April 11, 2017

Al Quran Jelaskan Bumi Bulat / Elipse

Pada masa lalu, banyak orang percaya bahwa bentuk Bumi itu datar. Selama berabad-abad, orang-orang enggan menjelajah Bumi terlalu jauh, karena mereka takut jatuh dari tepian Bumi.



Peta Al Idrisi, Peta Yang Dijadikan Rujukan Peta Dunia

"Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," Surah Luqman Ayat 29. Dari ayat di atas, kata memasukkan bisa diartikan bahwa terjadi perubahan bertahap dan perlahan-lahan dari malam menjadi siang, dan sebaliknya.

Fenomena ini hanya bisa terjadi apabila Bumi itu bulat. Sebab, jika Bumi itu datar, maka tentu akan ada perubahan yang drastis atau mendadak dari malam ke siang dan dari siang ke malam.

Alquran juga mengungkap bentuk Bumi yang bulat melalui ayat berikut. "Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun," Surah Az-Zumar Ayat 5.

Pada ayat di atas, kata dalam bahasa Arab yang digunakan adalah Kawwara, yang bermakna tumpang tindih atau melingkar, seperti gulungan kain sorban di kepala. Peristiwa tumpang tindih atau melingkar silih bergantinya siang dan malam hanya dapat terjadi jika Bumi berbentuk bulat.



Peta Al Idrisi adalah Peta/Globe pertama Dunia yang dijadikan rujukan Peta Dunia, Al Idrisi Terilhami dari ayat Al-quran, Abu Abdullah Muhammad al-Idrisi al-Qurtubi al-Hasani al-Sabti atau singkatnya Al-Idrisi adalah ilmuwan geografi, kartografi, mesirologi, dan pengembara Muslim


Ketika mempelajari sejarah peradaban Islam, sulit rasanya tidak takjub dan kagum pada prestasi ilmuan dan intelektual muslim  di masa lalu dan kontribusi mereka bagi peradaban Manusia untuk mengenal kebesaran Allah SWT. Dari ilmu kedokteran, matematika, filsafat, seni hingga fisika. Di masa keemasannya, umat Islam berada di garis terdepan hampir dalam semua cabang keilmuan. Mereka mempelopori penemuan-penemuan baru dan membangun bangunan keilmuan yang belum pernah dibangun sebelumnya. Nama-nama seperti Ibnu al-Haytham, Ibnu Khaldun, dan lain-lain melayang di pikiran ketika berbicara tentang kehebatan ilmu pengetahuan Islam.

Salah seorang yang berada di kelompok elit ilmuan terbesar sepanjang masa adalah seorang polymath Persia Muslim, Abu Rayhan al-Biruni rahimahullah. Ia hidup pada rentang tahun 973-1048 M. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Asia Tengah dan anak benua India. Sepanjang karirnya, al-Biruni menjadi ahli dalam berbagai cabang keilmuan, termasuk sejarah, fisika, matematika, astronomi, linguistik, perbandingan agama, dan ilmu bumi. Meskipun ketidak-pastian dunia politik Islam terjadi di masanya, ia mampu menghadapinya dan menjadi salah satu ilmuan terbesar sepanjang sejarah.

Masa Kecil Sang Ilmuan

Al-Biruni lahir pada tahun 973 di provinsi Khurasan, di Timur Laut Persia. Sama seperti anak-anak lain di masanya, ia dididik di usia muda. Belajar bahasa Arab dan bahasa Persia, ilmu-ilmu Islam yang mendasar, dan ilmu pengetahuan alam. Awalnya, ia meminati kajian matematika dan astronomi. Di kemudian hari, ia menjadi seorang spesialis dalam dua bidang ilmu ini. Ia adalah seorang astronom terkemuka.



An illustration from Biruni’s Persian book. It shows different phases of the moon.




Di usia 20 tahun, ia pindah jauh dari daerah asalnya demi menimba ilmu pengetahuan. Selama 3 tahun ia melakukan perjalanan di seluruh Persia, belajar dari para ilmuan tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan. Akhirnya, pada tahun 998, ia menetap di Jurjan (Gorgan). Ia menjadi pegawai pemerintah setempat, Shams al-Ma’ali Qabus. Selama 10 tahun berikutnya, ia tinggal di kota kecil di wilayah tenggara Iran. Di tempat inilah ia melakukan penelitian, menulis buku, dan semakin banyak belajar.

