August 16, 2015

Sejarah Ulama Indonesia Serukan Jihad Melawan Para Penjajah

Islam sebagai sebuah pemerintahan hadir di Indonesia sekitar abad ke-12, namun sebenarnya Islam sudah sudah masuk ke Indonesia pada abad 7 Masehi. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad 7.[4]
Menurut sumber-sumber Cina menjelang akhir perempatan ketiga abad 7, seorang pedagang Arab menjadi pemimpin pemukiman Arab muslim di pesisir pantai SumateraIslam pun memberikan pengaruh kepada institusi politik yang ada. Hal ini nampak pada Tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Bani Umayyah meminta dikirimkan da'i yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. 

Surat itu berbunyi: “Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang isterinya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Allah. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.” Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama 'Sribuza Islam'. Sayang, pada tahun 730 M Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha.[5]
Islam terus mengokoh menjadi institusi politik yang mengemban Islam. Misalnya, sebuah kesultanan Islam bernama Kesultanan Peureulak didirikan pada 1 Muharram 225 H atau 12 November 839 M. Contoh lain adalah Kerajaan Ternate. Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440. Rajanya seorang Muslim bernama Bayanullah.
Kesultanan Islam kemudian semikin menyebarkan ajaran-ajarannya ke penduduk dan melalui pembauran, menggantikan Hindu sebagai kepercayaan utama pada akhir abad ke-16 di Jawa dan Sumatera. Hanya Bali yang tetap mempertahankan mayoritas Hindu. Di kepulauan-kepulauan di timur, rohaniawan-rohaniawan Kristen dan Islam diketahui sudah aktif pada abad ke-16 dan 17, dan saat ini ada mayoritas yang besar dari kedua agama di kepulauan-kepulauan tersebut.
Penyebaran Islam dilakukan melalui hubungan perdagangan di luar Nusantara; hal ini, karena para penyebar dakwah ataumubaligh merupakan utusan dari pemerintahan Islam yang datang dari luar Indonesia, maka untuk menghidupi diri dan keluarga mereka, para mubaligh ini bekerja melalui cara berdagang, para mubaligh inipun menyebarkan Islam kepada parapedagang dari penduduk asli, hingga para pedagang ini memeluk Islam dan meyebarkan pula ke penduduk lainnya, karena umumnya pedagang dan ahli kerajaan lah yang pertama mengadopsi agama baru tersebut. Kerajaan Islam penting termasuk di antaranya: Kerajaan Samudera PasaiKesultanan Banten yang menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara Eropa, Kerajaan MataramKerajaan IhaKesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore di Maluku.
Afonso (kadang juga ditulis Alfonso) de Albuquerque. Karena tokoh inilah, yang membuat kawasan Nusantara waktu itu dikenal oleh orang Eropa dan dimulainya Kolonisasi berabad-abad oleh Portugis bersama bangsa Eropa lain, terutamaInggris dan Belanda.
Dari Sungai Tejo yang bermuara ke Samudra Atlantik itulah armada Portugis mengarungi Samudra Atlantik, yang mungkin memakan waktu sebulan hingga tiga bulan, melewati Tanjung Harapan Afrika, menuju Selat Malaka. Dari sini penjelajahan dilanjutkan ke Kepulauan Maluku untuk mencari rempah-rempah, komoditas yang setara emas kala itu.
”Pada abad 16 saat petualangan itu dimulai biasanya para pelaut negeri Katolik itu diberkati oleh pastor dan raja sebelum berlayar melalui Sungai Tagus,” kata Teresa. Biara St Jeronimus atau Biara Dos Jeronimos dalam bahasa Portugis itu didirikan oleh Raja Manuel pada tahun 1502 di tempat saat Vasco da Gama memulai petualangan ke timur.
Museum Maritim atau orang Portugis menyebut Museu de Marinha itu didirikan oleh Raja Luis pada 22 Juli 1863 untuk menghormati sejarah maritim Portugis.
Selain patung di taman, lukisan Afonso de Albuquerque juga menjadi koleksi museum itu. Di bawah lukisan itu tertulis, ”Gubernur India 1509-1515. Peletak dasar Kerajaan Portugis di India yang berbasis di Ormuz, Goa, dan Malaka. Pionir kebijakan kekuatan laut sebagai kekuatan sentral kerajaan”. Berbagai barang perdagangan Portugis juga dipamerkan di museum itu, bahkan gundukan lada atau merica.
Ada sejumlah motivasi mengapa Kerajaan Portugis memulai petualangan ke timur. Ahli sejarah dan arkeologi Islam Uka Tjandrasasmita dalam buku Indonesia-Portugal: Five Hundred Years of Historical Relationship (Cepesa, 2002), mengutip sejumlah ahli sejarah, menyebutkan tidak hanya ada satu motivasi Kerajaan Portugis datang ke Asia. Ekspansi itu mungkin dapat diringkas dalam tiga kata bahasa Portugis, yakni feitoria, fortaleza, dan igreja. Arti harfiahnya adalah emas, kejayaan, dan gereja atau perdagangan, dominasi militer, dan penyebaran agama Katolik.

Semboyan Bangsa Barat Melakukan Kolonialisasi Seluruh Daerah/Bagian Bumi

Pengertian semboyan 3G
Semboyan 3G merupakan motivasi terbesar bangsa-bangsa barat melakukan penjelajahan samudra. Pada dasarnya semboyan ini merupakan inti dari imperialisme barat. Terkenal dengan sebutan 3G karena memang semboyan tersebut berawalan dengan huruf “G” yakni Gold, Glory, dan Gospel.
Apa yang dimaksud dengan Gold, Glory, dan Gospel?
 Gold
Salah satu semboyan dan tujuan dari penjelajahan samudra yang dilakukan oleh bangsa barat adalah “GOLD”. Gold sendiri memiliki arti Emas yang secara filsafat merupakan kekayaan. Dengan adanya semboyan ini bangsa barat bertujuan untuk mencari kekayaan dengan melakukan ekspedisi dan penjelajahan. 
Glory
Dalam bahasa indonesia Kata glory memiliki arti kejayaan. Salah satu semboyan ini merupakan motivasi bangsa barat melakukan penjelajahan samudra. Dengan tujuan mencari kejayaan bangsa barat berharap mampu menguasai dunia luar dengan visi utama mencari kejayaan bagi diri mereka. Mereka yakin dengan menguasai dunia dapat mengantarkan mereka dalam kejayaan, baik kejayaan ekonomi, sosial, maupun yang lainnya.

Gospel
Jauh sebelum Eropa terbuka matanya mencari dunia baru, warga pribumi nusantara hidup dalam kedamaian. 

Hal yang ironis, tokoh yang menggerakkan roda sejarah dunia masuk ke dalam kubangan darah adalah dua orang Paus yang berbeda. Pertama, Paus Urbanus II, yang mengobarkan perang salib untuk merebut Yerusalem dalam Konsili Clermont tahun 1096. Dan yang kedua, Paus Alexander VI.
Paus Alexander VI pada tahun 1494 memberikan mandat resmi gereja kepada Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol melalui Perjanjian Tordesillas. Dengan adanya perjanjian ini, Paus Alexander dengan seenaknya membelah dunia di luar daratan Eropa menjadi dua kapling untuk dianeksasi. Garis demarkasi dalam perjanjian Tordesilas itu mengikuti lingkaran garis lintang dari Tanjung Pulau Verde, melampaui kedua kutub bumi. Ini memberikan Dunia Baru kini disebut Benua Amerika kepada Spanyol. Afrika serta India diserahkan kepada Portugis.

Paus menggeser garis demarkasinya ke arah timur sejauh 1.170 kilometer dari Tanjung Pulau Verde. Brazil pun jatuh ke tangan Portugis. Jalur perampokan bangsa Eropa ke arah timur jauh menuju kepulauan Nusantara pun terbagi dua. Spanyol berlayar ke Barat dan Portugis ke Timur, keduanya akhirnya bertemu di Maluku, di Laut Banda. Sebelumnya, jika dua kekuatan yang tengah berlomba memperbanyak harta rampokan berjumpa tepat di satu titik maka mereka akan berkelahi, namun saat bertemu di Maluku, Portugis dan Sanyol mencoba untuk menahan diri.
Misi imperialisme Eropa ini sampai sekarang kita kenal dengan sebutan “Tiga G”:  Gold, Glory, Gospel

dalam Matius 15 ayat 24, “Aku tidak diutus kepada bangsa-bangsa lain, melainkan hanya kepada domba-domba bangsa Israel”.  Menurut ajaran ini sebenarnya agama Kristen pada waktu itu hanya untuk bangsa Israel saja, tidak boleh disebar luaskan kepada bangsa-bangsa lain.

Tapi ada dalam Matius 28 ayat 19 ajaran lain dalam Kristen, yang  diajarkan oleh Paulus, yang mengatakan : Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah  mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, . Disamping itu, ada ayat lain yang menegaskan : “Taklukkanlah seluruh dunia, jadikan mereka murid-muridku”.  
Kedua ayat dalam Bible itu sebenarnya adalah ajaran Paulus, yang bertentangan dengan ajaran Jesus (Nabi Isa as dalam Islam).
Hal itulah yang dijadikan dasar Paus untuk memerintahkan mengekspansi seluruh dunia pada waktu itu

Kolonisasi VOC

Mulai tahun 1602 Belanda secara perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah yang kini adalah Indonesia, dengan memanfaatkan perpecahan di antara kerajaan-kerajaan kecil yang telah menggantikan Majapahit. Satu-satunya yang tidak terpengaruh adalah Timor Portugis, yang tetap dikuasai Portugal hingga 1975 ketika berintegrasi menjadi provinsi Indonesia bernama Timor Timur. Belanda menguasai Indonesia selama hampir 350 tahun (antara 1602 dan 1945), kecuali untuk suatu masa pendek di mana sebagian kecil dari Indonesia dikuasai Britania setelah Perang Jawa Britania-Belandadan masa penjajahan Jepang pada masa Perang Dunia II. Sewaktu menjajah Indonesia, Belanda mengembangkan Hindia-Belanda menjadi salah satu kekuasaan kolonial terkaya di dunia. 350 tahun penjajahan Belanda bagi sebagian orang adalah mitos belaka karena wilayah Aceh baru ditaklukkan kemudian setelah Belanda mendekati kebangkrutannya.

