September 9, 2015

Dampak Negatif Kuteks / Pewarna Kuku

Kiteks atau pewarna kuku memang memang jauh dari muka tapi tetap bisa mempercantik penampilan wanita. Tak heran banyak yang gemar menggunakan pewarna kuku. Tapi, sebaiknya anda hati-hati, karena menurut Dr Thu Quach,  ahli epidemiologi dari Universitas Stanford dan Institut Pencegahan Kanker California, produk perawatan kuku mengandung racun dan bahan-bahan yang berpotensi bahaya. Tiga bahan yang terdapat dalam pewarna kuku, menurut Thu dikenal dengan sebutan toxic trio, yaitu: toulena, formaldehida (formalin), dan dibutil phthalate.



Seperti dilansir The Daily Mail, Thu mengatakan, paparan terhadap bahan-bahan kimia itu bisa merusak sistem syaraf, hormon dan terkait dengan penyakit degeneratif, di antaranya kanker dan gangguan kesuburan.Toluena adalah pelarut yang biasa digunakan untuk memberikan hasil yang halus pada kuku dan menjaga pigmen -warna- terpisah di dalam botol.
Namun bahan itu bisa mempengaruhi pusat sistem syaraf dan menyebabkan bahaya reproduksi. Bahan kimia itu biasanya digunakan sebagai bahan tambahan dalam bensin.

Formaldehida, karsinogen yang terkenal, digunakan sebagai agen pengeras kuku dan disinfektan untuk alat-alat perawatan kuku.Paparan terhadap dibutil phthalate yang ditambahkan pada kuteks dapat menampilkan fleksibilitas dan dikaitkan pada masalah kesuburan. "Para pekerja salon kecantikan kuku membayar harga sangat mahal untuk kesehatan mereka," kata Thu seperti dikutip Antara.

 Paparan terhadap produk perawatan kuku dengan bahan kimia berbahaya dapat menyebabkan sejumlah efek ksehatan, mulai dari iritasi kulit, cidera mata, dan reaksi alergi.Mereka juga mempunyai masalah berpikir dan ingatan, simptom syaraf, mual, masalah pernafasan, kanker, dan kontraksi otot yang tidak terkontrol sampai gangguan reproduksi dan proses perkembangan.

 Sejumlah riset, termasuk Institut Pencegahan Kanker California telah mendokumentasikan efek kesehatan akut pada para pekerja tersebut.Gejala akut itu antara lain meliputi sakit kepala, masalah pernafasan, dan iritasi kulit, umumnya diasosiasikan dengan terlalu banyak paparan pada zat pelarut yang digunakan pada produk-produk tersebut.

Penelitian juga menunjukan bahwa bekerja di salon memiliki masalah kesehatan reproduksi, termasuk kelahiran spontan, kelahiran prematur dan bayi yang lebih kecil juga termasuk komplikasi kehamilan.Paparan dan efek kesehatan sudah cukup bagi badan pemerintahan, termasuk Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) untuk berinvestasi pada penelitian dan jangkauan ke salon-salon.

 Meski riset tidak selalu memberikan jawaban pasti terhadap hubungan antara paparan dari tempat bekerja dan masalah kesehatan, namun apa anda berani mengabaikan begitu saja temuan Dr Thu Quach? 




references by gatra health

 
Like us on Facebook