MASUKAN KATA DI KOTAK BAWAH INI UNTUK MENCARI.. LALU KLIK TOMBOL "SEARCH"

JUAL Berbagai Sistem Operasi dan Software PC/Laptop Murah

Jual murah OS/Software Terbaru atau Lama

Showing posts with label iklim. Show all posts
Showing posts with label iklim. Show all posts

August 12, 2026

Apa Penyebab Super El Nino?

Rusaknya Hutan diberbagai belahan dunia dan makin panasnya suhu bumi akibat emisi jadi salah satu penyebab terjadinya Super El Nino. 

 


El Niño adalah “perubahan suhu permukaan air di Pasifik tropis,” kata Muhammad Azhar Ehsan, seorang ilmuwan peneliti di Columbia Climate School. Jika air lebih hangat dari biasanya, itu dapat memicu efek El Niño. Suhu yang lebih dingin dari biasanya seringkali menyebabkan La Niña. 

Apa yang menyebabkan perubahan suhu air laut ini? Perubahan ini merupakan bagian dari pola iklim alami yang disebut El Niño-Southern Oscillation, atau ENSO. Biasanya, angin pasat bertiup ke barat sepanjang khatulistiwa Bumi, mendorong air hangat dari Amerika Selatan menuju Asia. Namun terkadang angin pasat melemah dan air hangat "bergetar" kembali ke Amerika Selatan. Hal ini mengakibatkan suhu air laut yang lebih hangat dari rata-rata di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur, dan perubahan signifikan dalam pola cuaca global—di antaranya musim dingin yang lebih ringan di Amerika Serikat bagian utara dan kondisi yang lebih basah di bagian selatan negara tersebut.

Istilah El Niño “berasal dari bahasa Spanyol yang berarti 'Anak Kristus',” kata Mingfang Ting, seorang profesor iklim di Columbia Climate School. “Fenomena ini biasanya terjadi sekitar waktu Natal,” ketika El Niño sering mencapai puncaknya. 

 

El Niño yang "sangat kuat" berarti permukaan air Samudra Pasifik di sekitar khatulistiwa lebih hangat lebih dari 2 derajat Celcius dibandingkan rata-rata. Ketika para ilmuwan mempelajari ENSO, mereka melihat seberapa besar penyimpangan suhu permukaan laut Pasifik dari rata-rata jangka panjang untuk mengklasifikasikan intensitas suatu sistem:

  • Lemah: 0,5 hingga 0,9 °C lebih hangat dari biasanya
  • Sedang: 1,0 hingga 1,4 °C lebih hangat dari biasanya
  • Kuat: 1,5 °C hingga 2,0 °C lebih tinggi dari normal
  • Sangat Kuat: Anomali melebihi 2,0 °C

Sejak tahun 1980, hanya ada tiga peristiwa El Niño yang diklasifikasikan sebagai "sangat kuat" atau "super".

El Niño tahun  1982-1983  disebut sebagai "yang terkuat dan paling dahsyat di abad ini" karena angin pasat runtuh dan berbalik arah, menyebabkan bencana cuaca di hampir setiap benua. Australia, Afrika, dan Indonesia mengalami kekeringan, badai debu, dan kebakaran hutan, sementara Peru dan sebagian Amerika Selatan mengalami curah hujan terberat dalam sejarah yang tercatat. Peristiwa El Niño tersebut menyebabkan hampir  2.000 kematian dan kerugian lebih dari $13 miliar .

Pada Desember 1997,  El Niño yang sangat kuat  membawa kondisi lebih basah dari biasanya di sebagian besar wilayah selatan AS, sementara negara-negara bagian utara mengalami suhu lebih hangat dari rata-rata, menjadikannya musim dingin terhangat kedua dan terbasah ketujuh sejak 1895. Pada Januari dan Februari 1998, suhu rata-rata nasional hampir 2,8 derajat Celcius lebih hangat dari biasanya dan negara tersebut menerima rata-rata 6,01 inci curah hujan dibandingkan dengan normal 4,05 inci.

Tahun 2015 adalah peristiwa El Niño yang sangat kuat terakhir , ketika suhu rata-rata Samudra Pasifik tropis 2,4 derajat Celcius lebih tinggi dari normal. Tahun itu, Pasifik Utara mengalami rekor 16 siklon tropis; kekeringan selama 500 tahun di Karibia menyebabkan penjatahan air di Puerto Rico; dan suhu permukaan global sangat panas sehingga tahun 2015 memegang predikat sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat. Masih dipengaruhi oleh El Niño, tahun 2016 bahkan lebih panas, memegang rekor sepanjang masa hingga tahun 2023. 

Orang mungkin berasumsi bahwa pemanasan planet akan memperkuat ENSO, yang menyebabkan siklus yang lebih intens, tetapi para ilmuwan tidak sepenuhnya yakin seberapa besar perubahan iklim memengaruhi El Niño. “Meskipun kita mengalami peningkatan besar pada suhu permukaan rata-rata global, El Niño tidak menjadi lebih kuat,” kata Ting.

Mengingat betapa langkanya peristiwa El Niño yang "sangat kuat", para ilmuwan mengatakan bahwa kemunculannya saja belum tentu merupakan indikasi dampak cuaca yang lebih intens. "El Niño sangat unik dalam perkembangannya," kata Ehsan. "Dampaknya bergantung pada kekuatan, waktu, dan interaksi dengan pola iklim lain di atmosfer dan lautan."