Selama waktu tersebut, ia menulis sebuah karya monumental yang mengkaji tentang sejarah peradaban kuno di tengah pengaruh silih bergantinya kerajaan. Buku itu sebagai penanda yang jelas bahwa di masa depan al-Biruni akan menjadi seorang ilmuan yang menguasai berbagai cabang keilmuan. Ini lebih dari sekadar buku sejarah. Karena buku merevolusi sejarah sains, astronomi, budaya, dan juga menjelaskan peristiwa sejarah. Dengan produktivitasnya di Jurjan, Al-Biruni menjadi salah satu ilmuan utama di zamannya melalui karya-karyanya.

Di Wilayah Kerajaan Ghazni

Al-Biruni tidak merampungkan beberapa karya monumentalnya hingga ia pindah ke Ghazni. Sebuah wilayah yang berada di bawah naungan Sultan Mahmud. Di masa itu, Ghazni adalah sebuah kota yang besar. Sebuah kota yang sekarang menjadi wilayah Afghanistan. Kerajaan Sultan Mahmud membentang jauh melampaui perbatasan Afghanistan modern. Wilayahnya sekarang meliputi Iran, Pakistan, dan India. Di kerajaan yang kuat ini, al-Biruni memiliki sumber daya dan kemampuan untuk menunjukkan apa yang ia mampu lakukan.

Sultan Mahmud memulai ekspedisi militernya ke India dengan sangat rapi. Tujuannya adalah melindungi pengaruhnya di sana. Kebiasaan Sultan Mahmud dalam ekspedisi militernya adalah mengajak serta al-Biruni. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi al-Biruni. Ia bisa mengenal berbagai bahasa, budaya, dan agama yang ada di India.


Mendapatkan anugerah kecerdasan yang mampu melahirkan ide-ide baru dengan mudah, al-Biruni dengan cepat berhasil menguasai bahasa Sansekerta dan bahasa liturgi Hindu. Kemampuan ini membuka khazanah pengetahuan baru. Ia bisa mempelajari budaya India langsung dari literatur-literatur aslinya. Kemudian membandingkannya dengan buku-buku dari belahan dunia yang lain. Ia menerjemahkan buku dari bahasa Sansekerta ke bahasa Arab dan Persia. Juga sebaliknya, dari bahasa Arab ke bahasa Sansekerta. Al-Biruni berpandangan bahwa beragamnya peradaban bertujuan untuk saling mempelajari satu sama lain, bukan saling menghancurkan.

Karena kemampuannya membaca teks-teks Hindu kuno, al-Biruni mampu mengkompilasi sebuah ensiklopedia sejarah India kuno, yang dikenal sebagai Kitab Tarikh al-Hind (Ensiklopedi Sejarah India). Menariknya, banyak kabar tentang India kuno yang diketahui orang-orang masa kini berasal langsung dari buku al-Biruni. Tarikh al-Hind lebih dari sekadar memberitahu pembaca tentang India kuno, namun buku ini juga merupakan fakta bahwa al-Biruni mampu mengumpulkan begitu banyak ilmu yang berbeda untuk memahami latar belakang peristiwa sejarah. Buku ini adalah jendela untuk mengetahui falsafah India, geografi, dan kebudayaannya. Al-Biruni menenggelamkan diri dalam kajiannya, untuk memberi hadiah pada dirinya akan sebuah pemahaman yang lebih baik tentang sejarah India. Dengan demikian, Tarikh al-Hind benar-benar dapat dianggap sebagai salah satu buku pertama di dunia antropologi, studi masyarakat manusia dan perkembangan mereka.

Penemuan Ilmiah

Selain menjadi expert dalam sejarah dan budaya India, al-Biruni juga berhasil menentukan waktu yang tepat untuk membuat gebrakan ilmiah. Banyak ekspedisi yang ia lakukan sangat membantunya melihat dan mengenal variasi geografis dari sumber aslinya. Teori yang ia terapkan juga berhasil membuat mereka terhubung. Dengan menganalisis berbagai jenis partikel tanah di Sungai Gangga dari sumbernya hingga ke Teluk Benggala, al-Biruni merumuskan teori tentang erosi dan bagaimana proses terjadinya pembentukan tanah. Terutama mencatat peran air dalam proses ini.

