MASUKAN KATA DI KOTAK BAWAH INI UNTUK MENCARI.. LALU KLIK TOMBOL "SEARCH"

June 7, 2026

Kenapa Tahun 2026 Akan Terjadi Kemarau Ekstrim?

Baca Artikel Lainnya

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dibandingkan kondisi normal.


 

Peringatan tersebut disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam Rapat Koordinasi Penanganan Persampahan serta Mitigasi Dampak Kemarau Panjang di wilayah Jawa Barat yang digelar di Markas Besar TNI Angkatan Darat (Mabesad), Rabu 4 Juni 2026.

Dalam paparannya, Faisal menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Menurutnya, BMKG telah menyampaikan prediksi tersebut sejak Maret 2026 dan diperkuat oleh rilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 2 Juni 2026.

“Kami telah menyampaikan sejak bulan Maret bahwa tahun ini akan terjadi fenomena El Nino. Kemudian pada tanggal 2 Juni kemarin, WMO juga telah merilis bahwa El Nino akan terjadi pada tahun 2026,” ujar Faisal.

Ia menegaskan bahwa El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena yang berbeda. Namun, keduanya sama-sama dapat memengaruhi curah hujan di Indonesia dan meningkatkan risiko kekeringan di berbagai daerah.

Berdasarkan hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei 2026, indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) telah mencapai angka +1,0 yang menunjukkan kondisi El Nino. Sementara itu, sekitar 28 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

BMKG juga memperkirakan durasi musim kemarau tahun ini berlangsung antara tiga hingga tujuh bulan, tergantung karakteristik masing-masing wilayah. Kondisi tersebut membuat sejumlah daerah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi berkurangnya ketersediaan air bersih, gangguan sektor pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Untuk mendukung upaya mitigasi, BMKG akan terus memperbarui informasi iklim, kondisi hari tanpa hujan, serta potensi kekeringan yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah sebagai dasar penyusunan kebijakan dan langkah antisipatif.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak meminta seluruh jajaran TNI AD, mulai dari Kodim hingga Koramil, melakukan pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan serta menyiapkan langkah penanganan sejak dini.

“Kalau dulu kita punya data bencana, sekarang kita harus punya data antisipasi kemarau. Daerah mana saja yang selama ini terjadi kekeringan dan juga berdasarkan hasil penjelasan BMKG, daerah mana yang terancam kekeringan. Kira-kira apa yang harus kita lakukan,” kata Maruli.

Kasad menegaskan program penyediaan air bersih melalui pengeboran sumur akan terus dilanjutkan sebagai salah satu upaya membantu masyarakat menghadapi dampak musim kemarau.

Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko krisis air bersih di daerah-daerah yang selama ini kerap terdampak kekeringan saat musim kemarau berlangsung, sekaligus memperkuat kesiapan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi ancaman kemarau panjang tahun 2026.

 


 

Puncak musim kemarau di wilayah Jawa Barat diprediksi terjadi pada bulan Agustus. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat tengah menerapkan kesiapsiagaan untuk memitigasi terjadinya kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi terjadi pada musim tersebut.

Pranata Humas Ahli Muda BPBD, Hadi Rahmat, mengatakan, berdasarkan data BMKG beberapa wilayah di Jawa Barat telah memasuki periode musim kemarau sejak Mei, dengan kecenderungan kondisi lebih kering dibanding normal akibat pengaruh El Nino.

Kondisi serupa pernah terjadi pada 2023, yang tercatat sebagai tahun dengan dampak kekeringan relatif ekstrem. Sejumlah daerah bahkan masuk dalam kategori wilayah terdampak tertinggi kekurangan air bersih, di antaranya Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung, Ciamis, Bekasi, dan Garut.

"Kalau kita mengacu ke 2023, itu cukup ekstrem. Dan pola yang sama masih berpotensi terjadi jika El Nino kembali menguat," ujar Hadi, Sabtu (6/6/2026).


1. Kebakaran bisa terjadi di wilayah tutupan hutan produksi 

 Catatan BPBD Jabar menunjukkan sedikitnya 710 kejadian karhutla terjadi selama musim kemarau pada tahun sebelumnya. Adapun wilayah yang kerap menjadi titik rawan antara lain Majalengka, Sumedang, Subang, Sukabumi, Kabupaten Bandung, hingga Kuningan.

