MASUKAN KATA DI KOTAK BAWAH INI UNTUK MENCARI.. LALU KLIK TOMBOL "SEARCH"

JUAL Berbagai Sistem Operasi dan Software PC/Laptop Murah

Jual murah OS/Software Terbaru atau Lama

Showing posts with label bencana. Show all posts
Showing posts with label bencana. Show all posts

October 2, 2018

Seberapa Bahaya Patahan Lembang Bagi Kota Bandung?

Berbicara mengenai patahan, tentunya kita akan  teringat pada salah satu adegan  di film ‘San Andreas’ di mana patahan San Andreas meluluhlantakkan California, Amerika Utara. Dalam adegan tersebut, pergeseran yang terjadi antara Lempeng Pasifik dan Lempeng Amerika Utara menimbulkan gempa bumi yang sangat kuat dan mengakibatkan ratusan ribu bangunan rusak berat, jembatan terputus, jalanan aspal terbelah, ratusan gedung tinggi roboh serta puluhan ribu orang tewas dan terluka.
 

Meski hanya sebatas film dan berangkat dari cerita fiktif, dampak dari pergeseran patahan dalam dunia nyata memang bukan isapan jempol belaka. Seperti salah satu patahan aktif yang  juga dimiliki oleh Indonesia, yakni Patahan Lembang, Provinsi Jawa Barat.

Patahan (sesar) adalah fraktur planar atau diskontinuitas dalam volume batuan, di mana telah ada perpindahan signifikan sebagai akibat dari gerakan massa batuan. Sesar-Sesar berukuran besar di kerak bumi merupakan hasil dari aksi gaya lempeng tektonik , dengan yang  terbesar membentuk batas-batas antara lempeng, seperti zona subduksi atau sesar transform. Energi yang dilepaskan menyebabkan gerakan yang cepat pada sesar aktif yang merupakan penyebab utama gempa bumi. Menurut ilmu geofisika, patahan terjadi ketika batuan mengalami tekanan dan suhu yang rendah sehingga sifatnya menjadi britlle (rapuh).




Patahan Lembang merupakan retakan sepanjang 22 kilometer, melintang jauh dari timur ke barat. Berawal di kaki Gunung Manglayang di sebelah timur dan menghilang sebelum kawasan perbukitan kapur Padalarang di bagian barat.

Patahan lembang berada tepat di antara Gunung Tangkubanparahu dan dataran Bandung yang indah sehingga membentuk dua blok, utara dan selatan. Sebuah dinding raksasa sepanjang 22 kilometer terbangun oleh naiknya permukaan tanah di blok selatan dan turunnya permukaan tanah di blok utara. ”Tembok” itu membentengi pemandangan orang di utara ke arah selatan. Gerakan blok batuan itulah yang mengirim gempa.

Meskipun banyak yang meragukan potensi gempa patahan lembang, namun peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto, yakin potensi itu masih ada, salah satu alasannya adalah didasari dari rekam jejak sejarah yang mana patahan lembang pernah menggoyang bandung dengan kekuatan 6,8 skala Richter 2.000 tahun lalu dan berlanjut gempa 6,6 Richter yang terjadi sekitar 500 tahun lalu. Selain gempa besar itu, juga tercatat gempa lain berskala kecil dari tahun 1972, 1999, 2000, 2003, 2005, hingga 2011.

Sementara itu, berkaca dari gempa bumi Meksiko pada tahun 1985, gempa terletak di episentrum dangkal, kontur tanah didominasi endapan aluvial lembek lantaran Kota Meksiko terbentuk dari bekas danau purba yang telah  dan gempa menerjang kota berpenduduk padat serta standar bangunan tidak mampu menahan gempa bumi hebat.

Berkaca pada gempa Meksiko
Semua kondisi di Kota Meksiko ini mirip halnya dengan Kota Bandung sekarang: Pertama, di sisi utara kota terdapat sesar atau patahan Lembang yang pusat gempanya relatif dangkal, hanya 10 kilometer.

Kedua, hamparan Kota Bandung semula juga dari sebuah danau purba yang mengering sekitar 16.000 tahun lalu. Ketiga, kawasan Bandung Raya adalah salah satu permukiman padat di Pulau Jawa. Keempat, standar bangunan tahan gempa di Bandung amatlah payah.

Ahli rekayasa gempa dari Institut Teknologi Bandung, Prof. Adang Surahman, mengatakan hanya 15 persen gedung rancangan insinyur di Bandung yang tahan gempa.

"Banyak masyarakat masih tidak tahu, dan memang biaya membangun rumah atau bangunan tahan gempa itu bisa tujuh persen lebih tinggi dari yang biasa," kata Adang.

Para ahli sepakat bahwa gempa dari sesar Lembang berpotensi melepaskan kekuatan maksimum antara 6,8 - 7 skala Richter.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Agustus lalu menyebut saat gempa maksimum ini terjadi dan dikonversi ke dalam skala Mercalli—satuan untuk menakar dampak kerusakan secara kasat mata—kesimpulannya cukup mengejutkan.

"Secara umum, skala intensitas VII-VIII dapat mengakibatkan goncangan sangat kuat, dengan kerusakan sedang hingga berat," ucap wakil Bidang Geofisika BMKG, Muhammad Sadly.

Dalam skenario skala Mercalli ini, gempa dari patahan Lembang pada masa depan bakal menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi kuat sekalipun. Pada beberapa bangunan, dinding tembok bisa rontok dari tulang.

Monumen dan menara akan roboh, yang artinya jaringan listrik dan komunikasi bisa terganggu. Pada bangunan sederhana non-struktural, seperti pemukiman penduduk, dampaknya adalah rusak berat atau ambruk.

Pergeseran rata-rata sesar Lembang mencapai 3 mm per tahun dan jika gempa terjadi maka wilayah pemukiman di Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Bandung akan terdampak.

Potensi kerusakan di Bandung Utara
Sesar Lembang memanjang horizontal 29 kilometer dari Bandung Barat hingga Kabupaten Bandung. Daerah yang dilintasinya termasuk Kecamatan Ngamprah, Cisarua, Parongpong, hingga Lembang. Total ada sekitar 500-an ribu penduduk.

