August 13, 2017

Patricio Jimenez Mantan Bek Persib, Mualaf & Cinta Indonesia

Patricio Jimenez menyambangi kantor CNNIndonesia.com di Jakarta Selatan, merespons permintaan wawancara khusus dengannya. Mengenakan baju koko putih, Jimenez ikut berbuka puasa bersama kru CNNIndonesia.com, Selasa (6/6) sore lalu. Dia mengajak serta putra bungsunya, James Andrian.


Selepas berbuka dan menunaikan salat magrib, kami lantas berbincang-bincang tentang pengalamannya selama berkarier sebagai pesepakbola, dan kesibukannya kini.

Mantan pemain Semen Padang dan Persib Bandung itu memutuskan untuk menetap di Indonesia setelah tak lagi berkarier sebagai pesepak bola. Menikah dengan wanita berdarah Minang, 13 tahun lalu dan memiliki empat putra, pemain asal Chile itu merasa bagian dari negara ini.

Kesibukannya akhir-akhir ini pun tak lepas dari kerja sukarela membantu pengembangan sepak bola usia muda. Pato, sapaan akrabnya, menganggapnya sebagai proyek balas budi untuk sepak bola Indonesia.

Pato datang ke daerah-daerah di sekitar maupun luar Pulau Jawa, hanya dengan diongkosi panitia untuk memberikan konsultasi pembinaan sepak bola usia muda. Bayaran yang hanya sekadarnya itu bukan menjadi hal utama.

Urusan dapur, Pato mengaku masih memiliki pemasukan dari usaha kecil-kecilan di bidang jasa travel dan wiraswasta yang dikelola istri.

“Saya pernah hanya tidur di dalam lapangan indoor di Surabaya dan dikasih nasi kotak saja. Tapi saya tetap senang karena tujuan saya mengabdikan diri untuk sepak bola Indonesia,” ujar Pato.

Aksi Heboh Pato di Persib Bandung

Mungkin tak banyak yang mengenal pemain berambut gondrong ini. Sekadar mengingatkan, pria bernama lengkap Patricio Jimenez Diaz itu pernah bikin heboh sepak bola Indonesia.

Ya, hanya dia yang pernah melakukan aksi eksekusi penalti dengan menggunakan penutup mata. Tepatnya kala masih berkostum Persib pada musim 2006/2007, dia melakukan aksi eksentrik itu.

Saat itu Persib menjamu Persijap Jepara untuk merebut tiket 16 Besar Piala Indonesia 2007. Laga yang berakhir 0-0 itu dilanjutkan dengan adu penalti dan Pato mampu mengeksekusi penalti dengan penutup mata.


Aksi itu lah yang membuat namanya lebih banyak dikenal bersama Persib meski klub pertamanya di Indonesia adalah Semen Padang.

Tak banyak yang tahu pula, Pato rupanya langsung menemukan pencarian spiritual di negeri kepulauan ini. Tak perlu proses lama hingga bertahun-tahun baginya untuk hijrah menjadi mualaf.

Baru berseragam Kabau Sirah pada awal 2004, Islam langsung mencuri perhatian Pato. Tak lain dari kesan positif pria kelahiran Linares, Chile, itu terhadap keramahan dan keterbukaan orang-orang Indonesia, khususnya Sumatera Barat, yang membuatnya bersimpati.

Sebelum datang ke Indonesia, Pato tahu betul negara yang bakal kunjunginya kala itu berpenduduk mayoritas pemeluk Islam. Keramahan dan kebaikan orang-orang Indonesia yang ditemuinya itu, langsung diasosiasikannya dengan nilai-nilai islami.

Belajar Islam

Ia mengaku tak menemui banyak kesulitan belajar tentang islam.

“Semua seperti satu paket ketika belajar budaya tentang keterbukaan. Saya masuk Islam dengan sesuatu yang datang dari atas. Saya pertama kunjungi masjid sama teman-teman pemain saat itu saya jatuh cinta dengan agama (islam),” tutur Pato.

“Saya tidak pernah melihat di manapun lewat internet atau secara langsung, di mana orang masuk masjid itu pekerja desa, kemudian sebelahnya berdiri Kolonel TNI, lalu dokter, guru, orang yang minta sumbangan. Di dalam masjid, tidak ada perbedaan sama sekali, status sama. Itu sangat mulia, itu yang buat saya jatuh cinta sebenarnya.”