Ehsan adalah anggota kelompok penasihat CPC/NOAA yang mengembangkan prakiraan ENSO bulanan. CPC memprediksi suhu di atas rata-rata untuk sebagian besar wilayah AS, sementara sebagian Pantai Timur dan barat daya AS akan mengalami curah hujan di atas rata-rata, menurut prospek  musiman Juni-Agustus 2026. Dengan peluang 82 persen bahwa El Niño akan muncul selama periode Mei-Juli, Ehsan mengantisipasi badai yang lebih aktif dan lebih basah di selatan, suhu yang lebih hangat dari normal di utara, dan potensi peningkatan kejadian cuaca yang merugikan. 

 

Fenomena Super El Niño di Indonesia memicu musim kemarau yang jauh lebih kering dan panjang dengan suhu panas ekstrem. Puncaknya berdampak langsung pada sektor pertanian, kebakaran hutan dan lahan, krisis air bersih, keringnya danau, waduk dan sungai, suhu udara panas/gerah  pada siang dan malam hari, serta peningkatan risiko bencana kekeringan di sebagian besar selatan wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

  


 

June 29, 2018

Kenapa Dingin Saat Malam Hari Musim Kemarau?

Pada bulan Juni, BMKG telah memprediksi bahwa wilayah DI Yogyakarta akan dilanda musim kemarau. Sebelumnya bahwa BMKG telah memprediksi musim kemarau DIY akan dimulai pada April dasarian III dan Mei dasarian I.


Musim kemarau biasanya ditandai dengan turunnya curah hujan atau bahkan beberapa wilayah akan kekeringan.Namun pada musim kemarau, sebagian warga merasakan hawa dingin yang menusuk, terutama saat malam hari.

Sebagian warga merasakan hawa dingin yang menusuk, terutama kali malam hari.Mengapa masalah itu terjadi?

Dilansir dari bermacam sumber pada musim kemarau, permukaan bumi lebih kering.

Isi air di pada tanah menipis dan uap air di udara juga amat sedikit jumlahnya. Air adalah zat penghantar panas yang cukup baik, sehingga simple menyimpan energi panas dari cahaya matahari.

Pada musim penghujan, di kali permukaan bumi waktu ditemukan banyak air, panas matahari hendak lebih banyak tersimpan di air-air itu.

Sebaliknya, pada musim kemarau, di kali permukaan bumi waktu kering, panas matahari hendak lebih banyak terbuang dan hilang ke angkasa.

Itulah sebab, suhu udara musim kemarau lebih dingin daripada suhu udara musim hujan.

Rasakan dingin ini kadang jadi penyebab sejumlah orang untuk malas mandi.


references by tribun jogja

December 20, 2017

Warga Jogja Dihimbau Waspada Oleh BMKG

Masyarakat di wilayah DI Yogyakarta diminta untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem. Hujan dengan kategori sedang dan lebat disertai petir dan angin kencang akan berpotensi muncul pada sebagian besar wilayah Kabupaten Sleman, Kulon Progo bagian utara dan barat, Kota Yogyakarta, Bantul utara, dan sebagian besar Gunung Kidul.


Untuk itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengimbau masyarakat mewaspadai frekuensi dan intensitas hujan yang akan terus meningkat selama Desember 2017 hingga Januari 2018.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Djoko Budiono menjelaskan, cuaca ekstrem ini dipicu penguatan angin monsoon Asia ke wilayah Pulau Jawa. Adanya penguatan angin monsoon Asia yang banyak itu membawa uap air hingga di Pulau Jawa.

“Selain monsoon Asia, dari analisa pola angin terlihat adanya daerah tekanan rendah di barat daya Pulau Jawa. Kondisi itu berdampak pada pembentukan awan-awan hujan di DIY,” ujar Djoko di Yogyakarta, Selasa (19/12/2017).

Curah hujan di DIY, kata dia lagi, diprediksi berkisar antara 30-70 milimeter per hari. Sementara itu, kecepatan angin maksimum bisa mencapai 20 knot atau 36 km per jam dengan suhu udara berkisar 22-32 Celsius.

"Untuk gelombang laut di pesisir selatan DIY kategori sedang dengan ketinggian berkisar 1,5 hingga 2,5 meter," kata dia seperti dilansir Antara.

Dengan adanya potensi cuaca ekstrem, BMKG mengimbau kepada masyarakat agar waspada terhadap potensi genangan, banjir, maupun longsor bagi yang tinggal diwilayah berpotensi hujan lebat terutama di daerah rawan banjir dan longsor.

BMKG juga menyarankan agar tidak berlindung di bawah pohon jika terjadi hujan disertai kilat atau petir. Waspada terhadap kenaikan tinggi gelombang laut saat hujan lebat disertai angin kencang pada kapal berukuran kecil terutama bagi para nelayan.

BMKG sebelumnya memprediksi akan terjadi hujan lebat menjelang Natal 2017 dan Tahun Baru 2018. Untuk itu, masyarakat diimbau mewaspadai potensi cuaca ekstrem ini dalam beberapa hari.

"Berdasarkan analisis BMKG, potensi hujan lebat menjelang Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 cukup besar. Hal ini disebabkan suplai massa udara lembab dari Samudera Pasifik dan daratan Asia serta dari Samudera Hindia yang terakumulasi di wilayah kepulauan Indonesia sehingga sangat intensif menjadi penyebab utama terjadi potensi hujan lebat di wilayah negara kita," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Jakarta, Senin (18/12/2017).

December 16, 2017

La Nina Di Indonesia Akan Terjadi Akhir 2017

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena La Nina semakin menguat di akhir tahun 2017. Namun itu tidak signifikan dalam penambahan curah hujan.


