November 27, 2016

Jaringan CDMA Smartfren Akan DiMatikan

Operator seluler Smartfren siap mematikan jaringan CDMA di pulau Sumatera menyusul ekspansi jaringan 4G yang tengah dilakukannya.
"Di (pulau) Sumatera sih (CDMA) sudah mau dimatikan, kecuali Medan, karena penggunanya sudah pakai layanan 4G," ujar Munir Syahda Prabowo, Vice President Network Smartfren saat ditemui Tekno Liputan6.com di 4G Network Drive Test di Palembang, Kamis (17/11/2016).



Namun, lanjut Munir, perusahaan belum berencana untuk mematikan CDMA di pulau Jawa mengingat masih banyak pelanggan Smartfren di sana yang masih memakai layanan CDMA. "Di pulau Jawa jangan (dimatikan), karena banyak sekali penggunanya. Kami belum tahu (akan matikan) atau tidak, lihat nanti saja. Tapi untuk saat ini belum," ungkapnya.

Sementara itu, Regional Cluster Support, Paul Hutagalung menambahkan hampir seluruh pelanggan Smartfren di Sumatera Selatan telah menggunakan 4G. "Total pelanggan 4G di Sumatera Selatan ada 450 ribu, di mana 120 ribu adalah pengguna 4G aktif," tambah Paul. Perlu diketahui, untuk menggelar jaringan, Smartfren menggunakan dua spektrum yakni 850 MHz dan 2.300 MHz. Di 850 MHz, Smartfren menggelar jaringan CDMA dan 4G LTE.

Total pelanggan Smartfren tercatat sebesar 11 juta, di mana 4 juta merupakan pelanggan data. Artinya masih terdapat sekitar 7 juta pelanggan Smartfren yang menggunakan CDMA.


Smartfren Bakal Matikan CDMA di Beberapa Wilayah


 Smartfren sedang berusaha migrasi pelanggan CDMA untuk beralih mengadopsi layanan 4G LTE. Dalam upaya memindahkan pelanggan tersebut, jaringan CDMA akan berangsur dimatikan.

Tapi hal ini tidak berarti jaringan CDMA Smartfren akan dimatikan di semua wilayah di Indonesia. Smartfren akan mempertahankan keberadaan jaringan CDMA miliknya di daerah-daerah tertentu.

"Dalam migrasi, Smartfren juga berhitung berapa pelanggan yang harus dipertahankan, misal Pulau Jawa jumlahnya besar (pelanggan), maka kita pertahankan," ujar Munir Syahda Prabowo, Vice President Tech Relation Smartfren di acara temu media di Ubud, Bali, Rabu (11/8/2016).

"Yang ngga worth it di suatu daerah ya kita matikan," imbuh Munir.

Menurutnya, layanan CDMA di beberapa kota di Sumatra berdasar jumlah pelanggan yang aktif sudah tidak ekonomis menurut perhitungan Smartfren. Kota-kota itu, menurut Munir, adalah Brastagi dan Padang.

"Contoh statistik Padang kalah besar dengan operator lain, dengan masuknya LTE (operator lain) tinggal ratusan (pelanggannya), makanya dimatikan," kata Munir.

Untuk wilayah-wilayah lain, Smartfren akan melihatnya case-by-case. Namun yang pasti, saat mematikan layanan CDMA, Munir mengatakan Smartfren sudah melakukan perhitungan, apakah ekonomis untuk dipertahankan atau tidak.

"Kalau tidak ekonomis, masa dipertahankan?" pungkasnya.


 Smartfren Telecom akhirnya mulai mematikan jaringan layanan CDMA di sejumlah lokasi seiring gencarnya ekspansi 4G LTE. Meski demikian, pengguna CDMA operator seluler itu tak perlu kuatir.

Pasalnya, walau sebagian besar jaringannya dialokasikan untuk teknologi 4G, layanannya tetap menyisakan alokasi untuk pengguna CDMA. Sehingga, menurut Vice President Network Smartfren, Munir Syahda Prabowo, tidak semua jaringan layanan CDMA dimatikan.

"Saat ini kami menggunakan frekuensi 2.300 MHz dan 850 MHz. Nah, di frekuensi 850 MHz itu kami membagi penggunaannya untuk 4G dan CDMA. Jadi jaringan CDMA tidak akan pernah dimatikan. Kami akan tetap pertahankan sampai penggunanya habis," ujar Munir, di Padma Resort, Ubud, Bali, Kamis (11/8/2016).

Pun demikian, Smartfren mengaku sudah mulai melakukan efisiensi jaringan CDMA. Menurut Munir, di beberapa lokasi yang pengguna CDMA-nya dianggap sudah terlampau kecil jumlahnya terpaksa dimatikan. Namun pada awalnya baru sebagian wilayah Sumatra yang kena efisiensi.

