Rusaknya Hutan diberbagai belahan dunia dan makin panasnya suhu bumi akibat emisi jadi salah satu penyebab terjadinya Super El Nino.
El Niño adalah “perubahan suhu permukaan air di Pasifik tropis,” kata
Muhammad Azhar Ehsan, seorang ilmuwan peneliti di Columbia Climate
School. Jika air lebih hangat dari biasanya, itu dapat memicu efek El
Niño. Suhu yang lebih dingin dari biasanya seringkali menyebabkan La
Niña.
Apa
yang menyebabkan perubahan suhu air laut ini? Perubahan ini merupakan
bagian dari pola iklim alami yang disebut El Niño-Southern Oscillation,
atau ENSO. Biasanya, angin pasat bertiup ke barat sepanjang khatulistiwa
Bumi, mendorong air hangat dari Amerika Selatan menuju Asia. Namun
terkadang angin pasat melemah dan air hangat "bergetar" kembali ke
Amerika Selatan. Hal ini mengakibatkan suhu air laut yang lebih hangat
dari rata-rata di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur, dan
perubahan signifikan dalam pola cuaca global—di antaranya musim dingin
yang lebih ringan di Amerika Serikat bagian utara dan kondisi yang lebih
basah di bagian selatan negara tersebut.
Istilah
El Niño “berasal dari bahasa Spanyol yang berarti 'Anak Kristus',” kata
Mingfang Ting, seorang profesor iklim di Columbia Climate School.
“Fenomena ini biasanya terjadi sekitar waktu Natal,” ketika El Niño
sering mencapai puncaknya.
El
Niño yang "sangat kuat" berarti permukaan air Samudra Pasifik di
sekitar khatulistiwa lebih hangat lebih dari 2 derajat Celcius
dibandingkan rata-rata. Ketika para ilmuwan mempelajari ENSO, mereka
melihat seberapa besar penyimpangan suhu permukaan laut Pasifik dari
rata-rata jangka panjang untuk mengklasifikasikan intensitas suatu
sistem:
Lemah: 0,5 hingga 0,9 °C lebih hangat dari biasanya
Sedang: 1,0 hingga 1,4 °C lebih hangat dari biasanya
Kuat: 1,5 °C hingga 2,0 °C lebih tinggi dari normal
Sangat Kuat: Anomali melebihi 2,0 °C
Sejak tahun 1980, hanya ada tiga peristiwa El Niño yang diklasifikasikan sebagai "sangat kuat" atau "super".
El Niño tahun 1982-1983 disebut
sebagai "yang terkuat dan paling dahsyat di abad ini" karena angin
pasat runtuh dan berbalik arah, menyebabkan bencana cuaca di hampir
setiap benua. Australia, Afrika, dan Indonesia mengalami kekeringan,
badai debu, dan kebakaran hutan, sementara Peru dan sebagian Amerika
Selatan mengalami curah hujan terberat dalam sejarah yang tercatat.
Peristiwa El Niño tersebut menyebabkan hampir 2.000 kematian dan kerugian lebih dari $13 miliar .
Pada Desember 1997, El Niño yang sangat kuat
membawa kondisi lebih basah dari biasanya di sebagian besar wilayah
selatan AS, sementara negara-negara bagian utara mengalami suhu lebih
hangat dari rata-rata, menjadikannya musim dingin terhangat kedua dan
terbasah ketujuh sejak 1895. Pada Januari dan Februari 1998, suhu
rata-rata nasional hampir 2,8 derajat Celcius lebih hangat dari biasanya
dan negara tersebut menerima rata-rata 6,01 inci curah hujan
dibandingkan dengan normal 4,05 inci.
Tahun 2015 adalah peristiwa El Niño yang sangat kuat terakhir
, ketika suhu rata-rata Samudra Pasifik tropis 2,4 derajat Celcius
lebih tinggi dari normal. Tahun itu, Pasifik Utara mengalami rekor 16
siklon tropis; kekeringan selama 500 tahun di Karibia menyebabkan
penjatahan air di Puerto Rico; dan suhu permukaan global sangat panas
sehingga tahun 2015 memegang predikat sebagai tahun terpanas yang pernah
tercatat. Masih dipengaruhi oleh El Niño, tahun 2016 bahkan lebih
panas, memegang rekor sepanjang masa hingga tahun 2023.
Orang
mungkin berasumsi bahwa pemanasan planet akan memperkuat ENSO, yang
menyebabkan siklus yang lebih intens, tetapi para ilmuwan tidak
sepenuhnya yakin seberapa besar perubahan iklim memengaruhi El Niño.
“Meskipun kita mengalami peningkatan besar pada suhu permukaan rata-rata
global, El Niño tidak menjadi lebih kuat,” kata Ting.
Mengingat
betapa langkanya peristiwa El Niño yang "sangat kuat", para ilmuwan
mengatakan bahwa kemunculannya saja belum tentu merupakan indikasi
dampak cuaca yang lebih intens. "El Niño sangat unik dalam
perkembangannya," kata Ehsan. "Dampaknya bergantung pada kekuatan,
waktu, dan interaksi dengan pola iklim lain di atmosfer dan lautan."
Ehsan
adalah anggota kelompok penasihat CPC/NOAA yang mengembangkan prakiraan
ENSO bulanan. CPC memprediksi suhu di atas rata-rata untuk sebagian
besar wilayah AS, sementara sebagian Pantai Timur dan barat daya AS akan
mengalami curah hujan di atas rata-rata, menurut prospek musiman Juni-Agustus 2026.
Dengan peluang 82 persen bahwa El Niño akan muncul selama periode
Mei-Juli, Ehsan mengantisipasi badai yang lebih aktif dan lebih basah di
selatan, suhu yang lebih hangat dari normal di utara, dan potensi
peningkatan kejadian cuaca yang merugikan.
