July 26, 2015

Ujian Kehidupan, Hadapi Dengan Botol Kecap

Botol kecap bisa jadi inspirasi bagi orang-orang yang mengalami kesulitan hidup. Apa hubungannya botol kecap dengan hidup? Nah cerita berikut adalah inspirasi bagi teman-teman yang merasa hidup penuh ujian dan cobaan. Seringkali kita merasa Tuhan tidak adil kepada kita, kita merasa telah berbuat hal-hal yang baik dalam hidup dan suka menolong orang lain, namun kok hidup ini selalu ditimpa musibah dan tidak ada tanda-tanda pertolongan dari Tuhan. Mari kita simak cerita inspirasi berikut ini agar kita tahu bagaimana kita harus bersikap menghadapi kesulitan hidup.



Dikisahkan ada seorang pengusaha kaya yang tampak bahagia. Uang bukan masalah baginya. Usahanya maju, dia jarang rugi, hampir semua bisnisnya mendatangkan keuntungan berlipat. Seakan-akan, uang itu mengejar-ngejar dirinya.
Dia pun memiliki istri yang cantik, anak-anak yang sehat dan lucu. Akan tetapi, di balik kesuksesannya itu ada banyak perilaku buruk yang dia lakukan. Pengusaha ini gemar melakukan maksiat.
Karena berkantong tebal, dia dengan mudah bisa bergonta-ganti pasangan alias main perempuan, melakukan kecurangan dalam bisnis, mengonsumsi makanan dan minuman haram, dan beragam kemaksiatan lainnya.
Sampai suatu ketika, dia mengalami sebuah peristiwa yang mengubah hidupnya. Anaknya yang berusia tiga tahun meninggal dunia karena kecelakaan yang disebabkan keteledoran dirinya. Peristiwa itu membawa perubahan dalam dirinya.
Dia bertobat dan bertekad untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang biasa dia lakukan. Dia pun mulai belajar melakukan shalat, pergi ke masjid, melaksanakan puasa Ramadhan, dan sebagainya.
Di tengah upaya perbaikan diri itulah, krisis moneter yang menghantam pada tahun 1998 telah membawa perubahan drastis dalam bisnisnya. Perlahan, tetapi pasti, dia mengalami kebangkrutan. Satu per satu perusahaan miliknya gulung tikar dan berpindah tangan.
Utangnya membengkak sehingga tabungan dan depositonya di bank serta properti dan kendaraannya habis untuk menutupi utang-utangnya itu. Jika sebelumnya kata “gagal” dan “rugi” seakan menjauh darinya, sekarang kedua kata itu seakan lekat dengannya.
Jika sebelumnya gelimang rupiah demikian mudah dia dapatkan, sekarang uang recehan pun seakan enggan mendekat kepadanya. Telah berkali-kali, dia mencoba bangkit, merintis kembali bisnisnya, tetapi berkali-kali pula dia gagal. Tumpukan emosi negatif seakan tumpah ruah di otaknya.
Dalam kesulitan hidup yang mengimpit tersebut, dia mempertanyakan keadilan Tuhan. Saat tenggelam dalam kemaksiatan, begitu mudahnya rezeki didapat, tetapi setelah meninggalkan kemaksiatan, rezeki pun ikut meninggalkan dirinya.
Apakah ada yang salah? Ke mana doa-doa yang selama ini dia panjatkan? Apakah Tuhan tidak mendengar atau tidak sudi mengabulkan doaku? Bukankah Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang serta akan mengabulkan doa-doa dari setiap hamba-Nya?”
Begitu keluhnya. Memang, di tengah kesulitan itu, kuantitas ibadah semakin berlipat-lipat. Namun, itu semua seakan belum cukup untuk mengembalikannya pada “kehidupan normal”.
Berkali-kali, dia mendatangi ustaz dan kiai untuk meminta doa dan nasihat. Saat diberi doa atau amalan tertentu, dia akan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Namun, lagi-lagi semuanya berakhir dengan kekecewaan. Dia pun mulai meragukan para kiai dan ustaz tersebut yang katanya hanya pandai berteori. Mana buktinya?