Dalam kajian studi terkait, ia menemukan fosil-fosil kuno hewan laut di pegunungan yang memutus wilayah India dari seluruh wialayah dunia, Himalaya. Tampaknya tidak mungkin bahwa siput dari laut terdalam, kerang dan yang lainnya melakukan perjalanan ribuan mil ke daratan hingga ke kaki gunung. Dari sini al-Biruni sampai pada kesimpulan bahwa pada suatu masa Pegunungan Himalaya pasti pernah menjadi dasar laut. Dan sekarang, berpindah ke titiknya saat ini setelah jutaan tahun. Kajian ini secara langsung memberikan pemahaman di era modern ini tentang lempeng tektonik. Bagaimana benua bergerak dan bergeser dari waktu ke waktu.


Al-Biruni juga memelopori bidang geologi. Karena ia berhasil mengumpulkan, menganalisis, dan menyusun ratusan logam dan permata. Ia mampu menggambarkan sifat-sifat mereka. Bagaimana mereka dibuat, dan di mana benda-benda itu dapat ditemukan. Bukunya yang mengkaji tentang permata menjadi standar untuk memahami batu berharga selama ratusan tahun.

Al-Biruni terus mengecap pencapaian yang luar biasa hingga awal tahun 1000-an. Ia melakukan penelitian ke bidang-bidang seperti:


Bagaimana bumi berputar pada porosnya.
Bagaimana sumur dan sumber-sumber air membawa air ke permukaan.

Menggabungkan statika dan dinamika ke dalam studi mekanika.

Mencatat garis lintang dan bujur dari ribuan kota sehingga memungkinkannya untuk menentukan arah kiblat setiap kota.

Meneliti sifat optik dari bayangan yang berguna untuk menghitung atau memperkirakan kapada masuk waktu shalat-shalat yang lima waktu.

Membuat pemisahan (deferensiasi) astronomi ilmiah dari astrologi takhayul.




Gambar kiri, model astrolabe berbentuk bulat dan gambar kanan model mekanis matahari dan kalender bulan. Kedua model ini dibuat berdasarkan desain dan deskripsi dari al-Biruni. Ditemukan di Institute for the History of Arabic-Islamic Science di University of Frankfurt.



Selama 75 tahun masa hidupnya, al-Biruni berhasil merevolusi banyak tradisi keilmuan. Saat ia meninggal pada tahun 1048, ia telah menulis lebih dari 100 buku, yang saat ini banyak yang telah punah. Kecerdasan dan penguasaannya terhadap berbagai cabang keilmuan dan kemampuannya untuk mensinergikannya berhasil melahirkan pemahaman ilmu yang lebih baik sesuai dengan fungsinya. Hal ini juga menjadikannya termasuk di antara para ilmuan muslim terbesar sepanjang masa.

Kehadirannya maembantu keilmuan cendekiawan muslim di masa lalu untuk mengoptimalkan batas pengetahuan dan membangun batas baru. Dan juga berfungsi sebagai bukti nyata bahwa para ilmuan bisa mencapai kemampuan terbaik di tengah ketidak-stabilan politik, konflik, dan ketidak-jelasan kondisi. Dalam keadaan demikian para ilmuan bisa melakukan penelitian yang mengubah dunia dan membuat penemuan luar biasa.