Fenomena Super El Niño di Indonesia memicu musim kemarau yang jauh lebih kering dan panjang dengan suhu panas ekstrem. Puncaknya berdampak langsung pada sektor pertanian, kebakaran hutan dan lahan, krisis air bersih, keringnya danau, waduk dan sungai, suhu udara panas/gerah pada siang dan malam hari, serta peningkatan risiko bencana kekeringan di sebagian besar selatan wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Perpanjang SIM online adalah layanan digital dari Korlantas Polri yang memungkinkan pemilik Surat Izin Mengemudi (SIM) memperpanjang masa berlaku SIM tanpa perlu mengantre ke kantor Satpas. Seluruh proses registrasi, tes, pembayaran, dan pengiriman SIM fisik ke alamat pemohon dilakukan melalui aplikasi. Pengajuan dapat dilakukan 90 hari sebelum masa berlaku SIM habis, Pastikan Anda mengajukan permohonan minmal sebulan sebelum masa berlaku habis untuk antisipasi dan menghindari dokumen ditolak jelang beberapa hari masa berlaku SIM habis.
Perpanjang Sim Online Tidak direkomendasikan bagi yg masa berlaku SIM nya tinggal sisa dua minggu atau seminggu lagi. Karena saat artikel ini ditulis para petugas Satpas tidak gercep. Lebih baik datang langsung ke Satpas atau cari jadwal Sim keliling terdekat DARI RUMAH KAMU
Jika tanggal berlaku yang tertulis di SIM sudah melewati tanggal kedaluwarsa, wajib membuat SIM baru di Satpas, tidak bisa online
PASTIKAN SEMUA TAHAPAN, PERSYARATAN DOKUMEN DAN PENGISIAN DATA DI APLIKASI DIGITAL KORLATNAS POLRI SUDAH SESUAI DAN DILAKUKAN DENGAN BENAR + SUDAH KAMU LENGKAPI, KARENA INI ADALAH PROSES LANGKAH TERAKHIR YAITU MELAKUKAN PEMBAYARAN.
PILIH SATPAS yang para petugasnya GERCEP, kamu bisa liat SATPAS yg kinerjanya baik atau lamban bisa dibaca di komentar youtube, Instagram atau X. Hindari pilih Satpas yang lelet. Bisa bisa 1 bulan lebih Perpanjangan SIM Online kamu tidak diproses dan stuck.
Saat artikel ini ditulis, kinerja belum Professional, karena tidak ada tenggat/jangka waktu berapa hari yang pasti kapan SIM bisa diterima pemohon setelah status pembayaran SIM online berubah jadi diproses. alhasil sim online lama diproses ada yang bisa 1 hingga 2 bulan tergantung kinerja Anggota Satpas yang kamu pilih saat awal memilih.
Status diproses artinya data dan dokumen yang kamu kirim saat perpanjangan Sim Online sudah lolos verifikasi dan masuk antrean cetak kartu SIM fisik.
Jika melakukan perpanjangan sebelum masa berlaku habis dan data yang diberikan benar dan dokumen yang diperlukan lengkap, SATPAS akan memproses pengajuan meski masa berlaku SIM Fisik sudah habis masa berlakunya.
Namun, saat status masih terbayar jika dokumen dan data yang diberikan salah, tidak sesuai syarat dan tidak lengkap, SATPAS bisa menolak pengajuan perpanjangan SIM Online.
Dan jika masa berlaku SIM Fisik sudah habis saat mendapat notifikasi informasi penolakan dari aplikasi, Anda harus membuat SIM Baru.
Kalau jelang hari hari terakhir masa berlaku sim kamu habis, setatusnya masih terbayar, Kamu bisa Membatalkan proses perpanjangan Sim Online dan melakukan perpanjangan secara Offline di SATPAS tempat kamu mendaftar,atau Satpas terdekat atau SIM Keliling terdekat.
Uang akan dikembalikan ke rekening dengan potongan biaya administrasi
Kalau jelang hari hari
terakhir masa berlaku SIM kamu habis, setatusnya masih diproses, Kamu harus menunggu dalam ketidakpastian berapa hari, minggu atau bulan SIM dicetak dan dikirim oleh SATPAS yang kamu pilih ke rumah, resikonya adalah kamu tidak bisa berkendara kemana-mana karena SIM Online yg kamu buat belum datang
Semakin banyak tanggal merah/hari libur, prosesnya akan semakin lama
CATATAN:
Untuk yang sering beraktifitas dengan kendaraan bermotor setiap harinya, tidak disarankan perpanjang online, karena rata rata kinerja petugas anggota Satpas belum professional, mengingat waktu yang dihabiskan rata rata diberbagai komentar bisa lebih dari satu bulan bahkan 2 bulan lebih.
Seharusnya pada aplikasi dilengkapi batas waktu bagi Satpas hingga proses mengirim ke Pos Indonesia. jika terlambat atau gagal memproses, maka rating Satpas akan berada di bintang 1 dan bagi Satpas yang gercep maka akan ada Bintang 5 dan ada di jajaran Satpas terbaik se Indonesia dalam proses Perpanjangan SIM Online tercantum di aplikasi dan tentunya harus ada penghargaan dan intensif dari POLRI pada Satpas bersangkutan berkat pelayanan yang baik dan bagus.
