Baca Artikel Lainnya
Kasus keracunan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan disebabkan oleh racun sengaja, melainkan akibat kontaminasi bakteri, virus, atau zat kimia di sayuran, daging, buah, roti dan makanan lainnya karena proses penyiapan, bahan dan pengelolaan makanan dalam jumlah besar yang tidak higienis dan salah
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin memaparkan sejumlah temuan penyebab keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Budi Gunadi menyebut ada sejumlah bakteri hingga virus yang menjadi penyebab, salah satunya salmonela hingga Escherichia coli.
"Jadi dari hasil penelitian epidemiologi dari seluruh SPPG yang kita lihat ada keracunan, ini adalah penyebab-penyebabnya secara medis. Jadi ada yang bakteri, ada beberapa itu virus, dan ini kimia," ungkap Budi Gunadi di Rapat Komisi IX DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (1/10/2025).
Dalam presentasi yang dipaparkan, ia merinci daftar bakteri dan virus itu. Berikut ini daftarnya:
Bakteri
1. Salmonela
2. Escherichia coli
3. Bacillus cereus
4. Staphylococcus aureus
5. Clostridium perfringens
6. Listeria monocytogenes
7. Campylobacter jejuni
8. Shigella
Virus
1. Norovirus/rotavirus
2. Hepatitis A virus
Kimia
1. Nitrit
2. Scombrotoxin (histamine)
Faktor Utama Penyebab Makanan MBG Menjadi Beracun
- Waktu Tunggu Terlalu Lama: Makanan dimasak terlalu dini hari (subuh atau tengah malam) tetapi baru dikonsumsi pada siang hari, melebihi batas aman 4–6 jam penyimpanan di suhu ruang
- Kontaminasi Bakteri: Munculnya bakteri seperti Staphylococcus aureus, Escherichia coli, atau Salmonella akibat alat masak kotor, bahan baku makanan dan minuman yang tidak segar, atau tangan, media/tempat penyimpanan penjamah makanan yang kurang higienis.
- Kesalahan Pengemasan (Zona Bahaya Suhu): Makanan panas/hangat langsung ditutup rapat dalam wadah, membuat suhu turun perlahan di kisaran 4°C–60°C yang menjadi tempat ideal perkembangbiakan bakteri dengan cepat
- Pencucian tempat makan tak bersih atau terjadi kelembaban saat disimpan/ditumpuk bisa picu berkembangnya berbagai bakteri, jamur
- Lemahnya Tata Kelola Dapur: Banyak dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memproduksi ribuan porsi namun belum memiliki Sertifikat Laik Higienis Sanitasi (SLHS) atau kurang pengawasan tenaga ahli gizi
- Bahan makanan, minuman, buah, sayur yang sudah mendekati kadaluarsa atau bahkan lewat kadaluarsa atau busuk tetap diolah jadi masakan/makanan untuk konsumsi. Contoh ayam tiren, ikan busuk, daging yg terdapat bakteri, parasit, jamur, racun dan jenis kadaluarsa lainnya
- Pertumbuhan Bakteri dan Toksin: Makanan dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang (antara 6 hingga 60 derajat Celsius) sehingga bakteri seperti Salmonella atau mikroba berbahaya cepat berkembang biak
- Kelalaian Pengolahan (SPPG): Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sering kali memasak atau mengemas makanan terlalu cepat dari jadwal konsumsi, misalnya dimasak pagi buta untuk dimakan siang hari.atau langsung menutup makanan ketika baru selesai dimasak
- Kontaminasi Silang: Sumber air yg sudah tercemar berbagai bakteri Alat dapur yang kotor, air pencuci yang tercemar, atau kebersihan tempat pengolahan dan pencucian wadah yang tidak terjaga
- Bahan Baku Kurang Segar atau pengelola MBG sengaja membeli bahan baku, snack/makanan ringan yg sudah busuk atau mendekati tanggal kadaluarsa agar harganya murah dan untung banyak
- Banyak lalat yang menghinggapi bahan makanan saat berada di dapur MBG. Lalat dapat membawa kuman dan bakteri: Lalat hinggap di tempat kotor seperti sampah dan membawa bakteri penyebab penyakit tersebut ke makanan.
Keracunan makanan terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh kuman atau zat berbahaya. Kondisi ini bisa menimbulkan keluhan berupa mual, muntah, sakit perut, diare, bahkan demam dan hal tersebut biasanya akan terjadi beberapa jam setelah mengkonsumsinya
Jika tidak segera ditangani dengan benar, keracunan makanan dapat menyebabkan dehidrasi, terutama pada anak-anak dan orang dengan daya tahan tubuh lemah atau miliki penyakit lainnya yang akan berkaitan nantinya.
Infeksi mikroorganisme
Keracunan makanan paling sering disebabkan oleh infeksi kuman yang mencemari makanan atau minuman. Infeksi ini bisa berasal dari:
- Bakteri, seperti Salmonella, Escherichia coli (E. coli), Listeria, atau Clostridium botulinum yang dapat menghasilkan racun berbahaya.
