July 16, 2013

Alasan Kenapa Wajah Nabi Muhammad SAW Tidak Boleh Ditampakan, Divisualisasikan

Islam menyeru pada manusia untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan penyembahan selain Allah, baik itu kepada wali atau orang-orang shaleh lainnya dalam bentuk patung, gambar, kuburan, meyerupai manusia, mahluk gaib atau lainnya yang merupakan penyebab timbulnya kesyirikan atau meyekutukan ALLAH SWT dengan sesuatu.



Diantara salah satu pembahasan mengenai larangan membuat gambar bentuk yang bernyawa, baik manusia, binatang. Sekalipun burung. Adapun hadits yang menyatakan mengenai keharaman menggambar bentuk yang bernyawa, yaitu :

عن ابن عباسى قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من صور صورة في الدنيا يحلف يوم القيامة أن ينفخ فيها الروح وليس تنافخ. (رواه بحارى)

Artinya   :  “Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Barang siapa menggambar suatu bentuk yang bernyawa di dunia, maka dia akan dimintai meniupkan ruh kepada gambarnya tersebut pada hari kiamat, sedangkan dia tidak mampu untuk meniupkannya” (HR. Bukhari).

Hadits lain menyebutkan yang diriwayatkan oleh muslim bahwa seorang laki-laki mendatangi Ibnu Abbas, lalu berkata :

ورومسلم أن رجلا جاء ابن عباس فقال : إتبي أصور هذ فأفتن فيها فقال له : اد ن مني. فدنا منه. ثم أعادها, فد نا منه فوضع يده على رأسه فقال : أنبئك يما سمعت. سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : كل مصور في النار يجعل له بكل صورة صورها بفس فتعذ به في جهنم و قال : إن كنت لا بد فاعلا فاصنع الشجر وما لا نفس له.(روه مسلم)

Artinya   :“Bentuk gambar ini karena aku menyukainya. Maka Ibnu Abbas berkata kepadanya : “Mendekatlah kepdaku”. Lalu orang itupun mendekat kepadanya. Kemudian Ibnu Abbas mengulangi perkataannya sehingga orang tersebut mendekatinya. Lalu Ibnu Abbas meletakkan tangannya diatas kepala orang itu seraya berkata : “aku beri tahukan kepadamu apa yang pernah aku dengar, aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Setiap orang yang menggambar (bentuk bernyawa) akan dimasukkan ke dalam neraka dan dijadikan baginya untuk setiap gambarnya itu nyawa, lalu gambar itu akan menyksanya di dalam neraka jahanam”. Dan Ibnu Abbas berkata : “Bila engkau tetap hendak menggambar, maka gambarlah pohon dan sesuatu yang tidak bernyawa”


Sebenernya Untuk seni rupa sendiri di Islam merupakan suatu ibadah bagi pemeluknya. untuk bermunajah, mengagumi ciptaannya. ini dapat dilihat dengan majunya arsitek-arsitek, kaligrafi, bahkan lukisan sekali pun. karena dalam sejarah Islam sendiri telah banyak melahirkan pelukis-pelukis terkenal bahkan sampai saat ini. seperti Basuki Abdullah sendiri yg kita cintai....\


Hadis riwayat muslim mengenai larangan menggambar:
عن بسر بن سعيد عن زيد بن خا لد عن ابي طلحه صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ان الملا ئكة لا تدخل بيتا فيه صورة (رواه مسلم)

Dari bisri bin said dari zaid bin Khalid dari abu talhah sahabat nabi, bahwa rasulullah bersabda: sesungguhnya malaikat tidak akan masuk rumah yang didalamnya terdapat gambar (riwayat muslim)


