Kini kita tahu kenapa para pendahulu kita dimasa lampau menanam pohon-pohon besar disekitar area sungai/hutan ! Fungsinya bisa menyimpan air sebagai cadangan berbulan-bulan saat musim kemarau ekstrem tiba dan mencegah kebakaran hutan. Mulailah menanam pohon-pohon tersebut dari sekarang.
Namun bodohnya, generasi sekarang menebangnya demi uang, lahan sawit, pertambangan dan industri.. Akibatnya adalah krisis air dan kerusakan ekosistem alam
Fungsi Akar Pohon Besar untuk Air dan Lingkungan
Penyerap Air:Akar pohon menyerap air dan zat hara dari dalam tanah untuk kebutuhan hidup tanaman.
Resapan Air Alami: Rongga atau lubang alami di sekitar perakaran besar membantu air hujan masuk dan meresap ke dalam lapisan tanah. MEMBUAT TEROWONGAN+LUBANG-LUBANG ALAMI AGAR AIR HUJAN/AIR BANJIR BISA MASUK KEDALAM TANAH BUMI SEBAGAI CADANGAN AIR SAAT KEMARAU PANJANG bagi lingkungan sekitar pohon tersebut
Pencegah Banjir: Sistem perakaran yang luas mampu menampung ribuan liter air, sehingga mengurangi risiko limpasan air permukaan dan banjir.
Penyaring Air (Filtrasi): Struktur tanah di sekitar akar menyaring air hujan secara alami sebelum menjadi air tanah yang bersih
Satu hal yang paling istimewa pada pohon adalah kemampuannya menyerap air. Selain ini, da banyak lagi hal mengejutkan dari pohon. Karennya, tidak pernah ada kerugian ketika menanam pohon. Pohon memberi banyak kepada makhluk hidup, baik sebagai peneduh maupun sebagai penyimpan air.
Ketiadaan pepohonan akan menyebabkan banyak masalah. Banjir hanyalah salah satunya. Untuk mengatasinya, bisa dilakukan dengan menanam banyak pohon.
Dikarenakan pohon mampu menyerap air dan berfungsi sebagai penyimpan air—yang nantinya akan didistribusikan kepada manusia dan makhluk lainnya—termasuk pohon itu sendiri.
Ada beberapa jenis pohon yang sungguh andal dalam dan menyerap air dan menyimpan air. Pohon-pohon ini bisa jadi solusi untuk mencegah banjir di musim hujan dan mencegah kekeringan di musim kemarau.
Ada beberapa jenis pohon yang sungguh andal dalam dan menyerap air dan menyimpan air. Pohon-pohon ini bisa jadi solusi untuk mencegah banjir di musim hujan dan mencegah kekeringan di musim kemarau.
Pohon bambu
Pohon bernama latin Bambuseae ini memiliki keunggulan dalam menjaga ekosistem air. Ia bisa berperan jadi sistem hidrologis sebagai pengikat tanah dan air.
Bambu memiliki kekuatan untuk mengikat tanah, terutama pada daerah-daerah lereng. Kemampuannya itu dapat meminimalkan erosi, sedimentasi, dan longsor serta banjir.
Tanaman beruas ini juga bisa jadi gudang penyimpan air dan karbon. Fungsi lainnya adalah bisa menahan kebisingan dan memiliki nilai ekonomis yang baik bagi masyarakat.
Tanaman ini telah dijadikan sebagai tanaman konservasi air dan tanah di beberapa negara, di antaranya India dan Tiongkok.
Keunggulan dalam menyerap air dan sebagai penyimpan air tanaman ini tidak perlu diragukan. Karena serumpun bambu mampu menahan air hingga 500 liter.
Pohon aren
Arenga Pinnata merupakan nama latin dari aren. Tanaman bisa tumbuh hingga mencapai ketinggian 20 meter.
Pohon ini bisa jadi penyimpan cadangan air. Bukan hanya itu, aren atau enau juga mampu memproduksi air, yakni air nira atau tuak.
Dari air yang diproduksinya itulah—terciptalah gula merah (gula aren). Pohon aren dapat tumbuh pada ketinggian 500- 800 mdpl.
Akar serabut yang dimilikinya dapat menahan erosi tanah dan mengikat air, khususnya air hujan sehingga bisa mencegah terjadinya banjir.
Dengan kemampuan tumbuh hingga 30 meter. Tanaman bernama latin Ficus benyaamia L ini biasa dijadikan sebagai tanaman peneduh di perkotaan.
Tidak hanya jadi peneduh, tanaman berdaun hijau mengkilat ini dapat pula menghilangkan racun di udara.
Fungsi lain dari beringin, bisa jadi pelindung mata air. Ia memiliki kemampuan mengendalikan penguapan dan menyimpan air dengan baik.
Pohon beringin dapat pula mencegah erosi, longsor, dan banjir karena akarnya cukup kuat untuk mencengkeram tanah dan menyerap air.
Pohon trembesi
Trembesi adalah tanaman yang banyak di tanam di pinggir jalan. Ia merupakan tanaman yang dapat tumbuh besar. Tingginya bisa mencapai 20 meter lebih.
Karena sering meneteskan air dari cabangnya, maka pohon bernama latin Samanea saman biasa disebut Ki Hujan.
Air yang diteteskan dari cabang-cabangnya itu bukan karena kebetulan. Itu disebabkan oleh kemampuan pohon ini menyerap air yang baik.
Usianya yang bisa mencapai puluhan tahun, menjadikan pohon ini solusi bijak sebagai pencegah banjir dan penyimpan cadangan air alami.
Pohon randu / Pohon Kapuk
Pohon randu dikenal pula dengan nama kapuk randu. Ia berasal dari daratan, Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Karibia.
Batangnya cukup besar dan bisa tumbuh hingga ketinggian 30 meter. Tanaman ini memiliki keunggulan dalam hal mencegah erosi, khususnya di daerah lereng gunung/pinggiran sungai.
Selain itu, juga mampu menyimpan cadangan air. Pohon ini cocok ditanam sebagai tanaman konservasi dan rehabilitasi.
Pohon kepuh adalah pohon sejuta manfaat, mulai dari kulit hingga bijinya. Pohonnya bernama latin Sterculia foetida L ini dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 30 hingga 40 meter.