Pendudukan Jepang

Pada Juli 1942, Soekarno menerima tawaran Jepang untuk mengadakan kampanye publik dan membentuk pemerintahan yang juga dapat memberikan jawaban terhadap kebutuhan militer Jepang. SoekarnoMohammad Hatta, dan para Kyai memperoleh penghormatan dari Kaisar Jepang pada tahun 1943. Tetapi, pengalaman dari penguasaan Jepang di Indonesia sangat bervariasi, tergantung di mana seseorang hidup dan status sosial orang tersebut. Bagi yang tinggal di daerah yang dianggap penting dalam peperangan, mereka mengalami siksaan, terlibat perbudakan seks, penahanan sembarang dan hukuman mati, dan kejahatan perang lainnya. Orang Belanda dan campuran Indonesia-Belanda merupakan target sasaran dalam penguasaan Jepang.
Pada Maret 1945 Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada pertemuan pertamanya di bulan Mei, Soepomo membicarakan integrasi nasional dan melawan individualisme perorangan; sementara itu Muhammad Yamin mengusulkan bahwa negara baru tersebut juga sekaligus mengklaim SarawakSabah,Malaya, Portugis Timur, dan seluruh wilayah Hindia-Belanda sebelum perang

Masjid Jami’ KH Gholib ini adalah masjid yang sangat bersejarah, sekaligus masjid tertua di Kabupaten Pringsewu, Lampung.
Masjid yang identik dengan nama pendirinya ini, yakni KH Gholib, sarat dengan semangat jihad fi sabilillah. Ketika Belanda kembali ingin menancapkan kukunya di Indonesia, yakni dengan agresi keduanya pada tahun 1949, 100 ulama Lampung saat itu berkumpul di Pesantren KH Gholib untuk membahas hukum perang melawan Belanda. Keseratus ulama itu, antara lain: KH Hanafiah dari Sukadana, KH Nawawi Umar dari Telukbetung, KH Abdul Rozak Rais dari Penengahan, Kedondong; KH Umar Murod dari Pagardewa (kini Kabupaten Tulangbawang Barat); KH M. Nuh; KH Aman dari Tanjungkarang; Kiai M. Yasin dari Tanjungkarang (Ketua Masyumi Lampung saat itu), KH A. Rauf Ali dari Telukbetung dan KH A. Razak Arsad dari Lampung Utara. Hasil musyawarah 100 ulama itu menetapkan hukum perang melawan Belanda mempertahankan kemerdekaan dan ketinggian Islam adalah fardu ‘ain. 1
Keputusan ini disampaikan kepada pemerintah ketika itu dan menjadi dasar umat Islam melawan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan. Setelah keputusan ini, Hanafiah dan pasukan Laskar Hizbulllah dan Sabilillah Pringsewu menuju Baturaja, Sumatera Selatan, untuk membantu Tentara Republik Indonesia (TRI) melawan Belanda, setelah Palembang diduduki.
Jauh sebelumnya, tatkala pendudukkan Jepang, kemarahan KH Gholib kepada Jepang dimulai dengan perjuangannya menentang program sei kerie tahun 1942. Tindakan Jepang sudah menindas, menyiksa dan memeras. Dia segera menyiagakan pasukan mengusir Jepang dari Tanah Bamboo Seribu (sekarang Pringsewu).
KH Gholib berkali-kali ditangkap militer. Jepang khawatir pria ganteng-gagah, tangkas, berkulit hitam manis, dan bermisai meruncing ke atas bibirnya ini memengaruhi para kiai. Apalagi Gholib menggalang opini menolak ajakan Jepang menyembah Dewa Matahari (Tenno Heika, Kaisar Hirohito).2
Tokoh yang dilahirkan tahun 1899 di Kampung Modjosantren, Krian, Jawa Timur ini dengan semangat jihad terus memimpin pertempuran untuk mengusir penjajah. Saat Belanda ingin menguasai kembali Indonesia pasca proklamasi 17 Agustus, Belanda langsung menggempur pertahanan Indonesia di mana-mana. KH Gholib kembali menyiagakan senjata. Dia membentuk pasukan jihad: Pasukan Sabillah Hisbullah yang diambil dari anak-anak didiknya lalu dididik TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan BKR (Badan Keamanan Rakyat).
Mereka berlatih cara berperang dan diajar oleh Mayor Inf. Herni, Mayor Inf. Mulkan, KH Gholib, dan Mayor Inf. Nurdin. Pasukan fi Sabilillah dan Laskar Hisbullah (TKR/BKR) bertahan di Pringsewu dari 1 November 1945 sampai 7 Agustus 1946.
Sewaktu Agresi Belanda II 1949, Lampung didarati Belanda melalui Pelabuhan Panjang pada 1 Januari. Pemerintah bersama TRI (Tentara Republik Indonesia) mengungsi ke pedalaman Gedongtataan, Gadingrejo, Pringsewu, Kedondong, dan tempat-tempat lain.
Di Gadingrejo dibentuk pemerintahan darurat dengan residennya Mr. Gele Harun dan wakilnya M. Yasin. Di Pringsewu, basis TRI ditempatkan di pesantren KH Gholib dengan tokoh-tokohnya: Kapten Alamsyah dan Mayor Effendy. Untuk mengganyang Belanda, melalui musyawarah para tokoh, KH Gholib ditetapkan sebagai pemimpin pasukan gerilya.
Pada 8 Agustus 1947 – 20 Oktober 1948, pecah pertempuran di front Baturaja dan Martapura. Pasukan Sabillah dan Laskar Hisbullah yang dipimpin KH Gholib dan Kapten Alamsyah Ratuperwiranegara bertarung seperti banteng luka. Di Martapura, perang hebat tidak terelakkan. Banyak korban tewas, di pihak Belanda maupun KH Gholib. Mereka yang selamat di antaranya Mayor Herni, Sukardi, Mayor Nurdin, Sukemi, Mayor Mulkan, Supardi, Abdul Fatah, Silur, Irsan, Suparno, Suwarno, Mardasam, Harun, Hasan dan Husen.3
Ulama yang hapal ribuan hadis ini tidak hanya mempelajari ilmu yang berhubungan dengan ubudiyah, tetapi juga ilmu perang, kemasyarakatan, dll. Wajar jika kemudian beliau mampu menyebarkan Islam di 27 kota dan desa-desa di Jawa Timur hingga Johor dan Singapura; terakhir di Pringsewu, Lampung. Tatkala awal sampai di Pringsewu, Sang Kyai mendirikan masjid untuk mengajarkan agama Islam kepada orang-orang tua dan anak-anak sekitar. Melihat perkembangan majelis taklimnya yang cukup pesat, KH Gholib terus mengembangkan pendidikan agama Islam dengan mendirikan pondok pesantren. Pendidikan yang dibentuk pertama adalah sebuah madrasah dengan santri awal sebanyak 20 orang. Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, perkembangan santri sangat pesat.4
“Kegarangan” KH Gholib teruji kembali tatkala tanggal 27 November 1949 terjadi perundinganclash order antara delegasi tentara Belanda dan delegasi RI/TNI di Kotabumi, Lampung Utara. Yang hadir: Mayor K.L. Graaf von Renzouw, Mayor Inf. H.N.S. Effendi, Kapten A.L. Shohoka, Kapten Inf. Hamdani, dan Letnan Husen.
Usai “perundingan damai” itu, mereka kembali lagi ke Pringsewu. Belum sempat KH Gholib duduk di rumahnya, ia mendapat berita Belanda datang kembali ke Tanjungkarang, bahkan sudah masuk Gadingrejo. KH Gholib cepat mengatur siasat pasukan. Mereka menghancurkan Jembatan Bulok. Belanda tidak kehabisan akal. Mereka memutar lewat Gedongtataan, Kedondong, terus ke Pagelaran, dan dari pesawat diterjunkan pasukan udara dan hujan peluru untuk menghancurkan tempat-tempat persembunyian pejuang kita.
Melihat keadaan sudah tidak aman, KH Gholib dan pasukan menyeberang ke utara Sungai Way Sekampung, lalu mengungsi ke hutan rimba.
KH Gholib terus mengungsi dan hidup berpindah-pindah. Di sebuah desa, dia sakit, lumpuh, lalu bersiap pulang. Kabar kembali ini cepat terdengar Belanda yang tetap bernafsu menghabisi beliau. Saat perundingan Belanda-TNI 27 November 1949 di Kotabumi, Belanda memerintahkan polisi federalnya memanggil KH Gholib untuk perundingan. Namun, Macan Loreng, pasukan khusus kaki tangan penjajah saat itu, berkeras agar KH Gholib ditahan.
Selama di pengungsian KH Gholib sekeluarga cemas memikirkan nasib warganya di Pringsewu. KH Gholib pulang dan berniat salat Idul Fitri. Beberapa hari kemudian datang utusan Belanda. KH Gholib disergap Macan Loreng, kemudian dibawa ke Gereja Katholik Pringsewu, yang saat itu dipakai sebagai markas tentara Belanda.
KH Gholib ditahan 15 hari dan dibebaskan saat persetujuan gencatan senjata tinggal tiga hari diumumkan, malam Kamis Legi, 6 November 1949 (16 Syawal 1968 H). Pukul satu dini hari KH Gholib meninggalkan penjara, lalu berjalan pulang. Namun, baru 10 meter dia melangkah dari rumah tahanan, KH Gholib ditembak dari belakang. Dia gugur seketika.5 []
Catatan kaki:1         Lampung Post, Selasa, 24 Agustus 2010
2         Heri Wardoyo, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post, hlm. 5-8.
3         Ibid.
        http://generasisalaf.wordpress.com/2012/11/19/kh-gholib-komandan-pasukan-hizbullah-lampung/5         Heri Wardoyo, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post, hlm. 5-8.

Masjid Al-Mujahidin Cibarusah: Basis Perjuangan Melawan Penjajah


Banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenal lebih jauh Masjid al-Mujahidin yang terletak di Cibarusah Bekasi ini. Masjid ini tepatnya berada di Kampung Babakan Cibarusah (biasa disebut KBC) masuk dalam Desa Cibarusah Kota, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Propinsi Jawa Barat. Masjid ini adalah masjid yang penuh dengan sejarah perjuangan heroik umat Islam dalam kontribusinya mengusir penjajah.
Masjid tua ini menjadi saksi umat Islam turutan di dalam melawan dan mengusir penjajah di Nusantara. Pada masa perjuangan kemerdekaan melawan Belanda dan Jepang Masjid al-Mujahidin ini menjadi markas serta kamp pelatihan pasukan Laskar Hizbullah, pasukan perang bentukan Masyumi tahun 1944 M.
Setelah Hizbullah terbentuk para tokoh Islam segera mengkampanyekan kepada seluruh umat Islam di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan daerah daerah lain di Indonesia. Pada pertengahan Desember 1944, perwakilan federasi Islam telah mengadakan perjalanan keliling Jawa untuk mengadakan inspeksi terhadap sukarelawan Hizbullah di semua karesidenan.
Untuk mengumpulkan para pemuda Islam yang akan dididik dalam kemiliteran, tokoh tokoh Islam tidak menemui kesulitan. Sebab, para pemuda Islam telah memiliki kesadaran yang cukup tinggi dalam membela Tanah Airnya dari cengkeraman penjajah. Banyak santri yang dengan kesadarannya sendiri serta restu para kiai bersedia menjadi anggota laskar Hizbullah. Kemudian itu juga didukung oleh adanya kerjasama serta saling pengertian antara tokoh tokoh di pusat dengan para pemimpin pesantren.
Masyumi sendiri adalah tempat bergabungnya organisasi-organisasi Islam ketika itu, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), PUI, PUII dan yang lain. Di Masjid al-Mujahidin inilah para pemuda-pemuda umat Islam dilatih dan digembleng bukan hanya ilmu-ilmu kemiliteran, namun juga tsaqafah Islam untuk menjadi tentara-tentara tangguh pengusir penjajah. Masjid ini pun menjadi pusat penggemblengan Laskar Hizbullah untuk kemudian ditempatkan di berbagai lokasi di Pulau Jawa dan Madura.
Latihan diselenggarakan selama 3 bulan dipimpin oleh para Sydanco Peta, yang terdiri dari Abdullah Sajad, Zaini Nuri, Abd. Rachman, Kamal Idris dan lain-lainya. Yang bertindak sebagai komandan latihan adalah seorang opsir Jepang, Kapten Yanagawa.
Selain dilatih kemiliteran, para pemuda Islam itu juga diberi bekal pendidikan kerohanian. KH Zarkasy (Gontor Ponorogo) KH Mustofa Kamil (Jawa Barat), KH Mawardi (Solo), KH Mursyid (Kediri) adalah para ulama yang memberikan pembinaan kerohanian.
Di antara ulama yang paling banyak memberikan ceramah ialah KH Mustofa Kamil dari Singaparna (Jawa Barat) serta KH Abdul Halim dari Majalengka, Pemimpin Umum PUI, yang kadang-kadang juga memberikan pelajaran teknik membuat alat peledak.
Latihan itu dibuka pada 28 Pebruari 1945, dihadiri oleh Gunseikan, para perwira bala tentara Dai Nippon, Pimpinan Pusat Masyumi, Pangreh Praja dan lain-lain. Para anggota barisan Hizbullah mengikuti upacara dengan berseragam biru dengan kopiah hitam putih dan bersimbul bulan sabit dan bintang. Acara dimulai dengan pemeriksaan barisan oleh Gunseikan yang kemudian dilanjutkan dengan pidato sambutan Gunseikan.
Zainul Arifin sebagai ketua Markas Tertinggi Hizbullah dan Wachid Hasyim sebagai ketua muda Masyumi juga ikut menyampaikan sambutan. Kedua tokoh Islam itu mengingatkan kepada pemuda Islam  peserta pendidikan akan pentingnya diselenggarakan latihan kemiliteran  untuk membela agama Islam dan cita-cita perjuangan bangsa.
Pemilihan Cibarusah sebagai tempat latihan semi miter Laskar Hizbullah karena dinilai tempat tersebut sangat strategis. Di antaranya adalah karena masih banyak hutan dan terletak tidak jauh dari pusat kekuasaan Jepang di Jakarta. Laskar Hizbullah dibentuk atas usulan 10 ulama besar di Jawa, untuk mengimbangi Laskar PETA (Pembela Tanah Air), tentara nasionalis bentukan Jepang tahun 1942. Meskipun antara PETA dan Hizbullah berbeda, kurikulum militernya disusun oleh orang yang sama, yaitu Kapten Yamazaki.
Pada masa itu, Masjid Al-Mujahidin KBC bukan hanya sebagai tempat ibadah saja, tetapi juga pusat komando dalam mengatur strategi. Dari Masjid ini KH Zainul Arifin, yang merupakan seorang tokoh muda yang ketika itu menjabat sebagai konsul NU di Jakarta, mengobarkan semangat anak muda khususnya kaum santri pesantren untuk menjadi garda terdepan perjuangan melawan penjajah. Dalam rapat Masyumi Banten 15 Januari 1945, KH Zainul Arifin menyampaikan pidato yang kutipannya begitu terkenal berbunyi, “Hanya dengan adanya pemuda-pemuda yang berani berjuang, keluhuran bangsa dapat tercapai.”
Pembinaan Hizbullah dipercayakan kepada Masyumi, sedangkan latihannya dilaksanakan oleh Kapten Yamazaki. Pusat latihan Hizbullah dikelola oleh Markas Tertinggi Hizbullah yang dipimpin oleh KH Zainul Arifin, Konsul NU di Jakarta. Anggotanya meliputi Abdul Mukti, Konsul Muhammadiyah Madiun, Ahmad Fathoni, Muhammad Syahid, Amir Fattah, Prawoto Mangkusasmito, dan KH Mukhtar. Adapun penanggung jawab politik adalah KH A. Wahid Hasyim, didampingi KH Abdul Wahab Hasbullah, Ki Bagus Hadikusumo, KH Masykur, Mr. Mohammad Roem, dan Anwar Tjokroaminoto.
Latihan semi-militer Hizbullah diselenggarakan masing-masing selama dua bulan di Cibarusah, Bogor (sejak 1950 Cibarusah dimasukkan ke dalam wilayah Kabupaten Bekasi). Pada angkatan pertama latihan, diikuti 150 pemuda yang dikirim dari tiap keresidenan di seluruh Jawa dan Madura. Masing-masing keresidenan sebanyak lima pemuda. Jumlah anggota Hizbullah diperkirakan mencapai 50 ribu orang.