Jadi, berdasarkan hadits diatas bahwa menggambar nabi Muhammad merupakan keharaman (tidak diperbolehkan) karena merupakan bentuk manusia yang bernyawa. Hal ini diharamkan karena dikhawatirkan timbul kesyirikan. Seperti zaman Jahiliyah, banyak sekali gambar bahkan sampai diagungkan dan diibadahi.
Perkataan ulama mengenai keharaman gambar :
  1. Al-Hafidz mengatakan : kata Al-Khaththabi : dan gambar yang menghalangi masuknya (malaikat) ke dalam rumah adalah gambar yang padanya terpenuhi hal-hal yang haram, yakni gambar-gambar yang bernyawa yang tidak terpotong kepalanya atau tidak di hinakan, dan bahwasannya dosa tukang gambar itu besar, karena gambar-gambar itu ada yang diibadahi.
  2. Imam An-Nawawi mengatakan (dalam syarah Muslim) : sahabat-sahabat kami dan para ulama selain mereka mengatakan bahwa haramnya membuat gambar hewan adalah sekeras-keras pengharaman. Ini termasuk dosa besar karena ancamannya juga amat besar, sama saja apakah dibuat untuk dihinakan atau tidak. Bahkan membuatnya jelas sekali haram karena meniru ciptaab Allah. Sama saja apakah itu di lukis pada pakaian, permadani, mata uang, dinding atau lainnya. Adapun menggambar pepohonan dan sesuatu yang tidak bernyawa, tidak diharamkan, inilah hakikat hukum menggambar.
Adapun bentuk-bentuk gambar yang diperbolehkan
Selain bentuk gambar yang dilarang, adapula bentuk gambar yang diperbolehkan diantaranya, yaitu :
  1. Diperbolehkan membuat gambar berbentuk pohon, binatang, bulan, gunung, batu, laut, sungai, pemandangan indah dan tempat-tempat suci seperti Ka’bah, kota Madinah, Masjidil Aqsha dan masjid-masjid lain. Semua itu dengan catatan, tidak disertai dengan gambar manusia, binatang atau lainnya yang memiliki nyawa.
  2. Potret-potret yang ditempelkan di dalam KTP, Paspor, SIM dan sebagainya, karena hal-hal tersebut merupakan hal yang digharuskan dan terpaksa. Jadi, dibolehkannya karena kepentingan dan keterpaksaan.
  3. Memotret para penjahat, misalnya pembunuh, pencuri dan lainnya untuk memudahkan pelacakan dan penangkapan, sehingga selanjutnya bisa dilakukan qishash atasnya, demikian pula kebutuhan pemotretan dalam ilmu kedokteran atau ilmu lainnya.
  4. Dibolehkan gambar untuk mainan anak-anak, yang dimaksud gambar anak-anak yaitu sepert : boneka pengantin dan sebagainya.
Karena bentuk gambar yang tidak bernyawa seperti yang diuraikan diatas, maka diperbolehkan untuk menggambarnya.
Ummu Salamah dan Ummu Habibah radhiyallahu‘anhuma pernah mendatangi negeri Habasyah, mereka menyebutkan tentang kebagusannya dan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka beliau pun mengangkat kepalanya, lalu bersabda :
“Itulah orang-orang yang bila ada orang sholih di antara mereka yang mati, mereka membangun masjid di atas kuburannya kemudian membuat gambar-gambarnya. Itulah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.” ( HR. Ahmad dan Al-Bukhari )


kenapa Nabi Muhammad SalallahualaihiWasalam. melarang umatnya melukis sosok beliau???

Manusia yang paling suci dan yang paling mulia ini menampakkan sifat-sifat yang luar biasa, bahkan semenjak masih kanak-kanak. Kendatipun masih dalam usia muda, beliau lemah lembut dan sabar, cinta akan kedamaian dan kesunyian. Dialah Muhammad.

Nabi Muhammad SAW adalah penghulu segenap makhluk yang paling dicintai oleh Allah SWT, yang paling mulia, rahmat bagi semesta alam, manusia yang paling suci dan penyempurna revolusi zaman.

Muhammad telah dipilih menjadi Rasul dan diuji oleh Tuhan, dibentuk dan disempurnakan, baru kemudian diutus untuk memperbaiki dan membangun suatu masyarakat manusia menurut kehendak Tuhan. baik lahir maupun batin.

Nabi adalah manusia yang paling sempurna, sebagaimana dikatakan dalam salah satu syair Arab sebagai “permata diantara bebatuan”. Karena itu, tidak seorang pun yang bisa melukiskan atau menggambarkan sosoknya karena kesucian dan kesempurnaannya. Keharaman menggambar wajah nabi SAW justru merupakan bukti otentik betapa Islam sangat menjaga ashalah (originalitas) sumber ajarannya.