Peristiwa kebakaran hutan sebagian besar kejadian terjadi pada kawasan hutan produksi yang masih memiliki vegetasi mudah terbakar saat kemarau panjang.

"Rata-rata memang di wilayah dengan tutupan hutan produksi. Hutan alami di Jawa Barat sudah sangat berkurang," kata Hadi. 

 

2. Jabar belum tetapkan status darurat 

 

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Jawa Barat menyiagakan mobil tangki air bersih hingga peralatan pemadam kebakaran seperti, mesin pompa (alkon) yang dapat digunakan saat terjadi karhutla.

Kemudian, koordinasi lintas sektor juga telah dilakukan sejak April melalui rapat koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, perangkat daerah, hingga pihak swasta untuk memperkuat dukungan personel dan peralatan di lapangan.

"Kita tidak bisa bekerja sendiri dalam penanganan bencana. Semua stakeholder harus terlibat," hadi.

Namun saat ini BPBD Jawa Barat memastikan belum menetapkan status siaga kekeringan secara resmi. Pemerintah provinsi masih memantau kondisi cuaca yang dinilai belum sepenuhnya stabil.

Hadi menyebut, kondisi cuaca di Jawa Barat masih menunjukkan anomali, di mana sebagian wilayah masih diguyur hujan dan bahkan terjadi banjir di beberapa daerah.

"Secara siklus memang sudah kemarau, tapi kondisi di lapangan masih dinamis. Jadi kita masih wait and see," katanya.

 

3. Kemarau diprediksi disertai El Nino

 

 

Terpisah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, memprediksi puncak musim kemarau di wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya pada Agustus 2026.

Fungsional Pengamat Meteorologi dan Geofisika Muda BMKG Bandung, Yuni Yulianti, mengatakan, puncak musim kemarau diperkirakan dipengaruhi fenomena El Nino yang berdampak pada penurunan curah hujan secara signifikan.

"Untuk tahun 2026 ini memang sudah musim kemarau, dan BMKG memprediksi akan disertai El Nino. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus, termasuk wilayah Bandung Raya. Secara umum, curah hujan lebih rendah dan durasi musim kemarau di beberapa wilayah bisa lebih panjang dari normal," katanya.

El Nino, kata Yuni, merupakan anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik ekuator yang berdampak pada berkurangnya pembentukan awan hujan di Indonesia. Kondisi ini, berpotensi menurunkan curah hujan di berbagai daerah, termasuk Jawa Barat.

"Untuk tahun ini diprediksi El Nino moderat, dengan peluang kecil menuju kuat, tetapi dominan tetap moderat," ucapnya.

Mengenai istilah El Nino Godzilla yang kerap muncul di publik, BMKG menegaskan istilah tersebut tidak digunakan secara resmi dalam klasifikasi meteorologi. "BMKG sendiri tidak pernah merilis adanya El Nino Godzilla. Kami mengkategorikan El Nino itu menjadi tiga, yaitu El Nino lemah, moderat, dan kuat," katanya.



Pakar menyebut sejumlah indikator oseanografi dan atmosfer menunjukkan kecenderungan berkembangnya fenomena El Niño pada paruh kedua hingga akhir tahun 2026.

"Berbagai data observasi dan model iklim menunjukkan perubahan kondisi laut di Samudra Pasifik yang mengarah pada pembentukan El Niño. Salah satu indikator utama adalah meningkatnya cadangan panas di bawah permukaan laut Pasifik yang berpotensi mendorong perpindahan massa air hangat ke arah timur," ujar R. Dwi Susanto, Profesor di University of Maryland dalam keterangannya, Selasa (2/6).

 

"Data observasi dan model menunjukkan adanya akumulasi panas di bawah permukaan Samudra Pasifik. Bersamaan dengan itu, gelombang Kelvin mulai mendorong massa air hangat dari Pasifik barat menuju Pasifik timur, yang merupakan salah satu ciri perkembangan El Niño," tambahnya.

Dwi menjelaskan perubahan ini dapat diamati melalui suhu bawah permukaan laut, tinggi muka laut, hingga pola angin di kawasan tropis Pasifik.