Di ambang keputusasaan, pertolongan Allah pun datang melalui salah seorang kenalannya. Dia adalah seorang dosen agama di sebuah perguruan tinggi ternama. Dosen itu tidak membawakannya uang, menawarkan kerja sama bisnis, atau hal lain yang bersifat materi.
Namun, dia membawa nasihat yang mampu mengubah paradigma berpikir mantan pengusaha kaya ini. Tidak banyak dalil yang dia ungkapkan. Dia hanya memberikan analogi dan perlambang saja. Katanya,
“Seseorang tidak bisa mengisi botol penuh kecap dengan air putih, sebelum kecapnya dibuang terlebih dahulu. Baru setelah itu, kita bisa memasukkan air putih. Itu pun masih ada sisa-sisa kecap yang belum terbuang sehingga air yang kita masukkan masih akan bercampur dan berwarna hitam. Air itu harus dibuang lagi sehingga botol benar-benar bersih dari kecap. Baru setelah itu, air yang kita masukkan benar-benar bening karena tidak tercampur lagi dengan kecap.
Analoginya, kecap itu adalah harta yang kita miliki dan air putih itu adalah doa dan amal ibadah yang kita lakukan. Antara maksiat dan kebaikan tidak akan mungkin bisa bersatu. Karena itu, ketika seseorang ingin menyucikan dirinya, semua kotoran yang ada dalam diri dan harta harus dibuang dan dibersihkan.
Ada banyak skenario Tuhan untuk ‘membersihkan’ harta seseorang sehingga harta kotor yang dimilikinya benar-benar terkuras, mungkin dibangkrutkan usahanya, kena tipu, dan sebagainya. Andaipun semuanya sudah terkuras, boleh jadi masih ada kotoran yang masih tersisa dalam diri dan harta. Allah Swt. akan meinbersihkannya dengan penyakit, musibah, atau lainnya, sembari dia menahan rezeki dari orang itu. Nah, ketika dia sudah benar-benar bersih, Allah Swt. akan membukakan jalan rezeki yang halal kepadanya. Yang jadi masalah, apakah kita sabar atau tidak dalam proses pembersihan itu?”
Nasihat ini mampu menjawab pertanyaannya selama ini tentang keadilan Tuhan, tentang ijabah doa, tentang makna pertobatannya. Allah Ta’ala. mengambil sebagian besar kekaya-annya bukan karena Allah benci, melainkan Allah amat sayang dan cinta kepada hamba-hamba-Nya yang bertobat.
Sebabnya, bagaimana mungkin mengisikan nasi dan sup yang lezat ke dalam mangkuk yang blepotan dengan kotoran. Tentu sangat bijak jika mangkuk itu dibersihkan terlebih dahulu. Begitu pula qada Allah, sebelum menuangkan limpahan rahmat dan ampunan-Nya, dia akan membersihkan orang tersebut dari jelaga kemaksiatan yang masih hinggap dalam diri dan hartanya.
Beberapa tahun berlalu, mantan pengusaha kaya ini sudah berada kembali di jalur kesuksesan bisnisnya. Walau belum sesukses dahulu, tanda-tanda ke arah itu sudah mulai terlihat di hadapannya. Ibaratnya, dia tengah mengisi botol nasibnya dengan air putih keberhasilan setelah dia menumpahkan hitamnya air kemaksiatan.
Rentetan kegagalan dalam bisnis telah membawa perubahan positif dalam diri pengusaha ini walau sebelumnya dia nyaris jatuh pada keputusasaan.
Filosofi botol kecap yang disampaikan temannya telah membuka sudut pandang baru terhadap makna ujian dan makna hidup yang sebenarnya.
Dalam bahasa manajemen, pengusaha ini telah mengalami re-inventing atau menemukan kembali tujuan hidupnya.Bahwa seluruh dan setiap aktifitas kehidupannya bukan harus bernilai dunia, tapi juga harus bernilai ibadah dan berorientasi akhirat

