MASUKAN KATA DI KOTAK BAWAH INI UNTUK MENCARI.. LALU KLIK TOMBOL "SEARCH"

June 5, 2026

Harga Laptop Notebook Akan Semakin Mahal

Baca Artikel Lainnya

Banyak analis yang sudah memperkirakan harga laptop dan ponsel akan terus meningkat imbas krisis RAM. Namun analisis terbaru dari TrendForce mengungkap perkiraan yang mengkhawatirkan. mAnalisis terbaru itu menyebut peningkatan harga laptop ini akan mencapai 40%. Menurut TrendForce, harga laptop mainstream saat ini rata-rata adalah USD 900 atau sekitar Rp 15 juta.


 

Harga ini ditentukan oleh TrendForce berdasarkan harga laptop yang dijual selama Q1 2025. Kemudian, dalam skenario sebelum munculnya krisis RAM ini, harga komponen RAM dan SSD berdampak pada 15% dari total bill of material (BOM/harga komponen) yang diperlukan untuk memproduksi sebuah laptop.

 

Lalu setahun kemudian, komponen terkait memori seperti RAM dan SSD ini diperkirakan mencapai 30% dalam BOM, meningkat jauh dibanding data harga 2025 tersebut, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Kamis (12/3/2026).

Di sisi lain, menurut HP, harga RAM ini kini berdampak pada 35% biaya saat membuat PC baru. Peningkatan ini harus dibayar oleh konsumen jika pabrikan PC mau mempertahankan persentase keuntungan mereka saat menjual PC.

Kondisi ini kemudian diperparah langkah Intel yang menaikkan harga prosesor entry level keluaran lamanya, dengan peningkatan mencapai 15%. Kemudian pabrikan asal Amerika itu juga diperkirakan mau meningkatkan harga untuk prosesor kelas menengah dan atas pada Q2 tahun ini.

Dampak peningkatan harga prosesor ini besar pada harga akhir laptop, karena persentase harga prosesor ini salah satu yang terbesar dalam BOM sebuah laptop, Alhasil, harga laptop bakal meningkat lebih tinggi.

Selain harganya dinaikkan, TrendForce juga melihat adanya tren pasokan prosesor yang tak stabil dari AMD dan Intel, ini karena banyak perusahaan di industri ini yang memprioritaskan bisnisnya ke Nvidia dan rencaha pembangunan data center AI.

Dengan berbagai peningkatan harga komponen ini, TrendForce memperkirakan harga laptop mainstream bakal meningkat hingga 40% di tingkat konsumen.

 

Dalam beberapa bulan terakhir, harga RAM dan NAND atau SSD melonjak tajam karena pasokan yang semakin ketat. Dampaknya mulai terasa dari pasar PC rakitan, di mana harga komponen naik signifikan, hingga kasus ekstrem di mana sebagian perakit menjual PC tanpa RAM.

Kini, efek krisis tersebut mulai merembet ke laptop dan PC dari produsen besar seperti Lenovo, Dell, HP, Asus, dan Acer. Krisis memori global ini dipicu ledakan kebutuhan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI), demikian dikutip detikINET dari The Verge, Senin (12/1/2026).

Menurut proyeksi TrendForce, harga memori diperkirakan kembali naik tajam pada kuartal pertama 2026. Kenaikan ini diprediksi akan semakin menekan harga jual laptop dan PC. Tanda-tandanya sudah terlihat di CES 2026, ketika sejumlah produsen mulai menyesuaikan strategi harga.

 

Asus, misalnya, telah memberi tahu mitra distribusinya soal rencana kenaikan harga produk akibat kondisi pasar memori. Dell juga disebut mengubah harga peluncuran XPS 14 dan XPS 16 hanya beberapa jam sebelum pengumuman resmi.

Lenovo memilih menimbun stok memori untuk mengamankan pasokan sepanjang 2026, sementara HP memperingatkan potensi kenaikan harga dan konfigurasi RAM yang lebih rendah pada akhir tahun ini, meski juga memiliki cadangan stok.