"Secara klimatologis La Nina di musim hujan yaitu penambahan curah hujan dari normalnya kurang signifikan," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) BMKG Indonesia Hary Djatmiko saat dihubungi Republika, Jumat (15/12).

Ia menyebutkan, prediksi BMKG, curah hujan pada Desember 2017 berada pada kisaran menengah sampai tinggi (200 - 500mm/bulan) berpeluang di Sulawesi Selatan bagian selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua bagian selatan.

Kemudian sifat hujan didominasi normal, terutama di Sumatra bagian utara, sebagian besar Kalimantan, Jawa bagian barat dan timur, Bali, NTB, Sulawesi bagian utara dan sebagian besar Papua.

Sementara prediksi curah hujan dasarian II Desember 2017 yaitu curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kisaran menengah hingga tinggi (50 300mm/Das), curah hujan tinggi berpeluang di Jawa bagian barat dan tengah, dan sekitar Pegunungan Jayawijaya bagian timur.

"Sedangkan curah hujan rendah di sekitar Kalimantan Timur (Kaltim) bagian selatan dan barat dan selatan Gorontalo," ujarnya.

Kondisi akan berlangsung hingga awal Januari 2018.

Saat menjelang perayaan Natal, yakni pada tanggal 19-23 Desember 2017, potensi hujan sedang hingga lebat akan terjadi di sejumlah daerah, antara lain di Aceh bagian barat, pesisir Sumatera Selatan, Banten, Pesisir utara Jawa, Sulawesi Selatatan, Nusa Tengara Barat, dan sebagian daerah di Nusa Tenggara Timur.

Kemudian, pada periode perayaan Natal, 24-26 Desember 2017, perkiraan BKMG mencatat bahwa hujan lebat hingga sedang terjadi di pesisir selatan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, dan Papua bagian tengah.

Selain itu, menjelang perayaan tahun baru, tanggal 25-31 Desember 2017 fenomea serupa terjadi di pesisir utara Jawa, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, dan Maluku.

Lalu, pada awal tahun hingga 7 Januari 2017 akan terjadi di Aceh, pesisir barat Sumateram Jawa Tengah, DIY Yogyakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, dan NTT.

“Angin kecang dengan kekuatan lebih dari 20 knot juga berpotensi terjadi di beberapa wilayah Indonesia, meliputi Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Banda, Samudera Hindia selatan Jawa Tengah, dan NTB,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG Hary Tirto Djatmiko di komplek BMKG, Jakarta, Senin (18/12/2017).

Harry menuturkan, angin kencang tersebut berdampak pada peningkatan gelombang laut. Gelombang setinggi 2,5-6 meter terjadi di Perairan Kepulauan Anambas – Kepulauan Natuna, Laut Natuna, Laut Jawa bagian tengah dan timur, selatan Makassar bagian selatan, peraiaran Kepulauan Talaud, dan perairan utara Halmahera. Sedangkan gelombang 6-7 meter terjadi di Laut Cina Selatan dan Laut Natuna utara.

Menurut Hary, kondisi itu dapat terjadi meski siklon tropis telah menghilang dari wilayah Indonesia. Fenomena ini disebabkan karena adanya suplai massa udara lembab dari Samudera hinda sebelah barat Indonesia yang masuk ke wilayah Indonesia.

“Kedua, adanya aliran udara dari utara yang masuk ke wilayah Indonesia. Ditambah dari (angin) selatan, ditambah lagi perlambatan angin atau belokan angina. Semua ini menimbulkan potensi pembentukan dan pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan,” kata Hary.

Kondisi ini juga didukung dengan musim hujan yang terjadi di Indonesia. Puncak musim hujan terjadi pada bulan Desember hingga Februari. Untuk daerah di selatan khatulistiwa, puncak musim hujan terjadi dari bulan Desember hingga Januari.


