February 14, 2016

Banyuwangi Raih Penghargaan Pariwisata Dari PBB

Kabupaten Banyuwangi berhasil menorehkan prestasi membanggakan bagi dunia pariwisata Indonesia. Kabupaten berjuluk The Sunrise of Java itu berhasil meraih penghargaan dari badan urusan pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau UNWTO di ajang 12th UNWTO Awards Forum yang digelar di Madrid, Spanyol, Rabu malam (20/1/2016) waktu setempat.

Dalam kesempatan itu, Banyuwangi menyabet UNWTO Awards for Excellence and Innovation in Tourism untuk kategori Inovasi Kebijakan Publik dan Tata Kelola. Kabupaten di Jawa Timur ini sukses mengalahkan pesaingnya seperti Kolombia, Kenya, dan Puerto Rico.

Selain Banyuwangi, juara lainnya adalah Lithuania untuk kategori Inovasi Dunia Usaha, Nepal untuk Inovasi Organisasi Non-Pemerintah, dan Brasil untuk kategori Inovasi Riset dan Teknologi Pariwisata. Para juara itu menyisihkan 109 program lainnya dari negara-negara anggota UNWTO di seluruh dunia.

Bupati Banyuwangi terpilih Abdullah Azwar Anas mengatakan, penghargaan ini bermakna strategis, terutama dalam mengangkat citra pariwisata Indonesia di mata dunia. Setelah aksi terorisme belum lama ini, pariwisata Indonesia dikhawatirkan dibayang-bayangi penurunan jumlah kunjungan wisatawan.

”Dengan penghargaan ini, Kementerian Pariwisata dan semua daerah bisa bersama-sama menunjukkan ke dunia bahwa pariwisata Indonesia terus berkembang, tetap aman karena semua stakeholder sama-sama menjaganya,” papar Anas dalam pernyataan yang diterima Sindonews, Kamis (21/1/2016).

Anas memaparkan, dalam lima tahun terakhir, sektor pariwisata di Banyuwangi memang terus menggeliat. Kunjungan wisatawan nusantara melonjak 161% dari 651.500 orang (2010) menjadi 1.701.230 orang (2015). Adapun wisatawan mancanegara meningkat 210% dari kisaran 13.200 (2010) menjadi 41.000 (2015). Data wisatawan ini diverifikasi dari hotel dan pengelola destinasi wisata.

Geliat bisnis dan pariwisata juga ditunjukkan lewat lonjakan jumlah penumpang di Bandara Blimbingsari Banyuwangi yang mencapai 1.308% dari hanya 7.826 penumpang (2011) menjadi 110.234 penumpang (2015). Pariwisata juga ikut menggerakkan ekonomi warga. Pendapatan per kapita Banyuwangi menurut Badan Pusat Statistik (BPS) melonjak 62% dari Rp20,8 juta (2010) menjadi Rp33,6 juta per kapita per tahun (2014).

”Ke depan, pariwisata Banyuwangi akan terus berbenah. Saya sendiri mendapat banyak inspirasi setelah bertemu dengan para pelaku pariwisata dunia di ajang yang digelar UNWTO, termasuk berdiskusi dengan Sekjen UNWTO Taleb Rifai,” ujar Anas.

Menurut Anas, Banyuwangi mendapat penghargaan UNWTO karena pemerintah daerah dinilai berhasil menggerakkan pariwisata. Banyuwangi menjadikan daerah sebagai ”produk” yang mesti dipasarkan potensi wisatanya. ”Birokrasi menyinergikan semua elemen untuk ikut memasarkan wisata daerah. Ini bagian dari reinventing government di sektor pariwisata,” tutur Anas.

Asisten Deputi Pengembangan Komunikasi Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata, Noviendie Makalam, mengatakan, kementerian bangga dan terpacu semangatnya dengan diraihnya penghargaan bergengsi dunia pariwisata internasional bagi Banyuwangi. ”Ini mengangkat semangat kita bersama untuk menjaga nama pariwisata di mata publik internasional,” kata dia.

Penghargaan yang diberikan ke Banyuwangi di kategori kebijakan publik dan tata kelola pemerintahan di sektor wisata menunjukkan pentingnya koordinasi dan integrasi pembangunan kepariwisataan di sebuah daerah. ”Banyuwangi berhasil menerapkannya. Dan itu bisa menjadi acuan bagi banyak daerah lain di Indonesia,” kata Noviendi.

 
Like us on Facebook