March 30, 2018

Apa Bahaya Cacing Dalam Kaleng Sarden?

Baca Artikel Lainnya

Dua puluh tujuh merek ikan makarel kalengan ditarik dari pasaran. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan parasit cacing dalam produk-produk tersebut. Temuan tersebut merupakan hasil pengembangan penelusuran BPOM terhadap tiga merek ikan kalengan yang sebelumnya positif mengandung parasit cacing. Dari 66 merek yang diteliti, 27 positif mengandung parasit cacing. 



Dari 66 merek ikan makarel dalam kaleng yang terdiri dari 541 sampel ikan, ada 27 merek yang positif mengandung parasit cacing," ujar Kepala BPOM RI Penny K Lukito di Kantor BPOM RI, Johar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (28/3/2018).

Dari total 27 merek ikan makarel kalengan tersebut, 16 diantaranya merupakan produk impor dan 11 produk dalam negeri. BPOM melampirkan daftar ke-27 merk ikan makarel kalengan yang mengandung cacing, lengkap dengan nomor izin edar, jenis, serta nomor bets di laman resminya.

Kasus ini bermula di Provinsi Riau. Warga di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Selatpanjang di Kabupaten Kepulauan Meranti dan Bengkalis melaporkan temuan cacing dalam produk sarden mereka. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Pekanbaru pun lalu melakukan uji laboratorium.

"Hasilnya ditemukan adanya cacing. Hanya saja itu bukan cacing pita tapi jenis Anisakis SP," kata Kepala BBPOM di Pekanbaru, Kashuri, di kantornya Jalan Diponegoro, Rabu (21/3) siang.

Awalnya, parasit cacing itu hanya ditemukan pada tiga merek ikan kalengan impor yang diduga tidak diproduksi secara higienis.

Menurut Kashuri, importir ketiga produk itu berada di Jakarta dan Batam, Kepulauan Riau. Importir ini sudah menarik produknya sebelum BBPOM menguji laboratorium.

Pengujian terhadap produk makarel kalengan ini tidak berhenti hanya sampai daerah Riau saja. BPOM Jambi lalu melakukan hal yang sama setelah menerima laporan dari agen dan distributor.

Hari Jumat, 23 Maret 2018, sejumlah petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari, Jambi, mengadakan inspeksi mendadak ke minimarket. 

Kepala BPOM Jambi, Ujang Supriyanta, mengatakan ada tiga jenis produk ikan makarel kalengan yang akan ditarik dari pasaran Jambi, dengan total 62.191 kaleng. Ribuan kaleng ini diduga juga mengandung parasit cacing.

Melihat banyak temuan tadi, BPOM Pusat lantas memerintahkan importir untuk menarik ketiga produk tadi pada Kamis, 22 Maret 2018.



Adanya cacing Anisakis spp mati dalam produk ikan makarel kalengan tentu menjadikan makanan ini tidak lagi layak dikonsumsi.

"Produk yang mengandung cacing tidak layak konsumsi dan pada konsumen tertentu dapat menyebabkan reaksi alergi (hipersensitivitas) pada orang yang sensitif," mengutip situs BPOM. 

Kashuri, Kepala BBPOM Riau mengatakan, jika produk ikan kalengan yang mengandung parasit cacing dikonsumsi oleh penderita asma, bisa membuat sesak napas.

Sedangkan Dinas Kesehatan Jambi memiliki kekhawatiran yang berbeda. Kepala Dinas Kesehatan Batanghari, Elfie Yennie mengatakan, ada kekhawatiran dalam makanan kaleng itu ditemukan bakteri Clostridium botulinum. 

Menurut ahli gizi dari Perhimpunan Gizi Pangan, Hardinsyah, konsumen akan merasakan efek langsung setelah memakan cacing yang terdapat dalam ikan kalengan. 

"Kalau makan ikan (makarel kaleng) yang ada cacingnya ya bisa mual, muntah, dan gangguan saluran pencernaan," ujar Hardinsyah kepada Health-Liputan6.com lewat sambungan telepon, Kamis (29/3/2018).