Menurutnya, berbagai model prediksi iklim internasional juga memperlihatkan kecenderungan yang sama.

"Indonesia memiliki posisi penting dalam sistem iklim global karena berada di kawasan western Pacific warm pool, wilayah dengan suhu permukaan laut tropis terhangat di dunia," terangnya.

Selain itu, Indonesia adalah jalur Indonesian Throughflow (Arlindo) yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Oleh karena itu, perubahan kondisi laut di wilayah Indonesia dapat menjadi indikator penting untuk memahami perkembangan El Niño.

Dwi menyebut pemantauan suhu laut, dinamika Arlindo, maupun pergeseran pusat konveksi atmosfer di kawasan maritim Indonesia dapat membantu mendeteksi perubahan iklim sejak dini.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa dampak El Niño terhadap Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kondisi di Samudra Pasifik.

Interaksi dengan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia juga berperan besar dalam menentukan tingkat keparahan dampaknya.

"Kita tidak bisa hanya melihat indeks El Niño. Kondisi Indian Ocean Dipole juga harus dipantau karena kombinasi keduanya dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan jika hanya salah satu fenomena yang terjadi," katanya.

Ia mencontohkan peristiwa 1997-1998 ketika El Niño kuat terjadi bersamaan dengan IOD positif. Kombinasi kedua fenomena tersebut menyebabkan penurunan curah hujan yang signifikan serta meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia.

Menurutnya, perkembangan IOD positif dapat dipantau melalui perubahan suhu permukaan laut di perairan selatan Jawa dan Sumatra. Pendinginan yang semakin kuat di kawasan tersebut umumnya berkaitan dengan meningkatnya risiko kekeringan.

Dwi mengatakan sejumlah model prediksi saat ini menunjukkan peluang berkembangnya El Niño pada akhir 2026 dengan kecenderungan berada pada kategori kuat hingga sangat kuat.

Maka karena itu, berbagai langkah mitigasi perlu dipersiapkan sejak dini, antara lain melalui pengelolaan sumber daya air, penyesuaian pola tanam, serta penguatan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

"Persiapan harus dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan. Yang penting adalah memastikan informasi iklim dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan dan mitigasi," ujar dia.



 




EFEK KEMARAU

  • Harga pangan/makanan akan naik
  • Krisis air atau Harus membeli air tiap hari yang akan membuat dompte dan saldo tekor
  • Banyak kasus Kebakaran di Perkotaan dan Hutan, Pastikan mengcek dan mengganti kabel listrik dengan kualitas SNI jika sudah puluhan tahun tidak pernah diganti

 

 

Penyakit yang Menyerang di Musim Kemarau

 

Demam berdarah

Tak hanya saat musim hujan, demam berdarah juga berisiko muncul di musim kemarau. Ini karena nyamuk-nyamuk dewasa mulai berkembang.

 

"Saat musim hujan, banyak terjadi genangan. Saat itulah nyamuk-nyamuk ini berkembang biak. Nah, saat memasuki musim kemarau saat ini, nyamuk dewasa itu semakin banyak," ujar dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter.


Ancaman dehidrasi

Saat musim kemarau di mana cuaca sangat panas, Anda juga akan lebih rentan mengalami dehidrasi. Karena itu, selalu cukupi kebutuhan air minimal 8 gelas sehari, terlebih bagi Anda yang lebih banyak beraktivitas di luar ruangan.
Dermatitis atopik

Dermatitis atopik adalah penyakit kulit kronis yang membuat kulit meradang, gatal, kering, dan pecah-pecah. Biasanya, kondisi ini disebut juga sebagai penyakit eksim.

"Musim kemarau itu cuacanya sedang kering. Bagi beberapa orang, kondisi itu bisa memicu gangguan kulit seperti dermatitis atopik," ujar dr. Nadia Octavia dari KlikDokter.

Cuaca panas juga bisa membuat kulit Anda alergi. Sebab, cuaca panas membuat kulit kering dan membuat lapisan kulit menipis. Pada akhirnya, kuman mudah masuk dan membuat Anda alergi.


