May 23, 2016

Tips Cara Agar Shaum Puasa Ramadhan Berkualitas

Shaum Ramadhan itu wajib bagi setiap muslim/muslimah yang baligh (dewasa), berakal, dalam keadaan sehat, dan dalam keadaan mukim (tidak melakukan safar/perjalanan jauh) dan juga tidak dalam melanggar hukum yang dibenarkan untuk tidak melaksanakannya.

Peringatan & Ancaman Kelak Di Kehidupan Setelah Mati bagi Orang yang Sengaja Membatalkan Puasa/ Tidak Shaum Di Bulan Ramadhan
Pada zaman ini kita sering melihat banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan kewajiban yang agung ini. Jika kita lihat di bulan Ramadhan di jalan-jalan ataupun tempat-tempat umum, banyak orang yang mengaku muslim tidak melakukan kewajiban ini atau sengaja membatalkannya. Mereka malah terang-terangan makan dan minum di tengah-tengah saudara mereka yang sedang berpuasa tanpa merasa berdosa sama sekali. Padahal mereka adalah orang-orang yang diwajibkan untuk berpuasa dan tidak punya halangan sama sekali. 

dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu. Beliau (Abu Umamah) menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata,”Naiklah”. Lalu kukatakan,”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu  aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.”
Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.”
(HR. An Nasa’i dalam Al Kubra, sanadnya shahih. Lihat Shifat Shaum Nabi, hal. 25). 

Jadi siapa saja yang menyengaja tidak berpuasa/shaum pada bulan Ramadhan.
tanpa ada alasan yang dibenarkan oleh aturan Allah SWT,
maka siapkanlah dirimu merasakan percikan api menyentuh tubuhnu dari atas kepala kelak juga menempati Neraka .

Karena meninggalkan Shaum Ramadhan masuk kedalam Dosa Besar.

Puasa yang sia-sia adalah puasa yang tidak menghasilkan (pahala) apapun selain lapar, dahaga dan kepayahan. Sayangnya, justru puasa jenis inilah yang dilakukan oleh kebanyakan umat Islam, sebagaimana diisyaratkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw., 
“Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apapun dari puasanya itu selain lapar dan dahaga saja.” (HR ath-Thabrani).

Perkara apa saja yang bisa merusak atau membatalkan pahala puasa? Semua kemaksiatan atau dosa, kecil apalagi besar, hakikatnya bisa merusak atau membatalkan pahala puasa. 

Pertama: dosa mata. Banyak Muslim yang berpuasa, tetapi dia tidak bisa menahan diri dari memandang perkara yang haram. Contohnya adalah memandang aurat wanita yang bukan mahram, melihat gambar-gambar porno, dll. Puasa orang seperti ini tentu akan rusak, bahkan pahala puasanya bisa hilang tak berbekas. Ini karena menjaga pandangan dari perkara-perkara yang haram adalah wajib (Lihat: QS an-Nur [24]: 30-31).

Kedua: dosa lisan. Puasanya seorang Muslim yang tidak dibarengi dengan menahan diri dari membicarakan keburukan orang lain (ghibah) juga akan rusak, bahkan tidak akan mendatangkan pahala apapun. Demikian pula kata-kata kotor/jorok dan keji seperti menyebar tuduhan palsu dll; akan merusak puasa atau membatalkan pahala puasa. Ini sebagaimana sabda Nabi SAW,  “Puasa itu adalah perisai. Karena itu jika salah seorang kalian berpuasa, janganlah ia berkata-kata kotor/jorok dan berdusta.” (HR Ahmad).

Rasulullah SAW juga bersabda, “Siapa saja yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan lapar dan haus yang dia tahan.” (HR al-Bukhari).
Rasulullah SAW pun bersabda, “Puasa itu bukan hanya menahan makan dan minum saja, tetapi juga menahan diri dari perkataan sia-sia dan jorok.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim).

Ketiga: dosa telinga. Contohnya adalah mendengarkan kata-kata kotor/jorok, mendengarkan keburukan-keburukan orang lain, bahkan sekadar mendengarkan lagu-lagu yang penuh dengan syair-syair yang mempropagandakan kemaksiatan, dll. Semua itu bisa merusak puasa atau membatalkan pahala puasa.

Keempat: dosa tangan. Contohnya adalah menyentuh, merangkul atau bahkan memeluk wanita yang bukan mahram; memukul, mendzholimi orang lain tanpa alasan yang haq; mencuri; dll.