Tapi bukan berarti Smartfren asal mematikan saja jaringan CDMA di wilayah-wilayah tertentu. Operator seluler ini mengaku benar-benar melakukan perhitungan yang matang sebelum melakukannya. Sebab Smartfren tak mau jadi seakan memaksa pelanggannya pindah ke jaringan 4G. Apalagi awalnya Smartfren dikenal sebagai operator CDMA.

"Kami benar-benar melakukan perhitungan yang matang sebelum melakukannya. Kami tidak bisa memaksa pelanggan (CDMA) untuk pindah ke 4G, karena itu pilihan pelanggan mau pakai yang mana. Apalagi awalnya kami memang menawarkan jaringan CDMA," jelas Munir.

Meski begitu Smartfren tetap berusaha mengajak pelanggan lamanya agar mau beralih menggunakan jaringan 4G. Alasannya karena pelanggan bisa merasakan teknologi yang lebih baik, lebih kencang, namun dengan harga yang bisa dibilang lebih murah.

Sejumlah promo pun disiapkan agar pelanggan lama mau beralih ke 4G. Salah satunya dengan memberikan notifikasi lewat SMS yang isinya berupa potongan harga untuk pembelian perangkat Andromax 4G.

"Kan sayang, ada yang lebih bagus, lebih murah, masa tidak mau coba," pungkas Munir


Smartfren: CDMA Lambat Laun Bakal Mati


Jaringan CDMA yang awalnya diusung Smartfren Telecom ditekankan perusahaan itu lambat laun akan mati di beberapa daerah yang jumlah pelanggannya sedikit.

Smartfren saat ini masih dalam tahap migrasi frekuensi CDMA 850 MHz dari kavling Band B ke Band A. Target tersebut harus dicapai sampai September mendatang. Frekuensi 850 MHz Band B akan ditempati Telkomsel yang dapat warisan kanal dari Telkom Flexi.

Vice President Technology Smartfren Relation Munir Syahda Prabowo mengatakan, untuk jaringan CDMA di wilayah tertentu, lambat laun akan segera mati.

"Misalnya di Brastagi dan Padang, CDMA-nya sudah mati karena jumlah penggunanya sudah di bawah angka ratusan," ungkapnya di sela Media Gathering di Ubud, Bali, Rabu (10/8).

Daerah dengan jumlah pelanggan CDMA yang masih banyak seperti Pulau Jawa ditegaskan tidak akan terpengaruh oleh perpindahan kavling Band B ke Band A. Munir tetap meyakini orang-orang di daerah ini bakal migrasi dari CDMA ke 4G.

"Lambat laun akan pindah secara alamiah. Pertama, handset yang mendukung CDMA lama-lama tidak ada lagi. Kedua, malu sama tetangga yang sudah serba 4G. Mosok mau CDMA terus?" ujar Munir.

Smartfren memiliki kewajiban untuk bertukar posisi kanal frekuensi di 850 MHz dengan Telkomsel yang dapat warisan dari Telkom Flexi. Dari 850 MHz Band B, Smartfren harus geser sedikit ke Band A agar bisa menggabungkan sumber dayanya jadi 10 MHz.

Frekuensi 850 MHz Band B selanjutnya dipakai Telkomsel untuk disandingkan dengan sumber daya di 900 MHz guna memaksimalkan 4G LTE.

Karena kewajiban teknis dan regulasi di atas, ada masalah serius yang dihadapi Smartfren dan sebagian pelanggannya. Ternyata, banyak pelanggan Smartfren yang masih pakai ponsel fitur alias 'ponsel jadul' yang tak mendukung frekuensi 850 MHz di Band A.

Beberapa waktu lalu, Munir berkata masalah migrasi ini makin sulit karena menurut survei internal Smartfren, para pengguna ponsel fitur di layanan mereka adalah kaum lansia dan masyarakat kelas bawah.

Smartfren berkata akan memberi penawaran menarik yang mendorong pelanggan mau mengganti ponsel terkini, misalnya memberi pilihan untuk tetap memakai CDMA (yang mendukung 850 MHz Band A) atau mengadopsi 4G LTE. Munir berkata semua itu dilakukan untuk menjaga loyalitas pelanggan dan memberi layanan terbaik.

Besar harapan Smartfren agar pelanggannya langsung lompat mengadopsi 4G LTE karena akses Internet generasi keempat ini adalah layanan masa depan. Anak usaha Sinarmas tersebut juga mendorong pemanfaatan koneksi 4G LTE dari modem MiFi dengan bujuk potongan harga atau penawaran khusus.

Smartfren Janji Tak Buru-buru Akhiri Hidup Pelanggan CDMA


Operator seluler Smartfren menegaskan dirinya akan tetap mengaktifkan layanan telekomunikasi di jaringan CDMA selama proses migrasi ke 4G LTE belum rampung. Hal iti disampaikan oleh Vice President Special Project Network Smartfren Munir Syahda Prabowo saat ditemui di Palembang, Kamis (17/11).

"Yang pasti jaringan CDMA tetap aktif sampai pelanggan terakhir kita menggunakannya," ujar Munir.

