December 16, 2017

La Nina Di Indonesia Akan Terjadi Akhir 2017

Baca Artikel Lainnya

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena La Nina semakin menguat di akhir tahun 2017. Namun itu tidak signifikan dalam penambahan curah hujan.


"Secara klimatologis La Nina di musim hujan yaitu penambahan curah hujan dari normalnya kurang signifikan," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) BMKG Indonesia Hary Djatmiko saat dihubungi Republika, Jumat (15/12).

Ia menyebutkan, prediksi BMKG, curah hujan pada Desember 2017 berada pada kisaran menengah sampai tinggi (200 - 500mm/bulan) berpeluang di Sulawesi Selatan bagian selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua bagian selatan.

Kemudian sifat hujan didominasi normal, terutama di Sumatra bagian utara, sebagian besar Kalimantan, Jawa bagian barat dan timur, Bali, NTB, Sulawesi bagian utara dan sebagian besar Papua.

Sementara prediksi curah hujan dasarian II Desember 2017 yaitu curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kisaran menengah hingga tinggi (50 300mm/Das), curah hujan tinggi berpeluang di Jawa bagian barat dan tengah, dan sekitar Pegunungan Jayawijaya bagian timur.

"Sedangkan curah hujan rendah di sekitar Kalimantan Timur (Kaltim) bagian selatan dan barat dan selatan Gorontalo," ujarnya.

Kondisi akan berlangsung hingga awal Januari 2018.

Saat menjelang perayaan Natal, yakni pada tanggal 19-23 Desember 2017, potensi hujan sedang hingga lebat akan terjadi di sejumlah daerah, antara lain di Aceh bagian barat, pesisir Sumatera Selatan, Banten, Pesisir utara Jawa, Sulawesi Selatatan, Nusa Tengara Barat, dan sebagian daerah di Nusa Tenggara Timur.

Kemudian, pada periode perayaan Natal, 24-26 Desember 2017, perkiraan BKMG mencatat bahwa hujan lebat hingga sedang terjadi di pesisir selatan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, dan Papua bagian tengah.

Selain itu, menjelang perayaan tahun baru, tanggal 25-31 Desember 2017 fenomea serupa terjadi di pesisir utara Jawa, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, dan Maluku.

Lalu, pada awal tahun hingga 7 Januari 2017 akan terjadi di Aceh, pesisir barat Sumateram Jawa Tengah, DIY Yogyakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, dan NTT.

“Angin kecang dengan kekuatan lebih dari 20 knot juga berpotensi terjadi di beberapa wilayah Indonesia, meliputi Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Banda, Samudera Hindia selatan Jawa Tengah, dan NTB,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG Hary Tirto Djatmiko di komplek BMKG, Jakarta, Senin (18/12/2017).

Harry menuturkan, angin kencang tersebut berdampak pada peningkatan gelombang laut. Gelombang setinggi 2,5-6 meter terjadi di Perairan Kepulauan Anambas – Kepulauan Natuna, Laut Natuna, Laut Jawa bagian tengah dan timur, selatan Makassar bagian selatan, peraiaran Kepulauan Talaud, dan perairan utara Halmahera. Sedangkan gelombang 6-7 meter terjadi di Laut Cina Selatan dan Laut Natuna utara.

Menurut Hary, kondisi itu dapat terjadi meski siklon tropis telah menghilang dari wilayah Indonesia. Fenomena ini disebabkan karena adanya suplai massa udara lembab dari Samudera hinda sebelah barat Indonesia yang masuk ke wilayah Indonesia.

“Kedua, adanya aliran udara dari utara yang masuk ke wilayah Indonesia. Ditambah dari (angin) selatan, ditambah lagi perlambatan angin atau belokan angina. Semua ini menimbulkan potensi pembentukan dan pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan,” kata Hary.

Kondisi ini juga didukung dengan musim hujan yang terjadi di Indonesia. Puncak musim hujan terjadi pada bulan Desember hingga Februari. Untuk daerah di selatan khatulistiwa, puncak musim hujan terjadi dari bulan Desember hingga Januari.