Selain itu seharusnya saat memilih Satpas muncul review bintang 1-5 pada Satpas yang dipiih saat pemohon SIM memilih Satpas saat perpanjang Online , Sehingga pemohon SIM bisa memilih Satpas yang kinerjanya bagus
Selanjutnya, seharusnya saat status pada aplikasi digital Kortlansa Polrisudah berubah menjadi dikemas/dikirim. Status SIM Digital ID sudah muncul dan aktif dan bisa berlaku sah secara hukum bisa ditunjukan kepada petugas POLANTAS saat ada razia, sehingga para penggguna/pemohon SIM yg sedang diproses/menunggu SIM fisik datang tidak takut berkendara kemana mana karena takut ditilang akibat masih menunggu SIM Fisik datang ke rumah
Kalau kamu mau nekat mencoba dengan resiko ditilang karena SIM fisik belum datang dan masa berlaku sim habis serta beresiko membuat SIM baru, silahkan lakukan langkah berikut
BERIKUT TUTORIAL TIPS CARA BAYAR PERPANJANGAN SIM ONLINE DENGAN BSI MOBILE BYOND BSI
Buka aplikasi Digital Korlantas Polri
1. klik pilih metode pembayaran > bank transfer > Pilih BNI VIRTUAL ACCOUNT
> klik lihat nomor rekening
> Salin/Copy Nomor Virtual Account yg muncul ke clipboard HP/SMARTPHONE
1. Buka Aplikasi BYOND BSI: Login ke aplikasi BYOND by BSI di smartphone
Anda. PASTIKAN SALDO REKENING MENCUKUPI, SISA TENGGAT WAKTU PEMBAYARAN
EPPSI MASIH ADA DAN APLIKASI BYOND BSI SEDANG TIDAK MAINTENANCE /
GANGGUAN
2. Pada halaman utama BYOND BSI, pilih menu "Transfer"
> pilih "Transfer ke Rekening Baru "
3. ketik di kotak "Masukan Nama Bank" KETIK:BNI > lalu pilih Bank Negara Indonesia BNI
4.COPY/PASTE/Masukkan Nomor VA: Pada kolom nomor rekening tujuan, Copy/masukkan nomor Virtual Account BNI yang didapatkan dari situs/aplikasi DIGITAL KORLANTAS POLRI.
> Tap/klik Lanjutkan
> Tap/klik konfirmasi
5.Ketik nominal pembayaran sesuai dengan tagihan tes psikologi yang tertera di ePPsi SIM (biasanya sebesar 77500 saat artikel ini ditulis).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan
seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi
musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dibandingkan kondisi
normal. Kmarau diprediksi akan merata pada awal bulan Juli 2026
Peringatan tersebut disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani,
dalam Rapat Koordinasi Penanganan Persampahan serta Mitigasi Dampak
Kemarau Panjang di wilayah Jawa Barat yang digelar di Markas Besar TNI
Angkatan Darat (Mabesad), Rabu 4 Juni 2026.
Dalam paparannya, Faisal menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi
mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Menurutnya, BMKG telah
menyampaikan prediksi tersebut sejak Maret 2026 dan diperkuat oleh rilis
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 2 Juni 2026.
“Kami telah menyampaikan sejak bulan Maret bahwa tahun ini akan
terjadi fenomena El Nino. Kemudian pada tanggal 2 Juni kemarin, WMO juga
telah merilis bahwa El Nino akan terjadi pada tahun 2026,” ujar Faisal.
Ia menegaskan bahwa El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena
yang berbeda. Namun, keduanya sama-sama dapat memengaruhi curah hujan di
Indonesia dan meningkatkan risiko kekeringan di berbagai daerah.
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei 2026, indeks El
Nino Southern Oscillation (ENSO) telah mencapai angka +1,0 yang
menunjukkan kondisi El Nino. Sementara itu, sekitar 28 persen wilayah
Indonesia telah memasuki musim kemarau.
BMKG juga memperkirakan durasi musim kemarau tahun ini berlangsung
antara tiga hingga tujuh bulan, tergantung karakteristik masing-masing
wilayah. Kondisi tersebut membuat sejumlah daerah perlu meningkatkan
kewaspadaan terhadap potensi berkurangnya ketersediaan air bersih,
gangguan sektor pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan
dan lahan.
Untuk mendukung upaya mitigasi, BMKG akan terus memperbarui informasi
iklim, kondisi hari tanpa hujan, serta potensi kekeringan yang dapat
dimanfaatkan pemerintah daerah sebagai dasar penyusunan kebijakan dan
langkah antisipatif.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad)
Jenderal TNI Maruli Simanjuntak meminta seluruh jajaran TNI AD, mulai
dari Kodim hingga Koramil, melakukan pemetaan wilayah yang berpotensi
mengalami kekeringan serta menyiapkan langkah penanganan sejak dini.
“Kalau dulu kita punya data bencana, sekarang kita harus punya data
antisipasi kemarau. Daerah mana saja yang selama ini terjadi kekeringan
dan juga berdasarkan hasil penjelasan BMKG, daerah mana yang terancam
kekeringan. Kira-kira apa yang harus kita lakukan,” kata Maruli.
Kasad menegaskan program penyediaan air bersih melalui pengeboran
sumur akan terus dilanjutkan sebagai salah satu upaya membantu
masyarakat menghadapi dampak musim kemarau.
Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko krisis air bersih
di daerah-daerah yang selama ini kerap terdampak kekeringan saat musim
kemarau berlangsung, sekaligus memperkuat kesiapan pemerintah dan
masyarakat dalam menghadapi ancaman kemarau panjang tahun 2026.
Puncak musim kemarau di wilayah Jawa Barat diprediksi terjadi pada bulan Agustus. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat tengah menerapkan kesiapsiagaan untuk memitigasi terjadinya kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi terjadi pada musim tersebut.
Pranata Humas Ahli Muda BPBD, Hadi Rahmat, mengatakan, berdasarkan data BMKG beberapa wilayah di Jawa Barat telah memasuki periode musim kemarau sejak Mei, dengan kecenderungan kondisi lebih kering dibanding normal akibat pengaruh El Nino.
Kondisi serupa pernah terjadi pada 2023, yang tercatat sebagai tahun dengan dampak kekeringan relatif ekstrem. Sejumlah daerah bahkan masuk dalam kategori wilayah terdampak tertinggi kekurangan air bersih, di antaranya Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung, Ciamis, Bekasi, dan Garut.
"Kalau kita mengacu ke 2023, itu cukup ekstrem. Dan pola yang sama masih berpotensi terjadi jika El Nino kembali menguat," ujar Hadi, Sabtu (6/6/2026).
1. Kebakaran bisa terjadi di wilayah tutupan hutan produksi
Catatan BPBD Jabar menunjukkan sedikitnya 710 kejadian karhutla terjadi selama musim kemarau pada tahun sebelumnya. Adapun wilayah yang kerap menjadi titik rawan antara lain Majalengka, Sumedang, Subang, Sukabumi, Kabupaten Bandung, hingga Kuningan.