Pada zaman sekarang, sering kita jumpai manusia berputus asa tatkala menghadapi cobaan hidup, entah karena harta, jodoh, keturunan, dan juga bingung mencari rezeki karena harus menafkahi anak, istri dan keluarga. Pada zaman dahulu orang berhutang sulit sekali, sehingga mereka bersabar hidup sederhana, menerima apa adanya. 
Akan tetapi pada zaman sekarang lain situasinya, banyak orang kaya dan lembaga perbankan menghutangkan uang atau barangnya, seperti kredit modal usaha, kredit sepeda motor, mobil dan lainnya. Bahkan kadang tanpa uang muka pun jadi.
Orang yang hidupnya pas-pasan pun memberanikan diri membeli barang yang pada dasarnya belum begitu perlu dan juga agak sulit bagi dia membayarnya, akan tetapi karena dorongan nafsu yang kuat dia memberanikan diri berhutang maupun membelinya.
MENGAPA KITA DIUJI?
  • Agar diketahui siapakah hamba yang mujahid dan penyabar.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (QS. Muhammad [47]: 31)
  • Agar diketahui ahli Surga dan Neraka.

لِيَمِيزَ اللّهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَيَجْعَلَ الْخَبِيثَ بَعْضَهُ عَلَىَ بَعْضٍ فَيَرْكُمَهُ جَمِيعاً فَيَجْعَلَهُ فِي جَهَنَّمَ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. al-Anfal [8]: 37)
  • Untuk diketahui orang yang bersyukur yang kufur.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS. Ibrahim [14]: 7)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Itu ujian bagimu ketika kamu diberi anak dan harta, agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui apakah kamu bersyukur dengan nikmat itu dan kamu taat kepada-Nya dengan kenikmatan itu, ataukah kamu dilalaikan dari mengingat AllahSubhanahu wa Ta’ala dengan nikmat itu dan kamu melekat dengan urusan dunia. (Tafsir Ibnu Katsir 2/398)
  • Untuk diketahui hamba-Nya yang shalih yang paling bagus amalannya.

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS. al-Kahfi [18]: 7)
BAGAIMANA MENGATUR HIDUP AGAR CUKUP
Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa Maha Pemurah kepada hamba-Nya. Dialah yang menanggung semua kebutuhan hamba-Nya. Akan tetapi hendaknya kita membedakan antara kebutuhan pokok dan keinginan hawa nafsu. Hawa nafsu inilah yang menyuruh manusia berbuat jahat, sehingga sesuatu yang mestinya sudah cukup menjadi tidak cukup.

إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّيَ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS. Yusuf [12]: 53)
Adapun untuk mengatur hidup agar kita menjadi orang yang cukup, sebagai berikut:
  • Melatih diri  hidup sederhana mungkin, walau selera kurang berkenan.
Allah berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَاماً

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. al-Furqon [25]: 67)
Makan dan minum, adalah kebutuhan pokok sehari-hari, bila dilakukan sesederhana mungkin, insya Allah Subhanahu wa Ta’ala perut akan menerimanya sekalipun hanya dengan nasi dan air putih, akan tetapi hawa nafsulah yang mengajak manusia untuk tidak merasa puas dengan sesuatu yang ada.
  • Menjauhi perkara yang tidak ada gunanya bagi agama dan kesehatan.
Janganlah mengumpulkan barang-barang yang tidak berguna, apalagi yang merusak. Jangan membeli televisi, alat-alat permainan yang tidak syar’i, hiasan rumah dan lain-lain.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من حسن الاسلام المرئ تركه ما لا يعنيه

Termasuk kebaikan Islam seseorang bila dia meninggalkan sesuatu yang tidak ada gunanya(Dishahihkan al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah 2/360)
  • Jangan memaksa mengeluarkan infaq di luar kemampuan, seperti menyekolahkan anak yang pada dasarnya hanya untuk mencari ilmu duniawi, atau memaksa diri memberi sesuatu kepada orang lain di luar kemampuan.

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْراً

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS. ath-Tholaaq [65]: 7)
  • Hindari sifat tamak dan pemborosan, berlagak menjadi orang kaya karena gengsi dengan teman dan tetangga.

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُواْ إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوراً

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. al-Isro’ [17]: 27)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Ada tiga golongan, Allah tidak berbicara dengan mereka besok pada hari kiamat, tidak membersihkan dosanya, dan tidak melihat mereka, dan bagi mereka siksaan yang pedih: Orang tua yang berzina, raja pendusta dan orang fakir yang sombong (HR. Muslim 156)
  • Hindari hutang hanya karena menuruti hawa nafsunya. Jika dipaksakan berhutang maka akan membuat hidup sengsara, apalagi ciri kebanyakan orang yang hutang adalah berkata bohong untuk memikat orang yang menghutangi dan menyelisihi janji ketika akan membayarnya.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah sering berlindung kepada Allah dari banyak hutang:

اللهم اني أعوذبك من ألهم والحزن والعجز والكسل والبخل والجبن وضلع الدين وغلبة الرجال

Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari susah dan sedih, lemah dan malas, dari kikir dan penakut, dari beratnya membayar hutang dan dikuasai oleh orang. (HR. Bukhari 5005)
Hutang membawa beban pikiran, karena itu hendaknya dibayar bila sudah mampu membayar.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مطل الغني ظلم

Menunda membayar hutang bagi yang mampu adalah kedholiman. (HR. Bukhari 2125)
Orang yang suka berhutang, belum selesai membayarnya sudah berhutang lagi, dia akan dilanda sifat munafik, dusta dan mengingkari janji, menggali lubang tutup lubang untuk menutup rasa malu. Berapa banyak orang miskin hutang kendaraan dan lainnya hanya untuk melampiaskan rasa malu dengan tetangga dan teman.
  • Dalam urusan dunia hendaknya melihat orang yang lebih miskin agar kita menjadi orang yang bersyukur. Contoh jika kita punya rumah dan kendaraan yang jelek, mari kita melihat orang yang tidak punya apa-apa, agar menjadi manusia yang bersyukur. Jika kita sakit, lihatlah orang yang lebih parah sakitnya agar kita menjadi orang yang bersyukur dan sabar.