Al-Biruni menulis banyak buku dalam bahasa Persia (bahasa ibunya) dan bahasa Arab.
Berikut karya-karya Al-Biruni ialah:
  • Ketika berusia 17 tahun, dia meneliti garis lintang bagi Kath, Khwarazm, dengan menggunakan altitude maksima matahari.
  • Ketika berusia 22, dia menulis beberapa hasil kerja ringkas, termasuk kajian proyeksi peta, "Kartografi", yang termasuk metodologi untuk membuat proyeksi belahan bumi pada bidang datar.
  • Ketika berusia 27, dia telah menulis buku berjudul "Kronologi" yang merujuk kepada hasil kerja lain yang dihasilkan oleh dia (sekarang tiada lagi) termasuk sebuah buku tentang astrolab, sebuah buku tentang sistem desimal, 4 buku tentang pengkajian bintang, dan 2 buku tentang sejarah.
  • Dia membuat penelitian mengenai jari-jari Bumi senilai 6.339,6 kilometer (hasil ini diulang di Barat pada abad ke 16).
Hasil karya Al-Biruni melebihi 120 buah buku.
Sumbangannya pada bidang matematika yakni:
Hasil keryanya selain bidang matematika yaitu:
  • Kajian kritis tentang ucapan orang India, apakah menerima dengan alasan atau menolak (bahasa Arab تحقيق ما للهند من مقولة معقولة في العقل أم مرذولة) - sebuah ringkasan tentang agama dan filosofi India
  • Tanda yang Tersisa dari Abad Lampau (bahasa Arab الآثار الباقية عن القرون الخالية) - kajian komparatif tentang kalender dari berbagai budaya dan peradaban yang berbeda, dihubungkan dengan informasi mengenai matematika, astronomi, dan sejarah.
  • Peraturan Mas'udi (bahasa Arab القانون المسعودي) - sebuah buku tentang AstronomiGeografi dan Keahlian Teknik. Buku ini diberi nama Mas'ud, sebagai dedikasinya kepada Mas'ud, putra Mahmud dari Ghazni.
  • Pengertian Astrologi (bahasa Arab التفهيم لصناعة التنجيم) - pertanyaan dan jawaban model buku tentang matematika dan astronomi, dalam bahasa Arab dan bahasa Persia
  • Farmasi - tentang obat dan ilmu kedokteran
  • Permata (bahasa Arab الجماهر في معرفة الجواهر) tentang geologimineral, dan permata, dipersembahkan untuk Mawdud putra Mas'ud
  • Astrolab
  • Buku ringkasan sejarah
  • Riwayat Mahmud dari Ghazni dan ayahnya
  • Sejarah Khawarazm





HARI PEMBALASAN SAAT DI PADANG MAHSYAR
Bumi dan langit yang lama akan dirubah menjadi baru

Ulama menjelaskan bahwa maksud diganti disini adalah merubah bentuk yang lama menjadi bentuk baru, bukan mengganti dengan yang baru total.

Ahli tafsir Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan,

وهذا التبديل تبديل صفات، لا تبديل ذات، فإن الأرض يوم القيامة تسوى وتمد كمد الأديم ويلقى ما على ظهرها من جبل ومَعْلم، فتصير قاعا صفصفا، لا ترى فيها عوجا ولا أمتا، وتكون السماء كالمهل، من شدة أهوال ذلك اليوم ثم يطويها الله -تعالى- بيمينه
“pergantian yang dimaksud adalah mengganti sifat bukan dzatnya (bendanya). Bumi pada hari kiamat akan diratakan dan dibentangkan sebagaiman bulu. Dilemparkan apa yang ada dipermukaannya berupa gunung dan dataran tinggi. Maka nampaklah datar tidak ada lekukan dan kebengkokan. Sedangkan langit seperti bulu karena dahsyatnya hari saat itu kemudian Allah melipat langit dengan tangan kanannya.”[1]

Dalam Tafsir Ibnu Abbas, dijelaskan

أي في يوم تغير الأرض {غير الأرض} على حال سوى هذه الحال وتبديلها أن يزاد فيها وينقص منها ويسوى جبالها وأوديتها ويقال تبدل الأرض غير هذه الأرض {والسماوات} مطويات بيمينه

“yaitu hari perubahan bumi dengan bumi yang lain dengan keadaan yang berbeda. Pergantiannya yaitu ditambah dan dikurangi misalnya diratakan gunung dan lembahnya.”[2]



Bumi dan Langit yang baru kekal

Allah Ta’ala berfirman,

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ

“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi”,

Dalam Tafsir Ibnu Abbas, dijelaskan,

سماء النار وأرض النار إلا ما شاء ربك أن يخرجهم من أهل التوحيد
“Yaitu (mereka kekal di nereka selama masih ada) langitnya neraka dan buminya neraka (begitu juga dengan surga), kecuali sampai mana kehendak Allah untuk mengeluarkan mereka dari neraka yaitu ahli tauhid (yang masih memiliki keimanan, tapi dosanya lebih banyak dan tidak diampuni)”[3]



Kejadian saat itu

Apa yang terjadi saat itu? Bagaimana keadaan manusia? Sebagian ulama menjelaskan bahwa ketika bumi dan langit diganti, maka manusia berada di atas Jembatan antara surga dan nereka.