Masjid Asy-Syuro Pusat Perjuangan Islam Masyarakat Garut Masa Penjajahan

Di Garut Jawa Barat terdapat sebuah masjid tua yang hingga saat ini masih kokoh berdiri. Namanya Masjid Cipari atau yang lebih dikenal nama Masjid Asy-Syuro atau Masjid Perjuangan. Uniknya, masjid ini tidak mirip bangunan mesjid pada umumnya melainkan mirip gereja. Ciri bangunan masjid hanya terdapat pada kubah dan menaranya. Masjid Cipari ini juga memiliki sejarah perjuangan karena dulu digunakan sebagai basis perjuangan rakyat.
Masjid Asy-Syuro terletak di Komplek Pesantren Cipari kampung Cipari Desa Sukarasa Kecamatan Pangatikan Garut. Yang membuat bangunan masjid ini sangat mirip dengan gereja, selain bentuk bangunannya yang memanjang dengan pintu utama persis di tengah-tengah, juga keberadaan menaranya terletak di ujung bangunan tepat di atas pintu utama. Posisi menara dan pintu utama menjadikan bagian mesjid ini sangat sinergi dan tampak luas.
Begitu juga di dalamnya. Yang menandakan bahwa bangunan ini masjid hanyalah keberadaan ruang mihrab-nya berupa penampilan yang menempel di dinding arah kiblat, sementara ruang shalatnya semuanya mirip ruang kelas yang dapat dimasuki dari pintu sebelah utara dan selatan atau dari pintu timur.
Masjid Cipari dibangun pada tahun 1895 dan selesai tahun 1934. Masjid yang diyakini sebagai masjid tertua di Garut tersebut, dulunya pernah digunakan sebagai basis perjuangan oleh beberapa tokoh pejuang. Di dalamnya sering digunakan tempat rapat untuk merencanakan strategi perjuangan. Masjid Asy-Syuro juga menjadi tempat pengungsian warga dan benteng pertahanan pada masa perang kemerdekaan. 1
Di atas menara yang tingginya mencapai 20 meter, terdapat lubang peluru karena dulunya dipasang senjata untuk menyerang musuh yang datang. Menara ini juga berfungsi untuk memantau keadaan perkampungan sekitar.2
Pada masa itu sawah dan kebun benar-benar penghias masjid yang memiliki banyak lubang persembunyian (bungker). Masjid tersebut bahkan juga dijadikan tempat penyimpan senjata api karena Pesantren Cipari kala itu memiliki dua batalyon tentara santri. Pada masa perlawanan terhadap penjajah Belanda, bangunan bertembok tebal itu menjadi benteng pertahanan sekaligus tempat pengungsian warga Cipari. Menara masjid yang berlantai empat cukup strategis untuk mengintai dan dijadikan tempat para santri pejuang menempatkan senapan mesin untuk menghalau serangan musuh. Bukti adanya pertempuran kala itu setidaknya terlihat dari adanya beberapa lubang bekas tembusan peluru di beberapa bagian menara masjid. 3
Masjid ini pun kerap digunakan sebagai tempat untuk latihan perang, pertahanan, bahkan dapur umum para pejuang kemerdekaan. Saat  Agresi Belanda ke-2, di bawah komando KH Abdul Qudus dan KH Yusuf Tauzirie, masyarakat di wilayah Garut timur dipersatukan dalam laskar Hizbullah, yang di antara angggotanya kemudian menjadi bagian dari tentara Siliwangi.4
Satu hal penting dalam sejarah perjalanan masjid itu ialah perannya yang tidak terpisahkan dari keberadaan Sarekat Islam. Bahkan tokoh sekaliber Mohamad Roem dan HOS Cokroaminoto konon kerap berkunjung ke masjid tersebut. Pesantren Cipari dengan masjidnya yang terletak di tengah-tengah sawah dan kebun itu ternyata juga pernah dipakai untuk Muktamar Sarekat Islam se-Indonesia pada tahun 1933-1934. Kala itu, di sekitar masjid ada taman dengan pepohonan rindang dan tanaman bunga yang indah.5
Pesantren Cipari kala itu dipimpin KH Yusuf Toauzirie yang meneruskan tugas ayahnya, KH Haramaen, selaku pendiri pesantren. Pesantren tersebut memiliki peran yang tidak bisa diabaikan dalam dunia pergerakan kemerdekaan pada masa itu. Ulama dari pesantren ini memiliki pengaruh yang tidak kecil di Jawa Barat. Barangkali perannya yang sentral dalam perjuangan itulah yang menyebabkan banyak santri dari berbagai penjuru Nusantara berdatangan untuk belajar di pesantren itu.
Pesantren  terus berkembang. Ditambah lagi ditunjang oleh penghapusan ordonansi sekolah luar oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tanggal 13 Februari 1932 akibat penentangan berbagai organisasi nasional dan Islam, seperti Budi Utomo, Muhamadiyah, PNI, PSII, dan yang lainnya.
Memasuki era perang kemerdekaan,  Pesantren Cipari memainkan peranannya. Para santri di sana  dididik sebagai pejuang, selain belajar ilmu agama karena pesantren ini menjadi salah satu satu pesantren dari organisasi perjuangan Syarikat Islam.
Kini Pesantren Cipari masih menjadi tempat untuk belajar, khususnya mengaji dan belajar agama. Sebanyak 200 santri di pesantren itu selain mengaji di pesantren, juga bersekolah di madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah, dan madrasah diniyah. Selain itu, ada pula kelas khusus tahfidz (menghafal) al-Quran. Semangat para pendahulu yang mengaji di Pesantren Cipari sambil memanggul senjata melawan penjajah selalu diceritakan kepada para santri. []
Catatan kaki:
1         http://news-gemanis.blogspot.com/2012/07/berita-86_04.html2         http://www.berita86.com/2012/07/masjid-tua-cipari-yang-bersejarah-dan.html3         http://cisitoe.blogspot.com/2008/11/masjid-assyuro-benteng-pertahanan-di.html4         http://wisataohhwisata.blogspot.com/2012/07/masjid-berasitektur-art-deco-di-garut.html5         http://m.news.viva.co.id/news/read/429372-melihat-masjid-assyuro—benteng-masa-penjajahan