Pohon ini memiliki manfaat luar biasa sebagai penahan air. Bagian atas hingga akarnya yang berukuran besar berfungsi mengatur siklus hidrologi.
Ia mampu menahan air tanah dalam kapasitas yang terbilang besar, sehingga bisa dijadikan sebagai pohon pencegah banjir dan penyimpan air.
Pohon gayam
Pohon bernama latin Sterculia foetida L ini bisa tumbuh hingga 20 meter. Ia bisa jadi peneduh pekerangan rumah karena berdaun lebat dan berbunga yang harum.
Gayam sendiri bisa jadi simbol rasa tenang dan tenteram. Apalagi pohon ini digunakan sebagai pohon penahan air.
Air terkesan jinak kepadanya, tidak heran jika dengan mudah air di sekitar pohon ini. Ia dapat mendekatkan air ke permukaan, dan juga menyimpan cadangan air.
Pohon bendo
Tanaman bendo atau benda ini bernama latin Artocarpus elasticus. Pohon ini masih berkerabat dengan pohon cempedak, nangka, dan sukun.
Ia banyak tumbuh di dataran rendah—bisa tumbuh tinggi menjulang mencapai 65 meter. Akarnya dapat mencengkeram tanah dengan baik. Jadi, bisa diandalkan untuk dan longsoran.
Akarnya juga mampu menyerap air dari lapisan tanah yang terdalam. Karakteristiknya membuatnya bisa dijadikan tanaman konservasi air. Ia penting untuk alam.
Rata-rata Intelligence Quotient (IQ) di Indonesia menjadi topik
diskusi yang menarik perhatian, sering kali diwarnai oleh beragam data
dan interpretasi. Beberapa studi menunjukkan angka yang relatif rendah
di kancah global, sementara sumber lain mengindikasikan skor yang lebih
mendekati rata-rata dunia. Artikel ini akan mengupas tuntas perbedaan
data tersebut, faktor-faktor yang memengaruhinya, serta langkah-langkah
strategis untuk mengoptimalkan potensi kognitif masyarakat Indonesia.
Memahami dinamika ini penting untuk merumuskan kebijakan yang tepat demi
kemajuan bangsa.
Apa Itu IQ dan Bagaimana Mengukurnya?
IQ, atau Intelligence Quotient, adalah skor total yang berasal dari
serangkaian tes standar yang dirancang untuk menilai kemampuan kognitif
seseorang. Kemampuan ini meliputi penalaran verbal, penalaran
kuantitatif, penalaran visual-spasial, dan memori kerja. Skor IQ
memberikan gambaran tentang potensi intelektual individu dibandingkan
dengan populasi rata-rata.
Secara umum, skor IQ antara 90 dan 109 dianggap sebagai rata-rata.
Skor di bawah 70 sering dikategorikan sebagai defisit intelektual,
sedangkan di atas 130 menunjukkan kemampuan intelektual yang sangat
tinggi. Penting untuk diingat bahwa tes IQ hanya salah satu alat ukur
kecerdasan dan tidak mencerminkan seluruh spektrum kemampuan manusia.
Perbedaan Data Rata-Rata IQ Indonesia: Mengapa Ada Kontroversi?
Data mengenai rata-rata IQ di Indonesia sering menunjukkan hasil yang
bervariasi, memicu perdebatan di kalangan peneliti dan masyarakat umum.
Studi “The Intelligence of Nations” (2019) oleh Richard Lynn dan David
Becker mencatat rata-rata IQ Indonesia sebesar 78,49. Angka ini
menempatkan Indonesia di peringkat bawah global, sekitar peringkat
126-130 dari 199 negara.
Namun, data dari platform tes online seperti International IQ Test
(2023-2024) menyajikan angka yang lebih tinggi, berkisar antara 92,64
hingga 93,2. Skor ini masuk dalam kategori rata-rata global, meskipun
cenderung menengah ke bawah. Perbedaan signifikan ini menimbulkan
pertanyaan tentang validitas dan metodologi studi yang digunakan.
Studi Lynn dan Becker, yang sering dikutip, mendapat kritik luas
karena metodologi sampel yang tidak memadai. Kritik ini menyoroti bahwa
sampel yang digunakan mungkin tidak representatif untuk seluruh populasi
Indonesia. Oleh karena itu, penting untuk melihat data ini dengan
kacamata kritis dan mempertimbangkan sumber serta cakupan penelitiannya.
Posisi Indonesia dalam Peringkat IQ Global dan Asia Tenggara
Terlepas dari perbedaan data, rata-rata IQ Indonesia cenderung
ditempatkan pada kategori menengah ke bawah dalam perbandingan global.
Data dari Wisevoter (2023) bahkan menempatkan rata-rata IQ Indonesia di
posisi terendah di kawasan Asia Tenggara. Posisi ini mengindikasikan
adanya ruang besar untuk peningkatan dalam aspek kognitif di tingkat
populasi.
Peringkat ini perlu dipahami sebagai indikator umum yang dipengaruhi
oleh berbagai faktor sosioekonomi dan sistematis. Bukan semata-mata
cerminan individu. Dengan demikian, peringkat ini harus menjadi pemicu
untuk mengidentifikasi area perbaikan, bukan sebagai label permanen
terhadap potensi suatu bangsa.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Rata-Rata IQ di Indonesia
Berbagai elemen kompleks berkontribusi terhadap rata-rata skor IQ
suatu populasi. Di Indonesia, beberapa faktor kunci yang diidentifikasi
dapat menjelaskan kecenderungan skor yang ada.
Kualitas Pendidikan
Akses terhadap pendidikan yang berkualitas tinggi, kurikulum yang
relevan, dan metode pengajaran yang efektif sangat memengaruhi
perkembangan kognitif. Kesenjangan dalam kualitas pendidikan antar
daerah dapat menciptakan disparitas dalam kemampuan intelektual.
Faktor Sosial Ekonomi
Lingkungan sosial ekonomi yang stabil dan mendukung dapat memberikan
stimulasi kognitif yang lebih baik sejak usia dini. Kemiskinan,
kurangnya akses terhadap sumber daya belajar, dan stres lingkungan dapat
menghambat perkembangan otak anak.