Pada bulan Desember ini sebanyak 93,27 % wilayah Indonesia memasuki musim hujan dan sisanya 6,73 % masih mengalami musim kemarau yang sifat lokal, seperti di beberapa wilayah Jatim, Bali, NTT, dan NTB, Sulawesi Maluku. Hal ini diutarakan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, Ph.D. saat memberikan keterangan pers, senin siang di Kantor BMKG.
Untuk Bulan Desember puncak musim hujan terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Sementara untuk bulan Januari 2018, puncak musim hujan terjadi wilayah Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara, serta untuk wilayah lainnya di Bulan Februari 2018. Sementara untuk wilayah Papua, khususnya di bagian Tengah sekitar pegunungan Jayawijaya mengalami puncak musim hujan pada Januari 2018.
Dwikorita menegaskan waspada Hujan sedang-lebat menjelang natal 2017 dan tahun baru 2018. Berdasarkan hasil analisa BMKG, potensi hujan lebat menjelang natal 2017 dan tahun baru 2018 cukup besar, hal ini dikarenakan supply massa udara lembab dari Samudera Pasifik dan Daratan Asia serta dari Samudera Hindia yang terakumulasi di wilayah kepulauan Indonesia sehingga sangat intensif penyebab tingginya potensi hujan lebat di wilayah Indonesia.
Masyarakat perlu mewaspadai hujan sedang-lebat pada Menjelang Natal (19-23 Desember 2017) yang terjadi di wilayah Aceh Bagian Barat, Pesisir Selatan Sumatera, Banten, Pesisir Utara jawa, Sulawesi Selatan, NTB, sebagian NTT.
Sementara dalam periode natal 24-26 Desember 2017, hujan sedang-lebat terjadi di Pesisir Selatan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, NTB, NTT. Sulawesi Tengah, dan Papua Bagian Tengah
Menjelang tahun baru 2018, 26-31 Desember 2017 potensi hujan sedang-lebat terjadi di Pesisir Utara Jawa, Jateng, Jatim, Kaltara, Sulteng, Maluku.
Pada Awal tahun 1-7 Januari 2018 Konsentrasi hujan sedang-lebat di Aceh, Pesisir Barat Sumatera, Jateng, Yogyakarta, Kaltim, Kaltara, Sulteng, NTT.
Selain itu masyarakat pun harus mewaspadai potensi angin kencang yang dapat mencapai lebih dari 20 knot (lebih dari 36 km/jam) yang berpotensi di beberapa wilayah indonesua meliputi Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Banda, Samudera Hindia Selatan Jawa Tengah hingga NTB.
Angin kencang ini berpengaruh pada gelombang tinggi, untuk itu masyarakat perlu mewaspadai gelombang tinggi, seperti di Laut Cina Selatan dan Laut Natuna Utara dengan tinggi gelombang mencapai 6 -7 m.
Pada bulan Desember hingga Januari adalah periode menguatnya pola angin baratan yang membawa dampak pada peningkatan tinggi gelombang sehingga perlu diwaspadai untuk peningkatan tinggi gelombang terutama di wilayah Perairan barat sumatera, Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Banda dan Perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.
Dengan adanya situasi potensi cuaca ekstrem ini, BMKG mengimbau kepada masyarakat agar :
  • Waspada potensi genangan, banjir maupun longsor bagi yang tinggal di wilayah berpotensi hujan lebat terutama di daerah rawan banjir dan longsor terutama di daerah dataran rendah, daerah cekungan, bantaran kali atau sungai, perbukitan, lereng-lereng dan pegunungan.
  • Waspada terhadap potensi hujan disertai angin kencang yang dapat menyebabkan pohon maupun papan reklame/baliho tumbang/roboh serta yang berbahaya bagi kapal berukuran kecil
  • Tidak berlindung di bawah pohon jika hujan disertai kilat/petir.
  • Waspada peningkatan ketinggian gelombang laut yang > 2.5 meter
  • Menunda kegiatan penangkapan ikan secara tradisional hingga gelombang tinggi mereda
Potensi Gempa Bumi Terus Mengintai
Secara geografis Indonesia terletak pada pertemuan 3 lempeng tektonik utama dunia yang bergerak relatif saling mendesak satu dengan lainnya. Ketiga lempeng tersebut adalah Lempeng Indo-Australia di sebelah Selatan, Lempeng Pasifik di sebelah Timur, Lempeng Eurasia di sebelah Utara (di mana sebagian besar wilayah Indonesia berada), dan ditambah Lempeng Laut Philipina.
Adapun karakteristik lempeng tektonik, adalah Lempeng Indo-Australia bergerak ke arah Utara dan bertumbukan dengan Lempeng Eurasia. Sementara Lempeng Pasifik bergerak ke arah Barat sedangkan Lempeng Eurasia relatif diam.
Kondisi inilah yang menyebabkan Indonesia sebagai wilayah supermarket bencana yang rawan gempa bumi dan tsunami. Meskipun teknologi saat ini belum ada yang dapat memprediksi terjadinya gempa bumi secara tepat dan akurat. Hal ini dibuktikan dari data IRBI bahwa ancaman tsunami Indonesia adalah 46% dari panjang pantai Kepulauan Indonedia, 233 dari 515 Kabupaten, dan 23 dari 34 Provinsi.
Berdasarkan sejarah gempa bumi yang tercacat oleh BMKG, telah terjadi gempa bumi rata-rata sebanyak 4.500 kali/ tahun. Diantaranya gempa bumi dengan magnitude 5 atau lebih yang sifatnya mulai merusak terjadi sebanyak rata rata 360 kali/ tahun.
Menyadari kondisi ini, Dwikorita mengatakan BMKG siap untuk memberikan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami yang terus dimonitor 24 jam/ 7 hari. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi dalam pengurangan resiko dampak gempa bumi dan tsunami.
Untuk pengamatan gempa bumi dengan magnitude 5 atau lebih berpusat di Pusat Gempa Nasional BMKG, sementara untuk gempa bumi dengan magnitude dibawah 5 terpusat di Stasiun Geofisika yang terdapat di seluruh wilayah Indonesia berjumlah 33 Stasiun geofisika dengan 165 sensor seismograf dan 285 accelerometer.
Sebagai langkah pengurangan resiko dampak gempa bumi dan tsunami, mengharapkan masyarakat agar lebih siap sebelum terjadi gempa dan tsunami, termasuk struktur bangunan, serta langkah penyelamatan gempa bumi dan tsunami.
Bagi masyarakat yang hendak memperoleh informasi terkini, BMKG senantiasa membuka layanan informasi cuaca, gempabumi dan tsunami 24 jam, yaitu melalui:
  • call center cuaca 021-6546315/18;
  • call center gempabumi 021-6546316;
  • http://www.bmkg.go.id;
  • follow twitter @infoBMKG;
  • aplikasi iOS dan android "Info BMKG";
  • atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.



Apa Dampak La Nina Di Indonesia?

Karena La Nina merupakan kebalikan dari El Nino, maka dampak yang ditimbulkan pun merupakan kebalikan dari dampak El Nino juga. Beberapa dampak dari La Nina adalah sebagai berikut:

  • Angin pasat timur menguat
  • Indonesia mengalami peningkatan pada curah hujan, karena Indonesia menjadi daerah bertekanan rendah
  • Banyak terjadi banjir (baca: jenis banjir) di wilayah Indonesia karena tingginya curah hujan
  • Daerah perairan barat berpotensi hujan

La Nina adalah meningkatnya curah hujan di wilayah Pasifik Ekuatorial Barat, yang di mana Indonesia termasuk di dalamnya. La Nina membuat cuaca cenderung menjadi hangat dan lebih lembab.  Fenomena La Nina yang meningkatkan curah hujan, membuat cuaca pada musim kemarau Indonesia, menjadi lebih basah.