Masalahnya, menurunkan kapasitas RAM bukan solusi mudah. Windows 11 memang memiliki batas minimum 4 GB, tetapi performanya dinilai kurang ideal. TrendForce mencatat bahwa laptop entry-level sulit menurunkan kapasitas RAM dengan cepat karena keterbatasan sistem operasi dan kebutuhan prosesor.

Situasi ini datang di waktu yang kurang tepat. Windows 10 telah mencapai akhir masa dukungan, dan banyak perusahaan sedang melakukan migrasi ke Windows 11 yang biasanya dibarengi dengan siklus pembaruan perangkat. Momentum pemulihan pengiriman PC sepanjang 2025 berisiko terhenti ketika stok memori mulai menipis.

Lebih jauh, kenaikan harga memori dikhawatirkan bukan sekadar masalah sementara. IDC menilai krisis ini sebagai pergeseran struktural, di mana kapasitas produksi wafer kini lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan AI. Produsen memori seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron semakin fokus pada HBM dan DDR5 berkapasitas tinggi untuk pusat data, mengorbankan pasokan untuk PC dan laptop konsumen.

Dampaknya ke Pasar Gaming PC

Dampaknya juga terasa di pasar gaming PC. Perakit kecil yang tak mampu menimbun RAM dan SSD diperkirakan akan paling terdampak, membuka peluang bagi OEM besar untuk merebut pangsa pasar. Tekanan harga bahkan mulai terlihat pada GPU, dengan kartu grafis kelas atas seperti RTX 5090 dijual jauh di atas harga ritel resmi.

Jika biaya merakit PC gaming terus meningkat sepanjang 2026, bukan hanya pasar PC yang tertekan. Rencana konsol generasi berikutnya, termasuk Xbox dan PlayStation, juga berpotensi terdampak akibat mahalnya komponen.

Krisis memori ini menjadi ujian besar bagi masa depan PC di tengah dorongan AI yang semakin agresif. Meski belum menandai akhir era PC, kondisi ini memperlihatkan bagaimana AI mulai mengubah prioritas industri semikonduktor, dengan konsekuensi langsung bagi konsumen.

 

Krisis RAM Diprediksi Sampai 2030

Chairman SK Hynix Chey Tae Won menyatakan bahwa krisis pasokan DRAM yang terjadi saat ini berpotensi berlanjut hingga melewati 2028 dan bisa bertahan sampai 2030. Prediksi ini jauh lebih lama dari perkiraan sebelumnya yang hanya sekitar dua tahun.

 

Sebelumnya, para analis memperkirakan bahwa krisis memori ini akan berlangsung sekitar dua tahun, dengan mengacu pada pabrik-pabrik baru yang pada akhirnya akan mulai beroperasi.

Namun, bos semikonduktor Korea Selatan SK Hynix memperkirakan kelangkaan ini akan berlangsung selama empat atau lima tahun.

"Jadi, kami membutuhkan waktu untuk meningkatkan produksi wafer, setidaknya empat hingga lima tahun. Kekurangan pasokan saat ini diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2030, sehingga kami memperkirakan kekurangan pasokan wafer akan mencapai lebih dari 20 persen," kata Chey, melansir PCMag, Rabu (18/3).

Krisis chip ini disebabkan oleh perusahaan-perusahaan yang mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan membangun pusat data generasi terbaru yang dilengkapi dengan GPU yang menggunakan memori berbandwidth tinggi (HBM) dalam jumlah besar.

Menurut Chey, masalahnya adalah HBM membutuhkan "banyak wafer." Sementara itu, SK Hynix sedang menyusun strategi untuk menstabilkan harga DRAM yang melonjak, yang berdampak pada RAM DDR5 dan DDR4 untuk konsumen.

Ini merupakan pertanda buruk bagi industri elektronik konsumen. Kekurangan pasokan tersebut telah menyebabkan kenaikan harga dan penundaan peluncuran produk baru, termasuk Steam Machine dari Valve dan, menurut laporan, kartu grafis baru dari Nvidia.