Bayangkan jika episentrum gempa ini berpusat di titik paling barat, persis di Ngamprah. Saat gempa besar berombak, kerusakan hebat semula menjalar di Cikoneng, lalu merembet ke Kampung Muril Rahayu (Cisarua), dan kita akan menemui kisah Dadang Ratna di atas.

Retakan melaju ke arah Pasar Cibarukai dan Sekolah Polisi Negara Cisarua. Ia membelah urat jalan utama dari Cimahi ke Lembang, yakni Jalan Kolonel Masturi. Dari sini, retakan menembus Kampung Gandrung. Maka, hasilnya pasti belaka: akses informasi di sebagian Jawa Barat terganggu lantaran layanan saluran televisi mati total; ia merobohkan belasan menara transmisi televisi nasional di kawasan Kampung Gandrung.

Dari Kampung Gandrung, gelombang gempa melewati lembah Kertawangi, menembus Desa Panyairan (Parongpong). Di sini, saat gempa terjadi, Anda dapat melihat sebuah restoran favorit pasangan muda-mudi Bandung, bernama The Peak Resort Dinning, luluh lantak. Bangunan tiga lantai beraksen modern ini diprediksi tak akan mampu menahan guncangan sebab berdiri tepat di atas nadi getaran gempa.
 

Bergeser ke barat, patahan akan mengguncang kompleks perumahan elite bernama Graha Puspa. Meski tidak persis melewati kompleks perumahan itu, efek getarannya bisa kencang sebab gawir jalur utama sesar hanya beberapa meter di sebelah barat perumahan.

Di tengah ancaman besar ini, sekitar 80 meter dari patahan Lembang, ada sebuah kondotel mewah bernama Boutique Village Bandung Resort, bangunan pesiar 6 lantai dengan 149 kamar.

"Saya heran, kenapa diizinkan membangun kondotel di situ?" ucap Dr. Mudrik Rahmawan Daryono, peneliti Geoteknologi LIPI yang lima tahun terakhir meneliti seismologi sesar Lembang.

"Saya tidak tahu seberapa besar kapasitas bangunan kondotel itu menahan gempa. Yang jelas, karena dibangun dekat sesar, perencanaan anti-gempanya tidak boleh main-main," tambah Mudrik.

Dari Graha Puspa, mengikuti arah patahan ke barat, akan ditemui lokasi vital seperti Observatorium Bosscha, Sekolah Staff dan Komando TNI Angkatan Udara, dan Sekolah Kepemimpinan Polri. Pemukiman di sini relatif padat dan ada banyak lokasi wisata. Ancaman risikonya tinggi.

Meski Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah mengatur bahwa jalur patahan harus steril dari bangunan atau pemukiman penduduk, tetapi faktanya berbeda di lapangan.

Berdasarkan penelitian Geoteknologi LIPI, bila patahan Lembang retak secara mekanis, maka ada pergeseran vertikal sekitar 50 sentimeter. Ibaratnya, jika rumah Anda persis berada di tengah jalur retakan patahan Lembang, separuh rumah Anda naik sekitar 50 cm ketika gempa terjadi. Ia bikin konstruksi bangunan tidak stabil, terbelah, dan ambruk.

Selain retakan utama, dalam gempa, ada yang disebut conjugate fault alias retakan kecil bercabang. Retakan ini menyebabkan belasan rumah rusak akibat dinding terbelah dan beberapa kolam surut akibat airnya meresap ke dalam retakan. Inilah yang terjadi di Kampung Muril Rahayu, enam tahun silam, tempat Dadang Ratna bermukim.

Gempa dari sesar Lembang juga bakal memicu tanah longsor di seantero Bandung.

"Longsor biasanya tidak langsung terjadi, tapi dalam hitungan menit. Sehingga warga disarankan segera menjauhi sesar dan menjauhi lereng atau daerah yang berpotensi longsor jika merasakan gempa yang kuat," kata Peneliti dari Pusat Penelitian Mitigasi Bencana ITB, yang mendapat gelar PhD dari Universitas Nagoya, Rahma Hanifa.

Bandung lumpuh
Kawasan Kota Bandung yang dulu bekas danau purba berada pada titik paling rendah, yang kini lokasinya di Gedebage. Saat terjadi gempa, entah itu bersumber dari patahan Lembang, Cimandiri, Baribis, atau zona subduksi di Samudera Hindia, Gedebage bakal menerima goncangan lebih hebat ketimbang lokasi lain.

"Orang selalu beranggapan sesar Lembang hanya berimbas saja di Lembang. Dan menjadikan ancaman ini sebagai olokan. Ini tentu salah betul," ucap Kepala Sub Bidang Analisis Seismologi Teknik BMKG, Ariska Rudyanto.

Perambatan gelombang gempa sangat bergantung pada berat jenis dan struktur benda yang dilaluinya. Ibaratnya, kita menyimpan satu buku di atas balok kayu dan satu lagi di atas puding. Amplifikasi buku di atas puding tentu lebih besar ketimbang balok kayu yang materialnya lebih solid. Sebagai bekas danau purba, Kota Bandung memenuhi prasyarat ini.

Gempa seperti riak air, semakin jauh perambatan gelombang, kekuatan gempa semakin lemah. Jarak Kota Bandung hanya 3 kilometer dari jalur utama sesar. Ini cukup membuat aktivitas ibu kota Jawa Barat lumpuh bila terjadi gempa.

Dari hasil peta guncangan skenario BMKG mengenai daya rusak gempa Lembang, skalanya bisa mencapai VI dan VII. Namun, kata Ariska, peta BMKG ini tak bisa menggambarkan kondisi riil.

"Peta guncangan skenario yang dirilis BMKG memukul rata semua wilayah di Bandung, dengan ketinggian batuan yang sama. Itu masih analisis kasar," ucap Ariska.

Kondisi geologi permukaan wilayah di Kota Bandung bervariasi, dari endapan sangat lunak hingga batuan vulkanik keras. Menurutnya, penting untuk melihat karakterisasi geologi permukaan guna mengidentifikasi tingkat kerentanan penguatan gelombang gempa.

