Sebanyak 33 negara di berbagai belahan dunia mengimbau masyarakat menyiapkan persediaan makanan, air minum, dan perlengkapan darurat untuk menghadapi kemungkinan terjadinya krisis. Imbauan tersebut mencakup persiapan menghadapi berbagai ancaman, mulai dari perang, cuaca ekstrem, bencana alam, hingga serangan siber yang berpotensi mengganggu layanan penting.
Sejumlah negara menyarankan masyarakat memiliki persediaan kebutuhan pokok yang cukup untuk bertahan selama 72 jam atau tiga hari.
Sementara itu, beberapa negara lainnya meminta warga bersiap untuk menghadapi keadaan darurat yang berlangsung lebih lama.
Dilansir dari Newsweek, Rabu (28/10/2026), Perancis dan Inggris termasuk negara yang baru-baru ini kembali mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya memiliki persediaan darurat.
Pemerintah wilayah Normandia, Perancis, bahkan menerbitkan imbauan melalui media sosial pada Selasa (27/10/2026).
"Jangan menunggu keadaan darurat terjadi. Bersiaplah sekarang!" demikian pernyataan pemerintah wilayah tersebut.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi sehingga puluhan negara mengeluarkan imbauan untuk menyiapkan makanan dan air?
Mengapa 33 negara mengimbau warga menyimpan makanan dan air?
Imbauan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap berbagai situasi darurat.
Menurut Newsweek, pemerintah di sejumlah negara semakin mendorong warga memiliki perlengkapan yang memungkinkan mereka memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri ketika terjadi krisis.
Keadaan darurat yang dimaksud tidak selalu berkaitan dengan perang.
Bencana alam, badai, banjir, gangguan jaringan listrik, hingga serangan siber juga dapat menghambat distribusi makanan, air, dan layanan penting.
Dalam kondisi tersebut, masyarakat mungkin tidak dapat langsung memperoleh bantuan atau membeli kebutuhan sehari-har
Oleh karena itu, pemerintah menganjurkan warga menyiapkan persediaan sebelum keadaan darurat terjadi.
Meski demikian, 33 negara yang dihimpun Newsweek tidak semuanya mengeluarkan peringatan baru secara bersamaan.
Sebagian negara telah lama memiliki panduan kesiapsiagaan bencana, sedangkan negara lainnya memperbarui anjuran tersebut seiring perkembangan ancaman keamanan.
Perancis dan Inggris minta warga bersiap selama 72 jam
Perancis menjadi salah satu negara yang kembali mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya memiliki perlengkapan darurat. Pemerintah wilayah Normandia mengimbau warga menyiapkan tas berisi kebutuhan pokok yang cukup untuk bertahan selama 72 jam.
Perlengkapan tersebut antara lain air minum, makanan yang tahan lama, obat-obatan, senter, dan radio bertenaga baterai.
Kementerian terkait di Perancis menjelaskan bahwa 72 jam pertama setelah bencana besar sering kali menjadi periode yang paling sulit.
Sebab, jaringan listrik, gas, air bersih, dan akses jalan dapat terganggu sehingga bantuan tidak selalu dapat segera menjangkau seluruh warga.
Panduan resmi Perancis juga menyarankan setiap orang menyediakan enam liter air minum untuk kebutuhan darurat selama tiga hari.
Sementara itu, pemerintah Inggris turut menganjurkan warga memiliki persediaan kebutuhan dasar selama 72 jam.
Perdana Menteri Inggris bahkan menyinggung makanan kaleng yang biasa disimpannya di rumah ketika berbicara dalam wawancara dengan BBC Radio.
"Saya suka kacang-kacangan, jadi saya punya cukup banyak persediaannya di lemari, begitu juga sup. Saya pikir itulah jenis makanan yang akan saya sarankan untuk disimpan," katanya.
Anjuran tersebut bertujuan membantu rumah tangga memenuhi kebutuhan dasar apabila terjadi gangguan layanan atau distribusi barang.
Eropa siapkan masyarakat menghadapi perang dan ancaman siber
Dorongan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menjadi perhatian khusus di Eropa dalam beberapa tahun terakhir.
Pada Maret 2025, Komisi Eropa memperkenalkan strategi Preparedness Union untuk meningkatkan kemampuan negara-negara anggota dalam menghadapi berbagai krisis.
Strategi tersebut disusun di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, konflik bersenjata, ancaman siber, serta risiko bencana akibat perubahan iklim.
Salah satu targetnya adalah meningkatkan kemampuan masyarakat untuk bertahan secara mandiri selama sedikitnya 72 jam ketika terjadi keadaan darurat.
Komisi Eropa juga menekankan pentingnya peningkatan sistem peringatan dini, pendidikan kesiapsiagaan, serta kerja sama antara pemerintah dan sektor swasta.
Dengan demikian, imbauan menyimpan makanan dan air tidak hanya ditujukan untuk menghadapi kemungkinan konflik militer.
Persediaan darurat juga diperlukan apabila infrastruktur penting mengalami gangguan akibat cuaca ekstrem atau serangan terhadap sistem digital.
Berapa lama persediaan yang dianjurkan setiap negara?
Meskipun memiliki tujuan serupa, jangka waktu persediaan yang dianjurkan berbeda-beda. Perancis, Inggris, Jepang, Meksiko, Belanda, dan Kanada termasuk negara yang menyarankan perlengkapan darurat untuk kebutuhan selama 72 jam.
Sementara itu, Swedia dan Norwegia menganjurkan masyarakat menyiapkan persediaan untuk sekitar satu pekan. Jerman menyarankan kebutuhan pokok yang cukup untuk bertahan hingga 10 hari.