Peristiwa kebakaran hutan sebagian besar kejadian terjadi pada kawasan hutan produksi yang masih memiliki vegetasi mudah terbakar saat kemarau panjang.
"Rata-rata memang di wilayah dengan tutupan hutan produksi. Hutan alami di Jawa Barat sudah sangat berkurang," kata Hadi.
2. Jabar belum tetapkan status darurat
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Jawa Barat menyiagakan mobil tangki
air bersih hingga peralatan pemadam kebakaran seperti, mesin pompa
(alkon) yang dapat digunakan saat terjadi karhutla.
Kemudian,
koordinasi lintas sektor juga telah dilakukan sejak April melalui rapat
koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, perangkat daerah, hingga pihak
swasta untuk memperkuat dukungan personel dan peralatan di lapangan.
"Kita tidak bisa bekerja sendiri dalam penanganan bencana. Semua stakeholder harus terlibat," hadi.
Namun
saat ini BPBD Jawa Barat memastikan belum menetapkan status siaga
kekeringan secara resmi. Pemerintah provinsi masih memantau kondisi
cuaca yang dinilai belum sepenuhnya stabil.
Hadi menyebut, kondisi
cuaca di Jawa Barat masih menunjukkan anomali, di mana sebagian wilayah
masih diguyur hujan dan bahkan terjadi banjir di beberapa daerah.
"Secara siklus memang sudah kemarau, tapi kondisi di lapangan masih dinamis. Jadi kita masih wait and see," katanya.
3. Kemarau diprediksi disertai El Nino
Terpisah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, memprediksi puncak musim kemarau di
wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya pada Agustus 2026.
Fungsional
Pengamat Meteorologi dan Geofisika Muda BMKG Bandung, Yuni Yulianti,
mengatakan, puncak musim kemarau diperkirakan dipengaruhi fenomena El
Nino yang berdampak pada penurunan curah hujan secara signifikan.
"Untuk
tahun 2026 ini memang sudah musim kemarau, dan BMKG memprediksi akan
disertai El Nino. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus,
termasuk wilayah Bandung Raya. Secara umum, curah hujan lebih rendah dan
durasi musim kemarau di beberapa wilayah bisa lebih panjang dari
normal," katanya.
El Nino, kata Yuni, merupakan anomali suhu
permukaan laut di wilayah Pasifik ekuator yang berdampak pada
berkurangnya pembentukan awan hujan di Indonesia. Kondisi ini,
berpotensi menurunkan curah hujan di berbagai daerah, termasuk Jawa
Barat.
"Untuk tahun ini diprediksi El Nino moderat, dengan peluang kecil menuju kuat, tetapi dominan tetap moderat," ucapnya.
Mengenai
istilah El Nino Godzilla yang kerap muncul di publik, BMKG menegaskan
istilah tersebut tidak digunakan secara resmi dalam klasifikasi
meteorologi. "BMKG sendiri tidak pernah merilis adanya El Nino Godzilla.
Kami mengkategorikan El Nino itu menjadi tiga, yaitu El Nino lemah,
moderat, dan kuat," katanya.
Pakar menyebut sejumlah indikator oseanografi dan atmosfer menunjukkan kecenderungan berkembangnya fenomena El Niño pada paruh kedua hingga akhir tahun 2026.
"Berbagai data observasi dan model iklim menunjukkan perubahan kondisi laut di Samudra Pasifik yang mengarah pada pembentukan El Niño. Salah satu indikator utama adalah meningkatnya cadangan panas di bawah permukaan laut Pasifik yang berpotensi mendorong perpindahan massa air hangat ke arah timur," ujar R. Dwi Susanto, Profesor di University of Maryland dalam keterangannya, Selasa (2/6).
"Data observasi dan model menunjukkan adanya akumulasi panas di bawah
permukaan Samudra Pasifik. Bersamaan dengan itu, gelombang Kelvin mulai
mendorong massa air hangat dari Pasifik barat menuju Pasifik timur,
yang merupakan salah satu ciri perkembangan El Niño," tambahnya.
Dwi
menjelaskan perubahan ini dapat diamati melalui suhu bawah permukaan
laut, tinggi muka laut, hingga pola angin di kawasan tropis Pasifik.
Menurutnya, berbagai model prediksi iklim internasional juga memperlihatkan kecenderungan yang sama.
"Indonesia
memiliki posisi penting dalam sistem iklim global karena berada di
kawasan western Pacific warm pool, wilayah dengan suhu permukaan laut
tropis terhangat di dunia," terangnya.
Selain itu, Indonesia adalah jalur Indonesian Throughflow
(Arlindo) yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Oleh
karena itu, perubahan kondisi laut di wilayah Indonesia dapat menjadi
indikator penting untuk memahami perkembangan El Niño.
Dwi
menyebut pemantauan suhu laut, dinamika Arlindo, maupun pergeseran pusat
konveksi atmosfer di kawasan maritim Indonesia dapat membantu
mendeteksi perubahan iklim sejak dini.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa dampak El Niño terhadap Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kondisi di Samudra Pasifik.
Interaksi dengan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia juga berperan besar dalam menentukan tingkat keparahan dampaknya.
"Kita
tidak bisa hanya melihat indeks El Niño. Kondisi Indian Ocean Dipole
juga harus dipantau karena kombinasi keduanya dapat menghasilkan dampak
yang jauh lebih besar dibandingkan jika hanya salah satu fenomena yang
terjadi," katanya.
Ia mencontohkan peristiwa 1997-1998 ketika El
Niño kuat terjadi bersamaan dengan IOD positif. Kombinasi kedua fenomena
tersebut menyebabkan penurunan curah hujan yang signifikan serta
meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan di berbagai
wilayah Indonesia.
Menurutnya, perkembangan IOD positif dapat
dipantau melalui perubahan suhu permukaan laut di perairan selatan Jawa
dan Sumatra. Pendinginan yang semakin kuat di kawasan tersebut umumnya
berkaitan dengan meningkatnya risiko kekeringan.
Dwi mengatakan
sejumlah model prediksi saat ini menunjukkan peluang berkembangnya El
Niño pada akhir 2026 dengan kecenderungan berada pada kategori kuat
hingga sangat kuat.