Riset dari peneliti Pusat Survei Geologi ESDM, Marjiyono—yang melakukan mikrotremor di 97 titik di Kota Bandung pada 2011—menunjukkan bahwa faktor penguatan di Kota Bandung berkisar antara 2,1 hingga 17. Di Kawasan Asia-Afrika, penguatan berkisar 4,1. Sementara di Gedebage menjadi paling tinggi: 16,5. Artinya, meski sama-sama terhantam guncangan gempa 6,8 skala Richter, efek goyangan gempa di Gedebage sebesar 16,5 kali lipat lebih besar ketimbang penduduk Lembang.

Seperti apa efek goyangan gempa 17 kali lipat itu? Jika diubah ke dalam skala Mercalli, kesimpulannya adalah getaran gempa termasuk kategori ekstrem; potensi kerusakan sangatlah berat.

Ahli bumi yang meneliti Danau Bandung Purba, T. Bachtiar, membenarkan ancaman di Kawasan Gedebage.

"Titik terdalamnya dari gerbang Tol Buah Batu, memanjang terus ke timur sepanjang Jalan Soekarno-Hatta dan Tol Purbaleunyi. Di sana, ketebalan endapannya tinggi sekali," kata Bachtiar.

Namun, ancaman gempa Lembang tidak semata di Gedebage. Dengan skala Mercalli X - XI, beberapa wilayah lain terkena guncangan hebat. Daerah-daerah ini adalah Turangga, Lengkong, Babakan Surabaya, Cijagra, Pasir Luyu, Margacinta, Cisaranten Kulon, hingga sebelah selatan Ujung Berung, Cipadung, dan Cibiru. Menurut prediksi Bachtiar, korban akan lebih banyak di Cibiru.

"Cibiru itu selain dangkal juga padat," katanya.

Seperti apa skala Mercalli X-XI?

Gambaran mudahnya: rangka rumah Anda lepas dari pondasi, tanah terbelah, rel melengkung, tanah longsor pada tiap-tiap sungai, dan tanah longsor pada tanah-tanah yang curam.

Segelintir bangunan berdiri. Jembatan rusak. Pipa nyaris tak bisa berfungsi.

Gempa Lembang juga berpotensi longsor di kawasan Dago atas, Pasir Wangi, dan Cisurupan. Kebakaran besar bakal merembet di kawasan padat penduduk seperti Cicadas, Coblong, atau Taman Sari. Jembatan Pasupati bakal kerusakan parah—atau mungkin terbelah.

Kajian terbaru dari ITB memprediksi, jika patahan Lembang bergerak aktif, potensi kerugian ekonomi dari kerusakan bangunan bisa mencapai Rp51 triliun. Angka ini lebih besar ketimbang kerugian gempa Aceh 2004 yang ditaksir Rp48,6 triliun.

Hasil hitung-hitungan kasar: ada sekitar 2,5 juta rumah warga terkena dampak gempa, dengan rincian 1 juta unit rusak kecil, 1 juta rusak sedang, dan 500 ribu rusak total alias ambruk.

"Imbas dari gempa Lembang mungkin terasa sampai Jakarta dan sekitarnya, tapi efeknya tidak separah seperti di Bandung," ujar pakar gempa ITB, Irwan Meilano, 

BMKG imbau pemerintah turun tangan
Sementara itu, data BMKG menyatakan adanya hasil kajian sesar aktif oleh beberapa ahli akhir-akhir ini. BMKG mengimbau pemerintah untuk memperhatikan peta rawan bencana sebelum merencanakan penataan ruang dan wilayah. Perlu ada upaya serius dari berbagai pihak dalam mendukung dan memperkuat penerapan building code dalam membangun struktur bangunan tahan gempa.

"Adanya hasil kajian potensi bencana, jangan sampai membuat masyarakat yang bermukim di dekat jalur sesar terus dicekam rasa khawatir. Warga harus meningkatkan kemampuan dalam memahami cara penyelamatan saat terjadi gempa dan mengikuti arahan pemerintah dalam melakukan evakuasi," kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhammad Sadly.

Sadly lantas mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang dan juga waspada.  Ia juga mengaskan agar masyarakat tidak mudah terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Pastikan informasi gempabumi berasal dari lembaga resmi pemerintah dalam hal ini BMKG,” katanya.

Patahan lembang memang tak bisa dianggap remeh oleh siapa saja. Pemerintah dan masyarakat harus peka serta meningkatkan kewaspadaan demi mengurangi dampak yang ditimbulkan jika sewaktu-waktu terjadi pada patahan lempeng purba ini.

Dalam buku Gempa Bumi Indonesia, karya Sunarjo, M. Taufik Gunawan, dan Sugeng Pribadi pun disebutkan, sedikit bagian timur Kalimantan potensial terjadi gempa bumi. Hal ini dipengaruhi aktivitas lempeng Indo-Australia yang bergerak menyusup di bawah lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik bergerak ke arah barat.

Kondisi Jakarta pun hampir mirip. Di ibu kota negara ini, terdapat sesar di bawah Jakarta. Tapi, tertutup endapan yang usianya lebih muda.

“Sehingga tidak mudah diketahui keaktifannya. Perlu penelitian lebih detail lagi,” katanya.

Sedangkan Rini, yang aktif memperhatikan jumlah sesar baru sejak 2017 mengatakan, sesar baru itu salah satunya membentang di daerah Pantai Utara Jawa.

“Bandung juga wilayah padat, sehingga pergerakan sesar Lembang juga harus diperhatikan,” kata Rini. Rini menambahkan, selain sesar Lembang, sesar Semangko yang berada di Pulau Sumatra juga mesti menjadi perhatian.

Dari penelusuran ini, Kalimantan yang dianggap jarang terguncang gempa bumi, sebenarnya punya potensi itu. Hampir seluruh wilayah Indonesia terkepung sesar pemicu gempa bumi.

