Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang menembus angka Rp 17.650 turut berdampak pada meroketnya harga suku cadang kendaraan. Lonjakan harga ini memaksa para pemilik bengkel untuk menaikkan harga jual produk mereka terutama oli yang mengalami peningkatan harga paling besar.
Anto (48), seorang pemilik bengkel motor di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, mengungkapkan bahwa lonjakan harga ini dipicu oleh melemahnya rupiah terhadap dolar saat persediaannya mayoritas merupakan barang impor.
"Iya (naik karena dolar) soalnya kan mereka itu spare part rata-rata pada impor ya," ujar Anto saat ditemui Kompas.com di bengkelnya, Rabu (20/5/2026).
Anto menjelaskan, dalam beberapa minggu terakhir, harga berbagai kebutuhan pokok bengkel naik berkisar antara 20 hingga 30 persen.
Jenis barang yang paling terasa melonjak adalah oli mesin, yang menjadi kebutuhan paling rutin bagi pemilik kendaraan bermotor.
"Terutama oli ya, yang banyak naik tuh oli. Banyak naiknya. Naiknya itu bisa 30 persen. Ada yang 20 persen, ada yang 30 persen, merk Shell itu dari Rp 55.000 sekarang Rp 75.000," kata Anto.
Bahkan, sejumlah merk oli juga sempat mengalami kelangkaan stok saat impor barang tengah dibatasi.
Selain oli, angka kenaikan harga juga terjadi pada berbagai komponen suku cadang lainnya, mulai dari ban hingga komponen kecil seperti baut.
"Untuk suku cadang lainnya juga naik. Ya ban luar, ban dalam juga, terus untuk baut-baut, tapi semuanya sih hampir semua ya, tapi nggak begitu banyak ya naiknya," ucap Anto.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Anto dari para agen grosir, kenaikan harga yang terjadi sejak satu hingga dua bulan lalu ini bermula dari hambatan rantai pasok global dan melonjaknya biaya produksi bahan baku pembungkus, seperti plastik.
Hal ini kemudian diperparah oleh tekanan nilai tukar dolar AS yang makin melonjak seiring melemahnya rupiah.
"Katanya sih alasannya salah satunya juga plastik naik, gitu. Terus kalau yang barang-barang yang impor itu pengiriman agak terhambat, stok enggak ada, akhirnya kan barang dibagi-bagi, akhirnya ya mau enggak mau mereka naikkan. Dolar juga lagi naik juga gitu kayak sekarang, rata-rata pada impor. Dari sebelum dolar naik kayak sekarang, perlahan dia," ucap dia.
Sebelum lonjakan harga ini resmi diberlakukan, Anto sempat menghadapi situasi sulit akibat kelangkaan barang di tingkat grosir selama beberapa minggu.
Senada dengan Anto, Zuhri (50) pemilik bengkel lainnya juga membenarkan adanya kenaikan harga, salah satunya suku cadang vanbelt sebesar kurang lebih Rp 15.000.
Pembeli Berkurang
Kenaikan harga tersebut, kata Anto, mulai memengaruhi perilaku konsumen.
Pelanggan yang biasanya rutin mengganti oli setiap bulan kini mulai menunda servis demi menghemat pengeluaran.
“Seharusnya dia ganti tuh agak ditahan gitu. Agak diundurin, misalnya sebulan sekali jadi sebulan setengah,” jelasnya.
Selain oli, sejumlah suku cadang lain seperti ban luar, ban dalam, hingga spare part juga mengalami kenaikan harga, meski tidak sebesar oli.
Ucapan Prabowo soal Dolar Dibantah Warga Desa karena Harga Onderdil & Kedelai Meroket
Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) melemah dan mulai berdampak hingga ke pelaku usaha di desa-desa.
Mengutip laman Bank Mandiri, per hari ini, Rabu (20/5/2026), nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS mencapai Rp17.750.
Dampak naiknya rumah juga sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu dan kini mulai berdampak ke masyarakat.
Seorang pelaku usaha bengkel Cahaya Motor Blora, Andika Putra Wijaya mengatakan, anjloknya Rupiah ini berdampak pada kenaikan harga oli, ban, hingga onderdil sepeda motor.
Bahkan ia mengatakan, kenaikan tersebut sudah terjadi sejak tiga bulan terakhir.
Kepada TribunJateng.com, ia menuturkan kenaikan tersebut karena barang dagangannya adalah barang impor.
"Semua barang besi-besi, barang cairan dari minyak semua naik. Bahan oli, logam-logam naik semua karena minyak bumi naik," ujarnya, Selasa (19/5/2026).
Kenaikannya beragam, mulai dari 10 hingga 30 persen.
Produk oli dan onderdil motor, lanjut Andika, menjadi barang dengan lonjakan tertinggi.
"Kenaikan sampai 20 persen, 25 persen bahkan ada yang 30 persen. Kalau ban itu naiknya 10 persen," katanya.
Ia menuturkan, bengkelnya menjual oli, ban motor, dan onderdil motor.
Hampir semua produk yang dijualnya tersebut mengalami kenaikan harga.
"Kalau ban mungkin sekitar 10 persen, tapi rata-rata barang lain naik 20 sampai 30 persen," terangnya.
Atas kenaikan harga tersebut berdampak pada turunnya daya beli masyarakat.
Dalam beberapa waktu terakhir, pelanggan yang datang ke tokonya turun drastis.
"Jauh lebih sepi. Penurunan konsumen bisa 30 sampai 40 persen setiap harinya," jelasnya.
Ia menilai, daya beli masyarakat melemah karena harga barang yang makin mahal.
Andhika berharap, situasi ini bisa segera berakhir dan harga-harga kembali normal.
"Daya beli lagi lemah. Kita sebagai masyarakat biasa ya cuma berharap harga bisa kembali normal," jelasnya.
Pengusaha Tempe Terdampak Kenaikan Harga Kedelai Impor
Efek dari melemahnya Rupiah terhadap Dollar AS juga berdampak terhadap usaha pembuatan tempe di Desa Pliken, Kembaran, Banyumas, Jateng.
Tempe sendiri dibuat dari bahan baku kedelai yang harus impor dari Amerika.
Isti, salah satu perajin tempe pun mengatakan bahwa usahanya bergantung terhadap nilai tukar dollar AS.
"Pak Prabowo apa tahu harga kedelai mahal?" kata Isti saat ditemui, Rabu (20/5/2026).
Ia menuturkan, harga kedelai terus mengalami kenaikan dalam beberapa minggu ini.
Semula, harga kedelai Rp10 ribu per kilogram, kini menjadi Rp10.600 per kilogram.
Pengguna motor yang dikenal vampir oli kini benar-benar pusing,,,,
references by
https://jakarta.tribunnews.com/jakarta/435545/harga-oli-dan-suku-cadang-motor-naik-imbas-dolar-bengkel-di-palmerah-akui-pembeli-berkurang
https://megapolitan.kompas.com/read/2026/05/20/18325781/dollar-as-tembus-rp-17650-harga-oli-melonjak-30-persen
https://video.tribunnews.com/news/937113/realita-pahit-ucapan-prabowo-soal-dolar-dibantah-warga-desa-karena-harga-onderdil-kedelai-meroket