Ia menambahkan, produk ikan makarel kaleng yang ada cacing menandakan produk tersebut tidak sesuai standar produksi pangan yang higienis.

"Produk untuk konsumen kan harus bebas dari (risiko) penyakit dan bakteri yang ada di dalamnya," Hardinsyah melanjutkan. 

Sementara Menteri Kesehatan RI Nila F Moeloek lebih menekankan pada sterilitas makanan, baik dalam pengolahan, penyajian, dan pengonsumsiannya. 

"Sterilitas itu yang harus dijaga," tutur Nila di Gedung Nusantara jelang Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR, Jakarta. 

Menkes menerangkan, mengonsumsi makanan matang yang telah dimasak secara sempurna bisa menghindarkan dari risiko kesehatan. 

"Setahu saya itu (baca: ikan kalengan) kan enggak dimakan mentah, kita goreng lagi, ya cacingnya mati. Saya kira kalo udah dimasak kan jadi steril," ujar Menkes menanggapi temuan BPOM terkait ikan makarel kalengan yang mengandung parasit cacing, mengutip siaran pers yang diterima Health Liputan6.com, Kamis (29/3). 

Terkait pertanyaan mengenai laporan dampak kesehatan yang dialami masyarakat, Menkes menyatakan belum ada laporan mengenai hal tersebut.



Dalam jurnal Anisakis spp. burden in Trachurus trachurus, dijelaskan Anisakis Spp adalah cacing parasit yang menempel pada sejumlah spesies ikan sebagai inang. 

"Larva cacing parasit itu memang sudah biasa terdapat pada ikan makarel. Iya, cacing parasit ini ada di dalam tubuh ikan laut," kata Hardinsyah.

Anisakis spp tumbuh dan berkembang biak di dalam perut ikan makarel. 

Hardinsyah menambahkan, proses produksi dalam mengolah ikan makarel kaleng dapat menjadi salah satu faktor kemunculan cacing.

"Ada tahapan industri yang mungkin terlewat. Dari proses pembersihan ikan yang kurang bersih. Perut ikan tidak dibersihkan baik. Telur (larva) cacing mungkin sudah keburu menetas. Semestinya, tahapan yang dilalui, kan, ikan dibersihkan, dipotong, dan disimpan dalam freezer," Hardinsyah menjelaskan.

Dalam proses pembersihan ikan, larva cacing dapat mati bila ikan dipanaskan. "Agar larva cacing mati, ya harus dipanaskan ikannya," ucap Hardinsyah.





BPOM sudah mengumumkan merek-merek makerel mana saja yang ditemukan cacing.

"Ini artinya kalau masyarakat menemukan merek dan bets yang sudah ditemukan tadi, jangan dikonsumsi," lanjut Tetty. BPOM juga sudah menarik produk-produk terkontaminasi tersebut untuk dimusnahkan.

Namun Tetty juga tidak menganjurkan untuk berhenti sama sekali atau menunda mengonsumsi makarel kalengan, pastikan saja merek dan bets yang dibeli tidak masuk dalam daftar kontaminasi.

"Dan kalau ketemu merek lain atau bets lain ada cacingnya, tolong dilaporkan. Jadi kami bisa mengintenskan pengawasan," himbau Tetty.

Tetty juga mengingatkan, proses pengalengan ikan makarel sendiri sebenarnya sudah melewati proses pemanasan yang tinggi. Hal ini memastikan cacing yang ada di dalam ikan mati.

Kandungan cacing di dalam ikan juga tidak akan mengubah kemasan produk.

"Kalau masyarakat menemukan kaleng yang kembung, itu bukan karena cacing ini," jelasnya. "Tapi jangan juga diremehkan."

Tetty mengimbau masyarakat harus tetap mengecek kesempurnaan kemasan. "Kalau ada yang penyok atau karatan, ya jangan dibeli."

Cacing Anisakis sp sendiri sebenarnya bisa dilihat dengan mata telanjang. "Cacingnya memang kecil, hanya satu sentimeter, satu setengah sentimeter, jadi kalau kita tidak awas, ya akan terlewat juga."