Hal yang harus dilakukan sekarang, barangkali membangun sebuah sistem untuk meminimalisir korban jiwa akibat gempa. Selain tak membangun gedung di zona merah bencana, seperti yang disebutkan Rini, perlu dipikirkan membangun konstruksi yang tahan getaran.

Selain itu, perlu dipikirkan perencanaan penempatan pemukiman agar tak padat penduduk di daerah rawan gempa, dan memberikan bekal pendidikan kepada masyarakat untuk mengetahui cara menyelamatkan diri saat terjadi gempa.




 
 

Wilayah cekungan Bandung tidak hanya memiliki Sesar atau Patahan Lembang yang sewaktu-waktu bisa memunculkan guncangan gempa. Pusat Survei Geologi mencatat ada empat patahan lain yang pernah bergerak sejak 1970-an dan sebagian menimbulkan kerusakan hunian penduduk.


Aneka patahan di wilayah cekungan Bandung itu terungkap dalam acara Geoseminar bertajuk "Patahan Lembang: Fakta dan Realita di Auditorium Badan Geologi Bandung" yang digelar, Jumat, 7 September 2018. "Patahan selain Sesar Lembang selama ini kurang terekspos, padahal itu ada dan aktif," kata Muchamad Wahyudiono peneliti gempa dari Pusat Survei Geologi.

Institusi itu sudah memetakan empat patahan lain selain Sesar Lembang. Penanda aktifnya berdasarkan data tiga stasiun pengamatan yang antara lain berada di daerah Ciparay dan Lembang. "Alat melaporkan pergerakannya dan sudah terekam sejak 1970-an," kata Wahyudiono.

Di sektor atau bagian tengah cekungan Bandung ada Sesar Cicalengka. Kemudian Sesar Jati di bagian barat, Sesar Gunung Geulis di selatan. Kemudian ada juga Sesar Ujungberung-Cileunyi.

Berdasarkan catatan riwayat gempanya, pergerakan sesar aktif itu pernah mengguncang daerah Tanjungsari Kabupaten Sumedang pada 1972 dan 2010. Kemudian gempa di daerah Gunung Halu dan Jati pada 2005, gempa Pangalengan 2016, gempa Sesar Lembang 1999 dan 2011.

Selain itu pernah muncul gempa Ujungberung 2011 dan gempa Cicalengka pada 2000 dan 2005. Peneliti gempa lain dari Pusat Survei Geologi, Asdani Soehaimi mengatakan, gempa Cicalengka bukan akibat pergerakan Sesar Lembang. "Keempat patahan itu besaran gempanya kurang dari magnitudo 4 atau maksimal 4,0," katanya usai acara. Menurut Asdani, warga diminta mewaspadai potensi gempa dari empat patahan itu selain dari Sesar Lembang.


Kekhawatiran akan gempa yang dahsyat di wilayah ini tentunya perlu diketahui oleh masyarakat, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di sekitar cekungan Bandung.  Menurut peneliti dari Kelompok Riset Cekungan Bandung T. Bachtiar menyebutkan, langkah yang konkret saat ini untuk mengantisipasi risiko gempa bumi dari Sesar Lembang adalah melakukan mitigasi sedini mungkin. 
Menurutnya, masyarakat yang tinggal di cekungan Bandung harus paham dengan potensi gempa bumi yang sewaktu-waktu mengancam mereka. 

“Masyarakat harus dilatih untuk mengatasi risiko gempa bumi. Salah satunya dengan memberikan pemahaman kepada anak-anak di sekolah untuk berlindung ketika ada gempa,” kata Bachtiar. 
Selain itu, ia berharap kepada pemerintah untuk membuat aturan soal perizinan mendirikan bangunan di kawasan rawan gempa. Karena, menurutnya, saat ini tata ruang di cekungan Bandung belum dirancang dengan standar sesuai wilayah rawan gempa. 

“Untuk saat ini Pemda harus memperketat perizinan mendirikan bangunan. Jadi ketika membangun harus ada analisis dari ahli gempa. Untuk bangunan yang sudah berdiri sarannya harus memperkuat konstruksinya,” kata dia. 

Sementara itu Peneliti Puslit Geoteknologi LIPI Adrin Tohari mengatakan, karakter geologi cekungan Bandung didominasi oleh tanah lengkung. Artinya, karakteristik tanah di wilayah cekungan Bandung bersifat gembur. Dengan kondisi seperti itu, apabila terjadi gempa, daya rusaknya akan tinggi. 

“Tanah lengkung, lunak, akan menguatkan getaran. Perumpamaanya kita punya adonan kue yang masih basah kalau kita guncang maka di permukaan adonan itu akan kelihatn guncangan hebat. Kalau padat tidak akan keliatan ada guncangan besar,” ujar Adrin di Bandung. 

Untuk itu, ia katakan, pemerintah daerah seharusnya menjadikan sejumlah penelitian mengenai potensi gempa di Cekungan Bandung sebagi acuan untuk menata ruang pemukiman. 

“Pemda ketika kita menunjukan peta  yang memberikan informasi adana ancaman gempa kemudian informasi percepatan gempa itu ada di peta itu. Maka itu bisa dijadikan basis untuk merevisi tata ruang mereka. Kemudian juga menghasilkan aturan juga untuk mengeluarkan IMB,” kata dia. 


UPDATE 20 AGUSTUS 2025
 

Aktivitas Sesar Lembang Bergeliat, BMKG Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaannya di tengah meningkatnya aktivitas Sesar Lembang.

Berdasarkan data BMKG, aktivitas Sesar Lembang menimbulkan terjadinya gempa bumi di wilayah Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Bandung sejak Juni, Juli, serta Agustus 2025.

Terbaru, gempa terjadi siang ini, Rabu (20/8/2025) pukul 12.28 WIB dengan kekuatan M 1,7. Gempa berpusat pada koordinat 6.81 Lintang Selatan dan 107.51 Bujur Timur atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 3 km Barat Laut Bandung Barat di kedalaman 10 kilometer.

Merespons peningkatan aktivitas Sesar Lembang, BMKG meminta masyarakat untuk ikut meningkatkan kewaspadaan. Hal ini dilakukan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan demi memperkuat mitigasi.