Sebagaimana pertanyaan Aisyah radhiyallahu ‘anha,

سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن قوله عز وجل: {يوم تبدل الأرض غير الأرض والسماوات فأين يكون الناس يومئذ؟ يا رسول الله! فقال “على الصراط”.
“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang firman Allah ‘azza wa jalla : “(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit” :  ‘Dimanakah manusia pada waktu itu berada wahai Rasulullah ?’. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Di atas jembatan”[4]

Dan pertanyaan seorang Yahudi,

أين يكون الناس يوم تبدل الأرض غير الأرض والسماوات؟

“Dimanakah manusia di hari ketika bumi digantikan oleh selain bumi dan langit ?”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

هم في الظلمة دون الجسر
“Mereka dalam kegelapan di hadapan jembatan”.[5]



Sebagian ulama menjelaskan bahwa ketika diganti menjadi manusia akan dibangkitkan, dikumpulkan dan berada pada bumi baru tersebut.

Sebagaimana lanjutan ayatnya:

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ ۖ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allâh yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Ibrahim:48)

Ahli tafsir Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan,

الخلائق من قبورهم إلى يوم بعثهم، ونشورهم في محل لا يخفى منهم على الله شيء
“yaitu para makhluk dari kubur mereka menuju hari kebangkitan dan dikumpulkan menuju tempat yang tidak luput dari Allah sedikitpun?”[6]

Bumi yang dijelaskan dalam hadits yaitu sangat putih, datar dan tidak ada bangunan diatasnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ كَقُرْصَةِ النَّقِيِّ لَيْسَ فِيهَا عَلَمٌ لِأَحَدٍ
“Pada hari kiamat kelak, manusia akan dikumpulkan di bumi yang sangat putih berbentuk bulat pipih dan datar tidak ada tanda (bangunan) milik siapapun di atasnya.”[7]



The shape of the Geode, as it is called, is nearly a perfect sphere, but because the earth is spinning, it is about 21.5 kilometers flatter at the poles, and bulged-out at the equator by about the same amount. There are also other ‘higher-order’ shape deviations which make the Earth slightly pear- shaped with a larger southern hemisphere surface area than in the northern hemisphere, but at a level of a kilometer or so in radial girth. The biggest effect, though, is its polar flattening. If you had a basketball to represent the Earth’s spherical average shape, the flattening would be 21/6500 = about 1/300 the radius of the basketball or 1/32 of an inch…give or take. From NASA: http://image.gsfc.nasa.gov/poetry/ask/a11818.html

The Muslim holy book, the Quran, stated this explicitly 1400 years ago:

Chapter/Sura 79:30, that is Sura Naziyat Aya 30 reads in Arabic ” WAL ARDS BAID ZALIKA DOHAHA”.

Ostrich egg

Now I will write word by word meaning of this Aya

WAL means AND

ARDA means EARTH

BAID means AFTER

ZALIKA means THAT

DOHAHA MEANS EGG SHAPED THING

Now see the English translation of the Sura 79:30 “And the earth , moreover, hath he extended in egg shape.”

The origin of the verb, “Dohaha,” is found in the word (Ud-hiya), which means “egg of ostrich” -wikipedia
Geodesy(Study of the shape of earth)

It is important to note that over time, people and science have had varying views of the shape of the earth. These have ranged from flat, to round, to spherical, to oval, to oblate spheroid or ellipsoid. Needless to say, many have been entangled in the web of wrong descriptions. However not surprisingly some spiritual books had the peculiar shape dead right from the start.

It is important at this point to differentiate spherical, from ellipsoid/oblate spherical and then from egg shaped or pear shaped ovoid.

