Akun Facebook Presiden Amerika Serikat Barack Obama mencapai "likes" (suka) sekitar 30,6 juta menyusul kampanye di jejaring sosial.
Jumlah "likes" di akun Facebook Presiden Amerika ini meningkat pesat sejak ia memastikan diri sebagai calon presiden empat tahun lalu.
Jumlah "likes" di akun Facebook Presiden Amerika ini meningkat pesat sejak ia memastikan diri sebagai calon presiden empat tahun lalu.
Tim kampanye Obama membayar "Berita Sponsor" untuk tampil di akun para pengguna Facebook walaupun sejumlah pengguna tidak menginginkannya.
Calon presiden dari Partai Republik, Mitt Romney, juga meningkatkan kampanye di jejaring sosial.
Namun, para pengamat memperingatkan, sejumlah pendekatan bisa merugikan kedua calon presiden. Sejumlah pemilik akun Facebook telah menyatakan kekesalan karena iklan kampanye Barack Obama muncul di akun mereka.
Baca Artikel Lainnya
- Facebook Resmi Ganti Nama Jadi Meta Pada Akhir 2021
- Bukalapak TutupLapak Karena Kalah Saing, Akankah Tokopedia Menyusul?
- ARTI CONSIGNEE REFUSE TO PAY COD SHIPMENT/SHIPMENT FEE JNE
- Windows 10 Pensiun 2025, Bersiap Beli PC/Laptop Baru Untuk Windows 11
- Penyebab Jumlah Penonton Live Shopee Menurun?
- Ilmuwan Ramal Bumi Akan Jadi Planet Plastik
- Facebook Meta Ramai-Ramai Jadi "Lapangan Kerja Baru", Data Apa Yang Sebenarnya Mereka Kumpulkan?
- Jumlah Pengguna Facebook Meta 2023
- Ingin Punya Centang Biru di Facebook? Bisa Bayar Rp.180 Bulanan
- Jumlah Data Pengguna Facebook Aktif META 2022
"Mengapa Barack Obama ada di tampilan Facebook saya?" tulis seorang pemilik akun Facebook dari Illinois. "Saya benar-benar muak dengan iklan Obama di laman Facebook saya," kata pengguna lain.
Tidak suka pesan politik
Pengguna lain menulis di akun Twitter Obama dan meminta, "Jangan mengiklankan dirimu di akun Facebook dan Twitter saya. Saya tidak pernah 'suka' atau 'mengikutimu'."
Walaupun ada sejumlah pengguna yang bereaksi negatif, laman Facebook Presiden Obama mendapatkan "likes" lebih dari satu juta dalam satu hari, dibandingkan sekitar 30.000 per hari beberapa minggu sebelumnya.
Dalam kampanye tahun 2008, Obama dipuji atas penggunaan jejaring sosial untuk merangkul pemilih muda. Pada kampanye kali ini, kedua calon presiden sama-sama menarik pemilih melalui Facebook dan Twitter.
Namun, penelitian oleh Universitas Pennsylvania menunjukkan gambaran berbeda. Dari sekitar 1.053 orang dewasa yang disurvei pihak universitas, 86 persen di antaranya mengatakan, mereka tidak ingin menerima pesan politik. Sementara 70 persen mengatakan, melihat iklan calon yang akan mereka pilih justru akan memengaruhi suara mereka pada hari pemilihan presiden awal November mendatang.
references by BBC Indonesia