Situasinya begitu memprihatinkan hingga lembaga riset memperkirakan industri ponsel pintar dan PC akan mengalami penurunan pengiriman sebesar 10 persen pada tahun 2026 akibat kenaikan biaya komponen yang menekan permintaan dan produksi.

Awal tahun ini saja, sejumlah pabrikan HP ramai-ramai mulai menaikkan harga jual produknya. Kenaikan harga ini terjadi di semua segmen, mulai dari entry-level hingga flagship. Kenaikan harga sendiri bervariasi mulai dari di bawah 10 persen hingga mencapai 25 persen.

 

Krisis kelangkaan chip memori global bukan hanya menghantam industri perangkat elektronik konsumen seperti HP dan laptop. Industri otomotif juga mendapat hantaman keras.

Sebagai informasi, krisis kelangkaan chip memori ditengarai 'ledakan' AI yang membuat permintaan chip untuk data center AI melonjak tajam. Produsen chip memprioritaskan permintaan tersebut karena mendatangkan laba lebih besar.

Alhasil, produksi chip konvensional untuk perangkat elektronik konsumen dan mobil dikesampingkan. Situasi ini memicu lonjakan harga komponen gila-gilaan, serta mengganggu rantai pasokan global.

Kelompok yang mewakili produsen mobil, peritel, dan perusahaan elektronik, menyurat ke Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan AS terkait urgensi dari krisis yang saat ini terjadi.

"Ketidakseimbangan mendesak di pasar chip memori dapat menyebabkan kenaikan harga yang signifikan dan berkelanjutan dalam jangka pendek bagi AS, serta mengganggu rantai pasokan penting AS," tertera dalam surat tersebut, dikutip dari Reuters, Kamis (4/6/2026).

Surat tersebut menunjukkan makin seriusnya masalah yang mengancam harga dan pasokan barang-barang konsumsi utama. Pemerintah AS telah mengalokasikan miliaran dolar dalam bentuk subsidi untuk meningkatkan produksi chip memori, termasuk di Micron.

Pengusaha Teriak Petaka

Kelompok-kelompok yang menandatangani surat tersebut termasuk Alliance for Automotive Innovation, National Retail Federation, Medical Device Manufacturers Association, The Internet & Television Association, Telecommunications Industry Association, dan lainnya.

 

"Konsumsi sebagian besar kapasitas chip memori yang tersedia oleh data center AI telah mengakibatkan lonjakan harga chip memori yang belum pernah terjadi sebelumnya dan berkurangnya pasokan chip ini untuk industri manufaktur dan industri yang berhadapan langsung dengan konsumen," tertera dalam surat itu.

Kelompok-kelompok tersebut menambahkan, "dampak nyata dari tren ini sudah mulai terlihat dan mengancam akan memburuk dengan cepat jika situasi ini tidak diperbaiki."

Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan tidak segera menanggapi permintaan komentar, begitu pula Semiconductor Industry Association.

Reuters melaporkan pada Desember lalu bahwa kekurangan chip memori global yang akut memaksa perusahaan AI dan elektronik konsumen untuk berebut pasokan yang makin menipis, karena harga komponen yang tidak glamor namun penting yang memungkinkan perangkat untuk menyimpan data melonjak.

Kelompok pengusaha AS mengatakan telah melihat kenaikan harga untuk berbagai macam produk elektronik konsumen dan teknologi informasi sehari-hari, biaya yang jauh lebih tinggi untuk membangun, memelihara, dan meningkatkan infrastruktur internet dan telekomunikasi negara kita.

Hal ini berisiko terhadap produksi dan ketersediaan mobil, perangkat medis, dan barang manufaktur lainnya/

Reuters melaporkan pekan ini bahwa pasar smartphone global sedang menuju kontraksi tahunan paling tajam dalam sejarah, dengan pengiriman yang diproyeksikan merosot sebesar 13,9% tahun ini menjadi 1,08 miliar unit, menurut Counterpoint Research, yang menyebutkan memburuknya kekurangan chip memori.