Maka karena itu, berbagai langkah mitigasi
perlu dipersiapkan sejak dini, antara lain melalui pengelolaan sumber
daya air, penyesuaian pola tanam, serta penguatan upaya pencegahan
kebakaran hutan dan lahan.
"Persiapan harus dilakukan tanpa
menimbulkan kepanikan. Yang penting adalah memastikan informasi iklim
dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan dan mitigasi," ujar dia.
EFEK KEMARAU
Harga pangan/makanan akan naik
Krisis air atau Harus membeli air tiap hari yang akan membuat dompte dan saldo tekor
Banyak kasus Kebakaran di Perkotaan dan Hutan, Pastikan mengcek dan mengganti kabel listrik dengan kualitas SNI jika sudah puluhan tahun tidak pernah diganti
Penyakit yang Menyerang di Musim Kemarau
Demam berdarah Tak hanya saat musim hujan, demam berdarah juga berisiko muncul di musim kemarau. Ini karena nyamuk-nyamuk dewasa mulai berkembang.
"Saat musim hujan, banyak terjadi genangan. Saat itulah nyamuk-nyamuk ini berkembang biak. Nah, saat memasuki musim kemarau saat ini, nyamuk dewasa itu semakin banyak," ujar dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter.
Ancaman dehidrasi
Saat musim kemarau di mana cuaca sangat panas, Anda juga akan lebih rentan mengalami dehidrasi. Karena itu, selalu cukupi kebutuhan air minimal 8 gelas sehari, terlebih bagi Anda yang lebih banyak beraktivitas di luar ruangan. Dermatitis atopik
Dermatitis atopik adalah penyakit kulit kronis yang membuat kulit meradang, gatal, kering, dan pecah-pecah. Biasanya, kondisi ini disebut juga sebagai penyakit eksim.
"Musim kemarau itu cuacanya sedang kering. Bagi beberapa orang, kondisi itu bisa memicu gangguan kulit seperti dermatitis atopik," ujar dr. Nadia Octavia dari KlikDokter.
Cuaca panas juga bisa membuat kulit Anda alergi. Sebab, cuaca panas membuat kulit kering dan membuat lapisan kulit menipis. Pada akhirnya, kuman mudah masuk dan membuat Anda alergi.
Diare
Diare sering menyerang di musim hujan dan kemarau. Berkurangnya pasokan air bersih di beberapa tempat, bisa mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk dalam proses pencucian makanan dan peralatan makan. Akibatnya, kondisi makanan dan peralatan makan yang kotor berpotensi menyebabkan diare.
"Selain itu, kondisi musim kemarau membuat makanan lebih mudah terkontaminasi oleh udara yang berdebu. Kondisi hidangan yang kurang higienis itu berisiko menimbulkan diare," ujar dr. Andika Widyatama dari KlikDokter.
Tifus
"Tifus merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhii. Penyakit ini sering ditularkan melalui konsumsi makanan yang tercemar bakteri Salmonella," kata dr. Andika.
Pencemaran makanan dapat terjadi akibat ada binatang seperti lalat yang hinggap di makanan. Lalat tersebut sangat mungkin membawa bakteri Salmonella saat hinggap di makanan, jika sebelumnya menempel di feses.
Heatsroke
Heatstroke sangat mungkin terjadi saat musim kemarau di mana cuaca sangat panas. Ini merupakan kondisi kegawatdaruratan yang terjadi ketika suhu tubuh terlalu panas akibat paparan suhu panas di luar tubuh dalam jangka waktu yang lama. Suhu tubuh bisa mencapai 40 derajat Celsius.
"Kondisi ini harus segera mendapat pertolongan medis karena dapat dengan cepat merusak fungsi berbagai organ dalam tubuh, seperti otak, jantung, ginjal, dan organ vital lainnya hingga mengancam jiwa," ucap dr. Andika.
Infeksi saluran pernapasan atas
Musim kemarau identik dengan udara menjadi lebih berdebu. Debu-debu yang bertebaran di udara berpotensi mengiritasi saluran pernapasan. Dalam kondisi demikian, Anda menjadi lebih rentan mengalami infeksi saluran pernapasan atas.
Mata kering
Mata kering atau dry eyes bisa terjadi ketika udara sangat kering. Udara yang kering saat musim kemarau dapat meningkatkan penguapan air mata. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan masalah dry eyes.
"Gejala-gejala dry eyes biasanya dirasakan pada kedua mata, yang meliputi perih, sensasi terbakar, dan gatal di mata. Adapun yang dirasakan seperti mata memerah, mata mengganjal, mata belekan, sensitif terhadap cahaya, pandangan kabur, dan air mata keluar terus-menerus," kata dr. Andika.
Itulah beberapa penyakit yang rentan berjangkit di musim kemarau. Untuk menghindarinya, jaga selalu daya tahan tubuh Anda agar tetap prima. Caranya, selalu konsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, serta cukup tidur. Selanjutnya, pastikan Anda mencukupi kebutuhan minum air putih setidaknya 8 gelas sehari.
Wilayah Indonesia yang Paling Terdampak
Paling Rentan (Jawa, Bali, & Nusa Tenggara): Pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur), Bali, NTB, dan NTT. Wilayah ini berisiko tinggi mengalami kekeringan yang mengganggu masa tanam padi
Potensi Kebakaran Hutan & Lahan: Titik rawan kebakaran meningkat pesat di wilayah dengan lahan gambut seperti Sumatra (khususnya Riau) dan Kalimantan (seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan)
apa itu El Nino? Apa juga dampak atau akibat yang ditimbulkan oleh El Nino yang berdampak pada masyarakat?
El Nino merupakan kondisi dimana adanya arus panas yang
terjadi di muka bumi. Akibatnya, akan timbul musim kemarau yang cukup
lama dan cuaca yang cukup panas.
Kondisi yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah,
pemanasan SML atau juga suhu muka laut karena adanya potensi pertumbuhan
awan yang berada di Samudera Pasifik tengah yang mengurangi curah
hujan.
