August 25, 2015

Kisah Inspiratif Berhaji

Haji (bahasa Arab: ; transliterasi: Hajj) adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah syahadat, salat, zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji  (bulan Zulhijah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu.حج‎
Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Zulhijah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan) pada tanggal 10 Zulhijah. Masyarakat Indonesia lazim juga menyebut hari raya Idul Adha sebagai Hari Raya Haji karena bersamaan dengan perayaan ibadah haji ini.




20 Tahun Menabung, Penjual Gorengan Bisa Naik Haji

Menunaikan ibadah haji menjadi kewajiban siapa saja bagi yang mampu, meski harus menunggu berpuluh tahun. Seperti kisah pasangan suami istri (pasutri) penjual pisang goreng asal Jember, Jawa Timur.
Setelah 20 tahun menabung, mereka akhirnya bisa berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Mbok Juni (60) begitu dia disapa, sehari-hari bersama Seneman (70) asal Kecamatan Kaliwates, Jember ini berjualan pisang goreng di perempatan jalur selatan tepatnya di perempatan Kelurahan Mangli, Jember.

Kendati hanya berjualan pisang goreng, selama 20 tahun mereka menabung mulai dari Rp2 ribu hingga Rp10 ribu rupiah per hari. Hingga akhirnya mampu berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.
Mbok Juni bersama sang suami biasanya berjualan gorengan sejak pukul 14.00 WIB hingga larut malam. Hasil berjualan pisang goring, tiap hari ia kumpulkan dengan menyisihkan minimal Rp2 ribu hingga Rp10 ribu untuk di tabung.
Mbok Juni mengaku senang, lantaran hanya berjualan pisang goreng akhirnya dapat berhaji dengan suaminya.
Tak disangka, setelah 20 tahun menabung, Mbok Juni dan suaminya akhirnya bisa menggunakan uang tersebut untuk menunaikan ibadah haji pada tahun 2015.

Pada 2009 saja, tabungan Mbok Juni diketahui telah mencapai Rp40 juta dan tabungan tersebut kemudian disetorkan untuk tabungan haji dua orang.


Menabung 8 Tahun, Petugas Kebersihan Naik Haji


 Uang yang kerap dianggap recehan oleh sebagian orang, justru mampu mengantar Suparning ke Tanah Suci. Dengan uang lima ratus hingga seribu rupiah yang ia kumpulkan, tukang sampah ini mampu memenuhi panggilan Allah SWT.

"Saya nabung selama enam tahun. Ya lima ratus, seribu, pokoknya saya tabung. Alhamdulillah kumpul duit bisa untuk ongkos," ujar Suparning, 54, ketika ditemui di asrama haji Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (25/8/2015).

Sebagai tukang sampah, janda empat anak sekaligus empat cucu ini tiap bulan mendapat gaji Rp1 juta. Setelah untuk kebutuhan sehari-hari, uang itu ia sisihkan untuk pergi ke Tanah Suci. Dalam dua tahun, Suparning bisa mengumpulkan Rp20 juta.

"Uang itu untuk dibayarkan ongkos. Ada segitu, dibayarkan itu dulu, lalu nabung lagi. Baru empat tahun kemudian dilunasi," kata warga Asemrowo, Kota Surabaya itu.

Kebiasaan Suparning memungut sampah tidak serta merta hilang ketika tinggal di asrama haji Sukolilo. Padahal, dia menjadi salah satu jamaah calon haji yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) lima.

Suparning mengaku tidak bisa melihat sampah berserakan. Buktinya, sebelum berangkat dengan kelompok terbang (kloter) lima, Suparning masih menyempatkan diri membersihkan sampah yang berserak.


 45 Tahun Menabung, Nenek Perajin Tikar Ini Naik Haji

  Bermodal uang tabungan selama puluhan tahun, Rosna Sultan Ibrahim (85), seorang perajin tikar pandan asal Kabupaten Agam, Sumatera Barat, akan mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji.

Rosna Sultan Ibrahim, warga belakang Pasar Lasi, Jorong Gobah Ateh, Kenagarian Lasi Mudo, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, merupakan calon jamaah haji tertua di Kabupaten Agam.

Sebagai perajin tikar anyaman, Rosna harus mengumpulkan hasil penjualan kerajinan tikarnya untuk bisa menunaikan ibadah haji.