Gizi dan Kesehatan
Nutrisi yang adekuat, terutama selama masa kehamilan dan lima tahun
pertama kehidupan, krusial bagi perkembangan otak. Kekurangan gizi mikro
dan makro dapat berdampak permanen pada fungsi kognitif. Kesehatan ibu
dan anak yang optimal adalah fondasi penting untuk kecerdasan.
Tingginya Angka Stunting
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi
kronis, terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan. Kondisi ini tidak
hanya memengaruhi tinggi badan, tetapi juga perkembangan otak dan
kognitif. Anak yang mengalami stunting cenderung memiliki kemampuan
belajar yang lebih rendah dan produktivitas yang kurang optimal di masa
dewasa.
Terlalu Banyak Waktu Dihabiskan scrolling/bermain Smartphone atau Game setiap harinya. Dampak negatif bermain HP adalah konten seksual yg bisa picu kejahatan/kriminal seksual, stress, kehilangan fokus dan malas belajar berpikir atau kerja
Upaya Peningkatan Kualitas Kognitif Masyarakat Indonesia
Meskipun skor IQ rata-rata Indonesia sering disebut rendah dalam
peringkat global tertentu, angka ini masih dalam kategori menengah ke
bawah dan dapat ditingkatkan. Peningkatan kualitas kognitif memerlukan
pendekatan holistik dan terkoordinasi dari berbagai sektor.
Peningkatan Kualitas dan Akses Pendidikan
Investasi dalam pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini
(PAUD) hingga pendidikan tinggi, adalah fundamental. Peningkatan
kualitas guru, pengembangan kurikulum yang merangsang pemikiran kritis,
dan pemerataan akses pendidikan adalah langkah penting.
Intervensi Gizi dan Kesehatan
Program penanggulangan stunting harus diperkuat dan diperluas. Ini
mencakup edukasi gizi bagi ibu hamil dan menyusui, suplementasi gizi,
serta memastikan akses terhadap makanan bergizi dan layanan kesehatan
yang memadai untuk anak-anak.
Perbaikan Kondisi Sosial Ekonomi
Peningkatan pendapatan keluarga, penciptaan lapangan kerja, dan
program bantuan sosial dapat mengurangi tekanan ekonomi. Hal ini
memungkinkan keluarga untuk memberikan lingkungan yang lebih kaya
stimulasi bagi anak-anak.
Stimulasi Kognitif Sejak Dini
Pentingnya peran orang tua dan lingkungan keluarga dalam memberikan
stimulasi kognitif sejak bayi lahir. Ini meliputi membaca buku, bermain,
dan berinteraksi secara aktif yang mendukung perkembangan otak anak.
Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN), Tigor Pangaribuan, mengungkapkan bahwa rata-rata IQ anak-anak di Indonesia masih rendah.
Mengutip Youtube BGN, Senin (23/6/2025), Tigor mengatakan bahwa IQ anak-anak di Indonesia berada di angka 78. Angka tersebut tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.
“Mungkin banyak yang tidak percaya, tapi data dari komunitas internasional menyebutkan bahwa rata-rata IQ kita sekarang di angka 78. Itu termasuk rendah di ASEAN,” ujar Tigor dalam keterangannya, Senin (24/6/2025).
Menurut Tigor, meski ada anak-anak Indonesia yang memiliki kecerdasan
tinggi di atas angka 120, namun tidak sedikit pula yang berada di bawah
angka 70.
“Rata-rata itu artinya dari sekitar 80 juta anak, jika dijumlahkan dan dibagi, maka hasilnya segitu,” katanya.
Sebagai perbandingan, Tigor menyebut rata-rata IQ di Jepang telah
mencapai 115. Negara tersebut juga sudah menjalankan program makanan
bergizi selama lebih dari satu abad.
“Negara-negara seperti Jepang, Inggris, dan Singapura sudah lebih dari 100 semua rata-rata IQ-nya,” tambahnya.
Hasil Survey IQ Orang Indonesia Turun dari 109,6 ke 78,4
Dokter spesialis bedah saraf dr. Ryu Hasan pernah melakukan survey mengenai pengukuran IQ pada siswa.
Survey tersebut ia lakukan saat masih menjadi mahasiswa
kedokteran. Ia melakukan pada siswa SD, SMP, dan SMA di tujuh kecamatan
di Kediri. Hasilnya rata-rata IQ anak-anak Kabupaten Kediri pada tahun
1986 mencapai 109,6.
Kemudian untukk meihat adanya perkembangan atau penurunan, ia
membandingkan data dulu dengan yang saat ini. Hasilnya, rata-rata IQ
orang Indonesia berada di angka 78,4. Ia menyebut, jika rata-rata IQ
masyarakat turun sekitar delapan poin.
Melihat penurunan IQ orang Indonesia tersebut, ia juga
dibandingkan levelnya dengan hewan, yaitu mendekati Gorila. Dalam
berbagai perkiraan, IQ gorila diperkirakan berada di kisaran 70–90. Itu
artinya, 8 lagi IQ orang Indonesia mendekta akan mendekati setara IQ
Gorila.
Namun, berdasarkan laporan dari World Population Review (2025),
rata-rata IQ masyarakat Indonesia tercatat sekitar 93,2 menurut hasil
International IQ Test (IIT) 2024. Studi sebelumnya oleh Lynn dan Becker
pada tahun 2019 menunjukkan rata-rata IQ Indonesia sebesar 78,5. Itu
artinya adana penurunan dari taun ke tahun.
Hasil tersebut menempatkan posisi Indonesia pada kategori
menengah ke bawah dalam skala global dan masih tertinggal dibandingkan
negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Dikutip dari haibunda, IQ dapat berubah seiring dengan pertambahan
usia. IQ seseorang biasanya meningkat di masa remaja hingga awal
dewasa, kemudian cenderung stabil dan sedikit menurun di usia lanjut.
Berapa Skor IQ Rata-Rata Orang Indonesia? Simak Hasil Penelitiannya
Jika Anda sering menggunakan di media sosial, Anda mungkin pernah melihat komentar sindiran mengenai "IQ rata-rata Indonesia 78".
Melansir EBSCO, Intelligence Quotient (IQ) adalah ukuran terstandarisasi yang digunakan untuk menilai kecerdasan manusia di berbagai domain, termasuk penalaran abstrak, memori, dan kemampuan pemecahan masalah. Secara umum, semakin tinggi skor IQ seseorang, maka semakin baik pula kemampuan mereka dalam bidang-bidang tersebut.
