Pages

August 19, 2026

Kenapa Makanan MBG Beracun?

Kasus keracunan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan disebabkan oleh racun sengaja, melainkan akibat kontaminasi bakteri, virus, atau zat kimia di sayuranm daging, buah karena proses penyiapan dan pengelolaan makanan dalam jumlah besar yang tidak higienis dan salah

 


Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin memaparkan sejumlah temuan penyebab keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Budi Gunadi menyebut ada sejumlah bakteri hingga virus yang menjadi penyebab, salah satunya salmonela hingga Escherichia coli.

"Jadi dari hasil penelitian epidemiologi dari seluruh SPPG yang kita lihat ada keracunan, ini adalah penyebab-penyebabnya secara medis. Jadi ada yang bakteri, ada beberapa itu virus, dan ini kimia," ungkap Budi Gunadi di Rapat Komisi IX DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (1/10/2025).

Dalam presentasi yang dipaparkan, ia merinci daftar bakteri dan virus itu. Berikut ini daftarnya:


Bakteri
1. Salmonela
2. Escherichia coli
3. Bacillus cereus
4. Staphylococcus aureus
5. Clostridium perfringens
6. Listeria monocytogenes
7. Campylobacter jejuni
8. Shigella

Virus
1. Norovirus/rotavirus
2. Hepatitis A virus

Kimia
1. Nitrit
2. Scombrotoxin (histamine)

 

 Faktor Utama Penyebab Makanan MBG Menjadi Beracun

 

  • Waktu Tunggu Terlalu Lama: Makanan dimasak terlalu dini hari (subuh atau tengah malam) tetapi baru dikonsumsi pada siang hari, melebihi batas aman 4–6 jam penyimpanan di suhu ruang
  • Kontaminasi Bakteri: Munculnya bakteri seperti Staphylococcus aureus, Escherichia coli, atau Salmonella akibat alat masak kotor, bahan baku makanan dan minuman yang tidak segar, atau tangan, media/tempat penyimpanan penjamah makanan yang kurang higienis. 
  • Kesalahan Pengemasan (Zona Bahaya Suhu): Makanan panas/hangat langsung ditutup rapat dalam wadah, membuat suhu turun perlahan di kisaran 4°C–60°C yang menjadi tempat ideal perkembangbiakan bakteri dengan cepat
  • Pencucian tempat makan tak bersih atau terjadi kelembaban saat disimpan/ditumpuk bisa picu berkembangnya berbagai bakteri 
  • Lemahnya Tata Kelola Dapur: Banyak dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memproduksi ribuan porsi namun belum memiliki Sertifikat Laik Higienis Sanitasi (SLHS) atau kurang pengawasan tenaga ahli gizi
  • Bahan makanan, minuman, buah, sayur yang sudah mendekati kadaluarsa atau bahkan lewat kadaluarsa atau busuk tetap diolah jadi masakan/makanan untuk konsumsi

 

Keracunan makanan terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh kuman atau zat berbahaya. Kondisi ini bisa menimbulkan keluhan berupa mual, muntah, sakit perut, diare, bahkan demam. 

Jika tidak segera ditangani, keracunan makanan dapat menyebabkan dehidrasi, terutama pada anak-anak dan orang dengan daya tahan tubuh lemah.

 

Infeksi mikroorganisme

Keracunan makanan paling sering disebabkan oleh infeksi kuman yang mencemari makanan atau minuman. Infeksi ini bisa berasal dari:

  • Bakteri, seperti Salmonella, Escherichia coli (E. coli), Listeria, atau Clostridium botulinum yang dapat menghasilkan racun berbahaya.
  • Virus, misalnya norovirus atau hepatitis A, yang mudah menular melalui makanan laut atau sayuran yang terkontaminasi.
  • Parasit, seperti Giardia atau Toxoplasma, yang biasanya ditularkan melalui air atau makanan yang tidak higienis.

 

Selain kuman, keracunan makanan juga bisa terjadi karena paparan zat berbahaya, seperti pestisida, bahan pengawet berlebihan, atau logam berat (merkuri, timbal, arsenik) yang mencemari bahan makanan.

Kesalahan dalam pengolahan dan penyimpanan makanan

Beberapa kebiasaan tidak higienis juga dapat meningkatkan risiko keracunan makanan. Kesalahan ini sering terjadi tanpa disadari, baik di rumah maupun di tempat makan umum, misalnya:

  • Menyimpan makanan pada suhu yang tidak tepat.
  • Memasak makanan tidak sampai matang, terutama daging, telur, atau seafood.
  • Tidak mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan atau ada benda yg terkontaminasi.
  • Terjadi kontaminasi silang karena penggunaan alat masak yang sama untuk makanan mentah dan matang.
  • Mengonsumsi susu, keju, atau produk olahan susu yang tidak dipasteurisasi.
  •   
Tanda-Tanda Umum Keracunan
  • Mual dan muntah: Terasa ingin memuntahkan makanan yang baru saja dimakan.
  • Nyeri perut: Kram atau sakit di bagian perut secara terus-menerus.
  • Diare: Buang air besar cair secara berlebihan.
  • Pusing dan lemas: Kepala terasa pusing dan tubuh kekurangan tenaga.
  • Demam

 

Ciri Makanan / Minuman MBG Ada Bakteri 

 

Tanda Fisik dan Kondisi Makanan
  • Aroma: Tercium bau tidak sedap, basi, atau menyengat.
  • Permukaan: Ada lendir tipis atau berbusa pada kuah/lauk.
  • Bentuk: Tekstur makanan rusak, hancur, atau terlalu lembek. Terlihat jamuran putih atau kuning sekitar makanan
  • Waktu: Melewati batas aman konsumsi lebih dari 4 jam setelah matang di suhu ruang

Ciri makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terkontaminasi zat kimia berbahaya (seperti nitrit) atau beracun sering kali sulit dibedakan hanya dengan mata telanjang, namun bisa dikenali dari perubahan fisik yang tidak wajar. Pada beberapa kasus, kontaminasi kimia atau basi ditandai dengan warna yang berubah, bau menyengat, atau rasa yang aneh

Ciri Fisik Makanan Terkontaminasi
  • Warna: Berubah tidak normal (terlihat terlalu pucat, keabu-abuan, atau kehijauan pada lauk).
  • Bau: Beraroma apek, tengik, atau berbau kimia tajam yang tidak sedap.
  • Tekstur: Menjadi terlalu lembek, hancur, atau berlendir.
  • Rasa: Terasa pahit, sangat asin, atau getir di lidah

 

 

Apakah Keracunan Makanan MBG Bisa Meninggal ?

Ya, gejala keracunan makanan (termasuk dari program Makan Bergizi Gratis/MBG) bisa menyebabkan kematian jika tidak segera mungkin ditangani dengan benar atau salah penanganan oleh puskemas/klinik/rumah sakit, terutama akibat dehidrasi parah, infeksi bakteri berat (seperti Salmonella atau E. coli), atau komplikasi penyakit pada organ tubuh sang anak/guru. Meskipun sebagian besar kasus dapat sembuh, beberapa laporan kasus dugaan atau investigasi medis pernah menyoroti risiko fatalitas akibat penurunan kondisi tubuh yang drasti