لاَ تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجاً مِّنْهُمْ وَلاَ تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada keni’matan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (QS. al-Hijr [15]: 88)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انظروا إلى من أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

Lihatlah orang yang lebih rendah dari pada dirimu dan janganlah melihat orang yang lebih tinggi, karena yang demikian itu lebih layak bagimu untuk tidak menghina nikmat Allah yang diberikan kepadamu. (HR. Muslim 5264)
  • Bersabar bila ingin menikah tetapi belum mampu.

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحاً حَتَّى يُغْنِيَهُمْ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ

Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. (QS. an-Nur [24]: 33)
Menjaga kesucian diri bisa dilakukan dengan sering berpuasa sunnah, sebagaimana wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para pemuda dan pemudi, memperbanyak ibada shalat, membaca al-Qur’an, menuntut ilmu dien dan lainnya. Seperti diterangkan dalam surat al-Ankabut ayat 45.[2]
Hendaknya menjauhi perkara yang menuju kepada zina, seperti mendengarkan nyanyian, melihat tontonan yang melenakan dan berteman (dengan orang, -admin) yang bukan mahramnya. Perhatikanlah kandungan surat al-An’am ayat 151 dan al-Isro’ ayat 2.[3]
Bagi yang ingin menikah hendaknya bekerja dulu karena menikah bukan hanya mencari kebutuhan untuk diri sendiri dan istri, akan tetapi selain dari itu banyak sekali yang dibutuhkan, seperti pakaian, tempat tinggal, perawatan kesehatan keluarga dan lainnya.
CARA MENGATASI KESULITAN HIDUP
Setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan, itulah janji Allah dalam surat al-Insyiroh [94]: 5-6. Oleh karena itu, kita hendaknya tidak putus asa, akan tetapi tetap berusaha di atas jalan Allah dengan meningkatkan berharap dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Adapun cara untuk mengatasi kesulitan hidup sebagai berikut:
  • Orang yang beriman wajib meyakini bahwa hidup penuh dengan ujian sebagaimana keterangan ayat di atas.
  • Hendaknya berlindung kepada Allah dari akibat jeleknya ujian.



  • Hendaknya meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti memberi rezeki kepada hamba-Nya.

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya. (QS. Hud [11]: 6)
  • Bersabar ketika menerima cobaan dengan meningkatkan pengharapan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan, dengan meningkatkan rasa takut kepada-Nya.
Dari Suhaib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

Amat menakjubkan keadaan orang yang beriman, karena semua urusannya baik, dan tidaklah dapat meraihnya melainkan orang yangberiman. Jika mendapatkan kegembiraan dia bersyukur dan hal itu baik baginya. Dan jika ditimpa musibah dia bersabar, maka itu baik bagi dirinya. (HR. Muslim 5318)
  • Meningkatkan takwa kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dengan mengamalkan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. ath-Tholaq [65]: 2-3)
  • Meningkatkan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan disertai usaha yang halal.

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS. ath-Tholaq [65]: 3)
  • Ridho menerima takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. (QS. at-Taghobun [64]: 11)
Abdullah bin Mas’ud radhullahu ‘anhu berkata: “Makna ayat Allah tersebut adalah orang yang ketika ditimpa musibah dia ridho dan mengetahui bahwa ini semua datang dari Allah. (HR. Bukhari Kitabut Tafsir)
  • Meyakini bahwa ujian adalah penghapus dosa.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عظم الجزاء مع عظم البلاء وإن الله إذا أحب قوماً ابتلاهم فمن رضي فله الرضا ومن سخط فله السخط

Besarnya pahala tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya apabila Allah menyenangi suatu kaum, Dia mengujinya. Barangsiapa yang ridho maka Allah ridho, dan barangsiapa yang marah, maka Dia marah. (Dihasankan al-Albani, Shahih Ibnu Majah 2/373)
  • Memohon kebaikan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala pada saat ditimpa musibah.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu berharap mati ketika ditimpa malapetaka. Namun jika harus demikian, maka katakanlah:

