September 19, 2015

Situs Gunung Padang, Kejeniusan Design Arsitektur & Teknologi Masa Lampau

Tim Nasional Penelitian Situs Gunung Padang bentukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah melakukan penelitian pendahuluan di lokasi situs Gunung Padang. Penggalian beberapa titik dilakukan dari 7 hingga 31 September 2014 Wakil Ketua Tim Nasional Bidang Arkelogi, Ali Akbar, menyebutkan tujuan paling utama penelitian pendahuluan adalah melakukan pengecekan lapisan kedalaman. Untuk memastikan adanya lapisan kosong, tim menggali dan mengebor beberapa titik.



"Penelitian pendahuluan ini dilakukan di beberapa titik, yakni titik selatan, tenggara, timur, barat, dan teras lima. Hasilnya akan kita laporkan ke Kemendikbud sebagai bahan untuk penelitian selanjutnya," ujar Ali Akbar di Cianjur, Ahad, 14 September 2014. Hasil penggalian menyebutkan tim menemukan artefak yang dibentuk dengan teknologi tinggi. Temuan berbentuk batu seperti senjata kujang berasal dari batuan andesit yang mengandung magnet



Daerah Cianjur di Jawa Barat tengah populer dengan situs Gunung Padang. Kabarnya, situs batu di Cianjur ini merupakan situs megalitikum terbesar dan tertua di dunia. Kalau penasaran, langsung saja datang ke sana.

Situs Gunung Padang adalah tanda bahwa Indonesia memiliki peradaban yang jauh lebih maju dibanding peradaban di belahan bumi lainnya. Dalam rentang waktu tahun 2010-2014, terungkap bahwa Gunung Padang adalah situs sejarah menyerupai Piramida.

Dengan ukuran 9 kali lebih besar di banding Borobudur yang dibangun 16.000 SM, dan jauh lebih tua dibandingkan piramida-piramida di Mesir sana. Batu di Gunung Padang bukan sembarang batu. Hampir semua batu di sana memiliki bentuk geometri, tidak hanya sekedar bongkahan batu semata.


Rata-rata batu disana berbentuk balok memanjang. Bayangkan bagaimana hebatnya orang zaman dahulu bisa memahat batu menjadi berbentuk balok dengan potongan yang rapi. Zaman dulu, kabarnya situs ini merupakan tempat pemujaan yang bentuknya punden berundak dengan 5 tingkatan.

Saat ini disediakan dua jalan untuk menuju ke atas Gunung Padang. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 2.000, silahkan memilih antara jalur ziarah atau jalur wisatawan. Konon jalur ziarah adalah rute asli yang digunakan masyarakat jaman dulu untuk melakukan pemujaan dengan kemiringan mencapai 60 derajat.

Saya yang mengaku wisatawan memilih untuk menggunakan jalur wisatawan. Jalur ini sudah dibuat tangga dengan railing, aman, walau pun tetap membuat sulit nafas saat bertemu musuh bebuyutan saya, tangga dan tanjakan.

Di bagian atas, batu yang ditemukan tidak hanya berbentuk balok, ada yang segilima, oval, tiang batu atau tugu yang dulunya digunakan sebagai menhir tempat memuja arwah nenek moyang. Bahkan ada beberapa batu yang bentuknya menyerupai senjata Kujang, serta batu dengan cetakan tapak harimau dan batu yang bisa berbunyi saat kita pukul.

Sangat disayangkan hingga saat ini tidak bisa dipastikan apakah proses penggalian situs ini akan terus dilanjutkan atau dibiarkan terbengkalai seperti adanya sekarang. Pemandu-pemandu di sana juga tidak bisa memastikan tentang kelanjutan pemugaran situs terbesar se-Asia Tenggara ini.

Padahal dengan ditemukannya situs ini, setidaknya bangsa Indonesia bisa berbangga dan menunjukan pada dunia kalau Indonesia memiliki peradaban yang lebih maju.

Memang tampilan situs Gunung Padang tidak seindah Borobudur. Tapi dengan cerita sejarah dibaliknya, setidaknya saat kita berada di sana kita bisa sedikit berimajinasi betapa megahnya situs ini dahulu kala. Disaat belum ada alat-alat canggih, teknologi, komputer. Siapakah arsitek cerdas dibalik pembangunannya ?. Bagaimana membentuknya ?