Tetty menyarankan agar masyarakat tetap memeriksa produk makarel kalengan yang telah dipilih, untuk memastikan keamanannya.

Nama Produk  Makarel Kaleng yang Mengandung Cacing


  • Makarel kaleng merek ABC,
  • ABT,
  • Ayam Brand, 
  • Botan, CIP, 
  • Dongwon, 
  • Dr Fish, 
  • Farmer Jack
  • makarel kaleng Fiesta seafood, 
  • Gaga, 
  • Hoki, 
  • Hosen, 
  • IO, 
  • Jojo, 
  • King Fisher, 
  • LSC, Maya, 
  • Nago atau Nagos, 
  • Naraya, 
  • Pesca,
  • Poh Sung, 
  • Pronas, 
  • Ranesa, 
  • S&W, 
  • Sempio, 
  • TLC 
  • makarel kaleng TSC.

bagi masyarakat yang menemukan produk bermasalah dapat menghubungi contact center Halo BPOM di no telepon 1-500-533 atau SMS 0-8121-9999-533.

Bisa juga ke email halobpom@pom.go.id, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia," 



Gangguan pernapasan

Cacing gelang dapat bergerak ke paru-paru melalui aliran darah seseorang atau sistem limfatik. Menurut Mayo Clinic, gejala bila ada cacing in pada tubuh mirip dengan seseorang yang menderita pneumonia atau asma. Si penderita bisa mengalami kesulitan bernapas dan sesak nafas. Batuk dan mengi mungkin bisa terjadi.

Cacing bisa tinggal selama enam hingga 10 hari di paru-paru sampai seseorang batuk, dan kemudian menelannya kembali- saat itu cacing bisa bergerak ke usus dan tinggal di sana hingga sisa siklus hidup mereka.

Gangguan perut

Kram perut atau nyeri sering terjadi karena infeksi cacing di usus. Banyak larva cacing gelang hidup di usus kecil sampai mereka mati, menurut Mayo Clinic.

Diare dan darah di tinja biasanya akan muncul bila di dalam tubuh seseorang terdapat cacing gelang. Penderita juga mungkin mengalami episode mual dan muntah berulang.

Anus gatal

Seseorang yang menderita cacing kremi bisa memiliki episode gatal atau ketidaknyamanan pada bagian anusnya. Selain gatal, penderita juga bisa sulit tidur dan gelisah. Beberapa orang yang menderita cacing kremi mungkin tidak mengalami gejala ini.

Infeksi yang parah

Seseorang yang menderita infeksi cacing dalam level berat mungkin terus merasa lelah, meskipun telah banyak beristirahat. Pertumbuhan yang lambat dan penurunan berat badan sering terjadi pada penderita. Selain itu, diare dapat berlanjut dan semakin parah serta kronis.

Jenis cacing kremi biasanya dapat terlihat dalam tinja atau keluar melalui hidung atau mulut.

Cacing kremi dapat menyebabkan sumbatan di usus atau obstruksi saluran empedu. Penyumbatan inni menyebabkan rasa sakit yang parah, gangguan tidur, gelisah dan episode muntah. Demikian seperti dilansir Livestrong.



Jenis daging yang ditumbuhi oleh cacing pita

Daging sapi atau lembu Daging sapi
Jenis daging yang satu ini adalah salah satu jenis daging yang menjadi favorite banyak orang dan dapat diolah menjadi menu makanan yang sangat lezat. Jenis cacing pita yang terdapat dalam daging sapi ini adalah jenis cacing pita Taenia saginata yang dapat hidup didalam daging, darah, dan beberapa jaringan tulang pada sapi. Tumbuhnya cacing pita tersebut bersumber dari makanan sapi yaitu berupa rumput atau pakan khusus yang diberikan oleh pemiliknya yang tidak sengaja telah terkontiminasi dengan telur cacing pita dan termakan oleh sapi.