Pernyataan itu merupakan jawaban Munir terhadap antisipasi jika target migrasi pelanggan Smartfren dari jaringan 3G ke 4G LTE tidak terpenuhi.

Perusahaan telekomunikasi milik Sinar Mas Group tersebut diketahui sebelumnya menargetkan seluruh pelanggannya di Indonesia hijrah ke LTE.


Menurut keterangan Smartfren hingga kuartal III 2016, jumlah pelanggan yang beralih ke LTE telah mencapai angka 4 juta. Jumlah itu jauh melampaui target mereka tahun ini yang hanya berkisar di angka 2 juta pelanggan.

Dari 200 kota di Indonesia yang dilayani jaringan Smartfren, 98 persen di antaranya saat ini telah diperkuat teknologi LTE. Itu artinya, ada sekitar 188 kota yang sudah terjangkau sinyal 4G Smartfren di seluruh Indonesia.

Meski demikian, sisa 8 juta pelanggan di jaringan 3G dari keterangan Munir didominasi oleh pelanggan asal Pulau Jawa yang notabene hampir seluruh wilayahnya telah diselimuti LTE.

"Di kota-kota Sumatera semuanya sudah pindah ke LTE kecuali Medan. Nah, kalau di Jawa masih banyak banget yang belum pindah," kata Munir.

Smartfren yang memiliki 11 juta pelanggan saat ini merupakan satu-satunya operator seluler yang sebagian layanannya masih berjalan di jaringan 3G.

Migrasi tersebut merupakan tindak lanjut dari regulasi Peraturan Menkominfo tentang Penataan Pita Frekuensi Radio 800 MHz untuk Keperluan penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler.

Hal itu terjadi setelah Smartfren diminta pemerintah menyerahkan pita frekuensi selebar 13,75 MHz di frekuensi 1,9 GHz yang digunakan untuk CDMA. Sebagai gantinya Smartfren memperoleh pita frekuensi selebar 30 MHz di jaringan 2,3 GHz.

Smartfren menargetkan proses migrasi pelanggannya ke jaringan 4G LTE bisa rampung pada akhir 2017 mendatang.

Tahun 2017, Smartfren Tak Lagi Beroperasi di frekuensi 1.900 Mhz


 PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dipastikan tak lagi bisa menggunakan frekuensi 1.900 MHz mulai 2017 mendatang.

Saat ini Smartfren memiliki frekuensi selebar 13,75 Mhz di 1900 MHz yang digunakan untuk teknologi Code Division Multiple Access (CDMA). Frekuensi yang bertetangga dengan 2,1 GHz (3G) itu harus diserahkan ke pemerintah pada akhir tahun 2016 sebagai konsekuensi didapatnya 30 MHz di 2,3 GHz.

Dampak dari migrasi ini emiten dengan kode saham FREN ini tak bisa lagi menawarkan CDMA ke pelanggannya di 1.900 MHz.


“Sesuai aturan, memang masa penggunaan itu di Desember 2016,” kata Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys, kemarin.

Tak hanya di 1.900 MHz, Smartfren pun harus menata kembali alokasi frekuensi 850 MHz yang dimilikinya khususnya di Di Jabodetabek dan Jawa Barat (JBJB). “Sama untuk 850 MHz itu harus pindah juga di akhir tahun ini. Kita tengah siapkan sekitar 5 juta pelanggan CDMA di 850 MHz itu mau migrasi ke 4G atau Long Term Evolution (LTE),” katanya.
Merza mengaku sudah menyiapkan program pergantian perangkat bagi pelanggan mulai dari potongan diskon 30% hingga gratis bagi pelanggan tertentu. “Kita kejar target hingga akhir tahun ini agar semua pindah,” katanya.

Sekadar diketahui, dampak penataan frekuensi 850 MHz beberapa tahun lalu adalah adanya rencana penggunaan frekuensi bekas TelkomFlexi oleh Telkomsel dan StartOne oleh Indosat.
Telkomsel dan Indosat nantinya menempati Band B, sementara Smartfren di band A. Posisi tak ideal ada di Jabodetabek dan Jawa Barat (JBJB) dimana posisi kepemilikan frekuensi selebar 5 MHz dari Smartfren belum berdampingan sehingga harus ada penataan ulang.      

Sekadar diketahui, Smartfren satu-satunya operator yang menggunakan teknologi Frequency Division Duplexing Long Term Evolution (FDD-LTE) dan Time Division Duplex-Long Term Evolution (TDD LTE) di era 4G.

Smartfren juga berani melawan arus dengan menawarkan layanan data “True Unlimited” di era 4G ditengah operator lain berusaha menyehatkan tarif data.


Menurut laporan Smartfren, pengguna 4G di jaringannya mencapai 1,4 juta jiwa pada kuartal IV tahun 2015 dari total pelanggan sebanyak 12 juta nomor. Jumlah pengguna paket True Unlimited tercatat sekitar 100.000 pelanggan.



referencs by liputan6,kompas, cnn, detik, , indotelko

 
Like us on Facebook