It was actually way back in 1958 that U.S. satellite Vanguard 1 discovered the Earth’s pear shape.

earh-egg-shaped

“By the 16th century people were convinced that the Greeks were nuts and the Earth was actually an oblate spheroid, or an ellipsoid. The French didn’t agree. They went one better. They suspected the earth was an egg (again?) and in 1736 the French Academy of Sciences sent two expeditions, one to Lapland and one to Ecuador, to settle the question of the Earth’s shape once and for all. Their findings were close, but not exactly conclusive.

We now know from the latest scientific evidence and NASA’s satellite data that the Earth is indeed an ovoid, give or take a few bumps. So back to the egg. After all those years and a few billion dollars down the gurgler we have discovered what the ancients already knew 6000 years ago.

The Earth is slightly flattened at the poles. Its equatorial diameter is 45 km (28 miles) longer than its polar diameter. But wait, that’s not all. As well as being generally ovoid, the Earth also has a vertical pear-shaped asymmetry, the north pole being 48 m (148 ft) further from the equatorial plane than the south pole.” The “pointy end of the egg “, so to speak, is at about 37° west longitude (400 km off the eastern tip of Brazil) where the equator’s longer axis is 159 m (522 ft) greater than its short axis. The “fat” end is just north of east Papua New Guinea. Source

lead.org.au

The earth is actually more egg than pear shaped. This is because a pear has concavities, while an egg does not. The earth does not have concavities.

More resources that describe the pear or egg shaped earth as it is now known:

http://ntrs.larc.nasa.gov/search.jsp?R=19660028058&qs=N%3D4294928546

http://www.josleys.com/htmlgalleries/globe/Piriforme3.JPG

http://mostodd.wordpress.com/2011/06/13/144-gone-pear-shaped/

http://www.finedictionary.com/pear-shaped.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Figure_of_the_Earth

http://www.1worldglobes.com/globe-teach-planet-earth.htm



Interestingly, NASA also describes the moon as egg shaped:

http://lro.gsfc.nasa.gov/moonfacts.html
+ The moon is not round, but egg shaped with the large end pointed towards earth.

The Muslim Quran further describes the earth spread out like a carpet. This is said to describe the the tectonic plates, above the magma. These plates are like a carpet on which people walk and travel.

Quran 71:19 “‘And Allah has made the earth for you as a carpet (spread out), 20 “‘That ye may go about therein, in spacious roads.’”

It is arguably beneficial for scriptural folk to hold on firmly to their beliefs, as after a merry go round, science usually gets to the point they were at. This is just one more example where science has come back to the point where the Muslim Quran was at.

It is arguably beneficial for scriptural folk to hold on firmly to their beliefs, as after a merry go round, science usually gets to the point they were at. This is just one more example where science has come back to the point where the Muslim Quran was at.

Source: http://againstscience.com/2013/06/21/the-earth-is-egg-shaped-nasa-validates-quran-ancient-scripture/#more-321




https://earthobservatory.nasa.gov/Features/NightLights/?src=features-hp&eocn=home&eoci=feature








Penganut Geosentrisme Agamawi dan Kontemporari


Model Ptolemaik mengenai tata surya masih terus dianut sampai ke awal zaman modern. Sejak akhir abad ke-16 dan seterusnya perlahan-lahan digantikan sebagai penggambaran konsensus oleh model heliosentrisme. Geosentrisme sebagai suatu kepercayaan agamawi terpisah, tidak pernah padam. Di Amerika Serikat antara tahun 1870-1920, misalnya, berbagai anggota Gereja Lutheran – Sinode Missouri menerbitkan artikel-artikel yang menyerang sistem astronomi Kopernikan, dan geosentrisme banyak diajarkan di dalam sinode dalam periode tersebut.[22]

Map of the Square and Stationary Earth (Peta Bumi Datar  dan stasioner/tidak bergerak), karya Orlando Ferguson (1893)

Namun, pada tahun 1902 Theological Quarterly, A. L. Graebner menyatakan bahwa sinode itu tidak mempunyai posisi doktrinal terhadap geosentrisme, heliosentrisme, atau model ilmiah lainnya, kecuali kalau itu bertolak belakang dengan Alkitab. Ia menyatakan pula bahwa deklarasi apapun yang dikemukakan para penganut geosentrisme di dalam sinode bukan merupakan pendapat badan gereja secara keseluruhan.[23]