Dampaknya paling terasa pada smartphone kelas bawah karena produsen chip mengalihkan kapasitas produksi ke chip terkait AI, sehingga perangkat kelas bawah menjadi kurang ekonomis untuk diproduksi.

Dampaknya Sudah Terasa di Indonesia

Salah seorang pegawai toko di ITC Kuningan mengatakan tren kenaikan harga sudah terasa sejak Maret hingga April 2026 dan berdampak pada hampir seluruh kategori perangkat elektronik.

"Nanti ke depannya naik lagi, karena ngikutin dolar kita. Bisa dua minggu sekali naiknya, gara-gara dolar sama chipset AI," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (2/6).

Ia menyebut kenaikan harga tidak hanya terjadi pada HP, tetapi juga tablet, laptop, jam tangan pintar hingga kartu memori. Dalam skenario terburuk, harga beberapa produk bahkan bisa melonjak berkali-kali lipat.

"Semua HP, elektronik, bahkan memory card, bisa naik sampai tiga kali lipat. Yang biasa Rp100 sekarang jadi Rp300," katanya.

Menurut dia, kenaikan harga terjadi secara bertahap. Untuk produk kelas menengah seperti seri Redmi, kenaikan biasanya berada di kisaran Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Namun, untuk lini flagship, lonjakannya bisa jauh lebih besar.

"Kalau seri flagship Xiaomi, sekali naik bisa Rp500 ribu. Kalau seri-seri biasa paling Rp100 ribu sampai Rp200 ribu," ungkapnya.

Keluhan serupa juga disampaikan pegawai toko lain di ITC Kuningan. Ia mengatakan kenaikan harga tidak hanya terjadi pada produk baru, tetapi juga perangkat bekas atau second.

"Iya, pada naik semua. Semua baru juga naik, parah naiknya, mahal-mahal," ujarnya.

Seperti halnya smartphone, Sejumlah penjaga toko yang ditemui CNBC Indonesia di Mal Ambassador, Jakarta Selatan, mengungkapkan laptop yang sebelumnya dijual di kisaran Rp 7 juta hingga Rp 8 juta kini sudah menyentuh Rp 9 juta lebih. Bahkan, mereka memperkirakan kenaikan harga masih akan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan.

"Kenaikannya lagi tinggi banget sih. Ini juga dari biasanya 7-8 jutaan sekarang jadi 9 juta. Dan mungkin masih ada kenaikan lagi sampai Agustus lah," kata salah satu pegawai toko laptop di Mal Ambassador.

Fenomena ini membuat laptop murah yang dulu mudah ditemukan kini semakin langka. Jika beberapa bulan lalu konsumen masih bisa mendapatkan laptop merek besar di harga Rp 5 jutaan, saat ini pilihan tersebut nyaris menghilang dari pasaran.

"Januari-Februari masih ada yang Rp 5 jutaan. Sekarang sudah nggak ada. Kalau mau di bawah Rp 5 juta paling merek tertentu seperti Axioo atau Advan. Kalau Lenovo, Asus, HP, yang paling murah sekarang sekitar Rp 7 jutaan," ungkapnya.

Bahkan untuk segmen premium, lonjakan harga juga terjadi. Salah satu seri laptop Asus Zenbook yang sebelumnya dijual sekitar Rp 42 juta kini telah mencapai Rp 47 juta.

 


 

 

 

references by

https://inet.detik.com/consumer/d-8396950/peningkatan-harga-laptop-imbas-krisis-ram-diprediksi-tembus-40

 https://www.detik.com/jabar/berita/d-8302936/penyebab-harga-pc-dan-laptop-makin-mahal-di-2026

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260326104719-206-1341414/krisis-ram-diprediksi-sampai-2030-harga-hp-laptop-bakal-makin-mahal

 https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260604120530-37-740080/krisis-2026-menggila-petaka-di-amerika-sudah-sampai-ke-indonesia/amp

 
Like us on Facebook