February 10, 2016

Kelompok Hacker Pro-Palestina Retas Data Karyawan FBI

Kelompok hacker pro-Palestina membobol data milik 20 ribu karyawan FBI dan lebih dari 9 ribu pekerja Departemen of Homeland Security (HMS). Nama dan alamat ribuan pekerja FBI dan HMS telah disebar ke internet.

Para hacker tak dikenal itu berhasil meretas komputer Departemen Kehakiman AS. Setelah sukses membobol data, hacker yang menggunakan nama akun Twitter @DotGovs, itu mengkonfirmasi aksinya di media sosial.


 Beberapa data yang dibocorkan hacker itu antara lain nama, jabatan, email pekerjaan hingga nomor telepon. Para pekerja FBI dan DHS yang datanya dibobol antara lain spesialis komputer, petugas pengadaan, analis anggaran, direksi dan penasihat senior.


Dalam tweet-nya, hacker itu menuliskan link tentang data-data yang dibocorkan sembari mencatumkan hastag #FreePalestine. Data itu telah muncul di Motherboard dan FeedScoop. Situs-situs itu mengkonfirmasi bahwa data yang dibocorkan akurat.

”Kami mengambil laporan ini dengan sangat serius, namun tidak ada indikasi saat ini bahwa ada pelanggaran informasi sensitif atau pribadi,” kata kata juru bicara DHS, S.Y. Lee, dalam sebuah pernyataan.

Para hacker mengatakan kepada Motherboard bahwa mereka mengakses informasi dengan mengorbankan akun email dari seorang pejabat Departemen Kehakiman. Mereka menggunakan alamat email untuk "social engineering" guna akses ke intranet DOJ. Kemudian meminta dukungan teknis untuk memberikan password.


”Jadi saya menelepon, mengatakan kepada mereka, bahwa saya orang baru dan saya tidak mengerti bagaimana untuk melewati (portal) kata salah satu hacker kepada Motherboard. "Mereka bertanya apakah saya punya kode token? Saya bilang tidak, mereka mengatakan 'itu baik-baik saja - hanya menggunakan satu (milik) kami’.”

Kelompok hacker itu juga menyampaikan pesan pro-Palestina. ”Ini adalah untuk Palestina, Ramallah, Tepi Barat, Gaza, ini adalah untuk anak yang sedang mencari jawaban,” kata kelompok hacker itu, seperti dikutip Fox News, semalam.


references by sindonews

 
Like us on Facebook