La Nina akan sangat terasa dampaknya bagi kota dan daerah yang tidak mempunyai resapan air yang bagus, contohnya Jakarta. Di mana hujan yang terjadi selama beberapa jam sudah cukup untuk membuat Jakarta tergenang banjir.

La Nina juga terasa di beberapa kota dan daerah di Indonesia seperti Solo, Banjarnegara, Wonogiri, Cilacap, dan  daerah yang lainnya, yang akan membuat potensi banjir dan longsor di daerah tersebut meningkat.

Dampak La Nina juga berpengaruh terhadap permasalahan-permasalahan kesehatan yang meningkat seiring dengan tingginya potensi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Banyaknya penyakit-penyakit menular Water-borne disease (penyakit yang terbawa air) seperti, Diare, demam tipus, kolera,disentri, leptospirosis, dan hepatitis A perlu diwaspadai terutama pada daerah-daerah yang rawan banjir.

Sementara dampak dari La Nina terhadap nelayan adalah berkurangnya tangkapan ikan yang dikarenakan kurangnya kandungan klorofil-a yang merupakan makanan ikan di lautan. Dan dampaknya bagi petani, negatif dan positif, negatifnya adalah banjir yang mengancam persawahan dan kebun, dan positifnya adalah kondisi pengairan pada lahan pertanian akan tetap basah dikarenakan hujan tetap turun meskipun pada musim kemarau.

Pada sektor pertanian sendiri, dampak Fenomena La Nina bisa berdampak positif atau negatif, dampak negatif adalah bisa terdapat kerugian materiil karena banjir di lahan pertanian. Lalu dampak positif pada pertanian adalah areal persawahan tidak perlu kuatir mengenai masalah pengairan pada musim kemarau, karena pada musim kemarau di tahun 2017 nanti diperkirakan tidak akan kekurangan air.






references by republika, kompas
images by  radar banyumas

November 28, 2017

Akan Ada Cuaca Ekstrem 3 Hari Kedepan

Terkait situasi cuaca terbaru di wilayah Indonesia, Kepala BMKG, Prof. Dwikorita Karnawati didampingi oleh Deputi Bidang Meteorologi, Drs. R. Mulyono Rahadi Prabowo, M.Sc dan Deputi Bidang Klimatologi, Drs. Herizal, M.Si menggelar jumpa pers di ruang Meteorologi Early Warning System (MEWS), Kemayoran, Jakarta, kemarin (26/11). Jumpa pers ini dilakukan untuk mengimbau masyarakat di wilayah Indonesia agar siaga dengan situasi cuaca dalam 3 hari ke depan yang berpotensi menimbulkan dampak lebih dari biasanya.


"BMKG dengan ini menyampaikan kepada masyarakat bahwa dalam 3 hari ke depan akan ada peningkatan intensitas hujan disertai angin kencang yang juga berdampak pada peningkatan tinggi gelombang serta dapat berpotensi menimbulkan puting beliung" ucap KBMKG.

Pada tanggal 26 November 2017, BMKG memantau adanya dua bibit siklon tropis, yaitu di Samudera Hindia Selatan Jawa dan Barat Daya Bengkulu. Bibit siklon tropis tersebut mengakibatkan terbentuknya pola belokan angin (shear) dan konvergensi di wilayah Indonesia. Hal ini akan berdampak pada peningkatan tinggi gelombang, hujan lebat, angin kencang, maupun potensi puting beliung di daerah sekitarnya.

Selain itu, terdapat aliran massa udara basah dari Barat dan Utara yang cukup luas dari Samudra Hindia yang mengakibatkan peningkatan curah hujan di sebagian besar Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. BMKG juga memperkirakan bahwa dalam beberapa hari ke depan terdapat peningkatan potensi hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang di beberapa wilayah berikut:


  1. Pulau Sumatera : Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung.
  2. Pulau Jawa : Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT.
  3. Pulau Kalimantan : Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah bagian Selatan, Kalimantan Timur bagian Selatan, Kalimantan Selatan
  4. Pulau Sulawesi: Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat dan Papua.

Sementara untuk prakirakan satu pekan ke depan, KBMKG menyampaikan bahwa akan ada potensi peningkatan tinggi gelombang di beberapa perairan berikut :


  • Tinggi gelombang 1.25 - 2.5 meter (Moderate Sea) berpeluang terjadi di Perairan timur Simelue hingga Kep. Nias, Laut Natuna, perairan selatan Bali hingga P. Sawu, Selat bali - Lombok- alas bagian selatan, Selat Karimata, Selat Sunda bag.utara, perairan selatan Kalimantan, Selat Makassar bagian selatan, Laut Sumbawa, Laut Sulawesi bagian tengah dan timur, Laut Maluku bagian utara, perairan Bitung -Manado, perairan utara Kep. Halmahera hingga Papua, Laut Halmahera
  • Tinggi Gelombang 2.5 - 4 meter (Rough Sea) berpeluang terjadi di perairan barat Aceh hingga Kep. Mentawai, perairan Bengkulu hingga barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan, Samudra Hindia barat Kep. Mentawai hingga selatan Jawa barat, L. Cina Selatan, perairan utara Kep. Anambas- Kep. Natuna, Laut Jawa, Perairan utara Kep. Sangihe - Kep. Talaud.
  • Tinggi Gelombang 4 - 6 meter (Very Rough Sea) berpeluang terjadi di Laut Andaman, Samudra Hindia Barat Aceh, Samudra Hindia barat daya Bengkulu dan Samudra Hindia selatan jawa tengah