Larangan melukis Nabi Muhammad Saw adalah keharusan menjaga kemurnian aqidah kaum muslimin. Sebagaimana sejarah permulaan timbulnya paganisme atau penyembahan kepada berhala adalah dibuatnya lukisan orang-orang sholih, yaitu Wadd, Suwa’, Yaguts, Ya’uq dan Nasr oleh kaum Nabi Nuh As.

Memang pada awal kejadian, lukisan tersebut hanya sekedar digunakan untuk mengenang kesholihan mereka dan belum disembah. Tetapi setelah generasi ini musnah, muncul generasi berikutnya yang tidak mengerti tentang maksud dari generasi sebelumnya membuat gambar-gambar tersebut, kemudian syetan menggoda mereka agar menyembah gambar-gambar dan patung-patung orang sholih tersebut.

Melukis Nabi Saw dilarang  karena bisa membuka pintu paganisme atau berhalaisme baru, padahal Islam adalah agama yang paling anti dengan berhala.

Dalam hadits Rasulullah bersabda:
 “Janganlah kalian menyanjungku berlebihan sebagaimana orang-orang Nashrani menyanjung Putera Maryam, karena aku hanya hamba-Nya dan Rasul utusan-Nya.” 
 ( HR. Ahmad dan Al-Bukhori).

Itulah sebab utama kenapa umat Islam bersikeras melarang melukis, menampilkan, memvisualisasikan Rasulullah, yaitu dalam rangka menjaga kemurnian aqidah tauhid.

Dengan tidak dilukisnya Rasulullah, maka tidak mungkin seseorang yang kafir atau fasiq mampu membuat gambaran wajah Rasulullah, karena hanya orang-orang yang benar imannya saja yang bisa melihat beliau.

“Barangsiapa melihatku di dalam mimpinya, sesungguhnya dia benar-benar melihatku, karena syetan tidak mungkin menyerupai bentukku.” 
 (HR.Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud Ibnu Majah dan Ahmad).

Bila demikian keadaannya maka tidak mungkin seorang fasiq apalagi kafir bisa tahu wajah Rasulullah. Andai mereka bermimpi suatu sosok manusia yang mengaku-aku sebagai Muhammad Saw maka dapat dipastikan bahwa sosok itu adalah setan. Karena meski tidak mungkin menyerupai bentuk Rasulullah, tetapi setan bisa saja mengaku-aku sebagai Rasulullah.

Lalu bagaimana kita mengetahui kalau sosok yang mengaku Rasulullah di dalam mimpi kita adalah benar-benar asli Rasulullah? Caranya mencocokkan dengan hadits-hadits syamail yang shohih, yaitu hadits-hadits yang bertutur tentang ciri-ciri Rasulullah.

Adapun karikatur yang digambar oleh orang-orang kafir dan munafiq dan bahkan difilmkan atau divisualkan (seperti yang dilakukan Sutradara Sam Bcile) adalah kebohongan, karena bagaimana mungkin mereka bisa menggambar wajah Rasulullah, sedangkan untuk melihatnya saja mereka tidak mungkin bisa.

Keharaman untuk menggambar Nabi Muhammad SAW dan juga nabi-nabi yang lain, oleh para ulama ditetapkan berdasarkan kemustahilan untuk memastikan bahwa gambar itu benar-benar yang sebenarnya. Mengingat tidak ada satu orang pun orang di dunia ini yang tahu wajah para nabi.

Dan perbuatan berbohong atas apa yang dibawa kaum kafir terhadap nabi merupakan dosa yang amat serius. Ancamannya tidak tanggung-tanggung, yaitu kedudukan di dalam neraka.
 “Siapa yang berbohong tentang aku secara sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempatnya di neraka”. (HR Bukhari Muslim).

Diriwayatkan, Rasulullah Saw bersama Abu Bakar RA, Amir bin Fahira dan seorang penunjuk jalan bernama Abdullah bin Uraiqith bergegas meninggalkan Makkah menuju Madinah.

Tanpa perbekalan yang memadai, Rasulullah berangkat menuju Madinah. Sebuah perjalanan yang tak mudah dan tak juga ringan.

Di tengah perjalanan menuju kota Madinah, rombongan Rasulullah melewati sebuah kemah milik seorang wanita tua bernama UMMU MA’BAD di wilayah Qudaid–antara Makkah dan Madinah. Saat itu, Ummu Ma’bad sedang duduk di dekat kemahnya. Lantaran perbekalan yang minim, rombongan Rasulullah pun singgah ke kemah Ummu Ma’bad.

