January 23, 2017

Mahasiswa Ubah Nilai Jelek Dengan Jasa Hacker

Demi mengubah nilai jelek, oknum mahasiwa di Universitas Sam Ratulangi, Manado, rela bayar peretas alias hacker. Seorang mahasiswa sebut saja Utu mengaku harus membayar Rp 400 ribu per mata kuliah yang ingin diubah nilainya. Dia meminta sang hacker mengganti empat mata kuliahnya yang hanya mendapatkan nilai E menjadi nilai A dan B.



Utu mengaku, ingin mengganti karena selama ini sulit mendaptkan perbaikan nilai.
Total uang yang dia berikan kepada sang hacker Rp 1,6 juta, yang diambilnya dari tabungan.
''Hacker ini bilang akan memberikan sebagian uang kepada teman yang menawari saya, dengan cara mentransfer lewat nomor rekening, '' ujar Utu.

Utu pun sempat menikmati nilai tinggi yang diperolehnya melalui cara instan itu.
Hanya kesenangan itu tak bertahan lama. Sekitar tanggal 20 November 2016 Pusat Teknologi Informasi (PTI) Unsrat menyurati beberapa fakultas tentang nama-nama orang yang terlibat dalam kasus ini.

Hacker berhasil masuk di portal Unsrat dan mengubah nilai 167 mahasiswa di universitas kebanggaan masyarakat Sulut. Wakil I Dekan di fakultas tempat Utu, kuliah meminta Wakil III Dekan yang membidangi kemahasiswaan mengurus kasus ini.

"Kami diminta membuat surat pernyataan yang isinya menceritakan kronologi kasus ini diatas meterai dan ditandatangani," ujarnya.

Beberapa hari kemudian senat dosen universitas menggelar rapat.
Hasil rapat memutuskan mereka diberi sanksi. Hukuman yang diberikan bervariasi ada yang dua semester, ada juga yang dikeluarkan. Berat ringannya sanksi sesuai pelanggaran.
Utu mengaku menyesal telah termakan bujuk rayu. Ia takut sanksi ini diketahui orang tua karena ia sebagai anak pertama harus memberi teladan kepada dua adiknya.

Ia takut tidak bisa selesai 14 semester batas kuliah, apalagi ia masih punya 24 SKS mata kuliah.
Pakai Sistem MLM Sesuai hasil investigasi Tribun Manado, kejahatan hacker ini sudah menggurita di Universitas Sam Ratulangi.
Pelaku memakai sistem Multi Level Marketing (MLM) untuk menjaring para 'korban'.
Dari hasil wawancara Tribun dengan Utu, bukan nama sebenarnya. Utu diajak oleh temannya. Temannya itu kata Utu direkrut oleh orang lain.

Pelaku, lanjut Utu sepertinya menyuruh satu orang mencari korban lainnya mirip seorang calo. Mereka diberi prosedur yang sama untuk mengubah nilai. Tapi informasi tentang orang-orang yang ikut dalam "bisnis" ini tidak diketahui sepenuhnya.
"Kami tidak tahu orang pertama yang berhubungan dengan orang itu (hacker)," katanya, Kamis (18/1/2017).
Menurut Hans Wowor, Kepala PTI Unsrat, jumlah yang menjadi 'korban' sebanyak 167 orang.
Ia mengatakan korban tersebar di banyak fakultas. Hanya dia mengaku lupa secara persis beberapa fakultas yang terkait kasus ini.
''Memang betul diganggu hacker, '' ujarnya.

Kasus ini kata Wowor, awalnya diketahui setelah seorang dosen menemukan perbedaan data miliknya dengan data di portal. Melalui laporan tahun lalu, PTI pun menelusuri. Ia dan stafnya menemukan adanya transanksi yang janggal.




references by tribunnews

 
Like us on Facebook