Dengan adanya situasi potensi cuaca ekstrem ini, BMKG mengeluarkan beberapa imbauan pada masyarakat, yaitu :


  1. Untuk waspada potensi genangan, banjir maupun longsor bagi yang tinggal di wilayah berpotensi hujan lebat terutama di daerah rawan banjir dan longsor ;
  2. waspada terhadap kemungkinan hujan disertai angin yang dapat menyebabkan pohon maupun baliho tumbang/roboh ;
  3. agar tidak berlindung di bawah pohon jika hujan disertai kilat/petir ;
  4. mewaspadai kenaikan tinggi gelombang ;
  5. mewaspadai hujan lebat disertai angin kencang yang berbahaya bagi kapal berukuran kecil;
  6. serta menunda kegiatan penangkapan ikan secara tradisional hingga gelombang tinggi mereda


INFORMASI SIKLON TROPIS
Siklon Tropis CEMPAKA
1. Analisa 27 November 2017 pukul 19.00 WIB :
  • Posisi : Perairan sebelah selatan Jawa Tengah sekitar 8,6LS, 110,8BT (sekitar 100 km sebelah selatan tenggara Cilacap)
  • Arah dan kecepatan gerak : timur laut, kecepatan 5 knots (9 km/jam) bergerak menuju wilayah Indonesia
  • Tekanan terendah : 999 mb 
  • Kekuatan : 65 km/jam (35 knots)

2. Prakiraan 24 jam (tanggal 28 November 2017 pukul 19.00 WIB) :
  • Posisi : Perairan sebelah selatan Jawa Tengah, sekitar 8,3LS, 109,1BT (sekitar 165 km sebelah barat barat daya Cilacap)
  • Arah dan kecepatan gerak: barat, kecepatan 4 knot (8 km/jam) bergerak menuju wilayah Indonesia
  • Tekanan terendah : 996 mb
  • Kekuatan : 75 km/jam (40 knots)
3. Dampak di wilayah Indonesia :
Siklon Tropis CEMPAKA memberikan dampak berupa :
  • Hujan Dengan Intensitas Sedang Hingga Lebat Disertai Angin Kencang Berpotensi Terjadi Di Wilayah Banten, Dki Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Dan Jawa Timur.
  • Angin kencang hingga 20 knot berpotensi terjadi di wilayah Banten hingga Yogyakarta
  • Gelombang tinggi 1.25 - 2.5 Meter di Selat Sunda bagian Utara, Laut Jawa bagian Tengah, Perairan Utara Jawa Timur Hingga Kep. Kangean, Laut Sumbawa, Selat Bali – Selat Alas – Selat Lombok bagian Selatan, Perairan Selatan Bali hingga Pulau Sumba
  • Gelombang tinggi 2.5 - 4 meter di wilayah Perairan Selatan Jawa Timur dan Laut Jawa bagian Timur
  • Gelombang tinggi 4 - 6 meter di Selat Sunda bagian Selatan, Perairan Selatan Banten hingga Jawa Barat, Samudera Hindia Barat Bengkulu hingga Selatan Jawa Tengah






references by BMKG

November 12, 2017

Puncak Musim Hujan 2018

Puncak musim hujan diperkirakan jatuh pada Desember hingga Februari 2018 . Curah hujan akan mulai mengalami peningkatan pada bulan November ini. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang tertuang dalam surat edaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kepada para Gubernur dan Sekdaprov tertanggal 31 Oktober 2017. 

Sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim hujan pada akhir Oktober hingga awal November. Setidaknya 76 persen zona musim (ZOM) di Indonesia akan mulai mengalami hujan dengan berbagai intensitas.

Sedangkan untuk puncak musim hujan diperkirakan jatuh pada Desember 2017 sampai dengan Februari 2018 mendatang. Dalam surat tersebut, BNPB meminta seluruh lembaga terkait diminta untuk bisa melakukan berbagai antisipasi yang diperlukan terkait cuaca yang bakal terjadi. Terutama untuk daerah-daerah yang rawan bencana terutama banjir dan tanah longsor.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Madiun, Agus Hariono mengatakan pihaknya sudah melakukan antisipasi banjir sejak terjadinya hujan pertama beberapa waktu lalu.

“BPBD sudah melaksanakan antisipasi. Beberapa hari lalu kami sudah melakukan pembersihan sungai di gang Pancasila Jalan Mayjen Sungkono,” ujar Agus Hariono, Selasa (7 November 2017).

Selain itu lanjutnya, setiap kali turun hujan, terdapat sejumlah relawan yang melakukan patroli keliling kota untuk melaksanakan pemantauan.

“Kami siapkan regu patroli ada enam personel, yang lainnya tinggal di posko. Untuk patroli dilakukan di wilayah yang rawan bencana atau banjir,” ungkap Agus


Jika dibandingkan tahun 2016, di tahun 2017, sebagian wilayah Indonesia lebih kering dan lebih basah dibandingkan tahun 2015. Sesuai dengan rilis yang telah dilakukan BMKG pada Maret 2017, sebanyak 85% wilayah Zona Musim Indonesia telah memasuki musim kemarau pada awal September 2017.