Berdasarkan klasifikasi dari psikolog David Wechsler dalam buku Wechsler Adult Intelligence Scale-Third Edition tahun 1997, kategori IQ dibagi menjadi beberapa tingkatan yaitu Sangat Superior untuk skor 130 ke atas, Superior untuk rentang 120 - 129, dan Di Atas Rata-rata untuk 110 - 119.
Selanjutnya, kategori Rata-rata berada pada angka 90 - 109, Di Bawah Rata-rata pada 80 - 89, Ambang Batas pada 70 - 79, dan Sangat Rendah untuk skor 69 ke bawah.
Rumor terkait IQ rata-rata warga Indonesia sebesar 78 ini sudah menyebar luas di media sosial dan sering dijadikan bahan perdebatan. Namun, benarkah angka tersebut akurat? Berikut adalah penelusurannya.
Dari Mana Angka IQ Rata-Rata Indonesia 78 Berasal?
Angka “IQ rata-rata Indonesia 78” berasal dari studi Richard Lynn dan David Becker dalam buku The Intelligence of Nations tahun 2019.
Penting untuk dicatat bahwa angka ini bukan berasal dari tes IQ
nasional yang diikuti seluruh penduduk Indonesia, melainkan hasil
kompilasi dari berbagai sampel penelitian kecil yang kemudian diolah,
dikoreksi, dan dibobot oleh penulis.
Dalam laporan tersebut, Lynn dan Becker mencatat bahwa Indonesia memperoleh skor IQ nasional murni (tanpa bobot) sebesar 79,60.
Namun, setelah diolah kembali oleh mereka, angka tersebut sedikit menurun menjadi 78,49. Skor berdasarkan pencapaian pendidikan (SAS-IQ) tercatat sebesar 78,51, sehingga skor IQ nasional akhir ditetapkan pada angka 78,49.
Sampel yang digunakan dalam studi ini sangat beragam dan tidak mewakili satu populasi yang seragam. Peneliti mengambil data dari studi defisiensi yodium tahun 1980 yang mencakup usia 5,5 sampai 20 tahun di desa Lonjong dan Ngampel.
Selain itu, mereka juga menggunakan data dari studi pada 1996 dan 1998 mengenai anak-anak usia 7 tahun yang sedang diteliti terkait pemberian obat cacing.
Skor yang diambil adalah hasil tes sebelum anak-anak tersebut mendapatkan pengobatan, yang kemudian masih dikoreksi lagi.
Peneliti juga hanya mengambil data anak-anak yang tidak mengalami tengkes (stunting) dari studi tahun 2013, serta hanya memasukkan kelompok anak "sehat" dari penyintas tsunami Banda Aceh tahun 2004, sementara kelompok yang mengalami trauma (PTSD) diabaikan.
Data pendukung lainnya diambil dari riset di Bali dengan rentang usia yang sangat lebar, mulai dari 7 hingga 49 tahun, serta sampel mahasiswa tahun 2017 yang sebenarnya menghasilkan skor lebih tinggi.
Metode pengolahannya pun sangat kompleks karena peneliti tidak sekadar merata-ratakan nilai mentah, melainkan menggabungkan berbagai jenis tes IQ seperti CPM, SPM, dan APM, lalu menyesuaikannya dengan data prestasi sekolah internasional seperti PISA dan TIMSS.
Karena itulah, klaim IQ 78 ini sebenarnya hanyalah sebuah estimasi gabungan dari berbagai riset dengan kondisi sosial serta kesehatan yang sangat beragam, bukan hasil dari pengukuran tunggal terhadap seluruh penduduk Indonesia.
Jika merujuk pada skor final dalam penelitian Lynn dan Becker, Indonesia berada di peringkat bersama ke-131 dari 201 negara.
Posisi ini menempatkan Indonesia pada peringkat yang sama dengan Papua Nugini dan Timor Leste.
Penelitian yang Berbeda
Penting untuk diketahui bahwa penelitian Lynn dan Becker bukan satu-satunya referensi yang mencoba mengukur tingkat kecerdasan antarnegara.
Salah satu sumber alternatif adalah International IQ Test, yang mengukur skor berdasarkan hasil pengerjaan tes daring oleh partisipan di seluruh dunia dalam satu tahun kalender. Untuk edisi 2026, mereka mencatat jumlah sampel yang sangat besar mencapai 1.212.714 orang yang mengikuti tes sepanjang tahun 2025.
Dalam peringkat yang mereka terbitkan untuk tahun 2026, skor IQ Indonesia tercatat sebesar 89,96 dengan total 299.304 peserta. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-126 dari 137 negara yang terdata. Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 3,22 poin dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 93,18.
Perbedaan signifikan ini muncul karena International IQ Test tidak menyusun data dari kumpulan studi akademik lama, melainkan langsung dari partisipan yang mengerjakan tes yang sama secara daring. Namun, perlu dicatat bahwa data ini berasal dari partisipan sukarela yang memiliki akses internet, bukan sampel survei nasional yang dipilih secara acak untuk mewakili seluruh populasi.
Pihak International IQ Test sendiri menerapkan sejumlah aturan teknis, seperti mengeluarkan negara dengan jumlah peserta kurang dari 100 orang demi menjaga stabilitas estimasi. Meski begitu, mereka juga mengakui adanya keterbatasan penting, terutama mengenai bias akses internet.
Mengingat seluruh peserta adalah pengguna internet, hasil ini mungkin belum sepenuhnya mencerminkan kondisi populasi di wilayah yang akses teknologinya masih terbatas.
Dampak pornografi pada otak telah diteliti oleh pakar di dalam maupun
luar negeri. Berikut beberapa pengaruh pornografi pada otak yang
penting untuk diketahui:
1. Adegan Seksual yang Eksplisit Memicu Neuron di Otak Laki-Laki
Neuron ini, yang terlibat dengan proses bagaimana manusia dapat
meniru perilaku, mengandung sistem motorik yang berkorelasi dengan
fungsi luhur dan modern dari perilaku manusia.
Dalam kasus pornografi, sistem neuron ini memicu gairah, yang menyebabkan ketegangan seksual dan kebutuhan untuk disalurkan.
