Ternyata banyak anak muda yang tertarik menjadi hacker. Salah satu pemicunya adalah menjadi hacker saat ini jauh lebih mudah berkat ketersediaan layanan-layanan pendukung.
Diungkapkan Country Manager Trend Micro, Andreas Ananto Kagawa, untuk menjadi hacker saat ini tidak lagi harus mahir programming dan berbagai keahlian IT lainnya. Hal ini di antaranya karena sudah banyak layanan yang menyediakan exploit kit guna mempermudah mereka membuat malware.
"Sekarang menjadi hacker jauh lebih mudah daripada dahulu. Sekarang dia bisa berlangganan ke satu layanan, lalu membeli yang namanya exploit kit, dan dari sana mereka bisa membuat malware-malware baru," ungkap Andreas saat ditemui di Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (23/3/2016).
Anak-anak muda itu, katanya, tidak hanya sekedar membuat malware dan menyebarkannya. Bahkan mereka sudah bisa menghasilkan uang dari dunia maya.
"Pernah di Brasil kita berhasil ketahui dia masih pelajar, tapi sudah bisa menghasilkan uang dari situ," tuturnya.
Baca Artikel Lainnya
- Ridwan Kamil Difitnah Lisa Mariana Jadi Selingkuhannya
- Kronologi TNI Tembaki Polisi Lampung
- Jadwal Libur Panjang Idul Fitri 2025
- Sejak Kapan Gas Elpiji LPG 3KG Diberi Label Hanya Untuk Masyarakat Miskin?
- Data Angka Bunuh Diri Indonesia Terus Meningkat
- Jual KALI LINUX 2025
- Jasa Hack MyBCA di Dark Web, Modal Nomor Rekening dan Nama Pemilik
- Kembali Lagi, Bjorka Jual Jutaan Paspor WNI di Dark Web
- Ransomware LockBit Akui Berhasil Meretas Data Perusahaan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC)
- Mengenal Phising dan Scamming Yang Bisa Buat Saldo Berkurang dan Hilang
- Data Pengguna Nasabah Bank BSI Dijual Di Darkweb
- Bukalapak TutupLapak Karena Kalah Saing, Akankah Tokopedia Menyusul?
- Windows 10 Pensiun 2025, Bersiap Beli PC/Laptop Baru Untuk Windows 11
- Penyebab Jumlah Penonton Live Shopee Menurun?
- Penyebab Akun Ini Tidak Dapat Lagi Menggunakan Whatsapp Karena Spam
- Facebook Meta Ramai-Ramai Jadi "Lapangan Kerja Baru", Data Apa Yang Sebenarnya Mereka Kumpulkan?
Penemuan tersebut dinilai tidak lagi mengejutkan. Terlebih mengingat Brasil berdasarkan laporan Ikhtisar Keamanan 2015 "Setting the Stage: Landscape Shifts Dictate Future Threat Response Strategies" Trend Micro, merupakan salah satu negara dengan eksplorasi cyber "bawah tanah" terbanyak.
Sepanjang 2015, Tren Micro juga mencatat, kejahatan siber tidak lagi hanya terjadi pada industri perbankan atau keuangan. Kejahatan siber juga mulai merambah industri lain seperti layanan, kesehatan, pendidikan, ritel, teknologi, asuransi, media dan lainnya.
Data, lanjut Andreas, menjadi hal utama yang menjadi sorotan dan target pelaku kejahatan siber. Sepanjang tahun 2015, Trend Micro mencatat sejumlah peristiwa yang melibatkan kejahatan siber, seperti yang terpopuler yaitu Ashley Madison.
Tidak hanya pencurian data, serangan yang terjadi sepanjang 2015 juga menjadi ajang kembalinya ransomware. Setelah sempat hilang dari peredaran, Trend Micro menyebut, ransomware kini semakin berbahaya dan lebih canggih.
Selama 2015, Trend Micro juga mencatat peningkatan pasokan barang curian di seluruh sistem ekonomi bawah tanah yang dikendalikan penjahat siber. Sistem ekonomi ini disebut hadir dalam ranah yang sulit dijangkau mesin pencarian pada umumnya, atau dikenal dengan nama deep web.
Pada pasar perdagangan deep web yang berkembang, Trend Micro juga mencatat adanya komoditas dari sejumlah akun layanan streaming atau aplikasi populer lain. Komoditas ini, jelas Andreas, menjadi hal yang semakin diminati sehingga harga penawaran juga semakin tinggi.
references by liputan6, metrotvnews