Jadi jangan dulu mencibir tentang batu berserakan di sini. Sedikit meluangkan waktu menyaksikan hebatnya peradaban Indonesia di zaman dahulu, arahkan kendaraan menuju Warungkondang dari Cianjur kota.

Dari sini sudah banyak petunjuk untuk ke situs Megalitikum Gunung Padang. Jika berkunjung saat hari biasa, kendaraan pribadi bisa naik hingga ke depan loket. Tapi saat weekend, kendaraan harus diparkir di bawah, dilanjutkan dengan berjalan kaki atau menyewa ojek seharga Rp 15.000 untuk rute PP.

Ukuran Gunung Padang

Para Arkeolog yang melakukan penelitian guna mengungkap misteri Gunung Padang tampaknya telah menemukan beberapa informasi mengenai ukuran dari gunung ini. Gunung Padang memiliki tinggi mencapai 220 meter namun yang baru tergali hanya sekitar seratusan meter saja. Kalau kita membandingkannya dengan Candi Borobudur yang memiliki ketinggian hanya 32 Meter, maka Gunung Padang 3 kali lipat dari Candi Borobudur. Bagaimana dengan luasnya? Luas dari gunung yang satu ini 20 kali lipat lebih luas dari Candi Borobudur yang memiliki luas 1,5 hektar.

Usia Gunung Padang

Walaupun dikaitkan sebagai salah satu misteri Gunung Padang, namun ternyata usia dari gunung ini sudah dapat diketahui. Gunung Padang diperkirakan dibangun 5200 sebelum Masehi dan hal tersebut lebih tua daripada bangunan Piramida di Mesir yang dibangun 2500 sebelum Masehi. Media Australia juga tertarik meneliti usia dari Gunung Padang dan mereka berpendapat bahwa puing – puing yang terdapat di sana usianya empat kali lebih tua daripada Piramida Mesir.


Teknik Bangunan Gunung Padang

Jika kita memperhatikan teknik bangunan Gunung Padang tentu akan timbul pertanyaan bagaimana cara orang – orang sebelum Masehi menciptakan suatu karya yang sangat luar biasa seperti itu? Setelah dilakukan penelitian untuk mengungkap misteri Gunung Padang, para peneliti menemukan begitu banyak struktur yang terkubur dan struktur tersebut terbuat dari bahan sejenis semen yang sudah digunakan sebagai bahan mortar atau berupa bahan perekat untuk situs. Bahan semua struktur bangunannya terdiri atas 45% biji besi, 41% silika dan 14% tanah liat. Perpaduan beberapa bahan tersebut menghasilkan bahan mortar atau perekat yang sangat kuat dan ini terbukti dari kokohnya Gunung Padang yang masih berdiri hingga saat ini. Gunung Padang yang kokoh tersebut membuktikan bahwa teknik bangunan yang diterapkan memiliki kecanggihan yang luar biasa.



Penelitian situs punden berundak terbesar di Asia Tenggara Gunung Padang, terus berlanjut. Dilihat dari konstruksinya, situs yang berlokasi di Cianjur, Jawa Barat, ini sudah dibangun manusia dengan sangat cerdas.

Arkeolog muda Universitas Indonesia Ali Akbar mengutarakan, ini menunjukkan fakta bahwa pembuat bangunan Gunung Padang adalah masyarakat yang sudah memiliki peradaban tinggi. "Meski tidak ada sumber tertulis, tapi pasti dibuat oleh masyarakat yang sudah berkehidupan teratur, sudah ada organisasi sosial. Namun, tidak harus organisasi sosial berbentuk kerajaan," tegasnya.

Ali bersama rekan-rekannya dalam Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang, melakukan penelitian di situs sejak tahun lalu, tepatnya Mei 2012. Temuan yang ada sampai saat ini, bahkan melebihi ekspektasi.
Kalau sebelumnya diperkirakan memiliki luas tiga hektare, ternyata peneliti menemukan luasnya bisa mencapai 15 hektare atau lebih. Sebab, bangunan Gunung Padang bukan hanya yang terdapat di bagian atas, melainkan juga ada struktur di bagian badan dan kaki bukit dalam bentuk terasering atau tingkatan-tingkatan yang meliputi seluruh gunung.