Nah, salah satu pengaruh pornografi pada otak adalah ketika pecandu
pornografi sering melakukan masturbasi. Ini menyebabkan efek hormonal
dan neurologis yang membuat pecandunya gagal untuk mengalihkan fokus
dari pornografi.
2. Dopamin Meningkat
Pada
pria, ada lima bahan kimia utama yang terlibat dalam gairah seksual.
Salah satu yang mungkin memainkan peran paling penting dalam kecanduan
pornografi adalah dopamin.
Dopamin memainkan peran utama dalam sistem otak yang bertanggung terhadap dorongan seksual.
Setiap jenis rangsangan yang dianggap memberikan kepuasan akan
meningkatkan tingkat transmisi dopamin di otak. Hal ini serupa dengan
efek berbagai obat adiktif, termasuk stimulan seperti kokain, amfetamin,
dan methamphetamine.
Dopamin dapat meningkat secara tiba-tiba ketika seseorang mendapatkan
stimulasi, misalnya stimulasi seksual. Pemikiran yang erotis akan
memicu lebih banyak dopamin.
Pengaruh paparan pornografi pada otak dapat menyebabkan kecanduan
serta dorongan seksual yang mereka fantasikan. Dengan demikian, orang
tersebut bisa menjadi kurang puas terhadap pengalaman seksualnya di
dunia nyata.
3. Otak Kecanduan Pornografi
Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa banyak pecandu pornografi
mencari berbagai gambar porno yang paling baru, daripada melakukan
hubungan seks dengan orang yang sama.
Alasannya dikaitkan dengan efek Coolidge, sebuah fenomena
yang terlihat pada pria. Mereka dianggap memiliki daya rangsang yang
lebih kuat terhadap ‘pasangan baru’ sehingga menjadi kecanduan untuk
mengeksplorasi pornografi.
Berikut beberapa alasan yang membuat pornografi menjadi hal yang unik dan menyebabkan candu:
Situs porno menawarkan hal yang ‘baru’. Hal ini memberikan stimulasi dopamin pada otak.
Tidak seperti makanan dan obat-obatan, hampir tidak ada keterbatasan fisik untuk ‘mengonsumsi’ situs porno.
Tidak seperti obat-obatan dan makanan pula, situs porno tidak akan
mengaktifkan sistem keengganan alami otak (tidak pernah kenyang).
4. Otak Mengalami Penurunan Sensitivitas Dopamin
Salah satu pengaruh pornografi pada otak, yakni menurunkan
sensitivitas dopamin. Stimulasi berlebihan dari dopamin pada akhirnya
membuat otak mengalami penurunan kepekaan terhadap dopamin itu sendiri.
Ketika kepekaan dopamin turun setelah terlalu banyak distimulasi,
otak tidak merespons dengan seharusnya dan para pecandu akan mengalami
rasa ‘lapar’ dan selalu merasa kurang dari apa yang mereka dapatkan.
Hal tersebut menyebabkan mereka mencari lebih keras rangsangan
seksual yang dianggap mampu memenuhi kepuasan mereka. Ini dapat berujung
pada akses konten porno yang lebih lama lagi.
Akhirnya, aktivitas pencarian menjadi siklus tak berujung. Semakin terpuaskan, semakin adiksi, dan otak semakin 'kebal' dopamin.
5. Penurunan Volume Otak
Dampak pornografi pada otak, khususnya pada kasus kecanduan
pornografi, dapat mengurangi volume otak di area tertentu. Area yang
sering kali terkena dampak adalah bagian prefrontal cortex.
Area otak ini berkaitan dengan kemampuan kontrol diri. Jika terdapat penurunan volume otak di area prefrontal cortex, maka dapat mengurangi kemampuan untuk mengambil keputusan.
Konten pornografi bukan hanya sesuatu yang dilihat sambil lalu. Tanpa
disadari, pengaruh pornografi pada otak Anda bisa sangat
mengkhawatirkan, khususnya jika sudah kecanduan.
Apabila Anda merasa kesulitan mengontrol diri terkait kebiasaan
menonton film porno, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga ahli
seperti psikolog atau psikiater.
EFEK TERLALU LAMA SCROLLING SMARTPHONE PADA OTAK
Berbagai konten membanjiri ponsel kita. Mulai dari foto
teman di pantai, video anak kucing, meme, hingga berita-berita dari
belahan dunia lain. Jika tertarik, kita akan berhenti menggulirkan
layar. Jika tidak, kita bakal lanjut scrolling.
Kebiasaan
menggeser jari di layar ponsel sudah menjadi bagian dari kehidupan
sehari-hari banyak orang. Terkadang, aktivitas ini hanya berlangsung
beberapa detik saat kita di lift. Di lain waktu, ia bisa bertahan sampai
berjam-jam sebelum kita tidur.
Apa yang sebenarnya
terjadi di saraf saat kita menggulir layar ponsel? Mengapa hal ini
begitu adiktif? Dan, bagaimana kita dapat mencegahnya menjadi masalah
akut?
Éilish Duke, profesor psikologi di Universitas
Leeds Beckett di Inggris, mengatakan hal pertama yang perlu kita pahami
adalah bahwa dorongan untuk mengangkat ponsel dan menyentuh layar, yang
memicu kita melakukan scrolling, bersifat otomatis.
Kita
tidak menyadarinya karena kita telah membangun kebiasaan ini dari waktu
ke waktu, sama seperti kebiasaan menutup pintu saat meninggalkan rumah,
misalnya.
"Dalam penelitian yang kami lakukan beberapa
tahun lalu, kami menemukan bahwa para peserta mengira mereka mengecek
ponselnya setiap 18 menit sekali," kata Duke.
"Tetapi ketika kami menggunakan perekam layar, kami menemukan bahwa mereka sebenarnya mengecek ponselnya jauh lebih sering."
Menurut Profesor Ariane Ling dari departemen psikiatri di
NYU Langone Health di AS, kebiasaan menggulir layar sebenarnya adalah
perilaku alami manusia, tetapi ia diperburuk oleh sejumlah faktor
lingkungan.
Ling menjelaskan bahwa manusia diprogram
untuk ingin tahu apa yang sedang terjadi. Itulah sebabnya kita rutin
membaca berita atau, misalnya, sekadar berhenti untuk melihat kecelakaan
di jalan.
