SMAN 2, SMA Katolik Yos Sudarso, SMA PGRI, SMAN 1, SMA Selamat Pagi Indonesia Kota Batu. SMAN 5, SMAN 8, SMKN 1, SMKN 8, SMAN 3, SMAN 6, SMAN 7, SMKN 9, SMKN 13, SMAN 4, SMAN 9, SMKN 7 Kota Malang.

SMK Kristen YBPK, SMAK Yos Sudarso, SMKn 1 Kabupaten Malang. SMAN 1, SMAN 3 Kabupaten Lumajang. SMKN 1 Kebonsari, SMAN 2 Mejayan, SMKN 1 Wonoasri, SMKN 1 Geger Kabupaten Madiun. SMAN 1 Rambipuji, SMAN 1 Tanggul, SMKN 6, SMAN 1 Pakusari, SMAN Kalisat, SMKN 2, SMKN 5, SMKN 6, SMKN 8 Kabupaten Jember. SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3 Kabupaten Lamongan.

Anak Papua ini melanjutkan pendidikan setingkat SMA selama 3 tahun. Selama menempuh pendidikan, biaya hidup mereka ditanggung negara. Mereka ada yang diasarmakan, juga ada yang bersama keluarga yang ditunjuk pihak sekolah yang ditempati anak Papua.

"Kalau 2 orang, masak diasramakan. Mereka akan tinggal bersama keluarga yang ditunjuk oleh pihak sekolah," tandasnya sambil menambahkan, selain program ADEM, juga ada program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK) bagi anak Papua.

Sejak Tahun 2012 sampai 2014, sudah ada 241 anak Papua yang melanjutkan ke perguruan tinggi negeri di Jawa Timur. Mereka dari berbagai jurusan menempuh kuliah di ITS 10 Nopemeber Surabaya, Univeristas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Jember, Universitas Negeri Malang, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Negeri Surabaya.

Diantara 241 anak Papua, ada yang mendapatkan Indeks Prestasi cukup seperti Maria M Solagartiakreey dari Kabupaten Mimika mendapatkan IPK 3,65 di jurusan Akuntansi Universitas Trunojoyo Madura. Marthen S Jensenem dari Jayapura mendapatkan IPK 3,50 di fakultas kedokteran Universitas Brawijaya.

"Pada umumnya anak-anak Pupua ini cerdas, IPKnya diatas 3. Kalau ada yang bilang bodoh, itu salah. Mereka sebenarnya cerdas, tapi kurang mendapatkan bimbingan. Pemerintah bertekad ingin mencerdaskan anak-anak Papua, bagian dari tujuan negara mencerdaskan kehidupan bangsa," tandasnya. 


Sebanyak 141 anak Papua yang mendapatkan program dari pemerintah pusat ADEM (Afirmasi Pendidikan Menengah) menempuh pendidikan tingkat sekolah menengah atas di Jawa Timur. Mereka bercita-cita ingin menempuh pendiidkan setinggi-tingginya untuk kampung halamannya.


Lian Novia Iroti, lulusan SMP Negeri 2 Kabupaten Sarmi, Papua ini merupakan salah satu siswa yang mendapatkan program ADEm Tahun 2015. Lian mempunyai cita-cita ingin menjadi dokter, dan akan kembali ke kampung halamannya di Sarmi.


"Saya ingin menjadi dokter, supaya bisa membantu masyarakat Sarmi," katanya kepada detikcom di sela acara pembekalan dan pelepasan anak Papua program ADEM di Empire Palace Hotel  Surabaya, Minggu (9/8/2015).

Lian yang pernah mendapatkan juara 2 di Olimpiade Fisika tingkat Nasional Tahun 2012 ini mengatakan, tenaga dokter dan suster di kampung halamannya di Kabupaten Sarmi sangat kurang. Katanya, tidak sepenuhnya dokter dan suster di Sarmi bertugas setiap hari.

"Dokter dan suster kadang aktif. Jadi masyarakat kurang terpehatikan kesehatannya," tuturnya sambil menambahkan, jika dari Sarmi ke Jayapura, maka jarak yang ditempuh cukup jauh dan harus melintasi sungai serta ratusan jembatan.

Sebelum berangkat ke Jawa Timur, anak piatu (ibunya sudah meninggal dunia sejak kecil) ini mendapatkan pesan dari bapaknya Arnold Iroti-seorang nelayan, agar saat belajar di Jawa, tetap belajar dengan keras dan berhati-hati.

"Bapak bilang belajar yang giat dan sukses. Jangan terlalu sombong dan berhati-hati," ujarnya.

"Saya akan menyesuiakan diri dengan lingkungan yang baru, dan saling menghargai satu sama lain. Keluarga jauh di Papua, dan saya keluarga yang tinggal bersama, buat saya sudah seperti keluarga sendiri," terang anak keenam dari lima bersaudara.

Wajah ceria dan penuh semangat juga terpancar di Paulus Kaningga. Lulusan SMP YPPG1 Kabupaten Yahokimo ini akan melanjutkan di SMA di Jawa Timur.

"Saya bersyukur pada Tuhan, sehingga saya bisa belajar di Jawa," kata Paulus.

Paulus yang mendapatkan rangking 2 di sekolahnya ini mempunyai cita-cita sebagai pilot. Alasannya menjadi pilot, karena di kampung halamannya di daerah pegunungan, yang kekurangan pilot.

"Saya ingin menjadi pilot, karena di Yahukimo kekurangan pilot," tuturnya.

Yahukimo merupakan salah satu daerah di Papua yang transportasi lalu lintasnya dari dan keluar Yahokimo dengan moda angkutan darat. Bahkan, dari kecamatan ke kecamatan lain di daeah pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya ini, juga menggunakan pesawat kecil atau heli milik misionaris.

"Tenaga pilot sangat dibutuhkan, biar banyak penerbangan," tuturnya.

Ia mengaku akan giat belajar dan berkawan sebanyak-banyaknya selama menempuh pendidikan setingkat SMA di Jawa Timur.

"Saya mengucapkan terima kasih ke pemerintah. Saya datang ke sini tidak takut. Kita sama dan Papua juga Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujarnya.

"Siapa pun entah dia kulit putih, kulit coklat atau rambut lurus, saya akan berteman," tandasnya. 



references by detik

 
Like us on Facebook