Pada bulan Desember ini sebanyak 93,27 % wilayah Indonesia memasuki musim hujan dan sisanya 6,73 % masih mengalami musim kemarau yang sifat lokal, seperti di beberapa wilayah Jatim, Bali, NTT, dan NTB, Sulawesi Maluku. Hal ini diutarakan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, Ph.D. saat memberikan keterangan pers, senin siang di Kantor BMKG.
Untuk Bulan Desember puncak musim hujan terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Sementara untuk bulan Januari 2018, puncak musim hujan terjadi wilayah Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara, serta untuk wilayah lainnya di Bulan Februari 2018. Sementara untuk wilayah Papua, khususnya di bagian Tengah sekitar pegunungan Jayawijaya mengalami puncak musim hujan pada Januari 2018.
Dwikorita menegaskan waspada Hujan sedang-lebat menjelang natal 2017 dan tahun baru 2018. Berdasarkan hasil analisa BMKG, potensi hujan lebat menjelang natal 2017 dan tahun baru 2018 cukup besar, hal ini dikarenakan supply massa udara lembab dari Samudera Pasifik dan Daratan Asia serta dari Samudera Hindia yang terakumulasi di wilayah kepulauan Indonesia sehingga sangat intensif penyebab tingginya potensi hujan lebat di wilayah Indonesia.
Masyarakat perlu mewaspadai hujan sedang-lebat pada Menjelang Natal (19-23 Desember 2017) yang terjadi di wilayah Aceh Bagian Barat, Pesisir Selatan Sumatera, Banten, Pesisir Utara jawa, Sulawesi Selatan, NTB, sebagian NTT.
Sementara dalam periode natal 24-26 Desember 2017, hujan sedang-lebat terjadi di Pesisir Selatan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, NTB, NTT. Sulawesi Tengah, dan Papua Bagian Tengah
Menjelang tahun baru 2018, 26-31 Desember 2017 potensi hujan sedang-lebat terjadi di Pesisir Utara Jawa, Jateng, Jatim, Kaltara, Sulteng, Maluku.
Pada Awal tahun 1-7 Januari 2018 Konsentrasi hujan sedang-lebat di Aceh, Pesisir Barat Sumatera, Jateng, Yogyakarta, Kaltim, Kaltara, Sulteng, NTT.
Selain itu masyarakat pun harus mewaspadai potensi angin kencang yang dapat mencapai lebih dari 20 knot (lebih dari 36 km/jam) yang berpotensi di beberapa wilayah indonesua meliputi Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Banda, Samudera Hindia Selatan Jawa Tengah hingga NTB.
Angin kencang ini berpengaruh pada gelombang tinggi, untuk itu masyarakat perlu mewaspadai gelombang tinggi, seperti di Laut Cina Selatan dan Laut Natuna Utara dengan tinggi gelombang mencapai 6 -7 m.
Pada bulan Desember hingga Januari adalah periode menguatnya pola angin baratan yang membawa dampak pada peningkatan tinggi gelombang sehingga perlu diwaspadai untuk peningkatan tinggi gelombang terutama di wilayah Perairan barat sumatera, Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Banda dan Perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.
Dengan adanya situasi potensi cuaca ekstrem ini, BMKG mengimbau kepada masyarakat agar :
  • Waspada potensi genangan, banjir maupun longsor bagi yang tinggal di wilayah berpotensi hujan lebat terutama di daerah rawan banjir dan longsor terutama di daerah dataran rendah, daerah cekungan, bantaran kali atau sungai, perbukitan, lereng-lereng dan pegunungan.
  • Waspada terhadap potensi hujan disertai angin kencang yang dapat menyebabkan pohon maupun papan reklame/baliho tumbang/roboh serta yang berbahaya bagi kapal berukuran kecil
  • Tidak berlindung di bawah pohon jika hujan disertai kilat/petir.
  • Waspada peningkatan ketinggian gelombang laut yang > 2.5 meter
  • Menunda kegiatan penangkapan ikan secara tradisional hingga gelombang tinggi mereda
Potensi Gempa Bumi Terus Mengintai
Secara geografis Indonesia terletak pada pertemuan 3 lempeng tektonik utama dunia yang bergerak relatif saling mendesak satu dengan lainnya. Ketiga lempeng tersebut adalah Lempeng Indo-Australia di sebelah Selatan, Lempeng Pasifik di sebelah Timur, Lempeng Eurasia di sebelah Utara (di mana sebagian besar wilayah Indonesia berada), dan ditambah Lempeng Laut Philipina.
Adapun karakteristik lempeng tektonik, adalah Lempeng Indo-Australia bergerak ke arah Utara dan bertumbukan dengan Lempeng Eurasia. Sementara Lempeng Pasifik bergerak ke arah Barat sedangkan Lempeng Eurasia relatif diam.
Kondisi inilah yang menyebabkan Indonesia sebagai wilayah supermarket bencana yang rawan gempa bumi dan tsunami. Meskipun teknologi saat ini belum ada yang dapat memprediksi terjadinya gempa bumi secara tepat dan akurat. Hal ini dibuktikan dari data IRBI bahwa ancaman tsunami Indonesia adalah 46% dari panjang pantai Kepulauan Indonedia, 233 dari 515 Kabupaten, dan 23 dari 34 Provinsi.
Berdasarkan sejarah gempa bumi yang tercacat oleh BMKG, telah terjadi gempa bumi rata-rata sebanyak 4.500 kali/ tahun. Diantaranya gempa bumi dengan magnitude 5 atau lebih yang sifatnya mulai merusak terjadi sebanyak rata rata 360 kali/ tahun.
Menyadari kondisi ini, Dwikorita mengatakan BMKG siap untuk memberikan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami yang terus dimonitor 24 jam/ 7 hari. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi dalam pengurangan resiko dampak gempa bumi dan tsunami.
Untuk pengamatan gempa bumi dengan magnitude 5 atau lebih berpusat di Pusat Gempa Nasional BMKG, sementara untuk gempa bumi dengan magnitude dibawah 5 terpusat di Stasiun Geofisika yang terdapat di seluruh wilayah Indonesia berjumlah 33 Stasiun geofisika dengan 165 sensor seismograf dan 285 accelerometer.
Sebagai langkah pengurangan resiko dampak gempa bumi dan tsunami, mengharapkan masyarakat agar lebih siap sebelum terjadi gempa dan tsunami, termasuk struktur bangunan, serta langkah penyelamatan gempa bumi dan tsunami.
Bagi masyarakat yang hendak memperoleh informasi terkini, BMKG senantiasa membuka layanan informasi cuaca, gempabumi dan tsunami 24 jam, yaitu melalui:
  • call center cuaca 021-6546315/18;
  • call center gempabumi 021-6546316;
  • http://www.bmkg.go.id;
  • follow twitter @infoBMKG;
  • aplikasi iOS dan android "Info BMKG";
  • atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.