"Berdasarkan monitoring BMKG Bandung saat ini Sesar Lembang mengalami peningkatan aktifitas kegempaan. Imbauan jadi masyarakat lebih meningkatkan kewaspadaannya dan memperkuat mitigasi tentunya," ucap Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu.

"Sekali lagi ini yang kita bangun kewaspadaannya," sambungnya.

Sebelumnya, Direktur Gempa dan Tsunami BMKG, Daryono menyebut, meningkatnya aktivitas seismik Sesar Lembang dapat memicu terjadinya gempa pembuka. Namun dia tak bisa memprediksi kemungkinan gempa terjadi akibat aktivitas Sesar Lembang.

"Fenomena seperti ini yang dikhawatirkan adalah gempa pembuka (fore shocks). Saya tidak katakan peningkatan aktivitas ini akan memicu gempa kuat, karena belum dapat diprediksi kapan gempa besar akan terjadi," kata Daryono.

"Tapi dari 3 tipe gempa, salah satu tipenya itu adalah gempa kuat yang didahului oleh aktivitas gempa pembuka," imbuhnya.

Daryono mengingatkan ancaman dampak Sesar Lembang. Mengacu pada peristiwa gempa Sesar Lembang di tahun 2011 lalu dengan magnitudo 3,3 namun mampu merusak ratusan rumah.

"Pada 2011, cuma dengan magnitudo 3,3 bisa merusak 103 rumah di Kampung Muril Rahayu, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat. Itu juga akibat pergerakan Sesar Lembang Segmen Cimeta. Gempa ini magnitudonya kecil tapi merusak karena hiposenter gempanya dangkal, tanahnya lunak. Itu akan makin berdampak jika struktur bangunannya lemah," kata Daryono.

Sementara Penyelidik Bumi Ahli Madya pada Badan Geologi, Supartoyo menduga bahwa rentetan kegempaan bermagnitudo kecil yang diyakini dari aktivitas Sesar Lembang kali ini merupakan fase pelepasan energi.

"Tren pelepasan energi ini pelan-pelan, cukup positif dibanding langsung melepaskan energi berkekuatan besar seperti di Cianjur," kata Supartoyo.






Bukan seberapa bahaya atau takut mati, Tapi Sudah cukupkah saldo Pahala dan Amal kita di Dunia dan sudah taatkah kita untuk mengikuti apa-apa yg diperintahkan ditaati ALLAH SWT ketika takdir kita harus meninggal akibat bencana?





references by rimanews, tepo, kumparan

September 29, 2018

Apa Penyebab Gempa Palu & Donggala 2018 ?

Kota Palu dan Donggala jadi wilayah dengan kerusakan terparah menyusul gempa dahsyat 7,4 Skala Richter yang mengguncang wilayah itu, Jumat (28/9/2018).

Gempa 7,4 SR itu merupakan puncak dari rentetan gempa-gempa yang terjadi sejak siang hingga Sabtu (29/9/2018) pagi. Gempa 7,7 yang kemudian direvisi menjadi 7,4 SR ini juga memicu terjadinya tsumami 1,5 hingga 3 meter di Palu Jumat, 28 September 2018 pukul 17.22 WIB atau 18.22 WITA, 20 menit setelah gempa.


Kota Palu beserta Teluk Palu sebenarnya bukan kali ini saja dihantam gempa. Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunmi di BMKG, Daryono pernah mempublikasikan artikel mengenai gempa di Palu, 2011 silam.

Artikel berjudul 'Tataan Tektonik dan Sejarah Kegempaan Palu, Sulawesi Tengah' ini dia publikasikan beberapa hari setelah Kota Palu dihantam gempa 5,3 Skala Richter, Sabtu (8/1/2011).

Dalam artikel tersebut terungkap kalau Palu berada di atas tiga lempeng tektonik.

"Daerah Palu merupakan salah satu kawasan seismik aktif di Indonesia. Tingginya tingkat aktivitas kegempaan di kawasan ini tidak lepas dari lokasinya yang berada pada zona benturan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik," kata Daryono dalam artikel tersebut seperti dikutip TribunJabar.id.

"Daerah Palu merupakan salah satu kawasan seismik aktif di Indonesia."

Gempa terdahsyat di wilayah ini tercatat terjadi tahun 1927.

Saat itu episentrumnya ada di bawah Teluk Palu.

Tak disebutkan berapa kekuatan gempa tersebut, namun disebutkan kalau gempa itu mengakibatkan tsunami di Teluk Palu.

Tak main-main, tsunami yang menghantam Kota Palu memiliki ketinggian gelombang sampai 15 meter.

"Banyak bangunan rumah di kawasan pantai mengalami kerusakan parah. Bencana ini menyebabkan 14 orang meninggal, dan 50 orang luka-luka," kata Daryono dalam artikel tersebut.

Gempa ini bahkan sampai mengakibatkan dasar laut setempat mengalami penurunan sampai 12 meter.

GEMPABUMI tektonik berkekuatan 5,3 pada skala richter (SR) mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (8/1/2011) pukul 16.15 WITA (Gambar 1). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam situsnya menyebutkan, pusat gempabumi terletak pada 0,85 Lintang Selatan dan 119,78 Bujur Timur. Gempabumi yang tidak berpotensi tsunami itu terjadi di kedalaman 23 kilometer dengan jarak 9 kilometer arah barat laut Kota Palu.

 Warga Kota Palu sempat panik saat gempabumi berlangsung, terutama yang berada di gedung bertingkat, akibat getaran gempabumi terjadi sekitar lima detik. Hingga saat ini belum dilaporkan mengenai kerusakan atau korban jiwa akibat gempabumi tektonik itu. Kota Palu akhir-akhir ini memenag sering dilanda gempabumi dengan kekuatan berkisar 4,0 SR hingga 5,5 SR karena di wilayah ini terdapat Sesar Palu-Koro yang dikenal aktif.Melihat hiposenter gempabumi ini yang relatif dangkal hanya 23kilometer tampaknya gempabumi ini memang dipicu oleh aktivitas sesar lokal.


