April 22, 2017

Provider Indonesia Bersiap Untuk Jaringan Internet 5G

Kemajuan teknologi yang pesat, membuat indsutri telekomunikasi berkembang. Indonesia pun diminta bersiap untuk kehadiran teknologi generasi 5 atau 5G.  Di masa depan, teknologi 5G diprediksi menjadi standar telekomunikasi yang diterapkan banyak pihak.  Praktisi telekomunukasi Nonot Harsono mengatakan, teknologi 5G tidak hanya sekadar melayani industri telekomunikasi. Ia menjelaskan, teknologi 5G semua perangkat dapat tersambung dengan internet.



"Teknnologi 5G merupakan lompatan yang jauh dari 4G. Teknologi ini tidak sekadar meng-cover telekomunikasi, namun juga melayani Big Data, Smart City, dan IoT," ujar Nonot Harsono. Dengan kehadiran 5G yang diperkirakan akan semakin mendekat, Nonot meminta agar pemerintah menyediakan infrastruktur yang memadai di setiap daerah.

Ketersedian infrastruktur mutlak diperlukan agar jaringan 5G dapat berjalan secara optimal. "Untuk bisa menuju environement 5G, Indonesia harus menata jaringan kabel fiber optic (backbone, backhaul, access)," lanjutnya. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengungkapkan bahwa Jaringan 5G diprediksi baru rampung 2020 mendatang. "Lalu lintas data dalam sebuah area unit jaringan 5G adalah 1.000 kali lipat dari jaringan 4G, tingkat akses pengguna meningkat 10 hingga 100 kali lipat dan kapasitas akses bisa mencapai 50 miliar pengguna," ujarnya.

Secara umum, 5G atau Fifth Generation (generasi kelima) adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut generasi kelima sebagai fase berikutnya dari standar telekomunikasi seluler meleibih standar 4G.

Teknologi generasi kelima ini direncanakan akan resmi diliris untuk sistem operasi (OS/ operating system) seluler pada 2020, sehingga saat ini masih terlalu dini untuk mengetahui akan seperti apa teknologi 5G tersebut.

Dari sisi pengembang teknologi informasi, ‎untuk menunjang implementasi 5G, perusahaan teknologi asal Tiongkok ZTE memperkenalkan beberapa teknologi Pre 5G seperti TDD & FDD Massive MIMO, Network 2020, dan Big Video.

Massive MIMO system. Teknologi ini didisain agar dapat ditingkatkan (up graded) dengan mudah ke 5G di masa depan. Teknologi Pre5G ZTE memungkinkan untuk bisa ditanam di infrastruktur jaringan 4G, sehingga membuat para operator untuk tidak mengeluarkan banyak biaya ke depannya untuk bisa mengimplementasikan teknologi 5G.

"ZTE menjadi pelopor inovasi di bidang network virtualization dan teknologi cloud network architecture yang  membantu para opertor dalam meningkatkan infrastruktur jaringan mereka, fungsi dan operasi dari jaringan operator,” ujar, Direktur Strategi Pemasaran ZTE Francis Zhu di Jakarta Selasa (18/4)

Bukan hanya teknologi jaringan, ZTE juga mendomontrasikan solusi IoT berdasarkan Narrowband-IoT (NB-IoT), berupa teknologi parker, pengukuran, pencahayaan dan  kontrol polusi air.

Sementara, bersama dengan Ericsson, XL Axiata melakukan ujicoba  5G secara outdoor, dengan mempelajari lebih dalam mengenai seluk-beluknya dalam rangka persiapan untuk menyongsong implementasi teknologi jaringan tercanggih ini secara global di tahun 2020 mendatang.

Pada ujicoba outdoor dilakukan demo teknologi robot dengan panduan gerakan tangan. Robot mamp melakukan perintah dengan cukup responsif tanpa jeda. Demikian dengan konten teknologi VR yang dapat tampil lebih baik

XL, menurut Presiden Direkturnya, Dian Siswarini, berjanji akan melakukan komersialisai pada 2020 mendatang. XL akan menyiapkan infrastruktur mulai 2018 untuk mendukung teknologi ini. “Butuh persiapan teknologi baru itu sekitar dua tahun sebelum komersil. Misalnya komersialisasi tahun 2020, berarti 2018 sudah dibuka untuk operator,” ujarnya.

Salah satu perlu adalah penggelaran lelang spektrum 5G yaitu 28 Ghz dan juga 2.000 Mhz. XL telah melakukan berbagai persiapan seperti telah penerapan sejumlah teknologi guna meningkatkan/mengoptimalkan pemanfaatan spektrum mulai dari Carrier Aggregation‎ (CA), License Assisted Access (LAA), dan kini Modulasi LTE 256 QAM. XL sudah mulai menerapkan teknologi 4.5G 4x4 MIMO.