Para "arsitek"nya yang membangun Gunung Padang di masa lampau juga secara perencanaan serta perhitungan matang, hingga bangunan bisa bertahan lama.

Salah satu faktor utama adalah batu yang digunakan di Gunung Padang, yakni batu columnar joint, tipe batuan alami yang  terbentuk karena proses geologi.

Batuan tersebut keluar dari perut bumi, menjelang sampai di permukaan tanah, mengering, lantas memecah. Pecahan umumnya berbentuk segilima, kemudian oleh manusia, diambil dan disusun.

"Susunannya luar biasa. Antara lain penyusunan batu-batu untuk menjadi (tangga) pijakan berdasarkan kecocokan lebarnya, sampai dapat memeroleh ketinggian lereng tanpa longsor. Tadinya saya pikir konstruksi ini cerdas, ternyata sangat cerdas," ungkap Ali yang juga menjadi pengajar untuk mata kuliah Arsitektur Bangunan Masa Prasejarah, Hindu, dan Buddha.

Dan arsitek-arsitek cerdas ini juga memaku bukit, tujuannya supaya tidak longsor; konstruksi dinding bagian luar Gunung Padang diatur sedemikian rupa seperti paku yang menancap.

Terlihat dari sisi utara, timur, dan barat ditancapkan batu seperti pasak-pasak sedalam 40-50 cm. Ali bertutur, "Pasak sudah memperkokoh dinding tanah pada bukit alami itu. Di sisi utara, batu ditancap dari arah utara ke selatan. Di sisi timur, ditancap dari timur ke barat, begitu sebaliknya di sisi barat".

"Semen"


Ali memaparkan pula penemuan menarik terbarunya yang terdapat pada satu susunan batu, berupa semacam adonan perekat. "Kemungkinan mereka sudah mengenal 'semen'. Cerdasnya lagi, mereka tahu di mana harus menempatkan perekat—di tengah-tengah bebatuan," terangnya.

Sampel semen purba ini langsung diperiksa di laboratorium LIPI untuk memastikan campurannya. Di samping itu, masih diyakini ada banyak bagian dari bangunan Gunung Padang yang belum terungkap, sehingga Tim Terpadu Riset Mandiri akan terus melanjutkan penelitian di tahun 2013 ini.

Tim berjumlah sepuluh orang yang terdiri dari berbagai disiplin, termasuk ahli geologi, ahlipaleosedimentologi, ahli filologi, sampai ahli geografi bentang lahan dan ahli astronomi.


Situs Gunung Padang Akan Didaftarkan Sebagai Warisan Dunia

Di Indonesia sejumlah situs sudah terdaftar sebagai word heritage site atau situs warisan dunia. Situs itu yakni Candi Borobudur, Candi Prambanan, situs manusia purba Sangiran, dan Subak Bali.

Kini ada rencana dari Masyarakat Arkeologi Indonesia (MARI) untuk membuat draft nominasi Situs Gunung Padang agar terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia yang dibuat oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Untuk dapat terdaftar di lembaga internasional.


"Situs Gunung Padang yang mulai dikunjungi pelancong Belanda sejak tahun 1890, pada sekitar 3 tahun terakhir ini begitu menarik perhatian masyarakat. Para peneliti Indonesia telah melakukan riset intensif mulai awal tahun 2012. Sementara itu, sejumlah peneliti asing dari berbagai negara menyatakan ketertarikannya untuk melakukan riset di situs yang terletak di Kabupaten Cianjur Jawa Barat tersebut," kata Ketua MARI Ali Akbar, Selasa (18/82015).

Menurut Ali, berdasarkan hasil uji pertanggalan absolut dengan metode carbon dating (C14) di laboratorium BATAN telah diperoleh angka 5.200 Sebelum Masehi (SM). Usia tersebut terbilang fenomenal sehingga menjadi kontroversial. Jika dibandingkan dengan usia piramida Mesir yang sekitar 2500 SM, maka Situs Gunung Padang masih lebih tua sekitar 3000 tahun.