Sejak saat itu pula, Pato mulai terpikir untuk banyak mengenal Islam lebih mendalam.

“Saya katakan ke teman-teman: ‘Tolong bantu saya, saya mau (belajar Islam),’ Lalu saya mulai dikasih Iqra, baca: Alif, Ba, Ta, Tsa.”

“Jadi waktu kenal Novi (Angraini, sang istri), dengan kehadiran dia, wanita Minang yang Islam 100 persen di daerah itu sangat membantu. Dia tanya kepada saya apakah saya bisa membaca Alquran. Saya jawab bahwa saya tidak bisa sesempurna bacaan ustaz, tapi saya bisa sedikit-sedikit,” sambungnya.

Sedikit pula yang tahu, keinginannya menjadi mualaf kala itu tidak ada kaitannya dengan kepentingan menikahi gadis muslim asal Padang Panjang tersebut.

“Kebanyakan orang-orang masih berpikir kalau saya masuk islam karena menikah dengan Novi. Itu tidak benar sama sekali. Saya masuk Islam sekitar bulan Juni, sedangkan kenal dia (Novi) itu Oktober,” ujar Pato sembari tersenyum simpul.

Islam Membuka Hati Pato

Pato sendiri mengatakan sudah mengetahui macam-macam agama secara permukaan saja saat masih duduk di bangku sekolah dan kuliah di Chile.

“Jadi proses belajar budaya dan bagaimana saya melihat agama Islam itu sangat jauh jaraknya di Amerika Latin. Islam yang bisa membuka hati saya.”

Mantan pemain yang selalu memelihara rambut panjangnya itu mengaku ada perubahan besar setelah memeluk Islam.

“Perubahan terbesar terjadi di dalam ketenangan. Sebenarnya sebelum saya Islam, saya tidak terlalu (perhatian) dengan agama. Karena di Amerika Latin, agama bukan nomor satu,” ucap Pato.

Dia melanjutkan, baru mengenal agama setelah dirinya mempelajari Islam. Pato lantas mengakui perubahan yang sangat indah ketika memulai sesuatunya dari nol sebagai muslim.


Pato juga mengatakan, mendapatkan dukungan total dari kedua orang tuanya di Chile. “Saya waktu pertama kali pulang ke Chile sehabis proses pernikahan, saya membawa jilbab untuk ibu dan baju salat. Ibu orang katolik, tapi dia senang dengan hadiah tersebut dan memakainya,” ungkapnya sembari tertawa.

“Tidak ada satu orang ibu pun di dunia ini yang tidak bahagia melihat anaknya bahagia. Logikanya begitu. Di dalam agama atau perjalanan hidup seperti apapun, tetap orang tua bahagia kalau melihat anak bahagia. Jadi mereka di sana rukun saja, yang penting anaknya bahagia dan selalu berkomunikasi dengan keluarga. Itu yang penting.”

Pengalaman Pato Berpuasa

Memasuki bulan Ramadan ini, Pato mengatakan ingin tetap konsisten menjalankan ibadah, termasuk puasa setiap hari. Puasa tersebut sama seperti yang dilakukannya ketika kali pertama memeluk Islam pada 2004 silam.

“Saya tidak kaget lagi waktu harus puasa pertama kali. Apalagi di sekolah belajar bertahan hidup karena wajib militer selama dua tahun.”

“Jadi saya bisa bertahan tidak makan dua hari, tidak masalah dan tidak sakit. Bulan puasa setelah buka mungkin saya hanya makan buah satu apel, pisang, atau air putih. Selebihnya tidak usah makan,” tutur Pato, menambahkan.


Bahkan, Pato mengaku kerap berpuasa di luar bulan Ramadan, salah satunya agar doa dan cita-citanya memajukan sepak bola Indonesia bisa tercapai. (


"Saya jadi pemain pertama yang masuk rekor dunia karena mencetak gol penalti dengan mata tertutup di kompetisi resmi," katanya.


references by cnnindonesia
https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20170616154058-501-222291/pato-jimenez-antara-mualaf-persib-dan-indonesia/
https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20170711175912-501-227148/pato-berbagi-cerita-penalti-tutup-mata-di-persib/

 
Like us on Facebook