Jenis daging ikan
Daging ikan merupakan jenis daging kedua yang di favoritkan oleh semua orang dan juga memiliki nutrisi yang sangat baik untuk perkembangan otak anak, di karenakan daging ikan mengandung protein baik dan lemak tak jenuh tunggal. Jenis cacing pita yang tumbuh dan berkembang pada daging ikan yakni Diphyllobothrium latum. Telur cacing pita biasanya akan masuk dalam air tawar lalu menetas diantara tumbuhan air , lumut dan bebatuan yang biasanya tempat dimana ikan mencari makan. Telur telur cacing tersebut bisa tanpa sengaja termakan oleh ikan yang akhirnya menetap didalam otot ikan.

Daging tikus
Bagi sebagian orang menganggap bahwa tikus adalah binatang yang sangat menjijikan, namun ada juga orang uyang malah sengaja untuk memburunya, dan kemusian memakan dagingnya, jenis tikus yang biasanya dbanyak di buru dan kemudian diolah yakni jenis tikus hutan.

Mereka menganggap daging tikus hutan lebih baik dari pada tikus yang ada pada selokan atau tikus tanah. Namun peernyataan tersebutsangatlah salah, sebaba apapun jenis tikus tetap saja dilarang untuk dimakan. Tikus mengandung cacing pita dengan jenis hymenolepisnana. Tikus mempunyai kebiasaan hidup jorok didalam jamban, lubang kakus dan selokan selokan gelap dan lembab.

Daging anjing
Beberapa orang didunia masih ada yang menykai dengan daging hewan yang diharamkan untuk di konsumsi ini dengan olahan yang berbeda-beda. Daging anjing mempunyai kolesterol yang sangat tinggi dan bersifat panas, dilarang untuk dimakan dengan alasan apapun dan dalam agama islam pun, jenis daging yang satu in sangat di haramkan untuk di konsumsi, ditambah lagi didalam dagingnya terdapat beberapa jenis cacing pita melebihi babi yang hanya mempunyai satu jenis cacing pita. Anjing punya beberapa cacing pita jenis Taenia crassieeps, taenia pisiformis dan Taenia asiatica.

Daging Babi

Banyak jenis cacing parasit pada babi, yang bisa menular/ menginang pada manusia.Diantara cacing parasit babi berikut diantaranya bisa sangat membahayakan kesehatan bagi manusia.