Masjid Raya Ganting:Saksi Perjuangan Masyarakat Minangkabau

Membaca sejarah perkembangan Islam di tanah Minang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan dan peran strategis Masjid Raya Ganting. Masjid yang terletak di Jalan Ganting 3, Kelurahan Ganting Pasra Gadang, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, merupakan bangunan ibadah tertua di wilayah Sumatra Barat. Masjid ini didirikan pada tahun 1810 atas kerjasama tiga ulama dan saudagar di Padang (Gapuak, Syaikh Haji Uma, Syaikh Kepala Kota), pemerintah Belanda serta saudagar China. Gapuak merupakan saudagar di Pasar Gadang, Syaikh Haji Uma berfungsi sebagai pimpinan kampung, sementara Kepala Kota merupakan ulama yang sangat berpengaruh.1
Peran strategis masjid ini, selain dipakai tempat peribadatan sebagaimana umumnya masjid, juga menjadi basis perjuangan umat Islam dalam mengembangkan syiar Islam dan melawan penjajah. Sebelum Perang Padri, tepatnya pada 1918, para ulama Minangkabau menggelar pertemuan di Masjid Raya Ganting. Mereka membahas langkah-langkah yang akan ditempuh untuk memurnikan ajaran Islam dari pemahaman mistik dan khurofat. 2
Pada 1921, Syaikh H. Karim Amarullah (1879-1945), ayah Prof. Haji Abdul Karim Amarullah (Hamka), tokoh pembaruan Islam, mendirikan Madrasah Sumatera Thawalib di Padangpanjang. Sebagaimana di kota lain, tahun berikutnya, madrasah serupa berdiri di Masjid Raya Ganting. Alumni sekolah inilah yang kemudian mendirikan Persatuan Muslimin Indonesia, yang menjadi cikal-bakal Partai Masyumi.3
Pada perkembangannya, Masjid Raya Ganting tidak hanya dijadikan sebagai pusat syiar Islam di Minang. Masjid tersebut juga pernah menjadi markas besar Gyugun (perwira militer yang anggotanya terdiri dari alim ulama) dan Heiho (pasukan pembela tanah air yang prajuritnya berasal dari santri) untuk wilayah Sumatera Barat dan Tengah. Selama pendudukan Jepang (1942-1945), Masjid Raya Ganting menjadi basis pembinaan prajurit Gyugun dan Hei Ho. Kala Jepang kalah, Sekutu masuk membawa Gurka, tentara sewaan Inggris, dan bermarkas di Balai Kota Padang. Terjadi perkelahian antara Gurka India yang Muslim dan non-Muslim. Yang Muslim tewas. Para pemuda Ganting menerobos masuk ke kamp Sekutu, membawa jenazah korban ke masjid. Jenazah dimandikan dan disalatkan, lalu dimakamkan di halaman belakang masjid. Simpati pada aksi itu, seluruh Gurka dari India Muslim membelot. Menggunakan truk militer, mereka bergabung ke markas Tentara Rakyat Indonesia (TRI) di Masjid Raya Ganting. Atas bantuan mereka pula, TRI melumpuhkan serangan Sekutu di Ulugadut, dekat pabrik semen Indarung.4
Dari masjid tersebut mereka mengatur strategi penyerangan mempertahankan kemerdekan. Peristiwa penyerangan ke Tangsi (barak, asrama) militer Inggris dari Kesatuan Gurkha juga diatur dari masjid Ganting.
Ketika Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942, saat itu Soekarno yang ditahan Belanda di Bengkulu diungsikan oleh Belanda ke Kota Cane (Aceh). Namun, ketika rombongan pasukan Belanda baru sampai di Painan, tentara Jepang sudah sampai di Bukittinggi. Belanda mengubah rencana semula dengan mengungsi ke Barus dan meninggalkan Bung Karno di Painan.
Selanjutnya oleh Hizbul Wathan yang bermarkas di Masjid Raya Ganting saat iru, Bung Karno dijemput ke Painan untuk dibawa ke Padang dengan menggunakan kendaraan pedati. Selama beberapa hari Soekarno menginap di rumah Pengurus Masjid Raya Ganting. Beberapa hari kemudian Bung Karno dibawa ke Padang. Jepang menemui Syaikh Abbas Abdullah, pimpinan Madrasah Darul Funuun El-Abbasyi di Kabupaten 50 Kota untuk membahas dasar-dasar negara Indonesia sebagai langkah persiapan untuk kemerdekaan negara Indonesia.5
Selain peran penting di atas, Masjid Ganting juga berperan dalam pemberangkatan jama’ah haji di jaman penjajahan Belanda. Masjid Raya Ganting pernah menjadi tempat embarkasi haji, tepatnya embarkasi haji pertama untuk wilayah Sumatra bagian tengah. Fungsi sebagai embarkasi haji mulai dijalankan masjid ini pada 1885. Di sini, para calon jamaah haji mendapat bimbingan manasik haji sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci melalui pelabuhan Emmahaven atau yang kini dikenal sebagai Teluk Bayur. 6
Orang pertama yang memberikan bimbingan manasik haji di masjid Raya Ganting adalah Syaikh Abdul Hadi. Beliau berasal dari Arab Saudi. Konon, Syaikh Abdul Hadi sempat bermukim di Minang dalam waktu lama dan menikah dengan wanita Minang.
Pengangkutan jamaah haji melalui pelabuhan Teluk Bayur memang sangat tinggi saat itu. Begitu juga pengangkutan batubara, hasil perkebunan dan barang dagangan lainnya. Bagi Belanda, pelabuhan ini tak kalah penting dengan Tanjung Priok untuk menghubungkan daratan Hindia Belanda dengan berbagai tempat tujuan dagang di sekitar Samudra Hindia, Laut Merah dan Teluk Persia[]
Catatan kaki:1       http://ramadan.okezone.com/read/2008/09/04/67/142884/redirect2       http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/12/10/29/mcnn7s-masjid-raya-ganting-embarkasi-pertama-di-sumatra-tengah-23       http://arsip.gatra.com/2005-10-31/majalah/artikel.php?pil=23&id=897944       Ibidem.5                 http://www.padangtourism.info/index.php?tourism=destinations&id=596       http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/12/10/29/mcnm25-masjid-raya-ganting-embarkasi-pertama-di-sumatra-tengah-1

Masjid Baiturrahman: Saksi Pergolakan Rakyat Aceh Mempertahankan Syariah


Masjid Baiturrahman telah menjadi simbol Aceh. Menelusuri sejarah masjid yang berada di jantung kota Banda Aceh ini ibarat melihat perjalanan bumi Serambi Makkah. Mulai dari masa Kesultanan, perlawanan terhadap penjajahan Belanda hingga bencana tsunami, rumah ibadah ini menyaksikan semuanya.
Masjid ini sudah berada di tengah kota Banda Aceh sejak zaman Kesultanan . Masjid ini didirikan pada abad 17, yakni pada masa kejayaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda. NamaBaiturrahman, menurut catatan sejarah, diberikan oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu masjid ini menjadi salah satu pusat pengembangan ajaran Islam wilayah kerajaan Aceh.1
Selain sebagai tempat ibadah, pada masa penjajahan, Masjid Raya Baiturrahman berfungsi sebagai markas pertahanan terhadap serangan kompeni. Fungsi tersebut mulai terasa semasa pemerintahan Sultan Alaidin Mahmud Syah (1870-1874). Di masjid ini, sering pula diadakan musyawarah besar untuk membicarakan strategi penyerangan dan kemungkinan serangan tentara Belanda terhadap Kesultanan Aceh.2
Saat Pemerintah Hindia Belanda menancapkan kekuasaannya di Bumi Aceh pada 1873, Kesultanan Aceh di bawah kepemimpinan Sultan Alaidin Mahmud Syah menolak mentah-mentah kedaulatan pemerintahan penjajah tersebut. Penolakan ini membuat pihak Belanda tersinggung dan murka. Buntutnya, Pemerintah Hindia Belanda memaklumatkan perang terhadap Kesultanan Aceh.
Karena posisinya yang sangat penting dan strategis, tidak pelak Masjid Raya Baiturrahman menjadi ajang perebutan. Tercatat dalam sejarah, dua kali masjid kebanggaan kaum Muslim di Tanah Rencong ini dibakar Belanda. Pertama: pada 10 April 1873, yaitu ketika pasukan Belanda melakukan serangan besar-besaran sebagai upaya balas dendam atas kekalahan mereka. Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Pada 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler. Belanda langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Köhler saat itu membawa 3.198 tentara. Sebanyak 168 di antaranya para perwira.
Dalam serangan besar itu, Masjid Raya Baiturrahman tidak saja berhasil direbut, bahkan kemudian dibakar sebagian. Pada saat itu terjadi pertempuran besar: tentara Aceh melawan tentara Belanda. Gugurlah perwira tinggi Belanda bernama Kohler. Pertempuran di masjid ini dikenang lewat pembangunan Prasasti Kohler pada halaman masjid. Letak prasasti ada di bawah pohon Geuleumpang, yang tumbuh di dekat salah satu gerbang masjid.
Kedua: pada 6 Januari 1874. Meskipun masjid ini dipertahankan mati-matian oleh seluruh rakyat Aceh, karena keterbatasan dan kesederhanaan persenjataan, akhirnya rakyat Aceh harus merelakan masjidnya jatuh ke tangan musuh. Tidak hanya direbut, kali ini pihak penjajah membakar habis bangunan Masjid Raya Baiturrahman. Saat bersamaan, Belanda juga mengumumkan bahwa Kesultanan Aceh sudah berhasil ditaklukkan dan berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda.
Namun, untuk mengambil hati rakyat Aceh, Pemerintah Hindia Belanda berjanji akan membangun kembali masjid yang telah hancur itu. Peletakan batu pertama pembangunan kembali masjid dilakukan tahun 1879 oleh Tengku Malikul Adil, disaksikan oleh Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh saat itu, G. J. van der Heijden.3
Belanda dalam upayanya ‘menundukkan dan meredam’ pergolakan perjuangan masyarakat Aceh menggunakan berbagai macam taktik. Salah satunya, taktik perang gerilya Aceh ditiru oleh Van Heutz. Saat itu dibentuk pasukan maréchaussée yang dipimpin oleh Christoffel dengan pasukan Colone Macan. Pasukan ini telah mampu menguasai pegunungan-pegunungan, hutan-hutan rimba raya Aceh untuk mencari dan mengejar gerilyawan-gerilyawan Aceh.
Taktik Belanda berikutnya adalah penculikan anggota keluarga gerilyawan Aceh. Misalnya, Christoffel menculik permaisuri Sultan dan Tengku Putroe (1902). Van der Maaten menawan putra Sultan Tuanku Ibrahim. Akibatnya, Sultan menyerah pada tanggal 5 Januari 1902 ke Sigli dan berdamai. Van der Maaten dengan diam-diam menyergap Tangse kembali. Panglima Polim dapat meloloskan diri, tetapi sebagai gantinya ditangkap putra Panglima Polim, Cut Po Radeu, saudara perempuannya dan beberapa keluarga terdekatnya.
Akibatnya, Panglima Polim meletakkan senjata dan menyerah ke Lhokseumawe pada Desember 1903. Setelah Panglima Polim menyerah, banyak penghulu-penghulu rakyat yang menyerah mengikuti jejak Panglima Polim. Taktik selanjutnya, pembersihan dengan cara membunuh rakyat Aceh yang dilakukan di bawah pimpinan Gotfried Coenraad Ernst van Daalen yang menggantikan Van Heutz. Seperti pembunuhan di Kuta Reh (14 Juni 1904) yang menewaskan 2.922 orang, terdiri dari 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan.
Taktik terakhir, menangkap Cut Nyak Dhien, istri Teuku Umar, yang masih melakukan perlawanan secara gerilya. Akhirnya, Cut Nya Dien dapat ditangkap dan diasingkan ke Cianjur.
Selama Perang Aceh, Van Heutz telah menciptakan surat pendek (Korte Verklaring, Traktat Pendek) tentang penyerahan yang harus ditandatangani oleh para pemimpin Aceh yang telah tertangkap dan menyerah. Surat pendek penyerahan diri itu berisikan: Raja (Sultan) mengakui daerahnya sebagai bagian dari daerah Hindia Belanda; Raja berjanji tidak akan mengadakan hubungan dengan kekuasaan di luar negeri, berjanji akan mematuhi seluruh perintah-perintah yang ditetapkan Belanda. Perjanjian pendek ini menggantikan perjanjian-perjanjian terdahulu yang rumit dan panjang dengan para pemimpin setempat.

Mujahid Kalimantan Demang Lehman, Yang Paling Ditakuti Penjajah Belanda



Kalau orang sekarang mengucapkan nama Demang Lehman, maka pasti merujuk kepada Stadion Sepak Bola markas Barito Putra yang bertempat di Banjarbaru, Kalsel. Karena itulah, para pendukung Barito Putra menamapkan klubnya dengan nama Askar Demang Lehman. Sementara nama Demang Lehman sebagai nama jalan dan tempat.


Kisah penangkapan Demang Lehman oleh Belanda menginspirasi Adjim Ariyadi untuk membuat drama berjudul Pewaris Haram Manyarah. Karya drama ini ditampilkan dalam pergelaran Pengembangan Ruang Kreatif 2014 dan Ulang Tahun ke 47 Sanggar Budaya Kalsel di Balairungsari Taman Budaya Kalimantan Selatan, Jumat (7/11/2014). Semangat Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing dikobarkan Pangeran Antasari di masa perang Banjar melawan penjajah Belanda.

Sebetulnya kisah perjuangan Demang Lehman patut diangkat ke layar lebar, sebab selain untuk memupuk jiwa patriotis bangsa kita, perjuangan Demang Lehman sangat heroik dan sangatlah filmis dengan pemandangan Kalimantan yang mempesona. Di situ juga dimasukkan unsur adat, agama, budaya, dan filsafat yang dijunjung tinggi rakyat Kalimantan. Saya perkirakan, filmnya tidak akan kalah dengan film Tjoet Njak Dhien, asal dibuat dengan professional.

      Tapi siapa sebenarnya Demang Lehmah? Demang Lehman yang kemudian bergelar Kiai Adipati Mangku Negara lahir di Barabai tahun 1832, adalah salah seorang panglima perang dalam Perang Banjar. Dialah mujahid yang perjuangannya sangat tangguh dan karena itu Belanda begitu dendam kusumat kepadanya. Ketika tertangkap Belanda, penjajah menggantung dirinya di tengah Alun-alun Martapura pada 27 Februari 1864. Kemudian ketika sudah meninggal, Belanda dengan kejam memotong kepalanya, dan menyimpannya di Museum Leiden di Belanda hingga kini. Sampai sekarang pun Pemda Kalsel tidak berhasil membawa tengkorak kepalanya. Sungguh suatu penghinaan yang belum tuntas!

