January 22, 2017

Kenapa Media Sosial Foto Profil Ramai Dengan Bendera Indonesia + Kalimat Tauhid?

Polemik tentang Bendera Merah Putih, Kepolisian Dinilai Tebang Pilih, Kejadian tersebut hanyalah satu hal dari rangkaian kejadian yang membuat umat Muslim Indonesia merasakan ketidakadilan, kecewa dan tersakiti pada rezim pemerintahan kali ini yg dinilai menyudutkan umat muslim Indonesia. Umat Muslim mengekspresikan dan menjaga solidaritas ukhuwah Islamiyah dari kekecewaaanya & muaknya pada perlakuan pemerintahan dan solidaritas sesama Muslim yg tunduk pada Al-Quran & Hadits dengan cara memasang foto profil/cover foto sosial media mereka dengan Bendera Indonesia yang dihiasi kaligrafi kalimat Tauhid di berbagai jejaring sosial medianya seperti facebook, twitter, instagram atau path seperti pada gambar dibawah ini hingga kasus penistaan agama benar-benar adil dan usai





Mulai dari kriminalisasi dua pimpinan KPK, pembacaan Al-Quran dengan langgam jawa, pembakaran Masjid tolikara yang diberitakan media mainstream sebagai Mushola, Maraknya bendera dan lambang Zionis di Tolikara dan daerah lainnya padahal tidak ada hubungan diplomatik namun pemerintah hanya diam seperti tak terjadi apa-apa, lalu polemik Ramadhan soal warung nasi buka disiang hari dan orang Islam harus menghormati yang tidak puasa, poelmik suara Adzhan yang dianggap mengganggu, Ceramah tentang tauhid dan Fatwa MUI diangganp umat Ilsam intolrean, aksi premanisme Balok, kasus penistaan Agama yg saat umat Islam tak turun kejalan seakan ada pihak-pihak yang melindung lalu lama diproses, pemblokiran situs/web/Blog Islam tanpa mau menerangkan dimana konten-konten yang dianggap provokasi/fitnah, Kejadian pembalokan santri, kasus Iwan Bopeng dan masih banyak kejadian lainnya jika dirunut kebelakang

Elit agama, politik dan eksekutif dinilai gagal menangkap aspirasi umat yang sebenarnya sudah ditunjukkan dalam berbagai tanda. Aksi 4 November dan 2 Desember 2016 yang memunculkan sejumlah tokoh dinilai jadi kegagalan ormas Islam arus utama menyikapi kebutuhan kepimpinan di tengah umat.

Pakar politik dari LIPI, Fachry Ali mengaku heran dengan Aksi 4 November dan Aksi 2 Desember 2016. Dua aksi itu begitu teroganisir dengan baik.

Ia mengatakan, Mitsuo Nakamura awalnya menulis tentang Muhammadiyah, tapi lalu menengok NU. Nakamura lalu juga menulis tentang ICMI dengan penuh empati. Makalah itu kemudian disampaikan di Hawaii dan audiensnya meremehkan. Nakamura menangis dan menyampaikan Bangsa Barat tidak mencoba memaknai kebangkitan ini. Dalam persepektif ini pula, Fahri coba memahami Aksi 411 dan 212. 

Turunnya umat Muslim Pada Aksi 411 & 211 dan hanya FPI + GNPF-MUI yang berani berdiri di Shaf terdepan bersama mereka, Karena tak ada Elite/Partai Politik untuk berani menyalurkan & bertindak nyata akan aspirasi juga ketidakadilan yg mereka rasakan.

Yang berkembang pada Orde Baru adalah elitisme. Mereka memiliki partai, memiliki media, dan mendapat jatah ekonomi besar. "Saat ada elitisme, kegelisahan masyarakat tidak bisa ditangkap. Pandangan NU dan Muhammadiyah sangat teknokratik dan teknokratik itu elitis," ungkap Fahri dalam Seminar Peradaban 'Pergeseran Kepemimpinan Islam' di Universitas Paramadina, Rabu (25/1).

Sementara di satu sisi umat butuh pemimpin. Di sisi lain, alat pembentukan kebenaran yakni media, tidak dimiliki. Pun di sisi ekonomi. Pasca Perang Diponegoro saat era kapitalisasi, ia mengatakan umat Islam tidak memiliki peran apa-apa. "Ini akarnya," kata dia.


Arti sebuah bendera, tidaklah dilihat dari sebatas bentuk, bahan dan ukuran-nya yang diikatkan pada sebuah tiang. Tetapi ada yang lebih penting dari hanya sekedar itu, yakni arti/makna dari simbol dan warna dari bendera tersebut yang menunjukkan kedaulatan suatu negara yang memiliki nilai histori perjuangan. Seseorang tidaklah perlu mengambil penggaris untuk menentukan apakah itu bendera atau bukan atau yang wajib menyangkut pada sebuah tiang..., karena makna warna Merah dan Putih teramat dalam dari hanya sekedar ukuran dan bentuk persegi dari sebuah bendera.

Ketika Anda melihat warna merah putih, itu adalah warna sakral sebuah perjuangan. Tidaklah pantas diatas sebuah "pasangan warna sejoli" merah-putih terdapat sepasang kaki yang menginjak-nya. Ingat, Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang berbudaya dan memiliki kesopanan yang tinggi.


