March 6, 2015

Operasi Utama AirAsia QZ8501 Oleh Basarnas Dihentikan

Selain menutup operasi pokok pencarian korban Air Asia QZ8501, Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya FH Bambang Soelistyo juga menyerahkan ribuan dolar Singapura milik para penumpang, barang itu berbentuk kotak yang dibungkus plastik hitam.



"Ada tiga kardus barang penumpang yang isinya uang. Ada yang 8 ribu, ada 5 ribu dan ada yang 500 dolar Singapura," kata Bambang kepada wartawan di posko crisis center usai melakukan koordinasi dengan pihak keluarga, Selasa, 3 Maret 2015.

Menurut Bambang, uang yang diserahkan itu tidak sedikit, barang itu langsung diserahkan kepada Presiden Direktur AirAsia Indonesia Sunu Widyatmoko untuk dilanjutkan penyerahannya kepada pihak keluarga yang berhak menerimanya. "Kami serahkan kepada Pak Sunu untuk diserahkan kepada keluarga."

Adapun Presiden Direktur AirAsia Indonesia Sunu Widyatmoko mengatakan barang penumpang yang berupa uang yang diserahkan pada hari ini merupakan temuan terbesar sejak awal operasi pencarian."Uang yang diserahkan kali ini terbesar," ujarnya.

Sunu menjelaskan apabila ada temuan barang milik para penumpang Air Asia, maka pihaknya akan langsung menyerahkan kepada keluarga apabila sudah teridentifikasi. "Namun, apabila tidak teridentifikasi, maka kami umumkan kepada keluarga, jika ada yang mengaku dan itu benar, langsung kami serahkan," kata dia.

Barang temuan itu, lanjut dia, sebenarnya sudah banyak yang ditemukan sejak awal operasi pencarian, salah satunya seperti uang yang ada di dompet korban, karena teridentifikasi pemiliknya, maka langsung diserahkan kepada keluarganya. "Banyak barang-barang korban yang telah kami kembalikan," Sunu menambahkan.

Namun, apabila barang korban tidak ditemukan oleh tim Basarnas saat pencarian, maka barang itu dianggap hilang dan tidak ada ganti rugi atau dana kompensasinya. "Yang mendapatkan dana kompensasi itu hanyalah jiwanya," jelas Sunu.

Pantauan Tempo, tiga kotak yang diserahkan itu dibungkus plastik hitam dan diberi tulisan pemiliknya, kotak pertama bertulisakan Herumanto Tanus (Surabaya), kotak kedua bertuliskan Yuni Indah (Ponorogo) dan kotak ketiga bertuliskan Inda Riani Abraham, jalan Manukan Lor-3L, Manukan Kulon Tandes Surabaya. Tiga kotak itu langsung dikomunikasikan kepada keluarga yang bersangkutan untuk diambil.


Keluarga Korban AirAsia Berharap kepada Penyelam Tradisional

 Keluarga korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 berharap kepada penyelam tradisional yang didatangkan khusus dari Pulau Kalimantan oleh AirAsia. Para penyelam ini memang dibayar untuk mengangkat jasad korban yang diduga masih berada di dalam badan pesawat.Â

“Para penyelam ini sudah berhasil menemukan lebih dari 30 jenazah,” kata Bernard Josal, ayah salah satu korban AirAsia asal Makassar, Sheana Josal, di Makassar, Rabu, 4 Maret 2015.

Menurut Bernard, dengan waktu pencarian hanya tersisa satu minggu, keluarganya masih berharap semua korban AirAsia bisa ditemukan. Sebelumnya, jasad Sheane Josal ditemukan pada 5 Januari dan telah dimakamkan pada 9 Januari lalu. Pada 7 Februari, jasad suami Sheane, Hendra Theodorus, bisa diidentifikasi dan dimakamkan pada 12 Februari lalu.Â

“Keduanya dimakamkan di Puncak Nirwana Memorial Park, Purwosari, Jawa Timur. Makam untuk dua cucu kami juga sudah kami siapkan di samping orang tua mereka,” kata Bernard.

Menurut Bernard, saat ini keluarganya masih berharap dua cucunya, Reynaldi Theodorus dan Winoya Theodorus, juga bisa ditemukan. Keluarga Bernard, yang sudah dua bulan menanti di Surabaya, berencana bertolak ke Pangkalan Bun untuk melihat langsung proses pencarian korban. “Kami yakin korban masih bisa ditemukan,” ujarnya.

Bernard mengatakan bisa memahami rencana pemerintah menghentikan proses pencarian dan berterima kasih kepada pemerintah karena masih mau membantu pencarian selama satu minggu ini. Dia juga berterima kasih kepada AirAsia yang sudah memberikan pelayanan yang baik kepada keluarganya selama berada di Surabaya.

Juga atas pembayaran santunan asuransi bagi korban yang sudah disiapkan. Kapan pun kami mau ambil, AirAsia akan cairkan. Tapi keluarga masih menunggu sampai pencarian betul-betul dihentikan. Lagi pula, kami harus kembali dulu ke Makassar untuk mengurus berkas korban,” kata Bernard.

Bernard menambahkan, rumah korban di Makassar sampai hari ini masih dibiarkan tertutup. Tapi banyak anggota keluarganya di Makassar yang selalu memantau dan menjaga rumah tersebut.








references by tempo

 
Like us on Facebook