Itu adalah bagian dari perkembangan evolusi manusia yang memungkinkan kita untuk bertahan hidup.
Dan, ponsel dirancang untuk terus memasok informasi yang menarik bagi kita.
Bisa dikatakan, ini menciptakan perpaduan yang sempurna.
Pencarian kesenangan konstan
Secara alami, otak kita ingin terus mendapat kesenangan.
Ada
pusat saraf tertentu yang merespons hal-hal menyenangkan, entah seks,
obat-obatan, atau kemenangan besar di kasino, dan hal-hal semacam ini
diharapkan terjadi lagi dan lagi.
"Mereka mencari hal baru, kenikmatan berikutnya, apa pun yang benar-benar dapat kita nikmati," kata Éilish Duke.
Ini
dikenal sebagai sistem pengimbalan otak, dan ini adalah mekanisme yang
sama persis dengan yang membuat seseorang tergantung pada zat seperti
alkohol.
"Bagi banyak orang, hal baru itu datang dalam bentuk ponsel kita."
Media
sosial, khususnya, selalu menawarkan sesuatu yang baru dan
menyenangkan, entah dalam bentuk foto, video, berita, ataupun pesan.
Namun, ada bagian otak lain yang melawan dorongan untuk mencari kesenangan dan imbalan langsung semacam ini: korteks prefrontal.
Ini adalah wilayah otak yang bertanggung jawab membuat kita mengambil keputusan yang tidak terlalu impulsif dan lebih seimbang.
Karena
itu, kita bisa berhenti menggulirkan layar ponsel, bangkit dari sofa,
dan memutuskan untuk merapikan rumah atau berolahraga, misalnya.
Namun, kedua fungsi otak ini tidak selalu berjalan seimbang.
Yang
kerap terjadi pada banyak orang, bagian logis otak tidak melakukan
tugasnya dengan baik dan justru kewalahan menghadapi dorongan untuk
mengejar kesenangan, kata Duke.
Di anak-anak muda, yang terjadi bahkan bisa lebih parah lagi.
"Apa
yang kita lihat pada remaja adalah sistem pengimbalan otaknya berada
dalam keadaan siaga tinggi, siap untuk bekerja sepanjang waktu," ujar
Duke.
"Namun, korteks prefrontalnya belum selesai
berkembang hingga usia 23 atau 24 tahun, sehingga ia tidak bisa
benar-benar mengendalikan impuls tertentu, seperti untuk memainkan
ponsel."
Distorsi waktu
Saat menggulirkan layar ponsel, menurut Éilish Duke, kita tengah berada di kondisi "mengalir".
Konsep
mengalir dalam psikologi merujuk kondisi mental saat tingkat kesulitan
tugas yang dilakukan seseorang sinkron dengan tingkat perhatian dan
keterampilan mereka saat itu.
Aplikasi seperti TikTok,
yang algoritmanya terus berubah dan menawarkan hal-hal baru yang secara
khusus ditujukan kepada kita, secara langsung memicu kondisi mengalir
ini.
"Aplikasi ini menyerap semua perhatian Anda, dan
Anda memasuki fase distorsi waktu saat Anda tak sadar dua jam telah
berlalu, dan Anda duduk di sana dengan tangan yang mati rasa,
membuang-buang waktu menonton berbagai video anak anjing," kata Duke.
Ariane Ling menjelaskan dengan metafora bagaimana otak kita mulai memperoleh kebiasaan menggulir layar ponsel secara berlebihan.
"Jika
Anda membayangkan jalan yang telah Anda lalui berkali-kali, jalan itu
lama-kelamaan menjadi jauh lebih jelas, dan kita akan terus berjalan di
sana. Itu terasa jauh lebih mudah," katanya.
"Jika Anda terus-menerus menggulir layar ponsel, itu menjadi pengalaman default. Dan, kemudian jadi sangat sulit untuk memfokuskan perhatian dan waktu Anda pada hal lain."
Kecanduan
ponsel kini belum diakui sebagai gangguan klinis resmi di dunia
psikiatri. Karena itu, belum ada kriteria khusus untuk membedakan
penggunaan ponsel yang sehat dan bermasalah—yang bisa memicu adiksi.
"Kami
mengandalkan kriteria klasik untuk mendiagnosis adiksi, seperti adanya
dorongan yang tidak terkendali atau bahwa perilaku tersebut memiliki
dampak fungsional yang negatif pada kehidupan orang tersebut," kata
Duke.
Contoh dampak negatifnya, kata Duke, seseorang jadi tak
mampu melakukan tugas-tugasnya dalam keseharian, atau ia menunjukkan
gejala layaknya baru putus obat (biasa terjadi saat seseorang berhenti
menggunakan obat secara mendadak).
Karena itu, penting untuk memperhatikan dan mencoba meninjau kembali kebiasaan kita sendiri.
"Jika
Anda telah mencoba untuk berhenti, dan benar-benar mencoba untuk itu,
tetapi belum berhasil, saya sarankan untuk mencari bantuan atau
intervensi yang lebih signifikan," kata Ling.
1. Sisihkan waktu tanpa ponsel
"Memiliki ritual tertentu yang menjauhkan Anda dari ponsel akan sangat membantu," kata Ariane Ling.
Menurutnya,
banyak penelitian menunjukkan bagaimana aktivitas sederhana seperti
berjalan tanpa ponsel dapat memberikan dampak yang besar.
Éilish
Duke sependapat. Ia bilang sisihkan waktu sebisa mungkin tanpa ponsel,
misalnya saat berjalan-jalan atau pergi ke pusat kebugaran.
Itu
tak hanya membuat kita berhenti bermain ponsel, tapi juga membantu kita
lebih menaruh perhatian pada lingkungan sekitar, melatih fungsi otak
lainnya, dan menyadari bagaimana perasaan kita saat tak memegang ponsel.
Membangun kebiasaan atau menerapkan peraturan untuk tidak
bermain ponsel di meja makan saat bersama keluarga atau teman juga
merupakan hal yang ideal.
Dengan begitu, orang lain bisa membantu mengingatkan kita untuk tidak menggunakan ponsel.
Kita
bisa membuatnya lebih efektif, misalnya dengan menyiapkan keranjang
untuk jadi tempat orang-orang meletakkan ponselnya sebelum mulai makan.
