May 5, 2016

Amerika dan Rusia Sepakati Gencatan Senjata Sementara Aleppo Suriah


Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada Rabu (4/5) mendesak semua pihak di Suriah agar mematuhi gencatan senjata di Aleppo, Kota Utama di Suriah Utara yang telah menyaksikan peningkatan pertempuran sengit. Dalam satu pertemuan Dewan Keamanan mengenai kondisi di Aleppo, Wakil Sekretaris Jenderal PBB bagi Urusan Politik Jeffrey Feltman menyatakan Amerika Serikat dan Rusia telah sepakat untuk memperluas gencatan senjata di seluruh negeri tersebut ke Aleppo."Kami mendesak semua pihak agar mematuhi ini segera dan secara menyeluruh," kata Feltman, sebagaimana dikutip Xinhua.


Pada Rabu (4/5), militer Suriah mengkonfirmasi bahwa gencatan senjata 48-jam direncanakan dimulai di Aleppo mulai Kamis (5/5). Gencatan senjata itu dicapai setelah kota tersebut menyaksikan lebih dari 10 hari kerusuhan yang menewaskan tak kurang dari 120 orang dan melukai ratusan orang lagi.

Sedikitnya 28 orang tewas dan puluhan orang lagi cedera pada Selasa (3/5), dalam serangan baru roket oleh gerilyawan terhadap daerah yang dikuasai pemerintah di Kota Aleppo, di tengah pernyataan Rusia mengenai kemungkinan gencatan senjata di kota tersebut.

Pemboman secara membabi-buta itu menghantam wilayah yang dikuasai pemerintah di Aleppo, sebelum Front An-Nusra, yang memiliki hubungan dengan Alqaeda, dan kelompok lain gerilyawan mengikuti pemboman tersebut dengan serangan besar terhadap Aleppo Barat dari arah yang berbeda.

Komando Umum Angkatan Darat Suriah menyatakan pasukan militer menghadapi serangan itu, dan merenggut banyak korban di kalangan penyerang. "Angkatan Darat Suriah saat ini menghadapi serangan tersebut dan sumber tembakan, sehingga merenggut banyak korban di kalangan kelompok teror," kata militer di dalam satu pernyataan.

Pemboman pada Selasa (3/5) juga ditujukan ke satu rumah sakit di Kabupaten Al-Muhafaza, menewaskan tiga perempuan dan melukai beberapa orang lagi, termasuk anak kecil.

Stasiun televisi nasional Suriah menayangkan gambar rumah sakit yang menjadi sasaran serangan itu, kerusakan dan darah yang berceceran di lantai.


Pasukan Oposisi Serang Rumah Sakit di Aleppo




Dua serangan mematikan terhadap rumah sakit di Aleppo minggu lalu dilakukan oleh kelompok nonpemerintah. Demikian hal tersebut dikabarkan Sputnik, mengutip pernyataan Koordinator Bantuan Darurat PBB Stephen O'Brien kepada Dewan Keamanan PBB, Rabu (4/5).

"Saat ini, Aleppo Barat dikendalikan oleh pemerintah (Suriah). Pekan lalu, rumah sakit Ibn Rushed terkena hantaman mortir yang diduga ditembakkan oleh kelompok bersenjata nonpemerintah. Kemarin, kembali terjadi serangan terhadap rumah sakit bersalin Debeet di Aleppo Barat. Kelompok nonpemerintah kembali diduga berada di balik serangan yang menewaskan tiga korban jiwa," kata O'Brien.



Pada Selasa (3/5), menteri pertahanan Rusia melaporkan bahwa kelompok teroris front al-Nusra melancarkan serangan terhadap rumah sakit Debeet. Menurut laporan media setempat, enam warga sipil tewas dan sedikitnya 39 orang luka-luka akibat serangan tersebut.

Pada hari yang sama, Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi yang mengutuk serangan terhadap tenaga medis dan kemanusiaan di Suriah, dan mendesak seluruh pihak untuk memastikan perlindungan bagi para pekerja kemanusiaan.

Sebelumnya pada hari itu, Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan bahwa lebih dari 250 fasilitas medis telah diserang di Suriah sejak perang saudara di negara tersebut meletus pada 2011.

Front al-Nusra merupakan kelompok teroris yang terafiliasi dengan kelompok al-Qaeda. Kelompok ini tidak dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat dan Rusia.

AS dan Rusia Satu Suara, Pertempuran di Aleppo Mereda
Kota Aleppo di utara Suriah sedikit tenang pada Kamis pagi waktu setempat menyusul kesepakatan gencatan senjata yang disepakati Rusia dan Amerikan Serikat. Pertempuran di Aleppo memanas dalam dua pekan terakhir yang menyebabkan warga sipil berjatuhan. 

Media Pemerintah Suriah mengatakan, tentara akan mematuhi gencatan senjata tersebut yang berlaku mulai Rabu (5/5) pukul 01.00 pagi.  Namun tentara menyalahkan pemberontak yang dituding melanggar perjanjian semalam.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia melaporkan, setidaknya satu orang tewas di permukiman Middan yang dikuasai pemerintah. Media pemerintah melaporkan, roket menghantam distrik Aleppo Baru.

Di sejumlah distrik lain, perjanjian memberikan efek cukup positif. "Dari semalam sudah positif dan istri saya pergi ke luar ke toko yang buka. Warga juga bisa bernapas. Kami tidak mendengar pengeboman," ujar seorang warga Sameh Tutunji. "Cukup pembunuhan setiap hari ini setelah lebih dari 10 hari."






references by republika, rbth

 
Like us on Facebook