Menurut Rosna, penghasilan dari usaha kerajinan yang ia lakoni memang tidak seberapa. Namun, ia tetap berusaha sekuat hati agar dapat menunaikan niat sucinya menjalankan rukun Islam kelima.

Rosna mengaku sudah 45 tahun hidup berhemat dan menabung, tepatnya sejak tahun 1970 silam. Baru tahun ini ia bisa melunasi ongkos naik haji dan berkesempatan menunaikan ibadah haji.

Awalnya, Rosna berniat menunaikan ibadah haji bersama sang suami. Namun, Tuhan berkehendak lain. Suaminya terlebih dahulu meninggal dunia.

Ditinggal suami, tidak membuat niat Rosna naik haji luntur. Dia pun terus berusaha bekerja siang dan malam mengayam tikar pandan untuk menghidupi dua orang anaknya yang masih kecil.

Walau hidup pas-pasan, Rosna tetap menyisihkan sebagian rezekinya. Mula-mula, Rosna menitipkan uangnya kepada tukang kredit di kampungnya. Uang yang terkumpul di tukang kredit itulah yang disetor ke bank untuk biaya naik haji.


 Menabung 15 Tahun, Kuli Panggul Ini Akhirnya Naik Haji

Berhaji ke Tanah Suci menjadi impian setiap muslim di penjuru Bumi. Banyak yang rela menabung selama belasan, bahkan puluhan tahun, untuk bisa menunaikan Rukun Islam ke lima itu. Menabung sejak muda untuk berhaji saat usia sudah tua.

Seperti yang dilakukan oleh Sunaryo. Kuli Panggul di Pasar Bendungan, Wates, Kulonprogo, Yogyakarta, itu menabung selama 15 tahun. Sebagai buruh, dia hanya mendapat bayaran Rp1.000 hingga Rp2.000 untuk mengangkut barang seberat 25 hingga 50 kilogram. Namun dalam sehari, dia mampu menabung Rp10 ribu.

Pria yang karib disapa Sunar ini akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci tahun ini. Pria 53 tahun ini berulang kali mengucapkan rasa syukur ketika ditanya soal perjuangan untuk naik haji.
Awalnya, dia berpikir ibadah haji adalah hal mustahil bagi kuli panggul sepertinya. Namun, dukungan keluarga membuatnya bertekat bulat untuk menabung setiap hari.
"Setiap hari harus saya sisihkan Rp10.000 buat tabungan haji. Sisanya buat kebutuhan keluarga," ungkap Sunar yang rumahnya hanya berjarak sekitar 100 meter dari Pasar Bendungan.


Demi Berhaji, Nenek di Sumbar Rela Menabung 40 Tahun


 Berniat menunaikan rukun Islam kelima, berhaji ke Tanah Suci Mekah, memang sebuah impian dari seluruh umat muslim. Karena itu, tak mengherankan jika niatan tersebut dilakukan dengan berbagai cara agar bisa berangkat.

Salah satunya seperti yang dilakukan Rosna. Nenek berusia 86 tahun asal Nagari Lasi Mudo, Kabupaten Agam, Sumatera Barat ini mengaku menabung sejak 40 tahun lalu hanya untuk bisa berangkat ibadah haji.

"Saya sudah menabung sejak masih muda. Mungkin sekitar tahun 1970-an saat suami masih ada. Baru pada tahun 2010 bisa mendaftar haji," ujar Rosna dengan wajah semringah, Senin 24 Agustus 2015.

Kesehariannya, nenek Rosna hanya berprofesi sebagai pembuat tikar berbahan pandan di sebuah warung sederhana di pojok Pasar Kampung dekat rumahnya.

"Ditabungnya sedikit demi sedikit. Alhamdulillah, tanggal 27 Agustus ini bisa berangkat kalau tidak ada halangan," kata Rosna.

Rosna menjadi jemaah calon haji tertua dari Kabupaten Agam. Meski begitu, fisiknya tetap terlihat bugar dan masih sanggup untuk melakukan aktivitas hariannya.

"Doakan saya hajinya lancar. Dan bisa pulang lagi ke kampung halaman dengan selamat," ujar Rosna.




Kisah Sirojul Himam, Tukang Bubur Naik Haji

 Pergi berhaji bagi Sirojul Himam (38), pedagang bubur asal Sleman, sudah lama diimpikan. Pada tahun ini, keinginan itu terwujud. Akhirnya, tukang bubur naik haji!