Diare

Diare sering menyerang di musim hujan dan kemarau. Berkurangnya pasokan air bersih di beberapa tempat, bisa mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk dalam proses pencucian makanan dan peralatan makan. Akibatnya, kondisi makanan dan peralatan makan yang kotor berpotensi menyebabkan diare.

"Selain itu, kondisi musim kemarau membuat makanan lebih mudah terkontaminasi oleh udara yang berdebu. Kondisi hidangan yang kurang higienis itu berisiko menimbulkan diare," ujar dr. Andika Widyatama dari KlikDokter.

 
Tifus

"Tifus merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhii. Penyakit ini sering ditularkan melalui konsumsi makanan yang tercemar bakteri Salmonella," kata dr. Andika.

Pencemaran makanan dapat terjadi akibat ada binatang seperti lalat yang hinggap di makanan. Lalat tersebut sangat mungkin membawa bakteri Salmonella saat hinggap di makanan, jika sebelumnya menempel di feses.


Heatsroke

Heatstroke sangat mungkin terjadi saat musim kemarau di mana cuaca sangat panas. Ini merupakan kondisi kegawatdaruratan yang terjadi ketika suhu tubuh terlalu panas akibat paparan suhu panas di luar tubuh dalam jangka waktu yang lama. Suhu tubuh bisa mencapai 40 derajat Celsius.

"Kondisi ini harus segera mendapat pertolongan medis karena dapat dengan cepat merusak fungsi berbagai organ dalam tubuh, seperti otak, jantung, ginjal, dan organ vital lainnya hingga mengancam jiwa," ucap dr. Andika.


Infeksi saluran pernapasan atas

Musim kemarau identik dengan udara menjadi lebih berdebu. Debu-debu yang bertebaran di udara berpotensi mengiritasi saluran pernapasan. Dalam kondisi demikian, Anda menjadi lebih rentan mengalami infeksi saluran pernapasan atas.


Mata kering

Mata kering atau dry eyes bisa terjadi ketika udara sangat kering. Udara yang kering saat musim kemarau dapat meningkatkan penguapan air mata. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan masalah dry eyes.

"Gejala-gejala dry eyes biasanya dirasakan pada kedua mata, yang meliputi perih, sensasi terbakar, dan gatal di mata. Adapun yang dirasakan seperti mata memerah, mata mengganjal, mata belekan, sensitif terhadap cahaya, pandangan kabur, dan air mata keluar terus-menerus," kata dr. Andika.

Itulah beberapa penyakit yang rentan berjangkit di musim kemarau. Untuk menghindarinya, jaga selalu daya tahan tubuh Anda agar tetap prima. Caranya, selalu konsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, serta cukup tidur. Selanjutnya, pastikan Anda mencukupi kebutuhan minum air putih setidaknya 8 gelas sehari.

 

Wilayah Indonesia yang Paling Terdampak

 

Paling Rentan (Jawa, Bali, & Nusa Tenggara): Pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur), Bali, NTB, dan NTT. Wilayah ini berisiko tinggi mengalami kekeringan yang mengganggu masa tanam padi

Potensi Kebakaran Hutan & Lahan: Titik rawan kebakaran meningkat pesat di wilayah dengan lahan gambut seperti Sumatra (khususnya Riau) dan Kalimantan (seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan)

 

apa itu El Nino? Apa juga dampak atau akibat yang ditimbulkan oleh El Nino yang berdampak pada masyarakat? 

El Nino merupakan kondisi dimana adanya arus panas yang terjadi di muka bumi. Akibatnya, akan timbul musim kemarau yang cukup lama dan cuaca yang cukup panas.

 

Kondisi yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah, pemanasan SML atau juga suhu muka laut karena adanya potensi pertumbuhan awan yang berada di Samudera Pasifik tengah yang mengurangi curah hujan.

Singkatnya, fenomena ini merupakan pemicu terjadinya kondisi kekeringan di wilayah Indonesia secara umum atau keseluruhan.

Di masa awal kemunculannya, fenomena ini membuat banyak para nelayan beristirahat tak melakukan aktivitas melaut. Karena memang fenomena ini selain menyebabkan kemarau ekstrim, juga membuat jumlah ikan yang berada di lautan menurun drastis.