Kalau di atasnya ditulis pesan kedamaian, semangat perjuangan, materi ilmiah/edukasi, kalimat tauhid La-Ilaha-Ilalloh...kenapa harus dipermasalahkan? Kemerdekaan ini atas berkah rahmat Alloh..!. Maknanya sudah tersirat dalam warna merah dan putih-nya yakni keberanian memperjuangkan kemerdekaan dan kesucian atas izin-Nya serta keinginan yang luhur para pejuang bangsa. Jadi kalau ada rakyat yang berani membela yang benar, berani memberikan edukasi, berani melawan kemungkaran dengan murni niat yang bersih (suci) untuk berbagi ilmu, suci dari kemunafikan, kezoliman, dan ketidakadilan harusnya tidak dikriminalisasi.

Jadi, makna bendera itu jauh lebih besar dari sekedar ukuran dan bentuknya yang dibawa/ tersangkut disebuah tiang... 


Polisi menangkap seorang laki-laki yang diduga sebagai pembawa bendera merah putih bertuliskan aksara arab, saat unjuk rasa FPI di depan Mabes Polri, Senin lalu. Pria berinisial NF itu ditangkap Kamis, 19 Januari 2017, malam di Pasar Minggu.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, NF berusia sekitar 20 tahun dan tercatat sebagai penduduk Klender, Jakarta Timur. "Tadi malam sudah kami amankan satu orang laki-laki di Pasar Minggu," kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Jumat, 20 Januari 2017.

Argo memastikan NF berada di lokasi saat FPI berunjuk rasa di depan Mabes Polri. Namun ia tidak bisa memastikan apakan NF merupakan bagian dari FPI. "Pokoknya yang bersangkutan ada di sana membawa barang itu," katanya.

Saat ini, lanjut Argo, NF masih diperiksa di Polres Jakarta Selatan. Polisi juga menyita barang bukti berupa bendera bertulisan arab dan motor yang digunakan saat ikut unjuk rasa. 

"Nanti kami kenakan ke UU nomor 24 tahun 2009 tentang lambang negara," kata Argo lagi. Argo menambahkan, jika nanti diperlukan bisa saja pihaknya turut memeriksa penanggung jawab unjuk rasa.




Iman itu ada 70 atau 60-an cabang.
Yang paling tinggi adalah perkataan ‘la ilaha illallah’,
yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu (juga) merupakan bagian dari iman.
— HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35.
Perkataan ‘Syahadat’ menunjukkan bahwa iman harus dengan ucapan di lisan. Menyingkirkan duri dari jalan menunjukkan bahwa iman harus dengan amalan anggota badan. Sedangkan sifat malu menunjukkan bahwa iman harus dengan keyakinan dalam hati, karena sifat malu itu di hati karena perbuatan dosa disaksikan Allah SWT. Inilah dalil yang menunjukkan bahwa iman yang benar hanyalah jika terdapat tiga komponen di dalamnya yaitu
(1) keyakinan dalam hati,
(2) ucapan di lisan, dan
(3) amalan dengan anggota badan.
Maka tanpa adanya amalan, meskipun ada keyakinan dan ucapan, tidaklah disebut beriman. Jadi bersyahadat dan mengaku beragama Islam tidak cukup jika akhlak atau perilakumu tidak lebih baik dari orang yg tidak beragama Islam. 


Meningkatnya kebencian terhadap Islam, terlebih lagi di dunia Barat. Bahkan sering kita mendengar istilah Islamophobia. Sejak beberapa tahun lalu, isu Islamophobia marak digaungkan di berbagai belahan dunia. Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) Adnin Armas menyebutkan Islamophobia bisa jadi tidak hanya terjadi di Eropa dan Amerika, tetapi juga di Indonesia. 

"Indikasinya sudah muncul. Orang-orang yang ingin berkontribusi dan mencintai agama ini bisa dituduh konservatif, fundamentalis, radikal, anti kemajuan, anti Barat, anti NKRI, dan fitnah-fitnah serupa," ungkap Adnin dalam tabligh akbar di Masjid Pondok Indah, Jakarta Selatan, Kamis (30/4) malam.

Adnin mengatakan, kini ada gelombang ketakutan saat melihat sesama muslim ingin membela agama. "Jika umat Islam lemah, hal itu akan berdampak pada kemanusiaan secara umum. Karena Islam adalah satu-satunya agama yang benar."

Ia melanjutkan, "Sebaliknya, kemajuan Islam tidak hanya mempengaruhi umat Islam, tetapi juga peradaban dan agama lain. Kemajuan umat Islam telah menjadi anugerah bagi agama dan peradaban lain."

Menurut pemimpin redaksi majalah Gontor ini, sejarah pernah membuktikan hal itu. Sumbangan peradaban Islam terhadap dunia modern masih dapat ditemukan jejaknya hingga kini. Lahirnya renaissance di Eropa juga tidak lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan pusat studi di dunia Islam.

"Ini menjadi tantangan bagi umat Islam saat ini. Pernah dalam sejarah, umat Islam menjadi peradaban yang paling unggul. Kita patut bertanya mengapa itu terjadi dan apa solusinya agar kita bisa bangkit lagi," ujarnya.


 
Like us on Facebook