Secara
umum, setiap upaya yang dilakukan dengan sadar untuk memisahkan waktu
bermain ponsel dengan waktu tanpa ponsel dapat membantu kita menghindari
kebiasaan scrolling secara otomatis.
"Jika Anda
dapat menyisihkan waktu spesifik saat Anda tidak menggunakan ponsel dan
fokus mengerjakan tugas atau sekadar berkumpul bersama teman, itu akan
jadi ide yang bagus," kata Duke.
Ling punya saran lain:
"Hal lain yang terkadang saya lakukan adalah mengubah ponsel saya jadi
hitam putih, sehingga layarnya kurang menarik untuk dilihat."
2. Berinteraksi dengan dunia nyata
Kita bisa mengurangi kebiasaan scrolling dengan mengurangi ketergantungan kita pada ponsel untuk melakukan hal-hal tertentu, misalnya untuk mengecek waktu.
"Dalam
salah satu penelitian yang kami lakukan beberapa tahun lalu, kami
menemukan perbedaan besar antara orang-orang yang mengenakan jam tangan
biasa dan mereka yang menggunakan ponselnya untuk mengecek waktu," kata
Duke.
Tanpa disadari, orang-orang yang biasa melihat jam di ponsel kerap "terjebak" menggulir layar ponselnya.
Contoh lainnya, kata Duke, adalah kita bisa mengalihkan kebiasaan membaca daring ke luring.
"Saya
mendorong orang-orang untuk membangun rasa penasaran dan mencari trik
untuk mengurangi waktu penggunaan ponsel dan menghabiskan lebih banyak
waktu di dunia tiga dimensi," ujar Ling.
"Kita adalah makhluk taktil [yang mencari sentuhan fisik]. Kita ingin berinteraksi dengan hal-hal di dunia nyata."
3. Mencoba mengendalikan dorongan scrolling
Saat
kita merasakan dorongan untuk membuka sebuah aplikasi dan mulai
menggulir layar ponsel, atau bila kita telah melakukannya berjam-jam,
cobalah berhenti sejenak dan pikirkan mengapa kita melakukan itu atau
kepuasan seperti apa yang sebenarnya kita dapatkan dari sana.
Berusaha
untuk lebih menyadari keputusan kita, bagaimana perasaan kita, dan
bagaimana pikiran kita bekerja pada saat-saat ini merupakan intervensi
yang ampuh.
"Dorongan untuk mengambil ponsel itu seperti kita sedang mengidam sesuatu," kata Ling.
"Anda
menyadari tubuh Anda mulai menginginkannya. Otak Anda seakan berkata,
'Hei, sudah lama tidak ada asupan dopamin, ayo kita cari itu.' Dan, ngidam ini bisa berkembang, seperti gelombang."
Namun,
imbuhnya, kita bisa menahan dorongan itu. Kita bisa berkata, "Oke, saya
menyadari hal ini. Saya benar-benar ingin melihat ponsel, membuka
notifikasinya, tapi saya tidak bisa melakukannya."
Menurut
Ling, kita perlu melatih diri dengan tekun untuk membiasakan hal ini.
Dan, setelah terlatih, kita bisa mendapat manfaat jangka panjang.
"[Kita]
bisa tetap fokus, merasa lebih baik, mendapat pengalaman tanpa ponsel
yang membuat hidup lebih kaya dan bermakna," kata Ling.
Medan magnet yang dihasilkan lokomotif kereta api bahai paling depan ataupun paling belakang kereta api, terutama saat mendekati rel (radius \(<1\) km), dapat menimbulkan arus listrik kuat (emisi elektromagnetik) yang mengganggu sistem kelistrikan kendaraan yang ada di sekitarnya, terutama yang terhubung arus penghantar listrik seperti besi/rel dan sebagainya.
Arus ini berpotensi mengacaukan Electronic Control Unit (ECU) atau sistem pengapian kendaraan, menyebabkan mesin motor atau mobil jadi mati mendadak, Alhasil sang pengendara jadi panik dimana kecepatan kereta api yang tinggi kian mendekat.
Inilah pentingnya ilmu pengetahuan bagi yang hobi melintasi rel atau orang bodoh yang nekat menerobos saat palang kereta api sudah ditutup atau terlihat beberapa puluh/ratus meter kereta dari kejauhan akan melintas terutama kereta ekspress yang bisa datang dalam hitungan menit/detik dari beberapa puluh meter
Penyebab dan Dampak Medan Magnet Kereta Api:Dinamo Lokomotif: Roda kereta (bogie) memiliki dinamo dengan medan magnet besar.
Saat kereta mendekat, magnet ini terhantar ke rel baja dan dapat mengganggu perangkat elektronik mobil.Gangguan ECU/Kelistrikan:
Medan magnet tinggi dapat membuat komputer mobil (ECU) "bingung" atau mati mendadak, menyebabkan mesin berhenti berputar.Faktor Teknis Kendaraan: Kendaraan dengan kondisi koil atau dinamo yang sudah lemah lebih rentan terhadap gangguan ini
Langkah Pencegahan saat Melintasi Rel:
Gunakan Gigi Rendah: Selalu gunakan gigi 1 atau 2 saat melintasi rel untuk menjaga putaran mesin tetap tinggi.
Jangan Berhenti di Tengah: Pastikan lajur aman sebelum menyeberang dan jangan mengerem mendadak di atas rel.
Jaga Jarak: Beri jarak dengan kendaraan di depan agar tidak perlu berhenti saat menyeberang.
Tenang dan Berusaha: Jika mesin mati, tetap tenang, coba nyalakan kembali atau segera dorong kendaraan dari rel
Meskipun medan magnet menjadi salah satu faktor, faktor teknis kendaraan, aki lemah, atau kepanikan pengemudi juga sering menjadi penyebab utama mobil mogok.
saat kereta api akan lewat, memantik munculnya medan magnet yang
bersumber dari lokomotifnya. Akibatnya, listrik magnet terhantar sampai
ke rel kereta api.
Pada waktu mobil melintas di rel saat kereta
api sudah dekat, listrik di medan magnet itu bisa menyambar mesin mobil.
Alhasil, mesin bisa terganggu bahkan mati mendadak.
