Indonesia menempati peringkat kedua negara yang paling gemar membuang makanan di dunia. Ditengarai kebiasaan lapar mata alias membeli makanan karena keinginan saja menjadi sebab utamanya. Selain itu, tradisi makan tidak dihabiskan atau malu jika piring bersih tanpa sisa makanan, adalah sebab lainnya.
Negara yang duduk di peringkat pertama penghasil Food Loss (FL) dan Food Waste (FW) adalah Arab Saudi. Data ini berdasarkan Food Sustainability Index 2017 yang dikeluarkan oleh The Economist Intelligence Unit (EIU).
Fakta ini tentu menyedihkan sebab di seluruh dunia hampir satu miliar orang sedang menderita kelaparan. Disisi lain, sepertiga makanan dunia terbuang percuma karena kebiasaan buruk.
Baca Artikel Lainnya
- Sejak Kapan Gas Elpiji LPG 3KG Diberi Label Hanya Untuk Masyarakat Miskin?
- Data Angka Bunuh Diri Indonesia Terus Meningkat
- Karakter Kucing Hitam Putih Tuxedo Cat
- Hujan Deras Guyur Satu Rumah Di Tasikmalaya Saat Kemarau
- Burung Lepas Bendera Israel Yang Berkibar
- Ikan OarFish Penanda Gempa dan Tsunami ?
- Penyebab Kenapa Muncul Lubang Besar di Sukabumi?
- Ridwan Kamil Difitnah Lisa Mariana Jadi Selingkuhannya
- Kronologi TNI Tembaki Polisi Lampung
- Jadwal Libur Panjang Idul Fitri 2025
Padahal jika makanan yang terbuang itu dimanfaatkan, maka jumlahnya bisa mencukupi empat kali memberi makan orang yang sedang kelaparan dan kurang gizi di dunia.
Menyikapi data tersebut, Direktur dan Peneliti bidang Ekonomi Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB), Arief Daryanto, Ph.D, menyebut bahwa kebiasaan buruk tersebut harus diubah. Masyarakat harus diberi pemahaman dan sosialisasi untuk tidak mudah membuang makanan.
“Saat membahas mengenai ketersediaan atau ketahanan pangan (Food Security), seringkali kami hanya fokus pada cara untuk meningkatkan produksi makanan tanpa memikirkan bagaimana mengatasi tingkat Food Loss & Waste,” kata Arief, dilansir laman okezone, Rabu (16/5/2018).
Faktanya FL dan FW pun sebenarnya menjadi masalah penting yang sedang jadi perhatian negara-negara di dunia. Kedua hal ini bisa mempengaruhi tingkat ketahanan pangan suatu negara.
Menurut Arief, di 10 hari pertama bulan puasa jumlah limbah makanan naik 10 persen dibanding hari biasanya. Hal ini berdampak terhadap naiknya volume sampah, juga ekonomi dan budaya serta ekologi.
Amerika Serikat duduk di peringkat ketiga negara yang banyak membuang makanan, selanjutnya adalah negara-negara Uni Emirat Arab
references by sidomi