Apa Dampak La Nina Di Indonesia?

Karena La Nina merupakan kebalikan dari El Nino, maka dampak yang ditimbulkan pun merupakan kebalikan dari dampak El Nino juga. Beberapa dampak dari La Nina adalah sebagai berikut:

  • Angin pasat timur menguat
  • Indonesia mengalami peningkatan pada curah hujan, karena Indonesia menjadi daerah bertekanan rendah
  • Banyak terjadi banjir (baca: jenis banjir) di wilayah Indonesia karena tingginya curah hujan
  • Daerah perairan barat berpotensi hujan

La Nina adalah meningkatnya curah hujan di wilayah Pasifik Ekuatorial Barat, yang di mana Indonesia termasuk di dalamnya. La Nina membuat cuaca cenderung menjadi hangat dan lebih lembab.  Fenomena La Nina yang meningkatkan curah hujan, membuat cuaca pada musim kemarau Indonesia, menjadi lebih basah.

La Nina akan sangat terasa dampaknya bagi kota dan daerah yang tidak mempunyai resapan air yang bagus, contohnya Jakarta. Di mana hujan yang terjadi selama beberapa jam sudah cukup untuk membuat Jakarta tergenang banjir.

La Nina juga terasa di beberapa kota dan daerah di Indonesia seperti Solo, Banjarnegara, Wonogiri, Cilacap, dan  daerah yang lainnya, yang akan membuat potensi banjir dan longsor di daerah tersebut meningkat.

Dampak La Nina juga berpengaruh terhadap permasalahan-permasalahan kesehatan yang meningkat seiring dengan tingginya potensi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Banyaknya penyakit-penyakit menular Water-borne disease (penyakit yang terbawa air) seperti, Diare, demam tipus, kolera,disentri, leptospirosis, dan hepatitis A perlu diwaspadai terutama pada daerah-daerah yang rawan banjir.

Sementara dampak dari La Nina terhadap nelayan adalah berkurangnya tangkapan ikan yang dikarenakan kurangnya kandungan klorofil-a yang merupakan makanan ikan di lautan. Dan dampaknya bagi petani, negatif dan positif, negatifnya adalah banjir yang mengancam persawahan dan kebun, dan positifnya adalah kondisi pengairan pada lahan pertanian akan tetap basah dikarenakan hujan tetap turun meskipun pada musim kemarau.

Pada sektor pertanian sendiri, dampak Fenomena La Nina bisa berdampak positif atau negatif, dampak negatif adalah bisa terdapat kerugian materiil karena banjir di lahan pertanian. Lalu dampak positif pada pertanian adalah areal persawahan tidak perlu kuatir mengenai masalah pengairan pada musim kemarau, karena pada musim kemarau di tahun 2017 nanti diperkirakan tidak akan kekurangan air.






references by republika, kompas
images by  radar banyumas

 
Like us on Facebook