Kelima: dosa kaki. Contohnya adalah berjalan-jalan, berpergian ke tempat-tempat yang memungkinkan dirinya terjerumus ke dalam dosa, seperti tempat-tempat hiburan atau keramaian di mana banyak wanita yang membuka aurat, berpakaian ketat/minim berlalu-lalang, tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya ikhtilath (campur-baur laki-laki perempuan), dll.

Keenam: dosa anggota tubuh lainnya. Tentu, ini mencakup semua perilaku yang bisa mendatangkan dosa. Contohnya adalah membuka aurat meski sekadar memperlihatkan selembar rambutnya, ber-khalwat atau ber-ikhtilath, melakukan transaksi ribawi, suap-menyuap, korupsi, melakukan dosa besar seperti zina atau membunuh, menzalimi orang lain (menyakiti tubuhnya, merampas hartanya, menodai kehormatannya, dll). 

Terkait dengan semua ini, Ibnu Rajab al-Hanbali bertutur, “Ketahuilah, amalan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT  dengan meninggalkan berbagai syahwat yang halal di luar Ramadhan (seperti makan/minum atau berhubungan suami-istri, pen) tidak akan sempurna hingga seseorang meninggalkan perkara yang Allah SWT larang yaitu berdusta, bertindak zalim serta bermusuhan dengan sesama manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan.” (Latha’if al-Ma’arif, 1/168).

Jabir bin ‘Abdillah juga bertutur, “Jika kamu berpuasa, hendaklah pendengaran, penglihatan dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram. Janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari-hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Lihat: Latha’if al-Ma’arif, 1/168).

Alhasil, agar puasa kita tak sia-sia, marilah kita meninggalkan perkara-perkara yang haram, syubhat maupun hal-hal yang tak berguna. 



Meminimalisir Agar Pahala Puasa Shaum Ramadhan kamu Aman 


Unlike/Unfollow Akun Sosial Media

Lakukan hal tersebut jika akun/teman tersebut seperti kamu ketahui selalu/kadang menampilkan, memposting, men-share, link, gambar/foto seksi, berita adu domba, berita vulgar atau berita mesum ataupun menggunjing orang lain tanpa alasan syar'i.

Karena akan mengurangi dan menghilangkan nilai pahala shaum.



Jangan Nyalakan TV

Biasanya acara, iklan, ataupun sinetron kadang ada yang menampilahn wanita seksi atau malah menjadi acara ajang bergunjing, dan obrolan yang cendeung bisa engurangi nila pahala bahkan menghanguskan tanpa disadari. Karena Televisi saat ini Cenderung di iklan, sinetron, film nya cenderung menmpilkan wanita yang berpakaian minim. Hal tersebut tentu akan membuat shaum ramadhan sia-saia belaka.



Hindari/Kurangi Membaca Majalah/ Situs Web/Blog

Kurangi melakukan pencarian gambar atau mengunjungi sistu web yang biasanya terdapat iklan ataupun berita-berita menggunjing artis, konten mesum, pornografi ataupun. hal lainnya yang mengundang dosa mata baik sengaja ataupun tidak.


Hindari Jalan-Jalan Ngabuburit Ke Tempat Umum Yang Terlalu Ramai

Biasanya akan banyak remaja-remaja, atau ibu-ibu yang berpakaian sesuka hatinya, atau malah melakukan hal-hal lainnya yg bisa membatalkan sahum tanpa disadaari, agar meminimalisir hal tersebut sebaiknya keluar rumah seperlunya saja

Hindari Berkomentar Yang Tidak Perlu

Dijaman sekarang ini, dosa lisan mungkin berpindah/dilampiaskan ke dunia maya
Nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim yang baik adalah yang membuat kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang yang benar-benar berhijrah adalah yang meninggalkan segala perkara yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman [10])
Dari Abu Musa radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa para Sahabat bertanya kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah! Islam manakah yang lebih utama?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang membuat kaum muslimin yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman [11] dan Muslim dalam Kitab al-Iman [42])

BerBuka Bersama

Usahakan berbuka bersama dengan cara yang berkah, bukan melalikan, tidak sedikit acara berbuka bersama yang menginggalkan shalat wajib seperti ashar, maghrib atau Isya. Juga tidak sedikit yang sambil menunggu melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat saat menunggu di tempat berbuka bersama atau mengobrol cenderung mengarahkan bergunjing.
Lebih baik pikirkan ulang jika ingin berbuka bersama atau rancang buka bersama yang mendeketkan ketaatan /mendekat kepada Allah SWT atau bermanfaat bagi sekitar seperti membuat acara/mengundang anak yatim lalu diajak shalat tarawih bersama. Tanpa melalikan shalat,wajib/tarawih apalagi malah acara bbuka bersama menjadi sarana maksiat mata, mulut atau hati.