Rasulullah dan sahabatnya ingin membeli daging dan kurma dari Ummu Ma’bad. Namun, mereka tidak mendapatkan apa-apa. Saat itu, wilayah Qudaid sedang didera musim paceklik. Lalu Rasulullah melihat seekor kambing yang ada di dekat kemah Ummu Ma’bad.

Rasulullah pun bertanya, “Kambing betina siapa ini wahai Ummu Ma’bad?”

Ummu Ma’bad menjawab, “kambing betina tua yang sudah ditinggalkan oleh kambing jantan.”

Rasulullah kembali bertanya, “Apakah ia masih mengeluarkan air susu?”

Ummu Ma’bad menjawab, “Bahkan ia tak mengandung air susu sama sekali.”

Lalu Rasulullah meminta izin, “Bolehkah aku memerah air susunya?”

Ummu Ma’bad menjawab, “Jika engkau merasa bisa memerahnya, maka silahkan lakukan.”

Nabi Muhammad SAW pun mengambil kambing tersebut dan tangannya mengusap kantong susunya dengan menyebut nama Allah dan mendo’akan Ummu Ma’bad pada kambingnya tersebut.

Tiba-tiba kambing itu membuka kedua kakinya dan keluarlah air susu dengan derasnya. Kemudian Rasulullah meminta sebuah wadah yang besar lalu beliau memerasnya sehingga penuh. Beliau memberi minum kepada Ummu Ma’bad hingga ia puas, lalu beliau memberi minum rombongannya hingga mereka pun puas.

Dan beliau adalah orang yang terakhir minum. Beliau kemudian memerah susu untuk kedua kalinya hingga wadah tersebut kembali penuh, lalu susu itu ditinggalkan di tempat Ummu Ma’bad dan beliau pun membai’atnya. Setelah itu rombongan pun berlalu.

Tak lama, datanglah suami Ummu Ma’bad dengan menggiring kambing yang kurus kering, berjalan sempoyongan karena lemahnya. Setelah melihat susu, ia bertanya keheranan, “Darimana air susu ini wahai Ummu Ma’bad? padahal kambing ini sudah lama tidak hamil dan kita pun tidak memiliki persediaan susu di rumah?”

Ummu Ma’bad menjawab, “Demi Allah, bukan karena itu semua. Sesungguhnya seseorang yang penuh berkah telah melewati (rumah kita), sifatnya begini dan begitu.” Abu Ma’bad berkata, “Ceritakanlah kepadaku tentangnya wahai Ummu Ma’bad.”

Ummu Ma’bad bertutur: “Aku melihat seorang yang tawadhu (rendah hati). Wajahnya bersinar berkilauan, baik budi pekertinya, dengan badannya yang tegap, indah dengan bentuk kepala yang pas sesuai bentuk tubuhnya. Ia adalah seorang yang berwajah sangat tampan. Matanya elok, hitam dan lebar, dengan alis dan bulu mata lebat nan halus. Suaranya bergema indah berwibawa, panjang lehernya ideal, jenggotnya tumbuh tebal dan sangat kontras lagi sesuai warna rambutnya yang rapi, rata pinggir-pinggirnya. Antara rambut dan jenggotnya bersambung rapi.

Jika ia diam, nampaklah kewibawaannya. Jika ia berbicara nampaklah kehebatannya. Jika dilihat dari kejauhan, ia adalah orang yang paling bagus dan berwibawa. Jika dilihat dari dekat, ia adalah orang yang paling tampan, bicaranya gamblang, jelas, tidak banyak dan tidak pula sedikit. Nada bicaranya seperti untaian mutiara yang berguguran. Beliau berperawakan sedang, tidak tinggi dan tidak pula pendek. Ia bagaikan sebuah dahan di antara dua dahan. Diantara ketiga orang itu, penampilannya paling bagus dan kedudukannya paling tinggi. Ia memiliki banyak teman yang mengelilinginya. Jika ia berbicara, maka yang lain pun mendengarkannya. Jika ia memerintah, maka mereka segera melaksanakannya. Ia adalah orang yang ditaati, tidak cemberut dan bicaranya tidak sembarangan.”