      Demang Lehman terlahir dengan nama Idies. Gelar Kiai Demang merupakan gelar untuk pejabat yang memegang sebuah lalawangan (distrik) di Kesultanan Banjar. Semula dia seorang panakawan (ajudan) dari Pangeran Hidayatullah II sejak tahun 1857. Karena kesetiaan dan kecakapan serta besarnya jasa sebagai panakawan Pangeran Hidayatullah II, dia diangkat menjadi Kiai sebagai lalawangan/kepala Distrik Riam Kanan (tanah lungguh Pg. Hidayatullah II). Demang Lehman dihadiahi pusaka kerajaan Banjar yaitu Keris Singkir dan sebuah tombak bernama Kalibelah yang berasal dari Sumbawa.

      Pada awal tahun 1859 Nyai Ratu Komala Sari, permaisuri almarhum Sultan Adam, telah menyerahkan surat kepada Pangeran Hidayatullah II, bahwa kesultanan Banjar diserahkan kepadanya, sesuai dengan surat wasiat Sultan Adam. Selanjutnya Pangeran Hidayat mengadakan rapat-rapat untuk menyusun kekuatan dan memberi bantuan kepada Tumenggung Jalil (Kiai Adipati Anom Dinding Raja) berupa 20 pucuk senapan. Sementara itu Pangeran Antasari dan Demang Lehman mendapat tugas yang lebih berat yaitu mengerahkan kekuatan dengan menghubungi Tumenggung Surapati dan Pembakal Sulil di daerah Barito (Tanah Dusun), Kiai Langlang dan Haji Buyasin di daerah Tanah Laut.

      Perlawanan rakyat terhadap Belanda berkobar di daerah-daerah di bawah pimpinan Pangeran Antasari yang berhasil menghimpun pasukan sebanyak 3.000 orang dan menyerbu pos-pos Belanda. Pos-pos Belanda di Martapura dan Pengaron diserang oleh pasukan Antasari pada tanggal 28 April 1859. Di samping itu, kawan-kawan seperjuangan Pangeran Antasari juga telah mengadakan penyerangan terhadap pasukan-pasukan Belanda yang dijumpai. 


Pada saat pangeran Antasari mengepung benteng Belanda di Pengaron, Demang Lehman dengan pasukannya telah bergerak di sekitar Riam Kiwa dan mengancam benteng Belanda di Pengaron. Pada 30 Juni 1859 bersama dengan Haji Nasrun, dia dan pasukannya menyerbu pos Belanda yang berada di istana Martapura. Pada Agustus 1859 bersama Haji Buyasin dan Kiai Langlang, Demang Leman berhasil merebut benteng Belanda di Tabanio.


      Pada 27 September 1859 pertempuran terjadi juga di benteng Gunung Lawak yang dipertahankan Demang Leman dan kawan-kawan. Dalam pertempuran ini kekuatan pasukannya ternyata lebih kecil dibandingkan dengan kekuatan musuh, sehingga dia terpaksa mengundurkan diri. Karena rakyat berkali-kali melakukan penyerangan gerilya, akhirnya Belanda merusak dan meninggalkan benteng itu. Sewaktu meninggalkan benteng, korban masih muncul di pihak Belanda karena mendapat serangan dari pasukan Demang Leman yang aktif melakukan perang gerilya di daerah sekitarnya.

      Pada awal Perang Banjar, akhir April 1859, Demang Lehman memimpin kekuatan dan penggempuran di sekitar Martapura dan Tanah Laut, bersama-sama Kiai Langlang dan Penghulu Haji Buyasin. Selanjutnya dia diperintahkan mempertahankan kota Martapura, karena pusat pemerintahan Kerajaan oleh Pangeran Hidayat dipindahkan ke kota Karang Intan. Bersama-sama Pangeran Antasari, Demang Lehman menempatkan pasukan di sekitar Masjid Martapura dengan kekuatan 500 orang dan sekitar 300 orang di sekitar Keraton Bumi Selamat.

      Pada akhir 1859 pasukan rakyat yang dipimpin Demang Lehman, Pangeran Antasari, Tumenggung Antaluddin, Pambakal Ali Akbar berkumpul di benteng Munggu Dayor. Dia terlibat dalam pertempuran sengit di sekitar Munggu Dayor. Belanda menilai tentang Demang Lehman sebagai musuh yang paling ditakuti dan paling berbahaya dan menggerakkan kekuatan rakyat sebagai tangan kanan Pangeran Hidayat. Demang Lehman menyerbu Martapura dan melakukan pembunuhan terhadap pimpinan militer Belanda di kota Martapura.

Pihak Belanda memperoleh informasi bahwa rakyat telah berkumpul di Sungai Paring hendak menyerbu benteng Amawang. Dengan dasar informasi ini, pasukan Belanda dibawah pimpinan Munters membawa 60 orang serdadu dan sebuah meriam menuju Sungai Paring. Saat pasukan tersebut keluar dan diperkirakan sudah mencapai Sungai Paring, Demang Lehman menyerbu benteng Amawang pada sekitar jam 02.00 siang hari tanggal 31 Maret 1860, dengan 300 orang pasukannya Demang Lehman menyerbu benteng tersebut. Ketika pasukan Demang Lehman menyerbu, kedua orang kepercayaan yang menjadi buruh dalam benteng tersebut mengamuk dan menjadikan serdadu Belanda menjadi kacau dibuatnya.

Kedua orang yang mengamuk tersebut tewas dalam benteng dan sementara itu pertempuran sengit terjadi. Pasukan Munters ternyata kembali ke benteng sebelum sampai di Sungai Paring. Datangnya bantuan kekuatan ini, menyebabkan Demang Lahman dan pasukannya mundur. Demang Lehman mundur di sekitar Sungai Kupang dan Tabihi bersama Pangeran Muhammad Aminullah dan Tuan Said. Pasukan Belanda menyusul ke Tabihi dan terjadi pertempuran. dalam pertempuran itu komandan pasukan Belanda Van Dam van Isselt tewas dan beberapa orang serdadu menjadi korban keganasan perang.

SYECH YUSUF AL MAKASSARI TOKOH ULAMA TASAWUF DAN PEJUANG

Cikal bakal pendekar pendekar Banten yang terkenal sakti tak lepas dari upaya Syech Yusuf al makasari. Ulama kelahiran Bugis Makasar ini lama menetap di Banten dan menjadi Kaki tangan Sultan Ageng Tirtayasa berjuang bersama dalam mensyiarkan Islam dan melawan Penjajahan belanda. Sekitar tahun 1670 sekembalinya dari timur tengah Syech Yusuf al makasari tinggal di banten dan menikah dengan Putri Sultan Ageng Tirtayasa. Kedalaman ilmu yang dimiliki Syeck Yusuf menjadikan Beliu begitu cepat terkenal dan menjadikan Banten sebagai Pusat pendidikan Islam. Banyak Murid murid yang berdatangan dari berbagai penjuru negri untuk belajar kepada Syech Yusuf . 

Disamping mengajarkan tentang ilmu-ilmu syariat beliau juga mengajarkan ilmu beladiri untuk berjuang bersama melawan penjajah Belanda.
Putra Bugis sulawesi lahir di tallo 13 jui 1627 ,Ayahnya bernama Abdulloh dan ibunya bernama Aminah, sejak kecil di didik dalam lingkungan yang islami belajar kepada ulama-ulama setempat namun yang menarik perhatiaannya adalah kecintaannya untuk memperdalam ilmu tasawuf. Menginjak remaja beliau belajar kepada seorang ulama terkenal di Makasar bernama Syech Jalaludin al aidit. Tahun 1644 Syech yusuf dengan menumpang kapal melayu belayar menuju Timur tengah untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Di Damaskus beliau berguru kepada Syech Abu al barkah dan gurunya tersebut yang memberi nama  syech yusup dengan “Al makasari” serta memberikan ijazah Tarekat Khalwati kepadanya. DI samping belajar syech yusul al makasri juga mengajar di Mekkah kepada santri-santri yang berasal dari indonesia . Konsep tasawuf yang di ajarkan Syech Yusuf tentang Pemurnian kepercayaan pada keesaan Tuhan sangat menarik minat pelajar-pelajar yang berada di Mekkah . 

Menurut Syech Yusuf bahwa Tauhid adalah komponen penting dalam ajaran Islam maka bagi yang tidak percaya tentang tauhid dikategorikan sebagai kafir. Hakekat Tuhan sendiri menurut Syech Yusuf adalah kesatuan dari sifat-sifat yang saling bertentangan  dan tak seorangpun dapat memahami  Sirr ( rahasia) kecuali mereka yang telah di beri Kasyaf oleh Tuhan. Beliau menegaskan bahwa seseorang yang mengamalkan Syariat itu lebih baik daripada orang yang mengamalkan Tasawuf  tapi mengabaikan ajaran Hukum Islam.

Selama Menetap di banten Syech Yusuf al makassari menjabat sebagai Penasehat Spritual Sultan Ageng Tirtayasa, pengaruhnya terhadap masyarakat banten untuk melawan Penjajah Belanda sangat ditakutkan oleh belanda, apalagi Murid -murid Syech yusuf Al makassari terkenal sebagai pendekar pendekar Banten yang kebal terhadap Senjata membuat Pasukan Belanda kalang kabut. Maka tehnik licik belandapun dilakukannya dengan memecah belah serta mengadu domba terhadap keluarga Sultan. Hasutan-hasutan Belanda terhadap putra Sultan Ageng tirtayasa yang bernama Sultan Haji rupanya telah berhasil. Dengan dukungan militer Belanda Sultan Haji Putra Sultan Ageng bertempur dengan Ayahnya Sendiri Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam pertempuran tersebut Syech Yusuf di tawan Belanda dan diasingkan ke Pulau Ceylon ( srilangka) . 

Di pengasingannya beliu bertemu dengan Ulama Sri langkah bernama Syech Ibrahim bin mi’an dan sering mengadakan diskusi kegamaan dan majlis ta’lim . Pembahasan tentang konsep Tasawuf yang diajarkan oleh Syech Yusuf sangat menarik minta para ulama serta jama’ah setempat dan mereka meminta kepada Syech Yusuf untuk membuat sebuah Kitab tentang Tasawuf. Dan Syech yusufpun akhirnya mengarang Kitab tentang Konsep tawasuf yang berjudul “kaypiyyah At tasawuf”. Rupanya Belanda tak mau kecolongan lagi dengan pengaruh – pengaruh Syech Yusuf sehingga  Syech yusufpun kembali di asingkan ke Afrika Selatan  sampai akhir hayatnya. Syech yusuf al makassari wafat tahun 1699 dalam usia 72 tahun dan di makamkan di Afrika selatan. Dan yang menarik adalah sekitar tahun 1705 kerangka Syech yusuf Al makassari yang di makamkan di afrika selatan di pindahkan oleh murid-murid beliau ke Tanah kelahirannya di Sulawesi selatan.