Singkatnya, fenomena ini merupakan pemicu terjadinya kondisi kekeringan di wilayah Indonesia secara umum atau keseluruhan.
Di masa awal kemunculannya, fenomena ini membuat banyak
para nelayan beristirahat tak melakukan aktivitas melaut. Karena memang
fenomena ini selain menyebabkan kemarau ekstrim, juga membuat jumlah
ikan yang berada di lautan menurun drastis.
Kemunculan El Nino tidak terjadi setiap tahun, namun
perlu diketahui jika frekuensinya dapat dipastikan. Dan pada umumnya
muncul dengan rata-rata 2-7 tahun.
Mengapa harus diwaspadai, karena jika sekali
terjadi sekali bisa berlangsung selama 9-12 bulan dan selain itu
fenomena ini juga memunculkan proses yang akan lebih dilalui terlebih
dulu.
Bagaimana proses El Nino bisa terjadi?
Fenomena, ini menjadi salah satu gejala yang terjadi
pada iklim dan sudah dinyatakan muncul jika adanya kenaikan suhu
rata-rata air laut di Samudera Pasifik dengan minimal 0,5 derajat
celcius.
El Nino merupakan gejala gangguan iklim global yang
diakibatkan oleh adanya hubungan antara samudera dan atmosfer secara
masif yang menghasilkan suhu lebih hangat tersebut.
Sementara kenaikan suhu secara lebih spesifik muncul pada bagian pusat dan timur Samudera Pasifik Ekuatorial.
Kenaikan tersebut menjadi penyebab adanya peningkatan
kelembapan pada atmosfer yang terdapat di atas Samudera Pasifik.
Peningkatan pembentukan awan di samudera, hal ini memunculkan tekanan
udara di Samudera Pasifik yang juga akan meningkat.
El Nino menyebabkan musim kemarau dan membuat adanya kekurangan curah hujan, hal ini biasanya juga dialami di Indonesia.
Sementara di Amerika Latin, munculnya fenomena ini
justru membuat adanya kenaikan curah hujan di wilayah tersebut.
Meskipun beberapa tahun terakhir, kemunculan arus panas melanda dan
terjadi pada bulan Mei
PBB: 3 Bulan ke Depan, Bumi Mungkin akan Panas Luar Biasa
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan dunia harus bersiap menghadap kembalinya El Niño dan cuaca ekstrem yang diakibatkannya.
Pola cuaca alami yang kuat ini, yang meningkatkan suhu global dan memperburuk curah hujan, memiliki kemungkinan 80% terbentuk sebelum September dan 90% sebelum November, demikian pernyataan badan PBB tersebut dalam rilis resmi, Selasa, 2 Juni 2026.
WMO mengungkap, sebagian besar model penelitian ilmiah memproyeksikan kembalinya fenomena siklus di lautan dan atmosfer dengan kekuatan setidaknya sedang dan kemungkinan kuat.
Para ilmuwan sebelumnya telah memperingatkan bahwa ini bisa menjadi yang terkuat di abad ini. Namun, WMO tidak memberikan dukungan terhadap proyeksi tersebut dan mengatakan para peramal cuaca masih berada dalam ketidakpastian.
“Penyebarannya besar. Ada model yang tidak memberikan indikasi El Niño yang kuat, sementara model lainnya memberikan indikasi yang sama," kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo.
Meski demikian, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan, dunia harus memperlakukan hal ini sebagai peringatan iklim yang mendesak.
“Kondisi El Niño akan memicu pemanasan dunia. Dampaknya akan lebih parah, menyebar lebih jauh, dan melintasi perbatasan dengan kecepatan yang sangat dahsyat,” kata Guterres.
El Niño terbaru, yang terjadi pada tahun 2023-2024, adalah salah satu dari lima El Niño terkuat yang pernah tercatat dan berkontribusi pada tahun yang sangat panas pada 2024 yang memecahkan rekor suhu global.
WMO mengatakan suhu yang luar biasa tinggi diperkirakan terjadi di hampir seluruh wilayah bumi selama tiga bulan ke depan, dan memperingatkan kemungkinan lebih besar terjadinya hujan ekstrem dan kekeringan.
Meskipun setiap peristiwa El Niño bersifat unik, para ilmuwan biasanya mengasosiasikannya dengan hujan lebat di beberapa bagian Amerika Selatan, Amerika Serikat bagian selatan, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah. Kondisi yang lebih kering biasanya melanda Amerika Tengah, Amerika Selatan bagian utara, Karibia, Australia, Indonesia, dan sebagian Asia Selatan.
Perairan hangat dapat memicu badai di Samudera Pasifik tengah dan timur, namun menghambat pembentukannya di cekungan Atlantik.
Temuan ini muncul ketika Eropa Barat sedang menghadapi cuaca panas yang luar biasa Mei lalu, dimana rekor suhu pada bulan tersebut dipecahkan di Inggris dan Irlandia. Pekan lalu, WMO dan UK Met Office memperingatkan bahwa tahun panas yang memecahkan rekor bagi bumi hampir pasti akan terjadi sebelum akhir dekade ini, dan El Niño diperkirakan akan kembali terjadi pada 2027.
Gareth Redmond-King, dari Energy & Climate Intelligence Unit, sebuah lembaga pemikir Inggris, mengatakan temuan ini adalah berita buruk bagi pasokan makanan lantaran sudah berada di bawah tekanan akibat kerusakan iklim dan pembatasan aliran pupuk akibat perang AS di Iran.
“Kerusakan yang akan terjadi akibat El Niño karena kemungkinan besar akan kembali menghadirkan tahun terpanas, pada 2027, yang akan berdampak buruk bagi banyak petani, dan menjadi pertanyaan tentang hidup atau mati bagi banyak orang,” katanya.
Kondisi El Niño terjadi setiap beberapa tahun sekali dan berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan. Selama tahun-tahun tersebut, angin yang mendorong air hangat ke barat melunak atau berubah arah, sehingga permukaan air di bagian Pasifik tersebut menjadi hangat.