Artikel-artikel yang mendukung geosentrisme sebagai pandangan Alkitab muncul pada sejumlah surat kabar sains penciptaan yang berhubungan dengan Creation Research Society. Umumnya menunjuk kepada beberapa nas Alkitab, yang secara harfiah mengindikasikan pergerakan harian Matahari dan Bulan yang dapat diamati mengelilingi Bumi, bukan karena rotasi Bumi pada aksisnya, misalnya pada Yosua 10:12 di mana Matahari dan Bulan dikatakan berhenti di langit, dan Mazmur 93:1 di mana dunia digambarkan tidak bergerak.[24] Para pendukung kontemporer kepercayaan agamawi itu termasuk Robert Sungenis (presiden dari Bellarmine Theological Forum dan pengarang buku terbitan tahun 2006 Galileo Was Wrong (Galileo keliru)).[25]

 Orang-orang ini mengajarkan pandangan bahwa pembacaan langsung Alkitab memuat kisah akurat bagaimana alam semesta diciptakan dan membutuhkan pandangan geosentrik. Kebanyakan organisasi kreasionis kontemporer menolak pandangan ini.[n 6]
Dari semuanya, Kopernikanisme merupakan kemenangan besar pertama sains atas agama, sehingga tidak dapat dihindari bahwa sejumlah orang berpikir semua yang salah dengan dunia ini bermula dari sana. (Steven Dutch dari University of Wisconsin–Madison) [27]



Pada tahun 1616, Galileo berpendapat bahwa bumi itu bulat, bukan datar seperti yang dipahami gereja pada waktu itu yang berdasarkan Kitab Suci Injil. Dalam karyanya Banding ke Grand Duchess, Galileo kokoh menyerang pengikut Aristoteles. 



Photo: Illustration showing Galileo in 1638 (Mary Evans Picture Library)


Dalam karyanya yang dialamatkan kepada Grand Duchess Christina dari Lorraine, ia mengkritik pernyataan dari Kitab Suci yang mengakatan bahwa bumi itu datar karena bertentangan dengan fakta fisis yang dapat dibuktikan dengan ilmu matematika. Dalam buku ini, Galileo cukup jelas menyatakan bahwa teori Copernican bukan hanya alat perhitungan matematika, tapi merupakan suatu kenyataan fisik : 

Saya berpendapat bahawa Matahari terletak di pusat dan tidak mengubah tempat, dan bahwa Bumi berputar pada dirinya sendiri dan bergerak di sekelilingnya. 
Persoalan tentang bumi itu bulat sebenarnya sudah diketahui oleh banyak orang sejak lama, bahkan ilmu astronomi kuno sudah mengetahuinya, yang mungkin juga dipengaruhi oleh filsuf Yunani, Pythagoras (570 SM), dan Aristoteles (427-247 SM) yang mengajarkan bahwa: “Every portion of the earth tends toward the center until by compression and convergence they form a sphere - Tiap-tiap bagian di bumi cenderung menuju ke arah pusat dan dengan tekanan dan pemusatan mereka membentuk suatu lapisan. (De caelo, 297a9-21).”

Akibat pandangannya yang disebut itu ia dianggap merusak iman dan diajukan ke pengadilan gereja Italia tanggal 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang bumi adalah bulat dan matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah datar dan bumi sebagai pusat alam semesta. Ia dihukum dengan pengucilan (tahanan rumah) sampai meninggalnya.





Daftar Pustaka

Ajram, K. The Miracle of Islamic Science. Cedar Rapids: Knowledge House Publishers, 1992. Print.

Dallal, Ahmad. Islam, Science, and the Challenge of History. New Haven & London: Yale University Press, 2010. Print.

Khan, Muhammad. The Muslim 100. Leicestershire, United Kingdom: Kube Publishing Ltd, 2008. Print.

Morgan, M. (2007). Lost History. Washington D.C. : National Geographic Society.

Diterjemahkan dari: http://lostislamichistory.com/al-biruni/

Read more http://kisahmuslim.com/5631-al-biruni-profil-ilmuan-muslim-yang-luar-biasa.html

 
Like us on Facebook