  • Cacing Taenia Sollum Parasit ini berupa larva yang berbentuk gelembung pada daging babi atau berbentuk butiran-butiran telur pada usus babi. Jika seseorang memakan daging babi tanpa dimasak dengan baik, maka dinding-dinding gelembung ini akan dicerna oleh perut manusia. Peristiwa ini akan menghalangi perkembangan tubuh dan akan membentuk cacing pita yang panjangnya bisa mencapai lebih dari 3 meter. Cacing ini akan melekat pada dinding usus dengan cara menempelkan kepalanya lalu menyerap unsur-unsur makanan yang ada di lambung. Hal itu bisa menyebabkan seseorang kekurangan darah dan gangguan pencernaan, karena cacing ini bisa mengeluarkan racun. Apabila pada diri seseorang, khususnya anak-anak, telah diketahui terdapat cacing ini di lambungnya maka dia akan mengalami hysteria atau perasaan cemas. Terkadang larva yang ada dalam usus manusia ini akan memasuki saluran peredaran darah dan terus menyebar ke seluruh tubuh, termasuk otak, hati, saraf tulang belakang, dan paru-paru. Dalam kondisi ini dapat menyebabkan penyakit yang mematikan.
  • Cacing Trichinia Spiralis Cacing ini ada pada babi dalam bentuk gelembung-gelembung lembut. Jika seseorang mengkonsumsi daging babi tanpa dimasak dengan baik, maka gelembung-gelembung -yang mengandung larva cacing ini- dapat tinggal di otot dan daging manusia, sekat antara paru-paru dan jantung, dan di daerah-daerah lain di tubuh. Penyerangan cacing ini pada otot dapat menyebabkan rasa sakit yang luar biasa dan menyebabkan gerakan lambat, ditambah lagi sulit melakukan aktivitas. Sedang keberadaannya di sekat tersebut akan mempersempit pernafasan, yang bisa berakhir dengan kematian. Bisa jadi, cacing jenis ini tidak akan membuat seseorang meninggal dalam waktu singkat. Namun patut diketahui bahwa cacing-cacing kecil yang berkembang di otot-otot tubuh seseorang setelah dia mengkonsumsi daging babi bisa dipastikan akan menetap di sana hingga orang itu meninggal dunia. 
  • Cacing Schistosoma Japonicus Ini adalah cacing yang lebih berbahaya daripada cacing schistosoma yang dilkenal di Mesir. Dan babi adalah satu-satunya binatang yang mengandung cacing ini. Cacing ini dapat menyerang manusia apabila mereka menyentuh atau mencuci tangan dengan air yang mengandung larva cacing yang berasal dari kotoran babi. Cacing ini dapat menyelinap ke dalam darah, paru-paru, dan hati. Cacing ini berkembang dengan sangat cepat, dalam sehari bisa mencapai lebih dari 20.000 telur, serta dapat membakar kulit, lambung dan hati. Terkadang juga menyerang bagian otak dan saraf tulang belakang yang berakibat pada kelumpuhan dan kematian. 
  • Fasciolepsis Buski Parasit ini hidup di usus halus babi dalam waktu yang lama. Ketika terjadi percampuran antara usus dan tinja, parasit ini akan berada dalam bentuk tertentu yang bersifat cair yang bisa memindahkan penyakit pada manusia. Kebanyakan jenis parasit ini terdapat di daerah China dan Asia Timur. Parasit ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan, diare, dan pembengkakan di sekujur tubuh, serta bisa menyebabkan kematian. 
  • Cacing Ascaris Panjang cacing ini adalah sekitar 25 cm. Cacing ini bisa menyebabkan radang paru-paru, radang tenggorokan dan penyumbatan lambung. Cacing ini tidak bisa dibasmi di dalam tubuh, kecuali dengan cara operasi. 
  • Cacing Anklestoma Larva cacing ini masuk ke dalam tubuh dengan cara membakar kulit ketika seseorang berjalan, mandi, atau minum air yang tercemar. Cacing ini bisa menyebabkan diare dan pendarahan di tinja, yang bisa menyebabkan terjadinya kekurangan darah, kekurangan protein dalam tubuh, pembengkakan tubuh, dan menyebabkan seorang anak mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan fisik dan mental, lemah jantung dan akhirnya bisa menyebabkan kematian. Calornorchis Sinensis Ini jenis cacing yang menyelinap dan tinggal di dalam air empedu hati babi, yang merupakan sumber utama penularan penyakit pada manusia. Cacing ini terdapat di China dan Asia Timur, karena orang-orang di sana biasa memelihara dan mengkonsumsi babi. Virus ini bisa menyebabkan pembengkakan hati manusia dan penyakit kuning yang disertai dengan diare yang parah, tubuh menjadi kurus dan berakhir dengan kematian. 
  • Cacing Paragonimus Cacing ini hidup di paru-paru babi. Cacing ini tersebar luas di China dan Asia Tenggara tempat di mana babi banyak dipelihara dan dikonsumsi. Cacing ini bisa menyebabkan radang paru-paru. Sampai sekarang belum ditemukan cara membunuh cacing di dalam paru-paru. Tapi yang jelas cacing ini tidak terdapat, kecuali di tempat babi hidup. Parasit ini bisa menyebabkan pendarahan paru-paru kronis, di mana penderita akan merasa sakit, ludah berwarna cokelat seperti karat, karena terjadi pendarahan pada kedua paru-paru. Swine Erysipelas Parasit ini terdapat pada kulit babi. Parasit ini selalu siap untuk pembakaran pada kulit manusia yang mencoba mendekati atau berinteraksi dengannya. Parasit ini bisa menyebabkan radang kulit manusia yang memperlihatkan warna merah dan suhu tubuh tinggi. Sedang kuman-kuman yang ada pada babi dapat menyebabkan berbagai penyakit, diantaranya adalah TBC, Cacar (Small pox), gatal-gatal (scabies), dan Kuman Rusiformas N.




references by liputan6,kompas

 
Like us on Facebook