- Virus, misalnya norovirus atau hepatitis A, yang mudah menular melalui makanan laut atau sayuran yang terkontaminasi.
- Parasit, seperti Giardia atau Toxoplasma, yang biasanya ditularkan melalui air atau makanan yang tidak higienis.
Selain kuman, keracunan makanan juga bisa terjadi karena paparan zat berbahaya, seperti pestisida, bahan pengawet berlebihan, atau logam berat (merkuri, timbal, arsenik) yang mencemari bahan makanan.
Kesalahan dalam pengolahan dan penyimpanan makanan
Beberapa kebiasaan tidak higienis juga dapat meningkatkan risiko keracunan makanan. Kesalahan ini sering terjadi tanpa disadari, misalnya:
- Menyimpan makanan pada suhu yang tidak tepat.
- Memasak makanan tidak sampai matang, terutama daging, telur, atau seafood.
- Tidak mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan atau ada benda yg terkontaminasi langsung seperti tempat dan alat makan serta sebagainya.
- Terjadi kontaminasi silang karena penggunaan alat masak yang sama untuk makanan mentah dan matang.
- Mengonsumsi susu, keju, atau produk olahan susu yang tidak dipasteurisasi.
- Mual dan muntah: Terasa ingin memuntahkan makanan yang baru saja dimakan.
- Nyeri perut: Kram atau sakit di bagian perut secara terus-menerus.
- Diare: Buang air besar cair secara berlebihan.
- Pusing dan lemas: Kepala terasa pusing dan tubuh kekurangan tenaga.
- Demam tinggi
Ciri Makanan / Minuman MBG Ada Bakteri
- Aroma: Tercium bau tidak sedap, busuk, basi, atau menyengat.
- Permukaan: Ada lendir tipis atau berbusa pada kuah/lauk.
- Bentuk: Tekstur makanan rusak, hancur, atau terlalu lembek. Terlihat jamuran putih atau kuning sekitar makanan kadang tersamarkan dan tak terlihat
- Waktu: Melewati batas aman konsumsi lebih dari 4 jam setelah matang di suhu ruang
Ciri makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terkontaminasi zat kimia berbahaya (seperti nitrit) atau beracun sering kali sulit dibedakan hanya dengan mata telanjang, namun bisa dikenali dari perubahan fisik yang tidak wajar. Pada beberapa kasus, kontaminasi kimia atau basi ditandai dengan warna yang berubah, bau menyengat, atau rasa yang aneh
- Warna: Berubah tidak normal (terlihat terlalu pucat, keabu-abuan, putih kekuningan atau kehijauan pada lauk).
- Bau: Beraroma apek, tengik, atau berbau kimia tajam yang tidak sedap.
- Tekstur: Menjadi terlalu lembek, hancur, atau berlendir.
- Rasa: Terasa pahit, sangat asin, atau getir di lidah
Apakah Keracunan Makanan MBG Bisa Meninggal ?
Ya, gejala keracunan makanan (termasuk dari program Makan Bergizi Gratis/MBG) bisa menyebabkan kematian jika tidak segera mungkin ditangani dengan benar atau salah penanganan oleh puskemas/klinik/rumah sakit, terutama akibat dehidrasi parah, infeksi bakteri berat (seperti Salmonella atau E. coli), atau komplikasi penyakit pada organ tubuh sang anak/guru. Meskipun sebagian besar kasus dapat sembuh, beberapa laporan kasus dugaan atau investigasi medis pernah menyoroti risiko fatalitas akibat penurunan kondisi tubuh yang drastis
Siswi di Karo Hilang Ingatan Seusai Santap MBG, Apa Kata Studi Medis?
Kasus Febiola Beru Purba (16), siswi SMK Bersama Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menjadi perhatian banyak orang baru-baru ini setelah diduga mengalami gangguan ingatan usai menyantap menu makanan bergizi gratis (MBG) pada 13 Agustus 2026. Sebelumnya, Febiola dilaporkan mengalami pusing, muntah, kehilangan kesadaran, kemudian kejang dan gangguan bicara. Lantas, apa kata studi medis mengenai kondisi tersebut?
Ibu Febiola, Elvinus Lusiana Sitanggang, sebelumnya menjelaskan kondisi terkini anaknya. Ia mengatakan Febiola tidak mengenali sejumlah anggota keluarga dan teman sekolah yang sebelumnya dekat dengannya. "Hampir genap satu bulan sejak keracunan, pihak rumah sakit belum mengeluarkan hasil pemeriksaan medis yang dilakukan kepada Febiola," ujarnya.
Humas RSUP Haji Adam Malik Medan, Rosario Dorothy Simanjuntak, membenarkan Febiola merupakan pasien rawat jalan di rumah sakit tersebut. Menurut dia, Febiola telah dua kali menjalani pemeriksaan. "Betul, pasien dengan inisial FB usia 16 tahun saat ini sedang menjalani pengobatan rawat jalan di RS Adam Malik. Untuk kunjungan pertama itu sudah dilakukan oleh pasien sejak 31 Agustus 2026, kemudian 7 September, dan saat ini pasien ditangani oleh spesialis dokter anak," kata Rosa, Selasa (8/9/2026).