Aliran udara dalam jumlah yang besar diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara di sekitarnya di sebut angin. Angin ada bermacam-macam dan bisa berbeda di tiap negara. Angin di bumi dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu angin yang bersifat umum/tetap, dangin periodik, dan angin lokal.
Angin bersifat lokal adalah angin yang terjadi pada daerah-daerah tertentu karena pengaruh kondisi setempat. Angin yang termasuk dalam angin lokal adalah angin laut dan darat, angin gunung dan lembah, angin jatuh/fohn, serta angin siklon dan antisiklon.
Proses terjadinya angin yaitu karena adanya perbedaan tekanan udara atau perbedaan suhu udara pada suatu daerah. Hal ini berkaitan dengan besarnya energi panas matahari yang diterima oleh permukaan bumi.
Di suatu daerah yang menerima energi panas matahari lebih besar akan mempunyai suhu udara yang lebih panas dan tekanan udara yang cenderung lebih rendah. Sehingga akan terjadi perbedaan suhu dan tekanan udara antara daerah yang menerima energi panas lebih rendah dengan yang menerima energi panas yang besar. Akibatnya akan terjadi aliran udara pada daerah tersebut yang menghasilkan angin.
Kondisi aliran angin dipengaruhi oleh permukaan bumi yang dilalui oleh aliran dan perbedaan temperatur permukaan bumi.
Masyarakat pesisir umumnya sangat paham dalam membaca tanda-tanda alam karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap mata pencaharian mereka sehari-hari. Mereka mengetahui angin sesuai dengan arah mata angin yaitu utara, selatan, timur dan barat. Dan sebagian mereka menyebut angin tersebut dengan sebutan waktu/musim.
Angin barat adalah angin yang berhembus dari arah barat, berlangsung dari bulan September s/d November. Angin barat berhembus sangat kencang (kuat), oleh karena itu biasanya para nelayan tidak turun ke laut lepas. Kalau sedang berada di tengah laut, tiba-tiba datang angin kuat, maka mereka akan berlindung di balik pulau sampai angina reda.
Bagi kapal-kapal besar yang setiap harinya berlayar di lautan harus ekstra hati-hati agar jangan kandas diterpa angin kuat dan gelombang besar. Perubahan arah mata angin dari Barat ke Utara, Utara ke Selatan, Selatan ke Timur dan Timur ke Utara tidak menentu. Pada bulan-bulan bertiupnya angin Utara dan Barat, hujan turun terus menerus yang diiringi dengan angin yang sangat kuat dan cuaca yang tidak menentu. Hal ini mengakibatkan laut bergelombang besar sehingga nelayan susah hendak turun ke laut. Angin Utara adalah angin yang bertiup dari arah Utara, berlangsung dari bulan Desember s/d Februari. Disaat angina Utara berhembus biasanya diiringi oleh hujan.
Angin Utara kadangkala hawanya sejuk (dingin). Di bulan-bulan saat berhembusnya angin Utara ini, para nelayan tetap turun ke laut karena angin tidak terlalu kuat. Cuma saja ikan tidak mau memakan umpan yang dilemparkan nelayan melalui pancing. Dengan demikian walaupun ikan banyak dan cuaca baik, nelayan tetap saja tidak memperoleh ikan karena ikan enggan makan hanya menonton pancing yang dilemparkan para nelayan. Menurut penuturan beberapa orang masyarakat, ikan enggan makan disebabkan hawa dingin yang bertiup kearah laut. Pada saat angin Utara ini, kebanyakan masyarakat memanfaatkan waktunya untuk mencari cumi-cumi (sotong) di lokasi yang berdekatan dengan pulau ataupun teluk.
Angin Timur adalah angin yang berhembus dari arah Timur dan hawanya panas. Biasanya bertiup secara perlahan, hanya sesekali saja yang agak kencang. Angin Timur bertiup pada bulan Maret s/d Mei yaitu pada musim kemarau. Pada masa-masa ini laut tenang dan ikan banyak. Dengan demikian para nelayan turun ke laut baik pada siang hari maupun malam hari. Angin Selatan adalah angin yang bertiup dari arah Selatan, berlangsung dari bulan Juni s/d Agustus. Angin Selatan ini biasanya bertiup dengan kencang. Pada masa-masa angin Selatan ini, masyarakat tidak mencari ikan ke laut lepas tetapi hanya ke laut yang ada di pulau-pulau kecil saja.
Adapun tanda-tanda angin kuat atau angina turun adalah:
1) Dapat dirasakan di badan atau di sampan angin bertiup kuat,
2) Terlihat ada ombak/gelombang di laut yang mula-mula kecil lama-lama menjadi besar.
3). Awan banyak dan mulai bergerak naik.
4) Awan agak gelap.
Pengetahuan tentang angin dan pasang surut air laut dapat dimanfaatkan untuk menetapkan kapan waktu yang terbaik turun ke laut dan kembali ke rumah, arah mana yang akan dituju ataupun tidak turun ke laut sama sekali. Arah dan kecepatan angin yang sesuai dengan perhitungan akan membantu dan mempercepat laju sampan yang mereka dayung dan memudahkan mengatur posisi waktu menangkap ikan.
Dan sebalaiknya apabila salah perhitungan atau melawan arus, maka nelayan akan susah mengendalikan sampannya dan tidak tertutup kemungkinan bisa celaka. Berbeda dengan pengetahuan tentang musim dan angin, Menurut mereka, pasang surut air laut juga dipengaruhi oleh bulan. Apabila bulan sedang naik atau bulan mengambang menandakan air pasang/naik, dan jika bulan telah tergelincir atau turun menandakan air surut.
Sedangkan tentang bintang, mereka tidak mengetahui apa pengaruhnya terhadap laut ataupun tanda-tanda lainnya. Sedikit yang mereka ketahui tentang bintang hanyalah bintang timbul di malam hari waktu cuaca cerah. Orang-orang tua mereka dahulunya mempunyai pengetahuan tentang bintang seperti bintang tujuh, bintang lima serta pengaruhnya terhadap pasang surut air ataupun tanda-tanda peristiwa yang akan terjadi. Tetapi bagi mereka sekarang, keberadaan bintang tidak punya pertanda apa-apa karena mereka tidak punya pengetahuan tentang hal tersebut.