Sementara berdasarkan pantauan Hari Tanpa Hujan bahwa beberapa tempat di Jawa hingga NTT telah mengalami Hari tanpa Hujan berturut-turut selama lebih dari 60 hari. Bahkan di beberapa tempat di Jawa Timur, NTB, NTT mengalami Hari Tanpa Hujan lebih dari 100 hari. Hal ini diutarakan Deputi Bidang Klimatologi, Prabowo R. Mulyono di depan media massa saat kegiatan jumpa pers awal musim hujan 2017/2018 kamis sore di BMKG Pusat.

Lebih lanjut Prabowo mengutarakan bahwa pada bulan ini, sebagian besar pulau Jawa bisa dikatakan sedang mengalami puncak musim kemarau, dan akan masuk awal musim hujan pada Oktober-November 2017.

"Saat ini sekitar 86% wilayah Indonesia sudah masuk musim kemarau, sedangkan 14% masih banyak terjadi hujan. "Beberapa wilayah seperti Sumatera bagian selatan, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan bagian Selatan, Jawa bagian Tengah, Jawa Tengah, Jawa bagian Timur, Jawa Timur, dan Papua memasuki awal musim hujan Oktober-November 2017" tambah Prabowo. Sementara itu, untuk wilayah Maluku bagian Tengah mengalami curah hujan rendah pada bulan Oktober-November.

Berdasarkan pantauan, untuk 3 dasarian bulan September untuk wilayah Sumatera bagian Utara, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua memilki curah hujan 50-100 mm/hari, kondisi ini kebalikan dengan Pulau Jawa yang memiliki curah hujan 40-45 mm per 10 hari.

Prabowo menjelaskan untuk wilayah Jabodetabek sendiri awal musim hujan di mulai pada Oktober yang dimulai dari Jabodetabek bagian Selatan, Tengah, dan Jabodetabek bagian Utara.

Sementara untuk kondisi ENSO (El-Nino Southern Oscillation) netral dengan indeks ENSO =-0.2, tidak El-nino maupun tidak La-Nina sehingga tidak mempengaruhi penambahan dan pengurangan uap air.

Untuk Suhu Muka Laut di wilayah Pasifik Timur sendiri dingin, kondisi menandakan adanya anomali negatif sehingga mengakibatkan wilayah Indonesia mendapatkan tambahan supply uap air untuk pembentukan dan pertumbuhan awan hujan.

Menjawab beberapa pertanyaan yang muncul di tengah-tengah masyarakat kapan wilayah Indonesia masuk awal musim hujan dan mengalami puncak musim hujan?, Prabowo menuturkan bahwa Awal Musim Hujan 2017/18 di sebagian besar daerah diprakirakan mulai akhir Oktober - November 2017 sebanyak 260 ZOM (76.0%) dan mengalami puncak musim hujan pada Desember 2017-Februari 2018.

Sementara Deputi Bidang Meteorologi, Dr. Yunus Subagyo Swarinoto, M.Si. menekankan masyarakat perlu mewaspadai daerah-daerah yang rentan bencana, terutama saat massa transisi, seperti angin kencang, puting beliung, dan gelombang tinggi. Untuk wilayah Pulau Jawa, massa transisi terjadi pada bulan September.

Pada puncak musim hujan, masyarakat perlu mewaspadai banjir, tanah longsor, genangan, angin kencang, gelombang tinggi, pohon tumbang, mengingat peluang curah hujan ekstrim meningkat pada puncak musim hujan.

Seminggu kedepan, potensi hujan lebat terjadi di Aceh, Riau, Sumbar, Bengkulu, Kalbar, Kalteng, Kaltim, Kaltara, Sulteng, Sulut, Malut , dan Papua. Sementara Tinggi Gelombang 2.5-4.0 meter (Rough Sea) berpeluang terjadi pada periode 07-12 September 2017 di Perairan barat Kep. Simeulue - Kep. Mentawai, Perairan barat Enggano, Samudra Hindia barat Sumatera hingga selatan Jawa.

Masyarakat perlu mewaspadai implikasi dan dampak Awal Musim Hujan 2017/2018 terhadap berbagai sektor antara lain: meningkatnya potensi luas tanam sawah, meningkatkan frekuensi tanam, ketersediaan air untuk pertanian dan waduk. Sedangkan beberapa dampak negatifnya antara lain: peningkatan potensi banjir, longsor dan tingginya gelombang mengganggu kegiatan nelayan.



references by bmkg

August 28, 2017

Musim Kemarau 2017 Tiba

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut saat ini wilayah Indonesia sudah memasuki puncak musim kemarau. Namun musim kemarau tahun 2017 ini tidak akan sekering tahun 2015 dan tidak sebasah tahun 2016.



"Musim kemarau pada tahun 2017 ini tidak sekering tahun 2015 dan tidak sebasah tahun 2016,"ujar Kepala Sub Bidang Informasi Meteorologi BMKG Hary Tirto Djatmiko dalam pernyataan persnya, Minggu(27/8/2017).

Secara umum lanjut Hary pada musim kemarau maupun puncak musim kemarau, pola bergerakan massa udara dan angin berasal dan datang dari sebelah Tenggara (Australia).

Secara klimatologis dan normalnya pola tekanan udara di wilayah Australia lebih tinggi dibandingkan di wilayah Asia, kondisi saat di wilayah Australia berkisar 1026 mb sedangkan di wilayah Asia berkisar 1002 mb.

Selisih tekanan udara yang cukup besar ini menurut Hary yang meningkatkan dan menguatkan tarikan massa udara dan kecepatan angin di sekitar Indonesia terutama di sebelah Selatan Khatulistiwa Indonesia (Jawa, Bali dan Nusa Tenggara).