Kondisi yang dialami Febiola menimbulkan pertanyaan, apakah keracunan makanan memang dapat menyebabkan seseorang kehilangan ingatan? Sejumlah studi medis menunjukkan kondisi tersebut memang dapat terjadi dalam kasus keracunan tertentu.
Berdasarkan penelusuran Beritasatu.com, salah satu bukti medis paling kuat mengenai hubungan antara makanan dan gangguan memori berasal dari wabah amnesic shellfish poisoning (ASP) di Kanada pada 1987.
Wabah tersebut terjadi setelah masyarakat mengonsumsi remis yang tercemar domoic acid, yakni neurotoksin yang dihasilkan mikroalga laut dari genus Pseudo-nitzschia. Studi berjudul Neurologic Sequelae of Domoic Acid Intoxication Due to the Ingestion of Contaminated Mussels yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine pada 1990 meneliti dampak neurologis pada korban keracunan tersebut.
Penelitian yang ditulis Teitelbaum dan sejumlah peneliti lain itu menunjukkan keracunan domoic acid dapat menimbulkan gangguan neurologis, termasuk gangguan memori yang dapat bertahan setelah fase akut keracunan. Studi tersebut diterbitkan dalam New England Journal of Medicine, volume 322, halaman 1781–1787.
Kasus tersebut kemudian menjadi salah satu dasar penting dalam pemahaman medis mengenai amnesic shellfish poisoning. Gangguan memori terjadi karena domoic acid merupakan neurotoksin yang dapat menyebabkan kerusakan pada bagian otak yang berperan penting dalam proses pembentukan dan penyimpanan memori, terutama hipokampus.
Dengan kata lain, secara medis sudah terdapat bukti pada manusia mengenai toksin dari makanan yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis dan gangguan memori.
Bagaimana racun makanan bisa menyerang memori?
Domoic acid bekerja sebagai zat yang dapat merangsang reseptor glutamat secara berlebihan. Kondisi tersebut dapat memicu excitotoxicity, yakni kerusakan sel saraf akibat rangsangan yang terlalu kuat.
Penelitian mengenai efek neurologis domoic acid juga menunjukkan adanya kerusakan pada wilayah otak yang berkaitan dengan fungsi memori. Karena itu, korban keracunan berat dapat mengalami kebingungan, kejang, gangguan kesadaran, hingga gangguan memori.
Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan di jurnal Toxins menjelaskan kasus keracunan domoic acid pada manusia sebagai salah satu contoh penyakit neurologis yang berasal dari toksin laut. Tinjauan tersebut juga merujuk pada penelitian New England Journal of Medicine mengenai korban yang mengalami gangguan neurologis setelah mengonsumsi remis tercemar.
Indonesia juga pernah meneliti domoic acid
Fenomena domoic acid juga telah menjadi objek penelitian di Indonesia. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Harmful Algae pada 2019 berjudul First record of the dynamics of domoic acid producing Pseudo-nitzschia spp. in Indonesian waters as a function of environmental variability meneliti keberadaan Pseudo-nitzschia yang berpotensi menghasilkan domoic acid di perairan Indonesia.
Penelitian tersebut menjadi catatan penting karena menunjukkan keberadaan organisme penghasil domoic acid di perairan Indonesia. Studi itu tidak berarti setiap kerang atau ikan di Indonesia mengandung toksin tersebut, tetapi menunjukkan toksin tersebut memang relevan untuk dikaji dalam konteks perairan Indonesia.
Jadi, kasus Febiola sebenarnya memiliki perbedaan penting dengan wabah amnesic shellfish poisoning di Kanada. Makanan yang dilaporkan dikonsumsi Febiola adalah menu MBG dengan lauk ikan tongkol. Sementara itu, kasus domoic acid yang telah terbukti menyebabkan gangguan memori berkaitan dengan konsumsi kerang-kerangan yang terkontaminasi toksin tersebut.
Ikan tongkol sendiri termasuk kelompok ikan yang dapat mengalami keracunan histamin atau scombroid fish poisoning jika penanganan dan penyimpanannya tidak tepat. Namun, keracunan histamin memiliki pola gejala yang berbeda. Kondisi tersebut umumnya menimbulkan kemerahan pada kulit, rasa panas, sakit kepala, mual, muntah, diare, jantung berdebar, dan gejala lain yang muncul relatif cepat setelah mengonsumsi ikan yang mengandung histamin tinggi.
Total korban keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah mencapai 50.059 orang berdasarkan data surveilans Kementerian Kesehatan per 2 September 2026
Entah sudah berapa puluhan ribu atau atau ratusan ribu yang sduah terkena racun makanan MBG,
Namun tak ada satupun yang jadi tersangka dan mempertanggung jawabkan hal tersebut