Kemunculan El Nino tidak terjadi setiap tahun, namun perlu diketahui jika frekuensinya dapat dipastikan. Dan pada umumnya muncul dengan rata-rata 2-7 tahun.

Mengapa harus diwaspadai, karena jika sekali terjadi sekali bisa berlangsung selama 9-12 bulan dan selain itu fenomena ini juga memunculkan proses yang akan lebih dilalui terlebih dulu.

 

Bagaimana proses El Nino bisa terjadi?

Fenomena, ini menjadi salah satu gejala yang terjadi pada iklim dan sudah dinyatakan muncul jika adanya kenaikan suhu rata-rata air laut di Samudera Pasifik dengan minimal 0,5 derajat celcius.

El Nino merupakan gejala gangguan iklim global yang diakibatkan oleh adanya hubungan antara samudera dan atmosfer secara masif yang menghasilkan suhu lebih hangat tersebut.

Sementara kenaikan suhu secara lebih spesifik muncul pada bagian pusat dan timur Samudera Pasifik Ekuatorial.

Kenaikan tersebut menjadi penyebab adanya peningkatan kelembapan pada atmosfer yang terdapat di atas Samudera Pasifik. Peningkatan pembentukan awan di samudera, hal ini memunculkan tekanan udara di Samudera Pasifik yang juga akan meningkat. 

 

El Nino menyebabkan musim kemarau dan membuat adanya kekurangan curah hujan, hal ini biasanya juga dialami di Indonesia.

Sementara di Amerika Latin, munculnya fenomena ini justru membuat adanya kenaikan curah hujan di wilayah tersebut. Meskipun beberapa tahun terakhir, kemunculan arus panas melanda dan terjadi pada bulan Mei

 

 

 

 

PBB: 3 Bulan ke Depan, Bumi Mungkin akan Panas Luar Biasa

 

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan dunia harus bersiap menghadap kembalinya El Niño dan cuaca ekstrem yang diakibatkannya.

Pola cuaca alami yang kuat ini, yang meningkatkan suhu global dan memperburuk curah hujan, memiliki kemungkinan 80% terbentuk sebelum September dan 90% sebelum November, demikian pernyataan badan PBB tersebut dalam rilis resmi, Selasa, 2 Juni 2026. 

WMO mengungkap, sebagian besar model penelitian ilmiah memproyeksikan kembalinya fenomena siklus di lautan dan atmosfer dengan kekuatan setidaknya sedang dan kemungkinan kuat. 

Para ilmuwan sebelumnya telah memperingatkan bahwa ini bisa menjadi yang terkuat di abad ini. Namun, WMO tidak memberikan dukungan terhadap proyeksi tersebut dan mengatakan para peramal cuaca masih berada dalam ketidakpastian.

“Penyebarannya besar. Ada model yang tidak memberikan indikasi El Niño yang kuat, sementara model lainnya memberikan indikasi yang sama," kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo. 

Meski demikian, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan, dunia harus memperlakukan hal ini sebagai peringatan iklim yang mendesak. 

“Kondisi El Niño akan memicu pemanasan dunia. Dampaknya akan lebih parah, menyebar lebih jauh, dan melintasi perbatasan dengan kecepatan yang sangat dahsyat,” kata Guterres. 

El Niño terbaru, yang terjadi pada tahun 2023-2024, adalah salah satu dari lima El Niño terkuat yang pernah tercatat dan berkontribusi pada tahun yang sangat panas pada 2024 yang memecahkan rekor suhu global.

WMO mengatakan suhu yang luar biasa tinggi diperkirakan terjadi di hampir seluruh wilayah bumi selama tiga bulan ke depan, dan memperingatkan kemungkinan lebih besar terjadinya hujan ekstrem dan kekeringan.

Meskipun setiap peristiwa El Niño bersifat unik, para ilmuwan biasanya mengasosiasikannya dengan hujan lebat di beberapa bagian Amerika Selatan, Amerika Serikat bagian selatan, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah. Kondisi yang lebih kering biasanya melanda Amerika Tengah, Amerika Selatan bagian utara, Karibia, Australia, Indonesia, dan sebagian Asia Selatan.