"Situs Gunung Padang adalah jenis situs yang berkali-kali dihuni dan berkali-kali pula ditinggalkan akibat berbagai sebab. Jenis situs seperti ini di dalam ilmu arkeologi disebut multicomponent site. Salah satu periode penghunian sebagaimana telah dibuktikan berdasarkan hasil uji carbon dating dan temuan berupa artefak logam adalah 500 SM," terang Ali yang juga pengajar di jurusan Arkeologi UI ini,

Ali menjelaskan, untuk kepentingan nominasi World Heritage mungkin periode yang akan diajukan adalah Situs Gunung Padang saat digunakan pada 500 SM atau sekitar 2500 tahun yang lalu. Angka tahun ini tidak terlalu menimbulkan kontroversi sehingga diharapkan seluruh elemen masyarakat Indonesia turut mendukungnya. Tentu saja nanti pemerintah yang akan mendaftarkannya secara resmi ke UNESCO. Draft nominasi rencananya akan diserahkan MARI kepada pemerintah pada pertengahan bulan September 2015.

"Usia Situs Gunung Padang yang 500 SM juga sudah tergolong tua. Candi Borobudur yang tercatat sebagai World Heritage dibuat sekitar tahun 700 Masehi atau sekitar 1300 tahun yang lalu. Sementara itu, Situs Machu Picchu di Peru yang juga tercatat sebagai World Heritage berasal dari sekitar tahun 1400 Masehi. Situs Machu Picchu memiliki bentuk arsitektur yang mirip dengan Situs Gunung Padang. Namun demikian, Situs Gunung Padang berusia sekitar 2000 tahun lebih tua dari Situs Machu Picchu," tutup dia


Gunung Padang Cianjur Menuju World’s Heritage UNESCO

Perwakilan-perwakilan dari komunitas, ilmuwan dan akademisi berkumpul di rumah dinas Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mizwar, untuk membicarakan rencana deklarasi penominasian Gunung Padang sebagai World’s Heritage ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Pada pertemuan tersebut hadir Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat, Nunung; dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Barat. Juga hadir pakar geologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Danny Hilman Natawidjaja; pakar astronomi ITB, Prof Dr Suhardja W; pakar arkeologi Universitas Indonesia (UI), Dr Ali Akbar; pakar arsitektur, Ir Pon Purajatnika; perwakilan komunitas komik, Wahyu Sugianto; komunitas game board, Andre Dubari; dan dari Cianjur Creative Forum, Mario Devys.

Pada pertemuan tersebut, selain rencana deklarasi, juga dibahwas peran strategis jangka panjang serta dampak positif bagi Gunung Padang dan warga, yang tentunya harus menjadi fokus utama dari rencana ini.
Pada sesi diskusi, pemerintah provinsi mengkritisi penyalahgunaan anggaran pembebasan lahan yang terjadi pada tahun lalu. Sedangkan kurangnya respon dari pemerintah pusat menjadi masukan dari ilmuwan terkait pengembangan riset mereka yang terbengkalai.

Melihat kurangnya cagar budaya Indonesia yang diakui dunia adalah hal lain yang menjadi topik diskusi. Inggris adalah negara yang jauh lebih kecil dari Indonesia, tetapi memiliki 26 World’s Heritage yang diakui UNESCO, sedangkan di Indonesia tidak sampai sepuluh World’s Heritage yang diakui. Harapannya, dengan penominasian yang diusulkan oleh pemerintah, bisa menjadi langkah berikutnya untuk melindungi Gunung Padang, sehingga menjadi jendela promosi pariwisata Cianjur ke dunia, dan memberi manfaat besar bagi warga Cianjur secara khusus, dan warga Indonesia umumnya.

Hasil akhir dari diskusi ini, pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat bersedia untuk menjembatani usulan penominasian ini, dan Wakil Gubernur bersedia hadir saat deklarasi di Gunung Padang pada tanggal 19 September 2015 mendatang.






Masih banyak hal-hal yang masih belum terpecahkan disana..
Apa kamu bisa memecahkan teka-tekinya?





references by
http://adfoc.us/30410156409238
 http://adfoc.us/30410156410398
http://adfoc.us/30410156410404
http://adfoc.us/30410156410419
http://adfoc.us/30410156410426

foto: credit berbagai sumber
video: credit to trans7

tags: mount padang indonesia, gunung padang situs,  indonesia acheology, peradaban indonesia, arsitek gunung padang cianjur

 
Like us on Facebook