WMO mengatakan suhu permukaan laut di beberapa wilayah Pasifik yang digunakan para ilmuwan sebagai referensi mendekati ambang batas El Niño pada akhir April hingga pertengahan Mei, dipicu oleh kondisi bawah permukaan yang luar biasa hangat. Dikatakan bahwa komponen atmosfer El Niño juga konsisten dengan perkembangannya.
Mereka menolak istilah “super El Niño”, yang digunakan beberapa ilmuwan dalam beberapa bulan terakhir untuk mengantisipasi peristiwa yang sangat kuat, karena istilah tersebut berada di luar sistem klasifikasi resmi.
Saulo mengatakan, sistem peringatan dini yang mengingatkan masyarakat akan bahaya dan memungkinkan evakuasi sebelum terjadinya bencana telah menyelamatkan banyak nyawa. Namun tahun lalu, beberapa negara donor asing, termasuk Inggris dan AS, memotong anggaran bantuan mereka.
"Pendanaan iklim belum mencapai puncaknya, menurut saya, namun sistem peringatan dini telah dan masih menjadi prioritas. Tentu saja, kita masih memerlukan lebih banyak mobilisasi sumber daya, dalam hal mendanai negara-negara yang membutuhkan dukungan tersebut. Menurut saya kita perlu meningkatkannya, namun itu bukan satu-satunya batasan dalam kasus ini. Penerapannya juga merupakan tantangan bagi dunia," kata Saulo.
Sementara itu Guterres mengatakan hanya ada satu solusi yang efektif untuk mengatasi dampak krisis iklim.
“Satu-satunya respons yang efektif adalah tindakan iklim yang setara dengan krisis ini – mengakhiri kecanduan terhadap bahan bakar fosil, mempercepat peralihan ke energi terbarukan, melindungi kelompok yang paling rentan, dan memberikan sistem peringatan dini untuk semua,” katanya.
UPDATE JUNI 2026 EFEK EL NINO
El Nino Mengeringkan Sungai Cisadane
Bebatuan tampak bermunculan di dasar Sungai Cisadane seiring menurunnya permukaan air akibat musim kemarau yang diperparah fenomena El Nino di Tangerang, Banten, Jumat (17/7/2026).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih intens dan lebih lama dibandingkan kondisi normal.
Fenomena El Nino turut memperkuat risiko kekeringan, penurunan debit air, serta meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan.
Kemarau berkepanjangan tidak hanya memengaruhi ketersediaan air, tetapi juga mengancam sektor pertanian akibat berkurangnya pasokan air irigasi. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu produktivitas pertanian dan ketahanan pangan di berbagai daerah apabila kekeringan terus berlanjut.
Fase Awal El Nino, Curah Hujan Juni Terendah dalam 30 Tahun
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut bulan Juni 2026 menjadi salah satu Juni dengan curah hujan terendah dalam lebih dari 30 tahun terakhir.
"Data pengamatan BMKG menunjukkan, Juni tahun ini termasuk salah satu Juni dengan curah hujan terendah dalam lebih dari 3 dekade terakhir," kata BMKG dalam unggahannya di Instagram, Rabu (15/7).
Menurut BMKG, curah hujan rata-rata pada Juni 2026 adalah sebesar 153 mm. Angka tersebut membuat bulan ini menjadi peringkat ke-8 curah hujan terendah sejak 1991.
Catatan BMKG menyebut Juni dengan curah hujan terendah terjadi pada 1997 dengan curah hujan rata-rata nasional sebesar 66 mm. Kondisi tersebut dipicu oleh fenomena El Nino kuat yang menyebabkan musim kemarau semakin kering.
"Juni dengan curah hujan terendah terjadi pada tahun 1997, saat Indonesia mengalami El Niño kuat yang menyebabkan musim kemarau semakin kering," jelas BMKG.
Lebih lanjut, BMKG mengatakan kondisi Juni 2026 menjadi indikasi awal meningkatknya risiko kekeringan akibat El Nino 2026.
Berikut daftar Juni terkering selama 35 tahun terakhir beserta jumlah curah hujan rata-rata bulanannya:
1997: 66 mm
1991: 108 mm
2004: 118 mm
2003: 121 mm
2015: 148 mm
2009: 151 mm
1992: 152 mm
2026: 153 mm
Lebih lanjut, musim kemarau di Indonesia terpantau semakin dominan dan mulai mencapai periode puncaknya di sejumlah wilayah. BMKG mencatat sebanyak 432 Zona Musim atau sekitar 60,5 persen wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau pada dasarian I Juli 2026.
"Pada Dasarian II Juli 2026, sekitar 91,45 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah, sedangkan 8,52 persen wilayah berada pada kategori menengah, dan hanya sekitar 0,03 persen wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan kategori tinggi," tulis BMKG dalam prakiraan Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan Periode 14-20 Juli.
Curah hujan kategori rendah, yakni kurang dari 50 mm per dasarian, diprakirakan terjadi di sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan Sulawesi. Kondisi serupa juga diprakirakan terjadi di Maluku Utara, Maluku, serta sebagian wilayah Papua.
Super El Nino 2026 Diprediksi Akan Terus Menguat Hingga 2027 Awal, Akan Picu Kebakaran, Krisis Air & Pangan
Fenomena El Nino 2026 terus menunjukkan tanda-tanda penguatan dan
diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa dekade
terakhir. Sejumlah lembaga cuaca, termasuk National Oceanic and
Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat, memperkirakan El Nino
akan terus menguat hingga akhir 2026 dan bertahan sampai awal 2027.
Dikutip
dari Surfer, Senin (27/7/2026) NOAA menyatakan suhu permukaan laut di
Samudra Pasifik bagian tengah dan timur kini berada di atas normal,
disertai perubahan pola sirkulasi atmosfer yang menjadi ciri khas El
Nino.
"Suhu permukaan laut di wilayah ekuator Samudra Pasifik
bagian tengah dan timur berada di atas rata-rata. Anomali sirkulasi
atmosfer di wilayah ekuator Pasifik juga konsisten dengan kondisi El
Nino," tulis NOAA.