Perairan hangat dapat memicu badai di Samudera Pasifik tengah dan timur, namun menghambat pembentukannya di cekungan Atlantik.

Temuan ini muncul ketika Eropa Barat sedang menghadapi cuaca panas yang luar biasa Mei lalu, dimana rekor suhu pada bulan tersebut dipecahkan di Inggris dan Irlandia. Pekan lalu, WMO dan UK Met Office memperingatkan bahwa tahun panas yang memecahkan rekor bagi bumi hampir pasti akan terjadi sebelum akhir dekade ini, dan El Niño diperkirakan akan kembali terjadi pada 2027.

Gareth Redmond-King, dari Energy & Climate Intelligence Unit, sebuah lembaga pemikir Inggris, mengatakan temuan ini adalah berita buruk bagi pasokan makanan lantaran sudah berada di bawah tekanan akibat kerusakan iklim dan pembatasan aliran pupuk akibat perang AS di Iran.

“Kerusakan yang akan terjadi akibat El Niño karena kemungkinan besar akan kembali menghadirkan tahun terpanas, pada 2027, yang akan berdampak buruk bagi banyak petani, dan menjadi pertanyaan tentang hidup atau mati bagi banyak orang,” katanya.

Kondisi El Niño terjadi setiap beberapa tahun sekali dan berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan. Selama tahun-tahun tersebut, angin yang mendorong air hangat ke barat melunak atau berubah arah, sehingga permukaan air di bagian Pasifik tersebut menjadi hangat.

WMO mengatakan suhu permukaan laut di beberapa wilayah Pasifik yang digunakan para ilmuwan sebagai referensi mendekati ambang batas El Niño pada akhir April hingga pertengahan Mei, dipicu oleh kondisi bawah permukaan yang luar biasa hangat. Dikatakan bahwa komponen atmosfer El Niño juga konsisten dengan perkembangannya.

Mereka menolak istilah “super El Niño”, yang digunakan beberapa ilmuwan dalam beberapa bulan terakhir untuk mengantisipasi peristiwa yang sangat kuat, karena istilah tersebut berada di luar sistem klasifikasi resmi.

Saulo mengatakan, sistem peringatan dini yang mengingatkan masyarakat akan bahaya dan memungkinkan evakuasi sebelum terjadinya bencana telah menyelamatkan banyak nyawa. Namun tahun lalu, beberapa negara donor asing, termasuk Inggris dan AS, memotong anggaran bantuan mereka. 

"Pendanaan iklim belum mencapai puncaknya, menurut saya, namun sistem peringatan dini telah dan masih menjadi prioritas. Tentu saja, kita masih memerlukan lebih banyak mobilisasi sumber daya, dalam hal mendanai negara-negara yang membutuhkan dukungan tersebut. Menurut saya kita perlu meningkatkannya, namun itu bukan satu-satunya batasan dalam kasus ini. Penerapannya juga merupakan tantangan bagi dunia," kata Saulo.

Sementara itu Guterres mengatakan hanya ada satu solusi yang efektif untuk mengatasi dampak krisis iklim. 

“Satu-satunya respons yang efektif adalah tindakan iklim yang setara dengan krisis ini – mengakhiri kecanduan terhadap bahan bakar fosil, mempercepat peralihan ke energi terbarukan, melindungi kelompok yang paling rentan, dan memberikan sistem peringatan dini untuk semua,” katanya.


 


 

 

 

references by

https://sinpo.id/detail/121804/bmkg-peringatkan-kemarau-2026-lebih-kering-el-nino-diprediksi-picu-risiko-kekeringan-di-sejumlah-wilayah

https://www.detik.com/jabar/berita/d-8520672/waspada-el-nino-moderat-kemarau-di-jabar-bakal-lebih-panjang

 https://puskesmassesela-dikes.lombokbaratkab.go.id/artikel/8-penyakit-yang-rentan-menyerang-di-musim-kemarau/

 https://jabar.idntimes.com/news/jawa-barat/siap-siap-jabar-diprediksi-hadapi-kemarau-dan-el-nino-pada-agustus-00-nqtvm-zddr7q

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260605175146-641-1365868/pakar-ungkap-tanda-tanda-kemunculan-el-nino-kuat-akhir-2026 

 
Like us on Facebook