Amerika Serikat tidak hanya menekankan persiapan selama tiga hari, tetapi juga menganjurkan masyarakat memiliki persediaan yang cukup untuk beberapa hari.
Melalui situs resmi Ready.gov milik Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, pemerintah menyampaikan pentingnya menyiapkan makanan, air, dan kebutuhan pribadi sebelum terjadi keadaan darurat.
"Siap menghadapi keadaan darurat berarti memiliki makanan, air, dan persediaan lain milik sendiri yang cukup untuk beberapa hari," demikian panduan tersebut, dilansir Kompas.
Tidak semua negara menetapkan jangka waktu tertentu
Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional India, misalnya, menganjurkan rumah tangga menyiapkan perlengkapan darurat tanpa menentukan durasi yang seragam.
Di sejumlah wilayah, anjuran juga disesuaikan dengan jenis ancaman yang paling mungkin terjadi.
Pemerintah Australia Barat, misalnya, mendorong masyarakat di wilayah rawan siklon menyiapkan makanan, air, dan obat-obatan.
Sementara itu, Pemerintah Kota Cape Town di Afrika Selatan menyarankan rumah tangga memiliki kebutuhan pokok yang cukup untuk sedikitnya tiga hari.
Daftar 33 negara yang mengimbau kesiapsiagaan darurat
Berdasarkan pemetaan Newsweek, terdapat 33 negara dan wilayah yang memiliki panduan mengenai penyimpanan makanan atau perlengkapan darurat.
Negara-negara tersebut tersebar di enam kawasan dunia.
Eropa (17 negara):
- Inggris
- Irlandia
- Perancis
- Jerman
- Belanda
- Denmark
- Norwegia
- Swedia
- Finlandia
- Estonia
- Latvia
- Lithuania
- Polandia
- epublik Ceko
- Austria
- Swiss
- Kroasia
Amerika Utara (3 negara):
- Amerika Serikat
- Kanada
- Meksiko
Amerika Selatan (4 negara):
- Chile
- Kolombia
- Argentina
- Brasil
Afrika (1 negara):
- Afrika Selatan
Asia (6 negara dan wilayah):
- Jepang
- Taiwan
- Israel
- India
- Filipina
- Singapura
Oseania (2 negara):
- Selandia Baru
- Australia
Daftar tersebut merupakan hasil penghimpunan panduan kesiapsiagaan oleh Newsweek, bukan daftar negara yang secara bersamaan menetapkan status darurat.
Apa saja makanan dan barang yang perlu disiapkan?
Meskipun jangka waktu persediaan berbeda, jenis perlengkapan yang dianjurkan pemerintah di berbagai negara relatif serupa.
Masyarakat umumnya disarankan menyiapkan makanan yang tidak mudah rusak dan tidak memerlukan proses memasak yang rumit.
Selain itu, air minum menjadi kebutuhan penting karena pasokan air bersih dapat terganggu ketika bencana terjadi.
Menurut panduan pemerintah Perancis, perlengkapan darurat sebaiknya mencakup:
- Air minum dan makanan tahan lama.
- Obat-obatan pribadi serta perlengkapan pertolongan pertama.
- Senter, radio, dan baterai cadangan.
- Pengisi daya ponsel.
- Pakaian hangat dan selimut darurat.
- Uang tunai dan salinan dokumen penting.
- Kunci cadangan serta perlengkapan dasar lainnya.
Persediaan tersebut sebaiknya ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau dan diperiksa secara berkala.
Pemerintah Perancis menyarankan masyarakat memeriksa perlengkapan darurat setidaknya sekali dalam setahun untuk memastikan makanan, obat-obatan, dan baterai masih dapat digunakan.
AS juga siapkan pangkalan militer menghadapi gangguan pasokan
Selain anjuran bagi masyarakat sipil, Amerika Serikat juga mengambil langkah untuk meningkatkan kesiapan fasilitas militernya.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada 30 September 2026 memperkenalkan inisiatif bernama Federal Operations for Resilience, Troop Resources, Energy, Supply and Survivability atau FORTRESS.
Program tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan pangkalan militer AS untuk tetap beroperasi apabila pasokan dari luar terputus selama konflik. Dalam rencana tersebut, lebih banyak pangkalan militer ditargetkan mampu beroperasi secara mandiri selama sedikitnya tiga bulan.
Hegseth menggambarkan inisiatif itu sebagai bentuk perlindungan terhadap ketahanan nasional Amerika Serikat.
Namun, program kesiapan pangkalan militer tersebut berbeda dari panduan persediaan darurat yang ditujukan kepada masyarakat umum.
Keduanya menunjukkan perhatian terhadap risiko gangguan pasokan, tetapi memiliki kebutuhan dan tujuan yang tidak sama.
Apakah 33 negara sedang bersiap menghadapi perang?
Imbauan dari 33 negara tersebut tidak dapat diartikan sebagai tanda bahwa perang besar akan segera terjadi.
Panduan yang dihimpun Newsweek mencakup berbagai situasi darurat, dan sebagian telah diterapkan sejak sebelum Oktober 2026.
Pemerintah di berbagai negara menekankan bahwa kesiapsiagaan bertujuan mengurangi risiko ketika terjadi gangguan mendadak terhadap kebutuhan sehari-hari.
Dengan memiliki persediaan makanan, air, obat-obatan, dan alat komunikasi, masyarakat diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar selama menunggu bantuan atau pemulihan layanan.
Karena itu, anjuran tersebut lebih tepat dipahami sebagai langkah antisipasi terhadap berbagai kemungkinan krisis, bukan pengumuman bahwa ancaman tertentu dipastikan akan segera terjadi