Abu Ma’bad berkata, “Demi Allah, ia adalah seorang dari Quraisy yang sedang diperbincangkan di kalangan kami di kota Makkah. Aku ingin menjadi sahabatnya. Sungguh aku akan melakukannya jika aku bisa menemukan jalan untuk mendapatkannya.”

Sungguh terperinci wajah dan sifat Rasulullah yang dituturkan Ummu Ma’bad. Kisah Ummu Ma’bad sangat masyhur, diriwayatkan dari banyak jalan yang saling menguatkan satu dengan lainnya.

Sementara dari sahabat Ali ra diriwayatkan: “Beliau bukan orang yang terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek, orang yang perawakannya sedang-sedang, rambutnya tidak kaku dan tidak pula keriting, rambutnya lebat, tidak gemuk dan tidak kurus, wajahnya sedikit bulat, kedua matanya sangat hitam, bulu matanya panjang, persendian-persendiannya yang pokok besar, bahunya bidang, bulu dadanya lembut, tidak ada bulu-bulu di badan. Telapak tangan dan kakinya tebal, jika berjalan seakan-akan sedang berjalan di jalanan yang menurun, jika menoleh seluruh badannya ikut menoleh, di antara kedua bahunya ada cincin nubuwah, yaitu cincin para nabi, telapak tangannya yang terbagus, dadanya yang paling bidang, yang paling jujur bicaranya, yang paling memenuhi perlindungan, yang paling lembut perangainya, yang paling mulia pergaulannya, siapa pun yang tiba-tiba memandangnya tentu enggan kepadanya, siapa yang bergaul dengannya tentu akan mencintainya.”

Kemudian Ali menambahkan, “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti beliau, sebelum maupun sesudahnya.”

Saat Nabi Muhammad SAW hidup, tidak ada seorang pun yang pernah melukis wajahnya, dan juga kamera foto belum lagi ditemukan.

Jadi itulah sebenarnya duduk masalahnya. Dan dengan masalah itu sebenarnya kita harus bangga. Sebab keharaman menggambar wajah, menerupakan atau membentuk patung nabi SAW justru merupakan bukti otentik betapa Islam sangat menjaga ashalah (originalitas) sumber ajarannya.

Larangan melukis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait dengan keharusan menjaga kemurnian ‘aqidah kaum muslimin. Sebagaimana sejarah permulaan timbulnya paganisme atau penyembahan kepada berhala adalah dibuatnya lukisan orang-orang sholih, yaitu Wadd, Suwa’, Yaguts, Ya’uq dan Nasr oleh kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam. Memang pada awal kejadian, lukisan tersebut hanya sekedar digunakan untuk mengenang kesholihan mereka dan belum disembah. Tetapi setelah generasi ini musnah, muncul generasi berikutnya yang tidak mengerti tentang maksud dari generasi sebelumnya membuat gambar-gambar tersebut, kemudian syetan menggoda mereka agar menyembah gambar-gambar dan patung-patung orang sholih tersebut.

Melukis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dilarang karena bisa membuka pintu paganisme atau berhalaisme baru, yang akan menyembah, memuja makam/sosok beliau, padahal Islam adalah agama yang paling anti dengan menyembah berhala, patung, lukisan dan benda mati lainnya


Oleh sebab itu lah, mengapa Rosulullah Muhammad Salallahualaihi Wasalam melarang umatnya melukis, membuat patunng dan rupanya yg menawan dan mulia itu. walaupun para sahabat dan pengikut beliau begitu mencintai dan mendambakan beliau. bahkan ketika beliau akan wafat beliau masih mengingatkan mereka.
maka sampai saat ini pun umat Islam yang diRahmati oleh Allah Subhanahui Wala'ala tak ada satupun yang men-Tuhankan beliau rasul kami tercinta.

Demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela kelakuan orang-orang ahli kitab yang mengkultuskan orang-orang sholih mereka dengan membuat gambar-gambarnya agar dikagumi lalu dipuja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyerupai mereka :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.” ( HR. Abu Dawud )

Penggambaran diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan membuka peluang untuk perbuatan penistaan terhadap pribadi beliau. 
Sebagaimana seseorang yang benci kepada orang lain, namun karena tidak mampu melampiaskan kebenciannya secara langsung, mereka lantas membuat serentetan penistaan terhadap gambar atau foto orang yang dia benci. Apakah akan dia ludahi atau dia injak-injak atau dia sobek-sobek atau dia bakar atau
dibikin ka rikatur yang bernuansa pelecahan, dan sebagainya.
Salah satu alasan kenapa Tuhan menurunkan Nabi dan Rasul dalam sosok seorang Manusia adalah supaya Manusia bisa mengikuti sifat baiknya.