اللهم أحيني ما كانت الحياة خيراً لي وتوفني إذا كانت الوفاة خيراً لي-

Ya Allah hidupkanlah aku jika hidup ini baik bagiku, dan matikanlah aku jika mati itu baik bagiku. (HR. Bukhari 5239)
  • Mengingat sejarah hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Baqarah [2]: 214.[4]
Sa’ad radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab:

الأنبياء ثم الأمثل فالامثل فيبتلى الرجل على حسب دينه فإن كان دينه صلباً اشتد بلاؤه وإن كان في دينه رقة ابتلي على حسب دينه

Para nabi, kemudian yang serupa dan yang serupa. Orang diuji sesuai dengan agamanya, jika kuat agamanya, maka berat pula ujiannya, dan jika agamanya ringan, maka ringan pula ujiannya. (HR. Tirmidzi 2322. Dishahihkan al-Albani, Silsilah Ahadits Shahihah 1/273)
  • Hendaknya mencari rezeki yang halal, dan tidak boleh putus asa.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

Orang mu’min yang kuat lebih baik dan lebih disenangi Allah dari pada orang mu’min yang lemah, mereka semua baik. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat. Mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah. (HR. Muslim 4816)
  • Meyakini bahwa kemuliaan manusia bukan pada harta dan kedudukan.
Harits bin Wahbah radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ألا أدلكم على أهل الجنة كل ضعيف متضعف لو أقسم على الله لابره

Maukah kamu aku tunjukkan ahli Surga? Yaitu setiap orang muslim yang lemah dan dihina orang, jika dia bersumpah sungguh Allah memudahkan urusannya. (HR. Bukhari: 6165)
  • Tidak pesimis karena kekurangan, yang penting istiqomah dan teguh di atas al-haq.
Amr bin Auf radhiyallahu ‘anhu berkata: “Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فابشروا وأملوا ما يسركم فو الله ما الفقر أخشى عليكم ولكني أخشى أن تبسط علكم الدنيا كما بسطت على من كان قبلكم فتنافسوها كما    تنافسوها وتهلككم كما أهلكتهم

Bergembiralah kamu, dan bercita-citalah dengan apa yang Allah berikan kepadamu. Demi Allah tidaklah aku khawatir kemiskinan menimpa dirimu, akan tetapi aku khawatir bila kamu dilapangkan urusan duniamu sebagaimana umat sebelummu, kamu akan berlomba-lomba mengejarnya seperti orang sebelummu, lalu berlomba-lomba itu menghancurkan dirimu seperti mereka pada zaman dahulu. (HR. Bukhari 3712)
  • Ingatlah hidup di dunia hanya sementara.
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammemegang pundakku lalu bersabda:

كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل

Jadilah kamu hidup di dunia ini bagaikan orang asing atau penyeberang jalan. (HR. Bukhari 4397)
Insya Allah dengan berpegang dan mengamalkan kaidah-kaidah di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memudahkan semua urusan kita. Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita beribadah dan minta pertolongan dan perlindungan.
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. al-Baqarah [2]: 214)
Tidak ada (sifat) iri (yang terpuji) kecuali pada dua orang: seorang yang dipahamkan oleh Allah tentang al-Qur-an kemudian dia membacanya di waktu malam dan siang hari, lalu salah seorang tetangganya mendengarkan (bacaan al-Qur-an)nya dan berkata: “Duhai kiranya aku diberi (pemahaman al-Qur-an) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan seperti (membaca al-Qur-an) seperti yang diamalkannya. Dan seorang yang dilimpahkan oleh Allah baginya harta (yang berlimpah) kemudian dia membelanjakannya di (jalan) yang benar, lalu ada orang lain yang berkata: “Duhai kiranya aku diberi (kelebihan harta) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan (bersedekah di jalan Allah) seperti yang diamalkannya” (HR. Al-Bukhari).
Dari hadits di atas menunjukkan, kita hanya boleh iri kepada orang yang dipahamkan (orang yang diberi ilmu tentang Al-Qur’an) dan membaca dan mengamalkannya dalam kehidupan bertetangga/lingkungan sekitar, juga kepada orang yang dilimpahkan rezeki dari Allah sampai ia menyedekahkannya karenaNya. Selain itu, kita tidak boleh iri dan dengki kepada nikmat dari Allah kepada orang lain.













references by Cerita Inspirasi MuslimSumber: Majalah AL FURQON No. 73 Edisi Khusus Tahun ketujuh 1428 H, hal. 7-14

 
Like us on Facebook