Tektonik dan Seismisitas

Daerah Palu merupakan salah satu kawasan seismik aktif di Indonesia. Tingginya tingkat aktivitas kegempaan di kawasan ini tidak lepas dari lokasinya yang berada pada zona benturan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Pertemuan ketiga lempeng ini bersifat konvergen dan ketiganya bertumbukan secara relatif mengakibatkan Daerah Sulawesi Tengah dan sekitarnya menjadi salah satu daerah yang memiliki tingkat kegempaan yang cukup tinggi di Indonesia berkaitan dengan aktivitas sesar aktif.

Menurut Hamilton (1979), ada beberapa segmentasi sesar yang sangat berpotensi membangkitkan gempabumi kuat di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Sesar-sesar tersebut adalah: (a) Sesar Palu-Koro yang memanjang dari Palu ke arah Selatan dan Tenggara melalui Sulawesi Selatan bagian Utara menuju ke selatan Bone sampai di laut Banda, (b) Sesar Saddang yang memanjang dari pesisir Pantai Mamuju memotong diagonal melintasi daerah Sulawesi Selatan bagian tengah, Sulawesi Selatan bagian selatan, Bulukumba menuju ke Pulau Selayar bagian Timur, dan (c) Sesar Parit-Parit  di Laut Makassar Selatan dan Laut Bone, dan beberapa anak patahan baik yang berada di darat maupun di laut.

Untuk mengetahui tingkat aktivitas kegempaan di Palu, perlu dilakukan kajian sejarah gempabumi dan seismisitas. Berdasarkan distribusi seismisitas, tampak klaster aktivitas gempabumi yang cukup tinggi di sepanjang sesar aktif Palu-Koro hingga memotong Kota Palu. Ditinjau dari kedalaman gempabuminya, aktivitas gempabumi di zona ini tampak didominasi oleh gempabumi kedalaman dangkal antara 0 hingga 60 kilometer, yang merupakan cerminan pelepasan tegangan kerak bumi yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif.

Klaster seismisitas gempabumi dangkal ini terkonsentrasi hampir merata baik di lepas pantai maupun di daratan. Klaster seismisitas ini merupakan gambaran dari sangat aktifnya kondisi tektonik di kawasan ini. Kondisi seismisitas ini menunjukkan bahwa daerah Palu dan sekitarnya merupakan daerah yang rawan terhadap gempabumi dan tsunami. Apalagi kondisi seismisitas dan tektonik yang ada mendukung untuk terjadinya gempabumi kuat dengan kedalaman dangkal yang dapat membangkitkan tsunami.

Sejarah Gempabumi

Daerah Palu dan sekitarnya, selain sangat rawan gempabumi juga rawan terhadap tsunami. Kerawaan gempabumi dan tsunami daerah ini sudah dibuktikan dengan beberapa catatan sejarah gempabumi dan tsunami yang berlangsung sejak tahun 1927, seperti Gempabumi dan Tsunami Palu 1927, Gempabumi dan Tsunami Parigi 1938 dan Gempabumi dan TsunamiTambu 1968.

Gempabumi dan Tsunami Palu 1 Desember 1927 bersumber di teluk Palu dan mengakibatkan kerusakan parah diKota Palu, Palu, Biromaru dan sekitarnya. Gempabumi juga dirasakan dibagian tengah Pulau Sulawesi yang jaraknya sekitar 230 kilometer. Selain menimbulkan kerusakan sangat parah, gempabumi ini juga memicu tsunami  di Teluk Palu.

Gelombang Tsunami yang tingginya mencapai 15 meter ini terjadi segera setelah terjadi gempabumi. Banyak bangunan rumah di kawasan pantai mengalami kerusakan parah. Bencana ini menyebabkan 14 orang meninggal, dan 50 orang luka-luka. Tsunami juga menimbulkan kerusakan dipelabuhan. Tangga dermaga Pelabuhan Talise hanyut akibat terjangan tsunam ini,sementara itu berdasarkan laporan dasar laut setempat mengalami penurunan sedalam12 meter.

Gempabumi dan Tsunami Parigi 20 Mei 1938 terjadi sangat dahsyat, hingga dirasakan hampir diseluruh bagian Pulau Sulawesi dan Bagian timur pulau Kalimatan. Daerah yang menderita kerusakan paling parah adalah kawasan Teluk Parigi. Di tempat ini dilaporkan 942 unit rumah roboh. Kerusakan yang ditimbulkan ini meliputi lebih dari 50 % rumah yang ada wilayah tersebut, sedangkan 184 rumah lainnya rusak ringan.

Di Teluk Parigi dilaporkan 16 orang tewas tenggelam, dan di Ampibabo satu orang tewas tersapu gelombang tsunami. Dermaga Pelabuhan Parigi hanyut, dan menara suar penjaga pantai mengalami rusak berat. Binatang ternak dan pohon kelapa juga banyak yang hanyut tersapu gelombang tsunami. Beberapa ruas jalan di daerah Marantale mengalami retak-retak dengan lebar 50 cm disertai keluar lumpur, bahkan sebuah rumah bergeser hingga 25 meter, namun daerah Palu mengalami kerusakan ringan. Di daerah Poso dan Tinombo dirasakan getaran sangat kuat, tetapi tidak menimbulkan kerusakan.

Gempabumi dan Tsunami Tambu 14 Agustus 1968 merupakan gempabumi kuat yang bersumber di lepas pantai barat laut Sulawesi. Akibat gempabumi tersebut, di Teluk Tambu, antara Tambu dan Sabang, terjadi fenomena air surut hingga kira-kira 3 meter dan selanjutnya terjadi hempasan gelombang tsunami.Pada beberapa tebing terjadi longsoran dan terjadi retakan tanah yang disertai munculnya pancaran air panas.

Di Daerah Sabang dilaporkan bahwa tsunami dating dengan suara gemuruh. Tsunami tersebut juga menyerang di sepanjang pantai Palu. Menurut laporan, ketinggian gelombang tsunami mencapai 10 meter dan limpasan tsunami ke daratan mencapai 500 meter dari garis pantai. Daerah yang mengalami kerusakan paling parah adalah kawasan Mapaga. Ditempat ini ditemukan160 orang meninggal dan 40 orang dinyatakan hilang, serta 58 orang luka parah.

