October 4, 2015

Bank Syariah Indonesia Tetap Stabil Meski Dollar Meroket

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan OJK, Mulya E Siregar mengatakan bahwa OJK bersama dengan industri perbankan telah melakukan uji skenario mengeni kekuatan modal atau stress test mengenai pelemahan rupiah. Ia mengatakan OJK telah melakukan stress test dengan asumsi rupiah akan melemah ke level Rp 16.000 per dolar AS.


"Even kita pakai ke Rp 16.000 per USD (Kondisi perbankan) masih oke," tuturnya di Jakarta Covention Center, Jakarta pada Jumat (11/9).

Melalui stress test tersebut kondisi perbankan, khususnya perbankan syariah menunjukkan prospek yang aman meskipun rupiah berada di level Rp 16.000. Hal ini dilakukan untuk melihat ketahanan perbankan Indonesia menghadapi keterpurukan rupiah terhadap dolar AS.

"Pokoknuya sementara amanlah bank syariah. Pokoknya semua masih under control dan mudah-mudahan enggak terjadilah (kolaps)," lanjutnya.

Menurutnya OJK melakukan stress test secara rutin dengan berbagai macam indikator. Volume ini semakin meningkat seiring dengan situasi terkini yang dihadapi industri perbankan seperti pelemahan nilai rupiah dan resiko kenaikan kredit macet atau NPL dan resiko likuiditas lainnya.




Sejak 1944, negara-negara di dunia mendaulat dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang yang layak dipercaya untuk melakukan transaksi internasional. Kesepakatan tersebut muncul lantaran usai Perang Dunia II, negeri Paman Sam itu merupakan negara dengan cadangan emas terbanyak di dunia.

Jika dikalkulasi, jumlahnya lebih dari setengah cadangan emas dunia. Untuk menjamin kepercayaan tersebut, AS pun membuat klaim bahwa setiap US$ 35 dapat dijamin dengan 1 ons emas. Sehingga negara-negara di dunia ramai-ramai mengumpulkan dolar AS sebagai simpanan.

Menurut Direktur Bisnis Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah, Imam Teguh Saptono, AS kemudian terus melipatgandakan jumlah dolar yang beredar tanpa ada jaminan emas yang dijanjikan.

Hal ini terus dilakukan sehingga negara tersebut dapat menimbun kekayaan dalam jumlah yang amat besar tanpa ada kegiatan riil ekonomi yang menjadi landasan.

Namun, sebelum banyak negara pengguna dolar menyadari kecurangan tersebut, pada 1971 AS membatalkan klaim bahwa setiap dolar memiliki jaminan emas yang dapat ditukar. Keputusan ini membuat geger beberapa negara yang kegiatan ekspornya sedang pada titik puncak seperti Jepang.

Imam menjelaskan, kala itu Jepang sedang ada di puncak produksi dan ekspor kendaraan bermotor yang transaksinya menggunakan dolar AS. Jika kepercayaan masyarakat dunia terhadap mata uang AS itu hilang, Jepang pun akan kena dampak, produk kendaraan bermotornya akan menumpuk tanpa ada yang membeli.

“Oleh karena itu, Jepang memiliki kepentingan untuk mengumpulkan dolar di seluruh dunia, dengan cara membeli berbagai surat utang. Mereka ingin mengurangi suplai dolar agar nilainya tidak turun,” kata Imam di Jakarta, Senin 21 September 2015.

Maka tidak heran jika sampai saat ini, Jepang dan Tiongkok merupakan negara yang menyimpan dolar terbanyak di dunia. Selama puluhan bahkan ratusan tahun, kata Imam, sistem ekonomi tersebut berjalan. Mata uang menjadi komoditas bukan lagi alat tukar.

Di tengah situasi seperti ini, Imam menegaskan pentingnya masyarakat dunia untuk menggunakan sistem ekonomi syariah. Sebab dalam sistem ekonomi Islam ini, peredaran mata uang harus jelas landasannya.

“Jadi keberadaan uang itu harus dijamin dengan adanya transaksi, kemudian transaksi dijamin dengan adanya perdagangan, perdagangan dijamin dengan adanya produksi serta produksi dijamin dengan adanya permintaan,” terang Imam.

Dengan demikian, peredaran mata uang jelas didasarkan pada kegiatan riil. Sehingga tidak ada segelintir pihak yang mendapat keuntungan berlipat ganda tanpa adanya kegiatan yang ia lakukan. Posisi mata uang pun kembali hanya sebagai alat tukar, bukan komoditas yang diperjualbelikan.

Jika sistem ekonomi syariah tidak dilakukan, ujar Imam, pelipatgandaan mata uang yang menguntungkan segelintir pihak akan terus terjadi. Menguatnya dolar AS pun akan berdampak pada pelemahan mata uang-mata uang lain di dunia, yang menyebabkan negara yang terkait menjadi semakin miskin.

“Kalau mata uang masih menjadi komoditi, kiamat itu tidak akan terjadi karena tabrakan meteor, tapi karena meladaknya mata uang,” pungkas Imam.








references by
http://adfoc.us/30410156634831
http://adfoc.us/30410156663621

 
Like us on Facebook