Lembaga tersebut memperkirakan peluang El Nino bertahan hingga awal
musim semi 2027 mencapai 97%. Salah satu dampak awal yang mulai terlihat
adalah meningkatnya aktivitas badai tropis di Samudra Pasifik.
Badai
Tropis Elida menjadi badai pertama yang terbentuk di bawah kondisi El
Nino pada pertengahan Juli. Beberapa hari kemudian, Badai Fausto
berkembang menjadi badai yang lebih kuat dan menghasilkan gelombang laut
panjang menuju Hawaii serta pesisir Meksiko.
Laporan Surfer
menyebutkan, El Nino mengurangi wind shear atau perbedaan kecepatan
angin di atmosfer bagian timur Pasifik. Kondisi tersebut membuat badai
tropis lebih mudah terbentuk dan berkembang menjadi lebih kuat.
Sejumlah
analisis terbaru bahkan memperkirakan El Nino kali ini berpotensi
memecahkan rekor. Analisis ilmuwan iklim Zeke Hausfather menunjukkan
suhu di kawasan Niño 3.4 berpotensi meningkat hingga 3,6 derajat Celsius
di atas kondisi normal. Jika terwujud, angkanya akan melampaui rekor El
Nino 2015-2016 dan menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah
pencatatan modern.
NOAA juga menyebut terdapat peluang sekitar 81%
bahwa El Nino berkembang menjadi kategori sangat kuat pada periode
Oktober hingga Desember 2026. Meski identik dengan cuaca ekstrem, dampak
El Nino berbeda-beda di setiap wilayah.
Di Amerika Serikat bagian
selatan, fenomena ini umumnya meningkatkan peluang musim dingin yang
lebih basah. Sebaliknya, sejumlah wilayah lain dapat mengalami
kekeringan berkepanjangan, gelombang panas, atau peningkatan risiko
kebakaran hutan.
Di kawasan Pasifik Timur, El Nino juga
memengaruhi kondisi laut dan aktivitas perikanan karena suhu laut yang
lebih hangat mengurangi pasokan nutrisi dari dasar laut. Meski demikian,
para ilmuwan mengingatkan bahwa masih ada ketidakpastian mengenai
seberapa kuat El Nino akan berkembang.
Intensitas akhirnya
bergantung pada interaksi antara lautan dan atmosfer dalam beberapa
bulan ke depan. Namun, tren saat ini menunjukkan fenomena tersebut terus
menguat dan berpotensi membawa dampak cuaca ekstrem di berbagai belahan
dunia.
Dampak yang Berpotensi Terjadi di Indonesia
Jika El Niño berkembang menjadi sangat kuat, sejumlah dampak yang berpotensi dirasakan Indonesia antara lain:
Musim kemarau berlangsung lebih lama dari tahun tahun sebelumnya.
Curah hujan menurun di berbagai wilayah.
Risiko kekeringan meluas
Ancaman kebakaran hutan dan lahan bertambah.
Produksi pertanian berpotensi menurun akibat keterbatasan air. Akan picu inflasi
Pasokan air baku untuk rumah tangga dan irigasi dapat terganggu.
Namun, tingkat keparahan dampak akan berbeda di setiap daerah dan bergantung pada intensitas El Niño yang benar-benar terjadi.
Rekor El Nino 2015 Pecah, Baru Juli BMKG Catat Sudah 5.019 Titik Karhutla di Indonesia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat jumlah titik panas indikator kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia baru pertengahan Juli 2026 telah mencapai 5.019 titik.
Angka ini melampaui laju peningkatan pada periode El Nino sebelumnya,
termasuk tahun 2015, 2019, dan 2023. Tiga provinsi tercatat sebagai
penyumbang terbesar sebaran titik panas:
Lonjakan Hotspot Lebih Cepat, Puncaknya Diprediksi Agustus–September
Kepada media, Kamis (30/7), Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan grafik akumulasi titik panas sejak Januari menunjukkan peningkatan signifikan.
BMKG memprediksi puncak risiko karhutla akan berlangsung pada Agustus–September 2026, seiring meningkatnya potensi kekeringan.
Jumlah hotspot dari Januari
hingga pertengahan Juli 2026 mengalami peningkatan lebih cepat
dibandingkan kondisi tahun-tahun El Nino terdahulu,
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan
Daerah prioritas dengan risiko tinggi mencakup Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan.
BMKG juga memproyeksikan peningkatan risiko karhutla secara gradual di Sulawesi pada September–Oktober 2026.
Saat ini, BMKG melaporkan sebaran partikulat asap karhutla telah menyelimuti sebagian wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa hari terakhir.
“Bulan-bulan kritis adalah Juli hingga akhir September 2026.
Intensifikasi pemantauan dan pengawasan di daerah-daerah ini krusial
untuk mencegah eskalasi titik api,” tandas Ardhasena.
El Nino 2026 Bisa Lebih Dahsyat
Sementara itu, Direktorat Klimatologi BMKG menegaskan fenomena El Nino diperkirakan bertahan hingga Desember 2026–Januari 2027.
Prediksi terbaru menunjukkan peluang signifikan El Nino berkembang
melampaui kategori kuat, sehingga dampaknya terhadap iklim Indonesia
perlu terus diantisipasi.
Pemantauan iklim pada dasarian terakhir Juli 2026 menunjukkan 509 Zona Musim (ZOM)
atau 54,5% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Dilansir
dari Antara, wilayah hujan tersisa di tanah air hanya 77 ZOM.
Sedimentasi kali/sungai oleh sampah/lumpur/tanah jadi penyebab krisis air bersih saat kemarau dan banjir saat musim hujan,
Tak ada gerakan pemerintah pusat dan daerah melakukan pengerukan kali/sungai dari sedimentasi sampah+lumpur yang sudah terjadi puluhan tahun. Sedimen ini akan membuat air hujan tak akan meresap kedalam tanah saat musim hujan tiba dan meluap saat musim hujan tiba
PADAHAL RAKYAT SUDAH DITEKAN dan BAYAR BERBAGAI JENIS MACAM PAJAK !