Syaikh Zainuddin Abdul Madjid, Ulama Kharismatik dan Jenius dari Pulau Lombok


Para pembaca mungkin masih asing mendengar nama Syaikh Zainuddin Abdul Madjid. Tetapi coba anda berkunjung ke Pulau Lombok (sebuah pulau kecil dan indah yang sering dijuluki Pulau Seribu Masjid), kemudian menanyakan nama itu kepada orang asli Lombok, pastilah semua orang yang anda tanya akan kenal sekali dengan nama itu. Terutama di kalangan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pejabat. Apalagi jika pembaca atau wartawan bertanya kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini. Mengapa? Simak terus tulisan ini untuk mendapatkan jawabannya.
Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah seorang tokoh terkenal di Pulau Lombok bahkan Nusa Tenggara Barat. Di pulau Lombok, sebutan syaikh lebih dikenal dengan sebutanTuan Guru. Tuan Guru ini identik dengan Kyai di Jawa. Sehingga di depan nama Beliau ini biasanya dituliskan singkatan TGKH (Tuan Guru Kyai Haji). Sehingga dalam penulisan nama Beliau di berbagai tempat secara lengkapnya adalah TGKH Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Profil Beliau juga bisa kita pelajari lebih lengkap melalui ensiklopedia wikipedia.org, seperti yang tertulis berikut ini:Maulana al-Syaikh Tuan Guru Kyai Hajji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (disingkat menjadi Hamzanwadi = Hajji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah) lahir di desa Pancor, Lombok Timur, 5 Agustus 1898 – meninggal di tempat yang sama pada 21 Oktober 1997 Masehi / 19 Jumadil Tsani 1418 Hijriah dalam usia 99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriah. Beliau adalah pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi massa Islam yang terbesar di provinsi Nusa Tenggara Barat / NTB.
Pendidikan Agama di Makkah Al Mukarromah
Pendidikan dasar Beliau diselesaikan di Kampung Bermi Desa Pancor, Kabupaten Lombok Timur, NTB (tempat penulis tinggal saat ini). Saat Beliau berusia 15 tahun (tahun 1923 M), beliau dikirim oleh ayahandanya Tuan Guru Abdul Madjid untuk belajar agama di Makkah Al Mukarromah. Di Makkah, beliau belajar di Madrasah Ash Shaulatiyah yang dipimpin olehSyaikh Salim Rahmatullah. Selama belajar di madrasah, beliau dikenal memiliki prestasi akademik yang sangat istimewa. Beliau berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Dengan kecerdasan yang luar biasa, TGKH. Muhammad Zainuddin berhasil menyelesaikan studi dalam waktu hanya 6 tahun, padahal normalnya adalah 9 tahun. Dari kelas 2, diloncatkan ke kelas 4, kemudian loncat kelas lagi dari kelas 4 ke kelas 6, kemudian pada tahun-tahun berikutnya naik kelas 7, 8 dan 9. Beliau tamat dari Madrasah Shaulatiyah dengan predikat Mumtaz (summa cumlaude) dan ijazah Beliau ditulis langsung dengan oleh ahli khat terkenal di Mekah, yaituAl-Khathath al-Syaikh Dawud al-Rumani atas usul dari direktur Madrasah al-Shaulatiyah.
Perjuangan dan Dakwah
Sepulangnya Beliau dari Makkah pada tahun 1934, Beliau mendirikan Madrasah Al Mujahidin (1934 M), dan kemudian pada tahun 1937 mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan(disingkat NW). Madrasah inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya organisasai agama terbesar di NTB yaituPondok Pesantren Nahdlatul Wathan (NW), yang menjadi perintis dan penggerak sosial keagamaan di Lombok dan Sumbawa. Bahkan saat ini, murid-murid Beliau sudah banyak yang berdakwah dan mendirikan Madrasah NW di berbagai daerah di Indonesia seperti NTT, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Riau, Sulawesi, Kalimantan, bahkan sampai ke mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan lain sebagainya.
Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, madrasah NW menjadi penggerak dan markas perjuangan melawan penjajah. Beliau bersama adiknya Tuan Guru Haji Muhammad Faisal bertempur dan menyerbu tentara NICA di Kota Selong. Namun akhirnya adik Beliau gugur di medan pertempuran.
Pengabdian untuk Masyarakat dan Negara
Maulana Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah sosok ulama yang jenius, kharismatik, ikhlas, dan bersahaja. Beliau juga sangat berjasa untuk bangsa ini. Berikut ini jejak dan kiprah-kiprah beliau.
  • Pada tahun 1934 mendirikan pesantren al-Mujahidin
  • Pada tahun 1937 mendirikan Madrasah NWDI
  • Pada tahun 1943 mendirikan madrasah NBDI
  • Pada tahun 1945 pelopor kemerdekaan RI untuk daerah Lombok
  • Pada tahun 1946 pelopor penggempuran NICA di Selong Lombok Timur
  • Pada tahun 1947/1948 menjadi Amirul Haji dari Negara Indonesia Timur
  • Pada tahun 1948/1949 menjadi anggota Delegasi Negara Indonesia Timur ke Arab Saudi
  • Pada tahun 1950 Konsulat NU Sunda Kecil
  • Pada tahun 1952 Ketua Badan Penasehat Masyumi Daerah Lombok
  • Pada tahun 1953 mendirikan Organisasi Nahdlatul Wathan
  • Pada tahun1953 Ketua Umum PBNW Pertama
  • Pada tahun 1953 merestui terbentuknya partai NU dan PSII di Lombok
  • Pada tahun 1954 merestui terbentuknya PERTI Cabang Lombok
  • Pada tahun 1955 menjadi anggota Konstituante RI hasil Pemilu I (1955)
  • Pada tahun 1964 mendirikan Akademi Paedagogik NW
  • Pada tahun 1964 menjadi peserta KIAA (Konferensi Islam Asia Afrika) di Bandung
  • Pada Tahun 1965 mendirikan Ma'had Dar al-Qu'an wa al-Hadits al-Majidiyah Asy-Syafi'iyah Nahdlatul Wathan
  • Pada tahun 1972-1982 sebagai anggota MPR RI hasil pemilu II dan III
  • Pada tahun 1971-1982 sebagai penasihat Majlis Ulama' Indonesia (MUI) Pusat
  • Pada tahun 1974 mendirikan Ma'had li al-Banat
  • Pada Tahun 1975 Ketua Penasihat Bidang Syara' Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram (sampai 1997)
  • Pada tahun 1977 mendirikan Universitas Hamzanwadi
  • Pada tahun 1977 menjadi Rektor Universitas Hamzanwadi
  • Pada tahun 1977 mendirikan Fakultas Tarbiyah Universitas Hamzanwadi
  • Pada tahun 1978 mendirikan STKIP Hamzanwadi
  • Pada tahun 1978 mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Syari'ah Hamzanwadi
  • Pada tahun 1982 mendirikan Yayasan Pendidikan Hamzanwadi
  • Pada tahun 1987 mendirikan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
  • Pada tahun 1987 mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Hamzanwadi
  • Pada tahun 1990 mendirikan Sekolah Tinggi Ilamu Dakwah Hamzanwadi
  • Pada tahun 1994 mendirikan Madrasah Aliyah Keagamaan putra-putri
  • Pada tahun 1996 mendirikan Institut Agama Islam Hamzanwadi
Karya
Selain berdakwah secara langsung dengan berkeliling di seluruh NTB, beliau juga produktif menulis. Bahkan hingga saat ini, beberapa karya Beliau selalu diamalkan oleh kaum Nahdliyyin (pengikut NW) yang dibaca setiap malam Senin dan Jumat di kampung-kampung di sebagian besar wilayah Lombok.

Jejak Ulama dan Santri Madura dalam Resolusi Jihad

Ulama dan santri asal Madura ternyata juga berperan besar dalam sejarah pertempuran 10 November.
Pada 21 sampai 22 Oktober 1945 perwakilan organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) se-Madura ikut mendeklarasikan resolusi jihad yang dipimpin langsung oleh Rais Akbar NU, KH Hasyim Asy'ari.
Setelah resolusi jihad digelorakan, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. "Dua minggu kemudian meletuslah peperangan sengit, tepatnya pada 10 November antara para pahlawan pribumi, yang di dalamnya termasuk ribuan kiai dan santri, dengan penjajah," terang Ketua GP Ansor Kabupaten Bangkalan, KH Hasani Zubair Muntasyar.
Menurut Ra Hasani, sapaan akrabnya, pertempuran itu merupakan perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara. Dalam peperangan tersebut para pejuang Indonesia berhasil mengalahkan para penjajah.
"Sehingga sampai saat ini dikenal dengan Hari Pahlawan. Resolusi jihad merupakan bukti nyata atas komitmen NU untuk membela dan mempertahankan tanah air," ucapnya.
Jadi, sambung Ra Hasani, tidak perlu diragukan lagi komitmen NU dalam mempertahankan keutuhan NKRI. Ini terbukti dalam sejarah 10 November. Dimana para ulama dan santri rela mengorbankan jiwa dan raga untuk berperang melawan penjajah.