Terakhir, Gempabumi dan Tsunami Toli-Toli dan Palu 1996 (M6.3), menyebabkan 9 orang tewas,serta kerusakan parah di Desa Bangkir, Toli-Toli, Tonggolobibi, dan Palu. Gempabumi ini juga memicu tsunami  denganketinggian 2 meter dengan limpasan air laut ke daratan sejauh 400 meter (Suparto et al. 2006). 

Tingginya aktivitas gempabumi di Daerah Palu berlangsung hingga sekarang. Dalam beberapa tahun terakhir, gempabumi kuat masih terjadi dan mengguncang kawasan ini, seperti Gempabumi Palu-Palu yang terjadi padatanggal 24 Januari 2005 yang menyebabkan satu orang meninggal dan  4 orang luka-luka.

Bagi masyarakat Palu dan sekitarnya, kondisi alam yang kurang bersahabat ini adalah sesuatuyang harus diterima sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, semua itu adalah risiko yang harus dihadapi sebagai penduduk yang tinggal di kawasan seismik aktif.

Bagi kalangan ahli kebumian dan instansi terkait dalam penanganan bencana, labilnya Daerah Palu secara tektonik merupakan tantangan berpikir untuk menyusun strategi mitigasi yang tepat untuk memperkecil risiko jika sewaktu-waktu terjadi bencana bencana gempabumi dan tsunami di Daerah Palu dan sekitarnya seperti yang terjadi pada masa lalu.***


Direktur Cides Rudi Wahyono mengatakan sejak terjadi gempa magnitudo 7,7 sudah terjadi puluhan gempa susulan dengan magnitudo lebih kecil. Berdasarkan analisa, sepertinya ada pergeseran lempeng antara Filipina Plate dengan Sunda Plate. Adanya pergeseran dari dua lempengan tersebut menyebabkan gempa yang kuat. Sementara untuk tsunami terjadi karena pusat gempa letaknya cukup dangkal dan kekuatan gempa sangat kuat. Dari peta seismic, hari ini terjadi gempa beruntun dan berderet dari utara wilayah Sulawesi ke wilayah selatan Sulawesi.


Phil Cummins, seorang profesor bencana alam dari Australian National University menyebut dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memastikan penyebab tsunami di Sulteng.

Cummins menjelaskan, gempa di Sulteng pekan lalu bukan berjenis thrust earthquake, yakni jenis gempa yang kerap menyebabkan tsunami. Dalam kondisi gempa seperti ini, lempeng tektonik bergerak secara vertikal naik dan turun serta memindahkan air.

Sebaliknya, gempa Sulteng disebabkan oleh lempeng tektonik yang bergerak secara horizontal. Gempa tersebut, menurut Cummins, biasanya hanya menyebabkan tsunami kecil atau lemah. Tak hanya itu, ia menjelaskan, tsunami kerap disebabkan oleh gempa yang jaraknya ratusan mil dari pantai dan goncangan jarang dirasakan di darat.

Sementara di Sulteng, gempa terjadi tak jauh dari pantai. “Adalah tidak biasa melihat bencana ganda seperti ini,” kata Cummins, dikutip laman the Guardian pada Selasa (2/10). Disebutkan bahwa dibutuhkan beberapa bulan penelitian lapangan dan eksplorasi bahwa laut untuk menentukan penyebabnya.

Chairman of the Asian School of Environment di Nanyang Technological University, Singapura, Adam Switzer menyoroti tentang pertanyaan apakah gempa bumi dan tsunami di Sulteng tak terprediksi. Ia mengatakan, terdapat sistem gangguan besar dan terdokumentasi dengan baik yang berjalan melalui Palu dan panjangnya sekitar 200 kilometer.


Ia mengungkapkan terdapat peristiwa serupa pada awal 1900-an dan sekitar 1937, walaupun tidak diketahui apakah hal itu menyebabkan tsunami.

“Dan ada sebuah makalah yang diterbitkan pada 2013, di mana disarankan sesar Palu, yang sangat lurus dan panjang, berpotensi menyebabkan gempa bumi dan tsunami yang sangat merusak,” katanya.

Jadi menurutnya, telah terdapat bahan untuk dipelajari guna mengantisipasi terjadinya gempa dan tsunami di Sulteng. “Tapi pertanyaannya adalah, apakah kita belajar sesuatu dari insiden masa lalu? Sepertinya tidak demikian,” ujar Switzer.

Hamza Latief dari Institut Teknologi Bandung yang telah meneliti garis patahan itu sejak 1995 mengatakan, tsunami bukanlah yang pertama kali menghantam area tersebut. Berdasarkan catatan sejarah, pada 1927, gelombang setinggi 3-4 meter bergerak di mulut teluk, namun meningkat hingga 8 meter ketika mendekati daratan.

Kemudian perihal banyaknya korban jiwa akibat gempa dan tsunami di Sulteng, Switzer dan Cummins sepakat hal itu tidak disebabkan oleh teknologi, melainkan minimnya pengetahuan masyrakat.

Menurut Switzer, tsunami di Sulteng berbeda dengan tsunami yang menghantam Aceh pada 2004. Tsunami Sulteng adalah tsunami lokal akibat gempa dekat pantai. “Bagi orang-orang di pantai dan di kota, gempa seharusnya menjadi peringatan dini,” ucap Switzer.

Cummins pun berpendapat demikian. Ia menilai, fokus pada titik kegagalan teknolgi dalam konteks gempa Sulteng adalah keliru. Walaupun ada anggapan yang menyebut alat pendeteksi gempa dan tsunami sebagai sistem dari peringatan dini di Sulteng belum diperbaiki selama enam tahun.

Namun Cummins mengatakan, dalam situasi tersebut masyarakat tidak dapat mengandalkan sistem peringatan. Mereka harus segera mencari tempat tinggi segera sesaat setelah gempa terjadi.