Pacaran Sambil Ngabuburit ?

Shaum/ Ngabuburit sambil pacaran itu Ibarat Berzina sambil berdzikir/tilawah quran, naudzubillah min dzalik.. Menggabungkan perintah Allah SWT dan perintah Iblis..
Tidak ada Pacaran/berjalan, berdua dengan yang bukan mahram, apalagi sampai bersentuhan tangan/anggota badan. sudah tentu akan dicatat malaikat sebagai dosa besar. Hal tersebut Ibarat shalat wajib tanpa wudhu. Pertama menghilangkan pahala ramadhan, kedua mendatakan dosa berkhalwat. dan Zina masuk kedalam salah satu daftar dosa besar. Ketiga semua amalan mungkin tidak akan dinilai atau hangus !! dan menambah saldo dosa yang kelak harus kamu bayar di akhirat.

Jangan heran kalau saat ini Indonesia darurat Moral & akhlak, banyak sekali berita pembunuhan, pemerkosaan berawal dari mendekati zina. Di antara jalan zina yang berusaha ditutup oleh ‪#‎Islam‬ adalah Khalwat. menyendirinya/BERDUA-DUAAN seorang laki-laki dengan wanita yang bukan istri dan mahramnya di tempat sepi maupun umum.
Tidak boleh seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahramnya, dan tidak boleh seorang wanita bersafar kecuali bersama mahramnya” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341).

Hindari Teman Yang Nongkorong Di Pinggir Jalan Saat Shalat Tarawih

Jika saat berangkat atau saat pulang shalat tarawih melihat sekumpulan remaja entah pria atau wanita, padahal jarak dengan masjid tidak begitu jauh dan kamu ttau dia beragama Islam, sudah dipastikan ia bukan seseorang calon Istri/Suami yang baik.
Bagaimana bisa ia menjaga anak-istri, keluarga nya dari kekalnya api neraka ? sementara menjaga dirinya senidir saja tidak bisa?


Hindari menjadi pemicu seseorang berbuat dosa, kejahatan, atau maksiat (mata, mulut, dan anggota tubuh lainnya)

Taukah kamu ? Diantara sumber dosa jariyah (yang akanterus mengalir) yang telah diperingatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Pertama, mempelopori perbuatan maksiat. Mempelopori dalam arti dia melakukan perbuatan maksiat itu di hadapan orang lain, sehingga banyak orang yang mengikutinya. Meskipun dia sendiri tidak mengajak orang lain untuk mengikutinya. Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء
“Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).
Orang ini tidak mengajak lingkungan sekitarnya untuk melakukan maksiat, keburukan, perilaku/amal kejelelekan/kejahatan  yang sama. Orang ini juga tidak memotivasi orang lain untuk melakukan perbuatan dosa seperti yang dia lakukan. Namun orang ini melakukan maksiat itu di hadapan banyak orang, sehingga ada yang menirunya atau menyebarkannya.
Dalam hadits lain juga disebutkan,
وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌBarangsiapa yang memberi petunjuk pada kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 1017).
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengikutinya. Sedangkan barangsiapa yang memberi petunjuk pada kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosa seperti orang yang mengikutinya. Aliran pahala atau dosa tadi didapati baik yang memberi petunjuk pada kebaikan atau kesesatan tersebut yang mengawalinya atau ada yang sudah mencontoh sebelumnya. Begitu pula aliran pahala atau dosa tersebut didapati dari mengajarkan ilmu, ibadah, adab dan lainnya.”


dari itu semua adalah keinginan yang kuat dari seorang hamba terhadap kebaikan dan untuk memberi manfaat kepada sesama. Maka kapan saja seseorang ketika keinginan itu kuat, niat telah terpancang, dan azzam telah kokoh, lalu meminta pertolongan kepada Allah kemudian mendatangi urusan itu melalui pintunya, niscaya – dengan izin Allah – dia akan menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan.
Dan Allah akan menolong hamba dengan taufiq Nya, kemudian akan membukakan kebenaran kepada siapa saja yang dikehendaki Nya, dan dia adalah sebaik-baik pembuka pintu kebaikan.

Apa Ciri Diterimanya Amalan Pahala Ramadhan Seseorang ??
Ialah amalan dan juga ibadah yang berkelanjutan setelah Ramdahan berakhir..



Nanti diupdate lagi kalau ada inspirasi..






 
Like us on Facebook