December 2, 2015

BANYAK DRIVER ‪#‎GOJEK‬ YANG AKUNNYA DI BANNED/SUSPEND AKIBAT MEMBUAT ORDER FIKTIF

Pihak manajemen PT. Go-Jek Indonesia telah mengkonfirmasi bahwa pihaknya telah menjatuhkan skors berupa suspend kepada ribuan driver ‘nakal’ yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.
Pingkan Irwin selaku Wakil Direktur Pemasaran PT. Go-Jek Indonesia enggan mengungkap secara detail jumlah driver yang diskors. Namun ia membantah pengakuan driver Go-Jek di Kota Bandung yang menyebut rekan mereka yang diskors mencapai 17.000 driver.



Menurut Pingkan, jumlah driver Go-Jek di Bandung hanya 25.000, sementara jumlah driver yang di-suspend tak sampai 10.000, itupun dalam skala nasional.

Terkait aksi protes yang dilayangkan driver Go-Jek di Bandung dan Bali, PT. Go-Jek Indonesia menyatakan keputusan yang mereka buat untuk men-suspend para driver nakal yang membuat order fiktif tersebut berdasar kenyataan di lapangan.

Sebelum dijatuhkan keputusan suspend, pihak manajemen juga telah memberi peringatan kepada driver nakal tersebut. Namun kini Go-Jek masih memberi kesempatan bagi driver yang ingin kembali aktif sesuai prosedur. Syaratnya, mereka diwajibkan membayar denda sejumlah order fiktif yang terdeteksi.

“Kami menganggap serius masalah ini karena bisa menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Langkah diambil untuk memastikan bahwa hanya driver-driver terbaik dan jujur yang dapat menjadi bagian dari keluarga besar Go-Jek Indonesia,” pungkas Pingkan.

orderan fiktif tersebut dijalankan dengan menggunakan dua perangkat ponsel berbeda yang dimiliki oleh sang pengendara Go-Jek.

Ponsel pertama yang merupakan milik pribadi digunakan untuk membuat pesanan. Kemudian ponsel kedua yang diberikan oleh perusahaan digunakan untuk menerima pesanan tersebut.

Setelah pesanan dibuat dan diambil, lantas pengendara bertindak seolah-olah mengantar sang pemesan, padahal sebenarnya tidak ada yang memesan alias hanya pengendara yang mengendarai motornya sendiri. Ojek tersebut berlaku seolah-olah mengantar pelanggan sesuai dengan order fiktif yang telah dilakukannya tadi.

"Mereka punya dua handphone. Satu dari kantor untuk menerima pesanan, yang satu milik dia sendiri untuk memesan. Atau kalau tidak dia bersekongkol dengan istri atau kerabat dekatnya," tambahnya.

Kecurangan yang menjadi marak tersebut tentu saja merugikan perusahaan dan membuat pengendara Go-Jek lain menjadi kesulitan mendapatkan order.



Idvi (44), pengemudi Go-Jek yang biasa mangkal di Semanggi, mengaku pernah mendapatkan order dari pelanggan. Namun, ketika mencoba menghubungi pelanggan, ia tidak mendapatkan jawaban.

"Jadi, customer sangat sulit dihubungi, padahal kalau kita sudah terima order, kalau belum selesai, enggak bisa terima order lainnya," kata Idvi.

Idvi pun mengaku jika pelanggannya sulit dihubungi, ia beralih menelepon call center untuk menghubungi pelanggan. Namun, call center Go-Jek juga sering kali sulit dihubungi.

"Kan banyak juga yang telepon ke call center, makanya suka enggak mengangkat telepon kita," ucapnya.

Karena itu, pria yang sudah enam bulan menjadi pengendara Go-Jek ini pun memutuskan untuk menyelesaikan order tanpa memenuhinya.

Memang, hal itu akan merugikan perusahaan karena pengemudi tetap mendapat kredit dari penyelesaian order. "Namun, kalau enggak begitu, driver yang rugi karena menunggu pelanggan enggak respons," ujarnya.

Sutejo (56), pengemudi Go-Jek lainnya, mengaku juga pernah memutuskan melaporkan telah menyelesaikan order tanpa benar-benar memenuhinya.

Ini karena pelanggannya tidak dapat dihubungi. "Sudah berkali-kali ditelepon tidak diangkat, bahkan di-reject. Saya biasanya tunggu setengah jam. Kalau benar-benar tidak ada respons, ya saya lapor order selesai," kata Sutejo saat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Ia menuturkan, beberapa waktu lalu, bila order tidak dapat diselesaikan, pengemudi bisa membatalkan order yang sudah diambil. Namun, hal itu sekarang sudah tidak bisa.

"Makanya, mungkin bisa jadi evaluasi buat pihak Go-Jek nantinya kalau ada permasalahan seperti ini," kata dia. Sementara itu, pihak manajemen Go-Jek belum dapat dimintai tanggapan atas hal ini. 



CEO Go-Jek Nadiem Makarim menuturkan ‎pemecatan langsung tersebut terjadi lantaran terjadinya order fiktif yang dilakukan oleh driver-driver tak bertanggung jawab. "Setelah melakukan penelurusan, kami menemukan lebih dari 7.000 Driver se-Nusantara terlibat dalam kasus order fiktif. ‎
Mereka ini tidak mengambil penumpang, tetapi menerima pendatapan jutaan rupiah setiap bulan," kicau Nadiem seperti dikutip dalam akun twitter resmi Go-Jek (@gojekindonesia), Selasa (1/12/2015). Dia menuturkan keputusan tersebut diambil setelah pihak manajemen berkonsultasi dan mendengar aspirasi dari driver. Bukan itu saja, lulusan Harvard tersebut juga telah memberikan peringatan berkali-kali bahwa semua pihak yang curang akan ditindak.
"Kami sudah amati gerak-gerik driver dalam waktu lama. Kami pastikan semua driver yang terkena suspend memang melakukan order fiktif," paparnya. Nadiem mengaku proses pemecatan driver pelaku order fiktif memang berat bagi manajemen. "Meski begitu, hal tegas harus dilakukan demi menjaga dan meningkatkan kesejahteraan para diver," pungkasnya.

order fiktif bisa terjadi karena beberapa hal. Pertama, karena memang ada oknum yang memanfaatkan celah pada sistem GO-JEK untuk melakukan itu. Bisa juga karena eror pada sistem, misalnya terjadi double order yang tidak bisa dibatalkan oleh pemesan.


ada juga driver yang memang menerima order dari pelanggan yang iseng. Tanpa bisa cancel dan sulit menghubungi CS, sepertinya tidak ada pilihan lain kecuali menerima order itu.

Idealnya, suspend dilakukan secara bertahap, tidak langsung dijatuhkan kepada ribuan driver sekaligus, sambil manajemen mengevaluasi kembali data atau “bukti kuat” yang mereka pegang.




Adapun sanksi bagi para pengendara Go-Jek yang terbukti melakukan kecurangan tersebut berupa penggantian hasil kerja sebesar tiga kali lipat.

"Si pengemudi yang mendapatkan hasil Rp. 5.000.000 maka ia harus mengganti dengan membayar sebesar Rp. 15. 000.000, jika terbukti melakukan order fiktif," tutup MA.

Pihak perusahaan juga sedang fokus membedakan mana order yang asli dan mana yang fiktif.  Jika terbukti membuat order fiktif, maka pengojek dikenakan sanksi untuk membayar dua sampai tiga kali lipat nilai tarif dari order tersebut kepada perusahaan.




berbagai sumber

 
Like us on Facebook