"Alhamdulillah, doa kami terkabul bisa berangkat haji bersama istri tahun ini," ungkap Sirojul Himam, calon jemaah haji asal Sleman, kepada detikcom, saat acara Pamitan Haji di Kantor Gubernur DIY di Kepatihan, Kamis (20/8/2015).

Himam yang berjualan bubur ayam di kawasan Lembah Universitas Gadjah Mada (UGM) sudah sejak 12 tahun lebih terus menabung. Dia menyisihkan sedikit demi sedikit keuntungan dari tahun ke tahun untuk pergi berhaji.

"Itu tabungan khusus yang kami rencanakan untuk naik haji, alhamdulillah doa kami terkabul tahun ini berangkat bersama-sama," katanya.

Besarnya uang yang ditabungnya tidak selalu sama. Namun dia rutin seminggu sekali menyisihkan uang untuk ditabung di bank. "Besarnya nggak mesti, kadang Rp 500 ribu, kadang kalau ada keuntungan berlebih bisa Rp 1 juta. Niat kami terus menabung saja," kata bapak tiga anak itu.

Menurut Himam, pada akhir tahun 2014, dia senang karena mendapatkan panggilan untuk berhaji bersama istrinya. Dia pun langsung melakukan pelunasan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

"Insya Allah siap mental. Siap lahir batin untuk segera menuju ke tanah suci. Kami juga sudah belajar manasik," katanya.

Himam tergabung dalam rombongan SOC 27 yang akan berangkat melalui Embarkasi Solo. Setelah mengikuti pamitan haji bersama Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Kakanwil Kemenag DIY, Prof Dr H Nizar Ali.

"Setelah ini kami sekeluarga akan melakukan pamitan bersama tetangga di kampung," katanya.

Berdasarkan data di Kemenag DIY, jumlah calon jamaah haji asal DIY sebanyak 2.509 orang terdiri, 1.135 jamaah haji laki-laki dan 1.374 jamaah wanita. Calon jamaah haji asal DIY akan berangkat pada tanggal 23-29 Agustus 2015 dalam 7 kelompok terbang (kloter) dari Bandar udara Adi Soemarmo, Solo.



Niat Berhaji Kuat, Rejeki Dilancarkan


Setiap muslim, pasti ingin berangkat berhaji untuk menyempurnakan rukun Islam-nya sebelum malaikat maut menjemput. Ketiadaan biaya menjadi masalah yang banyak dihadapi, namun jika niat berhaji itu kuat, tantangan itu bisa diatasi.
Seperti yang dirasakan Ika Resmiawati, seorang guru di TK Ibadurrahman Lengkong, Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya. Dibalik keterbatasan biaya, dia akhirnya mampu melaksanakan ibadah Haji pada bulan November tahun 2008.

Dia bercerita, niatnya untuk melaksanakan ibadah haji menjadi lebih kuat saat suaminya Arif Budi Prasetio memberikan brosur haji untuk dia pelajari. “Pertama saya tidak yakin namun suami memberikan pemahaman bahwa dengan niat yang kuat siapapun bisa melaksanakan ibadah haji,” katanya kepada Radar, Kamis (30/7/2015).
Saat itu Ika dan suaminya masih belum punya rumah, tiap bulan mereka harus membayar kontrakan rumah. Namun karena tekadnya kuat ingin berangkat haji, Ika bersama suaminya membuka tabungan haji dengan setoran pertama Rp 1 juta.
Dana tabungan haji ini merupakan bukti kesungguhan Ika untuk berangkat haji. Setelah membulatkan tekad dan beriktiar, berbagai kemudahan pun dirasakan Ika.
Sang suami dipindah tugaskan dari kantornya ke Jakarta sehingga penghasilannya makin bertambah, saldo tabungan hajinya pun makin bertambah “Pada tahun 2007 atas ijin Allah kita juga bisa beli rumah di daerah Cigeureung. Tahun 2008 bisa berangkat haji,” ujarnya.
Selain menabung, Ika dan suaminya pun berikhtiar dalam mencari ilmu untuk bekal berhaji. Ia mempelajari buku Fiqh Haji, belajar juga tentang sejarah Nabi Muhammad dan sering menonton tayangan manasik haji.
Sehingga saat melaksanakan haji, Ika ingin lebih khusyu karena tahu ilmunya. Meskipun ada pembimbing namun dia beserta suaminya mempersiapkan perjalanan hajinya dengan maksimal.
“Tidak mau hanya ikut saja, tapi juga harus tahu fiqihnya dan itu wajib. saya juga belajar sejarah Nabi sehingga saat tour kita tahu sejarah dari Gunung Uhud dan yang lainnya,” ujarnya.
Ika bersama suaminya juga membuat list barang-barang yang akan dibawa sehingga tidak membawa barang yang kiranya tidak diperlukan. “Kita juga banyak bertanya dan belajar dari saudara kita yang sudah ke sana tentang barang-barang yang harus dibawa dan bagaimana mempersiapkan diri,” terangnya.
Karena persiapan yang matang Ika bersama suaminya diberi kelancaran dan kemudahan selama melaksanakan ibadah haji. Dia juga banyak bertemu dengan tetangga tempat tinggal Ika sebelum membeli rumah namun beda rombongan, dan hal tersebut menyadarkan Ika akan hikmah silaturahim. 