“Mereka tidak dapat menunggu sirene atau peringatan, mereka harus bergerak cepat. Masalahny adalah, dari apa yang saya lihat dari rekaman (tsunami Sulteng), banyak orang tampaknya tidak melakukan hal itu,” ujarnya.

“Entah mereka tidak tahu mereka perlu melakukan hal itu atau mereka tidak percaya apa pun akan terjadi, dan dalam kasus yang mengatakan masyarakat di Sulawesi tidak berpengetahuan tentang apa yang perlu mereka lakukan dalam situasi itu, itulah yang membunuh orang-orang,” kata Cummins menambahkan.




Sebagaimana diperkirakan, angka korban tewas terus bertambah. Setelah 1.407 dikuburkan dalam pemakaman massal, tim darurat menemukan sejumlah jenazah lagi, yang masih akan diidentifikasi.
Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers Kamis (4/10) menyebut, para korban tewas itu terdiri dari 1.203 di Palu, 144 Donggala, 64 Sigi, 12 Parigi Moutong, seorang di Pasang Kayu.
Menurut Sutopo, bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu kini sudah mulai dibuka untuk penerbangan komersial, setelah sebelumnya hanya digunakan untuk pesawat militer dan pengangkut bantuan darurat kemanusian.




DaftarPustaka
Steve, J.M. and Moyra E.J.W., 1998,Biogeographic Implication of the Tertiary paleogeaographic evolution of Sulawesi and Borneo, SE Asia Research Group, University of Technology, Perth,Australia. 

Suparto, Eka T.P.dan Surono, 2006, Katalog gempabumi merusak di Indonesia tahun 1629-2006 edisi ketiga.

Hamilton, W., 1979,Tectonic of Indonesia Region, Geological Survey Professional Paper, UnitedStates Government Printing Office, Washington.








references by tribunnews, republika

September 17, 2015

Gempa Chili 8,3 SR, Beberapa Negara Keluarkan Peringatan Tsunami

Gempa dahysat berkekuatan 8,3 skala richter (SR) mengguncang wilayah Chile, hari ini. Gempa itu disusul dengan gelombang tsunami di wilayah pesisir namun masih berskala kecil.

Lima gempa susulan terjadi sesaat setelah gempa besar pertama melanda wilayah Chile tengah. Media setempat melaporkan, gelombang tsunami telah mencapai pantai Chile.



Namun, hingga saat ini belum ada laporan kerusakan berskala besar akibat gempa dan tsunami. Pusat Peringatan Tsunami Pasifik telahmemperingatkan bahwa beberapa daerah pesisir Chile bisa melihat gelombang tsunami lebih dari tiga meter di atas permukaan air pasang.

Banyak warga Chile berada di jalan di wilayah Valparaiso setelah peringatan tsunami dikeluarkan. Pihak berwenang juga telah mengeluarkan peringatan agar warga disepanjang garis pantai untuk cepat mengungsi.


”Berdasarkan parameter gempa awal, gelombang tsunami berbahaya yang luas mungkin terjadi,” bunyi pernyataan dari Pusat Peringatan Tsunami Pasifik, seperti dikutip Russia Today. Menurut Pusat Peringatan Tsunami Pasifik, wilayah Chile dan Peru kemungkinan yang akan terkena dampak terparah dari gempa dan tsunami.

Selain dua negara itu, Ekuador juga diprediksi akan terkena gelombang tsunami hingga satu meter. Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) semula memperkirakan bahwa gempa pertama berkekuatan 7,9 SR di wilayah yang berjarak 55 kilometer sebelah barat laut dari Illapel, dan 232 kilometer dari sebelah barat laut Santiago. Pusat gempa terletak di kedalaman 33 kilometer.

Kantor Darurat Nasional Chile (ONEMI) mengeluarkan peringatan tsunami untuk seluruh pantai di negara itu. ONEMI juga meminta orang-orang untuk tetap tenang dan pergi ke zona aman. Sejauh ini tidak ada laporan korban jiwa dan cedera yang dilaporkan ONEMI.

Getaran gempa juga dirasakan di Brasil, yakni di wilayah São Paulo, Santos, Campinas, Belém, São Luís dan Pouso Alegre. Hal yang sama juga dirasakan warga Argentina, khususnya di Kota Santa Fe, Mendoza dan Buenos Aires.




 Pusat Peringatan Tsunami Pasific mengatakan, gempa berkekuatan 8,3 skala richter (SR) mengguncang Kota Santiago, Chili, Kamis (17/9), berpotensi tsunami. Lembaga itu merilis tsunami bisa terjadi di sepanjang pantai Chili, Peru, dan Hawaii.

Gempa yang terjadi pada pukul 07.54 waktu setempat tersebut menyebabkan sejumlah bangunan di Santiago bergoyang dan banyak warga yang berebut untuk berlindung.

US Geological Survey, seperti dikutip the Guardians, menyatakan pusat gempa berada di sekitar 46 kilometer barat dari Illapel, sebuah kota berjarak tiga jam perjalanan dari Santiago. Gempa tercatat memiliki kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan air laut.

"Seluruh negeri sedang berlibur hari ini, sehingga pantai penuh dengan pengunjung. Sesaat kemudian gelas-gelas mulai bergetar dan anak-anak mulai berteriak. Gempa berlangsung sekitar dua menit," ujar salah satu koresponden the Guardians di Chili.

Pemerintah Chili belum mendapat laporan adanya korban dari gempa ini. Namun foto-foto gedung dengan sejumlah kerusakan telah banyak beredar. Kementerian Luar Negeri Chili telah mengevakuasi seluruh warga yang ada di rumah sakit dan penjara di Constitucion, sebuah kota di Selatan Santiago yang juga terkena dampak dari gempa tersebut.

Dikutip dari Reuters, peringatan atas kemungkinan tsunami dengan tinggi 300 meter hingga 1 meter pada Jepang, Antartika, dan hampir seluruh kawasan Pasifik Utara. Yakni Selandia Baru, Fiji, Tonga, Vanuatu, dan Kepulauan Solomon.






refernces by sindonews, republika,

 
Like us on Facebook