Era Teknologi 5G

Berkembangnya Internet of  Things (IoT) seperti sekarang dibutuhkan teknologi jaringan yang lebih canggih, dengan kecepatan lebih baik, dan letensi rendah. Untuk mendukung bedah jarak jauh (remote surgery) dan mobil otonom, misalnya, dibutuhkan jaringan cepat dan responsive.

‎International Telecommunication Union (ITU) menyebutkan jaringan 5G secara teori memiliki kecepatan 20 kali dari 4G LTE, yakni mencapai 20 Gbps dengan latensi rendah. Kombinasi  kecepatan dan letensi rendah memungkinkan video resolusi tinggi dan perintah atau pesan diterima seketika hampir tanpa jeda.

Latensi merupakan ukuran seberapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk mengirim pesan dari ujung jaringan ke ujung yang lain. Dengan latensi rendah maka jaringan dapat mengirim pesan tanpa jeda untuk mengoperasikan sistem IoT.

Dalam demo 5G yang dilakukan oleh Ericsson di Jakarta, pada Senin 3 April 2017, penyedia jaringan ini mampu mencapai kecepatan hingga 5,3 Gbps, dengan latensi mencapai sektar 3 ms atau mili detik. Hasil ini mampu memberikan kontribusi pada operator jaringan dan juga konsumen.

“Bagi operator, 5G berpotensi untuk mendorong pertumbuhan pemasukan sebanyak 34 persen di 2026, jika dibandingkan pada 20161. Sementara itu, konsumen akan menikmati aplikasi baru seperti augmented reality dan video streaming 4K,” kata, Presiden Direktur Ericsson Indonesia dan Timor Leste Thomas Jul pada kesempatan tersebut.

Pertumbuhan yang disumbang oleh 5G kepada operator berasal dari sektor koporasi, dari berbagai industri, seperti otomotif, manufaktur, pertambangan, kesehatan, dan sejenisnya. Mereka selama ini menanti teknologi 4G yang berguna dalam efisiensi dan efektivitas dalam proses manufaktur dan bisnis mereka.

Ericsson Indonesia memproyeksikan pada 2022 akan ada 550 juta pengguna layanan 5G. Nantinya ada empat layanan yang bakal didukung jaringan 5G seperti fixed wireless access, factory automation, connected transport, dan extreme mobile broadband.

Direktur Ericsson Indonesia Rustam Effendie menjelaskan, teknologi 5G akan fondasi utama untuk mewujudkan potensi penuh dari masyarakat terkoneksi. “Teknologi ini akan memungkinkan organisasi, masuk ke pasar dan menciptakan aliran pendapatan baru termasuk IoT,” ujar dia.

Saat demontrasi 5G Ericsson menggunakan tangan robot sensor gerak untuk mengukur kecepatan respon, konferensi video streaming dengan resolusi 4K langsung, dengan gambar diterima oleh televisi 4K, dengan alat pengukur test bed radio 5G dan 5G new radio (NR).

Latensi rendah dengan skor 3 ms untuk robot demo pengoperasian tangan robot berbasis motion-sensing dinilai cukup mendukung aplikasi secara nyata di masa depan. Jeda waktu yang dihasilkan antara perintah dan respon tidak berbeda jauh sehingga layak dipakai.

Test bed 5G  mengukur semua fungsi yang dibutuhkan untuk uji coba pra-komersial. Fitur-fitur yang dihadirkan dalam tes ini adalah beam forming dan tracking, multi-user MIMO, transmisi multi-situs, rancangan super ramping dan dynamic TDD.

Kemampuan lain dari 5G yang juga ditunjukkan adalah video streaming konten 4K dari server ke radio base station yang dikirimkan ke perangkat 5G pengguna untuk ditampilkan di layar TV 4K. Penggunaan radio 5G juga dapat mendukung pemutaran video beresolusi 4K ke ratusan pengguna sekaligus.

Untuk Industri

Untuk menjalankan teknologi 5G pemerintah telah menyediakan frekuensi 28 Ghz, mengacu standar World Radiocommunication Conference (WRC) Dengan pita yang lebar pita 500 Mhz  ini sangat mendukung implementasi jaringan 5G, yang berguna untuk beragam industri.

“5G berguna, dalam pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan internet stabil seperti di industri manufaktur, yang memanfaatkan robot untuk suatu pekerjaan,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pada kesempatan sama.

Saat ini kata Rudiantara, pemerintah memiliki regulasi yang bersifat futuristik, agar selaras dengan teknologi yang berkembang di masa depan. Kendalanya tidak akan lagi pada regulasi tapi pada model bisnis antara vendor teknologi dan operator telekomunikasi.









references by koranjakarta

 
Like us on Facebook