Manuskrip Ulama Nusantara Dijarah Penjajah

Sejak abad pertama Hijriyah, sahabat Nabi saw sudah melakukan penelitian terhadap naskah al-Qur’an sebelum dikodifikasikan. Para ulama hadits juga menetapkan sistem hak cipta buku, catatan kehadiran siswa, tata cara penulisan teks, metode periwayatan, sistem perbandingan antar teks dan banyak lagi. Ini mengharuskan para perawi dan pencatat hadits melakukan penelitian terhadap tulisan yang mereka temukan. Hingga kini, Studi Ilmu Hadits memiliki cabang rusum at tahdits yang menganalisa sistem filologi ilmu hadits sejak abad pertama Hijriyah dan periode berikutnya (Tesis Magister Dr M Luthfi Fathullah di University of Jordan tentang Filologi Hadits).
Karenanya, salah besar, jika menganggap Islam tak memiliki tradisi ilmu filologi. Seolah-olah ilmu ini dikembangkan Barat, khususnya antropolog dan arkeolog Belanda seperti Scouck Hurgronje. Filologi adalah ilmu yang mempelajari tentang naskah, khususnya naskah-naskah kuno. Islam memiliki tradisi ini, tapi tidak menyebut Ilmu Filologi. Hanya Islam yang melahirkan peradaban lengkap dengan ilmu pengetahuan yang melingkuinya.
Buktinya tradisi menulis di kalangan ulama sejak abad pertama Hijriyah hingga kini tetap terjalin. Ketika Islam masuk ke Nusantara, para ulama juga menuangkan pemikiran dengan menulis. Tulisan tangan asli para ulama yang disebut manuskrip, merupakan bukti sejarah perkembangan Islam di kawasan ini. Untuk mengetahui peran manuskrip Islam di Nusantara dalam penyebaran Islam, Dwi Hardianto dan Arief Kamaluddin dari Sabili mewawancarai DR H Uka Tjandrasasmita. Arkeolog Islam senior yang dimiliki bangsa ini menerima di rumahnya, kawasan Semplak, Kota Bogor, Kamis (19/6). Berikut petikannya:
Apa saja karya ulama di Nusantara yang masuk kategori manuskrip?
Yang dimaksud manuskrip adalah tulisan tangan asli yang berumur minimal 50 tahun dan punya arti penting bagi peradaban, sejarah, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Di Indonesia ada tiga jenis manuskrip Islam. Pertama, manuskrip berbahasa dan tulisan Arab. Kedua, manuskrip Jawi yakni, naskah yang ditulis dengan huruf Arab tapi berbahasa Melayu. Agar sesuai dengan aksen Melayu diberi beberapa tambahan vonim. Ketiga, manuskrip Pegon yakni, naskah yang ditulis dengan huruf Arab tapi menggunakan bahasa daerah seperti, bahasa Jawa, Sunda, Bugis, Buton, Banjar, Aceh dan lainnya.
Contoh manuskrip Islam yang berpengaruh di Nusantara?
Di Aceh, pada abad 16–17 terdapat cukup banyak penulis manuskrip. Misalnya, Hamzah Fansuri, yang dikenal sebagai tokoh sufi ternama pada masanya. Kemudian ada Syekh Nuruddin ar-Raniri alias Syeikh Nuruddin Muhammad ibnu ‘Ali ibnu Hasanji ibnu Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisyi. Ia dikenal sebagai ulama yang juga bertugas menjadi Qadhi al-Malik al-Adil dan Mufti Muaddam di Kesultanan Aceh pada kepemimpinan Sultan Iskandar Tsani abad 16. Salah satu karyanya yang terkenal berjudul ”Bustanul Salatin.” Syeikh Abdul Rauf al-Singkili yang juga ditetapkan sebagai Mufti dan Qadhi Malik al-Adil di Kesultanan Aceh selama periode empat orang ratu, juga banyak menulis naskah-naskah keislaman.
Karya-karya mereka tidak hanya berkembang di Aceh, tapi juga berkembang seluruh Sumatera, Semenanjung Malaka sampai ke Thailand Selatan. Karya-karya mereka juga mempengaruhi pemikiran dan awal peradaban Islam di Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, kepulauan Maluku, Buton hingga Papua. Sehingga di daerah itu juga terdapat peninggalan karya ulama Aceh ini. Perkembangan selanjutnya, memunculkan karya keislaman di daerah lain seperti, Kitab Sabilal Muhtadin karya Syekh al Banjari di Banjarmasin. Di Palembang juga ada. Di Banten ada Syekh al Bantani yang juga menulis banyak manuskrip. Semua manuskrip ini menjadi rujukan umat dan penguasa saat itu.
Manuskrip Islam tertua di Nusantara?
Manuskrip Islam tertua di kepulauan Nusantara ditemukan di Terengganu, Malaysia. Manuskrip ini bernama Batu Bersurat yang dibuat tahun 1303 (abad 14). Tulisan ini menyatakan tentang penyebaran dan para pemeluk Islam pada saat itu. Manuskrip ini sudah diteliti oleh oleh ahli-ahli Sejarah dan Arkeolog Islam di Malaysia seperti Prof Naquib Alatas dan lainnya, semua menyimpulkan manuskrip ini sebagai yang tertua di Asia Tenggara.
Yang kedua, masih di abad 14, pada tahun 1310, ditemukan syair tentang keislaman yang ditulis dalam bahasa Melayu dengan huruf Jawi di Minya’ Tujoh, Aceh. Karenanya para pakar sepakat bahwa perkembangan karya ulama yang ditulis dengan huruf Jawi sudah berkembang pada Abad 14 pada massa Kekhalifahan Samudra Pasai dan Kekhalifahan Islam lain di Semenanjung Malaka. Pada usai yang lebih muda pada abad 16–17, di daerah lain juga ditemukan mansukrip seperti, Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Melayu, Hikayat Aceh, Hikayat Hasanuddin, Babat Tana Jawi, Babad Cirebon, Babat Banten, Carita Purwaka Caruban Nagari. Di Nusa Tenggara ditemukan Syair Kerajaan Bima, Bo’Sangaji Kai Catatan Kerajaan Bima. Dari Maluku ada Hikayat Hitu. Di Sulawesi ada Hikayat Goa, Hikayat Wajo dan lainnya.
Manuskrip berhuruf Pegon misalnya karya siapa?
Umumnya ditemukan di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Tatar Pasundan. Karya tertua berhuruf Pegon misalnya, karya Sunan Bonang atau Syekh al Barri yang berjudul Wukuf Sunan Bonang. Karya yang ditulis pada abad 16 ini menggunakan bahasa Jawa pertengahan bercampur dengan bahasa Arab. Manuskrip ini merupakan terjemahan sekaligus interpretasi dari Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazzali. Manuskrip ini ditemukan di Tuban, Jawa Timur. Dalam karyanya, Sunan Bonang menulis, “Naskah ini dulu digunakan oleh para Waliallah dan para ulama, kemudian saya terjemahkan dan untuk para mitran (kawan-kawan) seperjuangan dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.” Karya ini merupakan contoh bahwa pada abad 16, sebagai masa pertumbuhan kerajaan Islam di Nusantara, dalam waktu yang sama juga berkembang karya para ulama yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Manuskrip-manuskrip itu berada di mana?
Sebagian besar berada di Belanda, tepatnya di Universitas Leiden. Pada masa VOC dan penjajahan Belanda, mereka melakukan pengumpulan, kemudian melakukan pencurian dan penjarahan terhadap manuskrip-manuskrip Islam klasik untuk kepentingan mereka. Di antaranya, untuk melanggengkan penjajahan dan menghilangkan jejak peradaban Islam dari sumbernya aslinya di Timur Tengah. Dengan dirampasnya karya-karya para ulama, umat Islam di Nusantara menjadi kehilangan sumber otentik perkembangan Islam. Inilah yang menyebabkan penjajahan berlangsung hingga ratusan tahun.
Perbandingan manuskrip Islam yang ada di Indonesia dan Belanda?
Manuskrip dengan huruf Jawi dan bahasa Melayu yang ada di Perpustakaan Nasional Jakarta hanya sekitar 1.000 naskah. Yang lainnya, yang menggunakan huruf Arab atau bahasa Arab jumlahnya lebih sedikit. Sementara di Belanda, manuskrip Islam asal Indonesia yang ditulis dengan bahasa Jawi mencapai lebih dari 5.000 naskah. Belum lagi manuskrip yang ditulis dengan huruf Pegon atau huruf Arab dan bahasa Arab, jumlahnya jauh lebih banyak. Mereka melakukan pengumpulan kemudian diangkut ke Belanda dari seluruh daerah di Indonesia. Saya ke Leiden tahun 2006 dan melihat karya asli Sunan Bonang, ar Raniri, Hikayat Aceh, Hikayat Melayu, Babat Tana Jawi dan lainnya. Di Indonesia hanya ada kopiannya saja.
Manuskrip Islam yang ada di Belanda bisa diambil lagi tidak?
Mengembalikan secara fisik sekarang ini gampang-gampang susah, karena terkait bentuk fisik yang sudah berumur ratusan tahun sehingga banyak bagian yang rawan rusak jika disentuh. Memang sudah ada Konvensi Internasional tentang benda-benda cagar budaya termasuk manuskrip dari suatu negara harus dikembalikan pada negara yang bersangkutan. Caranya dengan melakukan perundingan bilateral antar negara yang bersangkutan.
Contoh manuskrip yang sudah dikembalikan secara fisik ke Indonesia adalah Kitab Negara Kertagama. Kitab ini diambil Belanda pada saat perang Lombok. Contoh lain adalah Arca Pradnya Paramitha dari zaman Singasari yang paling bagus juga sudah dikembalikan. Pelana kuda Pangeran Diponegoro juga sudah dikembalikan ke tanah air oleh Belanda, termasuk satu peti cincin dan emas berlian dari Lombok juga sudah kembali. Jika pengembalian secara fisik riskan rusak, pemerintah bisa melakukan upaya dokumentasi dengan microfilm secara digital.
Bagaimana cara menyelamatkan manuskrip Islam yang ada di Indonesia agar tidak rusak?
Perpustakaan Nasional sudah melakukan dokumetasi sebagian dengan merekam dalam microfilm. Saat terjadi tsunami di Aceh, juga banyak naskah-naskah asli Aceh yang hilang. Karenanya, saat ini dilakukan upaya dokumentasi menggunakan microfilm digital terhadap naskah-naskah yang tersisa. Untungnya, di sebuah Pesantren di Kawasan Tanobe, NAD, masih tersimpan 2.000 lebih naskah klasik dari abad 13 sampai 19 karya ulama-ulama Aceh, dan Timur Tengah.
Untuk proses penyelamatan ini, seharusnya dilakukan oleh Pemda setempat. Jika tak sanggup bisa melakukan kerjasama dengan lembaga- universitas. Di Jawa Barat, sudah mulai dilakukan katalogus naskah-naskah klasik sejak zaman batu sampai abad 19 yang berbahasa Sunda atau bahasa lainnya yang ada di berbagai negara. Dikumpulkan, di katalogus, di buat microfilm-nya dan bisa dipelajari kembali saat ini. Malaysia juga sudah membuatnya, demikian juga dengan Sulawesi Selatan. Harus ada gerakan penyelamatan manuskrip kuno, termasuk manuskrip Islam secara nasional.
Apa sebenarnya fungsi manuskrip Islam ini?
Pertama, naskah-naskah ini mengandung informasi yang sangat lengkap tentang peradaban Islam dalam arti lengkap, sehingga bermanfaat untuk menjaga kesinambungan peradaban Islam. Kedua, berisi kajian keagamaan yang bersumber dari karya para sahabat di masa Rasul, sehingga bermanfaat untuk menjaga dan mengembangkan otentisitas ajaran Islam di masa mendatang. Ketiga, berisi tentang seluk beluk pemerintahan pada saat itu, sehingga bermanfaat untuk mengkaji model pemerintahan yang tepat menurut Islam. Keempat, berisi struktur sosial masyarakat dan model perekonomian yang berlaku saat itu, sehingga bermanfaat untuk mengkaji model pembangunan ekonomi yang tepat pada saat ini. Kelima, berisi adat kebiasaan, hukum dan teknologi yang berkembang saat itu. Keenam, bersisi tentang obat-obatan yang digunakan saat itu dan lainnya. Sehingga saat ini mulai dikembangkan lagi model pengobatan tradisional yang bersumber dari ajaran Islam atau tradisi pada masa Rasulullah.
Apa maksudnya para ulama saat itu menulis karyanya dengan huruf Jawi, bahasa Melayu atau bahasa daerah?
Ini sebagai bukti bahwa penyebaran Islam di Nusantara dilakukan secara bertahap. Ada proses pentahapan yang sistematis sehingga tidak menimbulkan gejolak sosial. Para ulama tidak langsung menggunakan bahasa dan tulisan Arab yang belum dikenal masyarakat. Hamzah Fansuri menulis, ”Aku menerjemahkan kitab-kitab dari Bahasa Arab dan Persia ke dalam bahasa Jawi, karena masyarakat tidak mengerti bahasa Arab dan Persia.”
Tapi, untuk pemakaman, sejak tahun 1297 H atau 96 H (abad 13) orang Islam, ulama atau pemimpin Islam saat itu sudah menggunakan bahasa dan tulisan Arab untuk menulis di batu nisannya. Tapi di manuskrip dan karya-karya tulis lainnya sampai Abad 16 masih menggunakan tulisan Jawi atau Pegon dengan bahasa Melayu atau bahasa daerah setempat. Tapi setelah memasuki Abad 17, mulai banyak karya ulama yang menggunakan bahasa dan tulisan Arab, di samping bahasa Melayu. Pada Abad ini juga mulai banyak karya-karya terjemahan dari Timur Tengah. Ini memang strategi penyebaran Islam pada saat itu, sehingga karya para ulama ini bisa dibaca oleh masyarakat umum dan Islam pun cepat menyebar di seluruh Nusantara.
Jadi, pada saat itu, ulama merupakan orang pilihan yang paling canggih?
Betul. Saat itu mereka menjadi sosok paling canggih, bisa melakukan pendekatan budaya, sosiologis dan atropologis untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Saya bisa katakan, pengislaman di kawasan ini sesuai dengan konsep surat al-Baqarah: 256. Saat itu, ulama juga melakukan pendekatan bertahap dan gradual. Sehingga, jika dinilai dengan ilmu pendidikan, apa yang diterapkan oleh para ulama dan para wali pada abad 13 -17 itu sangat luar biasa.
Coba lihat, surat al-Baqarah ayat 1–2, ayat ini tidak tiba-tiba memerintahkan umat Islam untuk shalat, puasa, zakat, tapi didahului dengan memberikan pemahaman terlebih dulu. Setelah mereka paham baru diberi perintah untuk menjalankan kewajiban. Inilah yang dilakukan oleh para ulama dan wali abad 13–17 dalam menyebarkan Islam di Nusantra. Al Qur’an itu sungguh sangat luar biasa, Allah SWT itu ”Maha Pendidik.”
Kerajaan Islam di Papua
Jauh sebelum Misionaris (penjajah) datang ke Papua. Ulama-ulama Umat Islam sudah terlebih dahulu menginjakkan Kakinya di Bumi Cendrawasih. Pandangan yang keliru, kalau mengatakan Papua merupakan wilayah Umat Kristiani. Papua adalah bagian dari kaum Muslimin juga dan bagian dai NKRI Jangan pernah biarkan sejengkal tanah Papua direbut oleh Para Imprealisme (penjajah) asing. dan dieskploitasi kekayaan alam, dan rakyatnya dibiarkan tertinggal seperti yang dilakukan para penjajah terdahulu yang meinidas dan membiarkan rakyatnya lapar. Karena hal itulah maka para sultan kerajaan Islam melakukan jihad melawan para penjajah.