SELAGI MENUNGGU PELAJARILAH ILMU TENTANG HAJI AGAR TIDAK SIA-SIA

BERIBADAH HAJI BUKANLAH UNTUK BERFOTO, BELANJA, PAMER nih saya punya uang banyak bisa haji atau umrah,
BUKAN JUGA AJANG PAMER KESOLEHAN..

TAPI JADI SEPERTI APAKAH AKHLAK KITA SETELAH KITA BERHAJI  BAGI LINGKUNGAN SEKITAR..
BAGAIMANA SHALAT SHUBUH? SUDAH BERJAMAAH DI MASJID ? KONTRIBUSI APA YANG SDUAH DIBERIKAN BAGI LNGKUNGAN SEKITAR ? (BUKAN/TIDAK HARUS UANG)
ADAKAH BERGUNA KEBERADAAN KITA BAGI LINGKUNGAN SEKITAR/TEMAN/KELUARGA/TETANGGA?
APAKAH MASIH SAMA DARI SEBELUMNYA,
ATAU HANYA TOBAT SESAAT?

JANGAN JADIKAN IBADAH HAJI KITA SIA-SIA..
Iman itu ada 70 atau 60-an cabang.
Yang paling tinggi adalah perkataan ‘la ilaha illallah’,
yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu (juga) merupakan bagian dari iman.
— HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35.
Perkataan ‘Syahadat’ menunjukkan bahwa iman harus dengan ucapan di lisan. Menyingkirkan duri dari jalan menunjukkan bahwa iman harus dengan amalan anggota badan. Sedangkan sifat malu menunjukkan bahwa iman harus dengan keyakinan dalam hati, karena sifat malu itu di hati karena perbuatan dosa disaksikan Allah SWT. Inilah dalil yang menunjukkan bahwa iman yang benar hanyalah jika terdapat tiga komponen di dalamnya yaitu
(1) keyakinan dalam hati,
(2) ucapan di lisan, dan
(3) amalan dengan anggota badan. 

Maka tanpa adanya amalan, meskipun ada keyakinan dan ucapan, tidaklah disebut beriman kepada ALLAH SWT

Disaat sebagian orang cita-citanya duniawi 
seperti pernikahan mewah, menabung/mencicil/kredit motor/mobil, rumah dan barang tertentu, jalan-jalan keliling dunia, hidup mewah
orang-orang ini hanya ingin hidupnya dalam kesederhanaan , hidupa dalamkeikhlasan Allah SWT.
Ridho akan segala ujian hidup baik saat dalam kesenangan maupun saat diuji dalam kesukaran..
rela menabung berpuluh tahun demi ingin menunaikan Rukun Islam ke 5 Ibadah Haji
sebelum malaikat menjemput..



references by
http://news.okezone.com/read/2015/08/25/519/1201889/20-tahun-menabung-penjual-gorengan-bisa-naik-haji
http://jatim.metrotvnews.com/read/2015/08/25/161883/menabung-8-tahun-tukang-sampah-naik-haji
 http://daerah.sindonews.com/read/1036678/174/45-tahun-menabung-nenek-perajin-tikar-ini-naik-haji-1440469786
http://nasional.news.viva.co.id/news/read/664626-demi-berhaji--nenek-di-sumbar-rela-menabung-40-tahun
http://news.detik.com/berita/2996736/kisah-sirojul-himam-tukang-bubur-naik-haji
http://www.radartasikmalaya.com/prev/index.php/for-her/2015/niat-berhaji-kuat-rejeki-dilancarkan.html


 
Like us on Facebook