Hal tersebut karena jika Tuhan menurunkan Nabi dan Rasul dalam sosok Malaikat, tentunya manusia tidak bisa mengikutinya.

Perlu dicatat juga bahwa, ketika ada orang memiliki sifat baik yang sama seperti Nabi dan Rasul, bukan berarti secara otomatis orang tersebut dianggap sama dengan Nabi dan Rasul.

Jika kita membaca sejarah Nabi Muhammad S.A.W, salah satu teladan yang seharusnya diikuti oleh para pejabat dan penguasa serta politisi kita yaitu kesederhanaan Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW dalam catatan sejarah terbukti menjadi pedagang yang sukses kala itu. Terlebih saat Nabi Muhammad SAW menikah dengan Sayidah Khadijah, seorang pengusaha yang kaya raya, saat itu menjadikan Nabi Muhammad SAW menjadi pengusaha yang kaya raya.

Tapi coba lihat, Kekayaanya yang begitu besar hampir semuanya dibelanjakan untuk Bangsa dan Negaranya serta untuk Agama dan Umatnya. Sedangkan Nabi Muhammad SAW sendiri dalam tidurnya hanya menggunakan anyaman pelepah daun kurma.

Tidak hanya soal papan tidurnya, dalam memakan Nabi Muhammad SAW juga sangat sederhana.

Nabi Muhammad SAW juga berkali-kali menekankan kepada Umatnya khususnya yang menjadi pemimpin dan khalifah supaya mengutamakan rakyatnya. Jangan sampai disaat masih ada rakyat yang kelaparan tapi pemimpinya justru hidup bergelimang harta.

Semua itu sangat ditekankan karena seorang pemimpin, di akherat nanti pastinya akan dimintai pertanggungjawabanya selama menjadi pemimpin.

Apa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW tersebut juga diikuti oleh keempat Sahabat terbaik beliau yang selalu hidup sederhana. Mereka itu adalah Abu Bakar RA, Umar bin Khattab RA, Usman bin Affan RA, dan Ali bin Abi Thalib KWH.

Keempat penerus Khalifah tersebut mewarisi gaya hidup kesederhanaan Nabi Muhammad SAW. Bukan karena mereka miskin, para khalifah tersebut juga terkenal sebagai pengusaha  yang sukses tapi mereka tetap hidup sederhana.

KARENA,DI DALAM AL-QUR'AN DI JELASKAN :
BARANG SIAPA YANG MENGGAMBAR WAJAHNYA NABI MUHAMMAD / NABI UTUSAN ALLAH LAINNYA, KELAK DI AKHIRAT DIA AKAN DI SURUH MENIUP ROHNYA SENDIRI. DAN NABI MUHAMMAD ITU MEMANG TIDAK BOLEH DI GAMBAR, DAN BARANG SIAPA BERANI MENGGAMBAR NABI MUHAMMAD, ALLAH SWT AKAN MENURUNKAN AZAB/SIKSAAN PEDIH BAIK SAAT DI DUNIA MAUPUN DI AKHIRAT NANTI.


Semua para Nabi dan Rasul tidak boleh digambarkan dalam bentuk patung, lukisan, dan lainnya
karena sifat manusia yg akan membuatnya menyembah, berdoa pada sosok tersebut.

Sangat mudah jika para ilmuwan & seniman Islam terdahulu ingin menggambar
ketahuilah betapa rumitnya membuat arsitektur bangunan maupun susunan kaligrafi ?
Namun Allah SWT melarang yang demikian



Cukuplah kita sebagai umat muslim meneladani beliau, dan mengamalkan segala perilaku beliau agar kita bisa selamat di dunia maupun akhirat kelak, dan agar dijauhkan dari siksa alam kubur, padang mahsyar dan juga panas serta mendidihnya api neraka,,,  
Aamiin..


 http://i752.photobucket.com/albums/xx164/electronicsolutions/Square-AllahMuhammud.jpg



Wallahu a’lam bishshawab, 
wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,..




references by berbagai sumber

 
Like us on Facebook