April 30, 2017

Hutang Riba China Rp 13 Triliyun Kereta Cepat Jakarta-Bandung Cair

Pemerintah mengungkapkan pinjaman proyek kereta cepat Jakarta-Bandung tahap awal akan cair sebesar USD 1 miliar atau setara Rp 13,3 triliun (USD 1=Rp 13.343). Utang dari China Development Bank (CDB) akan dicairkan pada 15 Mei mendatang.


"Konsultan yang melakukan Detailed Engineering Design (DED) hasilnya sudah jelas. Jadi pencairan dana pertama segera, mungkin USD 1 miliar," ujar Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno saat ditemui di Bogor, Jumat (28/4) malam.

Menteri Rini juga menginformasikan bahwa biaya pembangunan kerta cepat Jakarta-Bandung membengkak. Dari awal USD 5,19 miliar menjadi USD 5,99 miliar.

Kenaikan disebabkan adanya perubahan rencana pembangunan jalur di sejumlah titik dari melayang menjadi memakai terowongan. "Usai soil test ternyata lebih baik pakai terowongan. Ini sudah disetujui CDB," tuturnya.

Sebelumnya, investasi awal proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, yaitu USD 5,1 miliar. Jalur kereta yang membentang 142 kilometer tersebut menembus sembilan kabupaten-kota sepanjang di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi DKI Jakarta.

Selain itu, akan dibangun empat stasiun, yakni Stasiun Halim-Stasiun Karawang-Stasiun Walini-Stasiun Tegalluar (Bojongsoang, Kabupaten Bandung).

Pengerjaan fisik kereta cepat Jakarta-Bandung baru akan dimulai Maret 2017, sejak di-groundbreaking Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada awal 2016. Pengerjaan untuk 26 kilometer pertama yang dimulai dari Walini, Kabupaten Bandung Barat (KBB) itu dilakukan hasil pembebasan lahan yang sudah mencapai 60 persen dari total keseluruhan dibutuhkan.

"Lokasinya (dimulainya pengerjaan fisik dimulai dari) Walini, dan ada beberapa lokasi lainnya," kata Direktur Utama PT KCIC Hanggoro Budi di Gedung Negara Pakuan, Bandung.

Saat disinggung anggaran, pihaknya enggan terbuka dengan dana sementara yang akan digunakan untuk pembangunan tahap awal. Sama halnya dengan dana pembebasan lahan. Yang pasti KCIC memastikan jika dana yang ada mencukupi.

"Dana konstruksi masih tahap finalisasi untuk loan. Belum bisa berikan angka karena masih proses pembahasan, jangan sampai mengganggu," terangnya.




3 Bank BUMN Teken Utang China Rp 42 Triliun

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno, membawa Direktur Utama dari 3 bank BUMN ke Beijing, China. Untuk menandatangani perjanjian utang dengan Bank Pembangunan China (China Development Bank/CBD).

Bank China ini memberikan utang senilai US$ 3 miliar, atau sekitar Rp 42 triliun kepada PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).

Penandatanganan kerjasama utang dari China dilakukan antara Presiden Direktur CDB Zheng Zhijie, dengan Direktur Utama Bank Mandiri Budi G. Sadikin, Direktur Utama BRI Asmawi Syam, dan Direktur Utama BNI Achmad Baiquni. Rini ikut menyaksikan penandatanganan tersebut.

"Pada hari Rabu pukul 19.00 (waktu setempat) 16 September 2015 di Beijing, Menteri BUMN, Ibu Rini M. Soemarno bersama dengan Chairman National Development and Reform Commission (NDRC) Mr. Xu Shaoshi, menyaksikan penandatanganan pinjaman dana dari CDB," kata Kepala Bidang Komunikasi Publik Kementerian BUMN, Teddy Purnama, kepada detikFinance, Kamis (17/9/2015).

Setiap perbankan memperoleh alokasi kredit US$ 1 miliar atau setara Rp 14 triliun dari CDB. Teddy mengatakan, CDB memberi fasilitas kredit dengan tenor atau jangka waktu 10 tahun.

"Ini sudah fix dan langsung menerima," jelasnya.

Suntikan pinjaman dari CDB akan dipakai untuk financing dan refinancing berbagai program pembangunan dan perdagangan selama periode Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Pinjaman ini akan dipergunakan oleh Bank BUMN untuk pembiayaan infrastruktur dan proyek lain yang meningkatkan ekspor," tuturnya.


Nantinya, 30% dari dana pinjaman tersebut akan diterima dalam mata uang yuan atau Renminbi (RMB). Sementara sisanya dalam bentuk dolar AS.


references by detik, merdeka

 
Like us on Facebook