Hal ini mengingat sifat massa udara yang bergerak dari daerah yang memiliki tekanan udara yang tinggi menuju daerah yang memiliki tekanan lebih rendah.

Semakin tinggi selisih tekanan udara antara 2 daerah, maka kecepatan gerak massa udara juga akan semakin tinggi

"Pola angin saat ini di wilayah Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara mengalami kenaikan, bertiup dari arah Timur – Tenggara dengan kecepatan berkisar antara 15 – 30 knots (30 – 55 km/jam). Fenomena ini akan berlangsung hingga 2-3 hari ke depan"ujar Hary.

Ditambah lagi sekarang kata Hary ada siklon tropis "PAKHAR" yang berada di Laut China sebelah Barat Philipina.

"Hal ini ikut memperkuat aliran angin dari Selatan yang menyeberang ke Indonesia, khususnya Jawa, Bali dan Nusa Tenggara"ujarnya.


Puncak Kemarau hingga Akhir September

Pada musim kemarau maupun puncak musim kemarau seperti sekarang ini, pola bergerakan massa udara dan angin berasal dan datang dari sebelah Tenggara (Australia).

Secara klimatologis dan normalnya pola tekanan udara di wilayah Australia lebih tinggi dibandingkan di wilayah Asia. “Kondisi saat di wilayah Australia berkisar 1026 mb, sedangkan di wilayah Asia berkisar 1002 mb,” paparnya.

Harry menambahkan, selisih tekanan udara yang cukup besar ini mampu meningkatkan dan menguatkan tarikan massa udara dan kecepatan angin di sekitar Indonesia, terutama di sebelah selatan Khatulistiwa Indonesia (Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara).

Hal ini mengingat sifat massa udara yang bergerak dari daerah yang memiliki tekanan udara tinggi menuju daerah yang memiliki tekanan lebih rendah. “Semakin tinggi selisih tekanan udara antara dua daerah, maka kecepatan gerak massa udara juga akan semakin tinggi,” imbuh Harry.

Menurut Harry, pola angin saat ini di wilayah Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara mengalami kenaikan, bertiup dari arah Timur–Tenggara dengan kecepatan berkisar antara 15–30 knots (30–55 km/jam). “Fenomena ini akan berlangsung hingga 2–3 hari ke depan,” kata Dia.


Hary menjelaskan, pada musim kemarau di Indonesia umumnya terdapat pola pergerakan massa udara dan angin dari sebelah tenggara atau arah Australia.

Adapun hal ini terjadi karena tekanan udara di wilayah Australia lebih tinggi dibanding di kawasan Asia.

"Selisih tekanan udara yang cukup besar meningkatkan dan menguatkan tarikan massa udara dan kecepatan angin di sekitar Indonesia, terutama di sebelah selatan khatulistiwa Indonesia seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara," ujar Hary.

Dia turut memprediksi, di ketiga tempat tersebut akan mengalami angin yang cukup kencang, dengan kecepatan berkisar antara 15 sampai 30 knots yang setara dengan 30 sampai 55 kilometer per jam. Fenomena ini diprakirakan akan terjadi dua sampai tiga hari ke depan.

"Masyarakat turut diimbau agar waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan, seperti papan reklame, baliho, pohon yang berpotensi roboh dan pengguna jasa transportasi laut agar waspada terhadap potensi gelombang tinggi air laut," ujar Hary.

Kemarau Tahun Ini Lebih Panas Ketimbang Tahun Lalu, Ternyata Begini Penjelasannya

Sejak bulan lalu, Indonesia telah mengalami musim kemarau.

Seperti biasanya, suhu udara panas pun menjadi teman akrab masyarakat Indonesia dalam menghabiskan waktunya.

Namun, tak sedikit yang mengeluhkan luar biasa panasnya suhu udara.

Bahkan, perkiraan kemarau tahun ini lebih panas dibandingkan dengan tahun lalu.

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) Mulyono Rahadi Prabowo mengatakan, sebetulnya tak ada perbedaan signifikan yang terjadi antara musim kemarau 2017 dengan 2016.

Suhu udara pun tampak serupa dengan tahun lalu.

Berdasarkan hasil pengamatan BMKG pada Agustus 2017, suhu udara pada kisaran 24,4-34,4 celsius.

Sementara pada Agustus 2016, suhu udara pada kisaran 25,4-33,8 celsius.

“(Jadi) dibanding tahun lalu sebetulnya tidak banyak berbeda,” kata Mulyono, Jumat (25/8/2017).

Menurut Mulyono, suhu udara terasa lebih panas karena sedikitnya potensi curah hujan.
Dari Sumatera bagian selatan hingga Nusa Tenggara Timur, dan sejumlah tempat lain, hujan sudah cukup lama tidak datang.

Dari data monitoring BMKG pada 20 Agustus terhadap hari tanpa hujan berturut-turut, wilayah Sumatera juga hampir seluruhnya masuk dalam ketegori sangat pendek, 1-5 hari.

Sementara itu, Lampung tak kedatangan hujan dengan kategori panjang, 21-30 hari.

Kondisi serupa juga terjadi hampir di seluruh bagian Pulau Jawa.

Maka, jangan heran jika traveler merasakan peluh terus keluar bergantian.

Bali hingga Nusa Tenggara Barat masuk dalam kategori menengah, sekitar 11-20 hari, dan diselingi kategori panjang.

Bahkan, beberapa lokasi di NTT tak kedatangan hujan lebih dari 60 hari dengan kategori ekstrem.

Untungnya, Mulyanto mengatakan, bulan kemarau diperkirakan akan berakhir pada September.





references by tribunnews, koranjakarta, kompas,

 
Like us on Facebook