July 4, 2017

Tanggapan Masyarakat Mengenai Kenaikan Listrik 900VA 2017

Sejumlah besar warga berteriak karena Tarif Dasar Listrik (TDL) dinaikkan.
Misalnya seperti disampaikan Vita, wanita yang tinggal di Depok, Minggu (18/6/2017).
"Biasanya, kami bayar listrik dengan biaya Rp 100.000-an sebulan, jadi Rp 300.000, bahkan naik terus sampai hampir Rp 500.000, bulan ini," katanya.


Warga yang tinggal di sekitar kampus Universitas Indonesia (UI), Depok ini merasa keheranan karena semua tetangga mengeluhkan hal serupa.
"Tetangga biasa Rp 180.000 jadi Rp 300.000, aneh kok gak ada beritanya padahal katanya, TDL tidak naik, itu bohong besar," katanya.


Mereka yang biasa membayar Rp 90.000 meroket jadi Rp 250.000.
"Memang aneh, kok bisa tidak diberitakan kenaikan secara kejam ini," kata Trisno, yang juga tinggal di dekat Vita.
Sedangkan kalangan warga lainnya di kawasan Bekasi juga mengeluhkan hal serupa.


Warga merasa takjub karena TDL telah menguras kantong dan penghasilan mereka.
Misalnya, Ny Yanto, seorang janda dengan anak dua orang, yang biasanya hanya membayar PLN untuk listrik Rp 100.000 per bulan terus naik hingga terakhir, Rp 450.000.


Menurut Ny Yanto, pemerintah ini terlalu kejam karena untuk janda seperti dia, uang Rp 50.000 sangat berharga untuk membiayai kebutuhan anak-anak dan kehidupan sehari-harinya.
"Mungkin, saya sudah tidak kuat lagi bayar listrik," katanya dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca.

Kehidupan warga diakui Ny Yanto yang tinggal di Bumi Bekasi Baru itu, dirasakan semakin sulit dan mencekik.




Pengguna Token Paling Tersengat

 Sejumlah pelanggan PLN merasa biaya listrik tetap naik. Pengguna listrik token paling merasakan.

Pemerintah telah menunda penyesuaian listrik untuk Periode Juli hingga Desember 2017. Akibatnya, subsidi listrik tahun ini membengkak. 
Meski begitu, sejumlah pelanggan PLN, khususnya prabayar, tetap merasakan biaya listrik tetap naik. Makin mahal.

Ali Syahbana misalnya, pelanggan PLN di Kelurahan Samata ini, mengaku hanya menikmati listrik selama dua pekan untuk token Rp50 ribu pada Juni 2017.

Sebelumnya, Ali Syahbana mengaku, penggunaan token tersebut bisa dinikmati hingga sebulan, sebab pemakaian listriknya tidak pernah berubah dari bulan-bulan sebelumnya.

Setelah menelusuri struk pembelian listrik prabayarnya, rupanya token seharga Rp50 ribu cuma mendapat daya sebesar 30 kWh.

Padahal bulan-bulan sebelumnya, Ali mengaku mendapatkan daya 70 kWh. Dia mengaku kecewa, sebab biaya administrasi pembelian token cukup banyak dibebankan kepada pelanggan.

"Sekarang butuh tambahan biaya untuk dapat menikmati listrik selama sebulan," kata Ali, Minggu, 16 Juli.

Pelanggan lainnya, Asni, mengaku menyesal mengganti meteran listrik prabayar. Menurutnya, listrik prabayar terasa lebih mahal lantaran pembelian token listrik lebih banyak biaya administrasinya.

Dia bahkan pernah menikmati listrik hanya dua hari untuk token Rp200 ribu. Padahal dia mengaku sudah berupaya hemat.

"Jika beli token sedikit demi sedikit, akan terasa juga pengeluaran. Berbeda meteran lama yang tak pakai voucher, lebih hemat," tuturnya.

Lain lagi dengan Abdul Karim, dia terpaksa mencari biaya tambahan lantaran pembelian token membengkak menjadi Rp700 ribu per bulan. Biasanya kata dia, biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan listrik hanya Rp400 ribu.

Dia bilang, penggunaan token mesti dievaluasi ulang, terutama untuk biaya-biaya yang dibebankan kepada pelanggan.

"Biaya-biaya tersebut cukup memberatkan, seperti pajak penerangan jalan, padahal pelanggan sudah dikenakan kenaikan tarif," ungkapnya. 

Untuk komentar lainnya silahkan kunjungi link ini 
http://listrik.org/pln/tarif-dasar-listrik-pln/

Lihat dibagian bawah halaman paling bawah 
untuk membaca satu persatu keluhan / komentar rakyat tentang kenaikan listrik 900VA

references by fajaronline, tribunnews

 
Like us on Facebook