Berikut nama-nama kerajaan Islam di Papua:
1.      Kerajaan Weigo
2.      Kerajaan Misool
3.      Kerajaan Salawati
4.      Kerajaan Sailolof
5.      Kerajaan Fatagar
6.      Kerajaan Rumbati
7.      Kerajaan Atiati
8.      Kerajaan Sekar
9.      Kerajaan Patipi
10.  Kerajaan Arguni
11.  Kerajaan Wertuar
12.  Kerajaan Kowiai
13.  Kerajaan Aiduma
14.  Kerajaan Kaimana
Tahun 1512 Portugal untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Ternate dibawah pimpinan Fransisco Serrao, atas persetujuan sultan, Portugal diizinkan mendirikan pos dagang di Ternate. Portugal datang bukan semata–mata untuk berdagang melainkan untuk menguasai perdagangan rempah–rempah, pala dancengkih di Maluku. Untuk itu terlebih dulu mereka harus menaklukkan Ternate.

Sultan Bayanullah wafat meninggalkan pewaris-pewaris yang masih sangat belia. Janda sultan, permaisuri Nukila dan Pangeran Taruwese, adik almarhum sultan bertindak sebagai wali. Permaisuri Nukila yang asal Tidore bermaksud menyatukan Ternate dan Tidore dibawah satu mahkota yakni salah satu dari kedua puteranya, Pangeran Hidayat (kelak Sultan Dayalu) dan pangeran Abu Hayat (kelak Sultan Abu Hayat II). Sementara pangeran Tarruwese menginginkan tahta bagi dirinya sendiri.
Portugal memanfaatkan kesempatan ini dan mengadu domba keduanya hingga pecah perang saudara. Kubu permaisuri Nukila didukung Tidore sedangkan pangeran Taruwese didukung Portugal. Setelah meraih kemenangan pangeran Taruwese justru dikhianati dan dibunuh Portugal. Gubernur Portugal bertindak sebagai penasihat kerajaan dan dengan pengaruh yang dimiliki berhasil membujuk dewan kerajaan untuk mengangkat pangeran Tabariji sebagai sultan. Tetapi ketika Sultan Tabariji mulai menunjukkan sikap bermusuhan, ia difitnah dan dibuang ke GoaIndia. Di sana ia dipaksa Portugal untuk menandatangani perjanjian menjadikan Ternate sebagai kerajaan Kristen dan vasal kerajaan Portugal, namun perjanjian itu ditolak mentah-mentah oleh Sultan Khairun (1534-1570).
Perlakuan Portugal terhadap saudara–saudaranya membuat Sultan Khairun geram dan bertekad mengusir Portugal dari Maluku. Tindak–tanduk bangsa Barat yang satu ini juga menimbulkan kemarahan rakyat yang akhirnya berdiri di belakang Sultan Khairun. Sejak masa sultan Bayanullah, Ternate telah menjadi salah satu dari tiga kesultanan terkuat dan pusat Islam utama di Nusantara abad ke-16 selain Aceh dan Demak setelah kejatuhan Malaka pada tahun 1511. Ketiganya membentuk Aliansi Tiga untuk membendung sepak terjang Portugal di Nusantara.
Tak ingin menjadi Malaka kedua, sultan Khairun mengobarkan perang pengusiran Portugal. Kedudukan Portugal kala itu sudah sangat kuat, selain memiliki benteng dan kantong kekuatan di seluruh Maluku mereka juga memiliki sekutu–sekutu suku pribumi yang bisa dikerahkan untuk menghadang Ternate. Dengan adanya Aceh dan Demak yang terus mengancam kedudukan Portugal di Malaka, Portugal di Maluku kesulitan mendapat bala bantuan hingga terpaksa memohon damai kepada Sultan Khairun. Secara licik gubernur Portugal, Lopez de Mesquita mengundang Sultan Khairun ke meja perundingan dan akhirnya dengan kejam membunuh sultan yang datang tanpa pengawalnya.
Pembunuhan Sultan Khairun semakin mendorong rakyat Ternate untuk menyingkirkan Portugal, bahkan seluruh Maluku kini mendukung kepemimpinan dan perjuangan Sultan Baabullah (1570-1583), pos-pos Portugal di seluruh Maluku dan wilayah timur Indonesia digempur. Setelah peperangan selama 5 tahun, akhirnya Portugal meninggalkan Maluku untuk selamanya pada tahun 1575. Di bawah pimpinan Sultan Baabullah, Ternate mencapai puncak kejayaan, wilayah membentang dari Sulawesi Utara dan Tengah di bagian barat hingga Kepulauan Marshall di bagian timur, dari Filipina Selatan di bagian utara hingga kepulauan Nusa Tenggara di bagian selatan.
Sultan Baabullah dijuluki penguasa 72 pulau yang semuanya berpenghuni hingga menjadikan Kesultanan Ternate sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia timur, di samping Aceh dan Demak yang menguasai wilayah barat dan tengah Nusantara kala itu. Periode keemasaan tiga kesultanan ini selama abad 14 dan 15 entah sengaja atau tidak dikesampingkan dalam sejarah bangsa ini padahal mereka adalah pilar pertama yang membendung kolonialisme Barat
Sepeninggal Sultan Baabullah, Ternate mulai melemah, Kerajaan Spanyol yang telah bersatu dengan Portugal pada tahun 1580 mencoba menguasai kembali Maluku dengan menyerang Ternate. Dengan kekuatan baru Spanyol memperkuat kedudukannya di Filipina, Ternate pun menjalin aliansi denganMindanao untuk menghalau Spanyol namun gagal, bahkan Sultan Said Barakatiberhasil ditawan Spanyol dan dibuang ke Manila.
Kekalahan demi kekalahan yang diderita memaksa Ternate meminta bantuanBelanda pada tahun 1603. Ternate akhirnya berhasil menahan Spanyol namun dengan imbalan yang amat mahal. Belanda akhirnya secara perlahan-lahan menguasai Ternate. Pada tanggal 26 Juni 1607 Sultan Ternate menandatangani kontrak monopoli VOC di Maluku sebagai imbalan bantuan Belanda melawan Spanyol. Pada tahun 1607 pula Belanda membangun benteng Oranje di Ternate yang merupakan benteng pertama mereka di nusantara.
Semakin lama cengkeraman dan pengaruh Belanda pada Ternate semakin kuat. Belanda dengan leluasa mengeluarkan peraturan yang merugikan rakyat lewat perintah sultan. Sikap Belanda yang kurang ajar dan sikap sultan yang cenderung manut menimbulkan kekecewaan semua kalangan. Sepanjang abad ke-17, setidaknya ada 4 pemberontakan yang dikobarkan bangsawan Ternate dan rakyat Maluku. Meski telah kehilangan kekuasaan mereka, beberapa sultan Ternate berikutnya tetap berjuang mengeluarkan Ternate dari cengkeraman Belanda. Dengan kemampuan yang terbatas karena selalu diawasi mereka hanya mampu menyokong perjuangan rakyatnya secara diam–diam. Yang terakhir tahun 1914 Sultan Haji Muhammad Usman Syah (1896-1927) menggerakkan perlawanan rakyat di wilayah–wilayah kekuasaannya, bermula di wilayah Banggai dibawah pimpinan Hairuddin Tomagola namun gagal.
Di Jailolo rakyat Tudowongi, Tuwada dan Kao dibawah pimpinan Kapita Banau berhasil menimbulkan kerugian di pihak Belanda, banyak prajurit Belanda yang tewas termasuk Controleur Belanda Agerbeek dan markas mereka diobrak–abrik. Akan tetapi karena keunggulan militer serta persenjataan yang lebih lengkap dimiliki Belanda perlawanan tersebut berhasil dipatahkan, kapita Banau ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung. Sultan Haji Muhammad Usman Syah terbukti terlibat dalam pemberontakan ini oleh karenanya berdasarkan keputusan pemerintah Hindia Belanda, tanggal 23 September 1915 no. 47, Sultan Haji Muhammad Usman Syah dicopot dari jabatan sultan dan seluruh hartanya disita, dia dibuang ke Bandung tahun 1915 dan meninggal disana tahun 1927.
Pasca penurunan Sultan Haji Muhammad Usman Syah jabatan sultan sempat lowong selama 14 tahun dan pemerintahan adat dijalankan oleh Jogugu serta dewan kesultanan. Sempat muncul keinginan pemerintah Hindia Belanda untuk menghapus Kesultanan Ternate namun niat itu urung dilaksanakan karena khawatir akan reaksi keras yang bisa memicu pemberontakan baru sementara Ternate berada jauh dari pusat pemerintahan Belanda di Batavia.
Dalam usianya yang kini memasuki usia ke-750 tahun, Kesultanan Ternate masih tetap bertahan meskipun hanya sebatas simbol budaya.

Setelah Indonesia merdeka, ada dua kekuatan yang disepelekan masyarakat. Setelah perang selesai, ada dua kekuatan, yaitu ulama dan militer yang tidak dianggap berperan dalam menegakkan NKRI… ketika Proklamasi kekuatan militer dari Islam itu luar biasa besarnya. Bung Karno sendiri ketika pidato Proklamasi tanggal 9 Ramadan 1364 H/17 Agustus 1945, kalau tanpa dukungan ulama tidak akan berani… Dan Hasyim Asy’ari waktu juga bilang bahwa presiden pertamanya adalan Bung Karno, dan itu disetujui angkatan laut Jepang.”

Demikian ilmu yang dapat saya rangkum.. mohon maaf jika masih banyak kekurangan..
Masih banyak sejarah yang tak terulis peran para ulama, kiai dan santri dalam jihad melawan penindasan dan juga penjajah yang semena-mena di indonesia..
memperkosa, melakukan kerja paksa, masyarakat dibiarkan bodoh..
Hanya orang-orang tertentu saja yang masih mengingatnya dan mengetahuinya
OOoo..  iya lupa..
Palestina juga berjasa dalam kemerdekaan Indonesia, karena Negara pertama yang membantu dan mengakui kemerdekaan Indonesia adalah Palestina..
Jadi adalah aneh ketika ada segilintir orang-orang yang membenci Palestina dan Membela Israel..
Palestina sama seperti Indonesia dahulu. yang dijajah berbagai Negara..
Mereka Ingin bebas beribadah, hidup tenang, dan semua aktifitasnya tidak dibatasi

Lihatlah para Penjajah yang hanya mencari harta, daerah, wilayah, memperkosa, membunuh anak-anak, bangunan / peninggalan sejarah, masjid secara keji dan sadis dan berbagai hal lainnya demi kehendaknya agar tercapai..

Lihatlah bagaimana suku aborigin dibantai, lihatlah suku Indian yang dibantai amerika, Perang dunia yag menewaskan jutaan orang didunia dan saat ini yang belum selesai adalah penjajahan oleh Israel di Palestina  ..

Jadi yang sebenarnya hobi perang itu bukan umat Muslim..
Umat muslim dunia tak akan mengganggu jika tak diganggu..
Umat muslim mempunyai adab saat berperang..
Karena umat muslim berperang bukan karena Nafsu dunia..






"Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia!"
M. Ali Taher (Pemimpin Palestina).
Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh.



references by 
hizbut-tahrir.or.id, wikipedia, 
http://sabili.co.id/index.php/20080819117/Wawancara/Manuskrip-Ulama-Nusantara-Dijarah-Penjajah.htm
https://sachrony.wordpress.com/2008/11/21/syech-yusuf-al-makassari-tokoh-ulama-tasawuf-dan-pejuang/
http://www.kompasiana.com/subkioke/syaikh-zainuddin-abdul-madjid-ulama-kharismatik-dan-jenius-dari-pulau-lombok-kandidat-pahlawan-nasional_5518d71581331140719de112

 
Like us on Facebook